“Halo ... Yuna, apa kabar?” sapa Abdi, ayah dari Lian.
“Halo ... Oom. Kabar saya baik-baik aja. Gimana dengan
kabar Oom?”
“Alhamdulillah baik,” jawab Abdi sambil tersenyum ke arah
Yuna. Ia menepuk bahu Lian dan mendorong anaknya untuk menyapa Yuna.
“Kalian masih bisa menjaga silaturahmi walau akhirnya
tidak bersama,” bisik Abdi di telinga Lian.
Lian tersenyum dan akhirnya menyapa Yuna yang sudah
berdiri di depannya. “Makasih ya, sudah mau datang ke pertunangan kami,”
tuturnya sambil tersenyum menatap Yuna.
Hati Bellina semakin terbakar cemburu. Ia tidak lagi
peduli dan berniat untuk mempermalukan Yuna. Ia menatap kalung berlian yang
melingkar manis di leher Yuna.
“Kamu ... bisa pakai kalung sebagus ini, pasti cuma
kalung sewaan aja kan? Cewek miskin kayak kamu, mana bisa sih beli barang
mahal,” tutur Bellina.
Yuna menarik napas dalam-dalam, ia mencoba menahan diri
untuk tidak terpancing dengan kata-kata Bellina.
“Nggak mungkin itu kalung sewaan. Desain kalung ini
dibuat khusus dan nggak mungkin bisa disewa,” sahut seorang tamu undangan yang
ada di dekat mereka.
“Kamu tahu dari mana? Sok tahu!” sahut Bellina kesal.
Pria itu tersenyum sambil menatap Bellina. “Sepertinya
seleramu sangat rendah sampai nggak bisa bedain mana barang asli dan palsu. Aku
ini sudah bertahun-tahun jadi pengusaha berlian. Kalung Berlian yang dipakai
Nyonya Ye, didesain khusus dan nilainya puluhan milyar.”
Bellina membelalakkan mata mendengar ucapan dari pria
tersebut.
Yeriko hanya tersenyum kecil menatap Bellina yang terdiam
dan tidak bisa mengelak ucapan pria yang ada di sampingnya.
“Kamu harus ingat, siapa kamu dan siapa aku sekarang!”
ucap Yuna sambil tersenyum ke arah Bellina. “Dulu, kamu boleh menghina aku
sesukamu. Tapi, sekarang aku adalah Nyonya Ye. Semua orang tahu siapa Tuan Ye,
dia nggak akan ngasih aku barang murahan.”
Wajah Bellina langsung pucat saat mendengar ucapan Yuna.
Dalam hatinya, ia merasa sangat kesal karena Yuna selalu lebih unggul darinya.
Kekayaan Yeriko melampaui kekayaan Lian dan ia merasa kalau Yuna sudah
menginjak-injak harga dirinya sebagai Nyonya Lian.
Mega yang melihat perdebatan itu, langsung menghampiri
Bellina dan membantu menantunya menyerang Ayuna.
“Jangan lupa sama tempat kamu berasal!” tutur Mega sambil
mendorong dada Yuna. “Sekalipun kamu sekarang pakai pakaian dan barang mahal,
kamu tetap aja itik buruk rupa. Besok, kamu pasti sudah kembali jadi gadis abu,
kan?”
Ayuna terlihat sangat kesal dengan ucapan Mega. Ingin
sekali ia melawan mertua Bellina yang kejam itu, namun tangan Yeriko menahannya
agar tetap bersikap tenang.
“Yeriko Sanjaya Hadikusuma. Semua orang mengenal siapa
kamu. Pria muda dan kaya raya. Nggak nyangka kalau kamu bisa jatuh ke pelukan
gadis penipu satu ini. Dia masuk dalam kehidupan kamu, pasti cuma mau mengincar
harta kamu. Harusnya, kamu lebih berhati-hati sama dia!” tutur Mega sambil
menatap Yeriko.
Yeriko hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Mega.
“Ayuna jauh lebih berharga dari harta yang kami punya!” tegas Yeriko. “Kita
lihat, apakah menantu kamu ini masuk ke keluargamu karena mengincar harta yang
kalian punya atau tidak?”
Bellina langsung mendelik ke arah Yeriko. “Kamu jangan
ngomong sembarangan ya!” sentaknya.
Yeriko hanya tersenyum sinis menanggapi makian dari
Bellina.
“Kalian pikir, kalian ini jauh lebih baik dari aku?”
sahut Yuna. “Kamu ... cuma perempuan perebut pacar orang alias pelakor!” tutur
Yuna mulai emosi.
“Kamu jangan ngomong sembarangan ya!” sentak Lian.
“Aku nggak ngomong sembarangan. Emang kenyataan kan? Dia
menghalalkan segala cara buat dapetin kamu!” seru Yuna. Ia ingin sekali
menyerang Lian, namun Yeriko menahannya.
“Kamu ... bener-bener perempuan nggak tahu diri dan nggak
tahu sopan santun, Untungnya Lian nggak terus-terusan berhubungan sama kamu,”
sahut Mega.
Yuna tersenyum kecil. “Aku juga beruntung karena akhirnya
bisa pisah sama Lian. Dia cuma cowok murahan yang nggak pantes buat dicintai.
Sekarang, aku lebih beruntung karena punya suami yang jauh lebih baik dari
dia.”
“Kamu ...!?” Mega menunjuk wajah Yuna kesal.
“Berani-beraninya menghina anakku!” sentaknya.
“Ma ... sudahlah. Nggak perlu meladeni dia!” pinta Lian.
Bellina tersenyum sinis menatap Ayuna. Ia masih belum
puas melihat mama mertuanya berdebat dengan Yuna.
Mega masih ingin memaki Yuna, namun tatapan dingin Yeriko
membuatnya membeku dan ketakutan. Ia tidak pernah mendapati tatapan anak muda
yang sekejam itu. Walau Yeriko masih sangat muda, tapi harta kekayaan yang ia
miliki lebih dari sepuluh kali lipat dari harta kekayaan keluarga Wijaya.
Melan yang melihat perdebatan antara Yuna dan Bellina,
akhirnya ikut menghampiri Yuna dan membela puterinya.
“Yun, kamu jangan bikin masalah di sini!” pinta Melan.
Yuna memutar bola matanya. “Dateng lagi nenek sihir
satu ini,” celetuknya dalam hati.
“Tante, Bellina yang selalu mulai duluan!” sahut Yuna
sambil menunjuk Bellina.
“Sudahlah. Ini hari pertunangan kamu. Jangan bikin
suasana memburuk!” pinta Melan sambil mengajak Bellina pergi meninggalkan Yuna.
Mega dan Lian juga ikut melangkah pergi meninggalkan Yuna
dan Yeriko.
Yeriko tersenyum menatap semua tamu undangan yang
memerhatikan dirinya.
“Mungkin, di antara kalian semua banyak yang penasaran
dan bertanya-tanya tentang wanita yang ada di samping saya,” tutur Yeriko
mengalihkan perhatian semua orang.
Yuna tersenyum sambil menoleh ke arah Yeriko yang berdiri
di sampingnya.
Yeriko menatap Yuna dan merangkul pinggang Yuna yang
seksi. “Perkenalkan, gadis cantik yang ada di samping saya adalah gadis yang
sudah saya nikahi sebulan lalu. Dia adalah menantu kesayangan keluarga
Hadikusuma.”
Semua tamu berseru riang ke arah Yuna dan Yeriko. Mereka
memberi selamat dan bertepuk tangan mendengar kabar gembira dari sepasang suami
istri yang baru saja menjadi pengantin baru itu.
Abdi Wijaya dan Mega Sari ikut terkejut mendengar
pengumuman yang keluar dari mulut Yeriko. Mereka benar-benar tidak menyangka
kalau Yeriko akan memperkenalkan identitas Yuna pada semua orang yang hadir di
acara pertunangan putera kesayangannya itu.
“Sialan!” maki Bellina sambil menghentakkan kakinya. Ia
merasa, Yuna dan Yeriko sudah merebut perhatian semua orang di acara
pertunangannya. “Ini acaraku atau acara mereka sih!?” celetuk Bellina kesal.
Lian memeluk pinggang Bellina untuk menenangkan calon
istrinya tersebut. “Sudahlah. Mereka bukan orang yang mudah untuk dihadapi.
Jangan sampai terpancing emosi karena hampir semua orang yang ada di sini
sangat menghormati keluarga Hadikusuma.”
Bellina menarik napas dalam-dalam. “Keluarga mereka itu
sekaya apa sih?” gumam Bellina kesal.
“Kamu bisa lihat dari kalung yang dipakai Yuna. Kalung
itu harganya milyaran rupiah dan nggak ada apa-apanya buat mereka,” bisik Lian.
Bellina terdiam mendengar ucapan Lian. Ia tidak menyangka
kalau dirinya akan dikalahkan dengan mudah oleh Yuna. Kini, Yuna berada jauh di
depannya dan telah menjadi bagian dari orang yang paling dihormati di kota ini.
“Semuanya, kembali fokus ke acara pertunangan Wilian dan
Bellina!” pinta Yeriko sambil menunduk sopan. Ia mengajak Yuna untuk mencicipi
hidangan yang sudah disediakan.
Yuna dan Yeriko mencicipi anggur merah yang disediakan di
atas meja. Yuna tidak terbiasa dengan pesta dan keramaian yang begitu mewah.
“Aku ke toilet dulu ya!” pamit Yuna setelah mencicipi
beberapa kue yang terhidang di atas meja.
“Mau aku temenin?” tanya Yeriko.
Yuna menggelengkan kepala. “Aku bisa sendiri,” tuturnya
sambil menahan senyum.
“Oke. Jangan lama-lama!” pinta Yeriko.
“Emang kenapa kalau lama?”
“Aku takut kamu diambil orang,” jawab Yeriko sambil
mencubit hidung Yuna.
Yuna tersipu. “Kamu ... bisa aja,” celetuknya sambil
berlalu pergi menuju toilet.
Yeriko tersenyum menatap tubuh Yuna yang berjalan
menjauh. Ia tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wanita yang telah
mengisi hari-harinya itu. “Yun, ada banyak orang yang tidak menyukai
hubungan kita. Tapi aku yakin, kita pasti bisa melewatinya dan membuat
orang-orang yang menindas kamu berubah menjadi menghargai keberadaan kamu,”
tuturnya dalam hati.
Beberapa wanita yang ada di ruangan itu menatap Yeriko
yang berdiri seorang diri. Mereka merasa, dirinya tidak kurang dari Ayuna.
Mereka tersenyum manis ke arah Yeriko dan langsung melangkah mendekati pria
tampan dan kaya raya itu.
Makasih yang udah baca
“Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa
aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!
Selamat menjalankan ibadah puasa!
Much Love
@vellanine.tjahjadi
0 komentar:
Post a Comment