Tuesday, June 2, 2026

Saya Baru Tahu, Ternyata Bubur Sum-Sum Setelah Hajatan Punya Makna yang Luar Biasa






Ada satu pemandangan yang selalu membuat saya tersenyum setiap kali menghadiri hajatan pernikahan di kampung-kampung Jawa. Ketika tenda mulai dibongkar, kursi-kursi dikembalikan ke tempat semula, dan para tamu terakhir berpamitan, dapur justru masih menyimpan cerita. 
Di sudut rumah, ibu-ibu yang sejak beberapa hari lalu sibuk rewang masih berkumpul sambil menikmati semangkuk bubur sum-sum hangat yang disiram kuah gula merah, mereka sering menyebutnya "juruh". 
Sederhana. Tidak mewah. Namun justru di situlah tersimpan makna yang begitu dalam.
Bubur sum-sum bukan sekadar makanan penutup setelah pesta usai. Dalam banyak tradisi masyarakat Jawa, hidangan ini memiliki filosofi yang erat dengan rasa syukur, ketulusan, dan harapan akan kehidupan baru yang lebih baik. 
Kata sum-sum sendiri sering dimaknai sebagai inti atau sari dari kehidupan. Setelah seluruh rangkaian hajatan berlangsung dengan segala tenaga, pikiran, dan biaya yang telah dicurahkan, bubur sum-sum hadir sebagai simbol kembalinya manusia pada kesederhanaan. Bahwa sebesar apa pun pesta yang digelar, pada akhirnya yang dicari adalah ketenteraman hati dan keberkahan hidup.

Saya selalu menyukai cara orang-orang tua menjelaskan makna makanan tradisional. Mereka tidak menggunakan istilah rumit atau teori filsafat yang sulit dipahami. Dari semangkuk bubur putih yang lembut, mereka mengajarkan bahwa kehidupan rumah tangga yang baru dibangun pengantin juga seharusnya seperti itu. Lembut dalam bertutur kata, tenang dalam menghadapi masalah, dan mampu menyatukan berbagai rasa dalam satu wadah kebersamaan. Kuah gula merah yang manis menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup memang tidak selalu mudah, tetapi manisnya kebahagiaan akan terasa ketika dijalani bersama.

Tradisi menyajikan bubur sum-sum setelah hajatan juga memiliki nilai sosial yang sangat kuat. Di banyak desa, bubur ini biasanya dinikmati bersama-sama oleh para tetangga dan kerabat yang ikut membantu acara. Mereka duduk lesehan, berbincang santai, saling bercanda, lalu pulang membawa rasa lega karena pekerjaan besar telah selesai. Tidak ada lagi sekat antara tuan rumah dan tamu. Semua kembali menjadi bagian dari masyarakat yang saling menguatkan. Dari sini kita belajar bahwa sebuah pernikahan tidak pernah hanya menjadi urusan dua orang. Ia adalah peristiwa sosial yang melibatkan banyak tangan dan banyak hati.

Di tengah kehidupan modern yang serba praktis, tradisi seperti ini mungkin terlihat sederhana. Bahkan ada yang menganggapnya kuno. Namun justru dalam kesederhanaan itulah kita menemukan sesuatu yang mulai jarang dimiliki zaman sekarang: kebersamaan yang tulus tanpa pamrih. Ketika ibu-ibu rewang memasak sejak dini hari, ketika bapak-bapak membantu mendirikan tenda, ketika tetangga datang membawa tenaga dan waktu tanpa meminta imbalan, sesungguhnya mereka sedang merawat modal sosial yang sangat berharga. Bubur sum-sum menjadi penutup yang manis untuk seluruh proses gotong royong tersebut.

Mungkin itulah sebabnya aroma santan hangat dan gula merah selalu membawa saya pada kenangan tentang kampung halaman. Tentang suara orang-orang yang bercakap di dapur, asap tungku yang mengepul, serta tawa yang masih terdengar meski tubuh sudah lelah bekerja seharian. Semangkuk bubur sum-sum mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan. Kadang ia datang dalam bentuk yang sangat sederhana: semangkuk bubur hangat yang disantap bersama setelah semua pekerjaan selesai.

Dan seperti pernikahan itu sendiri, bubur sum-sum mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang pesta yang meriah, melainkan tentang bagaimana menjaga rasa syukur setelah pesta usai. Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukan seberapa megah acaranya, melainkan seberapa hangat kebersamaan yang tercipta di dalamnya. Sebagaimana bubur sum-sum yang lembut dan menenangkan, semoga setiap rumah tangga yang baru dibangun juga tumbuh dalam kelembutan, kesabaran, dan keberkahan yang tak pernah habis dibagikan.




Kutai Kartanegara, 02 Juni 2026



Rin Muna
(Novel Author & Humaniora) 

Perfect Hero Bab 537 : Wajah-Wajah Memalukan

 


Mega bangkit dari tanah. Ia langsung menarik Bellina yang masih tertegun melihat mama mertuanya juga ikut dipermalukan di depan orang-orang penting yang ada di kota itu.

 

“Kenapa kamu mempermalukan kami di depan semua orang? Kami salah apa sama kamu?” tanya Mega sambil menatap Yana.

 

Yana tersenyum menanggapi pertanyaan Mega. “Aku sengaja bikin pesta ini cuma untuk membantu Yuna membalaskan dendamnya. Menantu kamu ini sudah membuat keluarga Hadikusuma dan keluarga kami marah.”

 

Mega langsung menoleh ke arah Bellina. Ia sama sekali tidak tahu apa yang diperbuat oleh anak menantunya di luar sana. Ia semakin membenci sikap Bellina.

 

“Ayo, kita pulang!” perintah Mega sambil menarik lengan Bellina.

 

“Ma, kita nggak bisa diam aja!” seru Bellina sambil berusaha menepiskan tangan Mega.

 

“Udah, Bel. Kalau kita di sini terus, mereka akan semakin mempermalukan kita. Lihat penampilan kamu sekarang! Nggak akan ada yang menghargai kita di tempat ini,” tutur Mega sambil melirik kesal ke semua orang yang ada di sana.

 

“Tapi, Ma ...!”

 

Mega langsung menarik tangan Bellina keluar dari rumah tersebut. Mereka berjalan sambil menundukkan kepala saat semua orang menertawakan penampilan mereka.

 

Rullyta tersenyum sinis sambil menatap tubuh Bellina yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya. “Kamu pikir, kamu bisa menghadapi aku dengan mudah!?” gerutunya kesal.

 

Semua orang yang ada di sana langsung tersenyum dan bersikap baik pada Rullyta dan Yana. Mereka tidak ingin membuat dua orang bersahabat itu merasa tersinggung dan mempermalukan mereka suatu hari nanti.

 

“Perhatian semuanya ...! Pesta teh hari ini, cukup sampai di sini. Kalian semua boleh pulang. Aku mau istirahat.”

 

Semua orang saling pandang. Mereka sedikit kecewa karena perjamuan kali ini sangat singkat. Namun, tak ada yang berani bersuara dan memilih untuk pergi satu persatu.

 

“Akhirnya ... selesai juga,” tutur Yana sambil merebahkan tubuhnya di sofa.

 

“Aku puas banget lihat muka mereka hari ini. Biar semua orang tahu, nggak ada yang bisa main-main sama keluarga kita.” Rullyta ikut merebahkan diri di samping Yana.

 

Yuna hanya tersenyum sambil ikut duduk di hadapan Rullyta dan Yana. “Ma, Mama harusnya nggak perlu repot-repot bikin pesta palsu kayak gini buat balas perlakuan Bellina ke aku!”

 

Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu nggak perlu protes! Mama paling nggak suka diprotes. Kalau masih mau jadi anak mama, kamu harus nurut sama mama!”

 

“Iya, Ma,” jawab Yuna sambil menganggukkan kepala.

 

“Gitu, dong! Jadi anak baik!”

 

Yuna tersenyum. Ia melepas gelang giok yang melingkar di pergelangan tangannya. “Bunda, ini ... aku kembalikan gelang punya bunda.”

 

Yana langsung menoleh ke arah Yuna yang duduk di hadapannya. “Barang yang udah bunda kasih, nggak boleh dikembalikan lagi!”

 

“Eh!? Bukannya ini cuma sandiwara?” tanya Yuna.

 

“Yang bilang ini sandiwara ... siapa?” tanya Bunda Yana.

 

Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ini serius, Yun. Kamu kira mama dan Bunda Yana suka main-main kalau masalah kayak gini?”

 

Yuna menggigit bibirnya. “Tapi, gelang ini terlalu mahal buat aku, Ma.”

 

“Halah, berapa sih harganya? Nggak sampe jual rumah, kok,” sahut Bunda Yana.

 

“Iya. Masih mahal cincin pernikahan pemberian Yeriko ‘kan?” sahut Rullyta sambil menatap wajah Yuna. “Ambil aja! Mumpung dikasih gratis sama Bunda Yana. Kapan lagi bisa morotin duitnya Bunda Yana?”

 

Yana tertawa kecil. “Kalau Satria udah nikah, aku bakal suruh istrinya dia buat morotin duitmu juga.”

 

“Hahaha. Enak aja!” dengus Rullyta. “Kalau dia baik kayak Yuna, bolehlah aku kasih sedikit.”

 

“Yuna, mama mertua kamu ini pelit banget.”

 

“Eh, aku nggak pelit. Tanya ke dia!” sahut Rullyta.

 

Yuna hanya tertawa kecil melihat hubungan persahabatan Mama Rullyta dan Bunda Yana. Ia berharap kalau persahabatan ia dan Jheni juga bisa abadi seperti dua orang yang kini ada di hadapannya.

 

 

 

...

 

“Bel, apa yang sudah kamu lakuin ke keluarga Hadikusuma? Kenapa sampai membuat kita dipermalukan seperti ini? Kamu itu menantu keluarga Wijaya. Bisa nggak jaga sikap kamu di luar sana!?” tutur Mega sambil menahan kesal saat mereka sudah ada di dalam mobil.

 

Bellina tak menyahut. Ia sibuk membersihkan daun teh yang masih menempel di tubuhnya.

 

“Bersihin di rumah aja! Jangan bikin kotor mobil mama!” sentak Mega.

 

Bellina langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia menyembunyikan bibir sambil menahan kesal. Mama mertuanya yang kasar dan pemarah, jauh berbeda dengan mertua Yuna yang lembut dan menyenangkan.

 

“Kenapa lihatin saya begitu!?” tanya Mega sambil mendelik ke arah Bellina.

 

“Nggak papa, Ma.” Bellina memilih untuk menundukkan kepala dan tidak mengatakan apa pun. Ia masih harus menghadapi kenyataan mamanya yang bermain gila dengan pria lain dan juga mama mertua yang bersikap kasar terhadapnya.

 

“Kalau tahu mau ada hal seperti ini, mama nggak akan bawa kamu ke pesta teh. Mama juga nggak akan datang ke tempat itu. Mereka sengaja mempermalukan mama karena kesalahan yang kamu buat ke keluarga Hadikusuma. Apa kamu memang senang bikin malu keluarga kami?” omel Mega.

 

Bellina menghela napas kecil. Ia sudah memilih mengalah dan mendengarkan semua omelan Mega yang begitu menusuk batinnya. “Kenapa semua orang nggak menerima kehadiranku? Semuanya selalu membanggakan Yuna, Yuna dan Yuna!” batinnya sambil menatap lantai mobil yang ada di bawah kakinya.

 

“Masalah mama kamu belum selesai. Sekarang, kamu malah bikin masalah baru. Kamu bikin mama stres! Lihat si Yuna itu! Dia pintar dan baik dalam bersikap. Kalau tahu gini, mama biarin Lian menikahi Yuna aja. Aku menyesal banget sudah pilih kamu jadi menantu.”

 

Bellina  hanya menundukkan kepala. Ia semakin membenci Yuna saat mama mertuanya membandingkan dirinya dengan Yuna. “Yun, kenapa selalu kamu?” batinnya penuh kebencian.

 

“Bel, kalau kamu masih bikin ulah terus di luar sana. Lian pasti akan menceraikan kamu. Masih lebih baik punya menantu bodoh tapi bisa menjaga nama baik keluarga. Daripada menantu yang pintar, tapi pintarnya bikin malu keluarga aja!”

 

Bellina langsung menoleh ke arah Mega. “Ma, aku nggak ngelakuin hal berlebihan di luar sana. Emang si Yuna aja yang nggak berani ngadepin aku sendirian, dia nyuruh mama mertuanya buat ngadepin aku. Masalah aku dan Yuna, nggak ada hubungannya sama keluarga Hadikusuma atau keluarga Wijaya!” tegasnya.

 

“Sudah terjadi hal seperti ini, kamu masih bisa bilang kalau ini nggak ada hubungannya dengan keluarga Wijaya? Otakmu ini ditaruh mana, hah!?” sahut Mega sambil menoyor kepala Bellina.

 

Bellina mengerutkan hidung sambil menatap tajam ke arah Mega.

 

“Kenapa? Marah? Mau berantem sama mama?” tanya Mega.

 

Bellina menggelengkan kepala. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia juga tidak ingin melawan mama mertuanya dan membuat suasana semakin panas. Mama mertuanya memang masih emosi karena latar belakang Bellina yang belum jelas. Kalau ia berusaha melawan mama mertuanya, posisinya di keluarga Wijaya akan semakin terancam.

 

“Kamu pulang ke rumah kami aja dulu!” pinta Mega. “Jangan sampai Lian tahu soal ini! Mama nggak mau kejadian ini mempengaruhi perusahaan yang sedang diurusnya!”

 

Bellina menganggukkan kepala. Ia juga tidak ingin Lian mengetahui apa yang sudah terjadi hari ini antara dia dan Yuna. Yang Lian tahu, hubungannya dengan Yuna sudah membaik. Ia tidak ingin Lian mengetahui apa yang telah ia lakukan saat ini.

 

((Bersambung...))

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 536 : Korban Pesta Teh

 


Rullyta tersenyum puas setelah berhasil mempermalukan Mega pada pembukaan acara perjamuan teh di rumah istri walikota. Hal ini, membuat Mega tidak bisa berkata-kata, akhirnya memilih diam dan mengalihkan perhatian pada hal lain.

 

“Menantu keluarga Hadikusuma memang bukan orang sembarangan. Dia cantik, anggun dan pintar,” celetuk salah seorang wanita yang ada di tempat itu.

 

“Mereka keluarga terhormat, nggak mungkin sembarangan mengambil menantu,” sahut wanita lain.

 

“Tapi, ada juga loh keluarga terhormat yang salah ambil menantu. Maklum, zaman sekarang ... banyak perempuan yang mengincar keluarga kaya supaya bisa menikmati kekayaan dengan mudah.”

 

“Eh, iya, bener banget! Kita juga mesti hati-hati kalau mau cari menantu. Harus dilihat bener-bener bibit, bebet dan bobotnya. Harus jelas, keturunan keluarga mana dan seperti apa masa lalu mereka. Jangan sampai salah pilih dan bikin jelek nama baik keluarga!”

 

“Iya, Bu. Aku juga agak khawatir kalau anakku tergoda sama perempuan sembarangan. Sekarang, banyak perempuan yang menggunakan anak untuk menipu laki-laki. Laki-laki itu kayak kucing, mana bisa bedain ikan segar sama ikan sisa kemarin, semuanya dilahap.”

 

“Anakku perempuan, Bu. Takut juga dapet laki-laki yang nggak bener.”

 

“Jangan sampai dapet suami nggak bener! Sekarang, banyak juga laki-laki pemalas yang manfaatin istrinya buat dapetin uang.”

 

“Laki atau perempuan, sekarang sama aja. Yang penting, kita harus mengenal pribadinya dengan baik. Jangan asal-asalan kalau cari menantu!”

 

“Bener-bener.”

 

“Bu Rully itu beruntung banget. Punya anak yang tampan dan pintar bisnis. Dia juga dapet menantu yang cantik, baik dan cerdas begitu. Kalau aku punya menantu begitu, udah aku sayang-sayang setiap hari.”

 

Bellina yang mendengar obrolan dari beberapa wanita di sisinya merasa sangat kesal. Hatinya begitu panas mendengar Yuna selalu mendapatkan pujian. Padahal, ia juga banyak kemampuan ... tapi tidak seorang pun yang membanggakan dirinya kecuali mamanya sendiri.

 

“Hai, semuanya ...!” seru Yana mengalihkan perhatian semua orang. “Aku mau tunjukin ke kalian, barang mahal yang aku buat dengan tanganku sendiri.”

 

“Apa?”

 

“Apa?”

 

“Apa?”

 

Semua orang langsung bertanya-tanya.

 

Yana tersenyum. Ia memberikan isyarat pada pelayan untuk membawakan barang yang sudah ia siapkan sebelumnya.

 

Yana langsung meraih kotak perhiasan dan membukanya.

 

“Wah ...! Ini gelang dari batu giok!” seru salah seorang wanita yang ada di sana. “Bu Wali buat sendiri?”

 

Yana menganggukkan kepala. “Gelang ini aku buat dengan pendampingan salah satu ahli perhiasan di Tiongkok. Ini merupakan simbol kedamaian, keberkahan dan keberuntungan untuk orang yang memakainya.”

 

“Dijual atau nggak, Bu?” tanya salah seorang wanita yang ada di sana.

 

“Mmh ... kalau cocok harganya, bolehlah saya jual.”

 

“Mau dijual berapa?”

 

“Boleh coba?”

 

Mega dan Bellina juga ikut melihat gelang giok yang ada di dalam kotak perhiasan tersebut. Gelang itu terbuat dari batu yang harganya sangat mahal dan membuat semua orang ingin memilikinya.

 

“Boleh, silakan cobain aja!” perintah Yana sambil menyodorkan kotak perhiasan tersebut.

 

 Semua orang saling pandang. Mereka sedikit ragu untuk mencoba gelang giok yang harganya memang sangat mahal untuk sebagian orang. Mereka takut membuat gelang tersebut rusak dan harus menggantinya.

 

“Siapa yang mau nyobain duluan?” tanya Yana.

 

“Aku,” jawab Mega sambil menghampiri Yana. Ia sangat menyukai model gelang yang ada di tangan Yana.

 

Yana tersenyum sinis sambil menatap Mega. “Gelang ini nggak bisa dipakai sembarang orang. Apalagi, ini gelang hasil buatan tanganku sendiri.”

 

Mega langsung memanas begitu mendengar ucapan Yana. Ia merasa sedang dipermainkan oleh Yana. “Tadi, kamu sendiri yang menyuruh orang lain mencobanya. Kenapa sekarang bicara lain?” tanyanya kesal.

 

Yana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mega. “Kalimat itu keluar sebelum kamu muncul di hadapanku!”

 

“Maksud kamu!?” Mega membelalakkan matanya.

 

Bellina yang melihat mama mertuanya dipermalukan dengan sengaja, langsung menghampiri Yana. “Bunda, maksud Bunda apa?”

 

Yana menaikkan dua alis sambil menatap Bellina. “Kamu mau coba gelang ini?”

 

Bellina tak menyahut. Meski kesal dengan ucapan Bunda Yana, tapi ia juga menginginkan gelang keberuntungan itu.

 

Yana menaikkan kedua alisnya. “Nggak mau coba? Sebelum aku berubah pikiran.”

 

Bellina menarik napas sambil menganggukkan kepala.

 

Yana tersenyum sambil mengeluarkan gelang tersebut dari kotaknya. “Mana tangan kamu?” tanya Yana sambil menengadahkan telapak tangannya.

 

Bellina tersenyum bahagia karena Bunda Yana ingin memakaikan gelang itu secara langsung ke tangannya. Ia merasa menjadi orang yang paling istimewa di tempat tersebut.

 

Yana memasangkan gelang tersebut. Kemudian, ia mengamati gelang yang ada di tangan Bellina selama beberapa detik. “Ck, nggak cocok ada di tangan kamu,” ucapnya sambil melepas kembali gelang tersebut.

 

Bellina membelalakkan mata. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Bunda Yana terhadapnya.

 

Semua orang saling pandang. Mereka mulai mengerti dengan apa yang dilakukan Yana dan Rullyta. Sebab, dari awal perjamuan ... tuan rumah acara tersebut sudah mengincar Mega dan Bellina sejak awal.

 

“Bunda, kenapa dilepas lagi?” tanya Bellina.

 

“Bunda sudah bilang, gelang ini nggak cocok ada di tangan kamu,” jawab Yana sambil melangkahkan kakinya menghampiri Yuna.

 

Yana langsung meraih tangan Yuna dan memakaikan gelang tersebut ke tangan Yuna. Hal ini, semakin membuat emosi Bellina tersulut.

 

“Bunda, Bunda sengaja mau mempermainkan kami!?” seru Bellina.

 

Yana tak menghiraukan pertanyaan Bellina. Ia tersenyum sambil memasangkan gelang ke tangan Yuna.

 

“Bunda, aku merasa nggak pantas pakai barang semahal ini,” tutur Yuna sambil memperhatikan gelang yang sudah melingkar di tangannya.

 

“Benda mati pun tahu siapa yang pantas jadi pemiliknya. Gelang ini, lebih cocok ada di tangan kamu,” ucap Bunda Yana sambil tersenyum. Ia mengelus lembut rambut Yuna.

 

Kalimat lembut yang keluar dari mulut Bunda Yana, terasa begitu menusuk ke hati Bellina. Ia tidak tahan lagi melihat Yuna yang diperlakukan sangat istimewa di depan semua orang.

 

“Kamu lagi hamil, gelang keberuntungan ini lebih cocok untuk kamu. Semoga, kamu dan si jabang bayi sehat selalu sehat sampai hari kelahiran nanti,” tutur Bunda Yana sambil mengelus lembut kepala Yuna.

 

“Makasih, Bunda ...!” ucap Yuna sambil tersenyum manis.

 

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Bunda Yana, membuat Bellina teringat pada anaknya sendiri. Ia menatap perut Yuna penuh kebencian. Ia tidak akan pernah rela membiarkan anak yang ada di dalam perut Yuna bisa hidup bahagia. Ia berniat untuk membalaskan dendam anaknya dan berharap kalau Yuna bisa menghilang dari muka bumi ini.

 

Bellina menatap tajam ke arah Yuna sambil melangkahkan kakinya mendekati Yuna secara perlahan. Kebencian yang menyelimuti hatinya, membuatnya lupa kalau ia berada di tempat yang seharusnya bisa menjaga sikapnya dengan baik.

 

Rullyta dan Yana yang menyadari langkah Bellina, langsung sigap dan berusaha menarik Yuna untuk menjauh dari Bellina.

 

Bellina semakin kesal, ia mempercepat langkahnya. Menerobos tubuh beberapa wanita yang ada di sana dan langsung mendorong tubuh Yuna.

 

Yuna memundurkan langkahnya begitu tangan Bellina mendorong kuat dadanya, ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh. “Apa-apaan sih kamu, Bel!?” serunya kesal.

 

“Kamu sengaja mau merebut perhatian semua orang dan mempermalukan aku ‘kan?”

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia masih tidak mengerti dengan Bellina yang terus-menerus menyerangnya.

 

Bellina kembali menghampiri Yuna untuk menyerang sepupunya itu.

 

 

 

BYUUR ...!

 

Langkah Bellina terhenti saat Bunda Yana menyiramkan teh seduhan ke tubuh Bellina. Seketika, seluruh tubuh Bellina basah kuyup dengan air seduhan teh. Wajah dan tubuhnya bisa merasakan air hangat yang menjalar perlahan. Rambut dan pakaiannya juga kotor dengan daun teh yang sudah mengering.

 

Bellina membuka mulutnya lebar-lebar. Ia semakin kesal dengan perlakuan Yuna dan orang-orang yang melindunginya. Ia menghentakkan kaki sambil mengepal tangannya kuat-kuat.

 

Melihat Bellina yang dipermalukan dan emosinya semakin terpancing, Mega langsung melangkah menghampiri Bellina untuk menarik menantunya itu pergi.

 

SRUUK ...!

 

Belum sampai mencapai tubuh Bellina, Mega malah terjerembab ke tanah karena salah satu kaki wanita yang ada di sana menghalau kakinya.

 

Mega langsung membuka mata dan mulutnya lebar-lebar. Ia menengadahkan kepala sambil menatap Yana dan Rullyta yang tertawa lebar melihat ia yang bersimpuh di tanah.

 

“Kalian sengaja mau mempermalukan kami?” tanya Mega sambil menatap Rullyta dan Yana.

 

Rullyta hanya tersenyum sambil memainkan alisnya. “Kamu tanya sama menantu kamu ini, dia sudah berani main-main sama keluargaku. Kamu pikir, aku bakal diam aja kalau anak menantuku disakiti, hah!?” sentak Rullyta sambil mendelik ke arah Mega.

 

Mega terdiam. Ia mengedarkan pandangannya saat semua tamu menertawakan dirinya dan anak menantunya yang sudah terlihat kacau.

 

Semua orang menatap ke arah Mega dan Bellina. Kini, mereka mengerti kalau keluarga Wijaya pernah melakukan hal yang membuat keluarga Hadikusuma tersinggung, hingga membuat mereka merasa dipermalukan seperti sekarang ini.

 

 ((Bersambung ...))

Eeeaak ... silakan tertawa. Author mau cari inspirasi dulu.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 535 : Pesta Teh Terselubung

 




Satu jam sebelum perjamuan teh ...

 

“Sore, Bunda ...!” sapa Yuna begitu ia masuk ke dalam rumah pribadi istri walikota.

 

“Sore, Cantik ...!” balas Yana penuh semangat. Ia menghampiri Yuna dan merangkulnya penuh kehangatan. “Kembarannya Bunda ... akhirnya datang juga.”

 

“Jauhnya, Ma ...!” sela Satria sambil tertawa kecil.

 

“Yee ... waktu masih muda, mama juga cantik kayak dia,” dengus Yana sambil menatap wajah Satria.

 

Yuna tertawa kecil. “Pastinya Bunda Yana lebih cantik dari aku waktu masih muda. Anaknya aja bisa ganteng banget kayak gini.”

 

“Peres!” sahut Satria.

 

“Kamu ini ... dipuji malah kayak gitu,” tutur Yana sambil menatap Satria.

 

“Aku baru percaya dia ngomong jujur kalau dia milih aku jadi suaminya, bukan milih Yeriko. Coba mama tanya ke dia! Ganteng mana, aku tau Yeri?”

 

Yuna menahan tawa mendengar pertanyaan Satria.

 

“Hayo ...!?” Satria menunjuk wajah Yuna. “Ganteng mana?”

 

Yuna meringis ke arah Satria. “Ganteng kamu, kok.”

 

“Jangan pake ‘kok’! Kesannya terpaksa kalau ngomongnya pakai ‘kok’. Emangnya main badminton!?”

 

“Itu cock, Sat! Ce-o-ce-ka!”

 

“Itu kan kalau di luar negeri. Kalau di dalam negeri, namanya tetep kok!” sahut Satria tak mau kalah.

 

“Udah, nggak usah berdebat cuma gara-gara kok!” sela Yana. “Kamu naik ke kamar, sana! Sebentar lagi, temen-temen mama mau datang, nih.”

 

“Mama Rully udah ada, Bun?” tanya Yuna.

 

“Udah, lagi siap-siap di halaman belakang.”

 

“Hawa-hawanya, emak-emak semua ini ... aku pergi aja!” ucap Satria sambil melengos pergi.

 

“Ke mana?”

 

“Jalan-jalan!” sahut Satria sambil melangkah pergi.

 

“Bawain mama oleh-oleh ya!”

 

“Oleh-oleh apa? Calon mantu?” tanya Satria sambil terkekeh geli.

 

Yana menganggukkan kepala, “High quality is number one!”

 

Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Dikira nyari istri kayak nyari pentol bakso?” celetuk Satria sambil melangkahkan kakinya keluar rumah. Tangannya sibuk memainkan kunci sampai ia menjangkau mobilnya.

 

Di dalam rumah, Yana hanya mengajak Yuna menemui Rullyta yang sedang menyiapkan banyak hal untuk perjamuan kali ini.

 

“Sore, Ma ...!” sapa Yuna. “Ada yang bisa dibantu?”

 

“Hei ...! Udah datang?” Rullyta langsung berbalik dan memeluk pundak Yuna. “Cantik banget!” pujinya sambil mencubit pipi Yuna.

 

“Mama juga cantik,” balas Yuna sambil tersenyum menatap wajah mama mertuanya.

 

“Iya, dong. Walau udah tua, tetep harus tampil cantik.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Rullyta yang masih terawat dengan baik meski usianya sudah menginjak lima puluh tahun.

 

“Ada yang bisa aku bantu, Ma?” tanya Yuna.

 

“Nggak ada. Kamu duduk aja! Semuanya udah siap, tinggal tunggu tamu undangan datang.”

 

“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di taman tersebut.

 

“Kamu lagi hamil, duduk santai di sini aja!” pinta Bunda Yana sambil menunjuk ke arah kursi yang sudah ia siapkan di taman tersebut.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia mengamati suasana taman belakang yang ada di rumah walikota tersebut. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi sangat sejuk dan asri. Tidak ada kolam renang seperti yang ada di belakang rumahnya. Akuarium dinding yang mengelilingi taman tersebut membuat tempat itu semakin sejuk.

 

“Eh, mereka udah mulai datang. Aku terima tamu dulu, ya!” pamit Bunda Yana sambil bergegas menuju pintu utama rumahnya.

 

Yuna dan Rullyta menganggukkan kepala. Mereka duduk berdampingan sambil menikmati pemandangan yang begitu menyejukkan mata.

 

“Ma, tamannya asyik banget ya? Aku baru sekali masuk ke sini. Mmh ... butuh biaya berapa bikin akuarium dinding kayak gini ya?”

 

“Kamu mau bikin juga?” tanya Rullyta.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kayaknya bagus kalau di rumah ada akuarium dinding, jadi lebih sejuk. Tapi ... Yeriko suka atau nggak, ya? Dia kan lempeng banget.”

 

“Apa pun yang kamu buat, dia pasti suka,” sahut Rullyta sambil tersenyum.

 

“Ah, Mama ...! Belum tentu.”

 

“Kalau dia marah sama kamu, kasih tahu mama! Biar mama marahin balik!”

 

“Hahaha. Jangan, Ma! Aku nggak tega lihatnya kalau mama marahin dia terus.”

 

“Huft, kamu ini ... ujung-ujungnya belain suami kamu yang ngeselin itu!”

 

“Ma, dia anak mama, loh.”

 

“Nggak. Dia bukan anak mama! Udah mama tukar sama kamu. Sekarang, dia menantu mama, hahaha.”

 

Yuna ikut tergelak mendengar candaan Rullyta. “Mama ... ada-ada aja.”

 

Rullyta dan Yuna terus bercanda ria bersama hingga beberapa orang tamu yang datang mulai menyapa mereka.

 

“Rul, ini menantu kamu, ya?” tanya salah seorang tamu yang ada di ruangan tersebut.

 

Rullyta menganggukkan kepala.

 

“Wah, sudah berapa bulan?” tanya wanita itu sambil mengelus perut Yuna yang buncit.

 

“Delapan bulan, Tante.”

 

“Wah, udah deket lahiran! Semoga sehat terus sampai lahiran nanti!”

 

“Aamiin ...”

 

Di saat yang bersamaan, Mega dan Bellina masuk ke taman tersebut. Mata Bellina langsung tertuju pada Yuna yang sedang dikerumuni beberapa ibu-ibu pejabat yang beberapa orang di antaranya sudah sangat dikenal di tengah-tengah masyarakat.

 

Yuna hanya tersenyum begitu melihat Bellina sedang menatapnya. Ia langsung mendekati Rullyta yang berdiri tak jauh darinya. “Ma, kenapa ada Bellina di sini?”

 

Rullyta hanya memainkan alis sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna mengangkat kedua alisnya. Ia baru mengerti kalau mama mertua dan sahabatnya sedang menyiapkan jamuan terselubung untuk mereka. Ia harap, apa yang dilakukan mama mertuanya bisa membuat Bellina jera dan berhenti mengganggunya.

 

“Selamat sore semuanya ...!” sapa Bunda Yana pada semua tamu undangan yang sudah hadir di acara tersebut.  “Hari ini, saya sengaja mengundang kalian untuk menikmati pesta teh dari berbagai belahan dunia. Kalian pasti akan suka dengan aneka teh yang ada di sini. Selamat mencoba!”

 

Semua orang menganggukkan kepala. Mereka segera mencoba teh yang dihidangkan di tempat tersebut.

 

“Oh ya, saya juga mau memperkenalkan salah satu penggemar teh terbaik di dunia. Ada Ibu Mega yang sudah hadir di tempat ini. Dia akan berbagi pengalamannya dalam menikmati teh terbaik yang ada di seluruh dunia. Silakan, Ibu Mega! Semua orang ingin mendengarkan pengalaman Anda kali ini.”

 

Mega langsung melebarkan kelopak matanya. Ia memang sangat suka menikmati teh. Namun, ia tidak begitu memahami jenis-jenis teh terbaik yang ada di seluruh dunia. Ia hanya mencoba beberapa teh kesukaannya dan tidak bisa menjelaskan lebih banyak.

 

Mega mengedarkan pandangannya sambil tersenyum. Ia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya begitu saja di depan semua orang.

 

Rullyta langsung menghampiri Mega dan berdiri di sebelahnya. “Kamu pernah bilang kalau sudah pernah menikmati aneka teh dari berbagai daerah. Aku sudah menyiapkan teh seduh yang bisa kamu kenali dari rasa dan aromanya,” ucapnya sambil menyodorkan secangkir teh ke arah Mega.

 

Mega tersenyum. Ia mengangguk sopan sambil meraih teh dari tangan Rullyta.

 

Rullyta menoleh ke arah pelayan yang memegang nampan berisi teko yang berdiri di sisinya. Ia kembali menuangkan teh ke dalam cangkir. “Menurut kamu, ini teh yang berasal dari mana?”

 

Mega menyesap teh yang sudah ada di tangannya.

 

Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Mega yang terlihat ragu-ragu saat menyesap teh tersebut.

 

“Teman-teman ...! Kebetulan di sini ada menantu saya. Dia juga sering menemani saya menikmati teh-teh terbaik dari berbagai daerah. Dia juga lulusan Melbourne University dan sudah mencoba banyak produk teh dari berbagai tempat.” Rullyta menoleh ke arah Yuna sambil mengerdipkan salah satu matanya. “Sini ...!” ajaknya kemudian.

 

Yuna tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduk sambil menghampiri Rullyta.

 

Rullyta memberikan secangkir teh yang sama dengan yang ia berikan pada Mega. Ia memperhatikan Yuna yang menyesap teh itu perlahan sambil menikmati aroma daun teh segar yang mengepul di atas cangkir tersebut.

 

“Gimana?” tanya Rullyta sambil menatap Mega dan Yuna bergantian. “Kalian bisa menebak, ini teh berasal dari mana?”

 

Yuna hanya tersenyum. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Rullyta.

 

Melihat Yuna yang hanya tersenyum, Mega langsung mengerti kalau Yuna juga tidak tahu menahu soal teh yang ada di tangannya itu. “Dia masih terlalu muda, nggak mungkin punya kemampuan yang baik untuk membedakan daun teh ini berasal dari mana,” batin Mega.

 

“Aku tahu ... dilihat dari warna, rasa dan aroma ini ... ini adalah salah satu teh yang berasal dari pegunungan di India,” tutur Mega sambil tersenyum penuh percaya diri.

 

Rullyta mengangkat kedua alisnya sambil menatap wajah Mega. “Jawaban yang cerdas! Tapi ... kamu masih salah!”

 

Mega membelalakkan matanya. “Emangnya, kamu tahu ... ini teh dari mana?”

 

“Tahu banget. Aku yang beli,” jawab Rullyta sambil tersenyum santai. Ia menoleh ke arah Yuna. “Gimana? Kamu udah bisa mendeteksi teh ini dari mana?”

 

“Hmm ...!” Yuna mengendus aroma teh tersebut sambil memutar-mutar cangkirnya perlahan. Kemudian, ia menganggukkan kepala. “Ini adalah salah satu teh yang aromanya sangat khas dan yang paling aku suka. Produk dalam negeri yang sudah mendunia dan paling banyak diminati di pasar Eropa. Ini teh hitam yang berasal dari kaki Gunung Kerinci.”

 

“Sekilas, memang hampir mirip dengan teh hitam dari daerah Assam yang ada di India. Tapi ... rasa di akhirnya sangat berbeda. Rasa dari teh yang ini tidak akan hilang walau dicampur dengan makanan atau rempah-rempah lain. Salah satu alasan kuat yang membuat produk ini bisa masuk ke pasar Eropa dengan mudah,” jelas Yuna.

 

Rullyta langsung tersenyum bangga mendengar penjelasan dari Yuna. “Bener banget! Teh hitam yang satu ini, memang aku beli langsung dari pegunungan Kerinci. Teh ini terkenal di Eropa. Aku pernah menikmati teh ini di salah satu jalan di Eropa dan cukup kaget dengan produk lokal, rasa internasional ini.”

 

Mega tersenyum sinis sambil menatap Rullyta dan Yuna. “Jelas aja dia tahu kalau ini teh dari pegunungan Kerinci. Udah kamu kasih tahu lebih dulu ‘kan?”

 

Rullyta tersenyum menanggapi ucapan Mega. “Kalau memang kamu curiga seperti itu ... silakan ambil produk teh lain yang ada di sini dan kita uji pengetahuan soal semua teh yang ada di sini.”

 

“Oke, siapa takut!?” sahut Mega. Ia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya di depan semua orang. Maka, ia menerima tantangan dari Rullyta untuk membuktikan kalau ia tidak akan kalah dengan Yuna.

 

“Silakan pilih!” perintah Rullyta.

 

Mega langsung memilih salah satu white tea yang ada di meja lain dan mencobanya.

 

“Gimana? Ini teh dari mana?”

 

“Ini teh Fujian,” jawab Mega sambil menyesap teh yang ada di tangannya.

 

Rullyta tertawa kecil. “Itu bukan teh Fujian.”

 

“Terus?” tanya Mega sambil mengerutkan dahinya.

 

Rullyta menoleh ke arah Yuna untuk ikut mencoba teh tersebut.

 

Yuna mengangguk dan mencicipi teh yang sama. Ia langsung tersenyum begitu menyesap teh tersebut. “Emang mirip dengan rasa teh Fujian. Tapi, ini salah satu white tea grade 1 dari pegunungan di Cirebon. Bener atau nggak, Ma?”

 

Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Tanya ke Bunda Yana. Soalnya, teh yang satu ini ... disiapkan sama dia.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Bunda Yana yang mengacungkan jempol ke arahnya. Ia langsung tertawa bahagia karena bisa menebak rasa teh itu dengan baik.

 

Mega menahan malu karena tidak bisa membedakan rasa teh dari berbagai daerah. Meski begitu, ia tetap saja berdiri sambil membusungkan dada. Ia tidak ingin terlihat payah di depan semua orang yang ada di sana.

 

Di sudut lain, Bellina juga menatap Yuna penuh kebencian. Ia semakin iri melihat Yuna yang selalu mendapat pujian dari banyak orang. Sementara, semua orang tidak pernah melihat dirinya sama sekali.

 

 ((Bersambung ...))

Kalau kalian, suka teh jenis apa?

Author sih suka semuanya, lebih suka lagi kalau ngetehnya bareng kamu ... iya, kamu! Eeeaak ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas