Pagi-pagi sekali, Yuna dibuat terkejut karena ada banyak
pelayan di rumahnya saat ia menuruni anak tangga.
“Bi, mereka ini siapa?” tanya Yuna kebingungan. Ia
langsung menghampiri Bibi War yang sedang memasak di dapur.
“Mereka semua anak buahnya ibu,” jawab Bibi War.
“Ibu? Ibu mertua maksudnya?”
Bibi War menganggukkan kepala.
“Kenapa mereka ada di sini?”
“Bibi nggak tahu.”
Yuna menghela napas. Ia segera berlari menaiki anak
tangga kembali ke kamarnya.
“Beruang ...!” serunya sambil membuka pintu kamar.
Yeriko mengernyitkan dahi sambil menatap Yuna. “Kenapa?”
“Kenapa ada banyak orang di rumah kita?”
“Banyak orang? Siapa?”
“Mama kamu ngirim banyak anak buah ke rumah ini. Di
bawah, ada banyak pelayan dan penjaga. Apa aku ini tawanan sampai harus
dijagain sama orang sebanyak itu?” cerocos Yuna.
Yeriko tertawa kecil. Ia kembali menatap cermin sambil
merapikan pakaiannya.
“Kok, malah ketawa sih!?” dengus Yuna makin kesal.
Yeriko menghela napas lemas. “Aku juga nggak bisa
ngelawan Mama. Kamu ngomong sendiri aja sama Mama!”
“Aku!?” Yuna mengerucutkan bibirnya. “Aku mana berani
protes sama mama kamu.”
“Ya udah, kita ikutin aja apa maunya mama. Nanti, kalau
suasananya sudah enakan, kita ngomong sama mama dan kembalikan mereka semua ke
rumah mama.”
“Beneran ya!?”
“Iya, Sayangku!” sahut Yeriko sambil mencubit hidung
Yuna.
“Kamu tahu nggak kenapa tiba-tiba mama kamu ngirim banyak
pelayan ke rumah ini? Bukannya Bibi War aja sudah cukup?”
Yeriko mengedikkan bahunya. “Mungkin, dia pengen menjaga
kamu.”
“Aku!?” Yuna menunjuk dirinya sendiri. “Apa sebelumnya,
dia juga pernah seperti ini?”
“Ini pertama kalinya.”
“Huft ... aku bener-bener kayak di penjara kalau kayak
gini. Aku jadi nggak bebas mau ngapa-ngapain.”
“Mama sudah biasa dengan banyak pelayan. Mereka pelayan
yang terlatih dan terbaik. Kamu cukup menerima saja apa yang diinginkan mama.”
“Iya. Tapi kenapa harus tiba-tiba kayak gini dan nggak
tanya dulu apakah kita butuh banyak pelayan atau nggak?” Yuna terduduk lemas di
atas tempat tidur.
“Mama pasti sedang merencanakan sesuatu. Kemarin, dia ke
sini dan tahu kalau kamu sakit.”
“Terus?”
“Sepertinya Bibi War ngasih tahu masalah kita dan Mama
pasti khawatir sama kamu. Dia jauh lebih sayang sama kamu daripada sama anaknya
sendiri.”
“Apa hubungannya aku sakit dan pelayan sebanyak itu?”
Yeriko menghela napas. “Jelas-jelas mama nggak percaya
sama aku dan dia mengutus banyak anak buahnya di rumah ini buat melayani dan
menjaga kamu.”
“Apa mereka juga akan berdiri di depan kamar kita
terus-menerus?”
“Mereka akan nurut sama perintah kamu.”
“Serius?”
Yeriko menganggukkan kepala.
“Hmm ...” Yuna memutar bola matanya. “Kalau gitu ...”
Yuna langsung melompat dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar.
Yeriko mengernyitkan dahi, ia ikut melangkah santai di
belakang Yuna.
“Perhatian semuanya! Kumpul dan baris di depanku!” seru
Yuna sambil menepuk tangannya.
Semua anak buah Rullyta langsung berkumpul dan berbaris
rapi di depan anak tangga.
Yuna menghitung jumlah anak buah yang dikirim mama
mertuanya. “Satu ... dua ... tiga ... dua puluh.” Ia melongo melihat anak buah
yang begitu banyak.
“Yer, gaji mereka sebulannya berapa?” bisik Yuna pada
Yeriko.
“Tiga jutaan,” jawab Yeriko sambil berbisik.
Yuna membelalakkan matanya. Ia mengerjap begitu mendengar
nilai yang disebutkan oleh Yeriko. Artinya, keluarga Yeriko sudah mengeluarkan
uang puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk membayar pelayan di rumah mereka.
“Pelayan sebanyak ini, apa bukan pemborosan?” bisik Yuna
di telinga Yeriko.
Yeriko mengedikkan bahunya.
“Huft ... orang kaya memang senang banget buang-buang
duit,” gumam Yuna.
“Ehem ...!” Yuna berdehem sambil mengangkat dagunya lebih
tinggi agar terlihat lebih berwibawa. “Sejak kapan kalian masuk ke rumah ini?”
tanya Yuna.
“Tadi pagi,” jawab semua pelayan serentak.
“Siapa yang nyuruh kalian ke sini?”
“Nyonya Besar,” jawab mereka serentak.
“Kompak banget,” celetuk Yuna lirih sambil menggaruk
kepalanya yang tidak gatal.
“Kalian ke sini untuk apa?”
“Melayani dan menjaga Nyonya Muda,” jawab mereka
serentak.
“Hah!?” Yuna mengernyitkan dahi menatap semua pelayan
yang ada di depannya. “Sebanyak ini?”
Semuanya mengangguk serentak.
Yuna berpikir sejenak. “Oke. Aku mau pergi kerja. Kalian
bisa ngumpul di belakang aja?”
Semua pelayan saling pandang.
“Rumah ini terlalu sempit. Buat kami berdua aja sudah
sempit banget. Apalagi ditambah dua puluh orang pelayan.”
Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna. “Apa rumah ini
masih kurang besar? Ukuran rumah ini sudah 350 meter persegi dan dua lantai,
Yun. Apa aku perlu luasin rumah ini lagi jadi satu hektar?”
“Iih ...!” Yuna melotot ke arah Yeriko. “Kamu nggak paham
banget sih maksud aku?” dengus Yuna berbisik.
Yeriko menatap tajam ke arah Yuna. “Rumah seluas ini
masih aja kamu bilang sempit,” tuturnya kesal.
Yuna menghela napas sambil menundukkan kepala. Ia menepuk
dahinya sendiri. “Malah salah paham,” gumamnya lirih.
“Kalian tetap di sini!” pinta Yeriko. “Layani semua
kebutuhan Nyonya Muda! Jangan sampai bikin dia marah!”
“Baik, Tuan!” jawab semua pelayan serentak.
“Eh, kalo aku marah sama mereka, apa bisa bikin mereka
pergi dari rumah ini?” tanya Yuna berbisik.
Yeriko menarik napas panjang sambil merapikan dasinya. Ia
langsung melangkah menuju meja makan.
Yuna mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena Yeriko tidak
ikut membelanya dan membiarkan banyak pelayan berkeliaran di dalam rumah
mereka. Ia ikut melangkah menuju meja makan.
Beberapa pelayan langsung melayani Yuna dan Yeriko dengan
cepat. Yuna terus mengerutkan bibirnya sambil menusuk-nusuk daging yang ada di
atas piringnya dengan kasar.
Yeriko menghela napas melihat sikap Yuna. “Bersikap
manislah sama mereka! Nggak semua orang bisa dapet fasilitas istimewa dari
mertua.”
Yuna memonyongkan bibir bawahnya. “Aku nggak suka dikasih
fasilitas berlebihan kayak gini. Apa nggak bisa kalau biasa-biasa aja?”
“Kamu sudah jadi Nyonya Muda di keluarga Hadikusuma.
Semua fasilitas yang ada harus kamu terima!” tegas Yeriko.
Yuna makin kesal. Ia melahap makanan yang ada di
piringnya dengan kasar dan penuh kekesalan.
Yeriko hanya tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Yuna.
Walau Yuna tak menyukainya, tapi ia tetap setuju dengan mamanya yang ingin
memberikan fasilitas terbaik untuk Yuna. Ia seringkali bertentangan dengan
mamanya. Tapi soal Yuna, sepertinya mereka sama-sama menjadikan gadis kecil
lucu yang ada di hadapannya sebagai prioritas di keluarga mereka.
“Besok acara pertunangan sepupu kamu dan mantan kamu.
Kamu mau datang?” tanya Yeriko.
“Eh!? Kok tahu?” tanya Yuna. Ia mengingat jelas kalau
sudah membuang undangan pertunangan Bellina ke tempat sampah saat Bellina
memberikan untuknya.
“Kemarin, ada undangan dikirim ke kantor.”
“Mereka juga ngundang kamu?” tanya Yuna sambil
mengernyitkan dahinya.
Yeriko menganggukkan kepala. “Gimana? Mau datang atau
nggak?”
Yuna tertunduk lesu. “Nggak tahu, aku bingung.”
“Bingung kenapa? Karena ini acara pertunangan mantan
pacar kamu? Kamu masih sayang sama dia?”
Yuna menggelengkan kepala. “Justru karena tunangannya
mantan, aku nggak punya keinginan buat dateng. Tapi ... nggak enak juga kalo
nggak dateng karena dia tunangan sama sepupu aku.”
“Sepupu kamu yang kejam itu?”
Yuna terdiam. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Ia juga masih belum bisa memutuskan akan datang ke pesta pertunangan Lian atau
tidak. “Menurut kamu, dateng atau nggak?”
“Lebih baik kita datang,” jawab Yeriko. Ia membisikkan
sesuatu ke telinga Yuna.
Mata Yuna langsung berbinar begitu mendengar bisikan dari
Yeriko. Ia akhirnya menjadi bersemangat untuk datang ke acara pertunangan Lian
dan Bellina.
“Gimana?” tanya Yeriko.
Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Lebih baik
begitu. Aku pengen lihat gimana mereka menghadapi kita.”
Yeriko tersenyum menatap Yuna yang kembali bersemangat.
Ia segera menghabiskan sarapannya dan mengantar Yuna pergi ke kantor seperti
biasa.
“Ntar sore, kamu jemput aku, kan?” tanya Yuna saat mereka
sudah sampai di depan kantor Yuna.
Yeriko menganggukkan kepala.
“Awas nggak jemput! Aku nggak mau kamu nyuruh orang lain
lagi buat jemput aku!” tegas Yuna.
“Iya, Sayangku!” sahut Yeriko sambil menjepit hidung
Yuna.
Yuna tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah
Yeriko. “Cium dulu!” pintanya.
Yeriko menggelengkan kepala.
Ekspresi wajah Yuna seketika berubah murung.
Yeriko tersenyum kecil dan langsung mengulum bibir Yuna.
Yuna tersenyum senang setelah mendapat ciuman hangat dari
suaminya.
“Kamu ... sekarang sudah mulai agresif ya!?” dengus
Yeriko.
“Biar aja!” sahut Yuna sambil membuka pintu mobil dan
bergegas keluar. Ia melenggang penuh bahagia memasuki gedung kantornya.
Makasih yang udah baca
“Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa
aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!
Selamat menjalankan ibadah puasa!
Much Love
@vellanine.tjahjadi
0 komentar:
Post a Comment