“Katanya mau jalan sama Jheni. Kenapa masih nyantai?”
tanya Yeriko saat baru keluar dari kamar mandi dan mendapati Yuna masih
menonton televisi.
“Nggak jadi pergi. Jheni ada kerjaan dadakan. Hari sabtu
aja sekalian.”
“Oh.” Yeriko melangkahkan kakinya menuju ke lemari,
mengambil pakaian dan memakainya. Kemudian, duduk di samping Yuna yang sedang
menonton televisi sambil memakan potongan buah pir.
Yeriko mengambil remote televisi dan langsung mengganti
siaran dengan channel berita.
Yuna langsung merengut ke arah Yeriko. “Iih ... aku lagi
nonton drama. Kenapa diganti sih?”
“Drama gitu-gitu aja,” sahut Yeriko.
“Tapi kan aktornya ganteng-ganteng. Ceritanya juga
romantis.”
“Udah beberapa hari ini aku nggak nonton berita di
televisi. Apa yang lagi rame?”
“Gosip
artis,” jawab Yuna kesal.
Yeriko
tertawa kecil. “Kenapa
sewot sih?”
“Drama lagi seru-serunya diganti.” Yuna langsung merebut
remote dari tangan Yeriko.
“Bagusan acara ini!” Yeriko berusaha merebut remote
televisi dari tangan Yuna.
“Iih .. aku mau nonton drama yang tadi.”
“Ini aja!” Yeriko mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar
Yuna tak bisa meraih remote di tangannya.
Yuna mengerutkan bibirnya. Ia mengambil ponsel yang ia
letakkan di atas meja dan memilih bermain game.
Yeriko tersenyum kecil. Ia menarik kepala Yuna ke
dadanya. Membiarkan Yuna asyik bermain game, sementara ia menyimak televisi
yang sedang menyiarkan berita-berita update yang terjadi di dalam dan luar
negeri.
Yeriko ikut mengintip permainan yang sedang dimainkan
oleh Yuna. Ia menyentuh layar ponsel Yuna dengan sengaja.
“Iiih ... iih ... mati kan? Mati!” seru Yuna. Ia langsung
membalikkan tubuhnya menghadap Yeriko. “Kamu, jahil banget sih? Aku nonton
drama digangguin, main game juga digangguin. Maunya apa sih?”
Yeriko tersenyum menatap Yuna. Ia mengecup bibir Yuna dan
memeluk erat istrinya. “Kamu nggak mau mainin aku?”
“Mainin apaan?” sahut Yuna. Ia tersenyum sambil
membenamkan wajahnya ke dada Yeriko.
“Biasa ...”
“Mmh ... aku lagi dapet,” tutur Yuna lirih.
“Hah!?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Berarti, kita gagal lagi?”
Yuna menghela napas. “Maaf, sampai sekarang aku belum
bisa hamil juga. Aku ...”
“Nggak masalah. Kita masih bisa usaha lagi,” sahut Yeriko
sambil mengeratkan pelukannya.
Yuna mengangguk kecil.
“Oh ya, Lutfi mau ngasih kita hadiah pernikahan. Dia mau
ngasih hadiah liburan. Kamu maunya, kita bulan madu ke mana?” tanya Yeriko.
“Bulan madu?” Yuna langsung mengangkat wajahnya menatap
Yeriko. Ia tersenyum lebar. “Ke luar negeri?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Mmh ... si Lutfi nyaranin
ke Ausie, tempat kamu kuliah dulu. Gimana menurut kamu?”
“Mmh ... boleh juga, sih. Tapi, aku pengen ke tempat yang
belum pernah aku datangi. Aku pengen bulan madu ke Amalfi Coast. Tempatnya
keren banget!”
“Italia?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Oke. Setelah pesta pernikahan kita, langsung berangkat
ke sana. Kamu, atur izin cuti kamu ya!” pinta Yeriko.
“Serius?”
Yeriko mengangguk pasti.
“Mmh ... kayaknya, di bulan pernikahan kita. Aku udah
kelar magang.”
“Oh ya? Itu lebih bagus. Jadi, kita bisa berlama-lama di
sana.”
“Emangnya mau berapa lama?” tanya Yuna.
“Satu minggu.”
Yuna langsung memukul dada Yeriko.
“Kenapa?”
“Seminggu mah nggak lama,” sahut Yuna kesal.
“Terus? Mau setahun di sana?”
“Satu bulan. Gimana?”
“Hmm ... lama banget? Aku punya banyak kerjaan. Dua
minggu. Gimana?”
“Mmh ... dua minggu ya? Boleh.” Yuna langsung membalas
memeluk tubuh Yeriko lebih erat. “Makasih ya!” bisik Yuna.
Yeriko mengangguk kecil. “Kamu nggak laper?”
“Laper. Makan yuk!” Yuna langsung bangkit dari tubuh
Yeriko. Ia menarik lengan Yeriko. Mereka turun ke lantai bawah sambil
bergandengan tangan dengan mesra.
Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Pada hari Sabtu,
Yuna pergi ke rumah Jheni terlebih dahulu sebelum mereka pergi berbelanja
bersama.
Sesampainya di rumah Jheni, ia langsung merebahkan
tubuhnya di kasur. “Hmm ... kangen juga sama kamar ini.”
“Kamar kamu yang sekarang, luasnya empat kali lipat dari
kamarku. Masih ngangenin kamar kecil yang berantakan ini?” sahut Jheni sambil
merias wajahnya di depan cermin.
“Huft, kamar aku emang luas. Tapi, monoton banget. Nggak
ada boneka, nggak ada bunga, nggak bisa taruh barang sembarangan. Yeriko, pasti
ngomel kalau berantakan sedikit aja.”
Jheni tertawa kecil. “Bagus, dong? Berarti, dia itu cowok
yang rapi dan bersih.”
“Oh, jadi kamu ngolok aku karena aku nggak bisa rapi?”
“Tapi selama nikah sama Yeriko, kamu juga pasti ketularan
jadi orang yang rapi, kan?”
“Mmh ... nggak juga sih. Aku nggak pandai ngatur barang.
Semuanya udah diberesin sama Bibi War. Yang penting, kalau habis pakai barang
langsung dikembalikan ke tempatnya aja lagi.”
Jheni tertawa kecil mendengar ucapan Yuna.
“Eh, by the way ... gimana perkembangan hubungan kamu
sama Chandra? Udah ada kemajuan?”
Jheni menggeleng lesu. “Kayaknya, dia nggak suka sama
aku.”
“Uch ... jangan sedih gitu, dong!” Yuna langsung bangkit
dan menghampiri Jheni. “Kondisi hatinya Chandra lagi nggak stabil. Dia pasti
masih mikirin mantan tunangannya itu. Di saat kayak gini, kamu jangan nyerah
gitu aja. Harus selalu ada buat dia. Supaya, hatinya dia terbuka dan cuma lihat
kamu sebagai satu-satunya orang yang paling sayang sama dia di dunia ini.”
“Gitu ya?”
“He-em.” Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku yakin,
dia juga suka sama kamu. Cuma saat ini, waktunya emang nggak pas.”
“Kamu tahu dari mana? Sok tahu!” dengus Jheni.
“Orang yang punya perasaan lebih. Pasti bakalan peduli
secara berlebihan. Aku lihat sendiri gimana paniknya dia waktu kamu disekap
sama si tua Lukman di dalam kamar hotel. Kalau nggak ada perasaan apa-apa. Dia
nggak akan sepanik itu, Jhen.”
“Beneran dia panik banget?” tanya Jheni penasaran.
Yuna mengangguk pasti.
Jheni tersenyum senang mendengar pernyataan yang keluar
dari mulut Yuna. Ia semakin yakin untuk mengejar cinta Chandra dan tidak akan
menyerah begitu saja.
“Jangan sampai ada cewek lain yang gunain kesempatan ini
buat deketin Chandra. Kalau sampai dia diambil cewek lain, nangis bombay!”
“Iya, Sayangku!” sahut Jheni sambil mencubit kedua pipi
Yuna. “Bantuin ya!”
“Bantuin apaan?”
“Deketin Chandra.”
“Usaha sendiri, dong!”
“Iih ... sama temen kok gitu?”
Yuna tertawa kecil. “Bercanda. Baperan amat, sih!? Pasti
aku bantu, kok.”
“Gitu dong! Ini baru namanya Yuna yang cantik dan baik
hati.”
“Huft, kalo ada maunya aja baru muji,” celetuk Yuna.
“Hehehe. Berangkat sekarang yuk!” ajak Jheni sambil
meraih tas tangannya.
“Ayo!” Yuna bergegas mengambil tas tangan miliknya yang
tergeletak di atas kasur Jheni.
Mereka bergegas pergi ke mall menggunakan taksi.
Yuna merasa sangat senang karena tetap bisa menghabiskan
waktu bersama sahabatnya walau ia sudah menikah. Suaminya tidak pernah
melarangnya pergi bersama Jheni. Justru seringkali menyuruhnya pergi
jalan-jalan dan berbelanja saat Yeriko sedang sibuk dengan pekerjaan dan tidak
punya waktu untuk menemani Yuna.
“Yun, aku seneng banget. Akhirnya bisa lihat kamu hidup
bahagia. Punya suami kayak Yeriko, bener-bener keberuntungan,” tutur Jheni saat
mereka duduk bersama menikmati makan siang di salah satu restoran yang ada di
dalam pusat perbelanjaan.
Yuna menganggukkan kepala. “Iya, Jhen. Aku juga nggak
nyangka. Awalnya, aku nggak pernah kepikiran buat suka sama dia. Aku nikah sama
dia juga terpaksa banget. Nggak punya pilihan lain buat nyelamatkan Ayah. Nggak
nyangka kalau ternyata, dia itu suami yang penyayang banget.”
“Aku sendiri masih bingung. Aku nggak punya apa pun yang
bisa dibanggakan. Tapi, dia bener-bener tulus mencintai aku,” lanjut Yuna.
Jheni tersenyum menatap Yuna. Ia sangat senang karena
tidak harus melihat Yuna terus-menerus menderita seperti dulu.
Makasih yang udah baca
“Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan sungkan buat
sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!
Much Love
@vellanine.tjahjadi
0 komentar:
Post a Comment