Saturday, February 14, 2026

Dari Sampah jadi Solusi: Cover Printer dari Daur Ulang Kain Perca

 


Saat kita berbicara tentang masalah sampah, yang sering terlintas dalam pikiran adalah plastik atau kertas. Namun, ada satu jenis limbah yang sering terabaikan namun berdampak besar terhadap lingkungan, yakni limbah tekstil

Setiap tahunnya, jutaan ton kain dan pakaian dibuang di tempat pembuangan, sebagian besar akan tetap berada di sana selama bertahun-tahun karena sulit terurai secara alami. Sementara itu, sebagian besar industri tekstil menghasilkan sisa potongan kain atau kain perca yang sering dianggap tidak berguna dan berakhir sebagai sampah.


Limbah Kain adalah Masalah Lingkungan yang Sering Dilupakan

Kain perca berasal dari sisa produksi jahit-menjahit, konveksi, atau pabrik garmen — potongan kain yang tak lagi dipakai. Karena tak mudah terurai dan sering dibakar begitu saja, limbah ini berpotensi mencemari tanah, udara, dan bahkan memengaruhi kesehatan jika dibakar tanpa pengelolaan tepat.

Berbagai studi dan program komunitas menunjukkan kenyataan itu. Di banyak desa dan kota, masyarakat diajak untuk memberikan nilai pada sisa kain ini melalui pelatihan daur ulang — menjahitnya menjadi kerajinan seperti scrunchies, keset kaki, tas, atau aksesori fashion.

Melihat fakta tersebut, pertanyaan yang muncul adalah: apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikan limbah kain bukan beban, tapi aset?



Ide Inovatif: Cover Printer dari Kain Perca

Bayangkan sepintas produk sederhana seperti cover printer. Biasanya terbuat dari bahan sintetis atau plastik tipis yang justru menambah beban lingkungan setelah rusak. Namun kini, kamu bisa menggantinya dengan cover printer yang terbuat dari kain perca daur ulang — sebuah inovasi ramah lingkungan yang penuh nilai estetika dan fungsi.

Kenapa Menggunakan Cover Printer ini Penting?

  1. Mengurangi sampah tekstil
    Cover printer dari kain perca memberi second life pada kain sisa produksi tekstil yang seharusnya hanya jadi sampah. Daripada menumpuk atau dibakar, kain ini diolah menjadi produk fungsional.

  2. Menyalurkan ekonomi kreatif
    Produk seperti ini membuka peluang kerja bagi perajin lokal, terutama mereka yang sudah terlatih mengolah kain perca melalui proses daur ulang.

  3. Meningkatkan kesadaran lingkungan
    Ketika pengguna melihat produk yang cantik sekaligus ramah lingkungan, pesan tentang pentingnya daur ulang dan gaya hidup berkelanjutan ikut tersampaikan.



Inspirasi dan Berita Global tentang Limbah Tekstil

Masalah limbah tekstil bukan hanya terjadi di tingkat lokal saja — ini adalah fenomena global. Industri fashion dan tekstil besar merupakan salah satu kontributor utama limbah yang mencemari lingkungan dunia.

Contohnya, laporan dari dunia internasional mengungkap bahwa puluhan ribu ton pakaian bekas dari Eropa dan Amerika yang sesungguhnya tak layak pakai berujung di wilayah sensitif seperti lahan basah di Ghana. Ini menciptakan dampak serius pada ekosistem lokal sambil memperlihatkan bagaimana limbah tekstil global bergulir tanpa henti.

Di sisi lain, beberapa negara besar penghasil tekstil, seperti Bangladesh, kini didesak untuk meningkatkan sistem daur ulang sampah tekstilnya karena volume limbah yang sangat besar dan dampaknya terhadap lingkungan.

Seni, Fungsi, dan Lingkungan Berkelanjutan

Produk sederhana seperti cover printer dari kain perca daur ulang bukan hanya sekadar aksesori kantor yang menarik. Ia menjadi simbol bagaimana kreativitas dapat mengubah masalah menjadi peluang — mengurangi dampak lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Inovasi semacam ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan tak hanya soal besar atau teknologi canggih. Tapi juga bagaimana kita melihat kembali nilai dari apa yang selama ini dianggap “sampah” dan memberinya kehidupan baru yang lebih bermanfaat.



Referensi

Berikut sumber yang mendukung fakta dan pandangan dalam artikel ini:

  1. Textile recycling, Wikipedia — jumlah limbah tekstil global dan dampaknya terhadap lingkungan.

  2. Pemanfaatan limbah kain perca sebagai produk bernilai jual dan strateginya dalam pengelolaan limbah tekstil.

  3. Pelatihan dan program pengabdian masyarakat dalam daur ulang kain perca.

  4. Berita internasional tentang pakaian bekas yang mencemari lingkungan di Ghana.

  5. Tantangan besar pengelolaan limbah tekstil di negara penghasil teksil seperti Bangladesh. 






Mari dukung pemanfaatan limbah kain di Rumah Karya Rin Muna dengan membeli produk daur ulang ini supaya program pelestarian lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan. Tanpa dukungan dan peran dari masyarakat yang peduli terhadap lingkungan, program ini tidak akan berjalan dengan baik dan tidak akan mampu bertahan.
Silakan klik keranjang berikut ini untuk memberi dukungan dan memesan produk : 
























Perfect Hero Bab 453 : Pelukan Rindu

 


“Yan, sendirian aja?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya karena hanya menemukan sosok Riyan yang menunggunya di Terminal Kedatangan. Padahal, istrinya sudah mengatakan kalau akan menjemputnya di bandara.

 

“Sama Nyonya Muda dan Mbak Jheni juga,” jawab Riyan.

 

Chandra dan Yeriko mengedarkan pandangannya. Mereka celingukan mencari dua sosok gadis kesayangan mereka.

 

“Mereka di mana?” tanya Yeriko.

 

“Di toilet,” jawab Riyan sambil mengambil alih koper dari tangan Yeriko.

 

Yeriko menaikkan kedua alisnya.

 

“Dari tadi, Nyonya Muda uring-uringan nungguin Pak Bos. Katanya, dia nervous banget. Jadi, dia kebelet,” jelas Riyan.

 

Yeriko dan Chandra saling pandang, kemudian tertawa sambil menggeleng heran.

 

“Ada-ada aja,” celetuk Yeriko. Ia memilih untuk duduk di kursi tunggu, menunggu istrinya keluar dari toilet.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna dan Jheni muncul dari arah toilet.

 

“Yer, itu mereka!” tutur Chandra sambil menunjuk Yuna dan Jheni yang berjalan ke arah mereka.

 

“Jhen, mereka udah datang. Malah mereka yang jadinya nunggu kita,” tutur Yuna saat melihat Yeriko sudah duduk di kursi tunggu, tempat yang ia dan Jheni duduki sebelumnya.

 

“Kamu, sih. Lama banget di toilet,” sahut Jheni sambil mempercepat langkahnya.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia menatap Yeriko yang berdiri dan balik menatap dirinya. Ia langsung berlari dan menghambur ke pelukan suaminya.

 

Yeriko tersenyum sambil memeluk erat tubuh Yuna. Ia mengecup kepala Yuna beberapa kali. “Kangen?” tanyanya lirih.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Banget!”

 

“Kamu nggak mau peluk aku?” tanya Chandra sambil menatap Jheni.

 

“Mau dipeluk juga?” tanya Jheni balik.

 

Chandra menggelengkan kepala. “Nggak usah, dah!”

 

“Peluk, Jhen!” perintah Yuna sambil mendorong tubuh Jheni ke hadapan Chandra.

 

Chandra tertawa kecil, ia langsung menarik tubuh Jheni ke pelukannya. “Kamu nggak kangen sama aku?” bisiknya.

 

“Nggak,” jawab Jheni ketus.

 

“Kenapa? Masih marah?” tanya Chandra sambil mencubit dagu Jheni.

 

Jheni menggelengkan kepala sambil menggigit bibir bawahnya.

 

Yeriko dan Yuna masih tak melepas pelukannya walau mata mereka menatap ke arah Jheni dan Chandra.

 

“Huu ... gengsian!” seru Yuna sambil menoyor pundak Jheni.

 

“Apaan sih, Yun!?” sahut Jheni kesal.

 

“Udah, jangan ngambek terus!” pinta Chandra lembut.

 

“Kamu itu udah tahu salah. Minta maaf, kek!” seru Jheni kesal.

 

“Iya. Aku minta maaf.”

 

“Nah, gitu dong!” Jheni tersenyum sambil mengacak rambut Chandra.

 

Chandra langsung merangkul dan mengajak Jheni melangkah keluar menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu keluar bandara.

 

Yeriko dan Yuna saling pandang dan tersenyum melihat Jheni dan Chandra yang sudah kembali romantis.

 

“Jheni kenapa? Lagi PMS?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Entah. Dia marah-marah terus ke Chandra. Untungnya si Chandra sabar banget ngadepin Jheni.”

 

“Dia marah-marah kenapa?”

 

“Si Chandra itu jarang hubungi dia. Nggak pernah telepon, nggak video call. Cuma chat doang. Jheni ngambek.”

 

“Owalah, rindu yang tak tersampaikan?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Biar aja mereka saling mengobati rindu malam ini,” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Kamu nggak mau marah-marah sama aku?” tanya Yeriko.

 

“Marah kenapa?”

 

Yeriko menengadahkan kepalanya sambil memeluk kepala Yuna ke dadanya. “Mmh ... apa aku nggak usah menghubungi kamu selama seminggu supaya kamu kangen sama aku sampe marah-marah kayak Jheni juga?”

 

“Apaan, sih?” sahut Yuna sambil mencubit perut Yeriko. Ia menengadahkan kepalanya menatap dagu suaminya itu. “Kamu video call setiap hari aja aku masih kangen. Gimana kalo seminggu? Mau bikin aku mati keracunan rindu?” tanya Yuna.

 

Yeriko tertawa kecil. Ia mengecup bibir Yuna dan mengajaknya melangkah mengikuti Riyan yang sudah lebih dahulu membawakan koper ke mobilnya.

 

Yeriko terus memeluk tubuh Yuna saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Ia tak membiarkan Yuna berjarak dengannya sedikit pun.

 

“Gimana hasil kerjaan di Eropa selama seminggu ini?” tanya Yuna.

 

“Nggak seminggu, cuma empat hari.”

 

“Sama perjalanannya kan satu minggu,” sahut Yuna.

 

“Hehehe. Iya, sih. Semuanya berjalan dengan baik. Chandra selalu bisa diandalkan.”

 

“Oh. Jadi, kamu yang bikin si Chandra sibuk banget sampe nggak ada waktu buat nelepon Jheni?” tanya Yuna.

 

“Nggaklah. Emang dia yang inisiatif,” jawab Yeriko. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Yuna sambil membisikkan sesuatu.

 

“Serius?” tanya Yuna sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Kenapa dia selalu cuek sama Jheni?” tanya Yuna.

 

“Cuek itu bukan berarti nggak sayang. Ada hal yang harus diperjuangkan oleh seorang pria. Terutama harga dirinya. Chandra juga melakukan banyak hal untuk Jheni. Setiap orang, punya cara membahagiakan orang yang mereka cintai.”

 

“Kamu sendiri?” tanya Yuna.

 

“Aku?” tanya Yeriko sambil mengelus lembut perut Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Apa aku masih terlalu cuek sama kamu?” tanyanya.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia masih menyandarkan punggungnya di dada Yeriko. Tangannya memeluk lengan Yeriko yang sedang sibuk menimang-nimang anak dalam perut Yuna.

 

“Yun, apa pun hal yang kamu rasakan. Jangan menutupinya dari aku!” pinta Yeriko. “Saat kamu kesepian, kamu hanya boleh cari aku untuk menemani kamu. Saat kamu sedih, kamu hanya boleh gunakan punggungku untuk bersandar. Saat kamu takut, kamu hanya boleh pakai dadaku untuk berlindung.”

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko penuh cinta. Hatinya selalu berbunga-bunga setiap kali mendengar ucapan manis yang keluar dari mulut suaminya itu. “Kamu juga, jangan menutupi apa pun dari aku!” pinta Yuna lirih.

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Malam ini, kita makan di mana?”

 

“Di rumah aja. Seharian aku udah siapin banyak makanan enak buat kamu.”

 

“Serius?”

 

“Dua rius!” jawab Yuna.

 

Yeriko tertawa kecil. “Mmh ... kebetulan, aku kangen masakan istriku.”

 

“Beneran?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangguk.

 

“Kalo gitu, harus dihabiskan!”

 

“Iya. Kalau piringnya bisa dimakan, aku makan juga.”

 

Yuna tertawa mendengar candaan Yeriko.

 

“Kabarnya ayah kamu gimana? Baik ‘kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Sangat baik. Setiap pagi, aku selalu ngantar sarapan untuk Ayah. Dia juga sering nanyain kamu.”

 

“Oh ya? Kalau gitu, besok pagi kita sarapan bareng di rumah ayah kamu. Gimana?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Dia pasti seneng banget kalo tahu ... menantu kesayangannya ini sudah kembali dan mau sarapan sama dia.”

 

“Kamu belum kasih tahu ayah kamu kalau aku pulang ke Indonesia hari ini?”

 

Yuna menggelengkan kepalanya. “Besok pagi aja, kita langsung ke apartemen! Aku mau lihat reaksi dia waktu lihat kamu datang.”

 

Yeriko menjepit hidung Yuna. “Mulai nakal ya!? Ayahnya sendiri dijahilin.”

 

“Bukan jahil, ini surprise!” sahut Yuna.

 

“Sama aja.”

 

“Beda!”

 

“Bedanya apa?”

 

“Ya ... beda aja!”

 

“Surprise itu cuma kedok kejahilan kamu doang.”

 

“Idih ... kok, ngomongnya gitu sih?”

 

“Jadi, maunya ngomong gini?” tanya Yeriko balik.

 

“Aku serius!” seru Yuna.

 

“Aku juga serius,” sahut Yeriko sambil tersenyum.

 

Yuna tertawa kecil. Rasanya, memang sudah lama ia tidak berdebat dengan suaminya hanya karena hal-hal sepele. Hal yang paling ia rindukan dari suaminya adalah saat mereka duduk bersama di meja makan, di dalam mobil dan di ruang kerja. Mereka bisa membicarakan banyak hal. Pengetahuan suaminya yang luas, membuat Yuna tak kehabisan bahan pembicaraan.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di halaman rumah Yeriko.

 

Yeriko mengedarkan pandangannya. Tak ada yang berubah dari rumah itu. Masih sama saja seperti saat ia tinggal seminggu lalu. Yuna, wanita yang paling ia cintai juga masih ada di pelukannya hingga detik itu juga. Ia merasa sangat bahagia begitu masuk ke dalam rumah.

 

Usai membersihkan diri, Yuna dan Yeriko duduk bersama di meja makan sambil bercerita tentang banyak hal. Sesuatu yang tak pernah mereka bicarakan lewat telepon karena waktu istirahat Yeriko sangat terbatas selama Yeriko berada dalam perjalanan dinasnya ke Eropa. Yuna juga tak ingin membuat suaminya kekurangan waktu istirahat hanya karena keegoisannya semata.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca terus sampai di sini. Sapa di kolom komentar supaya aku makin semangat nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 452 : Nervous

 


“Jhen, bagusnya pake baju yang mana ya?” tanya Yuna sambil mengeluarkan beberapa pakaiannya dari dalam lemari dan mencobanya satu per satu.

Jheni menatap tubuh Yuna dan pakaian yang sudah berserakan di atas tempat tidur. “Kamu mau kencan?” tanya Jheni sambil menahan tawa.

“Iih ... aku kan mau jemput suami aku di Bandara. Harus kelihatan cantik, dong!” jawab Yuna sambil memilih pakaian yang akan ia kenakan. “Bagus yang mana, Jhen?” tanya Yuna sambil mengangkat dua dress yang berbeda motif.

“Semuanya bagus,” jawab Jheni sambil menatap layar tabletnya. Ia sibuk menggambar dengan stylus pen di tangannya.

“Serius, Jhen! Kamu belum lihat!” seru Yuna sambil menghentakkan kakinya.

“Aku serius. Kamu pake apa aja cantik, Yun. Nggak pake baju juga cantik.”

Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Jheni. “Kalo nggak pake baju mah, ntaran aja pas udah nyampe rumah,” ucapnya sambil terkekeh.

“Dasar cewek mesum!” celetuk Jheni.

“Biar aja. Mesum sama suami sendiri mah, wajib!”

Jheni langsung melirik tajam ke arah Yuna.

“Apa lihat-lihat!?” dengus Yuna.

“Kamu sama suami kamu tuh paling pinter kalo nyiksa kita-kita yang belum nikah. Kan jadi pengen, Yun.”

“Kalo pengen ya tinggal lakuin aja!” sahut Yuna.

Jheni langsung melempar bantal boneka ke arah Yuna. “Kamu suruh aku yang keganjenan duluan gitu?”

Yuna terkekeh. “Emangnya Chandra nggak pernah minta sama kamu?”

“Minta apaan?” tanya Jheni.

“Nggak usah pura-pura polos!” sahut Yuna sambil mengganti pakaiannya.

“Aku emang polos, Yun.” Jheni menyahut santai sambil memainkan styllus pen di tangannya.

“Polos apaan? Komik kamu banyak adegan dewasanya!” seru Yuna geram.

“Ya kan ceritanya emang romance dewasa, Yun. Masa aku bikin cerita romance, adegannya main gundu? Kan nggak nyambung.”

“Kamu gambar apaan sih?” tanya Yuna sambil menghampiri Jheni.

“Mau tahu aja,” jawab Jheni sambil menutup tablet yang ada di tangannya.

“Ish ... kamu sekarang main rahasia-rahasiaan sama aku ya!?” dengus Yuna. Ia berusaha merebut tablet dari tangan Jheni.

“Jangan, Yun!” pinta Jheni dengan wajah memelas.

Yuna menatap wajah Jheni. Ia langsung melepaskan tablet yang coba ia rebut dari tangan Jheni. “Ya udah, kalo gitu. Mulai sekarang, kita main rahasia-rahasiaan!”

“Jangan ngambek, dong!” rayu Jheni. “Aku kasih tahu kamu, tapi jangan dibocorin ke Yeriko ya!”

Yuna tak menoleh ke arah Jheni. Ia memilih untuk duduk di kursi meja riasnya dan mulai merias wajahnya.

Jheni menghela napas sambil memutar bola matanya. Ia melangkah menghampiri Yuna. “Aku mau kasih hadiah buat Chandra.” Ia meletakkan tabletnya ke atas meja, tepat di hadapan Yuna. “Bagus, nggak?”

Yuna melihat gambar yang terpampang di layar tablet milik Jheni. “Ini maksudnya apa? Nggak paham.”

“Aku buat banyak gambar. Nanti mau kubikin animasi gitu. Bagus atau nggak?” tanya Jheni sambil mengusap layar tabletnya untuk menunjukkan gambar lainnya.

“Bagus, Jhen. Bikinin buat aku sama Yeriko juga!”

Jheni memonyongkan bibirnya sambil mengambil kembali tab yang ada di atas meja. “Cepet dandannya!” perintahnya tanpa menghiraukan permintaan Yuna.

“Sabar, Jhen!” pinta Yuna sambil mengamati wajahnya di cermin.

“Kamu tuh udah nikah, masih aja centil kayak gini,” celetuk Jheni.

“Biar aja. Biar suami makin sayang sama aku.” Ia menjulurkan lidah dan bangkit dari duduknya.

Yuna berdiri sambil mengamati tubuhnya yang sudah mengenakan dress warna hijau botol dengan pita warna putih di bagian pinggangnya. “Bagus atau nggak, Jhen?” tanya Yuna sambil menatap bayangan dirinya di cermin.

“Bagus, Yun.”

“Cantik, nggak?” tanya Yuna lagi.

“Cantik. Cantik banget!” sahut Jheni yang sudah terlihat rapi dan cantik terlebih dahulu sebelum Yuna selesai mandi.

“Serius?” tanya Yuna sambil menatap Jheni.

Jheni menganggukkan kepala. Ia tersenyum ke arah Yuna yang terlihat sangat anggun dan cantik. Kulit putihnya terpancar saat warna dress warna hijau membalut tubuhnya. “Yeriko pasti terpesona kalau lihat kamu.”

“Serius?” tanya Yuna sambil tersenyum.

“Iya. Buruan, deh! Ntar si Chandra sama Yeriko keburu sampai di bandara duluan kalau kamu lama banget kayak gini,” jawab Jheni. Ia mulai tak sabar karena Yuna terus-menerus memerhatikan penampilannya.

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia memang sedikit kurang percaya diri seiring dengan pipinya yang semakin chubby dan berat badannya yang terus bertambah setiap bulannya. Wajar saja karena ia sedang hamil. Tapi, ia takut kalau Yeriko malu berjalan beriringan dengan wanita gemuk di depan umum.

Jheni ikut menghela napas karena Yuna tak segera beranjak dari tempatnya. “Yun, ayo!”

Yuna mengangguk. Ia mulai melangkah keluar dari kamarnya, diikuti langkah Jheni yang mengikutinya dari belakang.

Di halaman rumahnya, sudah ada Riyan yang menunggu di mobil.

“Kamu mau ikut aku atau Riyan?” tanya Jheni sambil menatap Yuna.

Yuna menimbang-nimbang pertanyaan Jheni. “Ikut kamu atau Riyan, ya?” gumamnya.

“Astaga! Kenapa sih, kayak gini aja mikirnya lama banget?”

“Bingung, Jhen,” jawab Yuna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Nyonya Muda ikut sama Mbak Jheni saja!” sahut Riyan. “Saya ikuti dari belakang.”

Yuna langsung tersenyum sambil menatap Riyan yang berdiri di sisi mobil suaminya. “Oke,” sahutnya sambil tersenyum bahagia. Mereka bergegas melaju ke bandara untuk menjemput Chandra dan Yeriko.

Sesampainya di Bandara ... Yuna celingukan mencari sosok suaminya.

“Yan, jadwal pesawatnya landing jam berapa?” tanya Yuna pada Riyan. Ia menunggu di ruang tunggu International Flight Arrival, Surabaya Juanda Airport.

“Lima belas menit lagi, Nyonya.”

Yuna menarik napas beberapa kali sambil meremas jemari tangannya. Lima belas menit baginya seperti lima belas tahun. Ia sudah uring-uringan menunggu kedatangan suaminya.

“Yun, kamu ini kenapa sih?” tanya Jheni yang terlihat begitu tenang.

“Jhen, aku nervous!” jawab Yuna sambil menggenggam lengan Jheni.

Jheni menahan tawa saat merasakan telapak tangan Yuna sedingin es. “Kamu beneran nervous?”

“Beneran, Jhen.”

“Nervous kenapa, sih?”

“Udah seminggu aku nggak ketemu sama suamiku. Gimana reaksinya dia kalau lihat aku? Aku udah cantik ‘kan?” tanya Yuna sambil merapikan rambut dan pakaiannya yang sudah rapi.

“Ya ampun ... tiap hari juga kamu teleponan dan video call sama dia. Kenapa harus se-nervous ini?”

“Iih ... kamu tuh nggak ngerti perasaanku, Jhen!” sahut Yuna kesal. “Lihat! Pipiku udah tambah tembem kayak gini, berat badanku naik gini. Aku kelihatan gemuk banget atau nggak, sih?” tanya Yuna. “Aku udah naik delapan kiloan, Jhen. Aku jadi nggak pede sama diriku sendiri. Takut kalau Yeriko nggak suka lihat aku yang gemuk kayak gini,” cerocos Yuna.

Jheni tertawa kecil. Meski berat badan Yuna naik, tapi ia melihat tubuh Yuna justru semakin ideal dan proporsional. Biasanya, berat badan Yuna tidak pernah lebih dari empat puluh lima kilogram walau banyak makan. “Berat badanmu sekarang berapa?” tanyanya sambil mengamati tubuh Yuna.

“Lima puluh dua, Jhen.”

Jheni langsung tertawa mendengar jawaban Yuna.

Yuna langsung menggigit bibir melihat reaksi Jheni. “Tuh, kan. Kamu aja ngetawain aku.”

Jheni memegangi perutnya sambil menahan tawa. “Aku emang ngetawain kamu. Tapi bukan karena kamu gemuk. Itu berat badan yang ideal banget buat kamu, Yun. Udah nggak kurus banget kayak dulu. Lagian, cuma lima puluh dua. Berat badanku yang lima puluh empat aja, biasa aja.”

“Kamu lebih tinggi dari aku. Walau berat, nggak kelihatan banget!” sahut Yuna.

“Kita cuma selisih dua senti doang. Si Icha noh yang tinggi banget.”

“Eh, kita nggak ngajakin Icha ke sini?”

“Buat apa, Bambang!?” sahut Jheni kesal. “Lutfi aja di rumah. Ngapain dia ikut ke Bandara. Lagian, tadi waktu aku telepon ... dia lagi jenguk mama palsunya yang gila itu.”

Yuna menghela napas. “Iya juga, ya? Duh, nervous gini bikin aku nggak bisa mikir. Udah berapa menit kita di sini?” tanyanya sambil menoleh ke arah Riyan.

Riyan melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya. “Baru lima menit, Nyonya.”

“Masih sepuluh menit lagi?” tanya Yuna.

Riyan menganggukkan kepala.

Yuna menggigit jemari tangannya sambil berjalan mondar-mandir. “Kenapa sepuluh menit lama banget?”

“Bukan waktunya yang lama. Kamunya yang nggak sabaran!” sahut Jheni.

“Aku sabar, Jhen. Duh, aku ke toilet dulu!” Yuna langsung melangkah pergi menuju toilet.

Jheni langsung bangkit dari kursi, ia berlari mengikuti langkah Yuna. Sejak sahabatnya itu hamil, ia tak pernah sedikit pun menjaga jarak dengan Yuna. Ia selalu berusaha melindungi Yuna dari kemungkinan apa pun.

“Yan, kamu tunggu di sini ya! Aku susul Yuna ke toilet!” perintah Jheni dari kejauhan.

Riyan menganggukkan kepala. Ia berdiri di dekat kursi tunggu sambil menunggu kedua bosnya itu datang. Bukan hanya dua bosnya, tapi juga dua wanita dari bos-bosnya yang sedang berada di toilet. Ia harap, dua pasangan itu bisa bertemu di saat yang tepat.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca terus sampai di sini. Sapa di kolom komentar supaya aku makin semangat nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 451 : Bukan Karena Cinta

 


“Aku nggak bisa ngelakuin apa pun ke Yuna. Banyak banget orang yang melindungi dia. Kenapa sih dia dapet perlakuan se-istimewa itu? Sementara aku? Aku juga pernah jadi orang yang penting dalam kehidupan Yeriko. Kenapa aku diperlakukan berbeda?” tanya Refi pada dirinya sendiri.

Refi masih gelisah selama beberapa hari. Semua kegiatannya yang dihentikan oleh pimpinan perusahaan, membuatnya hampir gila. Ia tidak bisa menumpahkan kekesalannya pada Yuna. Setiap kali berhadapan dengan Yuna, ia selalu kehabisan kata-kata dan hal ini membuat Refi membenci dirinya sendiri.

“Kenapa aku nggak bisa ngelawan dia? Nggak mungkin orang kayak dia nggak punya kelemahan. Kelemahan dia pasti Yeriko. Tapi, Yeriko nggak mudah buat dideketin. Yuna juga yakin banget sama perasaan Yeriko. Gimana caranya supaya aku bisa bikin mereka salah paham, terus pisah? Mereka berdua, kalau jadi pasangan terus-menerus akan semakin berbahaya. Makin lama, aku makin kesulitan menemukan celah untuk memisahkan mereka.”

Refi terus sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia masih memikirkan segala cara untuk membuat Yuna berpisah dengan Yeriko. Ia masih tidak bisa merelakan semuanya untuk Yuna. Seharusnya, semua yang dimiliki oleh Yuna sekarang adalah miliknya. Ia masih tak mempercayai kalau Yeriko sudah benar-benar lepas dari genggamannya.

“Kamu kenapa?” tanya Deny yang tiba-tiba sudah ada di belakang Refi.

“Astaga!” Refi langsung terkejut mendengar suara Deny. “Kamu kayak jin aja. Kapan masuknya?”

“Kamu asyik ngobrol sendiri. Gimana bisa dengar kalau aku masuk ke rumah ini?” tanya Deny sambil meletakkan kantong plastik berisi beberapa snack ke atas meja.

“Aku udah mulai setres, Den. Udah seminggu aku nggak ada job sama sekali. Kalau cuma ngandalin gaji pokok doang. Aku nggak bisa menikmati hidup!” tutur Refi.

“Kamu tenang aja! Aku masih coba untuk negosiasi sama sampai ke atasan.”

“Aku tuh di-blacklist tanpa alasan yang jelas. Kenapa coba?”

“Aku juga masih cari tahu, Ref.”

“Kamu yang kerjanya nggak becus. Ini udah seminggu, kamu nyari tahu terus. Kapan dapetin informasi kebenarannya?” tanya Refi kesal.

Deny menatap tajam ke arah Refi. “Ref, aku udah banyak bantuin kamu buat dapetin karir kamu lagi. Kenapa seenaknya ngomongin aku kayak gini? Selama ini, siapa yang masih mau berada di samping kamu buat dapetin semua yang kamu mau? Kalau bukan karena aku, kamu udah jadi gembel yang tinggal di kolong jembatan!” sentak Deny.

“Kalo aku sampe jadi gembel, itu karena kegagalan kamu sebagai manager aku. Kamu kerjanya yang becus, dong! Kalau tahu kayak gini, lebih baik aku pake manager dari agency aja. Kerjanya mereka jelas dan lebih bagus.”

“Kamu bener-bener nggak tahu terima kasih. Kamu tahu apa yang udah aku lakuin selama ini. Aku udah usahain buat nego ke pimpinan supaya mereka bisa keluarin kamu dari daftar hitam. Kamu paham nggak, sih? Kalau kamu emosi kayak gini, kita nggak akan dapet apa-apa. Malah semuanya bisa lenyap gitu aja.”

“Aku nggak sabar sama cara kerja kamu kali ini. Udah satu minggu, masih nggak ada perkembangan. Kamu datengin aja si Yeriko! Suruh dia keluarin aku dari daftar blacklist!” seru Refi.

“Tuan Muda itu lagi nggak ada di perusahaannya. Dia lagi dinas ke luar negeri. Kamu mau, aku nyusul dia?” tanya Deny.

“Susul aja kalau perlu!”

“Mana tiketnya? Kamu sekarang udah nggak sekaya dulu lagi. Nggak bisa ke luar negeri seenaknya. Bisa berangkat, belum tentu bisa balik ke sini lagi. Apalagi, Tuan Muda itu pergi ke beberapa kota di Eropa. Lebih baik, kita tunggu aja dia kembali ke perusahaan dan minta bantuan dari dia.”

“Dia itu dikendalikan sama Yuna. Yuna yang udah pengaruhi dia. Harusnya, kamu datengin si Yuna. Desak dia buat ngubah keputusan suaminya itu!” pinta Refi.

“Aku susah nemuin dia. Dia dijaga ketat. Aku nggak mau gegabah dan ambil resiko besar.”

“Resiko apaan? Dia itu cuma perempuan lemah yang berlindung di balik kekuatan suaminya. Mumpung nggak ada suaminya, kenapa nggak kamu manfaatin momen ini buat desak dia?”

“Aku nggak mengenal dia. Gimana caranya meyakinkan dia kalau ...”

“Halah, kamu terlalu banyak alasan. Aku udah muak sama kalian semua. Aku udah nemuin Yuna, dia malah menghina aku dan masih nggak mau ngaku kalau dia terlibat dalam masalah ini.”

“Apa!? Kamu nemuin perempuan itu?” tanya Deny sambil menatap Refi.

Refi gelagapan. Seharusnya, ia tak mengatakan pada Deny kalau ia sudah menemui Yuna di rumahnya. Tapi, bibirnya terlanjur keceplosan.

“Ref, aku tanya sama kamu! Jawab!”

“Iya. Aku udah nemuin dia dua hari yang lalu.”

“Kenapa kamu bertindak sendiri? Udah nggak menghargai kerja keras aku lagi? Kamu terlalu gegabah. Gimana kalau misalnya mereka bener-bener nggak terlibat dalam kasus ini? Aku belum selesai menyelidiki semua ini. Kamu bikin masalah baru!” seru Deny kesal.

“Aku ...” Refi semakin kebingungan. Ia memang terlalu gegabah karena masih tidak bisa menerima apa yang dialaminya kali ini. Ia tidak ingin karirnya kembali hancur dan hidupnya semakin terpuruk. Dengan fans yang begitu banyak, bagaimana bisa semua kegiatannya dihentikan tanpa alasan yang kuat.

“Kalau kamu ngerasa bisa bertindak sendiri, lakuin aja!” sahut Deny kesal karena ia merasa tak pernah ada nilainya di hadapan Refi, apa pun usaha yang sudah ia lakukan.

“Oke.”

“Jangan cari aku lagi kalau sampai kamu ada masalah!” seru Deny sambil melangkah pergi.

“Hei, kamu mau ke mana?” tanya Refi.

“Aku mau pergi. Kenapa? Takut kehilangan aku?” tanya Deny sambil menoleh ke arah Refi.

Refi gelagapan mendengar pertanyaan dari Deny.

Deny tersenyum sinis sambil mengamati raut wajah Refi. “Kenapa? Kamu udah jatuh cinta sama aku?”

Refi melipat kedua tangan di dadanya sambil membuang wajah. “Nggak usah ngimpi!”

Deny tertawa kecil. Ia kembali melangkah menghampiri Refi dan menekan tubuh wanita itu ke dinding. “Kamu mau melayani aku bukan sekedar memuaskan nafsu, tapi karena sudah jatuh cinta sama aku ‘kan?” tanya Deny berbisik.

“Nggak usah ngimpi!” sahut Refi ketus.

Deny menatap wajah Refi yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari ujung hidungnya. “Nggak usah angkuh! Aku sudah tahu kamu luar dalam. Termasuk kemunafikan yang ada di dalam hati kamu ini,” tuturnya sambil meletakkan ujung jari telunjuk ke dada Refi.

Refi terdiam menanggapi ucapan Deny.

Deny tersenyum sambil meletakkan dahinya ke dahi Refi. “Aku tahu kamu terobsesi sama Tuan Muda itu bukan karena kamu benar-benar mencintai dia. Tapi, karena kamu nggak bisa menerima kekalahan kamu. Kamu nggak mau disaingi sama wanita lain yang terlihat biasa-biasa aja.”

Refi terus menatap mata Deny tanpa berkata-kata. Ia tak bisa menyangkal ucapan Deny, tapi juga tak bisa mengiyakannya begitu saja.

Deny tertawa kecil saat membaca kalimat yang tersirat dari tatapan mata Refi. Ia sangat mengetahui kalau Refi melakukan banyak hal gila bukan karena ia benar-benar mencintai Tuan Muda itu. Tapi, karena ia tidak ingin ada orang lain yang lebih unggul dari dirinya. Sejak dulu, Refi memiliki obsesi yang besar dan selalu ingin menang. Refi tak akan semudah itu mengalah pada orang asing.

“Ref, aku tahu siapa kamu sejak dulu. Buang kesombongan kamu ini di depanku!” pinta Deny sambil menarik tubuhnya menjauh dari Refi. “Aku tahu, kamu sudah jatuh cinta sama aku. Tapi kamu terlalu angkuh untuk mengakuinya.”

Refi terdiam. Ia hanya menatap tubuh Deny yang perlahan menjauh dari dirinya dan lenyap di balik pintu. Ucapan Deny memang benar. Ia tak pernah ingin kalah dari siapa pun. Terlebih dalam hal mendapatkan hati Yeriko. Sebab, hanya dia seorang yang pernah masuk ke dalam kehidupan Yeriko walau hanya sesaat. Ia tidak ingin mengakui kekalahannya dan menyerahkan Yeriko pada wanita lain begitu saja.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca terus sampai di sini. Sapa di kolom komentar supaya aku makin semangat nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas