Cerita Kehidupan yang Menginspirasi dan Menghibur by Rin Muna a.k.a Vella Nine

Thursday, February 13, 2025

Perfect Hero Bab 112 : Tertuduh

 


“Aku kesel banget sama Yuna, gimana caranya kita balas dendam sama dia?” celetuk Lili.

 

“Eh, gimana kalau kita manfaatin dia?” tutur Sofi sambil menatap pria feminin yang melintas di depannya.

 

Lili tersenyum dan langsung memanggil pria feminim itu. “Sari!” panggilnya.

 

“Eh, Lili? Kenapa?” tanya Sari melambai.

 

“Kamu tadi ngobrol sama Yuna?” tanya Sofi.

 

“Mbak Yuna, penanggung jawab acara ini?”

 

Lili menganggukkan kepala. “Ngobrolin apaan sama dia?”

 

“Huh!?” Sari mencebik. “Dia itu ngeselin banget! Padahal, eike cuma minta ganti lampu ruang make-up. Lampunya tuh redup banget. Eike mau tes-tes make-up dulu. Eh, malah dikatain nggak profesional.”

 

“Iih ... dia ngeselin banget kan?” tutur Lili mencoba mempengaruhi Sari agar semakin membenci Yuna.

 

Sari menganggukkan kepala.

 

“Kita juga kesel banget sama dia. Dia itu sombong dan suka ngehina orang lain. Pengen banget bisa ngasih dia pelajaran.”

 

“Emangnya dia ngapain kalian?”

 

“Kita kerja satu perusahaan. Udah tahu banget sifatnya dia kayak gimana. Suka semena-mena sama karyawan lain.”

 

“Serius?” tanya Sari.

 

Lili dan Sofi menganggukkan kepala.

 

“Kamu mau bantu kita?” Lili.

 

“Bantu apa?” tanya Sari.

 

Lili membisikkan rencananya ke telinga Sari.

 

Sari tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Gimana? Bisa?”

 

“Gampang!” sahut Sari sambil mengacungkan jempolnya.

 

Lili dan Sofi saling pandang sambil tersenyum penuh kemenangan.

 

Sari tersenyum, ia melangkah memasuki ruang make-up. Ia mendapati Yuna sedang mengganti lampu make-up dan mengatur beberapa meja.

 

“Hai, Mbak Yuna!” sapa Sari sambil tersenyum.

 

“Hai ...!” balas Yuna sambil menoleh sejenak ke arah Sari.

 

“Lagi ganti lampu ya?” tanya Sari.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Gimana? Kayak gini udah terang?” tanya Rio, salah satu tim bagian lighting.

 

“Mmh ... “ Sari mengetuk dagu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Rio menghela napas. Ia mengemas kotak peralatannya dan bergegas keluar dari ruang make-up.

 

Yuna merasa sangat lega. Ia duduk di kursi sambil bermain ponsel untuk menenangkan dirinya.

 

“Mbak Yuna cantik banget. Mau eike test make-up?” tanya Sari.

 

Yuna mengernyitkan dahi. Ia langsung menatap Sari dan menggelengkan kepala.

 

“Beneran, nggak mau jadi lebih cantik dari tangan lentik eike ini?” tanya Sari sambil memainkan matanya.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia justru risih dengan sikap Sari.

 

“Hmm ... ya udah, deh kalo gitu. Eike keluar dulu. Di sini panas banget!” tutur Sari sambil berlalu pergi dari ruangan tersebut.

 

Yuna mengernyitkan dahi sambil melirik ke arah AC yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia mengambil remote AC dan mengecek suhu ruangan tersebut. “Udah sedingin ini masih kepanasan? Sinting memang tuh orang,” celetuk Yuna sambil meletakkan kembali remote AC ke atas meja.

 

Beberapa model dan make-up artist terlihat keluar masuk ruangan. Namun, Yuna sama sekali tidak tertarik untuk menyapa mereka. Ia terus duduk di pojok ruangan sambil memainkan ponselnya.

 

“Astaga! Anting-antingnya bos aku mana ya?” teriak salah satu asisten model, membuat gempar semua orang yang ada di ruang make-up.

 

“Anting-anting apaan?” tanya salah seorang model yang juga ada di ruangan tersebut.

 

“Anting-anting, Anna baru beli anting-anting baru dan harganya mahal banget. Aku bisa dipecat kalau sampai anting itu hilang.” Asisten model tersebut terlihat sibuk mencari anting-anting di salah satu tas yang ada di atas meja rias.

 

“Coba cari lagi! Mungkin keselip,” tutur salah satu model yang ada di dalam ruangan tersebut. Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut langsung mencari keberadaan anting-anting yang dimaksud oleh asisten Anna.

 

“Eh, kamu dari tadi duduk di sini kan? Pasti kamu yang ngambil anting-antingnya Anna, kan?” Asisten Anna langsung menuduh Yuna yang sedang duduk santai di sudut ruangan.

 

“Apa-apaan ini!?” Yuna langsung menengadahkan kepala menatap pria muda yang ada di hadapannya itu. “Main tuduh sembarangan!” sentaknya kesal.

 

“Kamu dari tadi selalu ada di dalam ruangan ini. Tadi, anting itu masih ada di dalam kotak perhiasan Anna. Kenapa bisa tiba-tiba ngilang? Pasti kamu yang ambil, kan?”

 

“Jangan nuduh sembarangan tanpa bukti ya!” sentak Yuna kesal. “Lagian, cuma anting-anting doang. Tinggal beli aja lagi!”

 

“Siapa lagi kalau bukan kamu? Kamu yang dari tadi nggak ada keluar dari ruangan ini. Asal kamu tahu ya, anting-anting itu harganya mahal banget. Kamu nggak bakal bisa gantiin anting itu!”

 

“Ada apa ini? Kok, rame-rame?” tanya Lili dan Sofi yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

 

“Ini nih, dia udah ambil anting-antingnya Anna.” Asisten Anna langsung menunjuk wajah Yuna.

 

Yuna langsung menepis tangan Asisten Anna. “Jangan nuduh tanpa bukti ya! Cuma anting-anting doang. Aku bisa beli seratus biji!” sahut Yuna kesal.

 

“Heh!? Asal kamu tahu, ya! Anting-anting itu mahal banget harganya!”

 

“Oh ya? Beneran mahal? Emang berapa harganya?” tanya Lili sambil menatap Asisten Anna.

 

“Delapan juta!” seru Asisten Anna. “Aku bisa dipecat kalau sampai anting-anting itu hilang!” rengeknya kesal.

 

“Gila! Mahal banget!?” Lili membelalakkan matanya sambil menatap asisten Anna.

 

“Eh, kamu ngaku aja deh! Pasti kamu kan yang udah ngambil anting-antingnya? Orang miskin kayak kamu, pasti bisanya cuma nyuri barang orang!”

 

“Nggak udah menuduh tanpa bukti! Mana buktinya kalau aku ambil anting itu?” tanya Yuna menantang.

 

“Idih, mana ada maling mau ngaku. Dia pasti udah nyembunyiin barangnya,” sahut Sofi.

 

Yuna menghela napas. “Nggak ada bukti kalau aku yang ambil anting-anting itu!” sahut Yuna. “Lagian, itu anting harganya nggak seberapa. Aku bisa beli sepuluh biji sekaligus!”

 

“Gila, sombong banget sih kamu!?” dengus Asisten Anna. “Emangnya kamu sekaya apa sih?” tanyanya mencibir.

 

Yuna tersenyum sinis. “Aku? Dududu ... kamu nanyain kekayaanku? Ntar kamu jantungan dengernya.”

 

“Halah, dia itu cuma pura-pura kaya aja. Aslinya, dia nggak punya apa-apa. Nggak punya rumah, nggak punya usaha yang bagus. Ayahnya juga lagi sakit di rumah sakit dan perlu biaya yang banyak. Pasti dia udah kehabisan duit buat nipu orang lain. Makanya, sekarang jadi pencuri buat bayarin biaya rumah sakit ayahnya itu,” cerocos Lili.

 

Yuna langsung menatap tajam ke arah Lili. “Heh!? Kamu nggak usah bawa-bawa ayah aku ya! Kamu boleh benci sama aku, tapi jangan bawa-bawa ayah aku!” sentak Yuna.

 

Lili tersenyum sinis ke arah Yuna. “Kalau gitu, kamu ngaku aja!”

 

“Aku nggak akan pernah ngakuin kesalahan yang nggak pernah aku buat!” sahut Yuna bersikeras.

 

“Coba cek aja tasnya dia!” Sofi melirik tas tangan Yuna.

 

“Lihat aja!” Yuna menyodorkan tas kecil miliknya ke hadapan Sofi.

 

Sofi langsung merebut tas milik Yuna dan memeriksa isi tas tersebut. Tas Yuna hanya berisi dompet miliknya.

 

“Ada, nggak?” tanya Lili.

 

Sofi menggelengkan kepala. Ia membalik posisi tas Yuna dan menggoyang-goyangkannya.

 

Asisten Anna tertegun menatap tas dan dompet milik Yuna. Ia mengetahui kalau tas tangan milik Yuna harganya lebih dari setengah milyar. Ia langsung menoleh ke arah Yuna dan memerhatikan semua barang branded yang melekat di tubuh Yuna.

 

“Nggak ada, kan?” tanya Yuna sambil merebut tasnya kembali. “Aku sama sekali nggak berminat ngambil anting murahan kayak gitu!” Yuna makin kesal dengan sikap Lili dan Sofi yang membuatnya tersudut seorang diri.

 

“Kamu penanggung jawab acara ini juga kan? Setidaknya, kamu bisa menyelidiki dan menangkap pelakunya kalau memang bukan kamu pelakunya!” tutur Asisten Anna.

 

“Oke. Aku bakal buktiin ke kalian semua kalau bukan aku yang ambil anting-anting itu!” sentak Yuna sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan.

 

“Dia siapa sih? Kok, kelihatannya kaya banget?” bisik salah satu model dengan model lainnya.

 

Yang ditanya langsung mengedikkan bahu. “Yang aku tahu, dia penanggung jawab acara ini.”

 

“Bukannya ini perusahaan Pak Lian? Istrinya Pak Lian aja nggak pakai barang branded semahal itu.”

 

“Emangnya itu asli?”

 

“Asli. Apa kamu kira aku nggak bisa bedain barang kw dan asli?”

 

“Iya juga, sih. Katanya sih dia cuma karyawan biasa. Kenapa bisa pakai barang branded? Kamu lihat, sepatunya dia itu kan limited edition. Cuma ada lima biji di dunia ini. Kenapa dia bisa punya?”

 

“Pasti dia bukan orang sembarangan.”

 

Semua model yang ada di ruangan itu mulai membicarakan Yuna. Mereka sangat menyukai barang branded dan mengetahui kalau Yuna mengenakan barang-barang mahal.

 

 

(( Bersambung ... ))

Terima kasih sudah baca Perfect Hero sampai di sini. Jangan lupa kasih star vote biar aku makin semangat update cerita terbarunya. Thank you so much yang udah ngasih hadiah. I Love you ...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas