Menu BacaanMu
- Perfect Hero (465)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (70)
- Then Love (57)
- Belajar Menulis (54)
- Esai (48)
- Puisi Akrostik (43)
- Artikel (42)
- Review Buku (22)
- Review Drama (18)
- Relima Perpusnas RI (16)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (6)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Daily (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- Product (1)
Thursday, February 19, 2026
Tuesday, February 17, 2026
Perfect Hero Bab 465 : Puncak Kemarahan Mr. Ye
TING!
Yeriko
langsung membuka pesan yang dikirim oleh Refi. Pesan itu berupa file video. Ia
langsung membuka pesan tersebut.
DEG!
Jantung
Yeriko serasa berhenti untuk sesaat. Ia melihat jelas bayangan Yuna terikat dan
dalam keadaan yang tidak baik.
“Yer,
kalau kamu mau istri kamu selamat. Temui aku di Sheraton Hotel malam ini!”
Suara
Refi terdengar jelas dalam video itu. Chandra, Lutfi dan Satria langsung
menghampiri Yeriko untuk melihat video yang dikirimkan oleh Refi.
“Istriku,
kenapa bisa kayak gitu?” tanya Yeriko lirih. Matanya memerah menahan amarah dan
kepedihan.
“Sabar,
Yer. Kita akan teliti video ini supaya bisa tahu di mana keberadaan Yuna
sekarang,” tutur Chandra sambil mengelus-elus bahu Yeriko.
Satria
langsung mengambil alih ponsel Yeriko. Ia dan Lutfi berusaha meneliti gudang
kumuh dan gelap yang menjadi tempat Yuna disekap.
Yeriko
bangkit dari sofa, ia berjalan mondar-mandir sambil memikirkan cara menghadapi
dan membalas apa yang sudah dilakukan oleh Refi.
“AARGH
...!” teriak Yeriko histeris. Ia mengepal tangannya erat-erat dan langsung
menghujamkan pukulan tangannya ke dinding. Ia tak lagi merasakan sakit saat
darah segar mengucur dari punggung tangan hingga kulit metakarpalnya terbuka.
“Refi
bangsat! Anjing!” teriak Yeriko sambil menendang lemari nakas yang tak jauh
dari dirinya.
BRAK
...!
PRANG
...!
Nakas
yang ditendang Yeriko terbalik, beberapa vas bunga dan guci yang ada di atasnya
langsung pecah, berserakan ke lantai ruangan tersebut.
Jheni,
Icha dan Bibi War yang ada di lantai bawah langsung berlari begitu mendengar
teriakan Yeriko disertai barang-barang yang berjatuhan.
“Yer,
sabar! Tenang dulu!” pinta Chandra sambil berusaha menghentikan amukan Yeriko.
Lutfi
juga membantu Chandra agar Yeriko berhenti menyakiti dirinya sendiri. “Yer,
berhenti, Yer!” pintanya sambil memeluk tubuh Yeriko dari belakang.
“Sadar,
Yer! Kendalikan emosi kamu! Yuna nggak akan suka lihat kamu nyiksa diri sendiri
kayak gini.”
“Gimana
aku bisa tenang? Istri sama anakku dalam bahaya, Chan,” tutur Yeriko sambil
meneteskan air mata. Wajah Yuna yang bengkak dan terluka membuat hatinya ngilu.
“Kalo
kamu marah-marah kayak gini, nggak akan bisa nemuin Yuna!” seru Chandra.
Yeriko
menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata sambil menyandarkan punggungnya
ke dinding. “Aku laki-laki yang nggak berguna. Aku nggak bisa melindungi istri
dan anakku sendiri,” ucapnya sambil merosot ke lantai.
“Ada
apa ini?” tanya Jheni begitu ia masuk ke dalam ruangan tersebut.
Satria
menoleh ke arah Jheni sambil menggelengkan kepala. Memberi isyarat agar tidak
mengajukan pertanyaan pada Yeriko yang sedang diselimuti amarah dan kesedihan.
Ia memanggil Jheni dan Icha untuk mendekat ke mejanya hanya menggunakan isyarat
tangan.
Jheni
dan Icha langsung menghampiri Satria. Satria menunjukkan rekaman video yang
dikirim oleh Refi.
“Astaga!
Yuna!?” Jheni dan Icha langsung menutup mulut mereka yang terbuka lebar.
“Jhen,
kenapa Yuna bisa sampai kayak gitu? Dia orang baik, kenapa selalu dijahatin?”
tutur Icha sambil terisak. Ia tidak tahan melihat tubuh Yuna yang begitu kotor
dan terluka.
Jheni
juga ikut menangis melihat keadaan Yuna. “Refi jahat banget!” ucapnya lirih.
“Aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja!” lanjutnya sambil mengusap air mata.
Icha
terus terisak. Ia mengingat masa-masa saat ia dan Yuna sering bersama. Yuna
adalah wanita yang ceria, apa adanya, baik hati dan selalu peduli dengan
orang-orang di sekelilingnya.
“Cha,
jangan nangis terus!” pinta Jheni saat menyadari video rekaman Yuna di menit
terakhir. “Yuna nggak akan selemah ini. Kita juga harus kuat!”
Semua
orang langsung menoleh ke arah Jheni. Mereka tahu, hanya Jheni yang mengerti
bagaimana sifat Yuna. Yuna adalah gadis kecil pemberani. Ia tidak akan lari
dari masalah, selalu menghadapi semua masalahnya dengan hati yang tegar dan
kuat.
Jheni
menghela napas. Ia memutar kembali video yang sudah dipindahkan ke laptop
Satria. Jheni langsung menekan spasi pada keyboard untuk menghentikan video
tersebut. “Lihat! Walau Yuna terluka, dia masih tersenyum di video ini. Dia mau
ngasih tahu ke kita semua kalau dia baik-baik aja. Dia pasti lagi nunggu kita.
Kita harus bergerak lebih cepat!”
Semua
orang saling pandang. Mereka mengangguk dan bergerak cepat mencari keberadaan
Yuna.
Yeriko
bangkit dari lantai. Ia tidak ingin terus-menerus menjadi pria yang payah
karena tidak bisa menolong istri dan anaknya. Ia memutar video itu
berkali-kali.
“Earphone
mana?” tanya Yeriko. “Carikan earphone!” perintahnya saat menyadari kalau Yuna
mengucapkan sesuatu dalam video itu.
Jheni
dan Riyan buru-buru mencarikan earphone untuk Yeriko. Riyan dengan cekatan
mengambil earphone dari laci meja kerja Yeriko dan memberikan pada bosnya itu.
Yeriko
langsung memasang earphone ke telinganya. Ia mencoba menangkap suara lirih yang
keluar dari mulut Yuna. “Sat, si Yuna ngasih petunjuk buat kita. Dia ngomong
apa di menit-menit terakhir itu?”
Satria
langsung membesarkan suara laptopnya. Namun, suara Yuna memang sangat kecil.
Hampir tak tertangkap dalam video itu. Satria mencoba membaca gerakan bibir
Yuna. “Yer, dia bilang tempat ini bau lem dan karet.”
“Iya.
Aku juga nangkapnya begitu,” sahut Yeriko. “Kira-kira, tempat apa yang bau lem
atau karet.”
“Bangunan
ini kelihatannya bangunan tua,” tutur Lutfi.
“Kemungkinan
bekas pabrik.” Chandra ikut menambahkan.
“Pabrik?”
Yeriko langsung menoleh ke arah Chandra.
Chandra
menganggukkan kepala.
“Kira-kira
pabrik apa yang bau lem atau karet?” tanya Yeriko.
Chandra
langsung menoleh ke arah Satria. “Sat, kamu yang punya akses data perusahaan
atau pabrik di kota ini. Bisa dicek?” tanyanya.
Satria
mengangguk. “Wait!” pintanya sambil berusaha meminta akses ke pihak-pihak
terkait untuk mendapatkan data yang mereka inginkan.
Semua
orang juga mencoba mengakses informasi lewat internet.
“Yer,
obatin luka kamu dulu!” tutur Icha sambil menyodorkan First Aid Box ke arah
Yeriko.
“Thanks,
Cha!” Yeriko langsung meraih kotak obat tersebut. Ia dengan cekatan
membersihkan dan membalut luka di tangannya sendiri. Semua orang sudah memahami
bagaimana sifat Yeriko. Ia tidak akan pernah mau disentuh oleh wanita lain
selain istrinya dan Bibi War – Wanita yang sudah merawatnya sejak kecil.
“Yer,
ketemu. Ada enam pabrik karet dan tiga pabrik lem di kota ini. Semuanya
tersebar di beberapa tempat. Aku suruh anak buahku menyebar secepatnya,” tutur
Satria sambil menatap layar laptopnya. Ia mengirimkan pesan ke anak buahnya
untuk menyebar ke beberapa titik.
“Yer,
kamu siap-siap datengin si Refi. Jangan sampai dia lepas! Soal Yuna, kamu
percayakan semuanya sama kami.”
Yeriko
mengangguk. Ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha setenang mungkin menghadapi
kekalutan dan ketakutan yang menyelimuti perasaannya.
“Chan,
kamu pergi ke arah timur. Ada anak buahku yang sudah bergerak ke sana. Lutfi,
kamu ke utara, ketemu sama anggotaku di sana. Aku langsung ke Selatan.”
Chandra
dan Lutfi menganggukkan kepala. Mereka bergegas berangkat menuju lokasi yang
dimaksud oleh Satria.
“Yan,
kamu sama anggotamu langsung ke sebelah Barat!” perintah Satria. Ia bergegas
mematikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas.
“Jheni,
Icha, kalian standby di rumah!” pinta Yeriko sambil bangkit dari tempat duduk.
Ia bersiap untuk menemui Refi. Ia memilih pakaian yang berkelas dan merapikan
penampilannya. Ia tidak ingin Refi melihat kekacauan dirinya dan merasa kalau
bisa menghadapi Yeriko dengan mudah.
Jheni
dan Icha menganggukkan kepala. Mereka saling berpelukan saat pria-pria yang ada
di ruangan tersebut pergi satu per satu.
“Jhen,
semoga Yuna baik-baik aja. Aku nggak tega lihat dia dijahatin kayak gini,”
tutur Icha.
Jheni
mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu tenang aja! Yuna itu kuat. Dia juga wanita
yang baik dan cerdas. Tuhan pasti melindungi dia!” ucapnya. Ia berusaha
menenangkan diri sendiri walau hatinya diselimuti kekhawatiran yang besar.
Dalam hatinya, ia terus berdoa agar sahabatnya itu bisa pulang dengan selamat.
((Bersambung ...))
Apa yang akan dilakukan Tuan Ye untuk membalas
perbuatan Refi? Tunggu kelanjutan ceritanya besok lagi ya...
Dukung terus biar aku makin semangat bikin
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
Perfect Hero Bab 464 : Buta Mata Buta Hati
“Ndul,
piye iki?” tanya si Keriting sambil menatap tubuh Yuna yang terduduk di lantai
dalam keadaaan terikat dan mulai lemah. Ia mulai khawatir karena Yuna
terus-menerus memejamkan matanya.
“Aku
juga bingung, Ting. Gimana kalau dia mati?” sahut si Gundul.
“Jangan
sampe, Ndul! Kita cuma disuruh nyulik, bukan bunuh orang. Aku nggak mau kalau
sampai ada yang mati. Dosaku udah banyak, nggak mau bunuh orang, Ndul.”
“Apalagi
dia hamil. Kita bisa bunuh dua nyawa sekaligus,” sahut si Gundul.
“Eh,
kalian itu udah jadi penjahat. Kita udah dibayar buat nyulik ini orang. Dia
nggak kenapa-kenapa. Cuma tidur aja,” tutur pria yang dipanggil bos oleh si
Gundul dan si Keriting.
“Tapi,
Bos. Ini sudah dua puluh jam. Apa nggak kelamaan nyekap dia di sini selama
ini?” tanya si Keriting.
“Kita
lihat dulu! Kita di sini karena duit, Ting. Tugas kita cuma jagain perempuan
ini aja. Selebihnya, biar ditangani sama Mbak Refi. Kalau perempuan ini mati,
yang bunuh juga Mbak Refi, bukan kita,” tutur pria bertato yang sedang duduk
santai di kursinya.
“Tapi,
Bos. Kita bisa mencegah Mbak Refi membunuh wanita ini. Aku melas lihat wajah
dia yang udah lemah kayak gitu. Mana cantik banget. Jadi kayak begitu,” tutur
si Keriting sambil memerhatikan wajah Yuna yang kotor.
“Kita
ini lagi belajar jadi penjahat. Jangan gampang kasihan sama orang! Kamu gimana
sih!?” tutur si Bos.
“Ini
pertama dan terakhir kali aku jadi penjahat. Aku nggak mau lagi nyiksa orang
kayak gini.”
“Wes,
wes ... ini udah nanggung. Kita udah terlanjur nyulik dia. Nggak bisa dilepasin
gitu aja. Bisa jadi, polisi sekarang lagi nyari kita.”
“Bos,
aku nggak mau dipenjara!” rengek si Keriting. “Aku belum kawin!”
“Iya,
Bos. Anakku juga masih kecil.” Si Gundul ikut berbicara.
“Eh,
kamu perlu uang buat bayar sekolah anakmu ‘kan? Udahlah. Kerjain aja ini sampai
selesai. Tunggu Mbak Refi lunasin pembayaran kita, baru kita lepasin perempuan
ini.”
“Tapi,
Bos ... aku nggak mau kalau sampai ada yang mati. Nggak papa nggak dapet dua
puluh juta. Yang penting, aku masih bisa hidup dan cari rejeki lain di luar
sana,” tutur si Keriting.
“Ah,
kamu ini ... kita sudah nanggung, sudah sampai kayak gini. Kita selesaikan aja
dulu. Abis ini, kita nggak usah kayak gini lagi. Aku juga nggak berani kalau
sampai bunuh orang,” tutur si Bos. “Ting, kamu kasih Mbak itu minum lagi!
Jangan sampai lemas!”
Si
Keriting menganggukkan kepala. Ia melangkah perlahan mendekati Yuna sambil
membawa botol air mineral. “Mbak ...!” panggilnya lirih sambil menggoyangkan
pundak Yuna.
Yuna
membuka matanya perlahan. Walau memejamkan mata, ia bisa mendengar semua
pembicaraan tiga pria tersebut. Ia memang sangat lemah, tapi ia tidak begitu
khawatir karena preman yang menculiknya bukanlah orang-orang psikopat
berbahaya.
“Minum
dulu, Mbak!” perintah si Keriting.
Yuna
tersenyum sambil menganggukkan kepala. Tatapan matanya mulai sayu karena ia
sudah kelelahan terikat di tempat yang lembab dan dingin. Bibirnya mulai
gemetaran menahan dingin yang mulai menusuk-nusuk tulangnya.
Si
Keriting tersenyum sambil membantu Yuna minum air putih.
“Mas,
aku kedinginan. Ada air hangat?” tanya Yuna lirih.
Si
Keriting langsung mengedarkan pandangannya. “Nggak ada air hangat di sini,
Mbak. Aku carikan dulu ya!”
Yuna
mengangguk perlahan.
Si
Keriting melepas jaket dan menyelimutkan jaket tersebut ke tubuh Yuna. Ia tidak
tega melihat wajah Yuna yang sudah pucat dan lemah.
“Mau
ke mana, Ting?” tanya si Bos saat si Keriting bergegas keluar dari tempat
tersebut.
“Nyari
kopi, Bos. Bos mau?”
“Boleh,
boleh.”
Si
Keriting mengangguk. Ia tersenyum ke arah Yuna dan berlalu keluar dari tempat
tersebut. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawakan kopi panas untuk
bosnya. Juga membawa air hangat untuk Yuna.
Yuna
merasa beruntung karena orang yang menculik dirinya adalah orang baik dan mau
menolong dirinya. Walau ada banyak hal yang mungkin saja berlawanan dengan
pria-pria itu, salah satunya adalah himpitan ekonomi.
“Mas,
ini di mana?” tanya Yuna lirih saat si Keriting memberinya minum air hangat.
“Di
bekas pabrik karet, Mbak.”
“Daerah
mana?”
Si
Keriting menoleh ke arah dua temannya yang duduk tak jauh darinya. “Aku juga
nggak tahu, Mbak.”
“Bukannya
kamu bilang, udah pernah survey ke tempat ini?”
Si
Keriting menganggukkan kepala. “Iya. Tapi, ke sini selalu sama bos. Dia yang
tahu nama daerah di sini. Aku lupa.”
Yuna
tersenyum kecil. “Ada berapa banyak pabrik karet di kota ini? Ini masih di
Surabaya ‘kan?”
Si
Keriting terdiam. “Aku ...” Ia menghentikan ucapannya saat mendengar suara
sepatu high heels dan langkah yang teratur masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia
langsung bangkit dari lantai, buru-buru menarik jaket yang menutupi tubuh Yuna
dan berjalan menghampiri dua temannya. Ia tidak ingin menimbulkan masalah
karena ketahuan bersikap baik pada orang yang mereka sandera.
Refi
melangkahkan kakinya mendekati Yuna yang masih terikat di lantai. “Hai ...!”
sapanya sambil tersenyum manis.
Yuna
langsung menengadahkan kepalanya, menatap Refi yang berdiri di hadapannya.
Refi
tersenyum puas melihat wajah Yuna yang ada di bawahnya. “Yun, akhirnya aku bisa
membalaskan dendamku sama kamu. Selama ini, kamu selalu berlindung di balik
kekuatan suami kamu dan orang-orangnya. Sekarang, suami kamu itu bahkan nggak
punya kekuatan buat nolong kamu.”
“Suamiku
bukan nggak punya kekuatan. Tapi, dia masih punya perasaan dan kasihan sama
kamu. Lagian, dengan begini ... aku jadi tahu kalau cinta Yeriko ke aku sangat
besar. Dia mau ngelakuin apa pun buat aku, bahkan memberikan nyawanya sendiri.”
Refi
langsung menatap wajah Yuna dengan mata berapi-api. Ia masih tidak bisa
menerima kenyataan kalau Yeriko lebih mencintai Yuna. Wanita yang dikenalnya
tak lebih dari setahun. “Yeriko cuma suka sementara aja sama kamu. Kalau kamu
nggak godain dia terus. Dia nggak mungkin tergila-gila sama perempuan kayak
kamu!” seru Refi.
Yuna
tertawa kecil. “Ref, kamu sudah tahu kenyataannya seperti apa. Yeriko sudah
menolak kamu secara terang-terangan. Yeriko cinta sama aku tanpa aku godain.
Aku nggak perlu jadi wanita penggoda seperti kamu untuk dapetin cintanya
Yeriko.”
Refi
mengerutkan wajahnya. Tangannya langsung mencekik leher Yuna. “Kamu nggak akan
bisa dapetin cinta Yeriko lagi! Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup bahagia.
Kamu adalah orang yang paling aku benci di dunia ini! Karena kamu, aku
kehilangan semuanya!” ucapnya sambil mengeratkan cekikannya.
Yuna
menahan napas saat Refi mencekik lehernya. Ia hanya menatap mata Refi yang
penuh dengan kebencian. Ia tidak ingin Refi terus-menerus hidup seperti ini.
Dia bisa mendapatkan banyak kebahagiaan di luar sana jika mau berlapang dada
menerima kenyataan kalau dirinya memang tidak berjodoh dengan Yeriko.
Refi
melonggarkan tangannya, ia melepas cekikannya saat Yuna mulai kesulitan
bernapas. Tangannya bergetar, ia tidak ingin merenggut nyawa orang lain dengan
tangannya sendiri. Ia ingin melihat Yuna menderita, bukan ingin membunuhnya.
“Uhuk
... uhuk ...!” Yuna merasakan sakit di lehernya. Namun, ia tak bisa membalas
apa yang dilakukan Refi karena tubuhnya terikat.
PLAK
...!
“Karena
kamu, aku nggak bisa kembali sama Yeriko lagi!” seru Refi sambil menampar pipi
Yuna yang sudah bengkak karena tamparan sebelumnya.
“Kamu
yang udah buang Yeriko. Bukan aku yang merebut dia,” sahut Yuna lirih. Ia
berusaha untuk tetap kuat menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
PLAK
...!
“Kamu
yang udah bikin Yeriko benci sama aku!” seru Refi. Ia terus menampar wajah Yuna
bekali-kali. Jiwanya diselimuti dengan emosi yang tak bisa lagi dikendalikan.
Yuna
berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata di hadapan Refi. Ia tidak ingin
menyerah begitu saja. Sekalipun ia harus mati, ia ingin mati dalam keadaan
terhormat. Bukan dalam keadaan berlutut di depan wanita seperti Refi.
Refi
menghentikan tamparannya saat melihat darah segar keluar dari sela-sela bibir
Yuna. Dadanya naik turun lebih cepat seiring dengan napasnya yang tersengal.
“Kenapa kamu ambil semuanya dari aku!?” seru Refi sambil meneteskan air mata.
Yuna
masih tersenyum menanggapi pertanyaan Refi. “Aku nggak ambil apa pun dari kamu.
Kamu yang melepaskan dia sampai dia jatuh ke pelukanku.”
“Kenapa
kamu masih senyum di saat kayak gini? Kamu nggak ngerasain sakit? Kamu nggak
takut aku bunuh kamu, hah!?” tanya Refi sambil menangis.
“Cinta
Yeriko ke aku, nggak akan berkurang sedikit pun walau aku mati,” jawab Yuna
sambil tersenyum. “Aku bahagia, Ref. Aku bahagia karena aku akhirnya tahu siapa
kamu sebenarnya. Aku bahagia karena bisa membuat Yeriko jatuh cinta sama aku
dan melupakan wanita jahat seperti kamu. Aku nggak akan pernah menyesal
sekalipun kamu bunuh aku karena aku sudah berhasil menyelamatkan Yeriko dari
wanita seperti kamu.”
Refi
tersenyum sambil mengusap air matanya. “Aku udah bilang, aku akan ngelakuin apa
pun untuk mendapatkan Yeriko. Kalau kamu nggak mau menyerahkan dia secara
baik-baik, aku terpaksa melakukannya dengan cara kasar.”
“Aku
nggak akan menyerahkan Yeriko sama perempuan kayak kamu.”
“Yun,
kamu udah sekarat gini. Masih nggak mau nyerah juga?”
“Aku
nggak akan nyerah sampai aku mati,” jawab Yuna lirih.
Refi
mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia menyalakan kamera video dan
mengarahkannya ke tubuh Yuna. “Yer, kalau kamu mau istri kamu selamat. Temui
aku di Sheraton Hotel malam ini!” ucap Refi sambil merekam wajah Yuna yang
sudah membengkak dan mulutnya mengeluarkan darah.
“Ref,
kenapa kamu suka banget tempat yang bau lem dan bau karet kayak gini?”
tanya Yuna lirih. “Bukannya ada tempat lain yang lebih bagus untuk
bersenang-senang?” tanyanya lirih sambil menatap mata kamera ponsel Refi.
Refi
tersenyum. Ia menghentikan rekamannya dan mengirimkan kepada Yeriko. Ia menatap
Yuna yang tak berdaya. “Tempat ini lebih cocok buat kamu.” Ia menendang kaki
Yuna dan berbalik pergi.
“Kalian
jaga wanita ini baik-baik, jangan sampai lepas!” perintah Refi.
“Siap,
Bos!”
Refi
langsung bergegas melangkah pergi. Ia tersenyum puas melihat kondisi Yuna yang
menderita. Ia juga sangat bahagia karena akan bertemu dengan Yeriko. Malam ini,
ia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mendapatkan Yeriko.
((Bersambung ...))
Be Carefull ...! Tahan napas bacanya. I’m
sorry ...! Yang nggak tahan konflik berat menepi dulu.
Dukung terus biar aku makin semangat bikin
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
Perfect Hero Bab 463 : Kepedihan Tuan Ye
“Yan,
kamu bisa lacak keberadaan Refi dari nomor hape dia?” tanya Yeriko usai
panggilan teleponnya dimatikan oleh Refi.
“Anak-anak
IT kayaknya bisa, Pak Bos.”
“Hubungi
mereka untuk lacak keberadaan Refi!”
“Siap,
Pak Bos!” Riyan menganggukkan kepala. Ia segera menelepon karyawan Departemen
IT untuk melakukan pelacakan terhadap nomor ponsel Refi.
“Sat,
Yuna beneran ada di tangan Refi. Kita cek beberapa CCTV, siapa tahu ada rekaman
perjalanan dia dan bisa ngelacak dia ada di mana sekarang,” tutur Lutfi.
Satria
menganggukkan kepala. Ia dan Lutfi sibuk meneliti CCTV. Riyan sibuk memantau
perkembangan informasi dari tim IT perusahaan. Jheni dan Icha sibuk mencari
informasi update dari internet.
“Aargh
...! Refi brengsek!” seru Yeriko sambil menarik rambutnya sendiri. Ia
uring-uringan di dalam ruangan tersebut.
“Gimana
keadaan istri dan anakku sekarang?” Yeriko menempelkan dahinya di kaca jendela.
Ia tidak bisa menahan kesedihannya saat mendengar teriakan Yuna, tapi ia tidak
bisa menolong istrinya sendiri. Ia merasa benar-benar tak berguna karena tidak
bisa melindungi istri dan anaknya dengan baik.
Semua
orang dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah Yeriko. Mereka sudah mencari
Yuna selama dua puluh empat jam, tapi belum juga mendapatkan hasil. Mereka
semua tahu bagaimana Yeriko melindungi Yuna selama ini.
“Lut,
manager Refi gimana? Siapa itu namanya?” tanya Chandra.
“Deny?”
Chandra
menganggukkan kepala. “Dia di mana? Nggak sama Refi?”
“Kata
Ajeng, dia lagi di Jakarta.”
“Dia
nggak terlibat sama masalah Refi kali ini?”
Lutfi
menggelengkan kepala. “Nggak tahu. Kemungkinan, Deny nggak terlibat.”
“Apa
kita nggak bisa gunain dia untuk mencari Refi?” tanya Jheni.
“Bisa
juga, Jhen.” Lutfi langsung meraih ponselnya. Ia langsung menempelkan ponsel di
telinganya. “Jeng, kamu tahu di mana si Deny?”
“Kemarin
dia ke Jakarta, mau berobat katanya.”
“Dia
sakit?” tanya Lutfi.
“Katanya
sih gitu.”
“Sakit
apa?”
“Aku
kurang tahu.”
“Bisa
pantau dia terus? Kalau bisa, bawa dia ke hadapanku secepatnya!” perintah
Lutfi.
“Oke,
Bos!”
Lutfi
langsung mematikan panggilan teleponnya.
“Kenapa
si Deny?”
“Katanya
lagi berobat ke Jakarta.”
“Dia
sakit? Apa dia memang nggak terlibat masalah ini?” tanya Chandra. Ia menoleh ke
arah Icha dan Jheni yang sudah terkantuk-kantuk karena tidak tidur semalaman.
“Jhen,
kalian istirahat dulu!” perintah Chandra sambil menghampiri Jheni.
Jheni
menggelengkan kepala. “Mana bisa istirahat kalau Yuna aja belum ada kabarnya
gimana.”
“Kalian
udah bekerja keras nyari istriku selama dua puluh empat jam. Istirahat dulu!”
pinta Yeriko.
Semua
orang saling pandang. Tak ada satu pun yang ingin beranjak dari tempat
tersebut.
“Gantian
istirahatnya!” perintah Satria. “Jangan sampai kita kelelahan dan nggak bisa
nolongin Kakak Ipar Kecil.”
Lutfi
menoleh ke arah jheni dan Icha yang sedang duduk di sofa. “Duo Srikandi, kalian
tidur duluan!” perintahnya.
“Aku
nggak ngantuk,” sahut Icha.
Lutfi
menghela napas. “Mata kamu udah bengkak kayak gitu. Tidur ya! Minta dikelonin
dulu?”
Icha
memonyongkan bibirnya. “Lagi kayak gini, sempat-sempat masih bercanda.”
“Biar
nggak tegang,” sahut Lutfi sambil tertawa kecil. “Kamu harus siapin banyak
tenaga untuk Kakak Ipar. Kalau kamu kecapekan dan sakit, nanti Kakak Ipar
sedih. Serius!”
Yeriko
menatap Jheni dan Icha. “Cha, Jhen ... kalian istirahat dulu!” pintanya lirih.
Jheni
dan Icha saling pandang. Mereka tidak tega melihat keadaan Yeriko yang sangat
berantakan. Rambutnya acak-acakan, matanya merah dan kemejanya tak serapi
biasanya.
“Yer,
kamu juga istirahat. Yuna bisa ketakutan kalo lihat penampilan kamu kayak
gini.”
Yeriko
menganggukkan kepala, ia memaksa bibirnya untuk tersenyum. Walau pikirannya
saat ini benar-benar kalut karena Refi tega melukai istrinya.
Jheni
dan Icha bangkit dari sofa.
“Kami
istirahat di kamar bawah. Kalau ada kabar keberadaan Yuna, langsung kasih tahu
kami!” pinta Jheni.
Semua
orang menganggukkan kepala. Mereka masih terus bekerja keras untuk mencari
keberadaan Yuna.
“Yer,
kamu punya mantan pacar ngeri banget. Kenapa dia sampe gila kayak gini?” tanya
Satria.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Aku udah nolak dia terus, Sat. Nggak ada ngasih harapan
sedikit pun. Bahkan, aku dan istriku sudah berusaha membuat dia sadar supaya
pergi dengan sendirinya. Dia malah makin gila.”
“Aku
curiga, dia itu menderita delusi kayak Bu Ratna,” tutur Lutfi.
“Kalau
sampai istriku kenapa-kenapa, aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja,” tutur
Yeriko. Ia benar-benar menyesal telah membiarkan wanita seperti Refi pernah
masuk ke dalam kehidupannya.
“Apa
yang dimau sama dia?” tanya Chandra.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Dia belum ngomong sampai sekarang. Dia cuma minta aku
nurutin kemauan dia. Ditelepon nggak diangkat-angkat lagi. Dia mempermainkan
kita semua.”
“Coba
kalo bunuh orang nggak dosa, udah kubunuh beneran itu si Reptil!” sahut Lutfi
kesal.
“Bunuh
aja, Lut!” perintah Satria. “Pake aja senjataku!”
“Bunuh
kepalamu!” sahut Lutfi. “Kamu kira aku penjahat?”
“Prajurit
sama penjahat itu beda tipis. Sama-sama bisa bunuh orang.”
“Kamu
yang prajurit. Kamu yang bunuh Reptil itu! Reptil sekarang udah jadi penjahat.
Dimatiin nggak papa ‘kan? Daripada gila sama jahatnya nular ke mana-mana.”
“Boleh
juga. Tapi, janganlah! Negara kita negara hukum. Nggak boleh main hakim
sendiri!”
“Ah,
males kalo ngomong sama kamu. Endingnya tetap aja belain negara,” sahut Lutfi
kesal.
“Prajurit
tugasnya bela negara,” tutur Satria santai sambil mengamati pergerakan rekaman
CCTV dari layar laptopnya.
“Iya,
tahu. Kalo Bela Saphira, itu artis, bukan prajurit!” sahut Lutfi sambil menoyor
kepala Satria.
Satria
terkekeh geli. “Bella Saphira istrinya prajurit loh. Suaminya seniorku, Bro ...
Panglima TNI.”
“Eh,
iya juga ya? Kok, kebetulan pas?” sahut Lutfi. Ia dan Satria asyik berbincang,
namun matanya terus menyelidiki setiap pergerakan kendaraan yang ada di dalam
rekaman CCTV tersebut.
“Yer,
ada informasi kalau Refi masuk ke Sheraton!” tutur Chandra sambil menatap layar
ponselnya. “Buka Grup!”
Yeriko
langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia membaca pesan yang
masuk di grup dan melangkah pergi.
“Mau
ke mana?” tanya Chandra menahan Yeriko.
“Aku
mau bikin perhitungan sama Refi!” sahut Yeriko. Wajah dan matanya menyiratkan
kebencian yang mendalam.
“Jangan
gegabah, Yer!” pinta Chandra sambil menahan dada Yeriko agar tidak keluar dari
ruangan tersebut. “Pikirin Yuna!”
Yeriko
terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam. Pikirannya semakin tak karuan karena
hingga sekarang tak bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan istrinya.
“Aku harus gimana!?” serunya kesal.
“Kamu
percayakan semuanya sama kami!” pinta Chandra. “Jangan sampai kamu bertindak
gegabah dan mencelakai istri kamu sendiri. Ingat, Yer ... Yuna ada di tangan
Refi dan kita nggak pernah tahu apa yang akan dilakukan dia. Harus tetap tenang
supaya bisa menyelamatkan Yuna.”
“Chan,
ini udah lebih dari dua puluh empat jam. Kamu dengar sendiri teriakan Yuna
waktu aku nelpon Refi. GIMANA AKU BISA TENANG!?”
Chandra
menghela napas. “Aku ngerti perasaan kamu, Yer. Tapi kamu juga harus sadar.
Mengerjakan sesuatu dengan gagabah, nggak akan membuahkan hasil yang baik.
Jangan sampai, Refi melukai Yuna lagi! Kamu tenangkan diri kamu dulu supaya
bisa berpikir jernih!”
Yeriko
menatap wajah Chandra selama beberapa detik. Kemudian, ia menganggukkan kepala
dan kembali duduk di sofa. Ia terus memikirkan cara menyelamatkan Yuna. Sebab,
sudah terlalu lama ia menghabiskan waktu untuk perasaannya sendiri hingga tidak
bisa menemukan jalan yang tepat untuk berpikir jernih.
“Aargh
...!” Yeriko kesal dengan dirinya sendiri. “Aku buntu banget!” tuturnya sambil
memukul-mukul kepalanya sendiri.
“Tenang,
Yer! Kita pasti nemuin Yuna dalam keadaan baik-baik aja,” tutur Chandra.
Yeriko
menatap sahabatnya satu per satu. Ia percaya, semua telah melakukan banyak hal
untuk menemukan Yuna. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah seharusnya, ia
mempercayakan semua pada sahabat-sahabat baiknya.
“Aku
mandi dulu!” Yeriko bangkit dari tempat duduk dan bergegas keluar dari ruang
kerjanya. Ia masuk ke kamar dan langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Yeriko
menyalakan shower, menyirami tubuhnya dengan air dingin. Air matanya menetes,
berbaur dengan air yang keluar dari shower di atas kepalanya. Ia melihat
bayangan Yuna yang selalu tertawa ceria saat menyikat giginya, saat
membersihkan wajahnya, saat berendam bersama di dalam bathtub sambil bercerita
banyak hal.
“Yun,
kamu wanita yang baik dan cerdas. Tuhan pasti melindungi kamu dan anak kita.
Kamu tunggu aku! Aku akan berusaha menyelamatkan kamu,” batin Yeriko sambil
menengadahkan kepalanya. Ia berharap, setelah ini bisa menemukan petunjuk yang
membawanya menemui istri tercintanya.
((Bersambung ...))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Aku
tegang, no coment!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi



