Menu BacaanMu
- Perfect Hero (537)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (72)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (56)
- Esai (51)
- Artikel (43)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Relima Perpusnas RI (18)
- Review Drama (18)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Daily (3)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Tuesday, June 2, 2026
Perfect Hero Bab 537 : Wajah-Wajah Memalukan
Mega bangkit dari tanah. Ia langsung menarik
Bellina yang masih tertegun melihat mama mertuanya juga ikut dipermalukan di
depan orang-orang penting yang ada di kota itu.
“Kenapa kamu mempermalukan kami di depan semua
orang? Kami salah apa sama kamu?” tanya Mega sambil menatap Yana.
Yana tersenyum menanggapi pertanyaan Mega. “Aku
sengaja bikin pesta ini cuma untuk membantu Yuna membalaskan dendamnya. Menantu
kamu ini sudah membuat keluarga Hadikusuma dan keluarga kami marah.”
Mega langsung menoleh ke arah Bellina. Ia sama
sekali tidak tahu apa yang diperbuat oleh anak menantunya di luar sana. Ia
semakin membenci sikap Bellina.
“Ayo, kita pulang!” perintah Mega sambil menarik
lengan Bellina.
“Ma, kita nggak bisa diam aja!” seru Bellina
sambil berusaha menepiskan tangan Mega.
“Udah, Bel. Kalau kita di sini terus, mereka akan
semakin mempermalukan kita. Lihat penampilan kamu sekarang! Nggak akan ada yang
menghargai kita di tempat ini,” tutur Mega sambil melirik kesal ke semua orang
yang ada di sana.
“Tapi, Ma ...!”
Mega langsung menarik tangan Bellina keluar dari
rumah tersebut. Mereka berjalan sambil menundukkan kepala saat semua orang
menertawakan penampilan mereka.
Rullyta tersenyum sinis sambil menatap tubuh
Bellina yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya. “Kamu pikir,
kamu bisa menghadapi aku dengan mudah!?” gerutunya kesal.
Semua orang yang ada di sana langsung tersenyum
dan bersikap baik pada Rullyta dan Yana. Mereka tidak ingin membuat dua orang
bersahabat itu merasa tersinggung dan mempermalukan mereka suatu hari nanti.
“Perhatian semuanya ...! Pesta teh hari ini, cukup
sampai di sini. Kalian semua boleh pulang. Aku mau istirahat.”
Semua orang saling pandang. Mereka sedikit kecewa
karena perjamuan kali ini sangat singkat. Namun, tak ada yang berani bersuara
dan memilih untuk pergi satu persatu.
“Akhirnya ... selesai juga,” tutur Yana sambil
merebahkan tubuhnya di sofa.
“Aku puas banget lihat muka mereka hari ini. Biar
semua orang tahu, nggak ada yang bisa main-main sama keluarga kita.” Rullyta
ikut merebahkan diri di samping Yana.
Yuna hanya tersenyum sambil ikut duduk di hadapan
Rullyta dan Yana. “Ma, Mama harusnya nggak perlu repot-repot bikin pesta palsu
kayak gini buat balas perlakuan Bellina ke aku!”
Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu nggak
perlu protes! Mama paling nggak suka diprotes. Kalau masih mau jadi anak mama,
kamu harus nurut sama mama!”
“Iya, Ma,” jawab Yuna sambil menganggukkan kepala.
“Gitu, dong! Jadi anak baik!”
Yuna tersenyum. Ia melepas gelang giok yang
melingkar di pergelangan tangannya. “Bunda, ini ... aku kembalikan gelang punya
bunda.”
Yana langsung menoleh ke arah Yuna yang duduk di
hadapannya. “Barang yang udah bunda kasih, nggak boleh dikembalikan lagi!”
“Eh!? Bukannya ini cuma sandiwara?” tanya Yuna.
“Yang bilang ini sandiwara ... siapa?” tanya Bunda
Yana.
Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ini
serius, Yun. Kamu kira mama dan Bunda Yana suka main-main kalau masalah kayak
gini?”
Yuna menggigit bibirnya. “Tapi, gelang ini terlalu
mahal buat aku, Ma.”
“Halah, berapa sih harganya? Nggak sampe jual
rumah, kok,” sahut Bunda Yana.
“Iya. Masih mahal cincin pernikahan pemberian
Yeriko ‘kan?” sahut Rullyta sambil menatap wajah Yuna. “Ambil aja! Mumpung
dikasih gratis sama Bunda Yana. Kapan lagi bisa morotin duitnya Bunda Yana?”
Yana tertawa kecil. “Kalau Satria udah nikah, aku
bakal suruh istrinya dia buat morotin duitmu juga.”
“Hahaha. Enak aja!” dengus Rullyta. “Kalau dia
baik kayak Yuna, bolehlah aku kasih sedikit.”
“Yuna, mama mertua kamu ini pelit banget.”
“Eh, aku nggak pelit. Tanya ke dia!” sahut
Rullyta.
Yuna hanya tertawa kecil melihat hubungan
persahabatan Mama Rullyta dan Bunda Yana. Ia berharap kalau persahabatan ia dan
Jheni juga bisa abadi seperti dua orang yang kini ada di hadapannya.
...
“Bel, apa yang sudah kamu lakuin ke keluarga Hadikusuma? Kenapa
sampai membuat kita dipermalukan seperti ini? Kamu itu menantu keluarga Wijaya.
Bisa nggak jaga sikap kamu di luar sana!?” tutur Mega sambil menahan kesal saat
mereka sudah ada di dalam mobil.
Bellina tak menyahut. Ia sibuk membersihkan daun teh yang masih
menempel di tubuhnya.
“Bersihin di rumah aja! Jangan bikin kotor mobil mama!” sentak
Mega.
Bellina langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia menyembunyikan
bibir sambil menahan kesal. Mama mertuanya yang kasar dan pemarah, jauh berbeda
dengan mertua Yuna yang lembut dan menyenangkan.
“Kenapa lihatin saya begitu!?” tanya Mega sambil mendelik ke arah
Bellina.
“Nggak papa, Ma.” Bellina memilih untuk menundukkan kepala dan
tidak mengatakan apa pun. Ia masih harus menghadapi kenyataan mamanya yang
bermain gila dengan pria lain dan juga mama mertua yang bersikap kasar
terhadapnya.
“Kalau tahu mau ada hal seperti ini, mama nggak akan bawa kamu ke
pesta teh. Mama juga nggak akan datang ke tempat itu. Mereka sengaja
mempermalukan mama karena kesalahan yang kamu buat ke keluarga Hadikusuma. Apa
kamu memang senang bikin malu keluarga kami?” omel Mega.
Bellina menghela napas kecil. Ia sudah memilih mengalah dan
mendengarkan semua omelan Mega yang begitu menusuk batinnya. “Kenapa semua
orang nggak menerima kehadiranku? Semuanya selalu membanggakan Yuna, Yuna dan
Yuna!” batinnya sambil menatap lantai mobil yang ada di bawah kakinya.
“Masalah mama kamu belum selesai. Sekarang, kamu malah bikin
masalah baru. Kamu bikin mama stres! Lihat si Yuna itu! Dia pintar dan baik
dalam bersikap. Kalau tahu gini, mama biarin Lian menikahi Yuna aja. Aku
menyesal banget sudah pilih kamu jadi menantu.”
Bellina hanya menundukkan kepala. Ia semakin membenci Yuna
saat mama mertuanya membandingkan dirinya dengan Yuna. “Yun, kenapa selalu
kamu?” batinnya penuh kebencian.
“Bel, kalau kamu masih bikin ulah terus di luar sana. Lian pasti
akan menceraikan kamu. Masih lebih baik punya menantu bodoh tapi bisa menjaga
nama baik keluarga. Daripada menantu yang pintar, tapi pintarnya bikin malu
keluarga aja!”
Bellina langsung menoleh ke arah Mega. “Ma, aku nggak ngelakuin
hal berlebihan di luar sana. Emang si Yuna aja yang nggak berani ngadepin aku
sendirian, dia nyuruh mama mertuanya buat ngadepin aku. Masalah aku dan Yuna,
nggak ada hubungannya sama keluarga Hadikusuma atau keluarga Wijaya!” tegasnya.
“Sudah terjadi hal seperti ini, kamu masih bisa bilang kalau ini
nggak ada hubungannya dengan keluarga Wijaya? Otakmu ini ditaruh mana, hah!?”
sahut Mega sambil menoyor kepala Bellina.
Bellina mengerutkan hidung sambil menatap tajam ke arah Mega.
“Kenapa? Marah? Mau berantem sama mama?” tanya Mega.
Bellina menggelengkan kepala. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia
juga tidak ingin melawan mama mertuanya dan membuat suasana semakin panas. Mama
mertuanya memang masih emosi karena latar belakang Bellina yang belum jelas.
Kalau ia berusaha melawan mama mertuanya, posisinya di keluarga Wijaya akan
semakin terancam.
“Kamu pulang ke rumah kami aja dulu!” pinta Mega. “Jangan sampai
Lian tahu soal ini! Mama nggak mau kejadian ini mempengaruhi perusahaan yang
sedang diurusnya!”
Bellina menganggukkan kepala. Ia juga tidak ingin Lian mengetahui
apa yang sudah terjadi hari ini antara dia dan Yuna. Yang Lian tahu,
hubungannya dengan Yuna sudah membaik. Ia tidak ingin Lian mengetahui apa yang
telah ia lakukan saat ini.
((Bersambung...))
Perfect Hero Bab 536 : Korban Pesta Teh
Rullyta tersenyum puas setelah berhasil
mempermalukan Mega pada pembukaan acara perjamuan teh di rumah istri walikota.
Hal ini, membuat Mega tidak bisa berkata-kata, akhirnya memilih diam dan
mengalihkan perhatian pada hal lain.
“Menantu keluarga Hadikusuma memang bukan orang
sembarangan. Dia cantik, anggun dan pintar,” celetuk salah seorang wanita yang
ada di tempat itu.
“Mereka keluarga terhormat, nggak mungkin
sembarangan mengambil menantu,” sahut wanita lain.
“Tapi, ada juga loh keluarga terhormat yang salah
ambil menantu. Maklum, zaman sekarang ... banyak perempuan yang mengincar
keluarga kaya supaya bisa menikmati kekayaan dengan mudah.”
“Eh, iya, bener banget! Kita juga mesti hati-hati
kalau mau cari menantu. Harus dilihat bener-bener bibit, bebet dan bobotnya.
Harus jelas, keturunan keluarga mana dan seperti apa masa lalu mereka. Jangan
sampai salah pilih dan bikin jelek nama baik keluarga!”
“Iya, Bu. Aku juga agak khawatir kalau anakku
tergoda sama perempuan sembarangan. Sekarang, banyak perempuan yang menggunakan
anak untuk menipu laki-laki. Laki-laki itu kayak kucing, mana bisa bedain ikan
segar sama ikan sisa kemarin, semuanya dilahap.”
“Anakku perempuan, Bu. Takut juga dapet laki-laki
yang nggak bener.”
“Jangan sampai dapet suami nggak bener! Sekarang,
banyak juga laki-laki pemalas yang manfaatin istrinya buat dapetin uang.”
“Laki atau perempuan, sekarang sama aja. Yang
penting, kita harus mengenal pribadinya dengan baik. Jangan asal-asalan kalau
cari menantu!”
“Bener-bener.”
“Bu Rully itu beruntung banget. Punya anak yang
tampan dan pintar bisnis. Dia juga dapet menantu yang cantik, baik dan cerdas
begitu. Kalau aku punya menantu begitu, udah aku sayang-sayang setiap hari.”
Bellina yang mendengar obrolan dari beberapa
wanita di sisinya merasa sangat kesal. Hatinya begitu panas mendengar Yuna
selalu mendapatkan pujian. Padahal, ia juga banyak kemampuan ... tapi tidak
seorang pun yang membanggakan dirinya kecuali mamanya sendiri.
“Hai, semuanya ...!” seru Yana mengalihkan
perhatian semua orang. “Aku mau tunjukin ke kalian, barang mahal yang aku buat
dengan tanganku sendiri.”
“Apa?”
“Apa?”
“Apa?”
Semua orang langsung bertanya-tanya.
Yana tersenyum. Ia memberikan isyarat pada pelayan
untuk membawakan barang yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Yana langsung meraih kotak perhiasan dan
membukanya.
“Wah ...! Ini gelang dari batu giok!” seru salah
seorang wanita yang ada di sana. “Bu Wali buat sendiri?”
Yana menganggukkan kepala. “Gelang ini aku buat
dengan pendampingan salah satu ahli perhiasan di Tiongkok. Ini merupakan simbol
kedamaian, keberkahan dan keberuntungan untuk orang yang memakainya.”
“Dijual atau nggak, Bu?” tanya salah seorang
wanita yang ada di sana.
“Mmh ... kalau cocok harganya, bolehlah saya
jual.”
“Mau dijual berapa?”
“Boleh coba?”
Mega dan Bellina juga ikut melihat gelang giok
yang ada di dalam kotak perhiasan tersebut. Gelang itu terbuat dari batu yang
harganya sangat mahal dan membuat semua orang ingin memilikinya.
“Boleh, silakan cobain aja!” perintah Yana sambil
menyodorkan kotak perhiasan tersebut.
Semua orang saling pandang. Mereka sedikit
ragu untuk mencoba gelang giok yang harganya memang sangat mahal untuk sebagian
orang. Mereka takut membuat gelang tersebut rusak dan harus menggantinya.
“Siapa yang mau nyobain duluan?” tanya Yana.
“Aku,” jawab Mega sambil menghampiri Yana. Ia
sangat menyukai model gelang yang ada di tangan Yana.
Yana tersenyum sinis sambil menatap Mega. “Gelang
ini nggak bisa dipakai sembarang orang. Apalagi, ini gelang hasil buatan
tanganku sendiri.”
Mega langsung memanas begitu mendengar ucapan
Yana. Ia merasa sedang dipermainkan oleh Yana. “Tadi, kamu sendiri yang
menyuruh orang lain mencobanya. Kenapa sekarang bicara lain?” tanyanya kesal.
Yana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mega.
“Kalimat itu keluar sebelum kamu muncul di hadapanku!”
“Maksud kamu!?” Mega membelalakkan matanya.
Bellina yang melihat mama mertuanya dipermalukan
dengan sengaja, langsung menghampiri Yana. “Bunda, maksud Bunda apa?”
Yana menaikkan dua alis sambil menatap Bellina.
“Kamu mau coba gelang ini?”
Bellina tak menyahut. Meski kesal dengan ucapan
Bunda Yana, tapi ia juga menginginkan gelang keberuntungan itu.
Yana menaikkan kedua alisnya. “Nggak mau coba?
Sebelum aku berubah pikiran.”
Bellina menarik napas sambil menganggukkan kepala.
Yana tersenyum sambil mengeluarkan gelang tersebut
dari kotaknya. “Mana tangan kamu?” tanya Yana sambil menengadahkan telapak
tangannya.
Bellina tersenyum bahagia karena Bunda Yana ingin
memakaikan gelang itu secara langsung ke tangannya. Ia merasa menjadi orang
yang paling istimewa di tempat tersebut.
Yana memasangkan gelang tersebut. Kemudian, ia
mengamati gelang yang ada di tangan Bellina selama beberapa detik. “Ck, nggak
cocok ada di tangan kamu,” ucapnya sambil melepas kembali gelang tersebut.
Bellina membelalakkan mata. Ia benar-benar tidak
mengerti dengan apa yang dilakukan Bunda Yana terhadapnya.
Semua orang saling pandang. Mereka mulai mengerti
dengan apa yang dilakukan Yana dan Rullyta. Sebab, dari awal perjamuan ... tuan
rumah acara tersebut sudah mengincar Mega dan Bellina sejak awal.
“Bunda, kenapa dilepas lagi?” tanya Bellina.
“Bunda sudah bilang, gelang ini nggak cocok ada di
tangan kamu,” jawab Yana sambil melangkahkan kakinya menghampiri Yuna.
Yana langsung meraih tangan Yuna dan memakaikan
gelang tersebut ke tangan Yuna. Hal ini, semakin membuat emosi Bellina
tersulut.
“Bunda, Bunda sengaja mau mempermainkan kami!?”
seru Bellina.
Yana tak menghiraukan pertanyaan Bellina. Ia
tersenyum sambil memasangkan gelang ke tangan Yuna.
“Bunda, aku merasa nggak pantas pakai barang
semahal ini,” tutur Yuna sambil memperhatikan gelang yang sudah melingkar di
tangannya.
“Benda mati pun tahu siapa yang pantas jadi
pemiliknya. Gelang ini, lebih cocok ada di tangan kamu,” ucap Bunda Yana sambil
tersenyum. Ia mengelus lembut rambut Yuna.
Kalimat lembut yang keluar dari mulut Bunda Yana,
terasa begitu menusuk ke hati Bellina. Ia tidak tahan lagi melihat Yuna yang
diperlakukan sangat istimewa di depan semua orang.
“Kamu lagi hamil, gelang keberuntungan ini lebih
cocok untuk kamu. Semoga, kamu dan si jabang bayi sehat selalu sehat sampai
hari kelahiran nanti,” tutur Bunda Yana sambil mengelus lembut kepala Yuna.
“Makasih, Bunda ...!” ucap Yuna sambil tersenyum
manis.
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Bunda
Yana, membuat Bellina teringat pada anaknya sendiri. Ia menatap perut Yuna
penuh kebencian. Ia tidak akan pernah rela membiarkan anak yang ada di dalam
perut Yuna bisa hidup bahagia. Ia berniat untuk membalaskan dendam anaknya dan
berharap kalau Yuna bisa menghilang dari muka bumi ini.
Bellina menatap tajam ke arah Yuna sambil
melangkahkan kakinya mendekati Yuna secara perlahan. Kebencian yang menyelimuti
hatinya, membuatnya lupa kalau ia berada di tempat yang seharusnya bisa menjaga
sikapnya dengan baik.
Rullyta dan Yana yang menyadari langkah Bellina,
langsung sigap dan berusaha menarik Yuna untuk menjauh dari Bellina.
Bellina semakin kesal, ia mempercepat langkahnya.
Menerobos tubuh beberapa wanita yang ada di sana dan langsung mendorong tubuh
Yuna.
Yuna memundurkan langkahnya begitu tangan Bellina
mendorong kuat dadanya, ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak
terjatuh. “Apa-apaan sih kamu, Bel!?” serunya kesal.
“Kamu sengaja mau merebut perhatian semua orang
dan mempermalukan aku ‘kan?”
Yuna menggelengkan kepala. Ia masih tidak mengerti
dengan Bellina yang terus-menerus menyerangnya.
Bellina kembali menghampiri Yuna untuk menyerang
sepupunya itu.
BYUUR ...!
Langkah Bellina terhenti saat Bunda Yana
menyiramkan teh seduhan ke tubuh Bellina. Seketika, seluruh tubuh Bellina basah
kuyup dengan air seduhan teh. Wajah dan tubuhnya bisa merasakan air hangat yang
menjalar perlahan. Rambut dan pakaiannya juga kotor dengan daun teh yang sudah
mengering.
Bellina membuka mulutnya lebar-lebar. Ia semakin
kesal dengan perlakuan Yuna dan orang-orang yang melindunginya. Ia
menghentakkan kaki sambil mengepal tangannya kuat-kuat.
Melihat Bellina yang dipermalukan dan emosinya
semakin terpancing, Mega langsung melangkah menghampiri Bellina untuk menarik
menantunya itu pergi.
SRUUK ...!
Belum sampai mencapai tubuh Bellina, Mega malah
terjerembab ke tanah karena salah satu kaki wanita yang ada di sana menghalau
kakinya.
Mega langsung membuka mata dan mulutnya
lebar-lebar. Ia menengadahkan kepala sambil menatap Yana dan Rullyta yang
tertawa lebar melihat ia yang bersimpuh di tanah.
“Kalian sengaja mau mempermalukan kami?” tanya
Mega sambil menatap Rullyta dan Yana.
Rullyta hanya tersenyum sambil memainkan alisnya.
“Kamu tanya sama menantu kamu ini, dia sudah berani main-main sama keluargaku.
Kamu pikir, aku bakal diam aja kalau anak menantuku disakiti, hah!?” sentak
Rullyta sambil mendelik ke arah Mega.
Mega terdiam. Ia mengedarkan pandangannya saat
semua tamu menertawakan dirinya dan anak menantunya yang sudah terlihat kacau.
Semua orang menatap ke arah Mega dan Bellina.
Kini, mereka mengerti kalau keluarga Wijaya pernah melakukan hal yang membuat
keluarga Hadikusuma tersinggung, hingga membuat mereka merasa dipermalukan
seperti sekarang ini.
((Bersambung ...))
Eeeaak ... silakan tertawa. Author mau cari inspirasi dulu.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
Perfect Hero Bab 535 : Pesta Teh Terselubung
Satu jam sebelum perjamuan teh ...
“Sore, Bunda ...!” sapa Yuna begitu ia masuk ke
dalam rumah pribadi istri walikota.
“Sore, Cantik ...!” balas Yana penuh semangat. Ia
menghampiri Yuna dan merangkulnya penuh kehangatan. “Kembarannya Bunda ...
akhirnya datang juga.”
“Jauhnya, Ma ...!” sela Satria sambil tertawa
kecil.
“Yee ... waktu masih muda, mama juga cantik kayak
dia,” dengus Yana sambil menatap wajah Satria.
Yuna tertawa kecil. “Pastinya Bunda Yana lebih
cantik dari aku waktu masih muda. Anaknya aja bisa ganteng banget kayak gini.”
“Peres!” sahut Satria.
“Kamu ini ... dipuji malah kayak gitu,” tutur Yana
sambil menatap Satria.
“Aku baru percaya dia ngomong jujur kalau dia
milih aku jadi suaminya, bukan milih Yeriko. Coba mama tanya ke dia! Ganteng
mana, aku tau Yeri?”
Yuna menahan tawa mendengar pertanyaan Satria.
“Hayo ...!?” Satria menunjuk wajah Yuna. “Ganteng
mana?”
Yuna meringis ke arah Satria. “Ganteng kamu, kok.”
“Jangan pake ‘kok’! Kesannya terpaksa kalau
ngomongnya pakai ‘kok’. Emangnya main badminton!?”
“Itu cock, Sat! Ce-o-ce-ka!”
“Itu kan kalau di luar negeri. Kalau di dalam
negeri, namanya tetep kok!” sahut Satria tak mau kalah.
“Udah, nggak usah berdebat cuma gara-gara kok!”
sela Yana. “Kamu naik ke kamar, sana! Sebentar lagi, temen-temen mama mau
datang, nih.”
“Mama Rully udah ada, Bun?” tanya Yuna.
“Udah, lagi siap-siap di halaman belakang.”
“Hawa-hawanya, emak-emak semua ini ... aku pergi
aja!” ucap Satria sambil melengos pergi.
“Ke mana?”
“Jalan-jalan!” sahut Satria sambil melangkah
pergi.
“Bawain mama oleh-oleh ya!”
“Oleh-oleh apa? Calon mantu?” tanya Satria sambil
terkekeh geli.
Yana menganggukkan kepala, “High quality is number
one!”
Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan
kepala. “Dikira nyari istri kayak nyari pentol bakso?” celetuk Satria sambil
melangkahkan kakinya keluar rumah. Tangannya sibuk memainkan kunci sampai ia
menjangkau mobilnya.
Di dalam rumah, Yana hanya mengajak Yuna menemui
Rullyta yang sedang menyiapkan banyak hal untuk perjamuan kali ini.
“Sore, Ma ...!” sapa Yuna. “Ada yang bisa
dibantu?”
“Hei ...! Udah datang?” Rullyta langsung berbalik
dan memeluk pundak Yuna. “Cantik banget!” pujinya sambil mencubit pipi Yuna.
“Mama juga cantik,” balas Yuna sambil tersenyum
menatap wajah mama mertuanya.
“Iya, dong. Walau udah tua, tetep harus tampil
cantik.”
Yuna tersenyum sambil menatap wajah Rullyta yang
masih terawat dengan baik meski usianya sudah menginjak lima puluh tahun.
“Ada yang bisa aku bantu, Ma?” tanya Yuna.
“Nggak ada. Kamu duduk aja! Semuanya udah siap,
tinggal tunggu tamu undangan datang.”
“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia duduk
di salah satu kursi yang ada di taman tersebut.
“Kamu lagi hamil, duduk santai di sini aja!” pinta
Bunda Yana sambil menunjuk ke arah kursi yang sudah ia siapkan di taman
tersebut.
Yuna menganggukkan kepala. Ia mengamati suasana
taman belakang yang ada di rumah walikota tersebut. Ukurannya tidak terlalu
besar, tapi sangat sejuk dan asri. Tidak ada kolam renang seperti yang ada di
belakang rumahnya. Akuarium dinding yang mengelilingi taman tersebut membuat
tempat itu semakin sejuk.
“Eh, mereka udah mulai datang. Aku terima tamu
dulu, ya!” pamit Bunda Yana sambil bergegas menuju pintu utama rumahnya.
Yuna dan Rullyta menganggukkan kepala. Mereka
duduk berdampingan sambil menikmati pemandangan yang begitu menyejukkan mata.
“Ma, tamannya asyik banget ya? Aku baru sekali
masuk ke sini. Mmh ... butuh biaya berapa bikin akuarium dinding kayak gini
ya?”
“Kamu mau bikin juga?” tanya Rullyta.
Yuna menganggukkan kepala. “Kayaknya bagus kalau
di rumah ada akuarium dinding, jadi lebih sejuk. Tapi ... Yeriko suka atau
nggak, ya? Dia kan lempeng banget.”
“Apa pun yang kamu buat, dia pasti suka,” sahut
Rullyta sambil tersenyum.
“Ah, Mama ...! Belum tentu.”
“Kalau dia marah sama kamu, kasih tahu mama! Biar
mama marahin balik!”
“Hahaha. Jangan, Ma! Aku nggak tega lihatnya kalau
mama marahin dia terus.”
“Huft, kamu ini ... ujung-ujungnya belain suami
kamu yang ngeselin itu!”
“Ma, dia anak mama, loh.”
“Nggak. Dia bukan anak mama! Udah mama tukar sama
kamu. Sekarang, dia menantu mama, hahaha.”
Yuna ikut tergelak mendengar candaan Rullyta.
“Mama ... ada-ada aja.”
Rullyta dan Yuna terus bercanda ria bersama hingga
beberapa orang tamu yang datang mulai menyapa mereka.
“Rul, ini menantu kamu, ya?” tanya salah seorang
tamu yang ada di ruangan tersebut.
Rullyta menganggukkan kepala.
“Wah, sudah berapa bulan?” tanya wanita itu sambil
mengelus perut Yuna yang buncit.
“Delapan bulan, Tante.”
“Wah, udah deket lahiran! Semoga sehat terus
sampai lahiran nanti!”
“Aamiin ...”
Di saat yang bersamaan, Mega dan Bellina masuk ke
taman tersebut. Mata Bellina langsung tertuju pada Yuna yang sedang dikerumuni
beberapa ibu-ibu pejabat yang beberapa orang di antaranya sudah sangat dikenal
di tengah-tengah masyarakat.
Yuna hanya tersenyum begitu melihat Bellina sedang
menatapnya. Ia langsung mendekati Rullyta yang berdiri tak jauh darinya. “Ma,
kenapa ada Bellina di sini?”
Rullyta hanya memainkan alis sambil menatap wajah
Yuna.
Yuna mengangkat kedua alisnya. Ia baru mengerti
kalau mama mertua dan sahabatnya sedang menyiapkan jamuan terselubung untuk
mereka. Ia harap, apa yang dilakukan mama mertuanya bisa membuat Bellina jera
dan berhenti mengganggunya.
“Selamat sore semuanya ...!” sapa Bunda Yana pada
semua tamu undangan yang sudah hadir di acara tersebut. “Hari ini, saya
sengaja mengundang kalian untuk menikmati pesta teh dari berbagai belahan
dunia. Kalian pasti akan suka dengan aneka teh yang ada di sini. Selamat
mencoba!”
Semua orang menganggukkan kepala. Mereka segera
mencoba teh yang dihidangkan di tempat tersebut.
“Oh ya, saya juga mau memperkenalkan salah satu
penggemar teh terbaik di dunia. Ada Ibu Mega yang sudah hadir di tempat ini.
Dia akan berbagi pengalamannya dalam menikmati teh terbaik yang ada di seluruh
dunia. Silakan, Ibu Mega! Semua orang ingin mendengarkan pengalaman Anda kali
ini.”
Mega langsung melebarkan kelopak matanya. Ia
memang sangat suka menikmati teh. Namun, ia tidak begitu memahami jenis-jenis
teh terbaik yang ada di seluruh dunia. Ia hanya mencoba beberapa teh
kesukaannya dan tidak bisa menjelaskan lebih banyak.
Mega mengedarkan pandangannya sambil tersenyum. Ia
tidak ingin menjatuhkan harga dirinya begitu saja di depan semua orang.
Rullyta langsung menghampiri Mega dan berdiri di
sebelahnya. “Kamu pernah bilang kalau sudah pernah menikmati aneka teh dari
berbagai daerah. Aku sudah menyiapkan teh seduh yang bisa kamu kenali dari rasa
dan aromanya,” ucapnya sambil menyodorkan secangkir teh ke arah Mega.
Mega tersenyum. Ia mengangguk sopan sambil meraih
teh dari tangan Rullyta.
Rullyta menoleh ke arah pelayan yang memegang
nampan berisi teko yang berdiri di sisinya. Ia kembali menuangkan teh ke dalam
cangkir. “Menurut kamu, ini teh yang berasal dari mana?”
Mega menyesap teh yang sudah ada di tangannya.
Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Mega yang
terlihat ragu-ragu saat menyesap teh tersebut.
“Teman-teman ...! Kebetulan di sini ada menantu
saya. Dia juga sering menemani saya menikmati teh-teh terbaik dari berbagai
daerah. Dia juga lulusan Melbourne University dan sudah mencoba banyak produk
teh dari berbagai tempat.” Rullyta menoleh ke arah Yuna sambil mengerdipkan
salah satu matanya. “Sini ...!” ajaknya kemudian.
Yuna tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduk
sambil menghampiri Rullyta.
Rullyta memberikan secangkir teh yang sama dengan
yang ia berikan pada Mega. Ia memperhatikan Yuna yang menyesap teh itu perlahan
sambil menikmati aroma daun teh segar yang mengepul di atas cangkir tersebut.
“Gimana?” tanya Rullyta sambil menatap Mega dan
Yuna bergantian. “Kalian bisa menebak, ini teh berasal dari mana?”
Yuna hanya tersenyum. Ia tidak langsung menjawab
pertanyaan dari Rullyta.
Melihat Yuna yang hanya tersenyum, Mega langsung
mengerti kalau Yuna juga tidak tahu menahu soal teh yang ada di tangannya itu.
“Dia masih terlalu muda, nggak mungkin punya kemampuan yang baik untuk
membedakan daun teh ini berasal dari mana,” batin Mega.
“Aku tahu ... dilihat dari warna, rasa dan aroma
ini ... ini adalah salah satu teh yang berasal dari pegunungan di India,” tutur
Mega sambil tersenyum penuh percaya diri.
Rullyta mengangkat kedua alisnya sambil menatap
wajah Mega. “Jawaban yang cerdas! Tapi ... kamu masih salah!”
Mega membelalakkan matanya. “Emangnya, kamu tahu
... ini teh dari mana?”
“Tahu banget. Aku yang beli,” jawab Rullyta sambil
tersenyum santai. Ia menoleh ke arah Yuna. “Gimana? Kamu udah bisa mendeteksi
teh ini dari mana?”
“Hmm ...!” Yuna mengendus aroma teh tersebut
sambil memutar-mutar cangkirnya perlahan. Kemudian, ia menganggukkan kepala.
“Ini adalah salah satu teh yang aromanya sangat khas dan yang paling aku suka.
Produk dalam negeri yang sudah mendunia dan paling banyak diminati di pasar
Eropa. Ini teh hitam yang berasal dari kaki Gunung Kerinci.”
“Sekilas, memang hampir mirip dengan teh hitam
dari daerah Assam yang ada di India. Tapi ... rasa di akhirnya sangat berbeda.
Rasa dari teh yang ini tidak akan hilang walau dicampur dengan makanan atau
rempah-rempah lain. Salah satu alasan kuat yang membuat produk ini bisa masuk
ke pasar Eropa dengan mudah,” jelas Yuna.
Rullyta langsung tersenyum bangga mendengar
penjelasan dari Yuna. “Bener banget! Teh hitam yang satu ini, memang aku beli
langsung dari pegunungan Kerinci. Teh ini terkenal di Eropa. Aku pernah
menikmati teh ini di salah satu jalan di Eropa dan cukup kaget dengan produk
lokal, rasa internasional ini.”
Mega tersenyum sinis sambil menatap Rullyta dan
Yuna. “Jelas aja dia tahu kalau ini teh dari pegunungan Kerinci. Udah kamu
kasih tahu lebih dulu ‘kan?”
Rullyta tersenyum menanggapi ucapan Mega. “Kalau
memang kamu curiga seperti itu ... silakan ambil produk teh lain yang ada di
sini dan kita uji pengetahuan soal semua teh yang ada di sini.”
“Oke, siapa takut!?” sahut Mega. Ia tidak ingin
menjatuhkan harga dirinya di depan semua orang. Maka, ia menerima tantangan
dari Rullyta untuk membuktikan kalau ia tidak akan kalah dengan Yuna.
“Silakan pilih!” perintah Rullyta.
Mega langsung memilih salah satu white tea yang
ada di meja lain dan mencobanya.
“Gimana? Ini teh dari mana?”
“Ini teh Fujian,” jawab Mega sambil menyesap teh
yang ada di tangannya.
Rullyta tertawa kecil. “Itu bukan teh Fujian.”
“Terus?” tanya Mega sambil mengerutkan dahinya.
Rullyta menoleh ke arah Yuna untuk ikut mencoba
teh tersebut.
Yuna mengangguk dan mencicipi teh yang sama. Ia
langsung tersenyum begitu menyesap teh tersebut. “Emang mirip dengan rasa teh
Fujian. Tapi, ini salah satu white tea grade 1 dari pegunungan di Cirebon.
Bener atau nggak, Ma?”
Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Yuna.
“Tanya ke Bunda Yana. Soalnya, teh yang satu ini ... disiapkan sama dia.”
Yuna langsung menoleh ke arah Bunda Yana yang
mengacungkan jempol ke arahnya. Ia langsung tertawa bahagia karena bisa menebak
rasa teh itu dengan baik.
Mega menahan malu karena tidak bisa membedakan
rasa teh dari berbagai daerah. Meski begitu, ia tetap saja berdiri sambil
membusungkan dada. Ia tidak ingin terlihat payah di depan semua orang yang ada
di sana.
Di sudut lain, Bellina juga menatap Yuna penuh
kebencian. Ia semakin iri melihat Yuna yang selalu mendapat pujian dari banyak
orang. Sementara, semua orang tidak pernah melihat dirinya sama sekali.
((Bersambung ...))
Kalau kalian, suka teh jenis
apa?
Author sih suka semuanya,
lebih suka lagi kalau ngetehnya bareng kamu ... iya, kamu! Eeeaak ...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

.png)
.png)
.png)