Cerita Kehidupan yang Menginspirasi dan Menghibur by Rin Muna a.k.a Vella Nine

Sunday, February 9, 2025

Perfect Hero Bab 72: Pembelaan | a Romance Novel by Vella Nine

 


Yeriko berbisik ke telinga Yuna dan membuat Yuna tersenyum ke arah Bellina yang ada di hadapannya.

 

Lian merasakan hatinya sangat sakit saat melihat Yeriko yang memperlakukan Yuna begitu mesra.

 

“Bel, kamu tahu kan kalau aku sudah menikah dan hidup bahagia. Jadi, bilang sama calon suami kamu ini supaya nggak ganggu aku lagi! Bisa kan?” pinta Yuna sambil tersenyum.

 

Lian membelalakkan matanya mendengar pernyataan Yuna. Ia tidak menyangka kalau Yuna akan membocorkan keinginannya untuk kembali bersamanya.

 

Yuna tersenyum manis ke arah Lian.

 

“Kamu jangan fitnah aku ya!” sentak Lian.

 

“Fitnah? Kamu nggak ingat sama apa yang udah kamu lakuin ke aku kemarin? Bukannya kamu yang mohon-mohon buat balik sama aku lagi? Bahkan kamu sendiri yang janji kalau mau menceraikan Bellina setelah anak kamu lahir.”

 

Lian langsung menoleh ke arah Bellina. “Bohong, Bel! Aku nggak pernah bilang begitu. Dia udah fitnah aku. Kamu tahu kan, dia masih sayang sama aku dan pengen misahin kita. Makanya, dia ngarang cerita buat ngerusak hubungan kita.”

 

“Kamu ini bener-bener nggak tahu diri ya, Yun!” sentak Bellina.

 

Yuna hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Bellina.

 

“Apa masih kurang puas sama apa yang kamu dapetin? Kamu pikir, aku nggak tahu kalau kamu udah jual diri demi pengobatan ayah kamu? Kamu nikah sama Yeriko, pasti karena ayah kamu yang udah tua dan lumpuh itu kan?”

 

PLAK ...!

 

Yuna langsung menampar pipi Bellina. “Jangan bawa-bawa ayahku!” sentak Yuna. “Aku emang nggak punya apa-apa. Tapi aku masih punya harga diri. Nggak kayak kamu yang rela ngasih semua tubuh kamu demi harta.”

 

“Kamu jangan ngomong sembarangan ya!”

 

“Aku nggak ngomong sembarangan! Mama kamu ... rela ngebiarin anaknya hamil di luar nikah demi harta. Kamu juga harus ingat kalau dia juga yang mau jual aku sama laki-laki tua yang cabul itu!” seru Yuna. “Kalau bukan karena Yeriko yang menyelamatkan aku, mungkin sampai hari ini mama kamu masih jual aku sama lelaki hidung belang cuma karena uang.”

 

“Kamu ...!?” Bellina menunjuk wajah Yuna.

 

“Kenapa? Mau ngelak? Kenyataannya emang kayak gitu, kan?” Yuna semakin membusungkan dada di hadapan Bellina.

 

Yeriko tersenyum sinis. “Kamu juga harus tahu kalau sudah mengambil alih perusahaan Lukmantoro. Laki-laki tua yang ingin menikahi Yuna dengan paksa. Kamu ngerti kan maksud aku?” tanya Yeriko sambil menaikkan salah satu alisnya.

 

Bellina terdiam mendapati tatapan Yeriko yang dingin dan berbahaya. Jika ia masih terus melawan Yuna dan Yeriko, bisa jadi Yeriko akan mengambil alih seluruh perusahaannya dan membuat keluarganya bangkrut.

 

Tapi, setiap kali melihat wajah Yuna, kebencian di dalam dirinya sangat besar dan tidak bisa berpikir jernih.

 

“Sudahlah. Lebih baik kita kembali ke aula dan menemui tamu. Nggak enak kalau terlalu lama meninggalkan mereka,” pinta Mega sambil menggenggam tangan Bellina.

 

Bellina masih terus menatap Yuna penuh kebencian. Mega juga ingin sekali memaki Yuna, namun ia sudah menyadari ancaman dari Yeriko yang tidak pernah main-main soal bisnis. Ia sudah membaca banyak berita, banyak perusahaan yang diakuisisi oleh Yeriko.

 

Yeriko adalah anak muda berbakat dan terkenal sangat kejam. Ia bisa dengan mudah membuat Wijaya Group jatuh ke tangannya.

 

KREEK ...!

 

Suara pintu kamar mandi terbuka, dari balik pintu keluar seorang gadis cantik yang sudah tidak asing lagi di mata Yeriko.

 

“Cantika?” Yeriko mengernyitkan dahi menatap Cantika yang baru saja keluar dari toilet.

 

Cantika tersenyum kecil sambil menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia sengaja menyalakan rokok dan menghisapnya perlahan. Ia menikmati setiap hisapan rokoknya sambil menonton pertengkaran yang terjadi antara Yuna dan Bellina.

 

“Istri kamu sangat hebat dan mengagumkan,” tuturnya tanpa mengalihkan pandangannya dari lantai yang ada di hadapannya.

 

Yuna langsung menoleh ke arah gadis cantik yang memujinya. Ia tidak menyangka kalau wanita yang ia duga selingkuhan Yeriko, justru mengetahui dirinya adalah istri Yeriko, bahkan melontarkan pujian kepadanya.

 

Bellina mengernyitkan dahi menatap Cantika yang terlihat sangat elegan dan angkuh. “Kamu siapa? Nggak usah ikut campur urusan orang lain!” sentaknya.

 

Cantika tersenyum sinis, ia melangkah perlahan menghampiri Bellina. “Kamu sudah lupa aku ini siapa?” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Bellina.

 

Bellina terdiam. Ia menelan ludah saat Cantika menghampiri dan mengitari tubuhnya. Belum selesai urusannya dengan Yuna dan Yeriko, ia harus berhadapan dengan Cantika yang membuatnya sangat ketakutan.

 

Cantika tersenyum kecil menatap Bellina. Ia mengangkat dagu Bellina dengan jari telunjuk agar Bellina menatap wajahnya. “Sekarang takut?” tanyanya angkuh.

 

Bellina tidak menyahut. Bibirnya bergetar dan ia tidak berani melakukan apa pun. Ia hanya berusaha membuang pandangannya dan tidak ingin menatap Cantika.

 

Yuna heran melihat Cantika dan Bellina, sepertinya mereka memiliki rahasia yang tidak ia ketahui. Melihat reaksi Bellina, sudah bisa dipastikan kalau mereka pernah berseteru sebelumnya.

 

“Dia siapa? Kenapa Bellina ketakutan gitu?” bisik Yuna di telinga Yeriko.

 

Yeriko mengedikkan bahunya. “Nggak tahu. Aku cuma kenal dia sebagai klienku aja.”

 

“Apa dia klien yang penting dan berpengaruh di perusahaan?” tanya Yuna lagi.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna menahan tawa, ia merasa sangat senang karena akhirnya ada seseorang yang membantunya melawan Bellina.

 

“Kenapa malah ketawa?” tanya Yeriko lirih.

 

“Nggak papa. Lucu aja.”

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna yang berdiri di sampingnya.

 

Cantika tersenyum sinis ke arah Bellina. Ia menghisap rokok yang ada di tangannya dan menghembuskan asap rokok tersebut ke wajah Bellina.

 

Lian langsung mendorong tubuh Cantika. “Kamu jangan sembarangan sama istriku! Dia lagi hamil dan nggak boleh kena asap rokok.”

 

Cantika tertawa kecil menanggapi ucapan Lian. “Aku nggak lihat dia lagi hamil,” sahutnya. “Lagian, aku lihat beberapa hari lalu dia masih minum alkohol. Bukannya wanita hamil nggak boleh konsumsi alkohol?”

 

Lian langsung menoleh ke arah Bellina. Sementara Bellina langsung menggelengkan kepala untuk mengelak ucapan Cantika.

 

“Huft, kalau emang beneran kamu hamil, kamu harus benar-benar mengerti caranya menjaga janin kamu ini,” tutur Cantika sambil menatap perut Bellina.

 

Yuna tersenyum kecil menanggapi ucapan Cantika. “Oh ya, aku juga baru ingat. Beberapa waktu lalu, Lian ngajak Yeriko makan malam bareng. Dia juga minum anggur merah.”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna. Ia juga mengingat hal itu.

 

“Oh ... jangan-jangan, kamu emang nggak sayang sama janin kamu itu dan pengen bikin dia rusak?” tanya Yuna.

 

“Bukan dia yang nggak sayang, tapi ayah dari calon bayi itu,” sahut Yeriko. “Dia ada di sana dan nggak mencegah Bellina untuk minum alkohol.”

 

Yuna langsung tersenyum kecil. “Aha ... bener juga. Jangan-jangan, kamu emang pengen bikin Bellina keguguran dan ngajak aku balikan sama kamu kan?” dengus Yuna ke arah Lian.

 

“Kamu ini cocoknya jadi pengarang cerita!” sentak Lian. “Nggak usah mengada-ngada.”

 

“Iya. Lagian, aku cuma pura-pura minum anggur untuk menghormati kalian aja,” sahut Bellina.

 

Yuna tersenyum sinis. “Kami nggak perlu sandiwara cuma untuk dapetin hormat dari kalian!”

 

“Gimana dengan ini?” tanya Cantika sambil memutar video Bellina yang sedang berada di bar bersama dua orang sahabatnya dan asyik menikmati alkohol.

 

Bellina membelalakkan matanya dan berusaha merebut ponsel Cantika.

 

Cantika tersenyum sinis sambil menjauhkan ponselnya dari Bellina. “Orang yang berbohong sekali, akan membuat kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan yang sudah ia buat.”

 

“Lain kali jangan seperti itu lagi dan sayangi kehadiran anak kita!” pinta Lian pada Bellina.

 

Bellina menganggukkan kepala. “Maaf, aku sama sekali nggak kepikiran soal itu. Tapi, aku sudah periksa ke dokter dan kandunganku baik-baik aja.”

 

Lian tersenyum menatap Bellina. “Syukurlah.”

 

Bellina balas tersenyum. Ia merasa sangat senang karena Lian telah mempercayai dirinya. Lian tidak boleh mengetahui kalau ia hanya pura-pura hamil agar Lian segera menikahinya. “Sorry ...! Cuma dengan cara ini, kamu mau mempercepat pernikahan kita,” bisik Bellina dalam hatinya.

 

Lian langsung merengkuh kepala Bellina dan mengecup keningnya. Walau bagaimanapun, Bellina adalah calon ibu dari anaknya dan ia tidak akan membiarkannya berada dalam kesulitan.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya! Selamat menjalankan ibadah puasa!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas