Yuna terkejut saat pulang kerja dan mendapati banyak
orang di dalam kamarnya.
“Yer, mereka ini siapa lagi?” seru Yuna mengejutkan
Yeriko yang berdiri di sampingnya.
Yeriko mengedikkan bahunya. “Kalian siapa?” tanya Yeriko
dengan tatapan dingin.
“Selamat sore, Mas Yeri!” sapa salah seorang pria baru
saja keluar dari kamar mandi.
“Irvan!?” Yeriko mengernyitkan dahi menatap pria bertubuh
tinggi dengan pakaian yang sangat nyentrik.
“Masih ingat sama saya?”
“Ingatlah. Desainer dan penata rias terkenal di
Indonesia, masa saya nggak kenal?” sahut Yeriko. “Kamu kok bisa di sini?”
tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
“Saya diminta sama Bu Rullyta ke sini. Katanya, disuruh
merias menantunya yang mau pergi ke pesta pertunangan.”
Yuna langsung menaikkan sebelah alisnya begitu mendengar
ucapan dari Irvan. “Mama mertua tahu dari mana kalau kita mau pergi ke acara
pesta pertunangan?” bisiknya di telinga Yeriko.
Yeriko mengedikkan bahunya.
Yuna menghela napas dan menjatuhkan tubuhnya ke atas
kasur.
“Kalian semua keluar dulu!” perintah Yeriko. “Kami mau
mandi dulu,” lanjut Yeriko.
“Kami harus melayani kalian saat mandi,” sahut Irvan.
“Hah!? Apa-apaan?”
“Maksudnya, kamu akan mendapat fasilitas spa dan massage
sebelum kami merias.” Irvan menepuk tangannya memberi isyarat pada pegawainya.
Empat orang pegawai Irvan langsung menyeret Yuna masuk ke
dalam kamar mandi untuk melakukan perawatan tubuh.
“Eh, apa-apaan ini?” seru Yuna. Tapi ia tetap tak berdaya untuk memberontak. Pelayanan dari pegawai Irvan
juga sangat memuaskan bahkan membuatnya tertidur lelap.
Yeriko jauh lebih santai, ia memilih untuk menunggu Yuna
di ruang kerjanya sambil merokok.
Satu jam kemudian, Yuna terbangun dari tidurnya. Ia
menatap pegawai Irvan yang masih berada di sisinya. “Kalian masih di sini?”
tanya Yuna dengan suara berat.
Salah satu pegawai sedang menyiapkan air di dalam bathtub
dan dipenuhi dengan kelopak bunga mawar yang sangat wangi.
“Mmh ...!” Yuna mengendus aroma mawar yang menyeruak ke
seluruh ruang kamar mandi. “Wanginya enak banget.”
“Silakan berendam, Nyonya Muda!” tutur salah seorang
gadis muda dengan senyum yang sangat ramah.
Yuna tersenyum, ia langsung bangkit dan masuk ke dalam
bathtub untuk berendam.
Setelah berendam cukup lama, akhirnya pegawai Irvan
membawa Yuna untuk berias. Mereka membantu Yuna memakai gaun yang telah dipesan
oleh Rullyta. Usai memakai gaun, mereka memanggil Irvan untuk merias Yuna.
Irvan mengamati wajah Yuna sambil tersenyum.
“Kenapa?” tanya Yuna heran.
“Nggak papa. Aku suka aja sama kulit kamu. Putih, mulus
dan sehat banget,” jawab Irvan. Ia meminta pegawainya untuk mempersiapkan
peralatan rias.
Yuna tersenyum menatap Irvan. “Aku cantik nggak?”
tanyanya sambil memainkan mata.
Irvan
tertawa kecil. “Cantik, dong! Kalau nggak cantik, nggak mungkin Yeriko mau
nikahin kamu. Nanti,
kalau sudah selesai dandan, dia bakalan lebih terpesona sama kamu.”
“Beneran!?” tanya Yuna dengan mata berbinar.
Irvan menganggukkan kepala dan mulai merias wajah Yuna.
“Kamu belum pernah dandan sebelumnya?” tanya Irvan sembari memakaikan bulu
mata.
“Pernah. Dandan sendiri, cuma pakai bedak sama lipstik
doang,” jawab Yuna.
“Jadi, baru kali ini dirias sama make-up artist
profesional?” tanya Irvan.
Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia sudah tidak sabar
ingin melihat dirinya sendiri usai dirias oleh Irvan.
“Waktu nikah, emang nggak dirias?” tanya Irvan lagi.
“Nggak. Dia buru-buru ngajak aku nikah. Mana sempat
dirias segala. Pakai bedak aja nggak sempat lagi.”
“Oh ya? Kok, bisa?”
“Bisa. Dia nggak ngomong kalau mau nikahin aku. Tiba-tiba
udah ada penghulu sama saksi yang dia undang. Yah, langsung nikah aja,” jawab
Yuna santai.
Irvan tertawa kecil. “Aku nggak nyangka kalau Yeriko
sesederhana itu. Tapi, itu romantis banget loh. Daripada pacaran bertahun-tahun
tapi nggak ngajak-ngajak nikah.”
“Hmm ... bener juga, sih.” Yuna manggut-manggut pelan. Ia
baru menyadari beberapa hal yang tidak pernah diberikan Yeriko. Yeriko telah
mengumumkan pernikahan mereka, tapi belum juga menghadiahkan cincin pernikahan.
Yeriko juga belum melamarnya secara resmi. Bahkan, mereka tidak memiliki pesta
pernikahan layaknya para pengantin yang lain.
“Sudah selesai,” tutur Irvan sambil bangkit.
Yuna juga ikut bangkit dan menatap seluruh tubuhnya di
depan cermin.
“Gimana? Cantik kan?” tanya Irvan sambil menatap Yuna
dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Ini ... beneran aku?” tanya Yuna sambil menepuk-nepuk
pipinya.
Irvan menganggukkan kepala.
“Aku masih nggak percaya. Tisu!” pinta Yuna.
Pegawai Yuna langsung memberikan tisu pada Yuna.
“Eh,
mau ngapain? Aku udah capek-capek make-up masa mau dihapus?” tanya Irvan.
Yuna tak menghiraukan ucapan Irvan. Ia mendekatkan
wajahnya ke cermin. Menghembuskan napasnya ke depan cermin tersebut dan
langsung mengelap cermin menggunakan tisu. “Ini beneran aku?” tanya Yuna sambil
mengerutkan dahinya.
Irvan menghela napas lega dan tersenyum ke arah Yuna. Ia
pikir, Yuna akan membuang make-upnya karena tidak menyukai hasilnya. Kalau
sampai hal itu terjadi, Nyonya Besar keluarga Hadikusuma akan membuat karirnya
hancur dalam sekejap.
“Cantik banget!” seru Yuna sambil melompat kegirangan dan
memutar-mutar tubuhnya. Gaun biru mewah dengan hiasan kristal swarovski membuat
Yuna terlihat sangat menarik, seksi dan dewasa.
“Sepatunya mana?” tanya Irvan pada pegawainya.
Pegawai Irvan langsung mengambilkan sepatu dan
memasangkannya di kaki Yuna.
Yuna terlihat sangat cantik dan sempurna.
Di saat semua orang terpesona dengan kecantikan Yuna,
Yeriko tiba-tiba masuk. Ia sudah mengenakan setelan jas berwarna biru navy yang
membuatnya terlihat sangat tampan.
Yuna tertegun menikmati ketampanan Yeriko. Ia baru
menyadari kalau Yeriko bukan hanya tampan, tapi sangat tampan.
Yeriko tersenyum sambil melangkah menghampiri Yuna. Ia
tidak berkedip melihat istrinya yang berubah sangat cantik.
“Gimana? Cantik nggak?” tanya Yuna sambil tersenyum manis
ke arah Yeriko.
“Cantik banget!” puji Yeriko. “Aku punya hadiah buat
kamu.” Yeriko langsung mengeluarkan kotak perhiasan berwarna biru dari saku
jasnya. Ia membuka kotak tersebut dan mengambil sebuah kalung berlian berharga
milyaran rupiah.
Semua orang yang ada di ruangan itu langsung melongo dan
merasa sangat iri dengan hadiah yang diberikan oleh Yeriko. Yeriko benar-benar
suami yang romantis. Ia juga tidak pernah memperhitungkan hadiah-hadiah mahal
yang ia berikan untuk Yuna.
Yuna tersenyum sambil menyentuh kalung yang sudah
melingkar di lehernya. “Aku juga punya sesuatu buat kamu.” Yuna membuka laci
meja riasnya. Ia mengambil jam tangan Rolls Royce edisi terbatas dan
memakaikannya ke tangan Yeriko.
Yeriko tersenyum. “Makasih!” ucapnya sambil mengecup
kening Yuna.
“Duh, romantis banget!” seru Irvan sambil tersenyum
senang.
Yeriko balas tersenyum menatap Irvan. “Makasih untuk hari
ini!”
Irvan menganggukkan kepala. “Eh, Mas Yeri belum bikin
pesta pernikahan kan?” tanyanya kemudian.
“Iya. Kenapa?”
“Kalau bikin pesta nanti, panggil Irvan lagi buat ngerias
Nyonya Muda ya!”
Yeriko tersenyum kecil. “Beres!” sahutnya. Ia menoleh ke
arah Yuna. “Kita berangkat sekarang?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Tas kamu mana?”
“Oh iya. Lupa!” Yuna menepuk dahinya sendiri. Ia membuka
lemari dan menatap deretan tas yang ada di dalam lemari tersebut. Yuna terus
menimbang-nimbang, ia tidak tahu tas mana yang cocok untuk ia pakai.
“Kak Irvan, bantu aku pilih tas dong!”
Irvan langsung bangkit dan berdiri di samping Yuna. “Ini
kayaknya lebih cocok,” tuturnya sambil menunjuk tas tangan berwarna silver
dengan hiasan permata biru safir.
Yuna tersenyum dan langsung mengambil tas tersebut.
“Ckckck, semuanya tas mahal. Ini semua, suami kamu yang
belikan?” bisik Irvan.
Yuna menggelengkan kepala. “Bukan. Ini mertua aku yang
sering kasih hadiah dan siapin buat aku.”
“Bu Rulyta?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Betapa beruntungnya kamu karena bisa menjadi menantu Bu
Rullyta. Dia bukan cuma cantik dan kaya, tapi juga baik hati dan penyayang.”
Yuna tersenyum sambil mengangguk. Ia langsung menghampiri
Yeriko yang sudah menunggunya.
Yeriko langsung memeluk pinggang Yuna dan membawanya
turun dari kamar. Mereka bergegas pergi ke Shangri-La untuk menghadiri
perjamuan pesta pertunangan Bellina dan Wilian.
Yuna menarik napas dalam berkali-kali sambil menggenggam
telapak tangan Yeriko. Ia sangat gugup. Bukan karena acara pertunangan mantan
kekasihnya, tapi karena takut tidak terlihat serasi berada di samping Yeriko.
Makasih yang udah baca
“Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa
aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!
Selamat menjalankan ibadah puasa!
Much Love
@vellanine.tjahjadi
0 komentar:
Post a Comment