“Yun, kamu sengaja
ngebocorin rahasia perusahaanku ke Yeriko?” tanya Lian sambil menatap kesal ke
arah Yuna.
“Ngebocorin apaan?
Rahasia perusahaan aja aku nggak ngerti,” sahut Yuna ketus.
“Kamu jangan pura-pura deh! Kamu sengaja masuk perusahaanku buat ngambil
rahasia perusahaan dan kasih ke suami kamu ini kan?” bisik Lian geram.
Yuna tersenyum sinis ke arah Lian. “Bukannya kamu yang maksa aku buat masuk
ke perusahaan kamu? Lagian, kamu nuduh aku tanpa bukti.”
Lian menatap kesal ke arah Yuna. “Kalau sampe aku tahu kamu cuma manfaatin
aku, aku nggak akan pernah ngelepasin kamu!” bisiknya geram.
Yuna tidak menghiraukan ucapan Lian.
“Untuk Pak Wilian Wijaya, silakan naik ke atas panggung!” pinta pembawa
acara.
Lian bangkit dari tempat duduk sambil merapikan posisi jasnya. Ia tersenyum
dan melangkah ke atas panggung untuk menerima hasil karya senilai dua ratus
juta yang telah ia menangkan.
Yeriko dan Andre tersenyum melihat Lian berdiri di atas panggung. Terlebih
Yeriko yang merasa sangat puas bisa menjebak Lian masuk ke dalam perangkapnya.
Semua orang mulai keluar dari gedung satu persatu setelah pembawa acara
mengumumkan bahwa rangkaian acara telah usai.
Lian menatap tajam ke arah Yuna. Ia bergegas menghampiri gadis itu saat ia
menyadari ada yang tidak beres dari proses pelelangan yang terjadi.
“Kamu sengaja mau mempermainkan aku?” tanya Lian kesal.
Yuna mengernyitkan dahinya menatap Lian. “Maksud kamu?”
“Yun, aku minta kamu datang buat mendukung perusahaan kita. Kenapa kamu
malah milih suami kamu ini?”
“Why? Dia suamiku, apa salahnya aku milih jalan sama dia?”
“Kamu ...!?” Lian menunjuk wajah Yuna geram.
Yeriko langsung bangkit dan menghadap ke arah Lian. “Kenapa?” tanyanya
sambil tersenyum sinis. “Baru sadar kalau kamu sangat bodoh?”
Lian mengerutkan bibirnya dan menatap tajam ke arah Yeriko. “Kalian bertiga
sengaja mau jebak aku?”
Yuna hanya duduk sambil menatap tiga pria yang sedang bersamanya. Ia masih
tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya dan motif yang ada di baliknya. Ia
hanya menatap ketiga cowok itu bergantian.
“Aku sama Andre emang sengaja beradu buat mancing kamu,” tutur Yeriko tanpa
basa-basi. “Nggak nyangka kalau kamu gampang banget masuk ke dalam perangkap.
Ckckck.” Yeriko menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lian menarik napas dalam-dalam sambil menatap tajam ke arah Yeriko dan
Andre yang ada di belakangnya.
“Kamu pikir, bisa ngalahin Galaxy dan Amora dengan mudah?” sahut Andre
sambil menatap angkuh ke arah Lian.
Yeriko tersenyum sinis sambil melirik Andre yang ada di balakangnya. “Kamu
jangan senang dulu, aku di sini bukan untuk bekerjasama dengan Amora,” sahut
Yeriko.
Andre terkejut mendengar ucapan Yeriko. Ia pikir, Yeriko akan mengajaknya
berdamai dan bisa mengembalikan beberapa kliennya yang sudah berpindah ke
Galaxy.
“Aku tahu, kalian berdua sangat menginginkan Yuna. Itulah salah satu alasan
aku bawa dia. Seharusnya, kalian menyadari kalau Yuna sudah bersuami. Tapi,
kalian berdua masih aja ngejar istriku.”
Yuna terkejut mendengar pernyataan Yeriko. Ia tidak menyangka kalau Yeriko
sedang memanfaatkan kehadirannya untuk kepentingan bisnis, lebih tepatnya untuk
menjatuhkan pesaing bisnisnya.
“Aku sudah menduga, kehadiran Yuna bisa memancing emosi kalian.” Yeriko
tertawa kecil. “Karya seni itu cuma berharga seratus juta dan kami bisa
memenangkannya dengan harga dua ratus juta.” Yeriko bertepuk tangan di hadapan
Lian. “Selamat!” ucapnya sambil tersenyum sinis. “Kehadiran Yuna bisa memancing
emosi kamu dengan mudah. Sebanyak apa pun uang yang kamu punya, nggak akan
bikin Yuna berpaling dari aku!” tegas Yeriko.
“Aku nggak nyangka kalau kamu bisa jadikan istri kamu sebagai alat untuk
kepentingan bisnis,” sahut Andre.
Yeriko langsung berbalik menatap Andre dan tersenyum sinis. “Milikku milik
Yuna juga. Aku melakukannya bukan karena sepihak. Kalian berdua nggak akan bisa
ambil Yuna dari aku!” tegasnya. Ia langsung menggenggam tangan Yuna dan membawa
istrinya keluar dari gedung.
Yuna ikut melangkah mengiringi langkah Yeriko. Namun, ia masih terus
menoleh ke belakang. Menatap Lian dan Andre yang masih berdiri di sana. Seperti
apa pun mereka kini, mereka adalah orang yang pernah ada di masa lalu Yuna.
Wilian, pernah menjadi teman berbagi cerita semasa SMA. Andre, pernah menjadi
teman berbagi suka-duka sejak ia masih kanak-kanak.
“Maafin aku!” bisik Yuna dalam hati. Ia sedikit merasa bersalah dengan
sikap kejam suaminya.
Yeriko ikut menoleh ke belakang. Ia langsung merangkul pinggang Yuna dengan
mesra. “Ayo ...!” bisiknya di telinga Yuna.
Yuna tersenyum menatap Yeriko. Mereka bergegas keluar dari gedung. Kemudian
menuju mobilnya yang sudah menunggu di pintu depan.
Yeriko membukakan pintu untuk Yuna. Mereka berdua duduk berdampingan dan
memerintahkan Riyan untuk membawa mereka pulang secepatnya.
“Yer, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Yuna sambil menatap suaminya.
Yeriko menganggukkan kepala. “Apa?”
“Kamu sengaja manfaatin aku buat kepentingan komersial kamu?”
“Kamu ngomong apa sih?” sahut Yeriko sambil menangkup kepala Yuna. “Kamu
jauh lebih penting dari kepentingan komersial bisnis ini,” tuturnya sambil
mencubit kedua pipi Yuna.
Yuna mengerutkan bibirnya. Ia baru saja menyaksikan perang komersial yang
sangat kejam. “Kamu tulus sayang sama aku atau cuma mau manfaatin aku doang
demi bisnis kamu?” tanya Yuna lagi.
Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk dahi Yuna. “Kamu ini lagi mikirin
apaan sih!?”
Yuna mengelus dahinya. “Aku nggak buta. Aku bisa lihat kalau kamu bahagia
banget ngelawan mereka berdua. Aku sama sekali nggak paham sama kalian bertiga.
Kenapa saingan bisnis harus bawa-bawa aku?”
“Yun, aku bawa kamu sebagai istri aku. Aku tahu, mereka berdua masih suka
sama kamu kan?” tanya Yeriko.
Yuna menelan ludah mendengar pertanyaan dari Yeriko. “Kamu tahu dari mana?”
“Dari gerak-gerik mereka aja aku udah tahu. Aku bener-bener nggak suka sama
cara mereka lihat kamu. Apa mereka nggak tahu kalau kamu sudah jadi istri orang
lain?”
“Apa masalah perasaan harus dicampur adukkan dengan kepentingan bisnis?”
“Kepentingan bisnis cuma punya dua cara. Menggunakan perasaan atau tidak
berperasaan sama sekali!” tegas Yeriko.
“Kamu nggak bermaksud bikin mereka kayak Direktur Lukman kan? Walau
bagaimanapun, mereka adalah orang yang baik di masa-masa sulitku.”
Yeriko tersenyum sinis. “Tergantung mereka. Mau sampai kapan mereka
mengusik hubungan kita?”
“Yer, Andre itu nggak seperti yang kamu pikirkan! Dia deket sama aku dari
kecil. Jangan bikin mereka dalam kesulitan!” pinta Yuna.
Yeriko tersenyum sinis. “Iya. Aku nggak akan mempersulit mereka. Asalkan
mereka sadar posisi mereka sekarang!”
“Serius?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Makasih sudah banyak membantu aku!” ucap
Yeriko sambil mengecup pelipis Yuna.
Yuna tersenyum ke arah Yeriko. Kemudian menyandarkan kepalanya di bahu
Yeriko.
Entahlah ... ada begitu banyak hal yang masih tidak ia mengerti. Namun,
selama Yeriko masih berada di sisinya. Ia merasa sangat nyaman.
Yeriko terus tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Suasana hatinya sangat
bahagia setelah berhasil mempermainkan Lian di depan semua rekan bisnis mereka.
Makasih yang udah baca
“Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa
aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!
Selamat menjalankan ibadah puasa!
Much Love
@vellanine.tjahjadi
0 komentar:
Post a Comment