Tuesday, March 3, 2026

Perfect Hero Bab 496 : Menemani ke Dokter Kandungan

 


“Selamat sore, Dokter ...!” sapa Yuna begitu ia masuk ke dalam ruang pemeriksaan.

 

“Selamat sore ...! Apa kabar?” balas dokter itu dengan ramah.

 

“Baik, Dokter,” jawab Yuna sambil tersenyum manis.

 

“Sudah diperiksa tensinya ‘kan?” tanya dokter.

 

Yuna mengangguk. Sebelum ia masuk ke ruang pemeriksaan, ada asisten dokter yang membantu mengecek kondisi kesehatan Yuna terlebih dahulu.

 

“Semuanya normal, ya! Tensinya bagus.” Dokter itu memerhatikan buku KIA milik Yuna sambil mengetuk-ngetuk meja. “Baring dulu, ya!” pinta dokter tersebut.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung berbaring di atas brankar, dibantu oleh suaminya yang selalu ada di sisinya.

 

Dokter mulai meneteskan cairan ke atas perut Yuna.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia sedikit khawatir dengan kondisi janinnya. Ia harap, anaknya bisa tumbuh dengan baik dan sehat.

 

“Lihat! Itu anak kalian!” tutur dokter sambil menunjukkan gambar di layar.

 

Yuna dan Yeriko langsung menatap layar tersebut sambil tersenyum bahagia.

 

Yeriko menggenggam tangan Yuna sambil menatap anaknya yang sudah bisa ia lihat meski masih berada dalam kandungan istrinya.

 

“Bayinya masih terlalu kecil untuk usia kandungan yang sudah masuk trimester ketiga. Banyak makan yang manis-manis seperti ice cream. Supaya perkembangan janinnya bisa lebih cepat,” tutur dokter tersebut.

 

“Ice cream? Boleh makan ice cream, Dokter?”

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala. “Ice cream sangat bagus untuk mempercepat perkembangan janin. Tapi, jangan berlebihan juga. Nanti bayinya malah kebesaran.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia tersenyum bahagia sambil meremas tangan suaminya. “Aku boleh makan ice cream lagi,” ucapnya lirih.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Besok, aku traktir makan ice cream.”

 

“Emang nggak kerja?”

 

“Kerja.”

 

“Terus? Gimana caranya traktir ice cream?”

 

“Aku kasih uangnya aja, gimana?”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Mending delivery, deh.”

 

“Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk banget. Nggak bisa nemenin kamu keluar. Setelah semuanya selesai, aku ajak kamu jalan-jalan.”

 

“Nggak papa, aku ngerti,” sahut Yuna sambil bangkit dari brankar.

 

“Sesibuk apa pun, kalau suami sudah bisa menemani istrinya periksa kandungan, itu sudah bagus. Bisa mengurangi tingkat kekhawatiran dan stress pada ibu hamil. Ada banyak perempuan yang memeriksakan kandungan tanpa pendampingan dari suami. Bahkan, ada juga yang menjalaninya tanpa perhatian dari suami. Kasih sayang dan perhatian suami pada istrinya ketika hamil sangatlah penting,” jelas dokter sambil menatap Yuna dan Yeriko.

 

“Terima kasih, Dokter! Suami saya, perhatiannya sudah berlebih. Saya tidak pernah merasa kekurangan,” ucap Yuna.

 

Dokter itu tersenyum lega. “Baguslah kalau begitu. Rencananya, mau lahir normal atau caesar?”

 

“Operasi.”

 

“Normal,” jawab Yuna dan Yeriko bersamaan.

 

Dokter itu menatap Yuna dan Yeriko bergantian karena jawaban mereka berbeda. Kemudian, ia tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Hal ini harus didiskusikan baik-baik untuk menghadapi persalinan.”

 

“Saya mau melahirkan secara normal, Dokter,” tutur Yuna.

 

Dokter itu menarik napas dalam-dalam karena tatapan Yeriko yang kurang bersahabat. “Semua perempuan ingin melahirkan secara normal. Kalau begitu, harus tetap sehat. Banyak bergerak supaya peredaran darah selalu lancar. Sering jalan kaki setiap pagi sangat baik untuk menghadapi persalinan!” Dokter itu memberi saran.

 

Yun menganggukkan kepala. “Terima kasih sarannya, Dokter! Kalau gitu, kami pulang dulu!” pamitnya sambil menarik lengan Yeriko keluar.

 

“Eh, bukunya ...!” seru dokter tersebut.

 

Yun berbalik, ia mengambil buku KIA miliknya dan bergegas keluar dari ruang pemeriksaan.

 

Yeriko terus melangkahkan kakinya menyusuri koridor tanpa mengatakan apa pun.

 

“Kenapa sih wajahnya jelek banget?” tanya Yuna begitu mereka sudah sampai di parkiran.

 

Yeriko menatap wajah Yuna sambil melipat kedua tangan di dadanya. “Kamu yakin kalau mau melahirkan normal?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Yeriko menyandarkan siku ke atap mobil, telapak tangannya menopang dahi. Ia terlihat berpikir keras soal persalinan yang akan dijalani istrinya.

 

Yuna menggigit bibir. Ia memeluk pinggang Yeriko sambil menengadahkan kepalanya. “Kamu kenapa?” tanyanya lirih.

 

“Ck, aku bingung. Melahirkan itu nggak mudah. Aku nggak tega lihat kamu kesakitan. Kalau dioperasi, kamu nggak akan ngerasain sakit,” jawab Yeriko sambil menatap pilu ke arah Yuna.

 

Yuna tertawa kecil. “Ay, kodrat semua wanita adalah menjadi seorang ibu. Ketika melahirkan, baru bisa benar-benar disebut wanita. Hampir semua wanita di dunia ini akan merasakan sakitnya melahirkan. Tapi, mereka semua menikmatinya. Bahkan, mereka bisa sampai punya anak empat, lima, bahkan dua belas.”

 

Yeriko langsung menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Aku cuma nggak mau kalau kamu sakit,” bisiknya.

 

“Nggak perlu khawatir. Kata orang, rasa sakit saat melahirkan adalah kenikmatan hidup yang tidak bisa dirasakan semua orang. Kamu nggak perlu khawatir seperti ini. Cukup kasih aku semangat supaya aku selalu bahagia dan semakin percaya diri untuk menjalaninya.”

 

Yeriko menggigit bibirnya. Ia mengangguk kecil sambil mengeratkan pelukkannya. Hal yang paling menakutkan dalam hidupnya adalah semua rasa sakit yang diterima istrinya demi membuat Yeriko bahagia.

 

Yuna tersenyum sambil melepas pelukannya. “Kita pulang, yuk!” ajaknya.

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia mengecup bibir istrinya, kemudian membukakan pintu mobil.

 

“Ay, kamu jadi ke kantor lagi?” tanya Yuna saat mereka sudah bergerak keluar dari parkiran.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku antar kamu pulang dulu.”

 

“Kenapa nggak lembur di rumah aja?”

 

“Malam ini, masih harus diskusi sama tim budgeting sambil revisi di beberapa divisi. Apalagi, tim IT sudah mulai apply sistem baru untuk perusahaan. Proses pemindahan data nggak mudah. Aku masih harus lihat gimana kinerja timku supaya semua berjalan dengan baik.”

 

“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Kamu mau makan apa?” tanya Yeriko.

 

“Aku makan di rumah aja. Kamu langsung ke kantor aja!”

 

“Beneran?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Biar kerjaannya cepet kelar dan cepet pulang ke rumah.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengacak ujung kepala Yuna. “Aku kira, udah mulai bosan sama aku.”

 

“Gimana bisa bosan kalau kamu yang berjarak satu meter dari aku aja sudah bikin aku rindu,” sahut Yuna.

 

Yeriko menghela napas. “Abis baca novel apa?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak baca novel. Aku selalu baca hati kamu,” goda Yuna sambil merayapkan jarinya ke bahu Yeriko.

 

“Ck, aku banyak kerjaan. Kamu jangan godain suami kamu terus, dong!” pinta Yeriko.

 

Yuna terkekeh. “Emangnya godaanku mempengaruhi kerjaan kamu?” tanya Yuna.

 

“Sangat!” jawab Yeriko. Ia terus melajukan mobilnya hingga sampai di pekarangan rumahnya.

 

“Aku masuk dulu, ya!” pamit Yuna sambil melepas safety belt yang melingkar di pinggangnya. “Kamu jangan lupa makan, jangan lupa pulang cepat!”

 

Yeriko mengangguk. “Jangan tidur larut malam, ya!”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Yeriko. “Jangan pulang kerja larut malam, ya!”

 

Yuna tertawa kecil. Ia bergegas membuka pintu mobil.

 

“Tunggu!” panggil Yeriko sambil menahan lengan Yuna.

 

“Ada apa?” tanya Yuna sambil menoleh ke arah Yeriko.

 

“Ada yang ketinggalan.”

 

Yuna menaikkan kedua alisnya.

 

Yeriko langsung menarik tengkuk Yuna dan menghisap bibir istrinya penuh gairah.

 

Yuna tersenyum dalam hatinya. Ia terus mengikuti ritme gerakan Yeriko hingga membuat jiwanya terus melambung tinggi.

 

“Ay ...!” Yuna menghentikan gerakan tangan Yeriko yang sudah masuk ke dalam bajunya. “Katanya mau kerja?”

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengecup kening Yuna dan memperbaiki posisi duduknya.

 

“Hati-hati ya!” ucap Yuna. Ia mengecup pipi Yeriki dan bergegas keluar dari mobil.

 

Yeriko melambaikan tangannya sambil menjalankan Lamborghini biru miliknya keluar dari halaman rumah. Kemudian melaju kencang membelah jalanan kota. Ia kembali sibuk dengan rutinitas perusahaan yang padat saat akhir tahun, seperti biasanya.

 

 

((Bersambung ... ))

Thanks udah dukung terus sampai sini. Jangan lupa kasih Star Vote ya!

Sapa author terus di kolom komentar.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 495 : Nama Bayi untuk Mr. Ye

 


Menjelang akhir tahun, Yeriko disibukkan dengan urusan perusahaan. Membuat Yuna harus menjalani hari-hari tanpa suami di sisinya.

 

“Mmh ... sore ini aku USG, tapi Yeriko sibuk banget. Pasti nggak bisa nemenin aku periksa kandungan?” gumam Yuna sambil menatap langit dari balkon rumahnya.

 

“Anak aku laki-laki atau perempuan ya? Mau dikasih nama siapa ya?”

 

“Huft, ngapain aku pusing soal nama? Keluarga Hadikusuma pasti sudah menyiapkan nama untuk anakku. Mereka sudah menantikan anak ini. Kalau udah lahir, semua perhatian pasti tertuju sama si Dedek. Kakek dan Mama bakal sering ke sini ngunjungi kita,” tutur Yuna sambil mengusap-usap perutnya sendiri.

 

“Dedek sehat terus, ya! Kakek buyut pasti sudah nyiapin nama yang bagus buat Dedek.”

 

Meski Yuna sudah mempercayakan semua pada keluarga Yeriko, tapi ia masih saja penasaran ingin memberikan nama untuk anaknya kelak. Terlebih, ia belum mengetahui jenis kelamin anaknya sendiri.

 

Detik terus berganti, tapi Yuna tak kunjung beranjak dari tempatnya. Ia masih sibuk memikirkan nama untuk anaknya sendiri. Sebab, ia masih tidak tahu bagaimana menentukan nama yang bagus untuk anaknya. Mencari di internet, justru membuat isi kepalanya memikirkan banyak nama dan membuatnya semakin pusing.

 

“Hei, kenapa ngelamun di sini?” tanya Yeriko sambil memeluk Yuna dari belakang.

 

Yuna langsung memutar tubuhnya menghadap Yeriko. “Udah pulang? Sekarang jam berapa?” tanyanya panik karena ia tidak menyambut Yeriko di depan rumah seperti biasa.

 

“Jam setengah enam sore,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Hah!?” Yuna menatap langit yang masih cerah. “Aku buatin susu dulu. Mau langsung mandi atau mau nyantai dulu?” tanyanya sambil bergegas pergi.

 

“Nanti aja!” pinta Yeriko sambil menahan tubuh Yuna. “Masih jam tiga, kok.”

 

“Serius? Jam tiga atau jam setengah enam?”

 

“Jam tiga,” jawab Yeriko sambil menyodorkan jam tangannya ke hadapan Yuna.

 

Yuna mengerutkan dahi melihat jam yang tertera di arloji Yeriko. “Kok, jam segini udah pulang?”

 

“Sore ini jadwal periksa kandungan ‘kan?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

“Kamu ingat?”

 

“Aku nggak akan pernah lupa segala hal tentang kamu.”

 

“Gombal,” sahut Yuna sambil menyembunyikan senyum di bibirnya.

 

Yeriko tertawa kecil. Ia langsung menggigit ujung hidung Yuna karena gemas.

 

“Iih ... ntar hidungku habis kalau kamu gigitin terus!” dengus Yuna.

 

“Masa, sih? Bibir kamu ... aku hisap terus tapi nggak habis-habis.”

 

“Oh ya? Jadi, mending hisap bibirku atau hisap rokok?”

 

“Dua-duanya. Kalau nggak ada kamu, aku hisap rokok.”

 

Yuna mengerutkan bibirnya.

 

Yeriko tersenyum sambil mengangkat dagu Yuna menggunakan jari telunjuknya. “Kenapa mukanya gitu?”

 

“Aku cemburu sama rokok.”

 

Yeriko tergelak. “Cemburu kenapa?”

 

“Kamu bawa dia ke mana-mana. Sedangkan aku, cuma ditaruh di rumah aja. Kalo kamu nggak pulang ke rumah, aku nggak disentuh sama sekali,” jawab Yuna.

 

“Kamu mau dibawa-bawa juga? Mmh ... aku khawatir kalau bawa kamu keluar rumah.”

 

Yuna meringis sambil menatap Yuna. “Aku ngerti, kok. Takut ada yang nyulik aku lagi?”

 

Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk dahi Yuna. “Lebih takut lagi kalau ada yang nyulik hati kamu.”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Yeriko. Ia memainkan tangannya di dada Yeriko. “Kalau hatiku diculik, kamu pasti punya banyak cara untuk menyelamatkan hatiku supaya kembali ke pelukan kamu ‘kan?”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap manik mata Yuna. Ada rasa yang bergejolak setiap kali ia melihat lukisan bahagia di dalam manik mata wanita itu. Ia masih tidak mengerti kenapa mata itu bisa selalu tersenyum, menunjukkan banyak warna dunia pada hatinya yang dulu tak berwarna.

 

Yuna tak bisa berkata-kata melihat tatapan suaminya yang begitu hangat. Kedua tangannya melingkar ke pinggang suaminya itu. Memeluknya untuk waktu yang lama.

 

“Apa yang kamu pikirkan sendirian di tempat ini?” bisik Yeriko.

 

“Lagi mikirin kamu dan anak kita.”

 

Yeriko melepas pelukannya. “Ada hal yang mengganggu pikiran kamu?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku cuma mikirin nama yang cocok buat anak kita. Kira-kira, kakek akan kasih nama siapa ya?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kakek bilang, nama anak kita ... kita yang akan menentukannya.”

 

“Hah!? Serius!?” tanya Yuna dengan mata berbinar.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Mmh, kalau gitu ... aku serahkan sama ayahnya si Dedek. Mau dikasih nama siapa?”

 

“Mmh ... kita belum tahu dia perempuan atau laki-laki.”

 

“Siapin dua nama!”

 

“Oke. Kalau anak aku perempuan ... mau aku kasih nama Yurika.”

 

Yuna tertawa bahagia. “Pas banget sama ayahnya, Yeriko! Kalau laki-laki?”

 

“Mmh ... kalau dia laki-laki. Cuma ibunya yang boleh kasih nama!”

 

“Kenapa begitu?”

 

“Karena aku cuma siapin nama anak perempuan.”

 

“Kenapa? Kamu nggak suka anak laki-laki?”

 

“Suka. Tapi, aku lebih suka anak perempuan.”

 

“Kenapa?”

 

“Anak perempuan lebih patuh dan penurut.”

 

Yuna tertawa kecil. “Apa karena kamu nggak pernah mau nurut sama orang tua?”

 

Yeriko tak menyahut pertanyaan Yuna.

 

Yuna langsung menggigit bibirnya. Ia menyadari kesalahannya. Hubungan Yeriko dan ayahnya tidak baik. Apa pun alasannya, tak boleh ada satu orang pun yang membahas tentang ayah Yeriko, terlebih di hadapan Yeriko secara langsung.

 

Mereka saling diam untuk beberapa saat. Sibuk dengan pemikirannya sendiri.

 

“Yun ...!”

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Maaf, aku ...!”

 

“Udah ada nama untuk anak kita kalau dia laki-laki?” tanya Yeriko. Ia mencoba mengalihkan perhatian Yuna karena merasa bersalah atas dirinya. Ia tak pernah mengatakan bagaimana hubungan antara ia dan ayahnya. Namun, istrinya bukanlah wanita bodoh yang tak bisa membaca perasaannya.

 

“Mmh ... apa ya?” tanya Yuna sambil mengetuk-ngetuk dagunya. Ia berjalan mondar-mandir sambil memainkan jemari tangannya. Ada beberapa nama yang sudah ada di kepalanya. Namun, ia masih bingung memilih nama yang paling cocok untuk keluarga Hadikusuma.

 

Yeriko melipat kedua tangan di dada sambil mengangkat dua alisnya. Ia memerhatikan Yuna yang mondar-mandir di depannya beberapa kali dan belum juga menemukan nama anak laki-laki untuk calon bayinya mereka.

 

“Mmh ... kasih nama Andriko, gimana?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko manggut-manggut. “Artinya apa?”

 

“Artinya ... pemimpin yang tampan. Sama seperti ayahnya,” jawab Yuna ceria sambil merangkul leher suaminya. “Eh, aku belum tanya. Yurika, artinya apa?”

 

“Bunga lili yang cantik. Secantik bundanya,” jawab Yeriko sambil mencolek hidung Yuna.

 

“Oh ya?” tanya Yuna dengan pipi bersemu merah.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Ayo, kita siap-siap!” ajak Yeriko.

 

“Ke mana?”

 

“Ck, periksa ke dokter. Aku masih banyak kerjaan. Setelah antar kalian ke klinik, aku balik ke kantor lagi.”

 

“Lembur lagi?” tanya Yuna sambil bergelayut manja.

 

Yeriko menganggukkan kepalanya.

 

Yuna menghela napas. “Nggak mau bawa aku lembur?” rengeknya.

 

“Kalau bawa kamu, lemburnya lain,” jawab Yeriko sambil menjepit hidung Yuna. Ia merangkul pundak Yuna sambil melangkah masuk ke kamarnya.

 

Yuna tertawa kecil sambil mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar. Mereka bersiap-siap pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan Yuna. Yuna merasa sangat bahagia karena Yeriko mau menyempatkan waktunya untuk menemaninya pergi ke klinik, tempat ia biasa melakukan pemeriksaan rutin pada kandungannya yang kini sudah memasuki trimester ketiga.

 

((Bersambung ... ))

Thanks udah dukung terus sampai sini. Jangan lupa kasih Star Vote ya!

Sapa author terus di kolom komentar.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 494 : Gairah di Ujung Kaki

 


Yeriko masuk ke halaman rumah saat mobil Tarudi keluar dari rumahnya. “Itu, Tante Melan?” Ia segera menghentikan mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.

 

Yeriko menghela napas lega saat melihat istrinya duduk di ruang tamu bersama ayahnya.

 

“Tante Melan dari sini?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung menghampiri Yeriko.

 

“Ada perlu apa mereka ke sini?” tanya Yeriko.

 

“Biasa, cari gara-gara,” jawab Yuna.

 

“Serius? Kalian nggak papa?”

 

“Kami nggak papa,” jawab Adjie.

 

“Aku kerjain mereka,” tutur Yuna sambil terkekeh geli.

 

Yeriko menaikkan satu alisnya. “Kerjain gimana?”

 

“Aku bilang kalau anak perusahaan mereka defisit terus. Tante Melan langsung panik, hahaha.”

 

Yeriko langsung mengetuk dahi Yuna. “Jahil banget.”

 

Adjie ikut tertawa kecil. “Suami kamu sudah pulang. Kalau gitu, Ayah pamit pulang!”

 

“Nggak bisa!” sahut Yuna.

 

Adjie mengangkat kedua alisnya. “Kenapa?”

 

“Ayah jawab dulu pertanyaanku!” pinta Yuna sambil menatap ayahnya.

 

“Apa?”

 

“Apa Ayah sering ke makam Bunda?” tanya Yuna.

 

Adjie menggelengkan kepala.

 

“Kenapa Ayah pergi ke sana tanpa aku?”

 

“Ayah sudah bilang, Bunda kamu dateng ke dalam mimpi Ayah.”

 

Yuna mengerutkan dahinya. Ia masih tidak mempercayai apa yang diucapkan oleh ayahnya. “Ayah ingat sama Bunda?”

 

Adjie menghela napas. “Ayah cuma ketemu bunda kamu di dalam mimpi.”

 

“Nggak harus pergi ke makamnya juga ‘kan? Seberapa sering Ayah ke makam Bunda. Ayah sudah ingat semuanya? Oom Rudi datang, pasti mau mastikan ingatan Ayah soal pemindahan saham perusahaan. Dia nggak mungkin datang tanpa sebab.”

 

“Ayah sudah bilang kalau ketemu sama bunda kamu di dalam mimpi,” sahut Adjie lembut.

 

“Yah, aku ini anak kandung Ayah. Aku nggak mau ada rahasia yang Ayah sembunyikan. Apalagi, soal proses pemindahan saham perusahaan kita. Banyak keganjilan di dalamnya. Apa aku harus turun tangan buat ngambil alih perusahaan kita!?”

 

“Yun, kamu tenang dulu! Jangan bersikap seperti ini sama ayah kamu!” pinta Yeriko sambil merangkul pundak Yuna.

 

Yuna menggigit bibirnya. Apa pun yang berhubungan dengan ayahnya, selalu membuat emosinya terpancing.

 

“Ayah pulang saja dulu!” bisik Yeriko di telinga Adjie. “Soal Yuna, biar aku yang urus.”

 

Adjie menganggukkan kepala. “Kalau gitu, Ayah pulang dulu!” pamitnya.

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati, Yah!”

 

Adjie mengangguk dan bergegas keluar dari rumah Yeriko.

 

Yuna memainkan bibirnya sambil menatap kepergian ayahnya. Ia melepas rangkulan tangan Yeriko dan melangkah pergi ke kamarnya.

 

“Yuna ...!” panggil Yeriko sambil mengikuti langkah Yuna.

 

Yuna sengaja menghentak-hentakkan kakinya sampai masuk ke dalam kamar. Ia melompat ke atas sofa, lalu menyalakan televisi.

 

“Kamu kenapa, sih?” tanya Yeriko sambil duduk di samping Yuna.

 

“Nggak papa.”

 

“Kenapa cemberut? Aku bukan marahin kamu. Aku cuma nggak suka kamu bersikap seperti itu di depan ayah kamu sendiri.”

 

“Aku tuh cuma nanya sama dia. Emangnya aku salah? Kalau emang nggak ada yang disembunyiin dari aku, ayah nggak akan keberatan buat jawab pertanyaanku. Oom Rudi sampai ke sini, pasti ada maksud tertentu. Mereka takut kalau aku dan ayah mengambil alih kekuasaan di perusahaan. Padahal, aku sama ayah udah ngerelain semuanya. Masih aja selalu ganggu hidup kami. Kalau dia sampai mencelakai ayah lagi, gimana?” cerocos Yuna.

 

Yeriko menghela napas. “Kamu nggak perlu khawatir! Aku pasti melindungi kalian.”

 

Yuna merundukkan kepalanya. “Aku masih khawatir. Takut terjadi apa-apa sama ayah,” ucapnya lirih.

 

Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut kepala Yuna. “Semua hal yang terjadi sudah ditakdirkan. Sama seperti pertemuan kita. Tak perlu khawatir berlebihan. Latihlah hatimu agar selalu berjiwa besar!”

 

Yuna menatap wajah Yeriko. Ia tahu, hatinya masih sangat kecil. Mudah marah, mudah tersinggung dan sulit menerima kenyataan yang terjadi. Ia menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosinya.

 

“Udah mandi atau belum?” tanya Yeriko sambil mendekatkan wajahnya.

 

Yuna menggelengkan wajahnya.

 

“Mau mandi bareng atau nggak?”

 

“Mau ...!” sahut Yuna sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengangkat tubuh Yuna dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Mereka melepaskan pakaian sambil menunggu air di dalam bathtub penuh. Usai melepas pakaian, mereka langsung masuk ke dalam bathtub.

 

“Ay ...!”

 

“Umh.” Yeriko menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. Kedua tangannya sibuk mengelus-elus anak di dalam perut Yuna.

 

“Perut aku makin besar. Dua bulan lagi ... aku pasti kesulitan buat motongin kuku dan menggosok kakiku. Apa kamu ...?”

 

“Aku yang akan menggosok kakimu setiap hari,” sambar Yeriko.

 

Yuna langsung mendongakkan kepala menatap dagu suaminya. “Serius?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Apa aku kelihatan bercanda?”

 

“Nggak, sih. Aku merasa nggak pantas aja kalau sampai suamiku ...” Yuna menghentikan ucapannya saat Yeriko bangkit dan merubah posisi duduknya, tepat berhadapan dengan dirinya.

 

Yeriko langsung meraih kedua kaki Yuna dan meletakkan di dadanya. “Bukan cuma membersihkan kakimu setiap hari. Menciumi kakimu pun akan aku lakukan setiap hari,” tutur Yeriko sambil meletakkan kedua kaki Yuna ke bahunya. Ia mencium mata kaki Yuna, bibirnya bergerak liar sampai ke lutut Yuna.

 

“Ay, maksud aku bukan kayak gini,” tutur Yuna sambil menatap wajah Yeriko yang sedang menciumi lututnya.

 

Yeriko menarik tubuh Yuna ke pangkuannya. Menciptakan riak dalam air bathtub yang tenang. “Jadi, maunya yang gimana?” bisik Yeriko.

 

Yuna tersenyum sambil menyembunyikan bibirnya. Ia merangkul pundak suaminya sambil memainkan hidungnya di atas hidung Yeriko.

 

Yeriko mulai melumat bibir Yuna perlahan. Terus menggerakkan bibirnya sambil mengendus bahu dan dada istrinya yang mulus. Lengan dan kaki Yuna yang melilit ke tubuhnya semakin erat, membuatnya semakin bergairah. Ia tak bisa berhenti memanjakan Yuna dengan sentuhan-sentuhan lembut penuh kenikmatan.

 

 

 

 

 

...

 

 

 

“Pa, apa yang dibilang sama Yuna itu bener?” tanya Melan saat ia dan suaminya sudah sampai di rumah.

 

“Nggak bener, Ma. Mama percaya sama dia  atau sama aku?” tanya Tarudi balik.

 

“Mama percaya sama Papa. Mama cuma harus waspada. Biar bagaimanapun, dia pernah bekerja di Wijaya Group. Sedikit banyak, dia pasti tahu soal kondisi perusahaan,” jawab Melan.

 

Tarudi menghela napas. “Salah satu anak perusahaan memang mengalami defisit beberapa bulan terakhir. Tapi, kami tidak sampai melakukan penjualan saham perusahaan tersebut.”

 

Melan melebarkan kelopak matanya. “Terus? Apa bakal berimbas ke anak perusahaan yang lainnya?”

 

“Ma, Mama nggak perlu ikut campur soal perusahaan. Semuanya pasti akan ditangani Wilian dengan baik.”

 

“Papa memang payah!” sahut Melan kesal. “Dulu, Papa bahkan kalah dari Abdi soal perebutan kekuasaan di perusahaan. Sekarang, Papa harus tunduk sama Lian yang masih muda dan jauh lebih hebat dari Papa.”

 

Tarudi terdiam. Ia tidak ingin membuat perdebatan lebih panjang lagi dan memilih untuk pergi meninggalkan Melan.

 

“Pa ...! Aku masih ngomong!” seru Melan sambil menatap tubuh Tarudi yang bergerak menjauh. “Belum kelar ngomong, main pergi aja,” celetuknya kesal.

 

Melan semakin kesal dengan sikap suaminya yang mengacuhkan dirinya. Perasaannya kesalnya berganti dengan kekhawatiran akan perusahaan suaminya. Ia menikah dengan Tarudi hanya karena uang yang dimilikinya. Baginya, menguasai pria lebih penting dari sekedar cinta belaka.

 

((Bersambung ... ))

Thanks udah dukung terus sampai sini. Jangan lupa kasih Star Vote ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas