Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 432 : Semakin Terobsesi

 


“Akhirnya ... dia nelpon dan mau ketemuan sama aku!” seru Refi sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Refi terus tersenyum bahagia sambil memeluk ponselnya.

 

“Mmh ... aku pakai baju yang mana ya?” Ia bangkit dari tempat tidur. Melangkah menuju lemari dan mengeluarkan semua koleksi pakaiannya. Ia ingin Yeriko melihat dirinya kembali seperti dulu. Karenanya, ia harus mengenakan pakaian yang bisa menarik perhatian Tuan Muda itu.

 

Sepanjang malam, Refi sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan saat bertemu dengan Yeriko. Membuat ia tertidur bersama semua pakaian yang ia keluarkan dari dalam lemari saat menjelang pagi.

 

“Aargh ...!” Refi langsung berteriak saat membuka mata dan melihat jam yang ada di ponselnya. Ia baru membuka matanya kembali saat sudah jam sepuluh pagi. Alhasil, ia terburu-buru untuk mandi dan make-up.

 

“Mau ke mana?” tanya Deny yang sudah ada di depan pintu apartemen saat Refi baru saja membuka pintu untuk pergi.

 

“Mau ke Galaxy,” jawab Refi sambil memasang sepatunya dengan terburu-buru.

 

“Kenapa pakai baju kayak gini?” tanya Deny sambil memerhatikan tubuh Refi dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ia melihat bagian dada dan punggung Refi yang terbuka lebar.

 

“Emangnya kenapa? Ada yang salah?”

 

“Kamu tahu kalau kantor perusahaan itu semua karyawannya pakai pakaian yang formal dan sopan. Ini terlalu seksi. Kayak mau ke klub malam aja,” tutur Deny.

 

“Den, aku ini artis. Wajar aja kalau aku pakai baju gini. Kalo aku pake baju formal kayak orang kantoran, Yeriko nggak bakal tergoda. Harus tampil cantik dan seksi supaya bisa bikin dia tertarik sama aku lagi,” cerocos Refi.

 

Deny langsung mendorong tubuh Refi, masuk kembali ke dalam apartemen tersebut. “Ganti, Ref!” perintahnya.

 

“Kenapa? Aku biasa kayak gini, Den.”

 

“Ck, kamu ini masih nggak ngerti juga. Tuan Muda itu nggak akan tergoda dengan pakaian seksi kayak gini. Istrinya aja udah putih mulus kayak gitu. Kamu mau telanjang di depan dia pun, dia nggak akan tergoda.”

 

“Kamu malah perhatiin perempuan jalang yang udah ngerebut Yeriko dari aku? Jangan-jangan, kamu juga tergoda sama dia?”

 

Deny tertawa kecil. “Kenapa? Kamu cemburu? Udah mulai jatuh cinta sama aku?”

 

“Nggak akan jatuh cinta sama kamu!” seru Refi.

 

Deny tertawa kecil. “Nggak masalah. Yang penting bisa puasin aku kapan pun aku mau. Cinta nggak penting, yang penting nikmat.”

 

“Kamu ...!?” Refi mendelik ke arah Deny sambil menunjuk wajah pria itu.

 

Deny tersenyum puas menatap Refi. “Kenapa? Kamu menikmatinya juga ‘kan?”

 

Refi menghentakkan kaki, ia segera kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya.

 

“Antarin aku ke Galaxy!” perintah Refi usai mengganti pakaiannya.

 

Deny tersenyum dan bangkit dari duduknya. Mereka bergegas pergi ke kantor Galaxy Group untuk bertemu dengan Yeriko.

 

 

 

Sesampainya di kantor Galaxy Group, Refi tak mendapat sambutan baik. Semua karyawan yang ada di kantor tersebut sudah sangat mengenal Refi yang selalu berulah. Sehingga, banyak dari mereka yang mencibir. Memasang wajah tak bersahabat saat Refi memasuki kantor tersebut.

 

“Selamat pagi ...!” sapa Refi pada resepsionis yang berjaga sambil melepas kacamatanya. Ia memasang senyuman paling manis di dunia.

 

“Pagi ...!” balas resepsionis tersebut dengan wajah tak bersahabat.

 

“Yeriko ada di ruangannya?” tanya Refi.

 

“Maaf, Bu. Pak Yeri sedang rapat dan tidak bisa diganggu.”

 

“Aku udah janjian mau ketemu sama dia. Kenapa kamu halang-halangin?” tanya Refi.

 

“Saya tidak menghalangi. Pak Yeri memang sedang rapat.”

 

“Ya udah. Kasih tahu sama bos kamu kalau aku udah datang! Dia yang nyuruh aku ke kantor ini,”  perintah Refi dengan gaya angkuhnya.

 

“Sebentar, Bu!” pinta resepsionis tersebut sambil menelepon.

 

“Gimana?” tanya Refi begitu resepsionis tersebut mematikan teleponnya.

 

“Silakan tunggu sebentar. Mas Riyan akan segera ke sini.”

 

“Oke.” Refi mengedarkan pandangannya. Ia menatap langit-langit ruangan di lobi tersebut yang tingginya sekitar tujuh meter lebih. Dihiasi dengan lampu-lampu bergaya retro yang dihiasi dengan fitting pentagonal. Ada deretan sofa mewah yang bisa digunakan untuk menunggu, membuat kantor tersebut terlihat sangat mewah dan berkelas. E

 

“Hmm ... andai aku yang jadi istrinya Yeriko, gedung ini sudah pasti jadi milikku,” batin Refi sambil tersenyum. Ia terus membayangkan kehidupan bahagianya bersama Tuan Muda pewaris Galaxy Group tersebut.

 

“Selamat pagi, Mbak Refi!” sapaan dari Riyan membuyarkan lamunan Refi.

 

Refi langsung menoleh ke arah Riyan. “Eh, Riyan? Gimana? Yeriko udah ngasih tahu kalau dia nyuruh aku ke sini?”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Tapi, Pak Bos masih meeting. Mbak Refi terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan Pak Bos. Jadi, Mbak Refi bisa tunggu dulu di lantai ruangan Pak Bos.”

 

Refi mengangguk. “Oke. Thanks!” Ia sangat senang karena Yeriko masih memberinya kesempatan walau ia terlambat beberapa menit dari waktu yang telah ditentukan. Ia bersedia menunggu sampai Yeriko selesai rapat.

 

“Ayo, ikuti saya!” pinta Riyan sambil melangkahkan kakinya menuju lift.

 

Beberapa menit kemudian, Riyan dan Refi sudah sampai di lantai dua puluh lima. Lantai gedung berukuran seratus meter persegi di paling atas adalah kekuasaan Yeriko. Semua fasilitas yang ada di sana hanya milik Yeriko dan tidak semua orang memiliki akses bebas untuk masuk ke lantai tersebut.

 

Begitu keluar dari lift, Refi langsung menyusuri lorong sepanjang sepuluh meter. Kemudian, ia berbelok ke kanan bersama dengan Riyan.

 

“Mbak Refi bisa duduk di sini terlebih dahulu sambil menunggu Pak Bos selesai rapat,” tutur Riyan sambil mengajak Refi untuk masuk ke ruangan tersebut.

 

Refi menganggukkan kepala. “Thanks ...!”

 

Riyan mengangguk. “Kalau gitu, saya permisi dulu!” pamit Riyan. Ia berlalu pergi meninggalkan Refi dan masuk ke lorong sebelah kiri untuk menyapa dua sekretaris Yeriko yang ada di sana.

 

Sebelum mencapai ruang kerja Yeriko, semua orang akan melewati dua orang sekretaris yang bekerja di sana. Juga ruangan Riyan, asisten pribadi yang  pintu ruangannya tak jauh dari ruangan bosnya.

 

“Bu, di ruang tunggu ada Mbak Refi. Jangan sampai dia masuk ke ruangan Pak Bos sebelum Pak Bos datang!” tutur Riyan pada dua sekretaris yang ada di sana.

 

“Siap, Pak Riyan!”

 

“Mbak Refi yang artis itu?” tanya sekretaris yang satunya lagi.

 

Riyan menganggukkan kepala. “Kalian tahu kalau Pak Bos nggak suka sama dia. Jangan sampai dia bikin onar sebelum Pak Bos datang. Apa aja yang dia minta, kasih aja! Kecuali masuk ke ruang kerja Pak Bos!”

 

“Oke.” Dua sekretaris itu mengacungkan jempol bersamaan.

 

Riyan tersenyum, ia bergegas masuk ke ruangannya dan kembali mengerjakan pekerjaannya seperti biasa.

 

 

 

Refi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan bernuansa putih emas itu benar-benar menunjukkan selera Yeriko yang mewah dan sempurna. Refi memerhatikan design interior dari ruangan berukuran tujuh meter persegi tersebut.

 

“Kantor ini mewah banget! Harusnya, aku bisa jadi nyonya di kantor ini. Aku pasti bisa ngerebut Yeriko lagi!” tutur Refi penuh percaya diri.

 

Refi masih saja membayangkan dan berharap kalau dirinya bisa kembali bersama Yeriko. Sementara, ia tidak mengetahui kalau Yeriko dan Yuna sengaja mempermainkan dirinya.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih hadiah untuk cerita ini.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 431 : Tumpahan Perhatian

 


“Den, gimana ini?” tanya Refi saat ia dan Deny sedang istirahat di apartemennya.

 

Deny tak menjawab. Ia terlihat sangat santai menanggapi kecemasan Refi.

 

“Deny ...!” seru Refi kesal.

 

“Sabar, Ref. Aku udah pantau Tuan Muda itu terus, tapi nggak ada pergerakan.”

 

“Dia masih nggak ngerespon sama apa yang kita buat. Dia juga nggak ada hubungi aku. Kenapa dia secuek ini, sih?”  gerutu Refi.

 

Deny hanya tersenyum kecil. “Kamu yang paling memahami dia. Aku udah ngelakuin semua yang kamu minta. Soal gimana respon dia ke kamu, itu di luar kendaliku. Lagian, Tuan Muda itu orangnya tenang banget. Dia bersikap seolah-olah nggak pernah terjadi apa-apa.”

 

Refi semakin gelisah karena Yeriko tak kunjung merespon semua postingan-postingan yang dia buat.

 

“Harusnya, Tuan Muda itu bereaksi saat istrinya terganggu. Kenapa, kali ini dia diam aja?” tanya Deny.

 

“Nggak tahu, Deny ...!” sahut Refi geram. “Harusnya, kamu bikin sesuatu yang lebih greget lagi supaya Yeriko nyamperin aku dan ninggalin cewek sialan itu!”

 

“Aku udah lakuin semua yang kamu suruh. Masih aja kurang!” seru Deny. “Kalo kamu bisa, lakuin sendiri!”

 

“Oke, aku lakuin semuanya sendiri,” sahut Refi makin kesal.

 

“Coba kalo berani!” seru Deny.

 

“Barusan kamu sendiri yang nyuruh aku buat ngerjain semuanya sendiri. Cari orang kayak kamu, nggak susah!”

 

“Eh, kalo cari orang kayak aku itu gampang ... kenapa setiap ada kesulitan, kamu selalu nyari aku? Kenapa nggak nyari orang lain aja?” tanya Deny.

 

Refi terdiam. Ia hanya memiliki Deny untuk ia andalkan. Terlebih, orang yang selama ini dekat dengannya hanya Deny. Jika tidak ada pria itu, hidupnya mungkin sudah berakhir dengan tragis karena tak ada yang membantunya.

 

Refi terus menatap Deny yang terlihat sangat santai. Sudah berhari-hari gosip yang muncul di media selalu menyudutkan Yuna dan Yeriko. Namun, tetap saja tidak ada reaksi. Ia pikir, Deny tidak sungguh-sungguh melakukan hal yang ia inginkan.

 

“Kayaknya, aku memang harus bertindak sendiri,” gumam Refi sambil menatap Deny penuh kebencian.

 

Deny tersenyum sinis. “Jangan melakukan apa pun tanpa sepengetahuan dari aku!” ucapnya seolah bisa membaca pikiran Refi.

 

Refi hanya menatap wajah Deny tanpa berkata-kata.

 

“Aku pulang dulu!” pamit Deny. “Masih ada bisnis yang harus aku urus. Ingat, jangan membuat keputusan sendiri!”

 

Refi mengangguk.

 

Deny tersenyum sambil menatap Refi. “Kamu memang penurut,” tuturnya lirih sambil bergegas keluar dari rumah Refi.

 

Refi mendengus kesal. Ia merebahkan tubuhnya di sofa sambil memeriksa postingannya di internet.

 

“Hah!? Yuna punya akun instagram?” tanyanya saat membaca komentar dari user Ms. Ye.

 

“Idih, dia pake nama Ms. Ye dengan pedenya. Harusnya, aku yang menyandang gelar nama itu. Kalo aja kamu nggak ambil Yeriko dari aku. Aku pasti sudah jadi istrinya Yeriko dan hidup bahagia,” gerutu Refi.

 

“Kok, Yuna cuma komentar sekali. Pendek banget pula. Aku media sosialnya dia juga di-private. Gimana aku mau lihat reaksi dari dia?” gumam Refi.

 

Refi menarik napas beberapa kali. “Sabar, Ref! Sabar! Sebentar lagi, Yeriko pasti akan menerima kamu lagi,” ucap Refi pada dirinya sendiri.

 

Refi terus berpikir untuk menghubungi Yeriko terlebih dahulu. Namun, niatnya itu ia urungkan karena ia tidak ingin Yeriko menaruh curiga yang lebih dalam lagi.

 

 

 

...

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

“Ay, gimana perkembangan mantan pacar kamu itu?’ tanya Yuna yang sedang duduk santai dalam pelukkan Yeriko sambil menonton televisi.

 

Yeriko mengedikkan bahunya.

 

“Dia makin gila dan nggak masuk akal.”

 

“Biar aja dia gila,” sahut Yeriko santai.

 

“Kamu kok bisa punya mantan pacar kayak gitu? Obsesinya terlalu besar,” tanya Yuna.

 

“Nggak tahu. Dia emang ambisius. Aku pikir, nggak sampai segila ini.”

 

“Enaknya diapain ya?” tanya Yuna.

 

“Biarkan aja! Nanti capek sendiri.”

 

“Padahal, banyak juga komentar pedas yang menyudutkan dia. Apalagi, kita udah pernah buat konferensi pers waktu itu. Banyak netizen yang masih ingat itu. Sebagian tetap berpihak ke Refi, sebagian lagi berpihak ke aku.”

 

“Nggak usah kamu ladeni terus!” pinta Yeriko. “Nanti kamu ikutan gila kayak dia. Lebih baik, cari kegiatan positif lainnya daripada cuma bacain komentar nggak bermanfaat.”

 

Yuna tertawa kecil sambil menatap wajah Yeriko. “Iya, juga sih. Kelihatan banget kalau aku kekurangan kerjaan.”

 

“Banyak hal yang bisa kamu kerjain. Oh iya, kemarin Mama Rully ada tanyain soal ini ... mmh ... kegiatan ibu-ibu itu apa ya?”

 

“Ibu-ibu apa?”

 

“Yang di Dekranasda itu. Ketuanya kan Bunda Yana.”

 

“Oh. PKK?” tanya Yuna.

 

“Nah, itu.”

 

“Ada apa dengan PKK?”

 

“Mama nanyain, siapa tahu kamu mau gabung sama mereka. Biar ada kegiatan. Kamu kan bisa belajar merajut, melukis atau bikin-bikin kue.”

 

“Emangnya, Mama Rully ada di PKK juga?”

 

“Aku kurang tahu juga. Tapi, kalau ada kegiatan ibu-ibu PKK, dia sering hadir. Tim hore aja kayaknya dia itu.”

 

“Hahaha. Masa kamu ngatain mama sebagai tim hore?”

 

“Dia kan sibuk bisnis juga, Yun. Kalau penggerak PKK nggak terlalu aktif, kasihan ibu-ibu yang berbakat di kota ini, jadi nggak diperhatikan.”

 

“Yang penting selalu diperhatikan sama suaminya,” sahut Yuna sambil tersenyum lebar.

 

Yeriko tertawa lebar. “Pasti diperhatikan sama suami ... kalau nggak sibuk kerja.”

 

Yuna langsung mencubit perut Yeriko.

 

“Aw ...! Kenapa nyubit?”

 

“Jadi, buat suami-suami itu ... lebih penting kerjaan daripada istri?”

 

“Iya. Emangnya mau punya suami yang nggak punya kerjaan? Kerja kan buat anak istri.”

 

“Kalo kerja terus, kapan merhatiin istrinya?”

 

“Sekarang ini lagi merhatiin istri,” jawab Yeriko sambil menatap wajah Yuna tanpa berkedip.

 

“Ini mantengin, bukan merhatiin!” dengus Yuna sambil mendelik ke arah Yeriko.

 

Yeriko tertawa kecil. “Perhatian dari aku, masih kurang?” tanyanya kemudian.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia langsung memeluk erat pinggang Yeriko. “Nggak kurang sedikit pun, kok. Perhatian kamu sudah banyaaak banget. Sampe tumpeh-tumpeh.”

 

Yeriko tertawa melihat raut wajah Yuna.

 

“Asal tumpahan perhatiannya nggak ngenain orang-orang kayak Refi aja,” lanjut Yuna.

 

“Nggaklah. Kamu harus siapin wadah yang lebih besar lagi untuk menampung tumpahan perhatian dari aku,” tutur Yeriko sambil mengelus lembut pipi Yuna.

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. Hatinya berteriak sekeras-kerasnya karena merasa sangat bahagia, hingga senyum lebar di bibirnya terlukis tanpa ia sadari. Untuk beberapa menit, jiwanya melayang-layang sambil menari-nari bahagia.

 

“Hei ... kamu nggak gila ‘kan? Ketawa-ketawa sendiri,” tanya Yeriko sambil menjepit hidung Yuna.

 

“Eh!?” Yuna langsung tersadar dari lamunannya. “Kamu kenapa sih pinter banget bikin aku melayang-layang?”

 

“Melayang kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia takut pipinya bersemu merah karena sikap Yeriko yang begitu romantis.

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. Baginya, kebahagiaan Yuna lebih penting dari apa pun.

 

“Mmh ... jangan-jangan, ini yang bikin Refi tergila-gila dan terobsesi banget sama kamu.”

 

“Kok bisa?”

 

“Kamu perhatian banget. Pasti waktu masih pacaran sama Refi, kamu begini juga ke dia?”

 

  Yeriko menggelengkan kepala. “Nggak pernah.”

 

“Bohong! Kenapa bisa pinter banget ngerayu istrinya?”

 

“Karena aku beneran sayang sama kamu. Cuma kamu aja.”

 

“Refi nggak pernah kamu giniin?”

 

“Nggak, suer!”

 

“Gimana caranya aku bisa percaya? Masa pacaran nggak pernah ngerayu pacar sendiri? Gimana kamu bisa pacaran sama dia? Gimana cara nembak dia? Gimana kamu ...” Yuna menghentikan ucapannya saat Yeriko menutup mulut Yuna menggunakan bibir.

 

“Nggak usah ungkit masa lalu!” pinta Yeriko berbisik. “Kalau kamu masih nggak percaya, aku bisa telepon Refi sekarang juga.”

 

Yuna langsung menatap Yeriko. Ia sangat berharap kalau Yeriko membuktikan ucapannya.

 

“Kamu beneran? Mau aku teleponin si Refi?” tanya Yeriko seolah bisa membaca pikiran Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

Yeriko mendesah, ia mengambil ponsel dan langsung menelepon nomor Refi. Ia menempelkan ponsel ke telinganya begitu panggilannya tersambung.

 

Yuna tersenyum sambil menempelkan satu telinganya ke ponsel Yeriko untuk ikut mendengarkan pembicaraan

 

Yeriko tersenyum kecil melihat tingkah istrinya.

 

“Halo ...!” sapa Refi dari seberang telepon.

 

“Halo, kamu di mana?” tanya Yeriko.

 

“Aku lagi di rumah. Ada apa? Tumben, malam-malam gini telepon?” tanya Refi dengan nada suara yang lembut dan manis.

 

Yuna memutar bola mata begitu mendengar suara mendayu-dayu yang keluar dari mulut Refi. “Sok manis!” batinnya.

 

“Nggak papa. Gimana kabar kamu?” tanya Yeriko sambil melirik Yuna.

 

“Baik banget. Kamu apa kabar, Yer? Udah lihat video aku di internet?” tanya Refi.

 

“Udah.”

 

“Gimana menurut kamu?”

 

“Bagus.”

 

“Yer, apa kita bisa ketemu? Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu,” tanya Refi.

 

Yeriko menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala. Mengisyaratkan untuk menerima ajakan Refi.

 

“Bisa. Aku tunggu kamu di kantor sebelum jam sebelas siang.”

 

“Oke. Kita ketemu di sana.”

 

“Oke.” Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia menatap Yuna yang mengacungkan jempol ke arahnya.

 

“Besok aku ke perusahaan sambil antar makan siang buat kamu,” tutur Yuna sambil tersenyum jahil.

 

“Kamu mulai nakal ya?” dengus Yeriko sambil menjepit hidung Yuna. “Ketagihan berhadapan sama Refi?”

 

Yuna terkekeh geli. “Abisnya dia lucu banget. Seneng aja gitu lihat dia dengan segala kebodohannya.”

 

Yeriko tersenyum sambil memeluk kepala Yuna ke dadanya. “Aku lebih senang kalau kamu menghadapi musuh kamu dengan menunjukkan prestasi dan kemampuan kamu. Dengan begitu, dunia akan tahu ... siapa yang layak untuk berdiri di tempat yang paling tinggi. Sementara orang yang ingin menjatuhkanmu, akan tetap berada di bawah karena tak mampu mendaki ke atas sana.”

 

Yuna tersenyum sambil mendengarkan detak jantung Yeriko. “Untuk bisa sampai seperti ini juga nggak mudah. Banyak duri dan batu yang harus dilalui. Penuh darah dan air mata untuk bisa memiliki kemampuan yang lebih dari orang lain. Nggak ada kesuksesan yang bisa dicapai dengan mudah. Aku ingat banget, waktu masih kuliah ... hampir setiap hari tidur di perpustakaan untuk belajar. Karena kemampuan otakku pas-pasan, jadi harus berusaha lebih keras dari yang sudah selangkah lebih maju. Supaya aku bisa menyusul dan berjalan beriringan dengan mereka.”

 

“Kamu memang wanita terbaik. Aku nggak akan membiarkan kamu sendirian lagi. Apa pun yang akan terjadi, kita hadapi sama-sama!” pinta Yeriko.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Termasuk menghadapi Refi, mantan pacar kamu yang gila itu.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Iya. Sekalipun ada seribu Refi di dunia ini. Asal kita tetap saling mencintai dan saling percaya. Nggak akan ada satu orang pun yang bisa memisahkan kita.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Aku sangat menyayangi dan sangat percaya sama suamiku. Jangan cemburuan lagi, ya!” pintanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah Yeriko.

 

Yeriko mengangguk. “Aku nggak cemburu. Cuma takut kehilangan kamu.” Ia semakin mengeratkan pelukkannya.

 

“Aku juga punya rasa takut itu.”

 

“Kamu nggak akan kehilangan aku selama hati kamu masih ada. Karena aku ada di sana,” bisik Yeriko lirih.

 

“Me too ...” bisik Yuna ke dada Yeriko. Ia memejamkan mata dan terlelap dalam pelukkan suami tercintanya.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih hadiah untuk cerita ini.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 430 : Iseng Banget!

 


“Yer, kemarin si Icha ngasih tahu aku kalau dia ketemu sama Amara di klub malam tempat dia pernah kerja,” tutur Lutfi.

 

“Terus?”

 

“Katanya, dia datang dan pergi sama Oom-Oom gitu dan ganti-ganti. Jangan-jangan, dia jual badan buat bayar hutang-hutang suaminya itu.”

 

“Dia udah keluar dari Menur?”

 

“Iya. Sempat dirawat di sana karena stress. Tapi, kayaknya dia malah menikmati kerjaannya yang sekarang. Mungkin, karena bisa dapet uang banyak dengan cara yang nikmat.”

 

Yeriko tersenyum sinis.

 

“Untung aja si Chandra gak beneran nikah sama tuh cewek. Heran gua, mantan-mantan kalian ini nggak ada yang bener satu pun,” celetuk Lutfi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Kayak mantanmu ada yang bener aja,” sahut Yeriko.

 

“Mantan-mantanku nggak ada yang gila kayak Refi,” ucap Lutfi tak mau kalah.

 

Yeriko langsung memijat keningnya. “Kenapa dia terlalu terobsesi sama aku? Padahal, di luar sana masih ada banyak cowok yang bisa bikin dia bahagia.”

 

“Dulu, kamu memperlakukan dia terlalu manja. Semua kamu kasih gitu aja. Sekarang, dia terobsesi banget sama kamu.”

 

“Ah, sudahlah! Nggak usah membicarakan kesalahanku yang dulu. Aku yang udah salah menilai dia.”

 

Lutfi tersenyum menatap Yeriko. Ia mengalihkan pandangannya pada Icha yang tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka.

 

“Makan, yuk!” ajak Icha.

 

Lutfi dan Yeriko mengangguk. Mereka bergegas ke meja makan untuk menikmati makan siang bersama.

 

Usai makan siang, Icha dan Yuna bersantai di balkon. Sementara Yeriko dan Lutfi memilih untuk bersantai di halaman belakang seperti biasa.

 

“Yun, mereka lagi ngobrolin apa ya? Kelihatannya serius banget,” tanya Icha sambil menatap dua pria yang sedang duduk santai di halaman belakang.

 

Yuna mengedikkan bahunya sambil menyandarkan lengannya di pagar balkon yang menghadap ke belakang rumahnya. “Palingan ngomongin bisnis.”

 

“Cowok-cowok, kalau ngumpul yang diomongin kerjaan mulu,” celetuk Icha.

 

“Nggak kayak kita, yang diomongin cowok-cowok ganteng di drama televisi, belanja online, gosip artis, sampai hal-hal nggak penting yang nggak ada hubungannya sama sekali sama kehidupan kita.”

 

Icha tertawa mendengar ucapan Yuna. “Iya juga, sih. Apalagi gosipin temen sendiri, nggak ada habisnya.”

 

“Jangan-jangan, kamu juga gosipin aku ya?” dengus Yuna.

 

Icha menganggukkan kepala. “Emang iya. Tapi, gosipnya sama Jheni dan Lutfi doang.”

 

“Bagus gosip di medsos kayak Refi, tuh. Biar makin terkenal.”

 

“Kamu udah terkenal, Yun. Nggak pengen jadi artis?”

 

“Ogah, ah! Lebih enak kayak gini. Aku nggak suka hidupku di eksploitasi. Kamu sendiri, kenapa nggak jadi artis? Lutfi kan punya perusahaan perfilman. Kalau kamu mau, bisa jadi artis dengan mudah.”

 

 Icha mengedikkan bahunya. “Jadi artis, sibuk melayani penggemar. Udah gitu, privasi kita bakal dikorek-korek sampai ke akar-akarnya kalau udah ketemu sama haters. Mentalku nggak kuat buat menghadapi komentar pedas dari netizen. Enak kayak gini aja. Mau ngapa-ngapain bebas.”

 

“Iya, juga sih.Aku juga ngerasa begitu. Dulu, mau makan di pinggir jalan pun bisa. Suka-suka aja gitu. Makanya, Yeriko nggak mau diajak makan di sembarang tempat. Dia takut dikerubungi orang banyak. Padahal, suamiku itu bukan artis.”

 

“Emangnya ada yang berani deketin Yeriko?”

 

“Banyak, Emak-emak.”

 

Icha tertawa kecil. “Nggak papa, kali. Paling cuma ngajak foto bareng doang. Lutfi pun gitu.”

 

“Apalagi, Lutfi sering digosipin sama artis dan selebgram juga ya? Kuat banget mental kamu, Cha. Bisa nerima Lutfi foto mesra sama cewek lain. Kalo aku ... udah mencak-mencak lihat Yeriko deket sama perempuan lain.”

 

Icha tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Aku udah biasa sama Lutfi yang kayak gitu. Aku percaya sama dia, kok. Udah kehidupannya dia dari awal seperti itu. Aku nggak mungkin memaksa dia untuk berubah. Aku terima dia apa adanya.”

 

Yuna menatap Icha sambil memain-mainkan matanya. “So sweet! Aku jadi pengen punya pacar kayak kamu.”

 

Icha tertawa kecil sambil mengacak rambut Yuna. “Kalo kamu cowok, boleh deh jadi selingkuhanku.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Enak aja!”

 

Icha terkekeh. “Eh, ada Chandra.” Pandangannya langsung beralih pada tiga pria yang ada di bawah mereka.

 

Yuna langsung menoleh ke bawah. “Iya. Bukannya dia seharusnya sibuk?”

 

“Udah nggak, kali. Riyan aja udah ada di sana.”

 

“Woi ...!” seru Jheni sambil menepuk pundak Yuna dan Icha bersamaan.

 

“Astaga! Kamu bikin aku kaget aja!” Yuna langsung berbalik dan menatap Jheni penuh kekesalan. “Kalo aku jantungan gimana? Mau tanggung jawab!?”

 

Jheni terkekeh melihat reaksi Yuna. Sementara, Icha terlihat biasa saja. “Icha aja nggak kaget.”

 

“Dia kaget juga. Cuma dia diam aja,” sahut Yuna.

 

“Udah, jangan marah-marah! Ntar bayi di perut kamu ngamuk loh. Emaknya pemarah banget!”

 

Yuna memonyongkan bibirnya.

 

“Kalian baik-baik aja kan tanpa aku?” tanya Jheni.

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Masalah Refi gimana?” tanya Jheni lagi.

 

“Makin ngeselin,” sahut Yuna.

 

“Enaknya kita apain? Udah lihat postingan barunya dia di Instagram?”

 

“Udah. Ngeselin, kan?” sahut Yuna.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Iya. Nggak usah dihiraukan, Yun!” tutur Jheni sambil duduk di kursi yang ada di balkon tersebut.

 

“Maunya sih gitu. Tapi, aku kesel banget sama dia karena makin hari makin menjadi. Udah gitu, Yeriko terus yang dibahas sama dia. Apa coba maunya? Cinta pertama ... cinta pertama ... gayanya sok manis. Jijik aku lihatnya!” ucap Yuna kesal.

 

“Hush, kamu lagi hamil. Nggak boleh maki-maki orang sembarangan. Ntar anakmu mirip Refi,” tutur Icha.

 

“Iih ... kenapa kalian ngomong gitu terus!” seru Yuna kesal. “Ini anakku, bukan anaknya Refi. Gimana bisa mirip dia?”

 

Jheni dan Icha terkekeh sambil menatap Yuna.

 

“Cha, aku barusan bawa buah-buahan. Kamu bikinin kita jus, dong!” pinta Jheni.

 

“Kok, aku?”

 

“Jus bikinan kamu enak banget, sumpah! Kalo aku yang bikin, nggak seenak jus buatan kamu,” tutur Jheni.

 

“Halah ... alasan! Padahal malas bikin,” sahut Icha sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Jheni dan Yuna. Ia berjalan menuju dapur yang ada di lantai bawah untuk membuat jus.

 

“Cha, lagi bikin apa?” seru Lutfi yang melihat Icha dari balik kaca jendela. “Aku mau ya!”

 

Icha tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Jheni terus memerhatikan layar ponselnya. Ia tak berhenti mengikuti postingan Refi di media sosial. Ia sangat penasaran dengan komentar-komentar yang ada di postingan itu. Fans berat Refi mulai menyerang Yuna lagi dan hal ini membuat ia semakin geram.

 

“Mereka ini bego atau gimana? Waktu itu si Yeriko udah bikin konferensi pers. Kenapa masih aja ngatain kamu sebagai pelakor,” tutur Jheni.

 

“Mana, Jhen?” tanya Yuna sambil melihat layar ponsel Jheni. Ia juga penasaran dengan komentar-komentar yang ada di dalam postingan tersebut.

 

“Ini loh, lihat!” Jheni menyodorkan ponselnya. “Biar aku balasin netizen yang sok tahu ini!”

 

“Nggak papa dibalas?”

 

“Harus gitu, biar nggak sembarangan berkomentar. Nggak tahu aslinya gimana, bisanya ngata-ngatain kamu sebagai pelakor. Jelas-jelas, si Reptil itu yang pelakor nggak tahu diri!” cerocos Jheni kesal.

 

“Aku juga mau komentarin, ah. Biar Refi makin kepanasan. Bikinin aku akun instagram!” perintah Yuna.

 

“Bikin sendiri, tinggal download aja, Yun!” sahut Jheni.

 

“Bagusnya pakai nama apa, Jhen?”

 

“Pake nama kamu aja, biar makin seru,” jawab Jheni.

 

“Hahaha.”

 

Yuna dan Jheni mulai asik membaca komentar yang ada di dalam postingan Refi.

 

“Aku komen satu aja, Jhen.” Yuna langsung mengirim satu komentar ke postingan tersebut dan langsung mendapatkan banyak balasan dari penggemar Refi. Ada yang terus menyerang Yuna, ada juga yang berpihak pada Yuna.

 

Icha yang baru muncul pun ikut berkomentar. Seketika, komentar di postingan Refi semakin ramai dan membuat ketiga gadis itu terus mengikutinya satu per satu.

 

Jheni terlihat sangat bersemangat membalas komentar-komentar yang ada di dalam postingan tersebut. Ia berharap, komentar satire yang ia tulis bisa membuat perasaan Refi semakin tak karuan. Ia ingin membuat Refi semakin resah karena Yuna menanggapi postingan Refi dengan santai dan elegan.

 

“Please, kalo nggak tahu apa-apa nggak usah berkomentar!” dengus Jheni sambil menatap layar ponselnya.

 

“Eh, ada yang bawa-bawa undang-undang ITE, nih. Dikiranya kita takut apa? Orang dia yang fitnah. Oke. Kita jabanin aja. Kita lihat, siapa yang akan menang kalau sampai pencemaran nama baik ini dibawa ke meja hijau,” gumam Jheni.

 

“Udah, Jhen. Palingan si Refi sekarang lagi kebingungan sendiri.”

 

“Hahaha. Biar kepok! Aku mau bawa penggemar-penggemarku buat nyerang di Refi juga, hihihi.” Jheni terkekeh geli.

 

Ketiga gadis itu semakin iseng dengan postingan Refi yang ada di media sosial. Yuna yang awalnya ingin marah-marah, justru sering tertawa membaca kekonyolan-kekonyolan yang ada di postingan tersebut.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih hadiah untuk cerita ini.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas