“Ay, kenapa ngajak aku ke sini?” tanya Yuna sambil
melangkahkan kakinya di taman.
“Pengen suasana baru,” jawab Yeriko sambil
merangkul tubuh Yuna. “Maaf, aku cuma bisa ajak kamu ke sini! Belum bisa ajak
kamu liburan ke luar negeri.”
Malam ini, Yeriko mengajak Yuna untuk menghabiskan
liburan di salah satu resort mewah yang ada di kawasan Genteng, Kota Surabaya.
Kesibukan di perusahaan dan kondisi Yuna yang sedang hamil, membuatnya tak bisa
mengajak istrinya bepergian jauh.
Yuna tersenyum sambil menatap wajah suaminya. “Ke
sini aja, aku udah bahagia, kok.”
Yeriko tersenyum sambil menghentikan langkahnya.
Ia memutar tubuh Yuna menghadap ke arahnya. “Kalau anak kita sudah lahir, aku
akan bawa kalian keliling dunia!”
“Really?” tanya Yuna dengan mata berbinar.
Yeriko menganggukkan kepala.
Yuna tersenyum. Ia menghela napas sambil
melangkahkan kakinya kembali. “Dulu, Ayah selalu ngajak aku pergi liburan
setiap tahunnya. Ke Singapura, ke Tokyo atau ke halaman belakang rumah kalau
ayah lagi sibuk banget dengan pekerjaannya.”
Yeriko tersenyum sambil mengiringi langkah Yuna.
“Aku juga akan melakukan itu untuk kamu dan anak kita.”
Yuna tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Ia mengelus perutnya yang buncit. “Ingat janji ayah kamu, ya! Kalau dia bohong,
kita harus kasih hukuman!”
Yeriko tertawa kecil. “Oke. Emangnya, mau kasih
hukuman apa?”
“Mmh ...” Yuna melirik ke atas. “Rahasia.”
“Kalian mau main rahasia-rahasiaan?” tanya Yeriko
sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna.
Yuna tertawa sambil melangkahkan kakinya. Ia
berbalik sambil menatap wajah suaminya. “Rahasia perempuan,” tuturnya sambil
menjulurkan lidah. Ia tertawa kecil sambil berjalan mundur menjauhi Yeriko.
Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan
kepala. Ia mempercepat langkahnya menghampiri Yuna.
“Eh, itu Mama Rully sama Kakek Ali udah datang!”
seru Yuna sambil melangkahkan kaki menghampiri mama dan kakek mertuanya.
Yeriko tersenyum sambil mengikuti langkah Yuna.
“Kalian udah lama nunggu kami?” sapa Rullyta.
“Belum, Ma. Lagian, tempat ini asyik banget! Sepi,
tenang, nyaman dan sejuk banget.”
Rullyta tersenyum menatap Yuna. “Kamu suka?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Baguslah. Kita bisa menginap di sini malam ini,”
tutur Rullyta.
Yuna mengangguk lagi.
“Ayah kamu mana?” tanya Rullyta sambil mengedarkan
pandangannya. Sementara, Kakek Nurali dan Yeriko sudah duduk berbincang di
salah satu meja yang ada di taman tersebut.
“Belum dateng, Ma. Katanya, masih di jalan.”
“Oh.” Rullyta tersenyum. Ia mengajak Yuna untuk
duduk bersama Yeriko. Mereka duduk bersama sambil berbincang banyak hal tentang
keseharian mereka masing-masing.
Dua jam berlalu ...
Hingga tiba waktu makan malam, Adjie belum juga
sampai ke resort yang sudah mereka janjikan.
Yuna mulai gelisah karena ayahnya tak kunjung
datang ke tempat tersebut.
“Ayah kamu belum sampai juga?” tanya Rullyta.
Yuna menggelengkan kepala. “Aku coba telepon
lagi.”
“Dua jam yang lalu, dia bilang sudah berangkat?
Harusnya sudah sampai di sini,” tutur Rullyta.
“Iya,” sahut Yuna yang mulai gelisah. “Aku
khawatir sama Ayah. Kalau kenapa-kenapa di jalan, gimana?”
Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna. “Yun, jangan
berpikiran macam-macam! Ayah pasti baik-baik aja.”
“Ay, dari rumah ke sini cuma tiga puluh menit. Ini
sudah dua jam, ayahku belum nyampe juga,” sahut Yuna. Ia menjatuhkan ponsel
yang ada di tangannya karena tangannya yang gemetaran.
Yeriko langsung menangkap ponsel Yuna sebelum
menyentuh lantai ruang makan tersebut. “Jangan panik! Biar aku yang telepon
ayah!” pintanya sambil menekan ponsel mertuanya.
Yuna menautkan kedua telapak tangan sambil
menggigit kuku jempolnya.
“Jangan gigitin kuku!” pinta Yeriko sambil
menurunkan lengan Yuna, ia memasukkan jemari tangannya ke sela-sela jemari
tangan Yuna.
Yuna menarik napas dalam-dalam saat tangan Yeriko
menggenggamnya. Ia merasa lebih tenang dari sebelumnya. Hanya saja, ia tak bisa
mengusir perasaan khawatir yang sedang menyerang tubuhnya.
“Halo ...!” sapa suara asing di seberang sana
begitu panggilan telepon dari yeriko tersambung.
“Halo, ini siapa?” tanya Yeriko. Matanya menatap
Yuna, Rullyta dan kakeknya bergantian.
“Maaf, apa Anda keluarga pemilik ponsel ini?”
tanya seseorang di seberang sana.
“Iya, benar. Saya anaknya.”
“Kenapa?” tanya Yuna tanpa suara. Ia berusaha
merebut ponsel dari telinga Yeriko, tapi Yeriko malah menjauhkannya.
“Sebentar!” pinta Yeriko sambil meletakkan jari
telunjuk di bibirnya.
“Bapak yang punya telepon ini mengalami kecelakaan
di jalan Dharmawangsa. Sekarang, beliau ada di IGD rumah sakit Dr. Soetomo.”
“Apa!?” Yeriko membelalakkan mata sambil bangkit
dari tempat duduknya. “Saya ke sana, sekarang!”
“Ay, ada apa?” tanya Yuna.
“Ayah kecelakaan,” jawab Yeriko. “Kamu di sini aja
sama Mama!”
“Apa!? Aku ikut!” seru Yuna.
“Kamu di sini aja. Aku akan urus ayah kamu.”
“Nggak mau! Aku ikut!” seru Yuna sambil menitikkan
air mata.
Yeriko menghela napas sejenak. Ia menoleh ke arah
mama dan kakeknya.
“Bawalah dia!” perintah Rullyta.
Yeriko menatap Yuna sekali lagi. “Kamu yakin mau
ikut?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Jangan panik dan jangan nangis!” pinta Yeriko.
Yuna menganggukkan kepala. Ia menghapus air mata
yang sudah jatuh membasahi pipinya dan melangkahkan kakinya bersama Yeriko.
“Kenapa mimpiku jadi kenyataan?” batin Yuna sambil
memasang safety belt saat ia sudah masuk ke dalam mobil.
Yeriko memerhatikan Yuna lewat ekor matanya. Ia
sangat mengerti kegelisahan yang sedang menyelimuti Yuna. Ia terus mempercepat
laju mobilnya menuju rumah sakit Dr. Soetomo.
Begitu sampai rumah sakit, Yuna dan Yeriko
langsung menuju ruang IGD.
“Apa ayah ada di dalam?” tanya Yuna sambil
mendorong pintu IGD yang tertutup rapat.
“Yun, sabar!” pinta Yeriko sambil merengkuh tubuh
Yuna.
“Ayah di mana? Keadaannya sekarang gimana?” tanya
Yuna sambil terisak.
Yeriko menyentuh pintu IGD yang terkunci rapat.
“Mungkin, dokter lagi ...” Ia menghentikan ucapannya saat pintu ruang IGD
tersebut terbuka.
“Cari siapa?” tanya perawat yang keluar dari pintu
tersebut.
“Apa ada pasien yang mengalami kecelakaan di
Dharmawangsa?” tanya Yuna.
“Kalian siapa?”
“Saya anaknya, Suster!” jawab Yuna.
“Kebetulan kalau begitu. Pasien harus segera
dioperasi dan membutuhkan persetujuan dari keluarga. Karena orang yang membawa
pasien bukanlah keluarganya. Jadi, kami menunggu keluarga untuk menyetujui
tindakan operasi yang akan kami lakukan.”
“Lakukan yang terbaik, Suster!” perintah Yeriko.
Perawat itu menganggukkan kepala. “Tunggu
sebentar!” perintahnya sambil masuk kembali ke ruang IGD tersebut.
Yuna dan Yeriko menganggukkan kepala.
“Kalian keluarga Pak Adjie Linandar?” Suara
seorang pria mengalihkan perhatian Yuna dan Yeriko. Mereka langsung berbalik
menatap pria muda yang sudah ada di belakang mereka.
“Siapa ya?” tanya Yeriko.
“Kamu yang nolongin ayah saya?” tanya Yuna sambil
menatap pria muda itu.
Pria itu menganggukkan kepala. “Maaf, saya ambil
dompet dan ponsel beliau untuk mengetahui identitasnya,” tuturnya sambil
menyodorkan dompet dan ponsel ke arah Yuna.
“Makasih banyak, ya!” ucap Yuna.
Pria muda itu menganggukkan kepala.
“Kamu yang nabrak ayah kami?” tanya Yeriko.
Pria muda itu tertawa kecil. “Bukan, Mas. Dia
korban tabrak lari. Saya yang bawa dia ke rumah sakit ini.”
“Oh, makasih banyak ya! Boleh tahu namanya siapa?”
tanya Yuna.
“Arjuna, panggil aja Arjun!” pintanya sambil
tersenyum menatap wajah Yuna. Ia memperhatikan wajah Yuna. Ia merasa sangat
familiar dengan wanita cantik yang ada di hadapannya itu.
Yeriko menatap Arjuna yang sedang memerhatikan
istrinya.
Arjuna tertawa kecil saat menyadari tatapan Yeriko
yang begitu menyelidik. “Keluarganya sudah datang, saya harus pergi!” ucapnya
sambil melirik arloji dan berbalik.
“Tunggu ...!” seru Yuna.
Arjuna langsung menghentikan langkah kakinya.
“Bisa minta nomor telepon kamu?” tanya Yuna.
Arjuna berbalik sambil tersenyum ke arah Yuna.
“Untuk apa?”
“Kamu sudah nolong ayahku, apa bisa tinggalin
nomor telepon untuk ...” Ucapan Yuna terhenti saat Arjuna tertawa kecil sambil
menatapnya.
“Kalau mau cari aku, aku selalu ada di Arjuna
Club,” tutur Arjuna sambil tersenyum. Kemudian ia berbalik dan melangkah pergi.
“Arjuna Club?” gumam Yuna sambil menatap punggung
pria itu.
Yeriko merengkuh tubuh Yuna. Mereka kembali
berbalik saat pintu ruang IGD terbuka.
“Siapa yang bertanggung jawab atas pasien yang
bernama Adjie Linandar?” tanya perawat yang keluar dari ruangan tersebut.
“Saya, Dokter!” jawab Yuna dan Yeriko bersamaan.
Perawat itu memandang Yuna dan Yeriko bergantian.
“Saya anak menantunya. Saya yang akan bertanggung
jawab!” tutur Yeriko sambil menarik dokumen dari tangan perawat tersebut dan
langsung menandatanginya.
Perawat tersebut tersenyum begitu membaca nama
besar Hadikusuma yang sudah terkenal di kota tersebut. “Kami akan langsung
mengambil tindakan. Pasien akan segera memasuki ruang operasi,” ucapnya sambil
masuk kembali ke dalam ruang gawat darurat tersebut.
Yeriko menganggukkan kepala. Ia mengajak Yuna
untuk duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di depan pintu ruangan operasi.
Yuna duduk sambil menutup wajahnya. Ia dan Yeriko
sudah melakukan banyak cara untuk melindungi ayahnya. Namun, nasib malang tetap
saja menimpa dirinya. Ia sangat berharap kalau ayahnya bisa diselamatkan dan
kembali sehat.
((Bersambung...))
Apa yang akan dilakukan Mr. Ye selanjutnya?
Ikuti terus kisah selanjutnya ya ...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


