Cerita Kehidupan yang Menginspirasi dan Menghibur by Rin Muna a.k.a Vella Nine

Tuesday, February 11, 2025

Perfect Hero Bab 103 : Satu Frame

 


Beberapa menit kemudian, Yeriko kembali ke ruang rawat Chandra.

 

“Yuna mana?” tanya Chandra saat Yeriko masuk seorang diri.

 

“Masih di belakang. Lagi teleponan sama mama.”

 

“Mama kamu?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Siapa lagi?” ucapnya sambil melirik Refina. “Sejak ada Yuna, dia udah nggak pernah menghiraukan aku lagi. Kayaknya, dia lebih anggap Yuna sebagai anak kandungnya dia.”

 

Refina menahan kekesalan mendengar pernyataan Yeriko. Bagaimana bisa orang lain dengan begitu mudahnya masuk ke dalam keluarga Hadikusuma dan mendapatkan seluruh kasih sayang dari keluarga itu?

 

Chandra tertawa kecil menanggapi ucapan Yeriko. “Yuna memang gadis yang ceria dan menyenangkan.”

 

Yeriko ikut tersenyum. “Dia juga sederhana dan penyayang,” sahutnya menambahkan sambil mencuri pandangannya ke arah Refina.

 

Refina berusaha untuk tersenyum agar terlihat baik-baik saja walau dalam hatinya menyimpan kekesalan.

 

“Kaki kamu gimana? Ada perkembangan?” tanya Yeriko.

 

Refina menggelengkan kepala sambil tertunduk pilu.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Walau ia sudah tidak memiliki rasa cinta dalam hatinya untuk Refina, namun ia tetap memiliki empati dan rasa peduli sebagai seorang teman.

 

“Aku bakal carikan dokter terbaik buat ngobatin kaki kamu.”

 

Refina tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Aku nggak nyangka kalau kamu masih punya rasa peduli sama aku.”

 

“Kamu jangan salah paham,” sahut Yeriko. “Aku ngelakuin ini karena merasa bertanggung jawab sebagai seorang teman. Bukan karena hal lain.”

 

Refina tersenyum kecut menanggapi ucapan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sinis, ia menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka dan langsung menghampiri Yuna.

 

“Udah teleponnya?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Matanya tertuju pada Refina yang duduk di sebelah ranjang Chandra.

 

Refina langsung menoleh ke arah Yuna dan tersenyum manis.

 

Yuna tertegun mendapati senyuman manis dari wanita cantik yang ada di hadapannya. Senyuman itu terasa menusuk hati dan membuatnya tidak nyaman.

 

“Hai ...!” sapa Refina sambil tersenyum ke arah Yuna. Sementara, Yuna masih bergeming di tempatnya.

 

Refina berinisiatif untuk menghampiri Yuna. Ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. “Kenalin, aku Refina ...”

 

Yuna tersenyum kecut sembari membalas uluran tangan Refina. “Ayuna, istrinya Yeriko.”

 

Refina tersenyum menatap Ayuna. “Senang bisa kenalan sama kamu. Aku ...”

 

“Mantan pacarnya Yeriko, kan?” sahut Yuna.

 

Refina menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum sambil merangkul pinggang Yuna dan mengajaknya mendekati Chandra yang masih duduk di atas ranjangnya.

 

“Gimana keadaan kamu?” tanya Yuna sambil menghampiri Chandra.

 

“Udah enakan. Aku cuma luka luar. Nggak terlalu parah. Oh ya, Jheni mana?”

 

“Ciyeee ... nanyain Jheni. Ciyee ... mau aku teleponkan?”

 

Chandra tersenyum kecil. “Nggak usah. Aku bisa telepon sendiri.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Lihat! Ternyata mereka udah deket tanpa sepengetahuan kita.”

 

Yeriko tersenyum kecil menanggapi ucapan Yuna.

 

“Chan, nggak usah mikirin Amara lagi. Jheni, cocok kok sama kamu.”

 

“Kami cuma temenan,” sahut Chandra.

 

“Iya. Awalnya juga temenan. Siapa tahu aja jodoh, ya kan?” goda Yuna sambil tersenyum ceria.

 

“Ah, kamu bisa aja.”

 

“Ehem ...!” Refina berdeham karena ia merasa semua orang tidak menganggap kehadirannya.

 

“Eh, Ref ... sorry! Kita kalo udah ketemu emang suka asyik ngobrol sendiri,” tutur Chandra.

 

Refina tersenyum. “Nggak papa, kok. Kalian lanjutin aja ngobrolnya. Aku mau balik ke ruanganku,” pamitnya sambil memutar kursi rodanya.

 

“Mau aku antar?” tanya Yuna.

 

Refina bergeming sambil menolehkan sedikit kepalanya, kemudian tersenyum sinis sambil menganggukkan kepala.

 

Yuna tersenyum sambil melangkah menghampiri Refina.

 

“Yun ...!” bisik Yeriko sambil menahan lengan Yuna.

 

Yuna tersenyum manis ke arah Yeriko. Ia memberi isyarat kalau semua akan baik-baik aja.

 

Yeriko melepas lengan Yuna perlahan dan membiarkan istrinya mengantarkan Refina ke ruang rawatnya.

 

“Yer, kamu yakin kalau mereka akan baik-baik aja?” tanya Chandra dengan perasaan khawatir.

 

“Agak was-was, sih. Tapi ... Yuna nggak akan melukai Refina, kok.”

 

“Iya, sih. Yuna nggak akan melukai Refina. Tapi, kalau sebaliknya gimana? Kamu tahu sendiri kalau emosi Refina nggak stabil. Bisa aja dia ...”

 

Chandra dan Yeriko saling pandang.

 

“Semoga aja, Refina nggak nyakitin Yuna,” tutur Chandra.

 

 

 

Sementara itu, Yuna mendorong kursi roda Refina sambil menyusuri koridor rumah sakit.

 

“Udah berapa lama nikah sama Yeriko?” tanya Refina.

 

“Empat bulan yang lalu,” jawab Yuna.

 

“Oh. Gimana bisa perempuan biasa kayak kamu masuk ke dalam keluarga Hadikusuma?”

 

Yuna tersenyum sinis. “Karena kamu.”

 

“Aku?” Refina mengernyitkan dahi sambil menunjuk dirinya sendiri.

 

“He-em. Karena kamu udah mencampakkan Yeriko tiga tahun lalu. Kalau enggak, aku nggak mungkin dapetin Yeriko,” jelas Yuna.

 

Refina menarik napas dalam-dalam dan langsung menghentikan roda kursinya.

 

Yuna memutar bola mata saat Refina memutar kursi roda menghadapnya.

 

“Kamu ... udah tahu semuanya?” tanya Refina kesal.

 

Yuna mengangguk santai. “Yeriko udah cerita semuanya ke aku.”

 

“Kamu nggak takut?”

 

“Takut kenapa?”

 

“Aku nggak akan ngelepasin Yeriko gitu aja. Aku balik ke sini karena mau ambil dia.”

 

Yuna tersenyum sinis sambil menatap Refina. “Ambil aja kalo bisa!” sahut Yuna sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Refina. “Aku juga nggak akan ngebiarin siapa pun ngerebut suamiku gitu aja!” tegasnya.

 

“Kamu!?” Refina menatap Yuna penuh amarah. “Kamu yang udah ngerebut Yeriko dari aku!” serunya.

 

Yuna menanggapi ucapan Refina dengan senyuman sinis. “Bukannya kamu yang udah ngebuang Yeriko gitu aja? Aku adalah orang yang paling beruntung karena bisa dapetin Yeriko. Selain ganteng, dia juga kaya raya,” bisik Yuna.

 

“Dasar cewek murahan!” sentak Refina makin emosi. “Kamu masuk ke keluarga Yeriko cuma ngincar hartanya doang, kan?”

 

“Kamu lebih murahan lagi. Yeriko sudah punya istri dan kamu masih aja mau ngerebut dia dari aku!” sentak Yuna.

 

“Kamu yang udah ngerebut Yeri dari aku! Aku nggak akan ngambil semua yang udah kamu ambil!” tegas Refina makin kesal.

 

Yuna tersenyum kecil menatap Refina. “Oh ... kamu jauh-jauh balik dari Paris ke sini cuma mau jadi pelakor?”

 

Refina langsung naik pitam begitu mendengar ucapan Yuna. Ia tak pandai berdebat dan tidak tahu kelemahan  Ayuna, wanita yang baru dikenalnya itu. “Bitch!” makinya kesal.

 

“Hati-hati kalo ngomong!” sentak Yuna. “Pelakor kayak kamu itu ... jauh lebih rendah dari pelacur Dolly!” tutur Yuna sengit.

 

Refina geram, ia mengangkat tangannya dan bersiap menampar Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menahan lengan Refina. “Kamu pikir, aku bakal mudah kamu kalahin gitu aja? Aku bukan cewek lemah seperti yang kamu pikirkan!” bisik Yuna sambil mengeratkan genggamannya.

 

Refina makin kesal. Ia berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman tangan Yuna. Ia semakin membenci Yuna karena gadis itu tidak mudah untuk ia singkirkan dari kehidupan Yeriko sekalipun Yuna sudah mengetahui kalau Refina adalah cinta pertama Yeriko.

 

Yuna tersenyum sambil menatap Refina. “Yeriko pernah cinta sama kamu. Tapi itu dulu. Sekarang, aku jamin kalau dia nggak akan berpaling dari aku sedikitpun.”

 

Refina mengerutkan bibirnya. “Kita lihat nanti! Aku pasti bisa ngerebut dia dari kamu!” sentak Refina sambil mendelik ke arah Yuna.

 

“Yun, kamu nggak papa?” tanya Yeriko yang tiba-tiba muncul bersama Chandra.

 

Yuna langsung melepaskan tangan Refina dan menoleh ke arah Yeriko. “Aku nggak papa,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

“Aw ...!” Refina mengelus bekas cengkeraman Yuna sambil mengaduh. “Istri kamu bener-bener kejam sama aku. Padahal, aku nggak salah apa-apa,” tutur Refina pura-pura lemah.

 

“Heh!? Kamu jangan akting di depan Yeriko, ya!” sahut Yuna sambil menunjuk wajah Refina. “Jelas-jelas kamu yang mau nampar aku!”

 

“Udahlah, nggak usah ngeladeni dia. Kamu nggak papa, kan?” tanya Yeriko sambil tersenyum manis ke arah Yuna. Ia memeriksa semua tubuh Yuna untuk memastikan kalau istrinya baik-baik saja.

 

Refina makin kesal melihat Yeriko yang begitu memperhatikan Yuna dan tidak menghiraukan kehadirannya.

 

“Ref, kamu jangan cari gara-gara sama Yuna!” pinta Chandra.

 

“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Aku cuma ngajak dia ngobrol aja. Aku nggak tahu kalau kata-kata aku bikin dia marah. Mungkin, karena aku dan Yeriko pernah punya hubungan di masa lalu. Jadi, dia nggak terima dengan kehadiranku,” jelas Refina dengan mata berkaca-kaca.

 

Yuna sangat kesal dengan Refina yang tiba-tiba bersandiwara. Seolah-olah membuat dirinya sangat tertindas. Ia menatap mata Yeriko dan berharap kalau suaminya mempercayai dirinya.

 

Yeriko tersenyum manis sambil mengelus lembut pundak Yuna.

 

Yuna ikut tersenyum, ia merasa hatinya sangat tenang karena suaminya tidak terpengaruh dengan ucapan Refina.

 

((Bersambung...))

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 102 : Cinta, Sahabat, dan Mantan Kekasih

 


“Hari ini ada kegiatan nggak?” tanya Yuna setelah selesai sarapan pagi bersama Yeriko.

 

“Nggak ada. Kenapa?”

 

“Mmh ... mumpung weekend, gimana kalau kita ke rumah sakit nemenin Chandra?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Rencanaku mau gitu juga.”

 

“Sekarang, yuk!”

 

“Bentar,” sahut Yeriko sambil menyalakan rokoknya. “Aku ngerokok dulu sebentar.”

 

Yuna menghela napas. “Aku ganti baju dulu.” Ia bergegas naik ke kamar untuk mengganti pakaiannya.

 

Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari rumah dan langsung melaju menuju rumah sakit tempat Chandra dirawat.

 

“Mantan pacar kamu itu dirawat di sana juga?” tanya Yuna.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Siapa namanya? Aku lupa.”

 

“Refina.”

 

“Oh ... Refina, nama yang cantik. Pasti dia cantik juga ya?”

 

“Lumayan.”

 

“Cantik aku atau dia?” tanya Yuna.

 

“Cantik istriku lah.”

 

“Huh, pasti dulu kamu pernah bilang kalau dia yang paling cantik? Iya, kan?” goda Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil menahan senyum.

 

“Iih ... ngaku aja, deh!”

 

“Namanya juga orang pacaran. Kamu sama Lian juga pasti begitu kan?”

 

“Hmm ... iya juga, sih. Dulu, aku lihat dia itu cowok paling ganteng di dunia. Konyol banget kan?” tutur Yuna sambil tertawa kecil. “Setiap hari berdoa semoga dia itu jodohku. Eh, sekalinya tetep aja nggak jodoh. Malah nikahnya sama orang yang baru aku kenal.”

 

Yeriko tergelak. “Mmh ... kayaknya aku harus berterima kasih sama Lian.”

 

“Kenapa begitu?”

 

“Karena ... dia udah jagain jodohku dengan baik,” bisik Yeriko di telinga Yuna. Ia kembali fokus menatap jalanan sambil tersenyum.

 

“Ah, kamu bisa aja. Apa aku juga harus berterima kasih sama Refina?”

 

Yeriko mengerutkan dahinya. “Terima kasih kenapa? Aku udah lama putus sama dia.”

 

“Karena ... dia udah ninggalin kamu. Kalau nggak, aku nggak akan duduk di sini sekarang sebagai istri kamu.”

 

Yeriko tersenyum kecil sambil mengusap ujung kepala Yuna. “Kamu ini, ada-ada aja.”

 

“Oh ya, semalam mama Rully chat aku. Dia nanyain, kapan kita bisa ada waktu ke butik buat pilih model baju pengantin?”

 

“Mmh ... kapan ya?”

 

“Aku nyesuaikan jadwal kamu aja.”

 

“Sore ini gimana?”

 

“Mmh ... Mama yang nggak bisa kalau hari ini. Katanya, dia masih di Jakarta.”

 

“Ngapain di sana?” tanya Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Aku kurang tahu. Yang aku tahu, dia udah pergi ke Jakarta sejak dua hari yang lalu.”

 

“Dia ngabarin kamu waktu berangkat ke sana?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kenapa?”

 

“Mmh ... anaknya dia itu aku atau kamu ya? Kenapa dia nggak pernah ngasih kabar apa pun ke aku?” Yeriko bertanya-tanya.

 

Yuna tertawa kecil sambil menatap Yeriko. “Kita sama-sama anak mama. Lagian, ngasih tahu salah satu aja kan udah cukup kan? Aku atau kamu ... bukannya kita satu?”

 

Yeriko tergelak. “Kamu udah pandai nge-gombal juga?”

 

“Iya. Abis baca-baca novel romance.”

 

Yeriko mencebik. “Nggak tulus banget ngomongnya.”

 

“Kok, gitu?”

 

“Nyontek di novel.”

 

“Idih, kamu juga nyontek kan?” dengus Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak pernah baca novel.”

 

“Buku yang sering kamu baca itu buku apa?”

 

“Itu buku bisnis. Nggak ada kata-kata gombalnya.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Jadi kapan?”

 

“Kapan apanya?”

 

“Bikin anak!” sahut Yuna kesal sambil memukul bahu Yeriko. “Pilih baju pengantin!” seru Yuna.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kalau sore bisa. Kalau pagi, jadwal  meetingku padet banget minggu ini.”

 

“Oke. Nanti aku kasih tahu mama.”

 

“Kalian belum kasih tahu aku soal konsep pernikahan.”

 

“Mmh ... secret!” sahut Yuna.

 

“Ini yang mau nikah, aku sama kamu atau mama sama kamu? Kenapa aku nggak boleh tahu konsep pernikahan aku sendiri?”

 

“Ntar kalo udah fix, baru deh dikasih tahu. No protes!” tegas Yuna.

 

“Hmm ... mencurigakan!” dengus Yeriko.

 

“Daripada kamu ... mencurihatiku,” sahut Yuna sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko tertawa kecil. “Mencuri hati? Kamu ... bisa aja melesetin kata-kata. Emangnya kapan aku mencuri hati kamu?”

 

“Mmh ... kapan ya?” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Bukannya kamu yang ngasih secara cuma-cuma?” sahut Yeriko sambil menahan senyum. Ia membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir rumah sakit.

 

Yuna tidak bisa berkata-kata lagi. “Amara ada dateng jagain Chandra atau nggak?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

 

“Nggak ada.”

 

“Tega banget dia nggak ada nengokin Chandra sama sekali?”

 

“Nggak ada.”

 

“Huft, ngeselin banget sih cewek satu itu!” tutur Yuna kesal.

 

“Biar aja. Nanti aku yang bakal urus cewek itu.”

 

“Maksud kamu?”

 

“Kita lihat nanti!” tutur Yeriko sambil tersenyum sinis. Ia mematikan mesin mobilnya setelah terparkir dengan baik. Melepas safety belt dan bergegas keluar dari mobil.

 

Yuna dan Yeriko langsung menuju ke ruang rawat Chandra.

 

“Pagi, Chan!” sapa Yuna sambil tersenyum lebar.

 

“Pagi ...!” sahut Chandra yang sedang menikmati pemandangan lewat jendela ruang rawatnya.

 

“Gimana keadaan kamu? Udah baikan?” tanya Yuna.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Udah sarapan?” tanya Yuna.

 

“Udah.”

 

“Oh ya, Amara nggak ada ke sini sama sekali?” tanya Yuna.

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Jheni?”

 

“Semalam dia nemenin aku di sini.”

 

Yuna langsung tersenyum sambil menatap Yeriko.

 

“Tunangan kamu itu bener-bener nggak punya rasa peduli ke kamu. Malah orang lain yang lebih peduli buat jaga kamu,” tutur Yuna.

 

Chandra tersenyum kecil. Wajahnya masih menyiratkan kesedihan dan kekecewaan.

 

“Nggak usah sedih! Rencana Tuhan bisa jadi lebih indah dari rencanamu. Dia pasti sudah menyiapkan wanita yang jauh lebih baik dari Amara,” tutur Yuna sambil tersenyum manis.

 

Chandra tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

 

“Yer, aku mau jenguk ayah dulu. Boleh?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Mau aku temenin?”

 

“Nggak usah. Kamu di sini aja temenin Chandra!”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Salam buat ayah, ya!”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Chan, aku tinggal sebentar ya!” pamit Yuna sambil menatap Chandra.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

Yuna bergegas keluar dari ruangan Chandra.

 

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Chandra kembali terbuka.

 

“Kok, cepet banget baliknya? Nggak jadi jenguk ayah?” tanya Yeriko sambil membalikkan tubuhnya. Ia tertegun melihat Refina yang baru saja masuk. “Refi?”

 

Refina tersenyum. Ia menghampiri Yeriko dan Chandra dengan kursi rodanya.

 

“Ngapain ke sini?” tanya Yeriko dingin.

 

“Aku mau lihat keadaan Chandra,” jawab Refina sambil tersenyum. Ia berharap bisa mendapatkan simpati dari Yeriko.

 

“Chandra baik-baik aja. Gimana keadaan kaki kamu?” tanya Yeriko.

 

Refina tersenyum kecut. “Masih sama. Belum bisa jalan.”

 

“Ref, aku pasti tanggung jawab. Aku bakal ngasih perawatan terbaik buat kamu supaya kaki kamu bisa sembuh,” sela Chandra.

 

Refina tersenyum. “Makasih banyak, Chan. Tapi, aku sudah cacat. Sekalipun aku bisa jalan lagi, aku nggak akan bisa menari lagi seperti dulu.”

 

“Maafin aku! Karena kecerobohanku mengakibatkan kamu seperti ini.”

 

Refina tersenyum kecil. “Kamu sudah berkali-kali minta maaf sama aku. Ini cuma kecelakaan. Aku nggak menyalahkan kamu, kok.” Ia langsung melirik Yeriko yang berdiri di dekat Chandra.

 

“Yer, Lutfi mana? Belum ada nongol?” tanya Chandra mengalihkan pembicaraan.

 

“Kayak nggak tahu Lutfi aja. Jam segini ya masih tidur. Apalagi hari libur. Dia pasti main ke bar sampai pagi.”

 

“Ckckck.” Chandra menggelengkan kepala.

 

“Mmh ... aku nyusul istriku bentar, Chan!” pamit Yeriko.

 

“Mau ke mana?” tanya Refina sambil meraih ujung jemari Yeriko.

 

Yeriko langsung menjauhkan tangannya. “Mau jemput istriku,” jawabnya sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan Chandra.

 

Refina tertunduk lesu. Ia merasa sangat kesal karena Yeriko tetap saja tidak melihatnya.

 

“Jangan terlalu banyak berharap. Yeriko yang sekarang, bukan Yeriko yang kamu kenal dulu!” tutur Chandra sambil menatap Refina.

 

“Buatku, dia masih tetap sama,” sahut Refina lirih.

 

Chandra menghela napas menatap Refina. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Refina benar-benar berhadapan dengan Yuna. Yeriko akan membawa Yuna ke dalam rasa sakit yang dalam jika mengetahui kalau Refina adalah cinta pertama Yeriko di masa lalu. Ia hanya berharap kekhawatirannya itu tidak akan pernah terjadi.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya! Selamat menjalankan ibadah puasa!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas