“Yun,
kamu nggak papa?” Yeriko tiba-tiba menerobos masuk dan langsung menghampiri
Yuna.
“Nggak
papa.” Ia menoleh ke arah Yeriko dan Chandra yang datang bersamaan.
Amara
langsung menatap Chandra yang berdiri di belakang Yeriko.
Yeriko
mengernyitkan dahi saat melihat Amara ada di dalam ruangan tersebut. Ia
melangkah mendekati Amara. “Kenapa ada kamu di sini? Kamu cari masalah sama
istriku?”
Amara
menggelengkan kepala.
“Terus?”
Yeriko menatap dingin ke arah Amara.
“Mmh
... Yer, kamu tenang dulu!” pinta Yana sambil menghampiri Yeriko.
“Bunda,
ini ada apa?”
Yana
berbisik di telinga Yeriko.
Yeriko
langsung menoleh ke arah wanita gemuk yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Oh,
Nyonya Indri? Apa kabar?” tanya Yeriko sambil melipat kedua tangannya di depan
dada.
“Kamu
... kenal saya?”
Yeriko
tersenyum sinis. “Siapa yang nggak tahu istri Pak Ery Prayogi? Ayah dari Harry
Prayogi, pimpinan tertinggi PT. Cahaya Gemilang.”
Wanita
gemuk bernama Indriani tersebut langsung membelalakkan mata menatap Yeriko. Ia
tak menyangka kalau Yeriko begitu mengetahui latar belakang keluarga dan
perusahaannya. Ia tidak bisa berkata-kata.
“Bunda
...!” Chandra menyapa Yana dan berdiri di sisinya.
Yana
tersenyum menatap Chandra.
“Sebenarnya,
ada masalah apa?” tanya Chandra lirih.
Yana
menunjuk Yeriko dengan dagunya. “Lihat aja!” sahutnya.
“Kenapa
kalian tiba-tiba ngusik mama dan istriku?” tanya Yeriko.
“Ka
....ka ....kami nggak ngelakuin apa-apa.”
Yeriko
menaikkan satu alisnya sambil tersenyum sinis. “Kalian pikir, aku nggak tahu
pembicaraan kalian di sini?”
Yuna
tersenyum kecil sambil merangkul lengan Rullyta. Ia merasa bahagia setiap kali
suaminya muncul dan menyelesaikan masalah untuknya.
“Bunda,
tahu kan apa yang harus dilakukan?” Yeriko berbalik menatap Yana.
“Eh!?”
Yana tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Yeriko.
Chandra
berbisik di telinga Yana.
“Oh.
Ya, ya, ya.” Yana melangkah keluar dari ruangan.
Chandra
dan Yeriko saling pandang dan tersenyum kecil.
Semua
wanita yang ada di dalam ruangan tersebut ketakutan saat melihat ekspresi wajah
Yeriko dan Chandra yang begitu berbahaya.
Tak
berapa lama, Yana kembali masuk bersama dengan beberapa petugas keamanan.
“Kalian bawa mereka keluar dari sini!” perintahnya.
“Siap,
Bu!” Beberapa orang berseragam keamanan langsung menghampiri Indriani dan
teman-temannya.
“Pastikan
mereka nggak pernah injakkan kaki di tempat ini lagi!” tegas Yana.
Amara
membelalakkan matanya. Ia menyadari kalau istri walikota tersebut serius
menghadapi sikap mama mertuanya.
“Blacklist
mereka dari semua kegiatan pemerintahan! Saya nggak mau lihat mereka lagi!”
Amara
gelagapan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia langsung
menjatuhkan lututnya di depan Yana saat teman-temannya digiring keluar oleh
petugas keamanan. “Tante, tolong jangan lakuin itu ke kami!” pintanya.
Yana
tersenyum sinis. “Sekarang udah tahu saya ini siapa? Jangan main-main sama
saya!”
“Maafin
kami!” Amara menundukkan kepala sambil mengeluarkan air mata. “Kami mengaku
bersalah!”
“Amara
...! Buat apa kamu minta maaf sama mereka? Kita nggak salah! Kamu jangan
percaya sama ancamannya dia!” seru Indri.
Amara
tak menghiraukan ucapan mama mertuanya. Ia tahu kalau Yeriko dan orang-orangnya
serius akan membuat hidupnya semakin sulit.
“Bawa
dia keluar dari sini!” perintah Yeriko pada petugas keamanan yang sudah berdiri
di sebelah Indri.
“Baik,
Pak!” Petugas keamanan tersebut langsung meraih lengan Indri.
“Nggak
perlu! Aku bisa keluar sendiri!” sahutnya ketus. Ia menghampiri Amara yang
masih berlutut di hadapan Yana. “Ayo, kita pulang!”
Amara
menggelengkan kepala. Ia masih menunggu permintaan maafnya diterima oleh istri
walikota agar ia tidak dimasukkan ke daftar hitam dalam kegiatan dan proyek
pemerintahan.
Amara
menengadahkan kepalanya menatap Chandra yang berdiri di samping Yana. “Chan,
tolong aku!” pintanya sambil meraih ujung jemari tangan Chandra.
Chandra
bergeming beberapa saat.
“Please!”
pinta Amara berderai air mata.
Yeriko
langsung menatap wajah Chandra. Ia berharap, Chandra tidak akan luluh oleh
permintaan Amara.
Chandra
menarik tangannya dan melangkah mundur. Ia tak mau mengatakan apa pun, bahkan
ia tidak punya keinginan sedikitpun menatap wajah Amara. Amara telah melukainya
berkali-kali, kali ini ia tidak ingin melihat wanita yang telah membuat
hari-harinya berantakan.
Yeriko
tersenyum melihat sikap Chandra. Baginya, Chandra sudah seperti adik kandungnya
sendiri. Semua masalah yang dihadapi Chandra, selalu menjadi tanggung jawabnya.
Termasuk, memberi pelajaran untuk Harry dan Amara yang telah menyakiti Chandra.
“Sorry
...!” ucap Amara lirih. Ia menggigit bibirnya dan harus menerima kenyataan
pahit kalau kini Chandra telah membencinya.
“Ma,
Mama nggak papa?” Tiba-tiba, pria setengah baya menerobos masuk dan langsung
menghampiri Indri.
“Mereka
cari masalah sama Mama,” jawab Indri sambil menunjuk orang-orang yang berdiri
di hadapannya.
“Tenang
aja! Papa pasti belain Mama.”
Indri
mengangguk. Ia tersenyum dan melangkah menghampiri Amara. “Nggak usah berlutut
lagi! Kita masih punya harga diri. Mereka nggak pantes buat dihormati!” Indri
menarik lengan Amara dan memaksanya berdiri.
Amara
bangkit, matanya terus tertuju pada Chandra yang begitu acuh terhadapnya.
“Kalian
ini siapa? Berani-beraninya cari masalah sama istri saya. Kalian nggak tahu
saya ini siapa?” sentak Ery sambil menatap Yana dan Chandra.
Yeriko
yang sedang berbicara dengan mamanya langsung berbalik menatap Ery.
Ery
membelalakkan matanya begitu melihat wajah Yeriko dan wanita yang ada di
belakangnya. “Pak Ye!?”
Yeriko
tersenyum kecil menatap Ery. “Kehormatan buat saya bisa ketemu Anda di sini.”
Tubuh
Ery gemetar melihat wajah Yeriko. Tiba-tiba, suhu ruangan berubah menjadi
panas. Ia mengusap dahinya yang berkeringat.
“Kenapa?
AC kurang dingin?”
Ery
menggelengkan kepala. “Nggak, Pak.”
“Pa,
katanya mau bantuin Mama? Kenapa jadi ...”
“Diam!”
sentak Ery sambil menoleh ke arah istrinya.
Yeriko
tersenyum sinis. Ia melipat kedua tangan di depan dada. Menatap Ery tanpa
berkata-kata.
Tatapan
mata Yeriko bagai belati yang siap membunuh Ery kapan saja. Ery langsung
menjatuhkan lututnya di depan Yeriko. “Maaf, Pak! Saya mewakili istri saya,
minta maaf karena telah membuat kekacauan dan mengganggu kalian.”
Rullyta
melangkah maju, berdiri sejajar dengan putera semata wayangnya. “Istri kamu
ini, apa nggak ada yang bisa dia lakuin selain ngurusin hidup orang. Saya nggak
mau dengar lagi dia menghina keluarga kami!” tegasnya.
Ery
melirik Indri yang berdiri di sebelahnya. “Baik, Bu. Saya yang bertanggung
jawab atas istri saya. Saya pastikan, dia tidak akan mengganggu keluarga kalian
lagi.”
Indri
menggigit bibir bawahnya. Ia baru menyadari kalau Yeriko memang memiliki
kekuatan yang besar hingga membuat suaminya berlutut di hadapannya. Tapi, ia
masih tidak mengerti kenapa suaminya begitu tunduk dengan Yeriko, pria yang
masih sangat muda jika dibandingkan dengan suaminya.
“Bagus.
Bakal aku inget kata-katamu ini,” tutur Rullyta. Ia langsung mengajak Yana
keluar dari ruangan tersebut.
“Riyan!”
teriak Yeriko sambil menatap pintu ruangan yang setengah terbuka.
Riyan
bergegas masuk ke ruangan dan langsung menghampiri Yeriko.
“Selesaikan
masalah ini!” pinta Yeriko.
“Eh!?”
Riyan mengernyitkan dahi. Ia menoleh ke arah Ery yang masih berlutut di depan
Yeriko. “Siap, Pak!”
Yeriko
tersenyum sinis ke arah Ery dan istrinya. Ia merangkul pinggang Yuna dan
membawanya pergi.
“Makasih
ya! Suamiku emang hebat!” puji Yuna sambil mengacungkan dua jempolnya.
Yeriko
manggut-manggut. “Ada hadiah?” tanya Yeriko.
“Mau
hadiah apa?”
“Mmh
...” Yeriko memutar bola matanya. “Nanti aja kalo udah di rumah.” Ia membuka
pintu mobil untuk Yuna.
Yuna
mencebik. “Dasar cabul,” celetuknya.
“Apa!?”
Yeriko menahan pintu mobil yang baru saja akan ia tutup.
“Nggak
papa,” jawab Yuna meringis.
Yeriko
tersenyum kecil. Ia langsung menutup pintu dan bergegas masuk ke mobil dan
melajukan mobilnya menuju Sangri-La.
Makasih udah baca sampai sini.
Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...
Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku
makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang
udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya!
Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!
Much Love
@vellanine.tjahjadi
0 komentar:
Post a Comment