Monday, September 28, 2026

Thursday, September 10, 2026

Kick Off Pendampingan Pertamina UMK Academy 2026 Tahap Regional

 



Kutai Kartanegara, Rabu, 09 September 2026.

Suara tangis bayi di sebelahku, memanggil mataku untuk terbuka. Seperti biasa, kumandang adzan subuh menjadi kawan saat aku sedang mengASIhi bayiku. 
Tapi kali ini ada hal yang berbeda. Aku menyambungkan ponselku yang mati ke pengisi daya. Semalam, ponselku kehabisan baterai dan aku enggan untuk mengisinya. Terkadang, hidup sejenak tanpa notifikasi sangat aku butuhkan. 
Saat ponsel sudah terisi daya penuh dan kunyalakan, aku langsung fokus pada notifikasi email dari Pertamina UMK Academy. Mendadak sekali harus mengikuti zoom meeting. Untungnya, aku tidak ada agenda lain saat hari kerja karena tugasku dari Perpusnas aku agendakan setiap weekend saja. 
Tepat jam 09:30 WITA, aku memasuki ruang zoom seperti yang sudah dijadwalkan. Namun ternyata, zoom meeting diundur lagi menjadi pukul 10.00 WITA.


Kegiatan Kick Off Tahap Regional ini dibuka langsung oleh Pak Rudi - Vice President Pertamina Persero. Dari pemaparan beliau, aku mendapatkan informasi jika ada 4.290 pendaftar dalam program UMK Academy ini. Sungguh angka yang sangat luar biasa. Bahkan, lolos di tahap Regional saja sudah cukup sulit karena harus bersaing dengan pelaku  UMKM yang produknya sudah sangat baik. Sedangkan produk yang aku miliki masih senin-kamis produksinya, alias jarang-jarang membuat produk. Kondisi geografis tempat tinggalku, membuatku cukup pesimis untuk terus berkarya. Terlebih, produk yang aku buat bukanlah produk yang bisa digunakan sehari-hari.



Namun, Pak Rudi mengajarkan sebuah nilai baru kepadaku. Di akhir sambutannya, beliau memberikan sebuah motivasi sederhana, tapi mampu menggugah pemikiranku yang tertidur lama.

Jangan bertanya tentang apa yang akan saya pelajari!
Tapi bertanyalah pada diri sendiri "Apa yang akan saya lakukan setelah belajar?"



Terkadang aku lupa, aku terlalu sibuk belajar hal-hal baru. Ada banyak hal di dunia ini yang tidak aku ketahui dan perlu belajar dengan baik. Namun, aku lupa untuk melakukan atau mempraktikan apa yang aku pelajari. Mungkin, di sinilah letak kesalahanku. Sehingga usahaku tidak berkembang selama bertahun-tahun.




Materi disampaikan secara mendalam oleh Bapak Temmy Satya Permana - Deputi Usaha Mikro Kecil dari Kementerian UMKM Indonesia.

Beliau tidak hanya memberikan gambaran tentang UMKM, tapi juga tentang bagaimana UMKM bisa naik kelas dan mampu menembus pasar global.
Mendengar pemaparan dari Deputi Usaha Mikro Kementerian UMKM, aku justru menertawakan diriku sendiri beberapa kali. Sebab, ada banyak hal yang sudah aku pelajari, tapi aku tidak mampu menerapkan pembelajaran itu dengan baik.


Kesibukanku sebagai seorang ibu menjadi salah satu alasan besar yang menghambat langkahku untuk terus berjalan maju. Terkadang, kita dihadapkan oleh banyak persoalan yang membuat dilema. Namun, mau sampai kapan aku mengalah pada keadaaan? Membiarkan diriku merasa cukup, seolah tidak memiliki upaya untuk memperjuangkan masa depan keluarga kecilku.
Aku masih belum tahu apa sesungguhnya motivasi yang bisa membangun kepercayaan diriku. Aku sudah memulai banyak hal. Sudah mengikuti banyak kelas. Tapi ternyata, ada hal yang tidak aku sadari. Yakni konsistensi.

Novita Retnowati  dari Dapur Sehati yang merupakan juara 1 pada  UMK Academy tahun 2025 membagikan cerita dan prosesnya dalam membangun sebuah usaha. 
Lagi-lagi, konsistensi menjadi salah satu  hal paling penting, tapi paling sulit untuk dijalani.
Aku adalah tipe orang yang  harus disemangati atau harus memiliki teman untuk bergerak. Oleh karenanya, aku mengikuti UMK Academy ini dengan harapan baru. Aku ingin dipertemukan dengan orang-orang yang memberikan energi positif dan memotivasiku. Supaya setiap kali aku ingin menyerah, ada kawan yang dengan tulus menggenggam tanganku agar terus berjalan dan bergerak bersama.
Ini adalah tahap awal yang harus dilalui untuk lolos seleksi sampai ke Nasional. Tentunya tidak mudah menyelesaikan beberapa kelas dan challenge yang diberikan oleh tim Pertamina. Tapi inilah yang aku cari. Sebuah tantangan yang bisa membangun semangatku agar aku bisa menjadi lebih konsisten dalam membangun mimpi-mimpi masa depanku.








Wednesday, September 9, 2026

Pengalaman Pertama Menggelar Sekolah Keluarga Literat di Kutai Kartanegara

 


Sabtu, 05 September 2026

Hari ini adalah pertemuan pertama kegiatan Sekolah Keluarga Literat yang aku selenggarakan. Kegiatan ini merupakan kegiatan wajib yang harus dilakukan oleh Relima Perpustakaan Nasional pada bulan September 2026. 

Awalnya aku pesimis karena kelas ini wajib diikuti oleh minimal 15 orang dan tidak boleh berganti pesertanya selama 6x pertemuan. Apakah orang tidak memiliki kepentingan lain sehingga harus hadir selama 6x pertemuan? 

Sekolah ini bukanlah sekolah biasa. Ini adalah sekolah untuk para anggota keluarga yang mungkin memiliki kesibukan lain. Sebab, setiap keluarga memiliki prioritas kegiatan dalam hari-harinya. 

Selain sulit mengumpulkan orang-orang yang memiliki kepedulian pada minat baca, aku juga tidak diberi anggaran sepeserpun oleh Perpustakaan Nasional, juga perpustakaan kabupaten. Artinya, tantanganku juga jauh lebih besar karena menghadirkan peserta tanpa konsumsi seperti sebuah batu besar yang sedang bersandar di punggungku. Tapi itulah tantangan besar yang harus ditakhlukan oleh Relima. 

Setelah berpikir selama berhari-hari, akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan CSR pada beberapa perusahaan dan pelaku usaha yang ada di sekitarku. 

Alhamdulillah, niat baikku disambut baik. Toko Bangunan Berkah Jaya Samboja memberikan bantuan Rp 500.000 yang bisa aku gunakan untuk konsumsi selama 6x kegiatan. Aku tahu, ini tidak akan cukup. Aku pikir, aku bisa menggunakan honorku dari Perpusnas untuk menutupi kekurangannya. Aku tidak akan tega memberikan kelas tanpa konsumsi sama sekali. 



Di tengah kekalutanku, aku menghubungi Ibu Yuli, Sekretaris Diarpus Kukar untuk memohon izin menyelenggarakan kegiatan "Sekolah Keluarga Literat" tanpa keterlibatan secara langsung dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Kukar. Sebab, kondisi geografis wilayah kami membuat kami kesulitan untuk berkegiatan bersama. Anggaran dinas Rp 0 untuk SPPD dan makan minum rapat. Sehingga, pemerintah daerah pun tidak bisa leluasa bergerak dalam membantu pengembangan kegiatan literasi. Namun, Ibu Yuli memberikan bantuan Rp 500.000 dari kantong pribadinya. Membuatku merasa sedikit lega karena bebanku sedikit berkurang atas bantuan dari beliau.

Aku tidak hanya meminta bantuan dalam bentuk pendanaan. Aku juga meminta bantuan dalam bentuk barang/souvenir kepada manajemen Gramedia MT Haryono Balikpapan. Permohonan bantuan buku bacaan anak tidak disetujui oleh manajemen Gramedia, tetapi mereka setuju untuk menggantinya dengan Goodiebag yang berisi kotak bekal dan tempat minum. Tentunya hal ini aku sambut dengan bahagia dan siap untuk menempatkan logo Gramedia sebagai sponsor dalam kegiatan ini.



Masih ada 2 perusahaan besar yang aku ajukan proposal dengan harapan bisa membantu meringankan bebanku. Setidaknya, ada konsumsi yang bisa diberikan kepada peserta, juga kenang-kenangan yang bermanfaat untuk meningkatkan budaya baca dalam keluarga. Satu perusahaan tidak ada kabarnya. Humas yang biasa mengurus CSR juga tidak merespon pesan yang aku kirimkan untuk konfirmasi. Lumayan membuatku lemas. 

Tapi kemudian, satu perusahaan yang biasa membina taman bacaku, yakni Pertamina Hulu Sanga-Sanga menyambut baik rencana kegiatan "Sekolah Keluarga Literat" ini dan bersedia membantu dana sesuai dengan pengajuan yang aku buat. Tidak banyak dana yang aku minta, hanya untuk konsumsi, dan pojok baca keluarga untuk peserta. Sehingga, PHSS sendiri  menerimanya dengan baik dan siap untuk memberikan bantuan. Tentunya dengan komitmen bahwa kegiatan ini bisa memberikan dampak berkelanjutan setelahnya. Tidak hanya berhenti di enam kali pertemuan selama bulan September ini.

Akhirnya, aku percaya diri untuk melaksanakan kegiatan ini dengan bantuan empat orang relawan panitia yang ada. Kegiatan ini dimulai pada Hari Sabtu, 05 September pukul 14.00 s/d 17.00 yang dibuka langsung oleh Ketua TP PKK Kecamatan Samboja (Rusdiana, S.Hut) dan Plt. Lurah Sei Seluang (Siti Aisyah). 



Kegiatan awal pada 05 September ini dimulai dengan pengenalan Relima Perpusnas RI Lokus Kutai Kartanegara dan Fondasi Budaya Baca dalam Keluarga. Kemudian materi dilanjutkan oleh Bidan Rika Okpri D., S.Tr.Keb tentang Pengaruh Kebiasaan Ibu Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. 

Kegiatan kedua dilaksanakan pada Hari Minggu, 06 September 2026 dengan materi tentang dunia remaja. Selain memberikan materi tentang "Remaja Produktif", saya juga menghadirkan pemateri lain dari Penyuluh KB BKKBN (Elly Betyono) yang membawakan materi dengan tema "Membangun Komunikasi yang Baik antara Orang Tua dan Anak Pra-Remaja".

Dua kegiatan ini merupakan kegiatan pembuka. Masih akan ada 4 kegiatan lagi dengan tema berbeda-beda dan akan dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu. Aku memilih hari Sabtu dan Minggu agar tidak mengganggu kegiatan utama peserta yang harus bersekolah atau bekerja. Aku pikir, weekend adalah pilihan yang baik karena kita bisa mengisi hari libur kita dengan kegiatan yang berilmu dan bermanfaat. Tidak hanya menghabiskan waktu untuk bersantai tanpa diisi oleh sesuatu yang bernilai.

Meski pesertanya tidak banyak, tapi cukup interaktif, intens dan bisa berdiskusi lebih dekat. Sebab, dari Perpustakaan Nasional sendiri memberikan batas minimal 15 orang untuk kegiatan ini. Seperti mandat dari Perpustakaan Nasional bahwa program yang dilaksanakan oleh Relima Perpusnas RI tidak perlu dihadiri oleh banyak orang, cukup sedikit saja yang penting bisa berdampak baik pada ekosistem literasi di negeri ini.



Oleh karenanya, kegiatan ini harus tetap terlaksana meski Perpusnas dan OPD tidak memiliki anggaran untuk melaksanakannya. Aku yang harus lebih kreatif dan mengerahkan seluruh sumber daya yang aku miliki agar mendapatkan bantuan dari CSR perusahaan dan/atau orang-orang terdekat yang memiliki kepedulian.

Harapannya, Sekolah Keluarga Literat ini dapat menjadi ruang belajar bagi keluarga dan anggota keluarga. Tidak hanya belajar tentang budaya baca, tapi bisa mempelajari banyak hal mulai dari literasi baca-tulis, literasi berhitung/numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital dan literasi budaya & kewargaan.

Aku percaya, bahwa kita bisa memulai membangun kebiasaan baik membaca buku dan berliterasi dari keluarga. Keluarga yang positif akan menghasilkan generasi yang positif dan berilmu agar masa depan bangsa ini menjadi lebih baik lagi.




Tuesday, September 1, 2026

Jamuan Tengah Malam




Datanglah padaku saat tengah malam
Agar kujamu dengan luka yang begitu dalam
Hadirlah untukku saat tengah malam
Agar kamu tahu ... air mata yang tertahan saat siang. 

Di sudut ruang yang gelap
Kupeluk luka dan penderitaan. 
Tak terdengar lagi tawa yang kulantunkan beberapa jam belakangan. 
Hanya air mata dan bisikan rasa iba
Menghiasi setiap dinding ruang yang hampa. 

Di atas meja tua yang tak pernah bicara
Kususun rapi jamuan untuk bayanganku sendiri. 
Segelas rasa putus asa dan sepotong hati yang menderita, 
tergeletak indah tanpa pernah tergantikan. 
Seikat kekecewaan dan semangkuk air mata, 
menjadi pelengkap menu jamuanku. 

Berharap seseorang akan tiba
Mengajakku bercerita hingga lupa jika hati sedang luka. 
Lagi-lagi, yang datang adalah bayanganku sendiri. 
Bayangan yang enggan menyentuh menu jamuan tengah malamku. 
Bayangan yang tak pernah mau bicara tentang setiap rasa yang kualami. 
Dia memilih untuk diam. 
Dia menatap menu jamuanku. 

Esok aku harus tertawa bahagia
Lalu menangis saat tengah malam tiba
Lalu tertawa lagi
Lalu menangis lagi
Selamanya... 

Wednesday, August 26, 2026

Semarak HUT RI ke-81, Warga RT 3 dan RT 4 Desa Beringin Agung Gelar Senam dan Jalan Santai





Beringin Agung, 25 Agustus 2026 — Semangat kemerdekaan terasa begitu hangat di lingkungan RT 3 dan RT 4 Desa Beringin Agung. Sejak pagi, warga telah berkumpul untuk mengikuti kegiatan Senam dan Jalan Santai dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.

Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WITA ini merupakan agenda tahunan yang diinisiasi secara swadaya oleh warga RT 3 dan RT 4. Tahun 2026 menjadi tahun ketiga pelaksanaan kegiatan Jalan Santai sebagai bagian dari perayaan HUT Kemerdekaan RI.

Rangkaian kegiatan diawali dengan senam bersama, yang diikuti warga dari berbagai usia. Suasana semakin meriah ketika peserta kemudian melanjutkan kegiatan dengan jalan santai bersama-sama menyusuri lingkungan sekitar.
Kegiatan tersebut juga turut dihadiri oleh Kepala Desa Beringin Agung, Kusnadi, beserta istri, serta Babinsa, Serka Saep, beserta istri. Kehadiran mereka menambah semangat dan keakraban dalam kegiatan yang sejak awal memang dirancang sebagai ruang silaturahmi bagi warga.

Bukan Sekadar Jalan Santai, tetapi Merawat Kebersamaan

Menariknya, kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada olahraga dan hiburan. Di balik pembagian doorprize, terdapat semangat gotong royong yang menjadi kekuatan utama kegiatan.

Sebagian besar hadiah merupakan hasil sumbangan warga RT 3 dan RT 4. Warga tidak hanya menyumbangkan uang, tetapi juga dapat berpartisipasi dalam bentuk barang, hasil pertanian, hasil ternak, maupun berbagai bentuk pemberian lainnya.

Dukungan juga datang dari PT. BIM dan Bos Enjan, yang turut memberikan sumbangan untuk menyukseskan kegiatan.

Lebih dari 255 kupon dibagikan kepada warga yang mengikuti Jalan Santai. Yang membuat kegiatan ini semakin istimewa, seluruh peserta mendapatkan hadiah. Tidak ada warga yang pulang dengan tangan kosong.

Bagi panitia, hal tersebut bukan sekadar soal banyaknya hadiah yang dibagikan. Lebih dari itu, pembagian doorprize menjadi simbol bahwa kemeriahan HUT RI dapat dirasakan bersama dan dinikmati oleh seluruh warga.

Hadiah Utama Mesin Cuci
Kemeriahan semakin terasa ketika pengundian hadiah utama dilakukan. Mesin cuci menjadi hadiah utama dalam kegiatan Jalan Santai tahun ini.

Keberuntungan tersebut akhirnya berpihak kepada Anisa, warga RT 4, yang berhasil mendapatkan hadiah utama.

Selain hadiah utama, berbagai doorprize lainnya juga dibagikan kepada peserta. Semuanya merupakan bentuk kepedulian dan gotong royong warga serta para pihak yang turut mendukung kegiatan.

Tiga Tahun, Semangat yang Terus Dijaga
Tiga tahun pelaksanaan Jalan Santai menjadi bukti bahwa sebuah kegiatan sederhana dapat tumbuh menjadi tradisi yang memiliki makna bagi masyarakat.

Ketua RT 3 Rin Muna, Ketua RT 4 Yudi, bersama jajaran panitia, menjadi bagian dari warga yang berupaya menjaga tradisi tersebut tetap hidup. Panitia juga melibatkan Winarsih, Yetty Kuntarti, Setyana Wardhani, Lailatul M (Ella), Puput Puspita, dan Tantri Fitriyani.

Bagi mereka, memeriahkan HUT Kemerdekaan bukan hanya tentang perlombaan atau hadiah. Ada nilai yang jauh lebih penting, yakni kebersamaan, silaturahmi, kepedulian, dan semangat membantu sesama warga.

“Kami merasa sangat senang bisa ikut memeriahkan HUT RI dengan kebersamaan dan membantu sesama warga RT 3 dan RT 4.”

Harapan panitia, kegiatan yang telah memasuki tahun ketiga ini dapat terus dilaksanakan dan semakin baik pada tahun-tahun berikutnya. Jika tahun ini lebih dari 255 kupon berhasil dibagikan dan seluruh peserta memperoleh hadiah, panitia berharap tahun depan dapat menghadirkan hadiah yang semakin baik dan semakin banyak.

Di penghujung kegiatan, panitia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan.

Namun, satu hal yang terasa kuat dari kegiatan tersebut adalah bahwa kemerdekaan ternyata dapat dirayakan dari hal-hal sederhana: berkumpul, berolahraga, berbagi, dan saling membahagiakan.

Dari RT 3 dan RT 4 Desa Beringin Agung, semangat itu terus dijaga.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81!
Terus bergerak, terus berbagi, dan terus menjaga kebersamaan.



Saturday, August 15, 2026

Tidak Ada Jam Khusus untuk Perpustakaan Sekolah



Aku mengabdikan diri sebagai relawan pegiat literasi sejak tahun 2017. Di tahun 2025 aku lolos menjadi Relima Perpusnas RI Lokus Kutai Kartanegara. Kemudian, masih dipercaya melanjutkan perjuangan di tahun 2026.

Tahun ini, langkahku sedikit berbeda dengan tahun lalu. Kalau tahun lalu aku berkeliling ke TBM dan perpustakaan desa/kelurahan, tahun ini aku boleh memilih sendiri lokasi yang akan aku inventarisasi dan berkegiatan literasi. 

Tahun ini juga diperbolehkan untuk melakukan kegiatan di sekolah. Sehingga, aku merasa berpijak pada dunia baru, yaitu dunia anak-anak yang sedang tumbuh dengan harapannya. 

Aku tahu, sistem pendidikan di Indonesia semuanya sama. Aku rasa, sistem di satu sekolah juga sama dengan di sekolah lain. Meski ada beberapa sekolah yang masuk kategori pengecualian, entah karena apa. Sebab, aku tidak tahu. 

Baru menginjakkan kaki ke dua sekolah (SD & SMP), aku langsung mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di kepala selama beberapa tahun terakhir ini. Pertanyaan tentang rendahnya minat baca yang tidak kunjung membaik meski pemerintah telah melakukan banyak upaya. 

Saat aku bersilaturahmi ke sekolah, semua guru terlihat sibuk. Hanya petugas perpustakaan yang menemaniku melangkah ke dalam ruang perpustakaan. Itupun harus meluangkan waktunya di tengah-tengah kesibukannya mengajar di kelas. Sebab, rata-rata sekolah belum memiliki petugas khusus perpustakaan atau petugas perpustakaan masih merangkap sebagai guru ajar di kelas. 

Perpustakaan sebagai sumber ilmu utama, justru menjadi ruang yang paling tersisihkan. Berkunjung ke perpustakaan hanya untuk mengisi waktu luang, bukan menjadi salah satu tujuan dalam pembelajaran. 

Waktu anak-anak sudah habis di kelas untuk mengejar target mata pelajaran. Lalu, kapan anak-anak bisa membaca dengan tenang atau membaca buku lebih dalam?
Waktunya memang tidak ada. Waktu istirahat sudah habis digunakan untuk makan di kantin. 
Tidak heran jika minat baca di negara kita masih sangat rendah. Anak-anak tidak diberikan jam khusus ke perpustakaan. Tidak ada kegiatan di perpustakaan yang bisa mengembangkan kreatifitas membaca. Maka, selamanya perpustakaan sekolah hanya akan menjadi tempat untuk menyimpan buku, bukan sebagai sumber belajar dan menggali ilmu. 
Sekuat apa pun saya membantu meningkatkan minat baca, tidak akan bisa terwujud jika kebijakan dari pemerintah tidak mendukung kegiatan di perpustakaan. Kebijakan inilah yang terkadang membuat minat baca jadi semakin rendah meski program peningkatan minat baca sangat masif dilakukan. 






Wednesday, August 12, 2026

Kecerdasan Bukan Berasal dari Sekolah. Apakah Sama dengan "Sekolah Itu Tidak Penting?"





Hari ini ada hal penting yang ingin aku tulis. Meski aku sangat jarang menuliskan hal-hal seperti ini. Aku merasa, berita yang beredar dan opini masyarakat yang terus berkembang, sudah cukup untuk menciptakan sejarah masa depan. Terlebih, ada banyak orang hebat di luar sana yang keilmuannya bisa menjadi guru dan panutan bagi kita. 

Tapi hari ini, aku benar-benar ingin mengabadikannya di rumahku sendiri. Di blog yang sangat sederhana ini. Blog di mana aku bisa bebas menumpahkan segala ide di kepalaku. Tentang cinta, tentang perjalanan hidup, dan tentang hal-hal kecil yang bagi orang lain tidak penting tapi bagiku sangat penting. 

Beberapa hari belakangan ini beranda media sosialku dipenuhi dengan pemberitaan tentang pernyataan Presiden Prabowo yang mengatakan bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah.
Pernyataan presiden menimbulkan banyak spekulasi dan berbagai opini. Hampir semua konten kreator merespon ini. Mulai dari menanggapinya secara serius sampai menjadikannya parodi lucu. 

Aku sendiri merasa setuju dengan pernyataan Presiden Prabowo. Karena kecerdasan seseorang memang tidak berasal dari sekolah. Kecerdasan berasal dari Allah SWT, Sang Maha Pencipta yang sempurna. 

Setiap manusia terlahir dengan kecerdasannya masing-masing. Namun, tidak semua kecerdasan manusia dapat berkembang dengan baik. Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi perkembangan kecerdasan manusia. Sekolah merupakan salah satu tempat yang sangat penting untuk mengembangkan kecerdasan manusia. 

Anak tidak menjadi cerdas semata-mata karena masuk sekolah. Ada kemampua bawaan, lingkungan keluarga, pengalaman hidup, rasa ingin tahu, pola asuh, interaksi sosial, dan kesempatan belajar yang ikut membentuk kemampuan seseorang.

Kita seringkali menemukan orang yang secara akademik biasa saja, tetapi sangat cerdas dalam membaca situasi, berwirausaha, berkomunikasi, memecahkan masalah, atau memahami orang lain. Ini bukti bahwa kecerdasan manusia bukan hanya secara akademik saja. Bahkan, kecerdasan menjilat penguasa juga bisa menjadi salah satu skill sejak lahir yang dilatih secara terus-menerus.  Sebab pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menghafal dan mendapatkan nilai tinggi.

Sekolah memang bukan satu-satunya sumber kecerdasan, tetapi sekolah dapat mengembangkan kecerdasan.
Seorang anak mungkin memiliki rasa ingin tahu yang besar. Tetapi tanpa lingkungan belajar yang baik, rasa ingin tahu itu belum tentu berkembang menjadi kemampuan berpikir kritis.
Anak mungkin memiliki bakat matematika. Tetapi guru yang baik dapat membantu mengasahnya.
Anak mungkin memiliki kemampuan berbicara. Tetapi membaca, berdiskusi, menulis, dan berlatih presentasi di lingkungan pendidikan dapat membuat kemampuan itu jauh lebih matang.

Menurut saya hubungan yang lebih tepat adalah: Kecerdasan tidak berasal dari sekolah, tetapi kecerdasan dapat tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.

Di sinilah peran keluarga dan masyarakat menjadi sangat penting. Ini akan sangat menarik jika dikaitkan dengan gerakan literasi.

Seorang anak sudah belajar jauh sebelum ia masuk SD. Ia belajar bahasa dari orang tuanya. Belajar bertanya dari lingkungan. Belajar memecahkan masalah dari permainan. Belajar empati dari hubungan dengan orang lain.
Belajar membaca dari kebiasaan di rumah. Belajar berpikir dari percakapan sehari-hari. Sekolah kemudian melanjutkan dan memperluas proses tersebut.

Karena itu, saya lebih suka melihat pendidikan sebagai sebuah ekosistem:
Keluarga → sekolah → masyarakat → pengalaman hidup → literasi → membentuk manusia yang terus belajar.

Ini juga sejalan dengan penekanan Prabowo sendiri di kesempatan lain bahwa semua jenjang pendidikan—dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi—perlu diperbaiki agar mampu menyiapkan generasi yang berkualitas. (Source: Sekretariat Negara)

Ada satu hal yang menurut saya justru sangat penting dan perlu kita garis bawahi. Kita harus berhati-hati agar pernyataan “orang pintar tidak harus sekolah” tidak berubah menjadi:
“Sekolah tidak penting.”
Ini akan sangat berbahaya. Berbahaya bagi pendidikan dan juga generasi mendatang. 

Karena bagi anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung, sekolah justru bisa menjadi pintu pertama untuk memperluas dunia mereka.

Tidak semua anak lahir di keluarga yang punya buku.
Tidak semua orang tua punya waktu untuk mengajari anak.
Tidak semua anak punya akses internet.
Tidak semua anak punya lingkungan yang mendorong mereka berpikir.
Bagi anak-anak seperti itu, sekolah dan guru bisa menjadi jembatan menuju dunia yang sebelumnya tidak mereka kenal.

Dan menurut saya, ini justru alasan mengapa gerakan literasi keluarga, taman baca, komunitas belajar, dan sekolah harus berjalan bersama. Anak tidak cukup hanya “disekolahkan”; mereka perlu berada dalam budaya belajar yang baik, aman dan ramah.

Kalau kita mau lebih kritis lagi, pernyataan Prabowo tersebut bisa menjadi bahan pertanyaan yang jauh lebih besar. 
“Kalau kecerdasan tidak lahir dari sekolah, lalu sebenarnya sekolah Indonesia sedang bertugas menciptakan apa?”

Menurut saya, jawabannya bukan sekadar orang pintar, tetapi manusia yang mampu berpikir, membaca realitas, memecahkan masalah, berkarakter, dan terus belajar meskipun sudah tidak berada di bangku sekolah. Bagiku, semua tempat adalah sekolah karena bisa memberikan kita banyak pelajaran dan pengalaman. 
Bagi orang yang berpikir, seekor ulat yang sedang berjalan di atas daun pun bisa menjadi pelajaran. 
Maka, marilah kita sama-sama berpikir! Masih pentingkah pendidikan di sekolah? 
Untuk apa sekolah diciptakan di negeri ini? 
Akankah anak-anak masih punya semangat dalam mengembangkan kecerdasan di sekolahnya? 


Sunday, August 9, 2026

Ngobrol ASI Bersama Coconey di Pekan Menyusui Dunia




Sabtu, 08 Agustus 2026.

Hari masih gelap saat kudengar kokok ayam berbunyi di belakang rumahku. Bersamaan dengan suara bayi mungil yang baru aku lahirkan 47 hari yang lalu. 
Waktu menunjukkan pukul 04.30 WITA. Seperti biasa, waktunya bayiku menyusu. Maka, aku menyusui sambil berbaring agar ia bisa terlelap kembali dan aku bisa memulai pagiku seperti biasa. 

Setelah menyusui dan bayiku tertidur kembali, aku mulai berkutat di dapur. Menyiapkan makanan pagi untuk keluarga kecilku seperti biasa. Tetapi ada hal tak biasa setelahnya. 
Aku menarik tas bayi yang kusimpan rapi di dalam lemari usai mandi. Aku memasukkan beberapa perlengkapan bayi. Beberapa lembar pampers, baju ganti, minyak zaitun dan botol air minum. Sebab, hari ini aku akan pergi ke tempat yang lumayan jauh untuk mengikuti kegiatan "Pekan Menyusui Dunia 2026".
Beberapa hari lalu, Bidan Rika membagikan flyer tentang kegiatan menyusui. Beliau adalah salah satu teman di majelis taqlim yang sering aku datangi. Beliau bertugas di RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti Samboja, juga pemilik dari Coxoney Mom & Baby Care. 

Aku sangat tertarik untuk mengikuti kegiatan ini meski aku sudah punya tiga anak. Artinya, ini bukan pengalaman pertamaku dalam menyusui bayi. Sebab, dua anakku juga ASI eksklusif sampai umur 6 bulan. Namun, itu bukan berarti aku harus meletakkan kesombongan dalam diriku bahwa aku sudah tahu semuanya. Ada hal yang mungkin belum pernah aku dengar, juga belum pernah aku pelajari. Sama seperti Pekan Menyusui Dunia ini. Aku bahkan tidak pernah tahu jika ada hari di mana seluruh ibu memperingati Hari Menyusui mereka. 

Sebab, menyusui tidak selalu berjalan mulus sejak hari pertama. Seperti yang sedang aku alami. Aku merasa, ASI yang kuhasilkan tidak sebanyak sebelumnya. Bayiku menjadi sering rewel karena kurang kenyang. Aku hanya bisa menebak-nebak apa penyebab ASI-ku berkurang tanpa aku tahu pasti. 

Ada banyak faktor yang membuat produksi ASI semakin berkurang. 
Awalnya, aku pikir karena penggunaan KB. Tapi dipikir-pikir lagi, seharusnya IUD tidak memengaruhi produksi ASI. Sebab, ada banyak teman yang menggunakan IUD dan produksi ASI tetap lancar. 

Mungkin, aku kekurangan cairan karena aku jarang sekali minum air putih. Entah kenapa, rasanya sulit sekali minum air putih banyak karena membuatku terus ke toilet dan rasanya tidak nyaman. Tapi aku harus membiasakannya perlahan demi buah hatiku agar tidak kekurangan ASI.
Selain minum air putih yang banyak, aku juga harus membahagiakan diriku sendiri. Aku harus bisa melepaskan beban tagihan dan cicilan bulanan yang terus mengganggu pikiranku. Sepertinya, rasa khawatir itu yang membuatku gelisah setiap hari dan membuat produksi ASI-ku sedikit terhambat. 
In this economy, rasa khawatir memang jauh lebih besar. Terlebih aku hanya menjalani peranku sebagai ibu rumah tangga biasa. Aku tidak bisa mengambil banyak pekerjaan karena harus mengurus rumah dan anak-anak. Artinya, aku juga tidak bisa menghasilkan uang yang lebih dan membuatku sangat khawatir. Padahal, aku punya suami yang bertanggung jawab. Tapi aku tetap tidak bisa menepis rasa khawatir itu. 
Ah, aku kok jadi curhat, ya? 
Semoga, curhatan kecil ini bisa merilis beban yang mengganggu pikiranku dan membuat ASI-ku lancar kembali. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anakku. Jadi, aku ingin bisa menyusui dia dengan bahagia. 
Menurutmu, apakah tagihan/cicilan bulanan bisa menjadi beban pikiran? 
Padahal, sebelumnya aku tidak pernah se-khawatir ini meski aku juga tidak punya pekerjaan tetap dan menjadi tulang punggung keluarga. 
Apa yang telah mengubah pikiranku, tentu aku harus menemukan jawabannya agar aku bisa menjalani hari-hariku dengan bahagia dan produksi ASI bisa banyak. 

Kalau kamu punya masalah yang sama sepertiku, kamu bisa konsultasi langsung dengan Bidan Rika (Konselor Menyusui) yang akan membantu dengan sabar mengatasi masalah menyusui yang sedang kamu alami. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya karena di Samboja belum ada tempat konsultasi menyusui selain di Coconey Mom & Baby Care. 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas