Monday, June 8, 2026

Dampak Komunikasi Buruk dalam Rumah Tangga



Rumah tangga tidak selalu runtuh karena badai besar. Kadang, ia retak perlahan hanya karena hal-hal kecil yang tidak pernah benar-benar dibicarakan. Sebuah pesan yang disalahartikan. Sebuah keluhan yang dipendam terlalu lama. Sebuah pertanyaan yang dijawab dengan nada yang berbeda dari maksud sebenarnya.
Banyak pasangan berpikir bahwa masalah terbesar dalam rumah tangga adalah ekonomi, campur tangan keluarga, atau perbedaan prinsip hidup. Padahal, tidak sedikit persoalan itu berakar dari satu hal yang sama: komunikasi yang buruk.
Komunikasi bukan sekadar berbicara. Komunikasi adalah kemampuan untuk menyampaikan perasaan, kebutuhan, harapan, dan kekecewaan tanpa melukai. Ketika kemampuan ini melemah, hubungan yang semula hangat perlahan kehilangan ruang untuk saling memahami. Penelitian menunjukkan bahwa masalah komunikasi menjadi salah satu faktor dominan yang memicu konflik rumah tangga dan menurunkan kualitas hubungan suami istri. 


Salah Paham Menjadi Kebiasaan
Dampak pertama dari komunikasi yang buruk adalah munculnya kesalahpahaman yang berulang. Suami merasa istrinya terlalu banyak menuntut. Istri merasa suaminya tidak peduli. Padahal, keduanya mungkin memiliki niat yang baik, tetapi gagal menyampaikannya dengan cara yang tepat.
Ketika seseorang berharap pasangannya mampu memahami isi hati tanpa dijelaskan, yang muncul justru kekecewaan. Di sisi lain, pasangan yang tidak peka sering kali merasa bingung karena tidak mengerti letak kesalahannya. Akibatnya, konflik kecil yang seharusnya selesai dalam hitungan menit berkembang menjadi pertengkaran panjang. 

Hilangnya Kedekatan Emosional
Hubungan suami istri bukan hanya tentang tinggal di bawah satu atap. Kedekatan emosional dibangun melalui percakapan sehari-hari, perhatian kecil, dan kesediaan mendengarkan.
Ketika komunikasi memburuk, pasangan mulai kehilangan ruang aman untuk berbagi cerita. Mereka masih hidup bersama, tetapi hati mereka berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada lagi obrolan hangat sebelum tidur. Tidak ada lagi diskusi tentang mimpi, harapan, atau keresahan.
Lambat laun, hubungan terasa hambar. Bukan karena cinta telah hilang, melainkan karena tidak ada lagi jembatan yang menghubungkan dua hati tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal memiliki hubungan yang signifikan dengan keharmonisan rumah tangga dan kedekatan emosional pasangan. 

Konflik yang Terus Berulang
Komunikasi yang buruk membuat masalah tidak pernah benar-benar selesai. Yang terjadi hanyalah pergantian topik pertengkaran.
Hari ini bertengkar karena anak. Besok karena pekerjaan rumah. Minggu depan karena keuangan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, akar persoalannya sering kali sama: perasaan tidak didengar dan tidak dipahami.
Banyak pasangan akhirnya terjebak dalam pola yang melelahkan. Mereka berdebat mengenai hal yang sama berulang kali tanpa menemukan solusi. Energi habis untuk mempertahankan ego, bukan memperbaiki hubungan. 

Anak Menjadi Korban yang Tak Terlihat
Dampak komunikasi buruk tidak hanya dirasakan pasangan suami istri. Anak-anak juga ikut merasakan akibatnya.
Anak mungkin tidak memahami isi pertengkaran orang tuanya. Namun mereka mampu merasakan perubahan suasana rumah. Nada bicara yang meninggi, wajah yang murung, atau keheningan yang berkepanjangan dapat memengaruhi rasa aman anak.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang paling nyaman berubah menjadi ruang yang penuh ketegangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan emosional anak dan cara mereka membangun hubungan ketika dewasa nanti. 

Munculnya Jarak yang Sulit Dijembatani
Yang paling mengkhawatirkan dari komunikasi buruk bukanlah pertengkaran, melainkan diam.
Pertengkaran masih menunjukkan bahwa kedua pihak peduli dan ingin didengar. Namun ketika pasangan memilih diam, berhenti bercerita, dan tidak lagi berusaha menjelaskan perasaannya, hubungan sedang berada di titik yang lebih berbahaya.
Diam yang berkepanjangan menciptakan jarak emosional. Semakin lama dibiarkan, semakin sulit untuk kembali dekat seperti dahulu.
Sering kali, perceraian tidak dimulai dari kebencian. Ia dimulai dari dua orang yang berhenti saling berbicara dari hati ke hati.

Komunikasi Adalah Nafas Rumah Tangga
Tidak ada rumah tangga yang sempurna. Semua pasangan pasti pernah berbeda pendapat, kecewa, bahkan marah. Namun rumah tangga yang sehat memiliki satu kemampuan penting: mereka tetap mau berbicara.
Mereka belajar mendengarkan sebelum menghakimi. Mereka berusaha memahami sebelum menuntut dipahami. Mereka menyadari bahwa memenangkan perdebatan tidak selalu berarti memenangkan hubungan.
Pada akhirnya, komunikasi bukan sekadar alat untuk menyampaikan kata-kata. Ia adalah nafas yang menjaga kehidupan rumah tangga tetap hangat. Ketika komunikasi terjaga, masalah sebesar apa pun masih memiliki peluang untuk diselesaikan. Namun ketika komunikasi berhenti, bahkan masalah kecil pun bisa menjadi alasan runtuhnya sebuah keluarga.
Karena itu, sebelum mencari siapa yang salah, mungkin yang perlu diperbaiki terlebih dahulu adalah cara kita saling berbicara.

Referensi:
Alya, A. R. (2025). Dampak Permasalahan Komunikasi dalam Pernikahan Terhadap Keharmonisan Keluarga. Widya Acitya: Journal of Multidisciplinary Research. 
Hakhara Journal
Dewi, N. R., & Sudhana, H. (2013). Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Pasutri dengan Keharmonisan dalam Pernikahan. Jurnal Psikologi Udayana. 
E-Journal Udayana University
Fitriza, D., & Taufik. (2022). Hubungan Kemampuan Komunikasi Interpersonal dengan Keharmonisan Keluarga. Counseling and Humanities Review. 
ResearchGate
Nurislamiah, M. (2021). Komunikasi Interpersonal Pasangan Suami Istri Dalam Upaya Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga. Communicative: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam. 
Jurnal UIBBC
Lestari, E., & Suryanto. (2025). Pola Komunikasi dalam Mempertahankan Keharmonisan Rumah Tangga pada Pasangan Suami Istri. Cakrawala. 
Cakrawala Journal
Wahyuni, E. S. (2022). Problematika Komunikasi Interpersonal Pasangan Usia Muda Dalam Mempertahankan Rumah Tangga. Communicative: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam. 
Jurnal UIBBC
Orami Editorial Team. 9 Masalah Akibat Kurang Komunikasi dalam Rumah Tangga. 
orami.co.id

Ada Hati yang Tersayat, Tapi Tak Luka



Hari ini ada sesuatu yang menggelitik dan menyentuh hati hingga air mataku menetes perlahan. Bukan karena sedih, tapi karena terharu dan bangga dengan sikap putera kecilku yang baru saja berusia 6 tahun.
Setiap pagi, seperti biasa, anak-anakku sudah siap dengan seragam sekolahnya dan meminta uang saku. Tapi, aku sedang tidak ada uang sama sekali. Isi ATM bersih, isi dompet juga bersih. Hanya tersisa uang dua ribuan 2 lembar dan selembar uang seribuan. Sementara, ada 2 anak yang harus kuberi uang saku.
Malam harinya, puteri sulungku meminta uang untuk beli jajan dan aku memberikan semua sisa uang di dompetku tanpa memikirkan bahwa besok mereka perlu uang saku untuk sekolah. Sehingga, aku benar-benar kehabisan uang.
Sepertinya, putera kecilku mendengar ucapanku jika aku tidak punya uang. Uang 2 lembar dua ribuan dan selembar seribuan yang tersisa, aku berikan padanya. Tapi, dia malah menolak.
Dia bilang, “Nggak usah, Mak! Buat Mamak beli sayur aja!”
“Nggak papa, Nak. Ini pakai buat jajan di sekolah.”
“Nggak cukup, Mak. Nggak usah! Nggak usah!” Dengan sadar, ia menolak uang yang kuberikan dan tidak mau menerimanya lagi. Padahal, dia belum sarapan dan sudah mepet jam masuk sekolah.
Aku selalu merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi semua kebutuhan anak-anakku. Aku harus bekerja lebih keras lagi supaya saat mereka perlu uang jajan, tidak pernah lagi ada kata “Mama lagi nggak punya uang”.
Masih tak mampu kupahami kenapa hatiku justru terenyuh saag putera kecilku memahami ketidakmampuanku. Berbeda ketika anak-anak meminta sesuatu dengan memaksa atau tantrum. Aku justru sangat emosi menghadapinya dan tidak punya rasa kasih sedikitpun.
Ada ribuan kata terima kasih yang ingin kuucapkan. Namun, semua itu hanya tersimpan di dalam hati. Sesekali aku mengeluarkannya saat aku punya kesempatan memeluk puteraku lebih dalam.
Dia mengajarkan aku banyak hal. Dia mengajarkan aku bagaimana menjadi orang tua yang seharusnya.
Ada tanggung jawab besar yang harus aku pikul. Ada kasih sayang yang harus aku curahkan terus-menerus. Ada rasa cinta yang tak boleh tergerus oleh waktu.
Terkadang, aku merasa sudah sangat benar menjadi orang tua. Punya hak untuk mengatur anak dan masa depannya. Tapi, kenyataan hidup mengajarkan padaku bahwa menjadi orang tua adalah proses belajar kehidupan yang sesungguhnya. Kita tidak lagi dihadapkan pada teori. Kita dihadapkan langsung pada kenyataan dan pilihan hidup yang mungkin akan menentukan masa depan kita.
Setiap kali melihat sikap anakku yang begitu pengertian, hatiku sangat tersayat. Tapi tidak luka, justru sangat bahagia. Di usianya yang masih sangat kecil, ia memiliki hati welas asih yang luar biasa. Ia mengerti kapan ia harus mengalah dan kapan ia harus mementingkan dirinya sendiri.
Kata orang, semua tak lepas dari peran ibu dan lingkungan yang mengajarkannya banyak hal. Padahal, tidak ada hal apa pun yang kuajarkan pada anak-anakku. Hanya dua hal yang kuajarkan. Yakni, keberanian dan kasih sayang. Ada kalanya mereka harus memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang, ada kalanya juga mereka harus menghadapi orang lain dengan penuh keberanian.
Terima kasih banyak, Nak!
Kamu mengajarkan apa itu arti hidup. Mengajarkan bagaimana seharusnya aku menjadi orang tua. Mengajarkan tentang cinta, ketulusan, dan pengorbanan.
Maafkan Mama yang belum bisa menghadirkan banyak kebahagiaan untukmu. Tapi, Mama akan terus berusaha. Mama akan terus berjuang dan bekerja keras. Agar semua kebutuhanmu bisa terpenuhi. Agar tidak ada lagi kata “Mama lagi nggak punya uang” saat kamu sekedar ingin jajan atau ingin membeli sepatu baru.

Perfect Hero Bab 546 : Masuk Perangkap

 


Bellina terus menangis setelah mamanya pergi meninggalkan dirinya. Ia sangat kesal karena mama kandungnya sendiri hanya memanfaatkannya untuk mendapatkan uang.

 

“Aargh ...!” Bellina menghambur semua barangnya yang ada di atas meja. Ia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa sambil menatap langit-langit ruangan. “Mama ngeselin! Aku nggak mau punya mama kayak kamu!”

 

Bellina terus mengumpat, ia mendesah sejenak saat ia sudah merasa lelah. Bellina mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba, matanya tertuju pada kartu nama yang tergeletak di lantai.

 

Bellina meraih kartu nama tersebut dan membaca tulisan ‘Arjuna Club’ yang tertera di sana. Ia langsung tersenyum lebar. “Daripada pusing sendirian di rumah. Mending main ke klub aja,” celetuk Bellina sambil bangkit dari sofa.

 

Bellina membereskan barangnya yang berserakan di lantai dan bersiap-siap pergi ke klub malam.

 

Satu jam kemudian, Bellina pergi ke Arjuna Club dengan wajah full make-up. Ia kembali duduk di salah satu meja bar.

 

“Minum apa, Mbak?” tanya salah seorang bartender yang sedang berdiri sambil meracik minuman untuk pelanggannya.

 

“Bellissimo Moscato, dua!” pinta Bellina.

 

Bartender itu mengangguk. Ia memerintahkan pelayan yang berdiri di sebelahnya untuk mengambil dua botol Bellisimo Moscato yang diinginkan Bellina.

 

“Bos kalian mana?” tanya Bellina.

 

“Bang Jun?” tanya bartender itu sambil menatap wajah Bellina yang ada di depannya. Ia menyodorkan Stem Glass ke hadapan Bellina. “Mau pakai es?”

 

Bellina menganggukkan kepala.

 

Bartender tersebut segera mengganti Unstem Glass untuk Bellina. Ia langsung membuka tutup botol Bellisimo Moscato dan mengembalikannya ke hadapan Bellina. Dengan gaya khasnya, ia masukkan beberapa potong es batu ke dalam Unstem Glass yang ada di tangan Bellina.

 

Bellina menuangkan minuman yang ia pesan ke dalam sloki yang sudah ada di hadapannya. Ia tersenyum sambil menikmati setiap gerakan bartender yang ada di sana.

 

“Bang Jun belum datang jam segini. Dia datang di atas jam sepuluh malam,” tutur bartender tersebut.

 

“Oh.” Bellina meneguk minumannya perlahan sambil menikmati suasana di dalam ruangan tersebut.

 

“Mau aku teleponin? Biar dia ke sini lebih cepat?”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak cari dia, kok.”

 

“Terus, ke sini cari apa?”

 

“Pengen buang sial,” sahut Bellina sambil tersenyum.

 

“Oh. Lagi sial?”

 

Bellina tak menyahut. Ia kesal dengan pertanyaan bartender tersebut.

 

“Tenang aja! Tempat ini banyak membawa kesenangan dan keberuntungan.”

 

“Aku harap begitu,” tutur Bellina sambil memainkan gelas di tangannya. Ia tidak menginginkan hal lain. Ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya di tempat ini. Ia berharap bisa mendapatkan kesenangan di tempat ini. Tempat yang bisa membuatnya menjadi diri sendiri tanpa ada yang memperdulikan statusnya sebagai seorang istri dari keluarga kaya.

 

 

 

...

 

 

 

“Malam, Pak Bos!” sapa Riyan begitu ia masuk ke dalam rumah dan mendapati Yeriko sedang menikmati makan malam bersama istri tercintanya.

 

“Malam, Yan! Udah datang? Duduk!” perintah Yeriko.

 

Riyan langsung duduk di kursi kosong yang ada di sana.

 

“Makan, Yan!” perintah Yeriko. “Bi ...! Bibi ...! Bawain piring untuk Riyan!” teriak Yeriko sambil menoleh ke arah dapur.

 

“Iya, Mas!” sahut Bibi War dari arah dapur. Ia bergegas mengambil alat makan tambahan untuk Riyan.

 

“Dari mana, Yan?” tanya Yuna yang duduk berseberangan dengan Riyan.

 

Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko saat ia mendengar pertanyaan dari Yuna. “Dari perusahaan.”

 

“Lembur?” tanya Yuna lagi.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Makan yang banyak!” pinta Yuna sambil tersenyum.

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia ikut bergabung menikmati makan malam bersama bosnya.

 

“Ada yang mau kamu sampaikan?” tanya Yeriko sambil menatap Riyan.

 

Riyan menganggukkan kepala. “Soal Ibu Melan ...”

 

“Gimana?” tanya Yeriko santai.

 

“Beberapa hari ini, Ibu Melan sudah menghabiskan tabungannya untuk berfoya-foya dengan pria selingkuhannya itu,” tutur Riyan.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Bagus!”

 

“Sore ini, Ibu Melan baru keluar dari rumah Mbak Belli. Seperti yang sudah kita rencanakan, dia minta uang sama anaknya itu.”

 

Yeriko langsung tersenyum sinis mendengar ucapan yang keluar dari mulut Riyan. Sementara, Yuna hanya melongo menatap dua pria yang ada di hadapannya.

 

“Bellina langsung pergi ke klub malam.”

 

“Malam ini, dia di klub?” tanya Yeriko.

 

Riyan mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Atur rencana selanjutnya! Oh ya, Chandra sudah balik?”

 

Riyan menggelengkan kepala. “Kalau sesuai jadwal, dia pulang sore ini.”

 

“Siapa yang jemput?”

 

“Mbak Jheni.”

 

“Oh, iya. Dia sekarang udah punya pacar. Nggak perlu dijemput supir kantor.”

 

Riyan mengangguk-anggukkan kepala sambil menikmati makan malam bersama Yeriko dan Yuna.

 

“Yan ...!” panggil Yuna berbisik.

 

“Ya, Nyonya Muda. Ada apa?”

 

“Kamu udah punya pacar atau belum?” tanya Yuna berbisik.

 

Riyan menggelengkan kepala.

 

“Kenapa belum punya pacar?” tanya Yuna lagi sambil berbisik. “Karena bos kamu galak?”

 

Riyan terkekeh sambil menggelengkan kepala.

 

Yeriko melirik Yuna dan Riyan bergantian. “Kenapa tanyanya bisik-bisik?” tanya Yeriko.

 

Yuna meringis sambil menatap wajah Yeriko. “Asisten kamu jomblo terus. Kapan dia dapet jodoh kalau disuruh kerja terus?”

 

“Dia masih muda. Masih harus banyak belajar. Belum jadi apa-apa, udah mau nyari jodoh. Biarkan dia fokus kerja. Nggak boleh pacaran!” sahut Yeriko.

 

“Galak banget!?” dengus Yuna. “Kalau dia punya pacar, dia pasti makin semangat kerjanya. Iya ‘kan?” tanya Yuna sambil menatap wajah Riyan.

 

Riyan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Belum ketemu cewek yang pas.”

 

“Kamu mau yang gimana? Ntar, aku kenalin sama temen-temenku!”

 

Yeriko langsung menutup wajah Yuna dengan telapak tangannya. “Nggak usah ajarin Riyan yang aneh-aneh!”

 

“Aku nggak ngajarin apa-apa, cuma nanya doang,” sahut Yuna sambil menyingkirkan telapak tangan Yeriko dari wajahnya.

 

Yeriko mengambil potongan udang goreng dan memasukkan ke mulut Yuna. “Makan yang banyak! Biar nggak banyak bicara,” pintanya sambil tersenyum.

 

Yuna mengerutkan hidung. Ia mengunyah makanan di mulutnya dan tidak berbicara sedikit pun sampai mereka menyelesaikan makan malam.

 

“Pak Bos, saya pulang dulu ya!” pamit Riyan begitu mereka sudah selesai makan dan duduk santai di ruang tamu.

 

“Eh, dokumen yang aku minta ... mana?” tanya Yeriko.

 

“Oh, iya. Masih di mobil. Sebentar!” pinta Riyan sambil berlari menghampiri mobil, mengambil dokumen yang tertinggal dan kembali menghampiri Yeriko.

 

“Ini, Pak Bos!” Riyan langsung menyodorkan map berisi beberapa dokumen yang diminta oleh Yeriko. “Di dalam sini, sudah ada agenda terbaru yang saya siapkan untuk Pak Bos.”

 

Yeriko mengangguk. “Thank’s, Yan!”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Mmh ... saya sudah boleh pulang ‘kan?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Riyan tersenyum. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja. “Mobil udah saya masukan ke garasi. Saya pulang dulu, Pak Bos!” pamitnya.

 

“Hati-hati ya, Yan!”

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas keluar dari rumah Yeriko dan menghampiri taksi yang sudah ia pesan sebelumnya.

 

Di dalam rumah, Yuna memperhatikan Yeriko yang duduk santai sambil membaca majalah bisnis.

 

“Ay ...!”

 

“Umh.”

 

“Aku mau tanya sesuatu, boleh?”

 

“Tanya aja!” jawab Yeriko tanpa mengalihkan pandangannya.

 

“Bacanya nanti dulu!” pinta Yuna.

 

Yeriko langsung menutup majalah yang sedang dibacanya dan meletakkan di atas meja. “Mau tanya apa?”

 

“Apa kamu yang udah bikin Oom Rudi dan Tante Mega tahu soal skandal perselingkuhan Tante Melan?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Soal Oom Rudi, memang aku yang menggiring dia untuk mengetahui peselingkuhan istrinya. Tapi ... kalau soal Ibu Mega, aku nggak tahu siapa yang melakukannya."

 

Yuna mengernyitkan dahi sambil menggigit bibirnya. “Apa ada orang lain yang udah bocorin ke Tante Mega?”

 

Yeriko mengedikkan bahunya.

 

“Bellina nuduh aku terus. Padahal, aku nggak ngasih tahu Tante Mega sama sekali. Ketemu sama dia, juga nggak. Kalau bukan kamu yang kasih tahu ... siapa yang udah ngasih tahu Tante Mega?”

 

Yeriko mengedikkan bahu. “Mungkin ... musuh Bellina yang lain.”

 

“Apa dia punya musuh di luar sana?”

 

“Bisa aja. Dia kelakuannya begitu, bisa aja banyak orang yang dendam sama dia.”

 

“Kira-kira siapa ya?” tanya Yuna.

 

“Nggak tahu. Nggak usah dipikirin! Nanti, aku suruh Riyan buat cari tahu.”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak usah, Ay! Kasihan si Riyan, kerjaannya udah banyak. Nggak begitu penting banget, sih. Cuma ... kasihan aja sama Belli kalau dia dimarahin terus sama mama mertuanya.”

 

“Kamu masih kasihan sama dia? Dia udah jahat sama kamu selama ini?”

 

“Iya, juga sih. Aku nggak suka sama dia. Tapi ... kasihan juga. Selama ini, dia selalu menyalahkan aku kalau mengalami masalah. Kalau dia terlalu banyak menderita, aku takut ... dia makin benci sama aku.”

 

Yeriko menghela napas begitu melihat wajah Yuna murung. “Semua penderitaan yang dia alami sekarang, itu balasan atas perbuatan dia. Nggak ada hubungannya sama kamu.”

 

Yuna memutar bola matanya. “Iya ya?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu khawatir! Semua yang terjadi sama dia, nggak ada hubungannya sama kamu.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Semoga aja dia dapet balasan yang setimpal dan nggak ganggu hidupku lagi.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku pasti melindungi kamu.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. Ia merasa sangat nyaman dan bahagia selama berada di sisi suaminya. Ia berharap kalau sepupunya itu bisa berubah menjadi wanita yang baik sebelum merasakan sakit yang lebih dalam lagi.

 

 ((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 545 : Minta Uang Bellina

 


Bellina langsung merebahkan tubuhnya ke sofa begitu ia sampai ke rumah. Ia baru menyadari kalau mamanya tidak pernah menghubunginya setelah bercerai dengan papanya.

 

“Argh, bodo amat!” celetuk Bellina sambil memejamkan mata. Suasana hatinya yang sedang tidak baik membuatnya acuh tak acuh terhadap mamanya sendiri.

 

Ting! Tong!

 

Ting! Tong!

 

Bellina langsung menoleh ke arah pintu ketika bel rumahnya tiba-tiba berbunyi.

 

“Siapa yang ke sini malam-malam gini?” gumam Bellina sambil bangkit dari sofa. Ia melangkah tak bersemangat menuju pintu rumahnya.

 

“Malam, Bel ...!” sapa Melan begitu Bellina membukakan pintu untuknya.

 

“Mama!?” Bellina mengerutkan dahi begitu melihat mamanya sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

 

Melan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Kenapa? Kamu heran lihat mama?”

 

“Mama nggak pernah hubungi aku semenjak bercerai sama papa. Aku heran aja, kenapa tiba-tiba ke sini malam-malam begini?” tanya Bellina.

 

Melan tersenyum sambil melangkahkan kakinya. Ia menatap wajah Bellina dan bertanya, “mmh ... mama boleh tahu, berapa harga rumah kamu ini?” tanya Melan.

 

“Kenapa?” tanya Bellina menyelidik. Ia mulai curiga dengan sikap Melan yang tiba-tiba menanyakan harga rumah. Padahal, ia sudah lama membeli rumah tersebut.

 

“Mama cuma pengen tahu aja harga rumah ini,” jawab Melan sambil menyentuh sofa ruang tamu menggunakan ujung-ujung jarinya.

 

“Cuma empat Milyar,” jawab Bellina sambil menatap wajah mamanya.

 

Melan langsung tersenyum dan menghampiri Bellina. “Bel, saat ini ... mama masih tinggal di hotel. Mama pengen beli rumah baru.”

 

“Beli aja,” sahut Bellina sambil melangkah menuju sofa dan duduk dengan santai.

 

Melan terus mendekati Bellina dan duduk di samping puteri kesayangannya itu. “Mama butuh uang, Bel. Kamu bisa kasih sedikit uang kamu untuk mama?”

 

“Uang untuk apa, Ma?” tanya Bellina balik.

 

“Untuk beli rumah baru, Bel. Mama nggak punya uang.”

 

“Mama baru aja cerai sama papa. Papa ngasih tunjangan perceraian ke mama ‘kan?”

 

Melan meringis mendapati pertanyaan Bellina. “Uang tunjangan dari papa kamu nggak seberapa. Sudah habis untuk keperluan sehari-hari mama.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Suami baru mama, nggak kasih uang?”

 

“Dia baru aja keluar dari penjara. Belum dapet pekerjaan. Jadi, belum bisa menghidupi mama.”

 

“Kalau dia nggak bisa menghidupi mama, kenapa harus pilih dia?” tanya Bellina kesal.

 

“Bel, semua butuh waktu. Mantan narapidana seperti dia, sulit mendapatkan pekerjaan baru.”

 

“Lagian, kenapa mama lebih milih hidup sama laki-laki kotor itu daripada sama papa? Papa Rudi itu baik, Ma. Dia udah berjuang buat keluarga. Dia ngasih semua yang kita butuhkan. Dia bisa bikin mama hidup layak. Tapi, mama malah tega-teganya nyakitin papa!”

 

“Kamu pikir, mama bahagia hidup dengan pria yang tidak mama cintai dan tidak mencintai mama?” sahut Melan kesal.

 

“Oh ... ada hal lain yang bisa bikin mama lebih bahagia dari uang?” tanya Bellina. “Ya udah, mama hidup ada dengan cinta sama pria itu!”

 

“Bel, mama ke sini baik-baik. Kamu malah kayak gini sama mama. Kamu tega lihat mama menderita di luar sana, sementara kamu bisa tidur dengan enak dan tenang di rumah mewah kayak gini?”

 

Bellina terdiam. Ia juga tidak tega melihat mamanya hidup menderita di luar sana. Hanya saja, wajah Lonan membuatnya sangat kesal. Sampai kapan pun, ia tidak akan berdamai dengan pria asing yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya itu.

 

“Bel, mama sudah membesarkan kamu selama ini. Apa kamu nggak ingat gimana kamu bisa hidup selama ini. Semua yang kamu mau, selalu mama penuhi. Sekarang, mama cuma butuh sedikit uang kamu aja. Sebelumnya, mama nggak pernah minta uang sama kamu.”

 

“Uang mama tinggal sedikit, Bel. Cuma bisa bertahan sepuluh hari tinggal di hotel. Setelahnya, mama akan tinggal di mana kalau kamu nggak mau kasih mama uang buat beli rumah baru. Kamu mau lihat mama tidur di pinggir jalan?”

 

Bellina langsung menatap tajam ke arah Melan. Ia baru saja mendengar makian dari mama mertuanya. Sekarang, mamanya sendiri juga ikut berteriak di hadapannya. Hal ini membuat kepalanya semakin sakit.

 

“Kalau kamu nggak mau kasih uang mama, mama akan tidur di pinggir jalan. Biar semua orang tahu kalau anak mama yang kaya raya ini sudah membuang dan menyia-nyiakan mamanya sendiri!” ancam Melan.

 

Bellina langsung membelalakkan matanya. Ia tidak ingin mamanya semakin berulah, membuat keluarganya dan keluarga Wijaya malu karena perbuatan gila mamanya.

 

Melan tersenyum sambil menatap wajah Bellina. Ia sangat berharap kalau Bellina mengeluarkan uang untuk dirinya.

 

“Mama butuh berapa?” tanya Bellina.

 

“Nggak banyak, kok. Cuma dua milyar,” jawab Melan sambil tersenyum manis.

 

“Banyak banget!?” seru Bellina.

 

“Bel, mama butuh uang buat beli rumah baru. Kamu tega lihat mama tidur di jalanan? Biar semua orang tahu kalau anak dan menantu mama yang kaya raya ini sudah menelantarkan mamanya sendiri?”

 

“Aargh ...! Mama bikin kepalaku mau pecah. Ma, aku nggak punya uang sebanyak itu!” sahut Bellina kesal.

 

“Dua milyar itu nggak banyak, Bel. Kamu bisa dapetin dengan mudah dari suami atau papa kamu. Gaji kamu sebagai direktur di perusahaan, juga nggak kecil. Tabungan kamu pasti lebih dari empat kali lipat rumah ini ‘kan?”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Ma, mama pikir ... aku punya uang sebanyak itu? Seandainya ada, aku juga nggak akan pakai uangku untuk menghidupi mama dan pria kotor itu!”

 

Melan sangat kesal dengan sikap Bellina. Namun, ia tidak akan menyerah begitu saja sampai ia bisa mendapatkan uang dari Bellina.

 

“Oke. Kalau emang kamu nggak mau kasih mama uang. Mama akan tinggal di jalanan dan bilang ke semua orang kalau anak dan menantu mama sudah ...”

 

“Stop, Ma!” teriak Bellina sambil bangkit dari sofa. “Mama nggak usah ngancam aku dan Lian!” pintanya sambil bergegas melangkah ke kamarnya. “Tunggu di sini!”

 

Melan langsung tersenyum lebar begitu melihat Bellina masuk ke kamarnya. Ia sangat berharap kalau puteri kesayangannya itu segera memberikan uang yang ia butuhkan.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina keluar dari kamar dan menghampiri mamanya. Ia langsung menyodorkan kartu debit ke arah mamanya tersebut.

 

Melan langsung tersenyum sambil menyambar kartu dari tangan Bellina.

 

“Itu uang tabunganku. Cuma ada satu milyar. Pin-nya hari ulang tahunku,” tutur Bellina sambil duduk kembali ke sofa.

 

“Bel, mama butuh dua milyar. Mama butuh beli rumah dan untuk hidup sehari-hari.”

 

“Ma, itu cukup buat beli rumah. Mama beli rumah yang murah-murah aja. Suruh suami baru mama itu buat cari nafkah. Supaya nggak ganggu aku terus!”

 

“Bel, aku ini mama kamu. Apa kata orang kalau mama beli rumah murah? Mereka bakal menilai kalau kamu bener-bener sudah menelantarkan mamanya sendiri.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Ma, itu cukup buat beli rumah. Rumah yang harganya lima ratus juta, juga udah bagus untuk mama. Kalau mama mau beli rumah mewah, mama usaha sendiri! Jangan morotin aku dan suamiku, Ma!”

 

“Apa!? Kamu tega ngatain mama seperti ini? Aku ini mama kandung kamu, Bel. Yang udah melahirkan dan membesarkan kamu selama ini. Ini balasan kamu buat mama? Kamu bener-bener nggak punya hati nuraini. Tega-teganya bikin mama kamu sendiri hidup terlantar.”

 

Bellina menarik napas panjang. Ia menarik tas tangan yang tak jauh dari dirinya dan mengeluarkan dompet dari dalamnya. Ia mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompet tersebut. “Aku cuma punya uang segini. Kalau mau, mama ambil. Kalau nggak, silakan pergi dari rumah ini dan cari uang sendiri!”

 

Melan tersenyum lebar dan menyambar uang dari tangan Bellina. Ia sangat bahagia karena puterinya bisa memberikan banyak uang untuknya.

 

“Ma, mama sudah bisa pulang, sekarang? Mama ke sini cuma butuh uang aja ‘kan?”

 

Melan langsung melebarkan kelopak matanya. “Kamu ngusir mama?”

 

“Aku lagi pusing, Ma. Banyak hal yang harus aku hadapi. Mama tolong ngertiin posisiku. Jangan bikin aku makin kesulitan!” pinta Bellina dengan mata memerah.

 

Melan menatap wajah Bellina. Ia bisa mengetahui kalau anaknya sedang banyak masalah. Namun, ia masih membutuhkan banyak uang untuk bisa bertahan hidup di luar sana.

 

“Ma, semua yang mama lakuin beberapa hari belakangan ini. Sudah bikin keluarga Linandar dan Wijaya malu banget. Aku baru aja dimaki-maki sama mamanya Lian. Tolong, Ma! Jangan bawa aku ke dalam masalah baru lagi! Mama Mega sudah mendesak Lian terus-menerus untuk menceraikan aku. Aku belum hamil juga sampai sekarang, status mama yang sekarang bukan siapa-siapa lagi di keluarga Lin. Bikin Mama Mega semakin benci sama aku. Gimana kalau aku bener-bener dibuang dari keluarga Wijaya?” tanya Bellina dengan mata berkaca-kaca.

 

Melan menghela napas. Ia ingin mendapatkan banyak uang dari Bellina, tapi ia juga tidak bisa melihat puteri kesayangannya itu berada dalam kesulitan. Ia ingin Bellina hidup baik dan bahagia di keluarga ini.

 

Bellina menutup wajahnya sambil menangis. Ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit bertubi-tubi yang terus menimpa dirinya. Ia hanya ingin mendapatkan kebahagiaan. Ia ingin memiliki suami yang menyayanginya, mertua yang menyayanginya dan keluarga yang sehat. Tapi, semua hal yang ia inginkan justru berbanding terbalik dengan kenyataannya.

 

“Maafin, Mama! Mama nggak akan mendesak kamu lagi untuk memberikan uang,” tutur Melan lirih. Ia bangkit dari sofa sambil menatap Bellina yang masih terisak. “Mama pulang dulu!” pamitnya.

 

Bellina tak menyahut. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia benar-benar tak menyangka kalau ia akan dimanfaatkan oleh mamanya sendiri.

 

Melan tak berani menyentuh Bellina yang suasana hatinya sedang buruk. Ia memilih melangkahkan kakinya perlahan keluar dari rumah tersebut. “Aku bisa minta uang ke sini lagi kalau suasana hati Bellina sudah membaik,” batin Melan.

 

 ((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas