Cerita Kehidupan yang Menginspirasi dan Menghibur by Rin Muna a.k.a Vella Nine

Showing posts with label Perfect Hero. Show all posts
Showing posts with label Perfect Hero. Show all posts

Thursday, March 13, 2025

Perfect Hero Bab 186 : Best Buddy Sisters

 


“Yun, kamu beneran berhenti kerja?” tanya Jheni sambil menatap Yuna dan Icha yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Emangnya aku kayak pembohong? Sampe nggak percaya gitu?”

 

“Iya. Aku percaya,” sahut Jheni. “Abis ini, rencana kamu mau ngapain?”

 

“Di rumah dulu, nyantai-nyantai.”

 

“Emangnya kamu nggak bosan kalo dua puluh empat jam di rumah terus?” tanya Jheni.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak dua puluh empat jam juga kali. Buktinya, sekarang aku ada di rumah kamu.”

 

“Hmm ...iya juga sih. Enak banget ya punya suami kayak Yeriko. Nggak ngelarang istrinya main di luar. Malah dianterin pula ke sini.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap layar ponselnya.

 

“Kamu chatting sama siapa sih, Yun? Senyum-senyum sendiri dari tadi?” tanya Icha yang berbaring di samping Yuna.

 

“Sama suamiku lah. Sama siapa lagi?”

 

“Astaga! Lebay banget sih kalian?” sahut Jheni. “Baru juga pisah berapa menit. Udah kayak nggak ketemu sebulan aja.”

 

“Sewot lu. Ngiri?” sahut Yuna.

 

“Weh, ngolok kamu ya!?” dengus Jheni sambil menggelitik pinggang Yuna.

 

“Aargh ...! Geli, Jhen!” seru Yuna sambil berguling menghindari Jheni yang terus menyerangnya.

 

Icha ikut tertawa melihat Jheni dan Yuna yang saling serang dan berguling di kasur.

 

“Udah, Jhen! Aku capek!” seru Yuna dengan napas tersengal.

 

Jheni terus menghentikan aksinya sambil menoleh ke arah Icha yang sudah berdiri di depan jendela. “Dia kenapa? Dari tadi murung gitu.”

 

Yuna mengedikkan bahu. Ia turun dari ranjang dan langsung menghampiri Icha bersama dengan Jheni. “Kamu kenapa, Cha? Ada masalah?”

 

Icha menggelengkan kepalanya.

 

“Nggak usah bohong, deh! Dari tadi kamu murung. Kenapa? Bellina nindas kamu di kantor?” tanya Yuna.

 

Icha menggelengkan kepala.

 

“Terus, kenapa?” tanya Jheni. “Ada masalah lagi sama lutfi?”

 

Icha menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil menatap Yuna. “Yun, sebenarnya Lutfi itu gimana sih?”

 

“Kenapa sama Lutfi?”

 

“Kadang, aku ngerasa dia itu sayang banget dan perhatian sama aku. Tapi aku juga nggak pernah tahu gimana sikapnya dia sama cewek lain. Apakah sama juga?”

 

“Kenapa kamu tanya kayak gini?” tanya Yuna. “Ada sesuatu?”

 

“Kemarin, aku nggak sengaja lihat Lutfi lagi makan sama cewek di salah satu restoran.”

 

“Siapa? Model?”

 

“Mungkin. Yang jelas, cewek itu cantik dan seksi. Dari gayanya dia, dia juga memperhatikan cewek itu.”

 

“Cha, kamu kan tahu kalau Lutfi itu penguasa Villa di Jawa, Bali dan NTT. Yang aku tahu, dia emang sering kerjasama sama artis, selebgram, youtuber dan sejenisnya buat endorse villa dia.”

 

“Tapi ...”

 

“Kamu jangan pedulikan cewek lain!” pinta Yuna sambil menggenggam pundak Icha. “Sekalipun ada banyak perempuan cantik yang mengelilingi dia. Dia cuma ngakuin kamu sebagai pacar resminya. Karena cuma kamu aja yang dikenalin ke kita.”

 

“Tapi, Yun. Aku jadi ragu sama perasaannya dia. Aku terlalu biasa aja. Sementara, cewek-cewek yang deket sama Lutfi cantik-cantik semua. Gimana aku harus bersaing sama mereka?”

 

“Siapa bilang kamu biasa aja? Kamu juga cantik, kok,” sahut Jheni. Ia langsung melepas kacamata Icha dan ikatan rambutnya.

 

Jheni langsung menarik Icha untuk berdiri di depan cermin. “Cha, dengan penampilan kamu yang sederhana aja udah bisa bikin Lutfi jatuh cinta sama kamu. Kamu cuma perlu ngerubah penampilan kamu buat bersaing sama cewek-cewek itu.”

 

“Aku nggak pede, Jhen.”

 

“Kenapa? Kamu nggak beneran cinta sama Lutfi.”

 

“Cinta. Tapi ...”

 

“Cinta itu, harus diperjuangkan dan dipertahankan!” tutur Jheni. “Kalo baru kayak gini aja kamu udah nyerah, gimana mau ngadepin mereka yang bakal mengganggu hubungan kamu. Banyak pelakor di dunia ini, kamu harus jadi kuat ngadepinnya. Belajar dari Yuna!”

 

Icha menatap Yuna yang tersenyum ke arahnya.

 

“Cha, awalnya aku juga ngerasa kayak gitu. Tapi lama-lama aku sadar, Yeriko bukan orang biasa. Banyak cewek yang pengen jadi pasangannya. Selama Yeriko masih cinta sama aku. Aku nggak akan peduli berapa banyak cewek yang deketin dia. Aku nggak akan ngelepasin Yeriko buat orang lain.”

 

Icha tersenyum ke arah Yuna.

 

“Apalagi pekerjaan Lutfi emang kayak gitu. Kamu cuma perlu mendukung dia!” sahut Jheni.

 

Icha menganggukkan kepala.

 

Yuna dan Jheni saling pandang. “Kalo gitu, saatnya beraksi!” seru mereka sambil mengeluarkan peralatan make-up untuk merubah penampilan Icha menjadi lebih baik lagi.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berhasil mengubah penampilan Icha seperti seorang model.

 

“Astaga, Cha!” Yuna mengitari tubuh Icha yang jauh lebih tinggi darinya.

 

“Kamu udah kayak model Victoria Secret,” celetuk Jheni.

 

“Beneran?”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Iya, badannya tinggi-tinggi dan wajahnya cantik. Kayak kamu gini.”

 

Yuna ikut menahan tawa mendengar ucapan Jheni.

 

“Kenapa pada ketawa terus sih?” tanya Icha sambil menatap wajah Jheni dan Yuna.

 

“Nggak papa, Cha. Seneng aja lihat kamu kayak gini. Kalo Lutfi lihat, pasti dia seneng banget. Eh, aku fotoin. Aku kirim ke Whatsapp dia.” Yuna langsung menyalakan kamera ponsel dan membidik wajah baru Icha.

 

“Udah terkirim. Kita lihat, apa komentar Lutfi!” tutur Yuna sambil menunggu balasan dari Lutfi.

 

“Kakak Ipar, itu siapa? Bisa endorse kah?” tutur Yuna sambil membaca pesan yang ia terima dari Lutfi. “Hahaha. Dia nggak ngenalin kamu, Cha.”

 

“Gobloknya anak itu,” sahut Jheni.

 

“Balesin apa nih?” tanya Yuna.

 

“Terserah kamu.”

 

“Bisa. Kalo mau ketemu, ke rumah Jheni sekarang juga!” tutur Yuna sambil mengetik di ponselnya. “Udah terkirim.”

 

“Astaga! Kamu nyuruh dia ke sini?” tanya Icha.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Sekalian aja kalian jalan ke luar bareng. Sayang banget, udah dandan cantik gini tapi cuma di dalam rumah.”

 

“Yuna ...!”

 

Yuna dan Jheni meringis ke arah Icha.

 

“Oh ya, besok kan weekend. Kalian ada waktu nggak?” tanya Yuna.

 

“Kenapa?” tanya Icha.

 

“Aku selalu ada waktu kalo buat kamu,” sahut Jheni.

 

“Aku sama Yeriko mau ke exhibition. Kalian mau ikut nggak?”

 

“Exhibition punya Dekranasda?” tanya Jheni.

 

“Iya. Kok tahu?”

 

“Aku udah ke sana sama Chandra.”

 

“What!? Kalian udah ke sana nggak ajak-ajak? Tega banget sih?”

 

“Kamu lagi sibuk ngadepin pelakor itu. Aku juga ke sana sekalian buat keperluan kerjaan.”

 

“Ada yang bagus nggak?” tanya Yuna.

 

“Semuanya bagus-bagus.” Jheni meraih kotak yang ada di atas meja. “Aku beli sweater rajut motif sura sama baya. Ini unik banget. Kata pengrajinnya, dia cuma bikin satu aja. So, ini barang langka banget!” seru Jheni.

 

Yuna langsung mengeluarkan sweater tersebut dan mengamatinya. “Eh, gila! Ini sih teknik tingkat dewa. Aku mana bisa bikin motif kayak gini.”

 

“Oh iya. Kamu kan bisa ngerajut kayak gini, Yun. Gimana kalo kamu bikin juga?”

 

“Rencananya mau bikin buat Yeri. Tapi ...”

 

“Kenapa?”

 

“Aku nggak pernah lihat Yeri pakai sweater. Apa dia bakal suka kalo aku bikinin?”

 

“Barang yang bikin sendiri, itu jauh lebih tulus. Aku yakin, Pak Yeri pasti suka sama barang yang kamu kasih,” sahut Icha.

 

“Mmh ... boleh, deh. Ntar aku pesen bahannya dulu.”

 

 

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

“Eh, Lutfi udah datang. Cepet banget tuh bocah,” tutur Yuna sambil menoleh ke arah pintu.

 

“Bukain pintu!” perintah Jheni sambil mendorong tubuh Icha.

 

“Aku?” Icha menunjuk dirinya sendiri dan melangkah ragu menuju pintu.

 

“Ayo bukain!” Yuna dan Jheni memberi isyarat agar Icha memiliki keberanian.

 

Icha membuka pintu perlahan dan mendapati Lutfi berdiri di depan pintu sambil tersenyum ke arahnya.

 

“Ini. Buat kalian!” Lutfi menyodorkan paper bag ke arah Icha. “Kakak Ipar mana?” tanyanya sambil nyelonong masuk ke rumah Jheni.

 

Icha menggigit bibir. Ia melangkah perlahan mengikuti Lutfi yang melangkah menghampiri Yuna dan Jheni yang duduk di sofa.

 

“Kalian apain si Icha?” tanya Lutfi.

 

“Eh!?” Yuna dan Jheni melongo menatap Lutfi.

 

“Cantik kan?” tanya Yuna balik.

 

“Kamu ngenalin dia?”

 

“Kenal. Pacar sendiri masa nggak kenal?”

 

“Tadi di WA kamu bilang ...”

 

“Aku cuma bercanda.”

 

Yuna dan Jheni terkekeh.

 

“Eh, kalian pergi ke luar gih! Aku sama Jheni mau curhat,” pinta Yuna.

 

Lutfi langsung menyambar paper bag dari tangan Icha. “Ini makanan buat kalian. Aku ke luar dulu sama Icha.” Ia meletakkan paper bag di atas meja.

 

“Ah, pengertian banget!” seru Yuna.

 

Lutfi tertawa kecil. “Aku tahu, Kakak Ipar demen makan. Kita pergi dulu!” Lutfi langsung meraih tangan Icha dan membawanya keluar dari rumah Jheni.

 

Yuna dan Jheni saling pandang lalu tertawa.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga, bikin aku makin semangat deh.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 185 : Pamit || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Cha, aku pergi ya! Kamu yang rajin kerjanya!” pamit Yuna setelah mengemasi barang-barang pribadinya yang ia bawa ke tempat kerja.

 

“Yun, kita semua pasti bakal kangen banget sama kamu. Kenapa harus berhenti, sih? Padahal, Bos Lian nggak nyuruh kita berhenti.”

 

Yuna tersenyum. “Aku juga bakal kangen sama kalian semua. Kita masih bisa ketemu, kok. Pintu rumah aku, selalu terbuka untuk kalian.”

 

“Pintu kantor ini juga selalu terbuka buat kamu, Yun. Apalagi Bos Lian, dia pasti bakal kangen kalo nggak ada kamu.”

 

“Hush, jangan ngomong gitu! Kalo didenger sama Bellina, kalian bisa habis!” sahut Yuna.

 

“Huft, iya ya? Kalo nggak ada kamu. Nggak ada lagi yang bisa belain kita. Bu Belli pasti bakal lebih merajalela menindas kita.”

 

“Telpon aku kalo dia berani macam-macam sama kalian! Ntar aku hadang di simpang jalan,” sahut Yuna.

 

“Hahaha.” Semua tergelak mendengar candaan Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia mengangkat kotak barangnya dan melangkah dengan berat hati keluar dari ruangannya.

 

“Yuna ...!” seru Icha dan beberapa karyawan yang lainnya. Mereka langsung menangis sambil memeluk tubuh Yuna.

 

“Kamu beneran pergi, Yun?”

 

“Yun, setelah keluar dari sini, kamu harus hidup lebih baik. Punya karir yang lebih baik.”

 

“Iya, Yun. Kalo nggak dapet yang lebih baik, kamu balik ke sini ya! Kita bakal nunggu kamu.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap rekan-rekan kerjanya dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka kalau waktu berjalan begitu cepat. Dalam waktu yang singkat, ia bisa merasakan kehangatan di tempat kerjanya. Saling mendukung, mengatasi setiap masalah bersama-sama. Seperti sebuah keluarga.

 

Yuna melepaskan dirinya dan melangkah perlahan keluar dari ruang kerjanya. Ia langsung masuk ke dalam lift dan turun ke lobi. Di sana, ada seorang pria tampan yang telah menunggu kedatangannya.

 

“Lama ya nunggunya?” sapa Yuna sambil menghampiri Yeriko.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Udah pamitan?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia menghela napas sejenak. “Aku belum pamitan sama Lian.”

 

“Kenapa?”

 

“Dia belum masuk kantor.”

 

“Nggak papa. Kalo nggak ketemu hari ini, masih bisa ketemu besok.”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia dan Yeriko melangkah keluar dari pintu utama kantor Wijaya Group.

 

“Pergi sekarang?” tanya Lian yang kebetulan baru sampai kantor bersama Bellina.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Makasih kamu udah ngasih aku kesempatan bergabung di perusahaan ini. Belajar banyak hal, punya banyak teman dan pastinya ... ini pengalaman pertamaku yang paling berharga.”

 

Lian tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Semoga kamu bisa menjadi lebih baik di tempat yang baru.” Ia menoleh ke arah Yeriko sejenak. “Kapan pun kamu mau, perusahaan ini akan selalu nerima kamu kembali.”

 

Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya perlahan. “Bye!” ucap Yuna saat melintas sejajar dengan tubuh Lian.

 

Yeriko tersenyum menatap Lian dan mengikuti langkah Yuna dari belakang.

 

Lian memutar tubuhnya menatap punggung Yuna dan Yeriko yang perlahan menjauh. Ia tak bisa lagi melihat wajah cantik Yuna dari balik jendela. Melihatnya tertawa bersama teman-teman kerjanya. Melihatnya begitu energik setiap melakukan pekerjaan. Melihat wajah cantiknya setiap pagi saat masuk kerja dari balik kaca mobilnya.

 

 “Bye, Ayuna ...!” bisik Lian dalam hati.

 

Bellina yang berdiri di samping Lian langsung merangkul Lian sambil menatap kepergian Yuna. Di bibirnya terlukis goresan bahagia mengiringi kepergian Yuna dari kantor Wijaya.

 

“Yun, mau langsung ke rumah sakit atau pulang dulu?” tanya Yeriko sambil membukakan pintu mobil untuk Yuna.

 

“Pulang dulu. Ntar aku ke rumah sakit naik taksi aja bareng Bibi.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Kamu nggak mau ajak aku ketemu ayah kamu?”

 

“Kamu kan kerja. Aku udah nggak kerja. Punya banyak waktu buat nemenin ayah di rumah sakit.”

 

“Oke.” Yeriko menutup pintu mobil. Ia melangkah mengitari mobilnya, membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.

 

“Kamu tunggu aku di rumah sakit. Ntar aku jemput kamu kalo udah pulang kerja!” pinta Yeriko sambil menjalankan mobilnya perlahan keluar dari halaman kantor Wijaya.

 

Yuna menganggukkan  kepala. “Besok jadi kan ke pameran?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia terus melajukan mobilnya.

 

“Aku pengen lihat karya-karya seniman lokal di sana. Kayaknya bagus-bagus. Tas ini, dikasih sama Mama Rully. Katanya dari Bunda Yana. Salah satu karya seniman kriya di sini. Bagus kan?” tutur Yuna sambil menunjukkan tas rajut yang ia pakai.

 

Yeriko menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Yuna.

 

“Iih ... nggak lihat tapi udah ngangguk aja.” Sahut Yuna.

 

“Aku udah lihat dari tadi,” sahut Yeriko. “Oh ya, hari ini mau ngapain aja selain jenguk ayah?”

 

“Mmh ... aku mau bikin makanan buat ayah sebelum berangkat ke rumah sakit. Mmh ... abis itu belum tahu mau ngapain.”

 

Yeriko tersenyum sambil melirik Yuna lewat kaca spion. “Aku bakal pulang cepet buat nemenin kamu. Kalo bosan di rumah, kamu bisa pergi jalan-jalan sama Jheni atau Icha.”

 

“Icha sibuk kerja. Kalo ada waktu luang, pasti udah dicolong duluan sama Lutfi.”

 

“Jheni? Bukannya dia freelancer?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Dia pasti punya banyak waktu buat nemenin kamu.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Boleh jalan ke mana aja?”

 

Yeriko mengangguk. “Asal bisa bikin kamu senang.”

 

“Ke bar?”

 

“Nggak boleh.”

 

“Kenapa?”

 

Yeriko langsung menghentikan mobilnya yang kebetulan sudah memasuki pekarangan rumah.

 

“Nggak boleh ke sana tanpa aku! Nggak boleh minum alkohol!” pinta Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. Matanya tertuju pada tas rajut yang ada di pangkuannya. “Mmh ... bukannya aku bisa knitting? Aku mau bikin sesuatu buat Yeri. Mudahan dia suka,” bisik Yuna dalam hati. Ia langsung keluar dari mobil.

 

“Aku langsung berangkat kerja!” pamit Yeriko tanpa keluar dari dalam mobil.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!”

 

Yeriko mengangguk. Ia segera menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah dan melaju menuju kantornya.

 

Yuna tersenyum sambil masuk ke dalam rumah. “Pagi, Bi!” sapa Yuna sambil meletakkan box miliknya ke atas meja.

 

“Pagi ...!” sahut Bibi War. “Kok, tumben banget pagi-pagi udah pulang kerja? Lagi nggak enak badan?”

 

Yuna menggeleng sambil menghampiri Bibi War. “Aku udah berhenti kerja,” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Hah!? Berhenti kerja?” tanya Bibi War dengan wajah sumringah.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Bibi War tertawa bahagia sambil memeluk Yuna. “Akhirnya ...”

 

Yuna tersenyum sambil membalas pelukan bibi War. “Bi, bantu aku bikin makanan buat ayah ya!” pinta Yeriko. “Asupan makanan untuk ayah nggak boleh sembarangan. Aku udah minta resep makanan dari ahli nutrisi yang ngerawat ayah. Aku pergi belanja bahannya dulu. Nanti, Bibi juga temani aku ke rumah sakit ya!” pinta Yuna.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

Yuna langsung memesan taksi online untuk berbelanja.

 

Bibi War tersenyum menatap kepergian Yuna. Ia sangat senang setiap kali melihat Yuna begitu ceria menjalani harinya. Ia membayangkan bagaimana ramainya rumah ini jika Yuna dan Yeriko sudah memiliki seorang anak.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga, bikin aku makin semangat deh.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 184 : Strawberry Kiss || a Romance Novel by Vella Nine

 


“My honey bear unyu-unyu ...! Makasih ya udah bantuin aku!” seru Yuna sambil memainkan kedua pipi Yeriko.

 

“He-em.” Yeriko menganggukkan kepala. “Mau belanja apa lagi?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Mau makan, laper.”

 

“Mau makan di apa?”

 

“Mie kocok yang di depan sana.”

 

“Oke. Aku bawa ini dulu ke mobil.” Yeriko mengangkat paper bag yang ada di kedua tangannya.

 

Yuna mengangguk, ia menunggu Yeriko di depan pintu plaza. Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah kembali menghampirinya. Mereka melangkah beriringan menuju tempat makan yang diinginkan oleh Yuna.

 

“Yun, apa keluarga tante kamu memang sering menindas kamu kayak gitu?”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Aku udah biasa. Udah kebal.”

 

“Kamu jangan sok kuat! Lain kali, kalo ada masalah sama mereka, kamu harus cerita sama aku.”

 

“Eh!? Aku nggak ada masalah apa-apa, kok. Mungkin, mereka kangen sama aku.” Yuna menghela napas sambil melangkahkan kakinya. “Lagian, aku nggak mau ingat masa lalu itu,” tuturnya lirih sambil menatap lantai yang ada di bawahnya.

 

“Ya udah, nggak usah dibahas. Oh ya, gimana kalo kamu ceritain ke aku ... masa-masa kamu di Ausie?” tanya Yeriko.

 

“Sama beratnya,” jawab Yuna sambil menatap pilu ke arah Yeriko.

 

Yeriko melirik ke atas.

 

“Kamu aja yang ceritain tentang masa kecil kamu. Gimana?”

 

“Boleh. Aku pesen makanannya dulu!” Mereka bergegas masuk ke rumah makan tersebut. Yeriko segera memesan dua porsi mie kocok. Kemudian, mereka duduk sambil berbincang.

 

“Ayo, ceritain!” pinta Yuna.

 

“Cerita apa?”

 

“Masa kecil kamu.”

 

“Masa kecilku?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum. “Masa kecilku, aku selalu bermimpi jadi seorang prajurit seperti kakek. Saat itu, aku ngerasa hebat banget kalo bisa menyelamatkan banyak orang. Mmh ... waktu itu aku lihat kakek sangat tampan, gagah dan pemberani.”

 

Yuna menopang dagu dengan kedua tangan sambil mendengarkan cerita Yeriko. “Yer, kamu juga sangat tampan, gagah dan pemberani. You are my hero!” gumam Yuna dalam hati.

 

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?” tanya Yeriko sambil mencubit hidung Yuna.

 

“Ganteng banget,” jawab Yuna sambil menatap Yeriko tanpa berkedip.

 

“Kamu ini ... kayak nggak pernah lihat suami kamu aja.”

 

“Bukan kamu.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Terus?”

 

“Itu!” Yuna menunjuk pria muda yang duduk di belakang Yeriko.

 

Yeriko memutar kepalanya. Ia langsung mengernyitkan dahi menatap Yuna. “Kamu ...!? Mau main-main sama aku?” dengusnya.

 

Yuna meringis. “Hehehe. Bercanda.”

 

Yeriko kembali menoleh ke belakang. Pria muda yang ada di belakangnya memang sangat tampan. Bisa jadi, usianya selisih sepuluh tahun dengan dirinya.

 

“Aku bercanda. Kamu serius banget nanggepinnya.” Yuna memutar kepala Yeriko agar menatap ke arahnya.

 

“Tukar tempat duduk!” pinta Yeriko.

 

“Kenapa?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

Yeriko bangkit. Ia menarik lengan Yuna agar duduk membelakangi pria muda tersebut.

 

“Kamu cemburu?” tanya Yuna saat mereka sudah bertukar tempat duduk.

 

“Apa masih harus kamu tanya?” sahut Yeriko ketus.

 

Yuna menatap makanan dan minuman yang sedang dihidangkan oleh pelayan ke mejanya.

 

“Kamu udah setua ini, masih aja cemburu sama berondong,” celetuk Yuna.

 

“Apa? Kamu bilang aku tua?”

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Masih muda, kok. Masih unyu-unyu banget.”

 

“Kamu nggak boleh lihat cowok lain selain aku!”

 

“Eh!? Aku disuruh merem?” tanya Yuna sambil memejamkan matanya. “Di sini ada banyak cowok.”

 

“Nggak gitu.”

 

“Terus, aku harus gimana biar kamu seneng?” tanya Yuna sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

 

“Nggak usah bercanda terus!” Yeriko meraih telapak tangan Yuna dan memaksa Yuna memperlihatkan wajahnya.

 

“E-eh, makanannya tumpah.” Yuna langsung menahan gelas minumnya yang hampir tumpah.

 

“Kamu minta digigit? Awas ya, kalo sampe rumah, aku bakal bikin perhitungan!” bisik Yeriko.

 

“Ah, aku nggak suka berhitung. Aku sukanya bercinta.”

 

“Kamu ...!?” Yeriko menoleh ke sekelilingnya. Andai tidak berada di tempat umum, ia pasti langsung menelan Yuna mentah-mentah.

 

Yuna terkekeh sambil menatap raut wajah Yeriko.

 

Yeriko menghela napas dan memperbaiki posisi duduknya. “Kamu jangan mancing aku di tempat umum!”

 

“Mancing apaan? Kita lagi makan,” sahut Yuna sambil menahan tawa.

 

“Abis makan, kamu yang kumakan!” dengus Yeriko.

 

“Iih ... takut!” sahut Yuna sambil tertawa.

 

“Nggak usah bercanda terus! Cepetan makannya!” pinta Yeriko.

 

“Kenapa? Udah nggak tahan?” tanya Yuna sambil melirik Yeriko.

 

Yeriko menatap wajah Yuna tanpa berkedip. “Apa kamu mau aku makan di sini sekarang juga?”

 

“Maauu ...!” sahut Yuna sambil menyodorkan lehernya ke arah Yeriko.

 

Yeriko langsung menelan ludah melihat tingkah istrinya. Ia menyentil dahi Yuna.

 

“Aw ... sakit!” seru Yuna.

 

“Kamu makin hari makin genit aja.”

 

“Yaelah. Cuma sama suami doang genitnya. Lagian, aku cuma bercanda. Serius banget nanggepinnya?”

 

Yeriko tersenyum kecil. Walau hanha candaan, tapi gairah cintanya sungguh hadir dan bukan sebagai candaan.

 

“Yer, kamu suka rasa stroberi?”

 

“Suka.”

 

“Udah pernah makan mie kocok rasa stroberi?” tanya Yuna lagi.

 

“Hah!? Emang ada?”

 

“Ada.”

 

Yeriko celingukan mencari nama menu yang dimaksud oleh Yuna. “Menu baru ya?”

 

Yuna mengangguk. “Aku tadi beli lipbalm rasa stroberi. Udah aku pakai. Kamu mau cobain?”

 

Yeriko tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Kamu ini ada-ada aja. Masa aku disuruh pake lipbalm?” tanyanya sambil menyuap makanan ke mulutnya.

 

Yuna bangkit dari tempat duduk. Ia mencondongkan tubuhnya ke wajah Yeriko dan langsung mengulum bibir suaminya.

 

Yeriko tertegun beberapa saat. Ia menarik tengkuk Yuna dan membalas ciuman Yuna penuh kehangatan.

 

“Kamu udah makin berani ya?” tanya Yeriko.

 

“Emangnya mau takut apa?”

 

“Banyak orang yang lihatin kita.”

 

“Biar aja. Biar mereka tahu, kalo aku lagi bahagia.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengetuk dahi Yuna. “Ayo, pulang!” Ia mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan meletakkan di atas meja.

 

Yeriko bangkit dan langsung menarik Yuna bangkit dari kursinya. Ia merangkul pundak Yuna dengan mesra. Tak peduli pada banyak pasang mata yang menatap mereka penuh rasa cemburu. Mereka bergegas kembali ke rumah.

 

 

 

(( I can almost hear him now ... Gotta make him proud ... I keep my eyes wide open ... ))

 

Yuna bersenandung menyanyikan lagu ‘Eyes Wide Open’ sambil mengeluarkan paper bag dari dalam mobil saat mereka sudah sampai di rumah.

 

“Kamu bisa nyanyi?” tanya Yeriko sambil meraih paper bag dari tangan Yuna.

 

“Bisa. Tapi suaranya hancur. Hahaha,” jawab Yuna.

 

Yeriko tersenyum. Ia tak menyangka kalau Yuna memiliki suara yang merdu saat bernyanyi. Selama mereka menikah, ia tak pernah mendengar Yuna bersenandung begitu riang. Hingga tak pernah mengetahui kalau istrinya memiliki suara yang begitu indah untuk didengar.

 

“Nggak mau gendong lagi?” tanya Yeriko sambil membungkuk di depan Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Kasihan, udah bawa belanjaan.”

 

“Kalo gitu, kamu yang gendong aku masuk rumah!” pinta Yeriko. Ia berlari ke belakang  punggung Yuna dan merangkulkan tangannya ke pundak Yuna.

 

“Yeriko ...! Kamu berat banget. Aku mana bisa gendong kamu!” seru Yuna.

 

Yuna memutar bola matanya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah sambil menahan tubuh Yeriko yang bersandar di punggungnya.

 

“Huft ...! Badan kamu berat banget. Kenapa sih harus nyandar di punggungku. Jalan sendiri kan bisa,” celetuk Yuna sambil membaringkan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu.

 

Yeriko tersenyum, menjatuhkan paper bag di tangannya ke lantai. Ia langsung menelungkupkan tubuhnya ke atas tubuh Yuna. “Biar kamu capek dan bisa langsung baring kayak gini,” ucapnya lirih.

 

Yuna tertawa kecil sambil menatap wajah Yeriko. “Nggak perlu kayak gini. Aku pasti baring di ranjang dan nuruti semua perintah kamu,” bisik Yuna di telinga Yeriko.

 

“Baiklah.” Yeriko bangkit dan langsung menggendong Yuna naik ke kamarnya. Menghabiskan malamnya dengan sentuhan-sentuhan cinta yang menggairahkan.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas