BAB
60
KEHANGATAN
CAHAYA DI BATU DINDING
Jingga perlahan-lahan
berganti pekat malam. Delana dan Hesa masih duduk bersama menikmati langit
jingga yang perlahan berganti malam bertaburan bintang-bintang.
“Kak, kira-kira si Alan
sama Dhanu nyariin kita nggak ya?” tanya Delana.
“Mereka udah tahu.”
“Tahu dari mana?” tanya
Delana.
“Aku udah sms.”
“Emangnya di sini ada
signal?”
“Ada kalo buat telepon
atau sms. Kalo buat internet nggak bisa.”
“Oh. Bagus, deh!
Rasanya, aku nggak mau beranjak dari sini. Terlalu indah buat aku lewatkan,”
tutur Delana.
“Kamu udah sering ke
sini?” tanya Hesa. Ia menggeser duduknya menghadap ke arah Delana.
“This is first time,”
jawab Delana sambil tersenyum.
Hesa tersenyum. Ada
banyak hal yang membuatnya begitu mengagumi Delana. Ia semakin tidak bisa
menahan diri untuk berdekatan dengan gadis itu.
“Berarti, aku cowok
yang beruntung karena bisa menemani kamu melakukan hal pertama kali dalam
hidupmu,” tutur Hesa sambil tersenyum.
Delana melirik ke arah
Hesa yang menatapnya. Ia tersenyum dan berkata, “pede amat!”
Hesa tertawa kecil. “Ya
harus pede buat dapetin cewek secantik kamu.”
Delana mengernyitkan
dahinya. “Nggak usah ngegombal!” Delana menepuk paha Hesa.
Hesa menarik napas
begitu pahanya ditepuk oleh tangan Delana. Bukan karena kesakitan. Tapi karena
ia merasa darahnya tiba-tiba mengalir begitu cepat dan tak bisa ia kendalikan.
“Kak, cewekmu ada
berapa sekarang?” tanya Delana.
“Eh!? Nggak ada,” jawab
Hesa sambil menggelengkan kepalanya.
Delana tertawa kecil
menatap Hesa. “Masa cowok playboy kayak Kakak nggak punya pacar? Mustahil!”
“Sueerr!!” sahut Hesa
sambil mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya bersamaan.
“Mmh ... jangan bilang
kalo aku bakal jadi korban selanjutnya!?” dengus Delana sambil menahan tawa.
“Korban apaan?”
“Korban perasaan.”
“Astaga ...! Kamu ini
berprasangka buruk terus sama aku. Aku tuh setia.”
“Preett!!! Setia –
Setiap tikungan ada!”
Hesa tertawa kecil
menatap wajah Delana yang terlihat sangat menggemaskan.
“Kalo sama kamu, nggak
berani aku macam-macam. Aku pasti setia.”
“Duh, Kak. Jangan
gombalin aku, deh! Nggak bakalan mempan,” sahut Delana.
“Aku nggak ngegombal,
Dek.”
Delana hanya tertawa
kecil. Ia tak lagi menghiraukan candaan Hesa. Ia menengadahkan kepalanya
menatap bintang-bintang yang ada di langit.
“Kenapa sih kamu
percaya gosip tentang aku tanpa kamu cari tahu dulu kebenarannya?” tanya Hesa.
Delana menahan tawa.
“Kebenaran seperti apa yang harus aku cari tahu?”
Hesa meringis sambil
menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Delana tertawa kecil
dan menoleh ke arah Hesa. Ia terpaku karena tiba-tiba senyuman dan mata Chilton
menatapnya begitu hangat. Ia rindu dengan tatapan itu. Andai cowok itu adalah
Chilton sungguhan, dia adalah wanita paling bahagia di dunia ini.
Hesa tersenyum menatap
wajah cantik Delana yang begitu indah diterpa cahaya bulan. Sejak pertama
mereka bertemu, baru kali ini ia mendapati Delana menatapnya dengan hangat.
“Hei ...!” sapa Hesa
sambil memetik jemarinya di depan wajah Delana.
Delana gelagapan dan
semua lamunannya tentang Chilton pun buyar.
“Tumben ngelihatin aku
kayak gitu? Apa aku kelihatan sepuluh kali lebih ganteng kalo malam kayak
gini?” canda Hesa.
Delana tergelak. “Iya.
Kak Hesa jauh lebih ganteng kalo nggak kelihatan!” serunya.
“Ngolok, ya!?” dengus
Hesa sambil menggelitiki pinggang Delana.
Delana semakin tertawa
geli. Ia berusaha menghindari jemari Hesa yang menggelitiki pinggangnya.
“Jangan ke mana-mana!
Tenpat ini terlalu sempit buat berlari,” Hesa memeluk pinggang Delana agar ia
tak beranjak dari tempatnya walau hanya satu sentimeter. Mereka berada di atas
ketinggian lebih dari sepuluh meter dan tidak ingin mengambil resiko hanya karena
Delana ingin menghindarinya.
Delana tertegun saat
lengan tangan Hesa melingkar erat di pinggangnya. Ia tak menyangka kalau akan
berada sedekat ini dengan Hesa. Cara Hesa menatapnya, sama seperti Chilton
sehingga ia merasa begitu nyaman berada di samping Hesa.
“Sorry ...! Aku nggak
mau kamu jatuh,” tutur Hesa sambil melepaskan pelukannya.
Delana tersenyum.
“Nggak papa, Kak. Kita turun sekarang yuk!” ajak Delana sambil mengusap-usap
lengannya.
“Dingin?” tanya Hesa
sambil melepas jaketnya.
Delana meringis. “Nggak
usah, Kak. Aku udah pake baju lengan panjang. Nggak terlalu dingin, kok. Nanti
Kak Hesa malah kedinginan karna pake kaos pendek begitu.”
“Cowok punya suhu tubuh
yang lebih tinggi daripada cewek. Aku nggak bakal kedinginan.” Hesa langsung
meletakkan jaketnya di punggung Delana. “Ayo, kita turun!” ajak Hesa sambil
menggenggam pundak Delana.
Delana menganggukkan
kepala. “Makasih ya, Kak!”
Hesa tersenyum. Ia
bangkit dan langsung menyalakan senter yang ada di ponselnya. “Jalan duluan!”
pinta Hesa.
Delana menganggukkan
kepala. Ia bangkit dan langsung berjalan perlahan-lahan menuruni bebatuan.
“Hati-hati!” pinta
Hesa. Satu tangannya mengarahkan cahaya senter agar mempermudah langkah Delana.
Sedang satu tangan lagi selalu siap siaga setiap kali Delana akan terjatuh.
Hesa menghela napas
begitu sudah sampai di bawah. “Kenapa sih kamu suka tempat berbahaya kayak
gini?”
“Bahaya apanya?” tanya
Delana balik.
“Kalo jatuh, aku nggak
tahu bakal jadi apa.” Hesa menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tenang aja! Tempat ini
udah dijadiin tempat wisata dan aku rasa pengelolanya udah bikin tempat ini
aman untuk dikunjungi.”
“Ckckck. Kalo tahu
tempatnya ekstrim banget kayak gini. Aku nggak bakal ngebiarin kamu pergi ke
sini.”
“Jadinya nyesel antarin
aku?”
“Eh!? Enggak.” Hesa
menggelengkan kepala sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Delana tersenyum kecil
dan melangkahkan kakinya menuju tenda mereka. Di sana, ada Alan dan Dhanuar
yang sudah duduk di depan api unggun sambil bermain gitar.
“Udah, Hes?” tanya
Dhanuar.
“Udah apanya?” tanya
Delana balik.
“Lihat sunsetnya,”
jawab Dhanuar sambil tersenyum penuh arti.
“Udah,” jawab Delana.
Ia masuk ke dalam tenda untuk mengambil jaket miliknya. Ia melepaskan jaket
milik Hesa, kemudian memakai jaket miliknya sendiri.
Delana langsung keluar
dari tenda dan mengembalikan jaket milik Hesa. “Makasih ya, Kak!” ucap Delana
sambil menyodorkan jaket Hesa.
Hesa tersenyum, ia
meraih jaket itu dan memakainya kembali.
“Kalian tadi nggak
naik?” tanya Delana pada Dhanuar dan Alan.
“Nggak. Besok pagi aja
kami lihat sunrise,” jawab Dhanuar.
“Masih ada air
panasnya?” tanya Hesa ketika melihat dua gelas kopi sudah ada di samping Alan
dan Dhanuar.
“Ada tuh di panci.”
Dhanuar menunjuk panci dengan dagunya.
Hesa langsung membuka
panci tersebut. Tapi, airnya hanya tinggal sedikit dan tidak terlalu panas. Ia
mengambil botol berisi air mineral dan menumpahkannya ke panci. Kemudian
memasak air kembali.
“Haus ya?” tanya Delana
menghampiri Hesa.
“Jangan ke sini,
panas!” seru Hesa.
Delana hanya tersenyum,
ia berjongkok di samping Hesa. “Hangat, Kak.” Delana membuka telapak tangannya
dan mengarahkannya ke api yang sedang menyala. Kemudian ia mengusapkannya ke
pipi dan merasakan kehangatan.
Hesa tersenyum menatap
Delana. Rasanya, ia ingin memeluk gadis itu dan merasakan kehangatan
bersamanya.
Beberapa menit
kemudian, air yang dimasak Hesa sudah mendidih.
“Udah menggurak, Kak!”
seru Delana. Ia bangkit dan mengambil gelas, juga gula dan kopi yang berada di
dalam box.
“Kamu ngopi juga?”
tanya Hesa.
Delana menganggukkan
kepala sambil tersenyum.
Hesa ikut tersenyum. Ia
menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah diisi gula dan kopi oleh Delana.
“Lan, aku udah ngantuk.
Aku tidur duluan ya!” pamit Dhanuar bangkit dari tempat duduknya dan langsung
masuk ke dalam tenda.
Alan menoleh ke arah
Dhanuar yang tiba-tiba pergi. Kemudian menatap Delana dan Hesa yang sedang
asyik berduaan. “Jadi obat nyamuk, dah,” gumamnya. Ia menyandarkan gitarnya dan
ikut masuk ke dalam tenda bersama dengan Dhanuar.
“Loh? Mereka ke mana?”
tanya Delana saat ingin duduk bersama Dhanuar dan Alan.
Hesa mengedikkan
bahunya. “Udah pada ngantuk kali,” tuturnya. Ia langsung duduk di atas kayu.
“Tumben jam segini udah
ngantuk,” celetuk Delana. Ia juga ikut duduk di samping Hesa.
Hesa meraih gitar milik
Alan. “Kita nyanyi aja, yuk!”
“Nyanyi apa?” tanya
Delana.
“Terserah kamu,” jawab
Hesa.
“Terserah lagunya siapa
ya?” tanya Delama sambil berpikir.
“Glen Fredly kayaknya,”
jawab Hesa. Ia langsung memetik senar gitar. “Terserah, kali ini ... sungguh
aku tak akan pernah peduli. Aku tak sanggup lagi, jalani cinta denganmu ...”
Hesa menghentikan lagunya. “Nggak enak lagunya. Bagusnya nyanyi apa ya?”
Delana hanya tersenyum.
“Suara Kakak bagus, kok. Kenapa nggak dilanjutin?”
“Nggak suka lagunya.”
Ia menyandarkan gitarnya kembali dan mengambil gelas kopi untuk ia minum.
Delana juga ikut
menyeruput kopi miliknya.
“Aargh ....!” teriak
Delana saat melihat seekor ular kecil melintas di dekat kakinya. Ia langsung
melompat ke pangkuan Hesa dan memeluk Hesa yang ada di sampingnya.
“Kenapa?” tanya Hesa
bingung.
“Ada ular, Kak!” Delana
menunjuk ular kecil yang masih berjalan di depan mereka.
Hesa tersenyum kecil.
“Nggak papa, itu cuma ular lidi.”
“Tapi aku takut!”
teriak Delana sambil memeluk pundak Hesa.
“Nggak papa. Itu
ularnya udah pergi sendiri,” tutur Hesa sambil menepuk-nepuk pundak Delana.
“Kalo dia balik lagi
gimana? Kalo masih ada banyak lagi ular yang lebih gede gimana?” Delana
merengek ketakutan.
Hesa tertawa kecil.
“Kamu tuh aneh. Mau camping tapi takut ular. Mereka nggak bakal ngapa-ngapain
kalo nggak diganggu,” tutur Hesa.
“Tetep aja aku takut
dipatok,” sahut Delana.
“Mana ada ular lidi
matok,” sahut Hesa.
Delana mengerucutkan
bibirnya. Ia melepas pelukannya dan bangkit. Tapi, Hesa justru menahannya agar
ia tetap duduk di pangkuan Hesa.
Delana berusaha
melepaskan diri dari tangan Hesa yang memeluk erat pinggangnya. “Lepasin, Kak!
Aku berat!” seru Delana.
“Nggak,” sahut Hesa
sambil tersenyum. “Tetaplah seperti ini, sebentar aja!” bisik Hesa.
Delana terdiam. Ia
menatap wajah Hesa yang hanya berjarak sepuluh sentimeter dengan wajahnya.
Hesa terus tersenyum
menatap wajah cantik Delana. Membuat jantung Delana berdegup begitu kencang. Ia
tak pernah sedekat ini dengan laki-laki dan merasa begitu nyaman. Ia merasa,
tatapan mata Hesa sama seperti Chilton dan memiliki kedekatan dengannya.
Jarak yang begitu
dekat, membuat Hesa tidak bisa menahan keinginannya untuk mencium gadis itu.
Perlahan ia mendekatkan bibirnya ke bibir Delana. Ia langsung mencium lembut
bibir Delana dan gadis itu tidak menolaknya.
Otak Delana terasa
kosong saat bibir Hesa menyentuh bibirnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia
lakukan di saat seperti ini. Hesa mengulum lembut bibirnya dan ia hanya terdiam
membeku.
Delana langsung
mendorong tubuh Hesa dan bangkit begitu menyadari apa yang telah terjadi antara
dia dan Hesa. Semuanya terjadi begitu cepat dan ia tak bisa mencegah suasana
yang membuat mereka akhirnya berciuman.
“Sorry ... Kak!” tutur
Delana. Ia kembali duduk di samping Hesa dan menyeruput kopi miliknya.
“Kenapa?” tanya Hesa
sambil menatap Delana yang ada di sampingnya.
Tatapan Hesa kali ini
benar-benar membuatnya gugup. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Entah
kenapa ia membiarkan Hesa menciumnya begitu saja.
Hesa tertawa kecil.
“Kamu belum pernah pacaran?”
“Eh!? Kok tahu?” tanya
Delana sambil tersenyum kecut.
“Kamu nggak bisa
ciuman,” jawab Hesa sambil tertawa kecil.
Delana mendelik ke arah
Hesa. Ia mengerutkan hidungnya karena kesal. Bisa-bisanya ia diremehkan karena
tidak pernah berciuman sama sekali.
Hesa tersenyum kecil
menatap Delana. “Mau aku ajarin ciuman yang enak?”
Delana menggelengkan
kepalanya.
“Serius nggak mau? Aku
bisa jadi guru yang baik. Setidaknya, kamu nggak mengecewakan cowok yang kamu
sukai,” tutur Hesa.
“Apaan sih!? Nggak
lucu!” dengus Delana.
“Aku emang nggak lucu.
Yang lucu itu kamu,” sahut Hesa tertawa kecil.
Delana mencebik ke arah
Hesa. “Nggak usah ngolok terus!”
Hesa tertawa kecil.
“Jangan mainin bibir kayal gitu! Bikin aku pengen cium kamu terus.”
“Eh!?” Delana
mengangkat kedua alisnya.
Hesa tersenyum. Ia
menarik tengkuk Delana dan kembali menciumnya. Delana masih begitu kaku
menerima ciuman dari Hesa. Hesa
menghentikan ciumannya. “Nikmati aja!” bisiknya di telinga Delana.
Delana menatap mata
Hesa yang begitu dekat dengannya. Ia merasa jantungnya berdegup kencang dan
tidak bisa menolak perlakuan Hesa yang membuatnya hampir terbang melayang.
Hesa tersenyum, ia
menempelkan dahinya ke dahi Delana. Membuat gadis itu semakin nyaman dengan
tatapannya. Perlahan-lahan, Hesa melumat bibir Delana yang begitu lembut dan
gadis itu mulai menikmatinya.
“Kak Hesa ...!” teriak
Delana di telinga Hesa.
Hesa tersadar dari khayalan
nakalnya. Ia tersenyum sambil menatap gelas kopi yang sedari tadi di tangannya.
“Kakak ngelamunin apaan
sih? Dari tadi diajak cerita nggak dengerin,” tutur Delana.
Hesa tertawa kecil
menanggapi pertanyaan Delana.
“Malah senyum-senyum
sendiri. Ntar dikira gila loh kalo senyum-senyum sendiri kayak gitu,” tutur
Delana.
“Nggak papa. Aku lagi
mikirin sesuatu,” ucap Hesa. Ia menatap wajah Delana yang tertimpa cahaya api.
Delana meringis. “Aku
laper, Kak,” tuturnya sambil memegangi perutnya.
“Eh, iya. Mereka udah
pada makan apa belum ya?”
“Pasti udah pada
ngemil. Lihat tuh!” Delana menunjuk beberapa bungkus snack yang sudah dibungkus
di dalam kantong plastik.
Hesa tersenyum kecil.
“Enaknya makan apa malam ini?” tanya Hesa.
“Makan mie instan aja.
Biar aku yang masakin,” sahut Delana.
“Mmh ... boleh juga.
Mau aku bantu?”
“Nggak usah. Cuma masak
mie instan doang.”
Hesa tertawa kecil. Ia
kembali bermain gitar sembari memerhatikan Delana yang sibuk memasak mie instan
untuk mereka.
Beberapa menit
kemudian, Delana sudah menghidangkan mangkuk mie di hadapan Hesa.
“Mangkuknya cuma satu,
Kak. Makan semangkuk berdua nggak papa, ya?” tutur Delana sambil menatap Hesa.
Hesa menganggukkan
kepala. “Nggak papa. Romantis,” ucapnya.
Delana tergelak. “Udah
kayak orang pacaran aja,” celetuknya sambil tertawa kecil.
“Emangnya makan
sepiring berdua cuma berlaku buat orang yang lagi pacaran?” tanya Hesa sambil
tertawa kecil. Ia menyuap satu sendok ke mulutnya. Sebenarnya, ia berharap
kalau Delana bisa menjadi kekasihnya. Hanya saja, ia tak ingin keduanya merasa
canggung hanya karena Delana tahu kalau Hesa menyukainya.
Delana tertawa kecil
sambil menelan mie yang sudah masuk ke dalam mulutnya. “Ya, nggak sih. Kenapa
ya kalo makan sepiring berdua itu dibilang romantis. Padahal, jelas-jelas lagi
susah. Nggak punya piring lagi. Hahaha.”
“Atau emang udah nggak
punya duit lagi buat beli makanan lebih,” sahut Hesa sambil tertawa.
Delana tergelak. “Aku
jadi ngebayangin kalo Kak Hesa kayak gitu.”
“Eh!?” Hesa melongo
menatap Delana yang ada di hadapannya. “Maksudnya?”
“Ya kayak gitu. Cowok
yang nggak punya duit buat beliin makanan lebih. Masih ada nggak ya cewek yang
bakal mau deket sama Kakak?” tutur Delana sambil tersenyum nakal.
“Yee ... aku mah
ganteng. Biar nggak punya duit, masih banyak cewek yang mau sama aku. Cari
cewek yang kaya dong. Biar aku yang ditraktir makan,” sahut Hesa.
“Dasar cowok matre!”
“Emangnya cewek aja
yang bisa matre?” tanya Hesa sambil tertawa.
“Yee ... cewek tuh
bukan matre, tapi realistis. Emangnya bisa kenyang makan cinta doang!?”
“Halah, pembelaan
diri,” celetuk Hesa.
Delana tergelak. Mereka
menikmati semangkuk mie instan bersama sambil bercanda. Bagi Delana, malam ini
merupakan malam yang indah karena ia bisa tertawa lepas bersama Hesa. Ia
teringat masa-masa kecilnya saat bersama Hesa.
Untuk pertama kalinya
Hesa merasakan makan malam yang berbeda. Ia belum pernah makan sepiring atau
semangkuk berdua bersama seorang wanita di bawah taburan bintang, diiringi
musik alam. Sangat berbeda dengan makan malam yang sering ia lakukan di
restoran mewah. Ia bisa memilih menu makanan mahal dengan iringan musik
romantis.
Walau hanya makan
semangkuk mie instan bersama. Tapi, Delana begitu membekas di hati dan pikiran
Hesa. Delana bukan gadis biasa. Ia terlahir dan besar dari keluarga kaya. Tapi,
ia tetap bisa hidup sederhana bahkan di saat sulit sekalipun.
“Del, apa kamu terbiasa
ngelakuin semuanya sendiri?” tanya Hesa.
“Mmh ... maksudnya?”
“Kamu masak sendiri.
Nyiapin makan siang sendiri. Aku nggak lihat ada pembantu di rumah kamu.”
“Ada,” jawab Delana
sambil mengunyah makanan di mulutnya. “Tapi, dia cuma bantu bersih-bersih sama
nyuci aja. Kalo udah kelar, langsung pulang.”
“Kenapa nggak tinggal
di rumah kamu? Bukannya lebih enak semuanya disiapin sama pembantu? Kamu nggak
perlu capek-capek masak sendiri.”
“Mmh ... iya, sih. Tapi
aku terbiasa ngelakuin semuanya sendiri. Kalo semuanya disiapin sama pembantu.
Aku ngapain dong?” tanya Delana.
“Ya, santai-santai
aja,” jawab Hesa.
“Nggak enak tahu!
Rasanya bosan kalo nggak ada kegiatan,” tutur Delana.
Hesa tersenyum kecil.
“Baru kali ini aku kenal cewek kayak kamu.”
“Hah!? Emangnya aku
kayak apa? Langka gitu ya?” tanya Delana sambil tertawa kecil.
“Iya. Udah cantik,
baik, mandiri, pintar masak juga,” jawab Hesa.
“Udah cocok apa belum
jadi menantu idaman?”
“Cocok banget! Jadi
istri idaman,” jawab Hesa sambil mengacungkan jempolnya.
Delana menghela napas.
“Sayangnya, nggak ada cowok yang mau sama aku,” tuturnya lemas.
“Siapa yang bilang
begitu?” tanya Hesa.
“Aku sendiri.”
“Kamu tuh cantik, kaya,
baik, mandiri dan punya semuanya. Cowok bego aja yang nggak mau sama kamu,”
tutur Hesa.
“Oh ya?” Delana menatap
Hesa. “Kalo Kak Hesa, ada dibarisan mana?”
Hesa menatap Delana. Ia
menghela napas dan berpikir. “Aku pikir-pikir dulu!” ucapnya sambil tersenyum.
“Iih ...!” Delana
memukul paha Hesa. “Peres kan ngatain aku cantik?”
“Enggak,” jawab Hesa
sambil tersenyum.
“Bohong!”
Hesa tergelak. Mereka
tertawa bersama sambil menghabiskan semangkuk mie instan.
“Astaga ...!” Hesa
mengangkat kakinya naik ke atas tempat duduknya.
“Kenapa, Kak?” tanya
Delana memerhatikan sesuatu yang bergerak di bawah kakinya. Delana langsung
tertawa terbahak-bahak melihat Hesa ketakutan. “Cuma tikus doang aja takut,”
celetuknya.
“Bukan takut, Del.
Geli!” seru Hesa sambil bergidik.
Delana tertawa kecil
sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia bangkit dari tempat duduknya dan
menghampiri ember air untuk membersihkan mangkuk yang baru saja ia pakai.
“Biasanya, kalo ada
tikus, ada ular,” tutur Delana.
“Kamu nggak takut?”
tanya Hesa.
Delana menggelengkan
kepalanya. “Aku lebih takut sama ular berkepala dua,” ucapnya sambil tertawa.
Hesa tertawa kecil.
Baru saja ia membayangkan kalau Delana akan ketakutan saat melihat ular seperti
kebanyakan cewek agar ia bisa punya kesempatan berdekatan dengan Delana. Eh,
kenyataannya dia yang lebih takut dengan makhluk-makhluk penghuni hutan. Otak
Hesa benar-benar sudah kacau.
“Kakak belum ngantuk?”
tanya Delana. Ia kembali duduk di samping Hesa.
“Belum.”
“Sering begadang?”
tanya Delana.
Hesa hanya tersenyum
mendengar pertanyaan Delana.
“Aku tidur duluan ya!”
pamit Delana. Ia bergegas bangkit, tapi Hesa menahan tangannya. “Kenapa?”
“Kamu yakin mau tidur?”
Delana menganggukkan
kepala.
“Baru aja selesai makan
udah langsung mau tidur. Nggak baik buat kesehatan. Ntar badanmu melar!”
“Mmh ...” Delana
memutar bola matanya. “Iya, juga ya? Enaknya ngapain ya biar nggak ngantuk?”
tanya Delana.
“Kita main ABC Lima
Dasar aja, gimana?” tanya Hesa.
“Boleh juga.” Delana
langsung mengangkat kakinya dan duduk bersila di hadapan Hesa.
“Yuk!” Hesa juga
bersiap untuk bermain bersama Delana.
“Nama-nama apa?” tanya
Delana.
“Nama-nama buah aja
yang gampang,” jawab Hesa.
“Oke. Hukumannya apa
kalo kalah? Aku nggak mau kalo yang sakit-sakit,” tanya Delana.
“Mmh ... yang kalah
nyium pipi yang menang!” seru Hesa.
“Yee ... nggak mau!
Keenakan kamunya!” dengus Delana.
“Terus apa hukuman yang
nggak sakit?” tanya Hesa sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Delana mengedarkan
pandangannya sambil berpikir. Matanya tertuju pada botol air mineral berukuran
besar. “Yang kalah minum air!” seru Delana.
“Air putih?” tanya
Hesa.
Delana menganggukkan
kepala.
“Ah, sayang banget
nggak bawa bir ke sini,” celetuk Hesa.
“Emangnya mau minum
bir?”
“Kan lebih asyik kalo
yang kalah minum bir,” tutur Hesa.
“Karena adanya cuma air
putih, kita minum air putih aja. Lain kali kita minum bir,” tutur Delana.
“Beneran ya?”
“Iya.”
“Janji?”
Delana menganggukkan
kepala.
“Aku tunggu janjimu
buat minum bir bareng! Awas kalo sampe bohong!”
Delana tertawa kecil.
“Emangnya mau diapain kalo aku bohong?”
“Kalo kamu sampe
bohong, aku jadiin pacar!”
“Yee ... maksa!”
Hesa tertawa melihat
ekspresi wajah Delana. Ia tahu, Delana akan menanggapi setiap ucapannya sebagai
bahan candaan.
Mereka menghabiskan
malam bersama sambil bermain sampai rasa kantuk menghampiri mereka.
((Bersambung...))
.png)
.png)