Saturday, August 15, 2026

Tidak Ada Jam Khusus untuk Perpustakaan Sekolah



Aku mengabdikan diri sebagai relawan pegiat literasi sejak tahun 2017. Di tahun 2025 aku lolos menjadi Relima Perpusnas RI Lokus Kutai Kartanegara. Kemudian, masih dipercaya melanjutkan perjuangan di tahun 2026.

Tahun ini, langkahku sedikit berbeda dengan tahun lalu. Kalau tahun lalu aku berkeliling ke TBM dan perpustakaan desa/kelurahan, tahun ini aku boleh memilih sendiri lokasi yang akan aku inventarisasi dan berkegiatan literasi. 

Tahun ini juga diperbolehkan untuk melakukan kegiatan di sekolah. Sehingga, aku merasa berpijak pada dunia baru, yaitu dunia anak-anak yang sedang tumbuh dengan harapannya. 

Aku tahu, sistem pendidikan di Indonesia semuanya sama. Aku rasa, sistem di satu sekolah juga sama dengan di sekolah lain. Meski ada beberapa sekolah yang masuk kategori pengecualian, entah karena apa. Sebab, aku tidak tahu. 

Baru menginjakkan kaki ke dua sekolah (SD & SMP), aku langsung mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di kepala selama beberapa tahun terakhir ini. Pertanyaan tentang rendahnya minat baca yang tidak kunjung membaik meski pemerintah telah melakukan banyak upaya. 

Saat aku bersilaturahmi ke sekolah, semua guru terlihat sibuk. Hanya petugas perpustakaan yang menemaniku melangkah ke dalam ruang perpustakaan. Itupun harus meluangkan waktunya di tengah-tengah kesibukannya mengajar di kelas. Sebab, rata-rata sekolah belum memiliki petugas khusus perpustakaan atau petugas perpustakaan masih merangkap sebagai guru ajar di kelas. 

Perpustakaan sebagai sumber ilmu utama, justru menjadi ruang yang paling tersisihkan. Berkunjung ke perpustakaan hanya untuk mengisi waktu luang, bukan menjadi salah satu tujuan dalam pembelajaran. 

Waktu anak-anak sudah habis di kelas untuk mengejar target mata pelajaran. Lalu, kapan anak-anak bisa membaca dengan tenang atau membaca buku lebih dalam?
Waktunya memang tidak ada. Waktu istirahat sudah habis digunakan untuk makan di kantin. 
Tidak heran jika minat baca di negara kita masih sangat rendah. Anak-anak tidak diberikan jam khusus ke perpustakaan. Tidak ada kegiatan di perpustakaan yang bisa mengembangkan kreatifitas membaca. Maka, selamanya perpustakaan sekolah hanya akan menjadi tempat untuk menyimpan buku, bukan sebagai sumber belajar dan menggali ilmu. 
Sekuat apa pun saya membantu meningkatkan minat baca, tidak akan bisa terwujud jika kebijakan dari pemerintah tidak mendukung kegiatan di perpustakaan. Kebijakan inilah yang terkadang membuat minat baca jadi semakin rendah meski program peningkatan minat baca sangat masif dilakukan. 






Wednesday, August 12, 2026

Kecerdasan Bukan Berasal dari Sekolah. Apakah Sama dengan "Sekolah Itu Tidak Penting?"





Hari ini ada hal penting yang ingin aku tulis. Meski aku sangat jarang menuliskan hal-hal seperti ini. Aku merasa, berita yang beredar dan opini masyarakat yang terus berkembang, sudah cukup untuk menciptakan sejarah masa depan. Terlebih, ada banyak orang hebat di luar sana yang keilmuannya bisa menjadi guru dan panutan bagi kita. 

Tapi hari ini, aku benar-benar ingin mengabadikannya di rumahku sendiri. Di blog yang sangat sederhana ini. Blog di mana aku bisa bebas menumpahkan segala ide di kepalaku. Tentang cinta, tentang perjalanan hidup, dan tentang hal-hal kecil yang bagi orang lain tidak penting tapi bagiku sangat penting. 

Beberapa hari belakangan ini beranda media sosialku dipenuhi dengan pemberitaan tentang pernyataan Presiden Prabowo yang mengatakan bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah.
Pernyataan presiden menimbulkan banyak spekulasi dan berbagai opini. Hampir semua konten kreator merespon ini. Mulai dari menanggapinya secara serius sampai menjadikannya parodi lucu. 

Aku sendiri merasa setuju dengan pernyataan Presiden Prabowo. Karena kecerdasan seseorang memang tidak berasal dari sekolah. Kecerdasan berasal dari Allah SWT, Sang Maha Pencipta yang sempurna. 

Setiap manusia terlahir dengan kecerdasannya masing-masing. Namun, tidak semua kecerdasan manusia dapat berkembang dengan baik. Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi perkembangan kecerdasan manusia. Sekolah merupakan salah satu tempat yang sangat penting untuk mengembangkan kecerdasan manusia. 

Anak tidak menjadi cerdas semata-mata karena masuk sekolah. Ada kemampua bawaan, lingkungan keluarga, pengalaman hidup, rasa ingin tahu, pola asuh, interaksi sosial, dan kesempatan belajar yang ikut membentuk kemampuan seseorang.

Kita seringkali menemukan orang yang secara akademik biasa saja, tetapi sangat cerdas dalam membaca situasi, berwirausaha, berkomunikasi, memecahkan masalah, atau memahami orang lain. Ini bukti bahwa kecerdasan manusia bukan hanya secara akademik saja. Bahkan, kecerdasan menjilat penguasa juga bisa menjadi salah satu skill sejak lahir yang dilatih secara terus-menerus.  Sebab pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menghafal dan mendapatkan nilai tinggi.

Sekolah memang bukan satu-satunya sumber kecerdasan, tetapi sekolah dapat mengembangkan kecerdasan.
Seorang anak mungkin memiliki rasa ingin tahu yang besar. Tetapi tanpa lingkungan belajar yang baik, rasa ingin tahu itu belum tentu berkembang menjadi kemampuan berpikir kritis.
Anak mungkin memiliki bakat matematika. Tetapi guru yang baik dapat membantu mengasahnya.
Anak mungkin memiliki kemampuan berbicara. Tetapi membaca, berdiskusi, menulis, dan berlatih presentasi di lingkungan pendidikan dapat membuat kemampuan itu jauh lebih matang.

Menurut saya hubungan yang lebih tepat adalah: Kecerdasan tidak berasal dari sekolah, tetapi kecerdasan dapat tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.

Di sinilah peran keluarga dan masyarakat menjadi sangat penting. Ini akan sangat menarik jika dikaitkan dengan gerakan literasi.

Seorang anak sudah belajar jauh sebelum ia masuk SD. Ia belajar bahasa dari orang tuanya. Belajar bertanya dari lingkungan. Belajar memecahkan masalah dari permainan. Belajar empati dari hubungan dengan orang lain.
Belajar membaca dari kebiasaan di rumah. Belajar berpikir dari percakapan sehari-hari. Sekolah kemudian melanjutkan dan memperluas proses tersebut.

Karena itu, saya lebih suka melihat pendidikan sebagai sebuah ekosistem:
Keluarga → sekolah → masyarakat → pengalaman hidup → literasi → membentuk manusia yang terus belajar.

Ini juga sejalan dengan penekanan Prabowo sendiri di kesempatan lain bahwa semua jenjang pendidikan—dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi—perlu diperbaiki agar mampu menyiapkan generasi yang berkualitas. (Source: Sekretariat Negara)

Ada satu hal yang menurut saya justru sangat penting dan perlu kita garis bawahi. Kita harus berhati-hati agar pernyataan “orang pintar tidak harus sekolah” tidak berubah menjadi:
Sekolah tidak penting.
Ini akan sangat berbahaya. Berbahaya bagi pendidikan dan juga generasi mendatang. 

Karena bagi anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung, sekolah justru bisa menjadi pintu pertama untuk memperluas dunia mereka.

Tidak semua anak lahir di keluarga yang punya buku.
Tidak semua orang tua punya waktu untuk mengajari anak.
Tidak semua anak punya akses internet.
Tidak semua anak punya lingkungan yang mendorong mereka berpikir.
Bagi anak-anak seperti itu, sekolah dan guru bisa menjadi jembatan menuju dunia yang sebelumnya tidak mereka kenal.

Dan menurut saya, ini justru alasan mengapa gerakan literasi keluarga, taman baca, komunitas belajar, dan sekolah harus berjalan bersama. Anak tidak cukup hanya “disekolahkan”; mereka perlu berada dalam budaya belajar yang baik, aman dan ramah.

Kalau kita mau lebih kritis lagi, pernyataan Prabowo tersebut bisa menjadi bahan pertanyaan yang jauh lebih besar. 
Kalau kecerdasan tidak lahir dari sekolah, lalu sebenarnya sekolah Indonesia sedang bertugas menciptakan apa?”

Menurut saya, jawabannya bukan sekadar orang pintar, tetapi manusia yang mampu berpikir, membaca realitas, memecahkan masalah, berkarakter, dan terus belajar meskipun sudah tidak berada di bangku sekolah. Bagiku, semua tempat adalah sekolah karena bisa memberikan kita banyak pelajaran dan pengalaman. 
Bagi orang yang berpikir, seekor ulat yang sedang berjalan di atas daun pun bisa menjadi pelajaran. 
Maka, marilah kita sama-sama berpikir! Masih pentingkah pendidikan di sekolah? 
Untuk apa sekolah diciptakan di negeri ini? 
Akankah anak-anak masih punya semangat dalam mengembangkan kecerdasan di sekolahnya? 


Sunday, August 9, 2026

Ngobrol ASI Bersama Coconey di Pekan Menyusui Dunia




Sabtu, 08 Agustus 2026.

Hari masih gelap saat kudengar kokok ayam berbunyi di belakang rumahku. Bersamaan dengan suara bayi mungil yang baru aku lahirkan 47 hari yang lalu. 
Waktu menunjukkan pukul 04.30 WITA. Seperti biasa, waktunya bayiku menyusu. Maka, aku menyusui sambil berbaring agar ia bisa terlelap kembali dan aku bisa memulai pagiku seperti biasa. 

Setelah menyusui dan bayiku tertidur kembali, aku mulai berkutat di dapur. Menyiapkan makanan pagi untuk keluarga kecilku seperti biasa. Tetapi ada hal tak biasa setelahnya. 
Aku menarik tas bayi yang kusimpan rapi di dalam lemari usai mandi. Aku memasukkan beberapa perlengkapan bayi. Beberapa lembar pampers, baju ganti, minyak zaitun dan botol air minum. Sebab, hari ini aku akan pergi ke tempat yang lumayan jauh untuk mengikuti kegiatan "Pekan Menyusui Dunia 2026".
Beberapa hari lalu, Bidan Rika membagikan flyer tentang kegiatan menyusui. Beliau adalah salah satu teman di majelis taqlim yang sering aku datangi. Beliau bertugas di RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti Samboja, juga pemilik dari Coxoney Mom & Baby Care. 

Aku sangat tertarik untuk mengikuti kegiatan ini meski aku sudah punya tiga anak. Artinya, ini bukan pengalaman pertamaku dalam menyusui bayi. Sebab, dua anakku juga ASI eksklusif sampai umur 6 bulan. Namun, itu bukan berarti aku harus meletakkan kesombongan dalam diriku bahwa aku sudah tahu semuanya. Ada hal yang mungkin belum pernah aku dengar, juga belum pernah aku pelajari. Sama seperti Pekan Menyusui Dunia ini. Aku bahkan tidak pernah tahu jika ada hari di mana seluruh ibu memperingati Hari Menyusui mereka. 

Sebab, menyusui tidak selalu berjalan mulus sejak hari pertama. Seperti yang sedang aku alami. Aku merasa, ASI yang kuhasilkan tidak sebanyak sebelumnya. Bayiku menjadi sering rewel karena kurang kenyang. Aku hanya bisa menebak-nebak apa penyebab ASI-ku berkurang tanpa aku tahu pasti. 

Ada banyak faktor yang membuat produksi ASI semakin berkurang. 
Awalnya, aku pikir karena penggunaan KB. Tapi dipikir-pikir lagi, seharusnya IUD tidak memengaruhi produksi ASI. Sebab, ada banyak teman yang menggunakan IUD dan produksi ASI tetap lancar. 

Mungkin, aku kekurangan cairan karena aku jarang sekali minum air putih. Entah kenapa, rasanya sulit sekali minum air putih banyak karena membuatku terus ke toilet dan rasanya tidak nyaman. Tapi aku harus membiasakannya perlahan demi buah hatiku agar tidak kekurangan ASI.
Selain minum air putih yang banyak, aku juga harus membahagiakan diriku sendiri. Aku harus bisa melepaskan beban tagihan dan cicilan bulanan yang terus mengganggu pikiranku. Sepertinya, rasa khawatir itu yang membuatku gelisah setiap hari dan membuat produksi ASI-ku sedikit terhambat. 
In this economy, rasa khawatir memang jauh lebih besar. Terlebih aku hanya menjalani peranku sebagai ibu rumah tangga biasa. Aku tidak bisa mengambil banyak pekerjaan karena harus mengurus rumah dan anak-anak. Artinya, aku juga tidak bisa menghasilkan uang yang lebih dan membuatku sangat khawatir. Padahal, aku punya suami yang bertanggung jawab. Tapi aku tetap tidak bisa menepis rasa khawatir itu. 
Ah, aku kok jadi curhat, ya? 
Semoga, curhatan kecil ini bisa merilis beban yang mengganggu pikiranku dan membuat ASI-ku lancar kembali. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anakku. Jadi, aku ingin bisa menyusui dia dengan bahagia. 
Menurutmu, apakah tagihan/cicilan bulanan bisa menjadi beban pikiran? 
Padahal, sebelumnya aku tidak pernah se-khawatir ini meski aku juga tidak punya pekerjaan tetap dan menjadi tulang punggung keluarga. 
Apa yang telah mengubah pikiranku, tentu aku harus menemukan jawabannya agar aku bisa menjalani hari-hariku dengan bahagia dan produksi ASI bisa banyak. 

Kalau kamu punya masalah yang sama sepertiku, kamu bisa konsultasi langsung dengan Bidan Rika (Konselor Menyusui) yang akan membantu dengan sabar mengatasi masalah menyusui yang sedang kamu alami. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya karena di Samboja belum ada tempat konsultasi menyusui selain di Coconey Mom & Baby Care. 


Tipe Pecinta Buku Akut





Tipe Pecinta Buku Akut: Kamu Bibliotaph, Biblioarti, atau Bibliognos?

Bagi sebagian orang, buku hanyalah benda yang dibaca lalu disimpan di rak. Namun bagi pecinta buku sejati, buku adalah teman, harta karun, bahkan bagian dari identitas diri. Tidak heran jika dunia literasi mengenal banyak istilah unik untuk menggambarkan kebiasaan para pencinta buku.

Apakah kamu salah satunya? Yuk, kenali tiga tipe pecinta buku yang mungkin terdengar ekstrem, tetapi justru sangat dekat dengan kehidupan para book lover.

1. Bibliotaph: Si Penjaga Buku yang Enggan Meminjamkan

Pernah bertemu seseorang yang rak bukunya rapi, koleksinya lengkap, tetapi hampir mustahil meminjam satu buku pun darinya?

Kemungkinan ia adalah seorang Bibliotaph.

Bibliotaph adalah sebutan bagi orang yang cenderung menyimpan dan "menyembunyikan" koleksi bukunya. Mereka tidak suka bukunya dipinjam karena khawatir akan rusak, hilang, atau tidak kembali.

Bagi Bibliotaph, setiap buku memiliki cerita. Ada yang dibeli dari hasil menabung, ada yang diburu bertahun-tahun, bahkan ada yang memiliki nilai sentimental karena merupakan hadiah dari orang terdekat.

Ciri-ciri Bibliotaph:

  • Rak buku selalu tertata rapi.

  • Tidak suka meminjamkan buku.

  • Sangat menjaga kondisi buku agar tetap seperti baru.

  • Ingat persis di mana setiap buku diletakkan.

Mereka bukan pelit, melainkan sangat menghargai koleksi yang telah mereka bangun.

2. Biblioarti: Mencintai Buku Sepenuh Hati

Jika Bibliotaph fokus menjaga koleksi, maka Biblioarti lebih menggambarkan rasa kagum yang mendalam terhadap buku.

Orang dengan karakter ini memandang buku sebagai sesuatu yang layak dihormati dan dirawat. Mereka akan merasa tidak nyaman melihat halaman buku dilipat, sampul tertekuk, atau buku diletakkan sembarangan.

Bahkan, mereka rela membeli sampul pelindung, bookmark khusus, hingga kotak penyimpanan agar buku tetap awet.

Kebiasaan Biblioarti:

  • Membersihkan rak buku secara rutin.

  • Menggunakan pembatas buku, bukan melipat halaman.

  • Menyampul buku agar tetap bersih.

  • Merasa sedih jika melihat buku rusak.

Bagi mereka, merawat buku sama pentingnya dengan membaca isi bukunya.


3. Bibliognos: Pecinta Detail yang Tak Pernah Puas

Berbeda dengan dua tipe sebelumnya, Bibliognos tidak hanya membaca isi buku.

Mereka ingin mengetahui segala hal tentang sebuah buku, mulai dari:

  • siapa penulisnya,

  • latar belakang penulis,

  • tahun terbit,

  • edisi pertama,

  • penerbit,

  • ilustrator,

  • daftar pustaka,

  • hingga fakta-fakta kecil yang tersembunyi di setiap halaman.

Mereka senang membandingkan edisi lama dan baru, mencari kesalahan cetak, atau memahami alasan sebuah bab disusun dengan urutan tertentu.

Bagi Bibliognos, membaca bukan sekadar menikmati cerita, tetapi juga memahami "kehidupan" sebuah buku secara menyeluruh.


Tipe Mana yang Paling Dekat denganmu?

Menariknya, seseorang bisa memiliki lebih dari satu karakter sekaligus.

Misalnya:

  • Seorang Bibliotaph yang juga Biblioarti akan sangat menjaga bukunya dan hampir tidak pernah meminjamkannya.

  • Seorang Bibliognos juga bisa menjadi Bibliotaph karena memahami betapa berharganya sebuah edisi langka.

Tidak ada yang salah dengan ketiga tipe tersebut. Semuanya menunjukkan kecintaan terhadap buku, hanya saja dengan cara yang berbeda.

Pada Akhirnya...

Setiap pecinta buku memiliki kebiasaan unik. Ada yang senang berbagi buku kepada teman, ada yang lebih memilih menjaganya tetap utuh di rak, dan ada pula yang menikmati setiap detail kecil dari sebuah buku.

Apa pun tipemu, satu hal yang sama adalah rasa cinta terhadap dunia literasi. Karena bagi seorang pecinta buku, membuka sebuah halaman baru selalu berarti membuka jendela menuju pengetahuan dan petualangan yang baru.

Kalau kamu sendiri termasuk tipe yang mana? Bibliotaph, Biblioarti, Bibliognos, atau justru gabungan dari semuanya? Tulis pendapatmu di kolom komentar!




Friday, August 7, 2026

Pendamping Nakal Bab 8 : Pertanyaan yang Tertahan

 


“Ran, gimana kegiatanmu minggu ini? Lancar, kan?” tanya Tia sembari mengeluarkan beberapa buku baru dari dalam kardus untuk ia katalogisasi.

“Lancar. Cuma . .. perjalanan pulang kami yang agak terhambat. Jadinya, lumayan malam sampai di rumah.”

“Kenapa? Jalannya jelek?” tanya Tia. Matanya tertuju pada sebuah buki baru meski ia sibuk bicara dengan Rania.

“That’s first. Yang parahnya tuh, kita dihadang sama empat preman di tengah hutan. Mana lagi senja. Horor banget!” jawab Rania.

“Begal, Ran!?”

“Kayaknya mereka orang suruhan bos tambang batubara, deh.”

“Kamu tahu dari mana?” tanya Tia.

“Bang Radit seharian keliling wawancarain warga yang menolak tambang. Aku nemenin dia dan denger beberapa kali ucapan warga di sana yang kemungkinan pro sama tambang,” jawab Rania.

“Oh. Terus ... terus ...!”

“Ternyata, konflik di dunia usaha itu rumit banget, ya? Manusia udah kayak monster. Saling serang, saling makan memakan,” ucap Rania.

“Maksudnya?” Kening Tia mengernyit.

Rania menghela napas. “Terkadang kita bingung harus berpihak ke mana. Di satu sisi ada masyarakat yang membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Di sisi lain ada petani yang terancam kehidupan dan masa depan keluarganya. Nggak ada solusi baik untuk hal seperti ini, Ti. Semuanya berusaha untuk bertahan hidup,” ucap Rania.

“Kamu sendiri berpihak ke mana?” tanya Tia.

Rania mengedikkan bahunya. “Aku nggak berpihak ke mana-mana. Netral aja.”

“Oh, ya? Kalau seandainya kehidupanmu dan keluargamu yang terancam. Gimana?”

“Aku pasti bela diri mati-matian, lah. Masa diam aja!?” sahut Rania.

Tia manggut-manggut. Ia kembali sibuk memilah buku-buku yang baru saja ia dapatkan. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah buku berwarna hitam dengan ilustrasi misteri yang khas. Judulnya cukup menarik baginya. Begitu juga dengan beberapa buku lain tentang metafisika.

“Ran, tumben Bu Sinta dapet koleksi buku beginian? Ini beli baru atau donasi, ya?” tanya Tia.

“Di laporan itu ada sumber bukunya, kan?”

Tia langsung memeriksa laporan yang ia ambil dari Bu Sinta, Kepala Perpustakaan tersebut. “Donasi,” ucapnya. “Pasti mantan dukun yang ngasih donasi ini.”

Rania terkekeh mendengar ucapan Tia. “Dukun apaan di zaman sekarang?” tanyanya dengan kedua mata fokus menatap layar laptop.

 Ia mulai melatih tangannya untuk mengetik kembali setelah melewati operasi dan masa pemulihan.

“Aww ...!” seru Rania tiba-tiba.

“Kenapa, Ran?”

“Tanganku masih nyeri dipake ngetik. Padahal udah dua bulan pasca operasi,” ucap Rania.

“Pakai voice note aja kayak biasanya. Nggak usah paksain diri, Ran! Kamu belum benar-benar pulih.”

“Kata dokter, aku  harus latih tanganku untuk bergerak seperti biasanya. Supaya nggak kaku dan bisa cepet sembuh, Ti. Bisa, kok. Pelan-pelan, nih,” ucap Rania sambil menggerakkan jemarinya perlahan di atas keyboard.

“Hmm ... ya udah, deh. Yang penting kamu nyaman dan bisa cepet sehat kayak biasanya. By the way ... kenapa kamu selalu jadi sasaran orang jahat, sih? Kriminal banget kalo sampe bikin kamu masuk rumah sakit.”

“Kamu mau jadi sasaran juga?” tanya Rania menggoda.

“Idih ... amit-amit jabang bayik! Jangan sampe, Ran!” sambar Tia sembari mengetuk-ngetuk kepala dan meja bergantian. “Jauhkan bala!”

Rania kembali fokus menulis artikel, sementara Tia sibuk dengan buku-buku yang baru saja menjadi bagian dari koleksi perpustakaan sekolah.

 

TING!

Rania melirik ke arah ponsel yang ada  di samping laptopnya. Pop up notifikasi membuat ia langsung mengetahui jika yang mengirim pesan adalah Radit.

TING!

TING!

Pesan berantai dari Radit, membuat Rania kehilangan konsentrasi. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuka pesan yang masuk.

“Ran, empat orang warga yang menghadang kita kemarin udah mati semua,” tulis Radit dalam pesan Whatsapp.

Rania menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak langsung membalas chat dari Radit, tapi mengamati satu per satu foto-foto yang dikirim untuknya. Wajah para warga itu terlihat sangat jelas.

“Kenapa mereka bisa mati berbarengan?” gumam Rania. “Kita nggak akan dikejar polisi buat minta keterangan, kan?” batinnya.

Tak ingin terus berdialog dengan dirinya sendiri, Rania segera menekan menu call ke nomor Radit.

“Halo ...!”

“Bang, kita aman, kan?” tanya Rania dengan perasaan tak karuan.

“Kenapa kamu tiba-tiba panik gini?” tanya Radit. Meski dari kejauhan, terdengar jelas jika pria itu sedang menahan tawa.

“Kita yang terakhir ketemu sama mereka semalam,” ucap Rania. “Aku takut kalau polisi curiga sama kita.”

“Nggaklah. Semuanya aman, Ran. Mereka meninggal karena kecelakaan. Dua orang itu nyemplung sungai, satu orang jatuh di jurang dan satunya lagi kesetrum listrik di rumahnya,” jelas Radit.

Rania menghela napas lega. “Syukurlah kalau gitu.”

“Iya. Aman aja, kok. Ini kamu masih di sekolah?” tanya Radit.

“Iya, Bang.”

“Bisa telepon?”

“Ini jam istirahat. Aku lagi nulis artikel buat majalah sekolah minggu ini,” jawab Rania.

“Oke. Dilanjut! Aku juga mau berangkat liputan, nih. Katanya mau ada Presiden datang ke IKN. Jadi, aku mau otewe ke sana.”

“Oh, ya? Seru banget ke IKN! Coba aja nggak hari sekolah, aku pengen ikut!” ucap Rania.

“Kamu sekolah aja yang bener!  Nanti akan ada waktunya kamu jadi jurnalis beneran. Bisa turun ke lapangan sambil plesir,” ucap Radit.

“Iya juga, sih. Sekarang harus sabar dan banyak latihan supaya tulisanku bisa diterima di media nasional dan internasional.”

“Beuuh ... targetmu tinggi juga. Aku  yang udah lama jadi jurnalis aja nggak bisa tembus media internasional. Soalnya aku nggak bisa bahasa Inggris, hahaha.”

Rania ikut tertawa kecil. “Ya udah, Bang. Aku lanjut kelarin artikelku dulu. Aku tutup teleponnya, ya!”

“Oke. Bye!”

“Bye!” Rania segera menutup panggilan teleponnya. Ia menghela napas dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.

“Kenapa, Ran?” tanya Tia yang duduk tak jauh dari Rania dan bisa mendengar cuplikan pembicaraan sahabatnya itu.

“Orang yang baru aja kita bicarain tadi, tiba-tiba pada meninggal semua.”

“Hah!? Siapa?”

“Empat preman yang cegat aku sama Bang Radit kemarin sore,” jawab Rania.

“Oh, ya?”

Rania mengangguk. Ia kembali fokus dengan tulisannya.

Sementara, Tia bergeming sambil berpikir. Ia merasa ada yang aneh dengan hidup Rania akhir-akhir ini. Semua orang yang berhubungan dengan Rania, tiba-tiba meninggal dalam keadaan mengenaskan.

Tia memperhatikan salah satu buku metafisika berjudul “Khodam Pendamping” yang membuat pikirannya melayang jauh tentang Rania dan sosok yang tidak terlihat. Mungkinkah semua hanya kebetulan atau ada sisi gelap dalam diri Rania yang tidak ia ketahui?

“Ran ...!” panggil Tia. Ia ingin bertanya langsung pada Rania, tapi ia juga ragu. Ia khawatir kalau Rania justru akan marah kepadanya.

“Hmm.”

“Masih lama nulis artikelnya? Lima menit lagi masuk kelas,” ucap Tia. Ia menahan napas dan memilih mengalihkan pertanyaannya.

“Iya, Ti. Bentar lagi, ini.”

Tia  tersenyum ke arah Rania. “Sepertinya aku harus banyak belajar tentang ilmu ini,” batinnya sambil memerhatikan buku di tangannya.

 

 

Sunday, July 12, 2026

Pendamping Nakal Bab 7 : Bertindak Tanpa Perintah

“Ran, minggu ini kamu ada waktu luang?” tanya seseorang dari ujung telepon saat Rania sedang menikmati makan siang di kantin sekolah. 
“Ada, Bang. Minggu ini nggak ada kegiatan di sekolah. Ada kegiatan?”
“Temani aku ke Kukar, ya! Mau cari beberapa fakta di lapangan soal tambang ilegal.”
“Oke.”
Tanpa berpikir panjang, Rania langsung mengiyakan tawaran dari seniornya tersebut. Kebetulan, ia juga baru membaca artikel berita tentang tambang-tambang ilegal yang merenggut kehidupan masyarakat lokal. 
Minggu pagi, Rania memarkirkan sepeda motornya di depan gedung kantor berita “Suara Kaltim”. Meski masih duduk di bangku SMA, Rania telah terdaftar sebagai jurnalis muda di tempat tersebut. Tentunya tidak lepas dari peran sang ayah yang merupakan jurnalis senior. Ayahnya sudah melalang buana ke banyak daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri. 
“Masuk, Ran!” sapa seorang pria dengan tinggi sekitar 175 cm. Rambutnya ikal panjang dan selalu dikuncir. 
Rania tersenyum lebar dan melangkah masuk ke dalam gedung tersebut.
“Bang Radit, perjalanan ke Samboja berapa jam?” tanya Rania sembari melangkahkan kakinya ke dalam ruang kerja para jurnalis. 
“Hai, Cantik ...! Apa kabar?” sapa seorang jurnalis senior yang bertubuh gempal. 
“Baik, Oom,” jawab Rania. 
“Ayahmu lagi tugas di mana? Lama Oom nggak ketemu sama dia.”
“Masih di Papua, Oom,” jawab Rania. 
Pria paruh baya itu geleng-geleng kepala. “Ayahmu memang hebat! Tulisan dia banyak nyerempet jurang, tapi tetap aman sampai sekarang.”
Rania hanya tersenyum kecil mendengar ucapan pria tersebut. Ia segera melangkah ke meja kerja Radit. Mengemas beberapa barang yang mereka butuhkan selama berada di lokasi. 
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, Rania dan Radit sampai di rumah salah satu penduduk desa yang sangat dekat dengan area tambang batu bara. 
Rania menatap jauh ke arah lubang galian tambang batubara yang menyisakan kubangan besar. Warga tak lagi bisa bertani seperti biasa. Flora dan fauna tak lagi punya rumah untuk hidup dan bertumbuh. Semuanya gersang. Hanya menyisakan aroma mineral yang tak sedap dan suhu udara yang lebih panas. 
Rania tak banyak bicara. Hanya mengikuti Radit yang melakukan wawancara. Ia mengabadikan foto dan video lewat kamera yang ia bawa. 
Ada banyak alasan mengapa warga memilih untuk tetap bertahan meski tanah mereka telah porak-poranda. Beberapa warga ada yang berjuang melawan kehadiran tambang batubara dan semuanya berakhir di penjara. Tidak ada satu pun warga yang bisa menang ketika berhadapan dengan perusahaan. 
“Ran, aku masih harus ke beberapa rumah warga untuk cari fakta lain. Kalau pulang malam, nggak papa?” tanya Radit.
“Nggak papa, Bang.” 
Pukul 18.00 WITA, Rania dan Radit baru keluar dari desa terakhir tempat mereka melakukan wawancara.
Suasana terasa mencekam meski waktu belum larut malam. Jalan tanah yang sepi dan pepohonan yang rimbun, membuat hari lebih gelap dari yang seharusnya. Jam segini kalau di kota, mereka justru melihat keindahan lampu-lampu kota yang mulai menyala. 
Ciiit ...!
Mobil yang dikendarai Radit tiba-tiba berhenti saat ada empat sepeda motor yang menghadangnya. 
“Si-siapa mereka, Bang?” tanya Rania dengan perasaan tak karuan. 
Radit menggeleng. “Nggak tahu.”
“Hei ...! Keluar!” sentak seorang pria bertubuh kekar sambil memukul bagian depan mobil Radit menggunakan balok berukuran 7x10 cm. 
“Anjing ...! Bangsat orang ini! Mobilku rusak!” maki Radit. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan emosinya sejenak dan keluar dari dalam mobil. 
“Assalamualaikum...!” sapa Radit sambil tersenyum ke arah pria yang baru saja menghantam mobilnya. 
“Wa’alaikumussalam ...!” sahut semua orang yang ada di sana. 
Radit langsung tersenyum mendengar balasan salam dari orang-orang tersebut. Artinya, emosi mereka masih bisa diredam dengan cara yang baik. 
“Ada masalah apa, Bang?” tanya Radit. 
“Kamu wartawan yang sering nulis berita tentang tambang sini, kan?” tanya pria itu. 
Radit hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan pria tersebut. “Kita bisa bicara baik-baik, Bang.” 
“Nggak ada bicara baik-baik! Kamu harus hapus semua berita yang sudah kamu sebarkan!” sahut pria itu. 
Radit tertawa kecil. “Abang-abang ini bukan asli warga sini?”
“Kami asli warga sini.”
“Kenapa berpihak pada perusahaan?” tanya Radit lagi. 
“Karena kami butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga kami.”
“Oh.” Radit manggut-manggut. Ia tidak mungkin berdebat dengan orang yang sedang lapar soal keberlangsungan lingkungan hidup dan petani yang ada di sana. 
“Kita ketemu 10 tahun lagi ya, Bang! Aku mau lihat, apakah Abang masih belain perusahaan yang sekarang ngasih makan Abang,” ucap Radit sambil menatap wajah pria di hadapannya itu. 
“Kamu!?” Pria yang memegang balok itu menunjuk wajah Radit dengan wajah penuh amarah.
“Sampaikan saja ke bos kalian! Kalau mau aku turunkan beritanya, siapkan uang sepuluh juta untuk satu berita!” pinta Radit sambil memainkan alisnya. 
“Malah mau meras, hah!? Lebih baik kami habisi kamu aja!” seru pria itu sambil melayangkan balok ke tubuh Radit. 
Radit segera menangkis balok kayu tersebut dan terjadi pergulatan di antara mereka. 
BUG! 
BUG! 
BUG! 
Rania mulai panik melihat kejadian tersebut. Ia ingin keluar, tapi tak punya banyak keberanian. Setelah melihat Radit terus diserang, Rania nekat keluar dari dalam mobil. 
“STOP ...!” teriak Rania sekuat tenaga. 
Semua orang menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Rania. 
Mata Rania menatap tajam arah empat pria yang sedang berkelahi dengan Radit. 
“Kalau sampai temanku terluka, kalian semua nggak akan aku biarkan hidup!” seru Rania dengan tangan mengepal erat. 
“Hahaha. Memangnya kamu siapa? Kamu yang nggak bakal keluar dari sini dalam keadaan hidup!” sahut salah seorang pria yang ada di sana. 
Namun, hanya dalam hitungan detik, suasana berubah mencekam. 
Keempat pria itu memandang Rania dengan tubuh gemetar. Tanpa aba-aba, mereka semua berlari ke motor masing-masing dan pergi dengan tergesa-gesa.
“Bang Radit nggak papa?” tanya Rania sambil menghampiri Radit. 
“Nggak papa,” jawab Radit sambil menahan perih di wajah dan lengannya. 
“Kenapa mereka tiba-tiba lari ketakutan?” tanya Radit. 
Rania mengedikkan bahunya. 
Radit mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. Di belakang mobil mereka ada sebuah pohon beringin besar, juga pohon-pohon lain yang tak kalah besar. Rimbunnya pepohonan di tepi jalan tersebut, membuat udara semakin dingin dan bulu kuduk Radit ikut berdiri.
“Buruan pulang, yuk! Suasananya mulai nggak enak,” ajak Radit. 
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan bergerak keluar dari desa tersebut. 

***
Empat pria yang menghadang Radit dan Rania menghentikan sepeda motornya saat mereka tiba di salah satu pos ronda milik warga. 
“Mas, sampean lihat juga?” tanya salah seorang pria bertubuh jangkung. 
Pria yang ditanya mengangguk. Tapi, ia tidak berani bicara. 
Dua pria lagi memilih diam dengan tubuh yang masih bergetar.
Gggrrr ...! 
Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. 
“Ha-ha-harimau putih itu ngikutin kita!” seru salah seorang dari mereka dengan terbata-bata. 
Pria yang lain tak berani berkata-kata. Ada yang kembali menyalakan mesin motornya, ada yang memilih untuk berlari meninggalkan tempat tersebut. 
“Ini Kalimantan. Harusnya nggak ada macan. Apalagi macan putih sebesar ini,” ucap salah seorang pria yang masih bertahan di sana. Sebab, ia mengengkol sepeda motornya berkali-kali, tapi tak mau menyala.
 Perasaannya semakin tak karuan saat ia mencoba memejamkan mata dan membukanya kembali. Ia pikir, makhluk aneh itu akan segera pergi. Tapi hasilnya tidak seperti yang dia inginkan. Harimau putih yang ukurannya lebih besar dari bangunan pos ronda itu masih berdiri di sana. 
“Aargh ...!” pria itu memilih untuk berlari secepat mungkin. Ia menyadari jika makhluk ghaib itu mengejar dirinya. Membuatnya sangat ketakutan dan kehilangan kendali. Teriakannya berakhir saat tubuhnya melompat ke sungai dan ditelan oleh derasnya arus sungai tersebut. 

((Bersambung...)) 




Friday, July 10, 2026

Pendamping Nakal Bab 6 : Kematian Galang

Bab 6 
Kematian Galang

“Ran, sudah dua kali kamu terluka seperti ini. Mama akan buat laporan ke polisi,” ucap Mama Rania setelah ia selesai memasangkan perban di tangan Rania. 
Rania mengangguk. Sebenarnya, ia juga sempat ingin melaporkan Sarah ke kantor polisi saat wanita itu melukai jemari tangannya. Tapi, Sarah sudah meninggal lebih dahulu. 
“Mama juga akan ke sekolahmu. Sekolahmu nggak lagi aman. Ini bukan cuma kasus bullying, tapi sudah masuk kriminal,” ucap Mama Rania lagi. 
Rania terdiam mendengar ucapan mamanya. 
“Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu? Kenapa kamu punya banyak musuh?” tanya Mama Rania penasaran. 
“Aku cuma menulis berita dengan jujur,” jawab Rania lirih. 
Mama Rania menghela napas pelan. “Papa kamu juga jurnalis. Dia bahkan jarang pulang karena harus keliling Indonesia mencari berita. Tapi, dia tidak pernah mengalami kekerasan seperti kamu.”
“Mama yakin kalau Papa nggak pernah dapet intimidasi atau kekerasan?” tanya Rania. 
Mama Rania terdiam. Suaminya lebih sering berada di luar kota daripada di rumah. Jadi, ia tidak tahu persis apa yang terjadi di luar sana saat suaminya sedang bertugas. 
Rania segera bangkit dan masuk ke dalam kamar. Ada banyak buku, majalah dan tulisan-tulisan sang ayah yang tidak berhenti ditulis.


***

Keesokan harinya, Rania melangkahkan kaki menuju kantor polisi terdekat untuk melaporkan perbuatan Galang, termasuk isi chat di ponsel Sarah. 
Belum sampai masuk ke kantor polisi, matanya tertuju pada sepeda motor CBR warna hitam-merah yang tidak asing lagi baginya. Sepeda motor itu sangat mirip dengan sepeda motor milik Galang. Tapi kondisinya tidak baik-baik saja, terlihat ringsek di beberapa bagian. 
Rania menepis prasangka buruk dalam hatinya dan segera masuk ke kantor polisi untuk membuat laporan.
30 menit kemudian... 
“Mohon maaf, laporan Anda tidak bisa kami proses karena pihak terlspor sudah meninggal dunia,” ucap seorang polisi wanita sambil menghampiri Rania kembali. 
“Meninggal? Nggak mungkin! Dia baru saja menusuk tanganku malam tadi,” ucap Rania. 
“Anda melaporkan kejadiannya sekitar pukul 19.30 WITA. Dia mengalami kecelakaan pukul 22.00 WITA dan langsung meninggal di tempat,” ucap polisi wanita tersebut. 
“Ibu yakin? Nggak salah orang?” tanya Rania lagi. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada Galang. 
Polisi wanita itu mengangguk. “Foto yang kamu kirimkan, sama persis dengan foto korban. Ciri-ciri kendaraan dan nomor polisinya juga sama persis. Kamu bisa cek di luar. Kendaraan korban masih ada di halaman kantor kami.”
Rania tak banyak bertanya lagi. Ia segera melangkah keluar dan menghampiri sepeda motor yang dimaksud oleh polisi wanita tersebut. “Beneran motor punya Galang,” gumamnya. 
TING! 
Tiba-tiba notifikasi grup Mading masuk ke ponsel Rania.
Tia : Udah lihat kabar terbaru yang lagi heboh? 
Nanda : Apaan? 
Tia : Galang meninggal kecelakaan. [Send; Link berita]
Rania langsung membuka beberapa link berita yang dikirim oleh Tia. Di sana, ia bisa melihat dengan jelas kalau Galang mengalami kecelakaan dan terlindas oleh mobil Fuso bermuatan. 
Tia : Infonya, badannya hancur. Tangan kanannya terpisah dari tubuhnya. 
Nanda : Serius? Mengenaskan banget? 
Tia : Iya. Kasihan juga, sih. 
Nanda : Kamu nggak ada foto-foto korban? 
Tia : Belum dapet, Nan. 
Rido : [Sending 15 photo]
Rania menutup mulut saat membuka foto-foto yang dikirimkan oleh Rido. Entah bagaimana cara Rido mendapatkannya. Tapi dia selalu punya bukti-bukti foto korban kecelakaan. 
Tia : Kami dapet foto-foto ini dari mana, Do?
Rido : Abangku dokter forensik. Kebetulan, dia yang nangani kasus ini. Aku retas hape dia. Jangan disebarkan fotonya! Kalau ketahuan, aku bisa dibunuh sama Abangku.
Tia : Aman. 
Nanda : Aman, Do. Kita tahu batasan privasi orang lain. 
Rania hanya sibuk membaca chat di grup. Ia tidak merespon sama sekali pembicaraan teman-temannya. 
Tia : Rania read doang. Lagi sibuk, Ran? 
Rania menghela napas. Akhirnya, Tia menyenggol namanya karena ia tidak ikut bergabung dalam pembicaraan. 
Rania memotret lengannya yang sudah terbungkus perban dan mengirimkan ke grup Mading.
Rania : Sebelum kecelakaan, Galang nusuk tanganku. Aku emosi banget n sumpahin dia mati. Eh, mati beneran. 
Hening. 
Tidak ada satu pun anggota grup yang membalas chat Rania meski semua sudah membaca chat tersebut. 
Rania menghela napas. Ia segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di parkiran dan segera meninggalkan kantor polisi tersebut. 

***

Tia, Rido dan Nanda berkumpul di ruang mading usai jam pulang sekolah. Sedangkan Rania masih istirahat di rumah untuk memulihkan tangannya yang terluka.
“Do, kamu ngerasa ada yang aneh sama kematian Sarah dan Galang?” tanya Tia sambil memilah-milah foto yang akan digunakan sebagai artikel mading minggu ini. 
“Iya, aneh. Mereka sama-sama mati dengan cara mengenaskan,” jawab Rido santai sambil menatap layar laptopnya. 
“Dan semuanya berhubungan sama Rania,” sahut Tia. 
Rido dan Nanda saling pandang mendengar ucapan terakhir Tia. 
“Maksud kamu ... Rania yang bunuh mereka?” tanya Nanda. 
“Nggak mungkin. Mereka meninggal kecelakaan,” jawab Rido. 
“Terus, apa maksud Tia? Apa hubungannya sama Rania?” tanya Nanda lagi. “Nggak ada, kan?”
Tia menghela napas sambil menatap wajah Nanda. “Kalian pernah dengar atau baca artikel tentang seseorang yang dijuluki ‘Si Pahit Lidah’?”
Rido dan Nanda menggeleng bersamaan. 
Tia menghela napas kembali. “Sudahlah. Mungkin aku yang berpikir berlebihan. Mungkin ... cuma kebetulan aja.”
“Kamu kebanyakan nonton film horor, Ti. Mana mungkin Rania yang bunuh mereka,” ucap Nanda. 
Tia mengangguk. 
“Tapi ... ada banyak probability yang bisa terjadi. Bisa juga si Rania dendam karena dilukai. Dia bayar orang buat celakai Sarah dan Galang,” ucap Rido. 
“Ini lagi ... kebanyakan nonton sinetron!” sambar Nanda. 
Tia bergeming sambil menggigit bibir bawahnya. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Rania bisa jadi pelaku dan juga tidak. Pikirannya mulai liar karena kematian Sarah dan Galang hampir mirip. Mereka sama-sama mati mengenaskan setelah melukai Rania. 
Rido terkekeh. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan agar topik tentang Rania tidak menjadi bola liar yang lari ke mana-mana. Tapi tak bisa dipungkiri jika pikirannya sudah bergerak liar. Ia juga sangat khawatir jika Rania terlibat dalam kematian Sarah dan Galang. Mungkinkah selama ini Rania menyembunyikan sesuatu dari mereka? 
Nanda juga memiliki pemikiran yang sama. Meski ia selalu berusaha menepisnya. Ia percaya kalau Rania adalah gadis baik. Tidak mungkin Rania terlibat dalam kasus pembunuhan. Apalagi semuanya sudah jelas kalau Sarah dan Galang meninggal karena kecelakaan, bukan karena pembunuhan. 

***

Di saat bersamaan... 
Rania menatap layar laptopnya. Ia memperhatikan foto-foto kematian Sarah dan Galang yang tersimpan di sana. Keduanya meninggal dalam keadaan yang mengenaskan. 
“Kenapa mereka meninggal setelah berantem sama aku?” tanya Rania pada dirinya sendiri. 
Rania terus memikirkan kematian Sarah dan Galang yang terjadi secara kebetulan. Ia merasa keinginannya bisa terkabulkan. Di satu sisi ia merasa senang karena orang-orang yang mencelakainya bisa pergi dari dunia ini untuk selamanya. Tapi di sisi lain, ia merasa iba karena keduanya harus meninggal di usia yang masih sangat muda dan nasib akhirnya begitu mengenaskan. 







Pendamping Nakal Bab 5 : Bukti yang Tersisa

Bab 5 – Bukti yang Tersisa

Jarum jam di dinding ruang mading menunjukkan pukul empat sore tepat ketika Rania membuka pintu.
Rido, Tia, dan Nanda yang sudah menunggu langsung berdiri.
"Ada apa, Ran? Mukamu pucat banget," tanya Tia.
Rania tidak menjawab. Ia hanya menyingkap sedikit kerah bajunya.
Bekas jari berwarna kemerahan masih membekas jelas di lehernya.
"Astaga...!" Tia spontan menutup mulutnya.
"Galang?" tanya Nanda. 
Rania mengangguk pelan.
"Dia tahu aku ngambil sesuatu dari tasnya."
Suasana ruang mading mendadak sunyi.
Perlahan Rania mengeluarkan sebuah ponsel putih dari dalam tas.
Gantungan bunga matahari itu masih tergantung di sudut casing.
Nanda langsung mengenalinya.
"Itu... HP Sarah, kan?"
"Iya."
Rania meletakkannya di atas meja.
"Galang rela membunuhku demi HP ini. Aku rasa, ada rahasia besar di dalamnya. Tapi aku nggak bisa buka hape ini karena pakai sandi,” ucap Rania. 
Rido langsung mengerti maksud Rania, ia menarik laptop dari dalam tasnya.
"Biar aku coba!"
“Hati-hati, Do! Jangan sampai datanya hilang," pesan Rania.
Rido mengangguk. "Aku bukan hacker hebat, tapi aku coba semampuku."
Rido mengeluarkan kabel data dan mulai menyambungkan ponsel Sarah ke laptopnya.
Beberapa menit berlalu.
Sesekali Rido menggeleng.
"PIN-nya nggak bisa ditembus."
"Tuh, kan..." gumam Nanda kecewa.
"Tapi..." Jari Rido berhenti mengetik.
"Laptopku mendeteksi kalau HP ini pernah melakukan sinkronisasi otomatis."
"Maksudnya?" tanya Tia.
"Kalau aku beruntung..."
Beberapa detik kemudian...
Layar laptop berkedip.
Sebuah folder muncul.
Backup WhatsApp – Sarah
"Nah!"
Semua spontan mendekat.
"Isinya masih ada?" tanya Rania.
Rido membuka folder itu. Ratusan percakapan bermunculan. Sebagian besar biasa saja. Obrolan dengan teman kelas. Grup sekolah. Keluarga.
Namun satu nama langsung menarik perhatian. Galang.
Ruangan mendadak hening.
Rania menelan ludah. "Buka!"
Rido mengklik percakapan itu.
Pesan-pesan terakhir muncul di layar.
Sarah: Aku nggak kuat terus-terusan nyembunyiin kehamilan ini.
Tak seorang pun bersuara.
Rido menggulir layar perlahan.
Galang: Diam. Jangan cerita ke siapa pun! 
Pesan berikutnya.
Sarah: Rania mulai curiga.
Lalu balasan Galang. “Kalau dia terus ikut campur, bikin aja semua orang nganggep dia gila. Biar nggak ada yang percaya sama tulisan ataupun omongannya!”
Tangan Rania mulai gemetar.
Masih ada pesan lain.
Sarah: Aku takut.
Galang: Aku yang urus. Setelah Rania selesai, tinggal kita berdua yang tahu semuanya.
Nanda mundur selangkah.
"Itu... maksudnya apa?"
Tak ada yang menjawab. Mereka terus membaca.
Pesan terakhir dikirim sehari sebelum Sarah meninggal.
Sarah: Aku kesel sama Rania karena dia sering banget posting berita sesukanya. Dia pikir, dia itu hebat? Bisa nggak, kamu musnahin aja cewek satu itu biar nggak ngeribetin hidupku? Aku pengen dia cepet-cepet mati!
Rania, Rido, Nanda dan Tia saling pandang. 
“Ran, Sarah bukan cuma melukai kamu. Tapi dia juga pengen kamu mati,” ucap Tia. 
Rania duduk terdiam sambil menggigiti ujung kuku tangannya. Sepertinya, Galang memang sudah mengincar nyawanya sejak Sarah masih hidup. 
“Apa kita semua bakal tetep aman? Mereka pengen kita bungkam,” tanya Nanda. “Kita nulis berita yang aman-aman aja, deh!”
Rania menggeleng. “Nggak bisa, Nan! Nggak boleh! Kita menulis berita harus jujur dan apa adanya. Nggak boleh menyembunyikan apa pun. Bukan tugas kita menyembunyikan aib orang lain. Itu tugas mereka sendiri! Baik dan buruknya seseorang, kita tulis apa adanya.”
“Bener, Ran!” sahut Rido menambahkan. “Kita harus berpegang teguh pada kejujuran dan integritas. Meski kita masih muda dan sering diremehkan, ini waktu yang tepat buat kita belajar lebih dari yang lain. Termasuk mempelajari tentang kehidupan.”
“Terus, apa yang harus kita lakuin setelah ini?” tanya Nanda.
“Kita makan-makan...!” seru Tia ceria. 
“Selesaikan dulu artikel untuk majalah sekolah minggu ini!” pinta Rania. “Nanti aku traktir kalian.”
Tia, Rido dan Nanda saling pandang sambil menyunggingkan senyuman. 
“Fokus dulu ke kasus Sarah dan Galang!” pinta Rania. 
“Sebenarnya, kita nggak perlu banyak ikut campur soal kematian Sarah. Udah ditangani sama polisi, Ran. Kita main aman aja, deh!” ucap Nanda lagi. 
“Memangnya ada polisi yang bisa dipercaya buat nyelidiki kasus?” tanya Rania. “Kalau buat ngehilangin kasus, baru ada.”
Rido tertawa kecil menanggapi ucapan Rania. 
Kini mereka mengerti mengapa Galang begitu panik kehilangan ponsel itu.
"Kita harus simpan semua bukti ini,” pinta Rania. 
Rido mengangguk. Ia menyalin seluruh isi percakapan ke dalam laptop dan sebuah flashdisk.
"Kalau HP ini hilang lagi, kita masih punya cadangan."
Tanpa terasa, langit di luar mulai gelap. Jam menunjukkan pukul tujuh malam.
"Ayo, kita pulang!” ajak Rania sambil memasukkan ponsel Sarah kembali ke dalam tas.
Tia, Rido, dan Nanda mengangguk bersamaan. Mereka segera merapikan meja kerja masing-masing dan bersiap untuk pulang ke rumah. 
Rania mengendarai sepeda motornya seperti biasa bersama ketiga temannya. Begitu keluar dari gang masuk sekolah, mereka semua berpisah karena arah rumah mereka berbeda-beda. 
Rania sempat berhenti di SPBU untuk mengisi bensin. Ia tidak ingin berangkat ke sekolah terburu-buru dan masih harus mencari bensin di pagi hari. 
Rania tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan. 
Rania melajukan kembali sepeda motornya menuju kawasan perumahan elit di Balikpapan Regency. 
Jalanan tampak lengang. Dikawasan itu, tak pernah ramai kendaraan. Sehingga tidak pernah ada kata macet. 
Tiin.. Tiin ...! 
Suara klakson mengalihkan perhatian Rania. Ia langsung menoleh ke arah sumber suara. Dari jenis dan warna sepeda motor yang digunakan, ia langsung tahu kalau cowok yang kini sudah berada di sampingnya itu adalah Galang. 
“Berhenti atau kutendang motormu!” teriak Galang sambil berusaha menjejak sepeda motor Rania dengan kakinya. 
Rania langsung menepikan sepeda motornya perlahan. “Kamu mau apa?” tanyanya. 
Galang tersenyum sinis sambil menghampiri Rania begitu ia turun dari sepeda motornya. Ia langsung mengeluarkan sebilah pisau yang ia simpan dari balik jaketnya dan menghunuskan ke arah Rania. 
Rania spontan melangkah mundur saat melihat kilau cahaya dari benda tajam yang digenggam Galang.
“Serahin hape itu ke aku!” pinta Galang lembut dengan senyum penuh kebencian. 
Rania menggeleng. “Aku nggak tahu apa yang kamu maksud,” ucapnya. 
“Kamu kira aku bodoh, hah!?” sentak Galang sambil menghunuskan ujung pisaunya ke leher Rania. “Aku punya banyak mata-mata di kota ini. Kamu nggak akan bisa ngelawan aku!”
Rania terdiam. Ia berusaha menelan saliva dengan susah payah saat ujung pisau itu tepat menempel di lehernya.
Galang langsung merebut tas yang ada di tubuh Rania. Ia langsung membalikkan tas tersebut dan semua isinya berserakan di lantai jalanan. Matanya langsung tertuju pada ponsel Sarah yang tergeletak di sana. 
Galang tersenyun miring. “Ini yang kamu bilang nggak tahu?” tanyanya. Ia segera meraih ponsel tersebut dan memasukkan ke dalam saku jasnya. 
Rania bergeming. 
“Aku sudah peringatkan kamu berkali-kali. Jangan campuri urusanku kalau masih sayang sama nyawamu!” ucap Galang menahan amarah di dalam dadanya. 
Galang langsung menarik lengan kiri Rania dan menekankan ujung pisau ke lengan gadis itu hingga cairan merah segar mengucur dari lengan Rania. 
“Aargh ...!” teriak Rania menahan sakit. 
“Ini baru peringatan buat kamu. Kalau sampai kamu masih ikut campur urusanku, kamu nggak akan selamat!”
“Brengsek kamu!” umpat Rania sambil menggenggam lengan kirinya agar darah tidak mengucur semakin deras. “Kami sama Sarah itu sama aja. Sama-sama nggak punya hati!”
Galang tertawa mendengar ucapan Rania. “Aku memang nggak punya hati. Makanya, kamu harus hati-hati!”
Rania menatap tajam ke arah Galang sambil menahan rasa sakit. “Aku nggak ikhlas kamu lukai seperti ini. Kusumpahin hidupmu sial terus!”
“Hahaha.” Galang tergelak mendengar ucapan Rania. “Makan aja sumpahmu yang nggak berguna itu!” ucapnya. Ia langsung berbalik, menaiki motor dan pergi meninggalkan Rania begitu saja. 
“Aaargh...!” Rania menahan amarah yang sudah membakar dadanya. Bagi seorang penulis dan jurnalis, tangan adalah bagian paling penting. Sarah dan Galang benar-benar berniat membuatnya berhenti menulis.
“MATI AJA KAMU!” teriak Rania yang tak lagi mampu mengendalikan emosinya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di lantai. Ia segera menghubungi orang rumah agar menjemputnya. Sebab, ia tidak bisa lagi mengendarai sepeda motor dengan kondisi lengannya yang terluka. 


(Bersambung...)

Pendamping Nakal Bab 4 : Rahasia yang Tak Ikut Terkubur

Bab 4 – Rahasia yang Tak Ikut Terkubur

Malam itu, langit Balikpapan masih menggantungkan awan gelap. Jalanan yang mengarah ke kawasan Kilometer 24 tampak lengang. Hanya suara jangkrik dan embusan angin yang sesekali menggoyangkan daun-daun kelapa sawit.

Di dalam mobil, Rania memandang ke arah jalan yang mulai ditinggalkan Galang.

"Lanjut, Pak. Tapi jangan terlalu dekat!" pintanya kepada sopir.

"Siap, Neng!"

Mobil kembali bergerak perlahan.

Rania mengepalkan jemarinya. Ia tahu, kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali.

***

Galang menghentikan motornya di depan sebuah minimarket. Ia masuk beberapa menit untuk membeli air mineral.

Begitu Galang menghilang di balik pintu kaca, Rania segera membuka pintu mobil.

"Aku cuma sebentar."

Ia berlari kecil menuju motor Galang yang masih terparkir di depan minimarket.

Ransel hitam itu masih menggantung di jok belakang.

Rania menarik resletingnya perlahan.

Kotak kecil yang tadi dilihatnya melalui lalat pengintai masih berada di dalam.

"Ketemu..."

Tangannya sedikit gemetar.

Ia membuka kotak itu.

Sebuah ponsel berwarna putih dengan sudut yang retak terlihat di dalamnya.

Rania langsung mengenali gantungan kecil berbentuk bunga matahari yang masih menempel di casing.

"Ini... ponselnya Sarah."

Ia pernah melihat gantungan itu berkali-kali saat Sarah sibuk bermain ponsel di sekolah.

Tanpa berpikir panjang, Rania memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya.

Lalu ia mengambil sebuah batu seukuran ponsel, membungkusnya dengan kain bekas, kemudian memasukkannya kembali ke dalam kotak.

Kotak itu ditutup rapat dan dikembalikan ke posisi semula.

Tidak ada yang tampak berubah.

Rania buru-buru kembali masuk ke mobil.

"Tolong jalan, Pak!"

Mobil melaju meninggalkan minimarket tepat ketika Galang keluar sambil membawa sebotol air mineral.

***

Malam semakin larut.

Sesampainya di rumah, Rania langsung mengunci pintu kamar.

Ia mengeluarkan ponsel milik Sarah.

Layar ponsel itu mati total.

"Apa baterainya habis?"

Rania mencari kabel pengisi daya yang kebetulan cocok.

Beberapa detik kemudian...

Logo ponsel menyala.

"Syukurlah..."

Namun sebelum layar utama muncul, permintaan PIN langsung memenuhi layar.

Rania mengembuskan napas panjang.

"Masih dikunci..."

Ia mencoba tanggal lahir Sarah.

Salah.

Nama sekolah.

Salah.

Tanggal kematian.

Salah.

Ponsel itu menampilkan tulisan:

Kesempatan tersisa: 7 kali.

Rania mengurungkan niatnya.

"Jangan gegaba!" Ia mematikan kembali layar ponsel. "Kalau sampai terkunci permanen, malah kacau. Tapi, ada Rido yang jago teknologi. Sepertinya, mudah buat dia buka ponsel ini. Besok aja, deh." Ia memasukkan ponsel itu ke dalam laci meja belajarnya.

***

Keesokan harinya.

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Rania berjalan sendirian menuju parkiran. Belum sempat ia mengambil helm, sebuah tangan menahan stang motornya.

Galang.

Tatapan matanya jauh lebih dingin dibanding pertemuan mereka sebelumnya.

"Aku mau ngobrol!"

"Aku lagi buru-buru."

"Aku nggak tanya!"

Rania menatap lurus ke arah Galang.

"Ada apa?"

Galang melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa puluh sentimeter.

"Kamu ngikutin aku kemarin."

Rania terdiam. "Ngikutin?" tanyanya santai.

"Jangan pura-pura!"

"Aku nggak ngerti maksudmu."

Galang tersenyum tipis. "Mobil hitam itu udah dua kali aku lihat di kaca spion. Mobilmu, kan?"

Jantung Rania berdetak lebih cepat. Namun wajahnya tetap tenang. "Mungkin cuma kebetulan aja jalan kita searah."

"Kebetulan?" Galang tertawa pelan. "Kebetulan kamu berhenti waktu aku berhenti. Kebetulan kamu ada di Kilometer Dua Empat?"

"Aku ke Kilometer Dua Empat karena mau ke rumah saudaraku. Emang kamu ke sana juga? Aku nggak lihat!" sahut Rania. 

"Oh, ya? Kebetulan juga setelah itu ada orang yang buka tasku."

Rania mengedikkan bahu dengan santai. "Apa hubungannya orang itu sama aku?"

Galang kini menatap geram ke arah Rania. Ia sangat kesal dengan wajah Rania yang begitu santai dan tidak merasa bersalah sama sekali. Ia yakin, gadis yang membuka ranselnya di parkiran adalah Rania. Meski gadis itu memakai masker dan topi, tapi postur tubuh Rania bisa ia kenali. Terlebih, ransel yang dipakai Rania sama persis dengan ransel milik gadis itu. 

"Jangan pernah ikut campur urusanku!" Suara Galang berubah pelan. Justru karena pelan, ancamannya terdengar lebih mengerikan.

"Kalau rahasiaku sampai terbongkar..." Ia mencondongkan wajahnya. "Aku bakal bunuh kamu!"

Hening.

Suara burung di halaman sekolah seperti ikut menghilang.

Rania menatap balik tanpa mundur sedikit pun.

"Kamu lagi ngancam aku?"

"Bukan." Galang tersenyum tipis. "Aku cuma ngasih tahu apa yang bakal terjadi." Ia menepuk pelan pundak Rania.

"Kamu nggak bisa main tuduh tanpa bukti. Kalau kamu nggak bisa buktikan itu aku, maka jangan ganggu!"  pinta Rania. 
"Kamu pikir aku nggak punya bukti? Di sana ada CCTV. Kamu lupa?" sahut Galang sambil tersenyum sinis. 

Rania terdiam. Kali ini ia tidak memiliki alibi untuk membantah ucapan Galang. 

"Mana hape yang kamu ambil?" tanyanya. 

Rania mengedikkan bahu. "Aku nggak tahu."

Galang langsung menyambar leher Rania dan mencengkeramnya dengan erat. 

"Kalau hape itu nggak kembali ke tanganku dalam waktu 24 jam, aku ambil nyawamu!" ancamnya. 

Rania terdiam. Ia hanya menahan rasa sakit di lehernya karena cengkeraman Galang semakin kuat. "Lepasin!" pintanya lirih sambil berusaha menepis tangan Galang yang kokoh. 

"Hei ...! Jangan kasar sama cewek!" seru Rido sambil mendorong tubuh Galang agar berhenti mencekik Rania. 

Galang tersenyum sinis. "Anak Mading sialan!" umpatnya sambil meludah ke tanah.

"Kalau sampai ada berita tentang aku, kalian semua nggak akan selamat! "

Rania menarik napas dalam-dalam sambil memegangi lehernya yang terasa nyeri. Cengkeraman tangan Galang membekas jelas di kulit Rania yang putih. 

Galang melangkah pergi dengan perasaan tak karuan. Ia sangat kesal karena Rania tak mau mengakui perbuatannya. Sementara, ia sangat membutuhkan ponsel Sarah. Jika sampai ada orang yang bisa membuka ponsel itu, seluruh hidupnya akan habis. Ia tahu, Sarah pasti belum menghapus isi chat-nya sebelum dia meninggal. 

"Galang brengsek!" umpat Rania yang masih menahanbrasa sesak. 
"Sabar, Ran! Lagian dia berani banget giniin kamu di sekolah saat lagi rame kayak gini. Gimana kalau dinluar sekolah?" ucap Rido. 
"Kalau dia sampai sepanik ini, artinya ada rahasia besar yang dia sembunyikan," ucap Rania pelan. 
"Emangnya ada masalah apa antara kamu sama Galang?" tanya Rido. 
"Nanti aku ceritain! Ajak anak-anak ngumpul di ruang mading jam empat sore! Aku pulang dulu. Ada hal penting yang mau aku tunjukkan ke kalian. Jangan lupa bawa perlengkapan IT kamu! Aku perlu bantuanmu," ucap Rania. 
Rido mengangguk sambil menahan senyum di bibirnya. Ia merasa sangat bahagia ketika kemampuannya dibutuhkan oleh Rania. Dia bisa sembari belajar dan mengasah kemampuannya sebagai hacker. 


((Bersambung...))

Tuesday, June 30, 2026

Partner Kondangan Bab 12 : Be Wife (TAMAT)

 



Alluna menatap cincin yang melingkar di jemari manisnya sambil tersenyum. Akhirnya, ia resmi menjadi tunangan Evan Noah. Cowok yang sudah lama mendampingi hari-harinya. Bukan hanya tentang bagaimana mencintai dalam suka dan duka. Tapi, mereka juga merasakan jatuh bangunnya membangun sebuah usaha untuk masa depan mereka dan anak-anak mereka kelak.

“Permisi, Bu ...,” sapa salah satu karyawan Alluna sembari membuka pintu ruang kerja Alluna.

“Ya. Masuk!”

“Ini desain terbaru yang ibu minta,” ucapnya sambil membawa box transparan yang berisi beberapa desain sepatu terbaru.

“Oke. Taruh di meja, ya!” pinta Alluna. Ia langsung meraih ponsel yang tiba-tiba berbunyi. “Hallo... Kak Daren apa kabar?” tanya Alluna dengan wajah sumringah.

“Baik, kamu di mana?” tanya Daren dari ujung telepon.

“Di Galleri, Kak. Kakak kapan pulang?”

“Masih banyak kerjaan di sini. Minggu depan bisa ke sini?”

“Hah!? Ke Singapura? Ngapain?”

“Ada, deh. Pokoknya lo harus dateng bareng Evan!” tegas Daren.

“Evan? Dia lagi sibuk banget sekarang. Besok dia berangkat ke Papua.”

“Ngapain dia ke Papua?”

“Buka cabang perusahaan baru di sana.”

“Yaelah, dia kan bos. Ntar gue telpon dia, deh. Dia bisa aja ninggalin kerjaannya sehari dua hari doang. Anak buahnya kan banyak.”

“Yah, ntar gue coba ngomong sama dia. Penting banget emang?” tanya Alluna.

“Penting! Ini tentang masa depan kalian,” tegas Daren.

Alluna menghela napas. “Sejak kapan lo mikirin masa depan kita?”

“Udah, deh. Nggak usah ngajak berantem! Pokoknya, tanggal 17 lo udah harus di sini. Sore ini, Mama sama Papa sampe ke Singapura.”

“Ada apa, sih? Kok, lo sampe nyuruh Mama sama Papa ke sana? Lo nggak sakit keras, kan?”

“GUE LAGI SAKIT KERAS! Dan lo nggak peduli, hah?”

“Kak ... serius, deh. Ada apa?”

“Pokoknya lo harus ke sini. Kalo enggak, lo bakal nyesal seumur hidup!” tegas Daren langsung memutuskan sambungan telepon.

“Kak ...!” Alluna memandang layar ponselnya yang menunjukkan kalau panggilannya sudah berakhir.

Alluna menarik sweeter yang tergantung di kursi kerjanya. Ia bergegas keluar untuk menemui Evan secepat mungkin.

“Eh, Van? Kebetulan banget kamu ke sini,” ucap Alluna yang melihat Evan datang saat ia akan keluar dari Galleri.

“Kenapa?” tanya Evan bingung.

“Daren barusan nelpon gue. Katanya, kita disuruh ke tempat dia minggu depan. Aku bener-bener khawatir, nih. Soalnya, Mama sama Papa juga disuruh ke sana sama dia. Aku takut dia kenapa-kenapa. Gimana kalau kita nyusul Mama dan Papa aku juga sore ini ke Singapura?” cerocos Alluna.

Evan tertawa kecil melihat sikap Alluna yang terlihat panik.

“Kok, ketawa?” dengus Alluna kesal.

“Aku udah tahu. Kita ke sana kalo aku udah balik dari Papua,” jawab Evan sambil tersenyum, tangannya menyentuh pundak Alluna agar cewek kesayangannya itu bisa menjadi lebih tenang.

“Di Papua berapa hari?” tanya Alluna.

“Lima hari.”

“Lama banget.”

“Kenapa? Kamu nggak tahan kangen?”

“Kamu sendiri?”

“Nggak tahan, sih. Gimana kalau kamu ikut aja ke Papua?”

“Ngapain di sana? Kamu kerja.”

“Aku kerja, kamu bisa jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Papua.”

“Nggak, ah. Masa kamu kerja, aku jalan-jalan sendirian. Nggak asyik banget!”

“Hehehe ... jadi, nggak mau?”

Alluna menggeleng.

“Tapi ... kalo aku ajak makan siang, mau?” tanya Evan sembari menyodorkan wajahnya.

Alluna tersenyum kecil sembari menganggukkan kepalanya. Evan langsung menggandengnya keluar dari Galleri, menuju restoran favorite mereka.

***

Alluna tidak menyangka kalau ia akan mendapat kejutan istimewa dari kakaknya di Singapura. Diam-diam, Daren memboyong kedua orang tua dan keluarga kecilnya untuk melakukan sebuah prosesi lamaran di Singapura. Alluna bahkan tidak pernah tahu siapa pacar kakaknya. Tiba-tiba saja, Daren langsung meminta kedua orang tuanya untuk melamar gadis pujaan hatinya. Gadis asal Indonesia yang tinggal menetap di Singapura.

“Kenalin, dia Selena. Calon kakak ipar kamu,” tutur Daren usai melangsungkan prosesi lamaran yang hanya dihadiri oleh keluarga saja.

Selena mengulurkan tangannya sembari tersenyum dan langsung dibalas oleh Alluna. “Alluna,” ucap Alluna menyebutkan namanya.

“Nama yang cantik, sama seperti orangnya,” puji Selena.

“Ini tunangan Alluna.” Daren menunjuk Evan yang berdiri di samping Alluna.

“Oh ya? Jadi, mereka udah lebih dulu tunangan?” tanya Selena.

“Iya, pacaran dari SMA sampe sekarang. Tapi, mereka nggak akan menikah sebelum kita menikah,” bisik Daren.

“Oh, ya? Why?”

Alluna dan Evan saling pandang sambil tersenyum kecut.

“Kita nikah tiga tahun lagi. Nggak sabar gue,” celetuk Daren.

Alluna membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan Daren. “What!? Tiga tahun?” batinnya dalam hati.

“Sayang, kamu nggak boleh gitu sama adik kamu sendiri.” Selena melirik tajam ke arah Daren. “Yang bener, tiga bulan lagi,” bisik Selena sembari menyondongkan wajahnya ke wajah Alluna.

Mata Alluna berbinar mendengar ucapan Selena. Ia menatap Evan yang juga tersenyum bahagia. Evan merengkuh bahu Alluna dengan lembut sembari tersenyum menatap Daren. “Kasih tahu gue WO yang recomended banget menurut kalian!”

“Asyiaap!”

Pada akhirnya, semua orang pasti akan menikah. Hanya waktu saja yang membuat mereka berada di tempat dan cara yang berbeda.

Sebagian orang takut dengan pertanyaan “Kapan nikah?” karena berpikir dirinya adalah bagian dari orang yang tidak laku, tepatnya belum laku-laku. Tapi, sebagian lagi merasa bangga dengan pertanyaan tersebut karena mereka punya waktu menata masa depan mereka dengan baik. Sebab cinta adalah tentang bagaimana berjuang bersama, bukan membuat dia berjuang sendiri untuk kita.

Alluna memilih tetap bertahan dengan komitmennya untuk tidak menikah muda. Bukan karena dia tidak siap menjadi seorang ibu di usia muda. Dia hanya tidak siap jika tidak bisa memberikan masa depan yang baik untuk anak-anaknya kelak. 

Sebab menikah bukan hanya soal aku cinta kamu dan kamu cinta aku. Menikah bukan soal bagaimana kita bisa hidup bersama selamanya. Ada hal lain yang akan kita perjuangkan, yakni masa depan anak-anak ... masa depan buah cintanya.

Alluna bukan hanya mencintai Evan, bukan hanya menerima kekurangan Evan saja. Dia juga harus mencintai keluarganya, menerima kelebihan dan kekurangan keluarganya. Begitu juga sebaliknya.

Menikah ... bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda, bukan hanya menyatukan dua hati yang saling mencintai. Menikah ... menyatukan dua keluarga yang berbeda untuk saling menyayangi dan melengkapi.

Alluna bahagia karena ia bisa mengenakan gaun pengantin bersama Evan, bukan sebagai model bayaran. Tapi, ia sungguhan memulai kehidupan barunya sebagai seorang istri. Istri dari seorang pria yang menyayangi dan mencintai dia apa adanya. Istri dari seorang pria yang tidak akan membiarkan dirinya terluka. Istri dari seorang pria yang telah berjuang memberikan masa depan yang baik untuk anak-anak mereka kelak.

“Terima kasih sudah menjadi wanita yang mencintai aku apa adanya. Yang menemani aku dalam suka dan duka. Yang selalu memberi maaf saat aku khilaf dan lupa. Yang selalu memberi aku semangat saat aku jatuh. Jadilah ibu terbaik untuk anak-anak kita!” ucap Evan lirih kemudian mengecup kening Alluna penuh kelembutan.

SELESAI ...

Terima kasih untuk kalian yang sudah berkenan membaca tulisanku ini. Semoga aku makin semangat menulis cerita-cerita terbaru.



Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas