“Bi, aku mau masak buat ayah,” tutur Yuna begitu
ia sampai di rumah dan langsung menuju ke dapur. “Ini catatan bahan yang aku
butuhkan. Ada semua nggak di rumah?”
Bibi War membaca semua bahan yang ada di kertas
catatan tersebut. “Pak Adjie sudah siuman?”
Yuna menganggukkan kepala. “Dia minta dibikinin
sup. Makanya, aku pulang dulu bareng Jheni biar bisa masakin buat ayahku.”
“Oh.” Bibi War mengangguk-anggukkan kepala.
“Syukurlah kalau Pak Adjie sudah sadar. Bahan yang kurang, biar Bibi yang
belikan.”
Yuna menganggukkan kepala. “Tolong ya, Bi! Aku
juga harus masak cepat. Kasihan ayah nunggu lama.”
Bibi War menganggukkan kepala. “Bibi belanja
dulu!”
“Hati-hati ya, Bi!” tutur Jheni sambil menatap
Bibi War.
“Iya. Bantuin Mbak Yuna ya!” perintah Bibi War.
“Soalnya, dia sering bikin kacau di dapur kalau dibiarkan sendirian.”
“Iih ... Bibi ...! Itu ‘kan dulu. Beda sama
sekarang!” sahut Yuna sambil meraih apron dari dalam lemari dinding dan
memasangkan ke tubuhnya.
Bibi War tertawa kecil. Ia mengambil tas belanja
dan bergegas keluar dari rumah.
“Aku bantuin apa?” tanya Jheni begitu Bibi War
sudah meninggalkan mereka.
“Bentar. Biasanya, Bibi War selalu simpan ayam
kampung di kulkas,” tutur Yuna sambil membuka pintu kulkas. “Nah, bener kan!?”
serunya sambil meraih box transparan berisi potongan ayam kampung.
“Sini, biar aku yang cuci ayamnya!” pinta Jheni
sambil merebut box dari tangan Yuna.
Yuna meringis sambil menatap Jheni. “Thank you!”
“Kamu yang bikin bumbunya!” perintah Jheni.
“Siap, Bos!” sahut Yuna sambil tersenyum. Ia
mencari beberapa bahan yang ia butuhkan. “Duh, Goji Berry habis!”
“Mungkin, lagi dicari sama Bibi War. Tunggu aja!”
sahut Jheni.
Yuna menganggukkan kepala. Ia menyalakan kompor
dan memanaskan air yang akan ia gunakan untuk membuat Gallus Chicken Soup.
Jheni menemani dan membantu Yuna memasak sup untuk
ayahnya. Ia terus memerhatikan gerak-gerik Yuna yang begitu menguasai dapur di
rumahnya.
“Yun ...!”
“Umh.”
“Menurut kamu ... aku ketemu sama orang tua
Chandra atau nggak, ya?”
“Kamu sendiri gimana? Udah siap atau belum?” tanya
Yuna balik. Ia langsung menoleh ke arah pintu begitu melihat Bibi War masuk.
“Mbak, ini bahan yang kurang,” tutur Bibi War.
Yuna mengangguk. “Makasih, Bi ...!”
Bibi War menganggukkan kepala. “Mau Bibi bantuin
masaknya?”
“Nggak usah. Sebentar lagi selesai, kok,” jawab
Yuna.
“Kalau gitu, Bibi ke halaman belakang dulu!”
Yuna menganggukkan kepala. Ia melanjutkan berkutat
di dapur bersama Jheni.
“Mmh ... kalau jadi, minggu-minggu ini si Chandra
mau ajak aku ke Jogja. Ketemu sama orang tuanya. Aku bingung banget, Yun.
Jantungku deg-degan banget ngebayangin sikap orang tuanya ke aku.”
Yuna tertawa kecil mendengar ucapan Jheni.
“Malah ngetawain!? Kamu sih enak. Keluarganya
Yeriko, semuanya baik dan sayang sama kamu. Sedangkan Chandra, dia aja
dijodohin sama Amara karena mama tirinya yang galak itu. Dia juga sering
berantem sama papanya sendiri.”
“Kamu tahu, Yun ... aku ini orangnya emosian.
Kalau aku ketemu sama mama tirinya dan berantem, gimana?”
Yuna menghela napas sambil menatap Jheni. “Jhen,
cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Kalau keluarga Chandra nggak suka
sama kamu, kamu harus pahami alasan mereka menolak kehadiran kamu. Selama
Chandra bisa menerima kamu apa adanya ... aku yakin, kamu juga bisa meluluhkan
hati keluarganya.”
Jheni menghela napas. “Iya juga, sih. Oh ya,
bagusnya aku bawa apa ya kalau ke rumahnya? Aku nggak tahu hadiah apa yang
cocok untuk mama tirinya karena aku belum pernah mengenal mereka.”
“Kamu tanya aja ke Chandra!”
“Chandra juga nggak begitu dekat dengan
keluarganya. Kayaknya, perseteruan dia sama papanya cukup serius. Kalau aku
tanya, dia selalu emosi.”
Yuna menoleh ke arah Jheni sambil mencicipi sup
yang sudah dibumbui lengkap. “Aku juga nggak pernah berani mengungkit masa lalu
ayahnya Yeriko. Mama Rully sudah memperingatkan aku tanpa memberitahu
alasannya.”
“Ya sudahlah. Lebih baik kita berlapang dada aja
menerima semuanya. Mendesak mereka hanya membuat masalah baru. Nikmati sajalah!
Sampai waktunya mereka nyaman untuk bercerita dengan sendirinya.”
Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung menyiapkan
sup buatannya ke dalam termos makanan.
“Udah kelar?” tanya Jheni.
Yuna mengangguk. Ia segera melepas apron dari
tubuhnya dan meletakkan di atas meja. “Kita berangkat sekarang!”
“Dapurnya nggak diberesin dulu?” tanya Jheni.
“Ada yang beresin. Kasihan ayahku udah kelaparan.”
“Iya juga, sih.” Jheni meringis ke arah Yuna.
Mereka bergegas kembali ke rumah sakit.
...
Begitu sampai di rumah sakit, Yuna langsung
menghampiri ayahnya dan menyuapkan sup sedikit demi sedikit.
“Makasih ya! Sudah mau masakin untuk Ayah!”
Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Ayah
harus cepat sembuh, ya! Biar bisa jalan-jalan bareng kami lagi.”
Adjie menganggukkan kepala. “Ayah tidak bisa
memenuhi janji ayah sebelas tahun lalu untuk mengajak kamu liburan ke luar
negeri. Sekarang, kita nggak punya apa-apa. Maafkan Ayah!”
“Ayah ... ayah nggak perlu ngomong seperti ini!”
pinta Yuna. “Semua tempat di dunia ini adalah tempat yang istimewa. Yang paling
istimewa adalah ... tempat yang selalu ada ayah di dalamnya.”
Adjie tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Ayah
sudah tua seperti ini, masih kamu gombalin?”
Yuna memonyongkan bibirnya. “Aku nggak gombalin.
Beneran!”
“Beneran apa? Nanti ada yang cemburu kalau kamu
gombalin ayah,” tutur Adjie sambil melirik Yeriko.
Yeriko hanya tertawa kecil menanggapi ucapan
Adjie.
“Kalo Oom Adjie sih nggak akan dicemburui. Kalau
sama yang lain, tanduk iblisnya langsung keluar,” ucap Jheni sambil
mengacungkan dua jari telunjuk ke atas kepalanya.
Semua orang tertawa melihat tingkah Jheni.
“Laki-laki cemburu, itu wajar. Asal tidak
berlebihan,” tutur Adjie.
“Wuih, kalo Yeriko cemburunya sampe
tumpah-tumpah!” sahut Jheni. “Dia bukan cuma cemburuan, tapi juga over
protective dan posesif banget. Kalau bukan Yuna yang hatinya sekuat baja dan
selembut bulu, nggak ada perempuan yang mau jadi pasangannya.”
“Kamu ngomong apa!?” tanya Yeriko kesal. “Kamu
nggak lihat ada ribuan cewek di luar sana yang antri mau jadi pasanganku?”
Jheni terkekeh mendengar pertanyaan Yeriko. “Itu
karena mereka nggak kenal sifat buruk kamu yang posesif banget.”
“Kamu ...!? Aku masih bisa dapetin banyak cewek di
luar sana!” sahut Yeriko kesal.
“Oh ... jadi, masih mau cari cewek yang banyak di
luar sana?” tanya Yuna.
Yeriko tersenyum kecut sambil menatap wajah Yuna.
“Aku bercanda, Sayang!”
Yuna hanya melirik sinis ke arah Yeriko. Ia tak
memilih diam sambil mengaduk-aduk sup yang ada di tangannya.
“Jhen, kamu seneng banget mancing emosi orang!”
dengus Yeriko sambil mendelik ke arah Jheni.
“Siapa yang mancing? Emang kenyataan kalau ...”
Jheni menghentikan ucapannya saat Yuna masih menundukkan kepala.
“Yun, kami cuma bercanda ...!” tutur Jheni sambil
menghampiri Yuna yang sesenggukkan. “Kamu tahu kalau Yeriko cinta banget sama
kamu. Dia nggak mungkin cari cewek lain di luar sana,” tutur Jheni sambil
mengangkat rahang Yuna.
“Duaar ...!” teriak Yuna sambil mendekatkan
wajahnya ke wajah Jheni.
“Kamu pura-pura nangis? Ngerjain kita, hah!?”
sahut Jheni sambil menggelitiki perut Yuna.
“Jangan, Jhen! Sup aku tumpah!” seru Yuna sambil
mempertahankan sup di tangannya sambil berkelit.
Adjie langsung meraih termos sup dari tangan Yuna.
Ia dan Yeriko hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Jheni dan Yuna.
“Geli, Jhen ...! Udah ...!” seru Yuna sambil
tertawa.
“Berani-beraninya kamu akting nangis di depanku,
hah!?”
“Aku nggak akting, Jhen.”
“Terus?”
“Cuma pura-pura, hahaha.”
“Sama aja!” dengus Jheni sambil menggelitiki
pinggang Yuna.
Yuna terus tertawa sambil membalas perbuatan
Jheni. Mereka saling menggoda dan tertawa.
“Selamat siang ...!” Suara seorang pria yang baru
memasuki pintu, mengalihkan perhatian mereka.
Yuna dan yang lainnya langsung menoleh ke arah
pintu. Kemudian, mereka saling pandang.
Yuna menarik napas panjang sambil melangkah
menghampiri dua orang yang sudah masuk ke dalam ruangan itu. “Oom Rudi? Tante
Melan!? Kalian tahu dari mana kalau kami di rumah sakit ini?”
Melan tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Nggak
sulit bagi kami untuk mencari informasi tentang keberadaan ayah kamu.”
“Gimana keadaan Kak Adjie?” tanya Tarudi sambil
melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur Adjie. Ia menghela napas lega saat
melihat Adjie sudah sadar dan dalam keadaan baik-baik saja.
Yuna terus memperhatikan Melan yang ada di dalam
ruangan itu. Ia tetap tidak bisa berhenti menaruh kecurigaan pada wanita
setengah baya yang begitu kejam memperlakukan dirinya selama sebelas tahun
belakangan.
“Kenapa, Tante?” tanya Yuna saat mendapati raut
wajah Melan tidak bahagia.
“Eh!? Nggak papa. Tante sangat senang karena ayah
kamu terlihat baik-baik saja,” jawab Melan sambil tersenyum manis. Ia pikir, ia
berhasil mencelakai Adjie. Tak disangka kalau ternyata Adjie dalam keadaan
baik-baik saja dan membuat hatinya sedikit gelisah. Ia takut kalau perbuatannya
kali ini diketahui oleh orang lain.
“Aku harus memastikan kalau Lonan tidak
meninggalkan jejak sedikitpun pada kecelakaan kali ini,” batin Melan. Bibirnya
tetap tersenyum menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu, meski
hatinya diselimuti kebencian.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku semangat nulisnya setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

