Tuesday, May 12, 2026

Perfect Hero Bab 534 : Undangan Pesta Balas Dendam

 


“Yan, besok kamu sibuk, nggak?” tanya Rullyta yang tiba-tiba sudah duduk di samping Yana saat wanita itu sedang bersantai di halaman belakang rumahnya.

 

“Lagi nggak ada agenda. Kenapa?” tanya Yana.

 

“Aku kesel banget sama sepupunya Yuna itu. Mau ngasih pelajaran secepatnya ke dia. Kamu tahu, anak menantuku dibikin bengkak wajahnya gara-gara tamparan dari dia. Aku heran sama Yuna, dia itu masih aja baik sama keluarganya yang jahat itu,” tutur Rullyta dengan nada berapi-api.

 

“Kalau ada ikatan saudara, memang seperti itu. Walau sering berantem, ntar baik lagi. Anak-anakku juga sering begitu.”

 

“Ini bukan berantem biasa, Yan. Yuna sampai bengkak begitu mukanya. Tega banget. Aku harus balas perlakuan mereka ke anak menantuku. Dia pikir, kami mau diam aja diperlakukan seperti ini?”

 

“Apa rencana kamu?” tanya Yana.

 

“Aku mau balas dendam ke anak itu. Dia harus tahu, dia lagi berhadapan dengan siapa saat ini. Aku mau buat pesta teh.”

 

“Boleh juga.”

 

“Kamu undang si Mega itu. Harus bawa anak menantunya ke pesta kali ini!”

 

“Gampang. Aku juga bakal undang istri orang-orang penting di kota ini. Aku yakin, akan lebih menyenangkan kalau mereka semua menjadi saksi.”

 

Rullyta mengangguk-anggukkan kepala. “Mereka berdua harus tahu sedang berhadapan dengan siapa. Dia pikir, aku bakal diam aja lihat anak menantuku disiksa sama saudaranya sendiri?”

 

Yana tersenyum sambil menatap Rullyta. Mereka mulai membicarakan persiapan dan rencana yang akan mereka buat pada pesta teh kali ini.

 

 

 

...

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

“Permisi, Nyonya ...!” sapa seorang pelayan sambil menghampiri Mega yang sedang bersantai di balkon rumahnya.

 

“Ya, ada apa?”

 

“Ada yang ngantar undangan,” jawab pelayan tersebut sambil menyodorkan kertas undangan ke arah Mega.

 

“Makasih, ya!” ucap Mega sambil meraih kertas undangan tersebut. Ia langsung membuka undangan itu dan membacanya.

 

“Cuma orang-orang penting yang datang ke perjamuan istri walikota, aku harus datang dengan penampilan yang paling baik. Di sana, pasti banyak istri pejabat dan pengusaha besar di kota ini,” tutur Mega sambil tersenyum bahagia.

 

Mega menghela napas sambil bangkit dari tempat duduknya. Baru saja ingin melangkah masuk, ponselnya tiba-tiba berdering.

 

Senyuman di bibir Mega mengembang begitu ia melihat nama istri walikota terpampang di layar ponselnya.

 

“Halo ...!” sapa Mega begitu ia menjawab panggilan telepon dari Yana.

 

“Halo, apa kabar?” sapa Yana.

 

“Baik, Yan. Gimana kabar kamu?”

 

“Alhamdulillah, baik. Undangan dari aku, sudah sampai?”

 

“Sudah, Yan. Baru aja sampai ke tanganku.”

 

“Bisa datang?”

 

“Bisa, dong.”

 

“Bawa menantu kamu ya!”

 

“Menantu?”

 

“Iya.”

 

“Mmh ... oke. Aku bakal bawa dia.”

 

“Iya. Harus dibawa dong, menantu kamu yang cantik itu.”

 

“Siap, siap!”

 

“Oke. Aku tutup teleponnya ya! Masih mau telepon tamu undangan yang lain.”

 

“Iya.”

 

Mega tersenyum bahagia begitu Yana menutup panggilan teleponnya. Namun, senyumnya hilang begitu ia mengingat wajah Bellina. Ia enggan membawa Bellina pergi ke pesta itu.

 

“Huft, kenapa harus bawa anak itu?” celetuknya. Tapi, ia tetap menekan nomor ponsel Bellina dan mengajaknya pergi ke perjamuan teh kali ini.

 

Mega sangat menyukai teh, ia dan wanita-wanita sosialitanya, seringkali menikmati aneka teh segar dari beberapa jenis daun teh yang ada di dunia. Di perjamuan teh kali ini, istri walikota akan menyajikan aneka jenis daun teh dari berbagai negara. Ini bukan pertama kalinya ia pergi ke jamuan teh, sehingga ia sangat antusias untuk hadir di antara ibu-ibu penikmat teh terbaik di dunia.

 

 

 

...

 

 

 

“Satria ...!” teriak Yana sambil menengadahkan kepalanya ke lantai atas.

 

“Iya, Ma. Kenapa?” sahut Satria.

 

“Tolongin Mama sebentar!”

 

Satria bergegas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Ia menghampiri mamanya yang sudah berdiri di bawah anak tangga. “Ada apa?”

 

“Mama mau undang temen-temen mama menikmati perjamuan teh hari ini.”

 

“Terus? Aku disuruh beli teh lagi?” tanya Satria sambil mengenakan kaos lorengnya.

 

“Bukan. Mama mau, kamu jemput Yuna ya!”

 

“Yuna? Siapa lagi? Oh ... Mama bikin pesta kayak gini, mau nyariin aku jodoh? Aku nggak mau!” sahut Satria sambil berbalik dan menaiki anak tangga kembali ke kamarnya.

 

“Hei, mama belum selesai ngomong. Kamu main pergi aja!”

 

Satria menghentikan langkahnya. “Ma, Satria nggak mau dijodohin! Aku bisa cari istri sendiri. Ganteng gini, pakai acara jodoh-jodohan segala!”

 

“Kamu itu, dengerin mama dulu! Jangan nyerocos terus! Mama nyuruh kamu jemput si Yuna, istrinya Yeri. Bukan mau jodohin kamu.”

 

“Astaga! Istrinya Yeri? Kakak Ipar Kecil yang cantik dan baik hati itu?” tanya Satria sambil menatap Yana. Ia bergegas menuruni anak tangga kembali.

 

“Iya. Yeri lagi sibuk, nggak bisa antar. Jadi, kamu jemput dia! Mama sudah telepon si Yeri. Dia minta tolong kamu jemputin.”

 

“Yes! Bisa berduaan sama Kakak Ipar Kecil,” tutur Satria sambil mencolek dagu mamanya.

 

Yana mengernyitkan dahi sambil menatap Satria. “Eh, ingat! Dia istrinya sahabat kamu sendiri. Mau digodain!?”

 

“Hahaha. Bercanda, Ma. Yeriko itu cemburunya ngalah-ngalahin erupsi Merapi. Aku bisa panas-panasin dia. Aku ajak Kakak Ipar Kecil foto selfie bareng di mobil. Biar jenggotnya dia kebakar! Eh, dia nggak punya jenggot. Rambutnya aja deh yang kebakar. Biar otaknya mateng! Hahaha.”

 

“Kamu ini ... senang banget ngerjain temen sendiri,” tutur Yana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Siapa suruh cemburuan banget jadi laki-laki. Lagian, si Yuna juga cantiknya kebangetan. Kalau ketemu sama aku duluan, aku yang nikahin dia!” ucap Satria sambil mencomot roti bakar yang ada di atas meja makan dan melahapnya.

 

“Sat, jangan dibiasakan makan sambil jalan!” tegur Yana. “Kayak sapi aja.”

 

Satria menahan tawa sambil menatap wajah mamanya. “Ma, manusia itu paling pintar kalau bertingkah seperti binatang,” sahutnya dengan mulut penuh roti.

 

“Sama kayak kamu, pintar berdalih kalau dikasih tahu sama orang tua,” tutur Yana sambil menatap wajah puteranya.

 

Satria terkekeh. “Ini ‘kan hasil didikan mama,” celetuknya.

 

Yana melebarkan kelopak matanya.

 

Satria meringis menanggapi raut wajah mamanya yang menyimpan kemarahan. “Jangan marah-marah, Ma! Ntar cantiknya ilang. Aku jemput Kakak Ipar, sekarang. Pakai mobil yang mana?”

 

“Terserah mau pakai mobil mana!”

 

“Mobilnya kakak aku pakai ya!”

 

“Kenapa nggak pakai mobil kamu sendiri?”

 

“Kurang nyaman. Bagusan mobil kakak. Kuncinya mana, Ma?”

 

“Cari di sana!” jawab Yana sambil menunjuk sudut ruangan, tempat menggantung kunci kendaraan dan kunci-kunci rumahnya. “Panasin dulu! Kakakmu sudah lama nggak pakai mobilnya.”

 

“Keenakan di luar negeri, nggak ingat pulang,” celetuk Satria sambil meraih kunci mobil yang tergantung di tempatnya dan bergegas melangkah menuju garasi.

 

Yana tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah puteranya. Meski disegani di luar sana, Satria tetaplah menjadi anak yang sederhana dan sangat berisik baginya.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Monday, May 4, 2026

Perfect Hero Bab 533 : Kesayangan Mertua




“Yun, kamu lagi sibuk nggak?” tanya Bellina.

“Nggak terlalu. Kenapa?” tanya Yuna.

“Aku pengen ngajak kamu keluar, cari angin sambil cerita-cerita. Aku butuh temen curhat, Yun. Please ...!”

Yuna menggigit bibirnya. “Aku nggak bisa jalan keluar, Bel. Cerita di sini aja!” pintanya.

Bellina menghela napas. “Sekali aja, Yun. Nggak jauh, kok. Di sekitaran sini aja. Di deket rumah kamu ini ada danau kecil ‘kan? Ada hal yang mau aku bicarakan, berdua aja.”

Yuna menggelengkan kepala. “Bicarakan di sini aja, Bel!”

Bellina menatap kesal ke arah Yuna. “Kenapa? Kamu nggak berani ngadepin aku sendirian!?”

Yuna langsung menatap wajah Bellina. Ia mulai menyadari kalau kedatangan Bellina kali ini bukan bermaksud baik.

Bellina tersenyum sinis. Penolakan dari Yuna berhasil menyulut amarahnya kali ini. “Yun, kalau emang kamu punya nyali, nggak perlu bersembunyi di balik suami kamu dan orang-orangnya!”

“Bel, banyak hal yang sudah terjadi sama kamu. Tapi, kamu masih aja nggak mau berubah. Kenapa masih aja seperti ini?”

“Karena kamu yang bikin aku kayak gini, Yun!” seru Bellina sambil menatap kesal ke arah Yuna.

“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Kamunya aja yang lebih suka menumpahkan kekesalanmu ke aku. Kenapa? Nggak punya tempat pelampiasan yang lain?”

Braak ...!

Bellina langsung memukul meja begitu mendengar kalimat pertanyaan yang keluar dari mulut Yuna. “Kamu nggak usah naif, Yun! Nggak usah pura-pura baik di depan semua orang. Aku tahu banget kelakuan busuk kamu ini. Kamu cuma pura-pura baik buat menarik simpati semua orang.”

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Kumat lagi ini orang,” batinnya tanpa menatap wajah Bellina.

“Kamu kan yang ngadu ke Mama Mega soal hubungan mamaku dengan laki-laki lain? Kamu yang bocorin semuanya ‘kan?”

Yuna mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala. “Aku nggak ada ketemu sama Tante Mega. Gimana aku bisa ngomong sama dia?”

“Nggak usah membela diri terus, Yun! Aku tahu banget kelakuan busuk kamu ini. Cuma kamu dan Yeriko yang ada di sana tadi pagi. Nggak mungkin ada orang lain bisa tahu masalah ini kalau bukan mulut lemes kamu ini!”

“Aku nggak ada ngomong ke siapa-siapa.”

PLAK ...!

Bellina langsung menampar wajah Yuna sekuatnya. “BOHONG!”

Yuna langsung memegangi pipinya yang terasa sangat perih. “Kamu ...!? Dateng ke sini cuma mau ngajak aku berantem!?”

Bibi War langsung keluar dari dalam rumah begitu mendengar Yuna dan Bellina saling berteriak. “Ada apa ini?”

Yuna langsung bangkit dari tempat duduknya. “Usir dia dari sini, Bi!” perintahnya sambil bergegas pergi.

Bellina tak gentar menghadapi Yuna. Amarahnya semakin tersulut dan berlari menghampiri Yuna untuk menyerangnya.

“Kamu mau apa?” tanya Bibi War sambil menahan tubuh Bellina.

“Bibi nggak usah ikut campur urusan kami!” sentak Bellina sambil mendorong tubuh Bibi War hingga tersungkur ke lantai.

PLAK ...!

Yuna dengan cepat berbalik dan langsung menampar Bellina. Tangan satunya, berusaha melindungi anak yang ada di dalam perutnya.

“Gila kamu, Bel!” seru Yuna.Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dan mendorong tubuh Bellina hingga tersungkur ke lantai.

“Kamu yang gila, Yun!” seru Bellina. “Kalau bukan karena kamu, hidupku nggak akan menderita kayak gini!”

“Aku nggak ngelakuin apa-apa ke kamu. Semua yang terjadi sama kamu, itu balasan yang setimpal buat semua kejahatan kamu selama ini,” sahut Yuna tak mau kalah.

Bibi War berusaha melindungi Yuna kembali dari serangan Bellina yang sudah bangkit dari lantai.

“Kamu lupa sama semua yang udah kamu buat ke aku, hah!? Kamu udah bunuh anak aku! Kamu udah ngerebut perhatian suami aku! Sekarang, kamu mau bikin aku terusir dari keluarga Wijaya, hah!?”

“Apa yang terjadi sama kamu dan keluarga Wijaya. Itu bukan urusanku!” sahut Yuna.

“Halah ... nggak usah pura-pura nggak tahu. Kamu yang ngomong ke mamanya Lian soal kejadian hari ini ‘kan? Supaya aku diusir dari keluarga Wijaya. Kamu masih nggak puas lihat hidup aku menderita!?” seru Bellina sambil mendorong pundak Yuna.

Bibi War langsung menahan Bellina agar tidak mendekati majikannya itu.

“Bel, kalau kamu sekarang menderita. Itu karena ulah kamu sendiri. Nggak ada hubungannya sama aku!” sahut Yuna kesal.

“Kamu yang udah ngadu ke Mama Mega soal mamaku. Masih nggak mau ngaku!?” sentak Bellina. Ia menatap perut Yuna penuh kebencian.

“Pak Satpam ...!” seru Bibi War.

“Aku nggak ada ngomong apa pun ke Tante Mega. Kenapa kamu masih aja ngotot!?” balas Yuna.

“Halah, aku nggak percaya!” seru Bellina. Ia berusaha menyerang Yuna kembali. Namun, gerakan tubuhnya sudah ditahan oleh satpam yang sudah ada di belakangnya.

“Awas kamu, Yun! Kalau sampai aku dikeluarkan dari keluarga Wijaya. Kamu adalah orang paling pertama yang aku mintai pertanggungjawaban!” teriak Bellina sambil berusaha melepaskan diri dari tangan satpam yang menyeretnya.

Yuna menarik napas dalam-dalam sambil memegangi perutnya. Ia tidak ingin siapa pun melukai anaknya, terutama Bellina.

“Mbak Yuna, nggak papa?” tanya Bibi War. Ia merasa bersalah karena tidak mendampingi Yuna sejak awal.

“Nggak papa, Bi.”

“Duduk dulu!” pinta Bibi War sambil memapah Yuna kembali ke kursi. “Bibi ambilkan air hangat dulu.”

Yuna mengangguk dan langsung duduk di kursinya. Pandangannya beralih pada mobil Rullyta yang kembali masuk ke pelataran, diikuti Lamborghini biru di belakangnya.

“Mama? Kenapa balik lagi?” gumam Yuna sambil menutupi pipinya yang terasa sakit karena tamparan keras yang ia terima dari Bellina.

Rullyta dan Yeriko sama-sama keluar dari mobil dan melangkah menghampiri Yuna.

“Mama? Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?” tanya Yuna sambil menopang pipinya. Ia tersenyum semanis mungkin agar mama mertua dan suaminya tidak melihat luka di pipinya.

“Iya, mama mau ambil ...” Ucapan Rullyta terhenti saat melihat Bibi War keluar sambil membawa gelas dan baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil di tangannya.

“Ada apa ini?” tanya Rullyta.

Bibi War menoleh ke arah Yuna.

Yeriko langsung menghampiri Yuna begitu ia menyadari sebelah mata Yuna membengkak. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil menangkap lengan Yuna.

“Nggak papa,” jawab Yuna sambil meringis.

“Buka tangannya!” perintah Yeriko sambil menarik lengan Yuna.

Yuna berusaha mempertahankan tangannya. Ia tidak ingin membuat suami dan mama mertuanya menjadi cemas karena hal ini.

“BUKA!” seru Yeriko kesal.

Yuna tersenyum kecut. Ia menurunkan tangannya perlahan. Pipinya yang merah dan membengkak tanpa ia sadari, membuat Yeriko panik.

“Kenapa bisa kayak gini?” tanya Yeriko. “Bi, cepet bawa sini airnya!”

Bibi War mengangguk. Ia segera memberikan baskom berisi air hangat itu ke tangan Yeriko, beserta handuk kecil yang dibawanya. “Ini ... diminum dulu, Mbak!” tutur Bibi War sambil menyodorkan air hangat ke arah Yuna.

Yuna menganggukkan kepala. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menstabilkan perasaannya sambil menyesap air hangat yang dibawakan Bibi War.

“Mana si Bellina? Ini pasti perbuatan dia ‘kan?” tanya Rullyta sambil menatap Yuna dan Bibi War.

Bibi War menganggukkan kepala. “Iya, Bu. Awalnya, mereka terlihat baik-baik aja. Mbak Belli tiba-tiba menyerang Mbak Yuna.”

Yuna tersenyum kecut. Ia terdiam sambil menatap wajah Yeriko yang sedang mengompres pipinya dengan air hangat.

“Yer, lihat kelakuan Bellina itu! Makin hari makin parah. Dia nggak bisa hidup tenang di luar sana? Kalau Yuna kenapa-kenapa, gimana? Mama nggak akan ngelepasin dia gitu aja!”

Yeriko menghela napas. “Aku akan pikirin cara membalas dia, Ma.”

“Masih mau mikir? Kamu bisa nggak bergerak cepat? Kebanyakan mikir aja!” sahut Rullyta kesal.

“Ma, aku masih banyak urusan di perusahaan. Aku pasti balas apa yang sudah dia lakuin ke istriku.”

“Perusahaan jadi alasan!” sahut Rullyta kesal. “Mama tahu, dari dulu kamu gila bisnis. Setiap hari sibuk ngurus perusahaan. Tapi, sekarang kamu udah punya keluarga. Mama udah bilang berapa kali, hah!? Istri kamu sering terluka karena kamu nggak becus ngurus keluarga.”

Yeriko memejamkan mata sambil menghela napas. “Ma, aku udah berusaha melindungi dia. Di sini ada banyak orang, istriku masih terluka. Mama jangan bikin aku makin sakit kepala! Keluarga dan perusahaan sama pentingnya. Aku nggak bisa ada di samping Yuna selama dua puluh empat jam. Ini di luar kendaliku.”

“Ya udah, kamu usaha buat ada di samping Yuna selama dua puluh empat jam!”

“Perusahaan gimana?” tanya Yeriko sambil menatap tajam ke arah Rullyta. “Mama mau aku ninggalin perusahaan? Biar nggak bisa kasih makan untuk anak dan istriku?”

Rullyta terdiam mendengar pertanyaan Yeriko.

“Aku kerja keras demi keluarga. Supaya mereka bisa bahagia, hidup layak dan dihargai semua orang. Mama bisanya cuma ngomel aja!” tutur Yeriko sambil memeras handuk hangat yang ada di hadapannya dan menempelkan kembali di pipi Yuna.

“Ay, nggak usah marah-marah!” pinta Yuna lembut.

“Aku nggak marah,” sahut Yeriko ketus.

Rullyta menghela napas. “Biar mama yang selesaikan ini semua!” tegasnya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil barangnya yang tertinggal dan bergegas keluar dari rumah Yeriko.

“Ay, jangan sering marah-marah sama Mama Rully!” pinta Yuna.

“Dia sering bikin aku kesel.”

“Dia ‘kan mama kamu juga. Aku sedih kalau lihat kalian berantem karena aku.”

Yeriko menghela napas. Ia tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Nggak usah sedih! Mamaku juga sayang sama kamu seperti anaknya sendiri. Dia bahkan lebih sayang sama kamu daripada aku. Harusnya kamu bahagia mendapatkan ini semua,” tuturnya sambil mengusap lembut pipi Yuna.

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. Ia merasa sangat beruntung memiliki keluarga baru yang sangat menyayanginya. Sejak menikah dengan Yeriko, ia mendapatkan begitu banyak perhatian dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Membuat dia berpikir kalau Bellina menginginkan kebahagiaan yang ia miliki saat ini. Sebab, keluarga Lian memperlakukan Bellina tidak begitu baik.

Yuna berharap kalau Bellina bisa berubah dan hidup dengan baik di luar sana. Banyak hal yang dimiliki Bellina, tidak dimiliki oleh orang lain. Menerima apa yang sudah dimiliki, tentunya akan lebih baik daripada harus mencari-cari kebahagiaan semu yang tidak bisa dimilikinya.

 

 

 

 

  

Perfect Hero Bab 532 : Kehabisan Uang

 


Bellina menatap wajahnya di cermin. Telapak tangan mama mertuanya membekas di pipinya. Ia sangat sedih karena selalu mendapatkan perlakuan kasar dari mama mertuanya. Sangat berbeda dengan perlakuannya saat ia belum menikah dengan Lian.

 

“Siapa yang udah bocorin berita ini ke Mama Mega kalau bukan Yuna sialan itu!?” seru Bellina sambil menatap wajahnya di depan cermin.

 

“Yun, aku bakal bikin perhitungan sama kamu. Aku nggak akan ngebiarin kamu tertawa bahagia di atas penderitaanku! Harusnya, kamu yang menerima perlakuan seperti ini, bukan aku!”

 

Bellina membersihkan wajahnya. Ia menutupi ruam di pipi menggunakan make up. Usai merias tubuhnya, ia bergegas keluar dari kamarnya.

 

“Mau ke mana?” tanya Lian yang baru saja akan masuk ke dalam kamar.

 

“Mau ke rumah sakit lagi. Kamu udah mau berangkat ke kantor?”

 

Lian menganggukkan kepala. “Mau aku antar?”

 

“Nggak usah, Li. Aku bisa bawa mobil sendiri.”

 

Lian menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!”

 

Bellina mengangguk sambil tersenyum. Ia mengecup bibir Lian dan berlalu pergi meninggalkan Lian yang juga akan berangkat ke perusahaannya.

 

Bellina menjalankan mobilnya menuju jalan Keputih. Ia tidak langsung pergi ke rumah sakit, tapi pergi ke rumah Yuna terlebih dahulu.

 

“Yuna ada di rumah?” tanya Bellina pada salah seorang satpam yang menjaga di pintu gerbang rumah Yuna.

 

“Ada, Mbak,” jawab satpam tersebut sambil membukakan pintu gerbang untuk Bellina. Ia sudah mengenal Bellina sebagai adik majikannya, sehingga tidak lagi mempertanyakan maksud kedatangan Bellina.

 

Bellina kembali menjalankan mobilnya perlahan memasuki pelataran rumah Yuna. Matanya langsung tertuju pada Yuna dan Rullyta yang sedang bercengkerama penuh kehangatan.

 

Yuna dan Rullyta mengalihkan pandangannya pada mobil yang masuk ke pelataran rumah.

 

“Itu mobil Bellina ‘kan?” tanya Rullyta.

 

“Iya. Ada apa dia ke sini?” tanya Yuna balik. Ia dan Rullyta sama-sama memperhatikan mobil Bellina karena wanita itu tak kunjung keluar dari mobil.

 

“Mau cari masalah lagi?” Rullyta menebak-nebak.

 

Yuna tertawa kecil. “Apalagi, Ma? Dia kan kangen kalo udah lama nggak ngajak aku berantem.”

 

Rullyta terkekeh. “Kamu ini, ada-ada aja. Mama pasti selalu dukung kamu,” bisiknya tanpa mengalihkan pandangan dari mobil Bellina.

 

Beberapa detik kemudian, Bellina keluar dan langsung menghampiri Yuna dan Rullyta.

 

“Sore, Tante ...! Sore, Yun ...!” sapa Bellina dengan ramah.

 

Yuna hanya tersenyum kecut menanggapi sapaan ramah Bellina. Ia selalu khawatir setiap kali Bellina bersikap baik kepadanya. Sebab, Bellina selalu membahayakan dirinya setiap kali sepupunya itu pura-pura baik.

 

“Tumben main ke sini?” tanya Melan.

 

Bellina tersenyum sambil menatap Rullyta. “Aku kangen aja sama Yuna. Walau sering bertengkar, dia juga masih sepupuku, Tante.”

 

Yuna mengernyitkan dahi sambil menatap wajah Bellina. Mereka saling bertatapan selama beberapa menit tanpa berkata-kata.

 

Rullyta menatap Yuna dan Bellina bergantian. Semuanya terasa canggung karena dua orang yang ada di hadapannya tak kunjung membuka pembicaraan.

 

“Huft, kalian ngobrol aja! Mama mau masuk dulu!” pamit Rullyta sambil bangkit dari tempat duduk. Ia bergegas masuk ke dalam rumah.

 

Bellina langsung duduk di hadapan Yuna begitu Rullyta pergi dari hadapan mereka.

 

“Ada apa?” tanya Yuna sambil menatap wajah Bellina.

 

“Sekarang, kamu boleh ngetawain aku!” sahut Bellina ketus.

 

Yuna tersenyum kecil. “Bel, masalah yang kamu hadapi sekarang, nggak ada hubungannya sama aku.”

 

Bellina menatap wajah Yuna dengan mata berkaca-kaca. “Yun, aku nggak nyangka kalau mamaku seperti itu. Sekarang, dia lebih memilih bareng laki-laki mantan narapidana itu daripada sama papaku. Aku harus gimana?”

 

“Aku nggak tahu, Bel. Lebih baik, kamu kembali ke keluarga asli kamu aja. Toh, mama kamu juga sudah memilih laki-laki itu.”

 

“Aku nggak mau, Yun. Aku nggak mau! Aku nggak mau jadi anak laki-laki itu. Aku mau jadi anak Papa Rudi. Nggak mau yang lain!” rengek Bellina.

 

“Bel, manusia nggak bisa memilih dilahirkan dari rahim siapa dan keluarga yang bagaimana. Tapi, manusia bisa memilih jalan hidupnya masing-masing. Jangan menanam keburukan kalau kamu menginginkan buah kebaikan!” tutur Yuna lembut.

 

Bellina menatap wajah Yuna. Hatinya terasa sangat sakit mendapati kenyataan pahit tentang keluarganya sendiri saat ini. Ia hanya bisa menitikkan air mata, tak tahu apa yang seharusnya ia lakukan.

 

“Apa yang terjadi sama Tante Melan hari ini, itulah hasil perbuatan yang dia tanam dua puluh lima tahun yang lalu. Bahkan, kamu yang nggak tahu apa-apa pun menjadi korban. Sekarang, aku bahkan nggak tahu harus melihat kamu sebagai apa. Kalau hasil tes DNA menyatakan kamu adalah anak pria itu. Kita nggak punya hubungan keluarga, Bel.”

 

Bellina menatap pilu ke arah Yuna. Ia benci dengan kelakuan mamanya sendiri. Tapi, ia lebih membenci Yuna yang memojokkannya karena kesalahan mamanya di masa lalu.

 

“Bel, sekalipun kamu bukan lagi menjadi bagian dari keluarga Linandar ... aku akan tetap menganggap kamu sebagai saudara, asalkan kamu mau memilih jalan yang benar dan berhenti melakukan hal-hal buruk!” pinta Yuna lembut.

 

Bellina tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Kamu memang paling suci, Yun. Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup bahagia, sementara aku selalu menderita kayak gini,” batin Bellina penuh kebencian.

 

Yuna tersenyum kecut membalas senyuman Bellina yang tidak bisa ia artikan. Ia berharap kalau Bellina bisa menjadi wanita yang baik setelah kejadian ini. Meski begitu, Yuna tetap waspada dengan senyuman Bellina yang masih menyiratkan kebencian.

 

“Yun, makasih ya! Kamu udah mau dengerin aku dan ngasih saran yang baik buat aku,” tutur Bellina.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku tahu, kamu wanita yang baik. Hanya saja, kamu berada di tempat yang salah. Kalau kamu selalu berbuat baik, suami kamu pasti makin sayang.”

 

Bellina tersenyum kecil. “Aku harap begitu.”

 

Yuna tersenyum. Pandangannya beralih pada pelayan yang menyuguhkan teh hangat ke atas meja yang ada di hadapannya. “Makasih, Mbak!”

 

Pelayan itu mengangguk dan bergegas masuk kembali ke dalam rumah.

 

“Minum, Bel ...!” pinta Yuna sambil menyodorkan secangkir teh ke hadapan Bellina.

 

Bellina mengangguk sambil tersenyum. Ia meraih cangkir teh tersebut dan menyesapnya perlahan.

 

“Yuna Sayang ...! Kue buatan mama sudah jadi!” seru Rullyta sambil menghampiri Yuna dan Bellina. Di tangannya ada sebuah piring berisi kue hasil olahannya sendiri.

 

“Wah ...! Buatan Mama Rully, pasti enak banget!”

 

Rullyta tersenyum menanggapi ucapan Yuna. “Harus bilang enak! Kalau nggak, dapur kamu mama bakar!” tuturnya sambil tertawa.

 

“Iih ... mama mah main bakar-bakar aja. Ntar Yuna nggak bisa masak buat suami tercintaah ...!”

 

Rullyta tertawa sambil mencubit pipi Yuna. Pandangannya beralih pada Bellina. “Bel, cobain!” pintanya sambil menyodorkan piring tersebut ke hadapan Bellina.

 

Bellina mengangguk sambil tersenyum. Ia segera mencomot kue salju buatan Rullyta dan memasukkan ke mulutnya perlahan.

 

“Gimana? Enak?” tanya Rullyta sambil menatap Bellina.

 

Bellina menganggukkan kepala. “Enak, Tante.”

 

Rullyta tersenyum puas melihat hasil olahannya kali ini karena mendapat pujian dari dua orang yang ada di hadapannya. Sebab, ia tidak begitu mahir membuat kue. Mendapatkan pujian, tentu menjadi hal yang menyenangkan baginya.

 

“Ma, sekarang lagi nge-trend kue kering yang bentuknya ulat sutra. Mama mau cobain? Ntar Yuna bikinin.”

 

Rullyta langsung mengernyitkan dahi. Ia mengedikkan bahu sambil membayangkan ulat sutra yang bergerak-gerak di atas piring. “Argh, kamu ada-ada aja! Bayanginnya aja mama udah geli. Kenapa nggak bikin kue kering bentuk belatung sekalian!?”

 

“Hahaha. Nanti aku bikinin!” sahut Yuna sambil tertawa.

 

“Iih ... mama buang sebelum masuk ke dalam rumah mama,” sahut Rullyta.

 

“Idih, mama nggak menghargai kerja keras anaknya. Bikinnya itu susah, Ma. Harus detil dan teliti banget. Mama harus menghargai karya tangan anak kesayangan mama ini, dong!” pinta Yuna manja.

 

“Minta dihargai berapa, hah!?” sahut Melan sambil menatap wajah Yuna dengan gaya mengejek.

 

Yuna memutar bola matanya. “Berapa ya?”

 

“Seribu?”

 

“Boleh. Kurs dollar ya?” sahut Yuna sambil menahan tawa.

 

“Kamu mulai mata duitan, hah!?” tanya Rullyta sambil mencolek pinggang Yuna.

 

Yuna tertawa sambil menahan geli di pinggangnya.

 

Bellina memperhatikan keakraban antara Yuna dan mama mertuanya. Semenjak menikah, Yuna mendapatkan begitu banyak kebahagiaan dan kasih sayang dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

 

Bellina mulai membandingkan sosok Mega dan Rullyta sebagai seorang mama mertua, ia juga kerap membandingkan Lian dan Yeriko sebagai sosok suami dalam kehidupan.

 

“Eh, udah makin sore. Mama pulang dulu ya!” pamit Rullyta sambil melihat arloji di tangannya.

 

“Buru-buru banget?” tanya Yuna sambil menatap wajah Rullyta.

 

“Iya. Udah waktunya ngasih makan ayam,” jawab Rullyta sekenanya.

 

“Ayam apaan?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

“Ayam yang bisa menghasilkan telur emas,” jawab Rullyta sambil memainkan alisnya. Ia melongo ke bagian dalam rumah Yeriko.

 

“Ngga, Angga ...!” panggil Rullyta. “Ayo, kita pulang!”

 

“Iya, Nyonya ...!” sahut Angga dari dalam rumahnya.

 

“Sari, tolong bawakan tas saya sekalian ya!”

 

“Baik, Nyonya.”

 

Melan tersenyum. Ia berpamitan dengan Yuna sambil bersalaman pipi.

 

“Hati-hati ya, Ma!” seru Yuna sambil menatap tubuh Rullyta yang didampingi oleh supir dan beberapa pelayan yang bekerja di rumah keluarga besar Hadikusuma.

 

Rullyta mengangguk sambil tersenyum.  Ia bergegas pergi meninggalkan Yuna yang masih berbincang hangat dengan Bellina. Ia harap, kehadiran Bellina tidak akan membahayakan Yuna dan janinnya. Ia sudah menyuruh orang-orang di rumah itu untuk selalu waspada dengan kehadiran Bellina.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas