Cerita Kehidupan yang Menginspirasi dan Menghibur by Rin Muna a.k.a Vella Nine

Wednesday, February 19, 2025

Perfect Hero Bab 158 : Berlutut || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yun, kamu nggak papa?” Yeriko tiba-tiba menerobos masuk dan langsung menghampiri Yuna.

 

“Nggak papa.” Ia menoleh ke arah Yeriko dan Chandra yang datang bersamaan.

 

Amara langsung menatap Chandra yang berdiri di belakang Yeriko.

 

Yeriko mengernyitkan dahi saat melihat Amara ada di dalam ruangan tersebut. Ia melangkah mendekati Amara. “Kenapa ada kamu di sini? Kamu cari masalah sama istriku?”

 

Amara menggelengkan kepala.

 

“Terus?” Yeriko menatap dingin ke arah Amara.

 

“Mmh ... Yer, kamu tenang dulu!” pinta Yana sambil menghampiri Yeriko.

 

“Bunda, ini ada apa?”

 

Yana berbisik di telinga Yeriko.

 

Yeriko langsung menoleh ke arah wanita gemuk yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

“Oh, Nyonya Indri? Apa kabar?” tanya Yeriko sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

 

“Kamu ... kenal saya?”

 

Yeriko tersenyum sinis. “Siapa yang nggak tahu istri Pak Ery Prayogi? Ayah dari Harry Prayogi, pimpinan tertinggi PT. Cahaya Gemilang.”

 

Wanita gemuk bernama Indriani tersebut langsung membelalakkan mata menatap Yeriko. Ia tak menyangka kalau Yeriko begitu mengetahui latar belakang keluarga dan perusahaannya. Ia tidak bisa berkata-kata.

 

“Bunda ...!” Chandra menyapa Yana dan berdiri di sisinya.

 

Yana tersenyum menatap Chandra.

 

“Sebenarnya, ada masalah apa?” tanya Chandra lirih.

 

Yana menunjuk Yeriko dengan dagunya. “Lihat aja!” sahutnya.

 

“Kenapa kalian tiba-tiba ngusik mama dan istriku?” tanya Yeriko.

 

“Ka ....ka ....kami nggak ngelakuin apa-apa.”

 

Yeriko menaikkan satu alisnya sambil tersenyum sinis. “Kalian pikir, aku nggak tahu pembicaraan kalian di sini?”

 

Yuna tersenyum kecil sambil merangkul lengan Rullyta. Ia merasa bahagia setiap kali suaminya muncul dan menyelesaikan masalah untuknya.

 

“Bunda, tahu kan apa yang harus dilakukan?” Yeriko berbalik menatap Yana.

 

“Eh!?” Yana tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Yeriko.

 

Chandra berbisik di telinga Yana.

 

“Oh. Ya, ya, ya.” Yana melangkah keluar dari ruangan.

 

Chandra dan Yeriko saling pandang dan tersenyum kecil.

 

Semua wanita yang ada di dalam ruangan tersebut ketakutan saat melihat ekspresi wajah Yeriko dan Chandra yang begitu berbahaya.

 

Tak berapa lama, Yana kembali masuk bersama dengan beberapa petugas keamanan. “Kalian bawa mereka keluar dari sini!” perintahnya.

 

“Siap, Bu!” Beberapa orang berseragam keamanan langsung menghampiri Indriani dan teman-temannya.

 

“Pastikan mereka nggak pernah injakkan kaki di tempat ini lagi!” tegas Yana.

 

Amara membelalakkan matanya. Ia menyadari kalau istri walikota tersebut serius menghadapi sikap mama mertuanya.

 

“Blacklist mereka dari semua kegiatan pemerintahan! Saya nggak mau lihat mereka lagi!”

 

Amara gelagapan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia langsung menjatuhkan lututnya di depan Yana saat teman-temannya digiring keluar oleh petugas keamanan. “Tante, tolong jangan lakuin itu ke kami!” pintanya.

 

Yana tersenyum sinis. “Sekarang udah tahu saya ini siapa? Jangan main-main sama saya!”

 

“Maafin kami!” Amara menundukkan kepala sambil mengeluarkan air mata. “Kami mengaku bersalah!”

 

“Amara ...! Buat apa kamu minta maaf sama mereka? Kita nggak salah! Kamu jangan percaya sama ancamannya dia!” seru Indri.

 

Amara tak menghiraukan ucapan mama mertuanya. Ia tahu kalau Yeriko dan orang-orangnya serius akan membuat hidupnya semakin sulit.

 

“Bawa dia keluar dari sini!” perintah Yeriko pada petugas keamanan yang sudah berdiri di sebelah Indri.

 

“Baik, Pak!” Petugas keamanan tersebut langsung meraih lengan Indri.

 

“Nggak perlu! Aku bisa keluar sendiri!” sahutnya ketus. Ia menghampiri Amara yang masih berlutut di hadapan Yana. “Ayo, kita pulang!”

 

Amara menggelengkan kepala. Ia masih menunggu permintaan maafnya diterima oleh istri walikota agar ia tidak dimasukkan ke daftar hitam dalam kegiatan dan proyek pemerintahan.

 

Amara menengadahkan kepalanya menatap Chandra yang berdiri di samping Yana. “Chan, tolong aku!” pintanya sambil meraih ujung jemari tangan Chandra.

 

Chandra bergeming beberapa saat.

 

“Please!” pinta Amara berderai air mata.

 

Yeriko langsung menatap wajah Chandra. Ia berharap, Chandra tidak akan luluh oleh permintaan Amara.

 

Chandra menarik tangannya dan melangkah mundur. Ia tak mau mengatakan apa pun, bahkan ia tidak punya keinginan sedikitpun menatap wajah Amara. Amara telah melukainya berkali-kali, kali ini ia tidak ingin melihat wanita yang telah membuat hari-harinya berantakan.

 

Yeriko tersenyum melihat sikap Chandra. Baginya, Chandra sudah seperti adik kandungnya sendiri. Semua masalah yang dihadapi Chandra, selalu menjadi tanggung jawabnya. Termasuk, memberi pelajaran untuk Harry dan Amara yang telah menyakiti Chandra.

 

“Sorry ...!” ucap Amara lirih. Ia menggigit bibirnya dan harus menerima kenyataan pahit kalau kini Chandra telah membencinya.

 

“Ma, Mama nggak papa?” Tiba-tiba, pria setengah baya menerobos masuk dan langsung menghampiri Indri.

 

“Mereka cari masalah sama Mama,” jawab Indri sambil menunjuk orang-orang yang berdiri di hadapannya.

 

“Tenang aja! Papa pasti belain Mama.”

 

Indri mengangguk. Ia tersenyum dan melangkah menghampiri Amara. “Nggak usah berlutut lagi! Kita masih punya harga diri. Mereka nggak pantes buat dihormati!” Indri menarik lengan Amara dan memaksanya berdiri.

 

Amara bangkit, matanya terus tertuju pada Chandra yang begitu acuh terhadapnya.

 

“Kalian ini siapa? Berani-beraninya cari masalah sama istri saya. Kalian nggak tahu saya ini siapa?” sentak Ery sambil menatap Yana dan Chandra.

 

Yeriko yang sedang berbicara dengan mamanya langsung berbalik menatap Ery.

 

Ery membelalakkan matanya begitu melihat wajah Yeriko dan wanita yang ada di belakangnya. “Pak Ye!?”

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Ery. “Kehormatan buat saya bisa ketemu Anda di sini.”

 

Tubuh Ery gemetar melihat wajah Yeriko. Tiba-tiba, suhu ruangan berubah menjadi panas. Ia mengusap dahinya yang berkeringat.

 

“Kenapa? AC kurang dingin?”

 

Ery menggelengkan kepala. “Nggak, Pak.”

 

“Pa, katanya mau bantuin Mama? Kenapa jadi ...”

 

“Diam!” sentak Ery sambil menoleh ke arah istrinya.

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia melipat kedua tangan di depan dada. Menatap Ery tanpa berkata-kata.

 

Tatapan mata Yeriko bagai belati yang siap membunuh Ery kapan saja. Ery langsung menjatuhkan lututnya di depan Yeriko. “Maaf, Pak! Saya mewakili istri saya, minta maaf karena telah membuat kekacauan dan mengganggu kalian.”

 

Rullyta melangkah maju, berdiri sejajar dengan putera semata wayangnya. “Istri kamu ini, apa nggak ada yang bisa dia lakuin selain ngurusin hidup orang. Saya nggak mau dengar lagi dia menghina keluarga kami!” tegasnya.

 

Ery melirik Indri yang berdiri di sebelahnya. “Baik, Bu. Saya yang bertanggung jawab atas istri saya. Saya pastikan, dia tidak akan mengganggu keluarga kalian lagi.”

 

Indri menggigit bibir bawahnya. Ia baru menyadari kalau Yeriko memang memiliki kekuatan yang besar hingga membuat suaminya berlutut di hadapannya. Tapi, ia masih tidak mengerti kenapa suaminya begitu tunduk dengan Yeriko, pria yang masih sangat muda jika dibandingkan dengan suaminya.

 

“Bagus. Bakal aku inget kata-katamu ini,” tutur Rullyta. Ia langsung mengajak Yana keluar dari ruangan tersebut.

 

“Riyan!” teriak Yeriko sambil menatap pintu ruangan yang setengah terbuka.

 

Riyan bergegas masuk ke ruangan dan langsung menghampiri Yeriko.

 

“Selesaikan masalah ini!” pinta Yeriko.

 

“Eh!?” Riyan mengernyitkan dahi. Ia menoleh ke arah Ery yang masih berlutut di depan Yeriko. “Siap, Pak!”

 

Yeriko tersenyum sinis ke arah Ery dan istrinya. Ia merangkul pinggang Yuna dan membawanya pergi.

 

“Makasih ya! Suamiku emang hebat!” puji Yuna sambil mengacungkan dua jempolnya.

 

Yeriko manggut-manggut. “Ada hadiah?” tanya Yeriko.

 

“Mau hadiah apa?”

 

“Mmh ...” Yeriko memutar bola matanya. “Nanti aja kalo udah di rumah.” Ia membuka pintu mobil untuk Yuna.

 

Yuna mencebik. “Dasar cabul,” celetuknya.

 

“Apa!?” Yeriko menahan pintu mobil yang baru saja akan ia tutup.

 

“Nggak papa,” jawab Yuna meringis.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia langsung menutup pintu dan bergegas masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menuju Sangri-La.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas