Friday, March 27, 2026

Perfect Hero Bab 514 : Tempat Teristimewa

 


“Bi, aku mau masak buat ayah,” tutur Yuna begitu ia sampai di rumah dan langsung menuju ke dapur. “Ini catatan bahan yang aku butuhkan. Ada semua nggak di rumah?”

 

Bibi War membaca semua bahan yang ada di kertas catatan tersebut. “Pak Adjie sudah siuman?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Dia minta dibikinin sup. Makanya, aku pulang dulu bareng Jheni biar bisa masakin buat ayahku.”

 

“Oh.” Bibi War mengangguk-anggukkan kepala. “Syukurlah kalau Pak Adjie sudah sadar. Bahan yang kurang, biar Bibi yang belikan.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Tolong ya, Bi! Aku juga harus masak cepat. Kasihan ayah nunggu lama.”

 

Bibi War menganggukkan kepala. “Bibi belanja dulu!”

 

“Hati-hati ya, Bi!” tutur Jheni sambil menatap Bibi War.

 

“Iya. Bantuin Mbak Yuna ya!” perintah Bibi War. “Soalnya, dia sering bikin kacau di dapur kalau dibiarkan sendirian.”

 

“Iih ... Bibi ...! Itu ‘kan dulu. Beda sama sekarang!” sahut Yuna sambil meraih apron dari dalam lemari dinding dan memasangkan ke tubuhnya.

 

Bibi War tertawa kecil. Ia mengambil tas belanja dan bergegas keluar dari rumah.

 

“Aku bantuin apa?” tanya Jheni begitu Bibi War sudah meninggalkan mereka.

 

“Bentar. Biasanya, Bibi War selalu simpan ayam kampung di kulkas,” tutur Yuna sambil membuka pintu kulkas. “Nah, bener kan!?” serunya sambil meraih box transparan berisi potongan ayam kampung.

 

“Sini, biar aku yang cuci ayamnya!” pinta Jheni sambil merebut box dari tangan Yuna.

 

Yuna meringis sambil menatap Jheni. “Thank you!”

 

“Kamu yang bikin bumbunya!” perintah Jheni.

 

“Siap, Bos!” sahut Yuna sambil tersenyum. Ia mencari beberapa bahan yang ia butuhkan. “Duh, Goji Berry habis!”

 

“Mungkin, lagi dicari sama Bibi War. Tunggu aja!” sahut Jheni.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia menyalakan kompor dan memanaskan air yang akan ia gunakan untuk membuat Gallus Chicken Soup.

 

Jheni menemani dan membantu Yuna memasak sup untuk ayahnya. Ia terus memerhatikan gerak-gerik Yuna yang begitu menguasai dapur di rumahnya.

 

“Yun ...!”

 

“Umh.”

 

“Menurut kamu ... aku ketemu sama orang tua Chandra atau nggak, ya?”

 

“Kamu sendiri gimana? Udah siap atau belum?” tanya Yuna balik. Ia langsung menoleh ke arah pintu begitu melihat Bibi War masuk.

 

“Mbak, ini bahan yang kurang,” tutur Bibi War.

 

Yuna mengangguk. “Makasih, Bi ...!”

 

Bibi War menganggukkan kepala. “Mau Bibi bantuin masaknya?”

 

“Nggak usah. Sebentar lagi selesai, kok,” jawab Yuna.

 

“Kalau gitu, Bibi ke halaman belakang dulu!”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia melanjutkan berkutat di dapur bersama Jheni.

 

“Mmh ... kalau jadi, minggu-minggu ini si Chandra mau ajak aku ke Jogja. Ketemu sama orang tuanya. Aku bingung banget, Yun. Jantungku deg-degan banget ngebayangin sikap orang tuanya ke aku.”

 

Yuna tertawa kecil mendengar ucapan Jheni.

 

“Malah ngetawain!? Kamu sih enak. Keluarganya Yeriko, semuanya baik dan sayang sama kamu. Sedangkan Chandra, dia aja dijodohin sama Amara karena mama tirinya yang galak itu. Dia juga sering berantem sama papanya sendiri.”

 

“Kamu tahu, Yun ... aku ini orangnya emosian. Kalau aku ketemu sama mama tirinya dan berantem, gimana?”

 

Yuna menghela napas sambil menatap Jheni. “Jhen, cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Kalau keluarga Chandra nggak suka sama kamu, kamu harus pahami alasan mereka menolak kehadiran kamu. Selama Chandra bisa menerima kamu apa adanya ... aku yakin, kamu juga bisa meluluhkan hati keluarganya.”

 

Jheni menghela napas. “Iya juga, sih. Oh ya, bagusnya aku bawa apa ya kalau ke rumahnya? Aku nggak tahu hadiah apa yang cocok untuk mama tirinya karena aku belum pernah mengenal mereka.”

 

“Kamu tanya aja ke Chandra!”

 

“Chandra juga nggak begitu dekat dengan keluarganya. Kayaknya, perseteruan dia sama papanya cukup serius. Kalau aku tanya, dia selalu emosi.”

 

Yuna menoleh ke arah Jheni sambil mencicipi sup yang sudah dibumbui lengkap. “Aku juga nggak pernah berani mengungkit masa lalu ayahnya Yeriko. Mama Rully sudah memperingatkan aku tanpa memberitahu alasannya.”

 

“Ya sudahlah. Lebih baik kita berlapang dada aja menerima semuanya. Mendesak mereka hanya membuat masalah baru. Nikmati sajalah! Sampai waktunya mereka nyaman untuk bercerita dengan sendirinya.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung menyiapkan sup buatannya ke dalam termos makanan.

 

“Udah kelar?” tanya Jheni.

 

Yuna mengangguk. Ia segera melepas apron dari tubuhnya dan meletakkan di atas meja. “Kita berangkat sekarang!”

 

“Dapurnya nggak diberesin dulu?” tanya Jheni.

 

“Ada yang beresin. Kasihan ayahku udah kelaparan.”

 

“Iya juga, sih.” Jheni meringis ke arah Yuna. Mereka bergegas kembali ke rumah sakit.

 

 

 

...

 

 

 

Begitu sampai di rumah sakit, Yuna langsung menghampiri ayahnya dan menyuapkan sup sedikit demi sedikit.

 

“Makasih ya! Sudah mau masakin untuk Ayah!”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Ayah harus cepat sembuh, ya! Biar bisa jalan-jalan bareng kami lagi.”

 

Adjie menganggukkan kepala. “Ayah tidak bisa memenuhi janji ayah sebelas tahun lalu untuk mengajak kamu liburan ke luar negeri. Sekarang, kita nggak punya apa-apa. Maafkan Ayah!”

 

“Ayah ... ayah nggak perlu ngomong seperti ini!” pinta Yuna. “Semua tempat di dunia ini adalah tempat yang istimewa. Yang paling istimewa adalah ... tempat yang selalu ada ayah di dalamnya.”

 

Adjie tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Ayah sudah tua seperti ini, masih kamu gombalin?”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Aku nggak gombalin. Beneran!”

 

“Beneran apa? Nanti ada yang cemburu kalau kamu gombalin ayah,” tutur Adjie sambil melirik Yeriko.

 

Yeriko hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Adjie.

 

“Kalo Oom Adjie sih nggak akan dicemburui. Kalau sama yang lain, tanduk iblisnya langsung keluar,” ucap Jheni sambil mengacungkan dua jari telunjuk ke atas kepalanya.

 

Semua orang tertawa melihat tingkah Jheni.

 

“Laki-laki cemburu, itu wajar. Asal tidak berlebihan,” tutur Adjie.

 

“Wuih, kalo Yeriko cemburunya sampe tumpah-tumpah!” sahut Jheni. “Dia bukan cuma cemburuan, tapi juga over protective dan posesif banget. Kalau bukan Yuna yang hatinya sekuat baja dan selembut bulu, nggak ada perempuan yang mau jadi pasangannya.”

 

“Kamu ngomong apa!?” tanya Yeriko kesal. “Kamu nggak lihat ada ribuan cewek di luar sana yang antri mau jadi pasanganku?”

 

Jheni terkekeh mendengar pertanyaan Yeriko. “Itu karena mereka nggak kenal sifat buruk kamu yang posesif banget.”

 

“Kamu ...!? Aku masih bisa dapetin banyak cewek di luar sana!” sahut Yeriko kesal.

 

“Oh ... jadi, masih mau cari cewek yang banyak di luar sana?” tanya Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecut sambil menatap wajah Yuna. “Aku bercanda, Sayang!”

 

Yuna hanya melirik sinis ke arah Yeriko. Ia tak memilih diam sambil mengaduk-aduk sup yang ada di tangannya.

 

“Jhen, kamu seneng banget mancing emosi orang!” dengus Yeriko sambil mendelik ke arah Jheni.

 

“Siapa yang mancing? Emang kenyataan kalau ...” Jheni menghentikan ucapannya saat Yuna masih menundukkan kepala.

 

“Yun, kami cuma bercanda ...!” tutur Jheni sambil menghampiri Yuna yang sesenggukkan. “Kamu tahu kalau Yeriko cinta banget sama kamu. Dia nggak mungkin cari cewek lain di luar sana,” tutur Jheni sambil mengangkat rahang Yuna.

 

“Duaar ...!” teriak Yuna sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Jheni.

 

“Kamu pura-pura nangis? Ngerjain kita, hah!?” sahut Jheni sambil menggelitiki perut Yuna.

 

“Jangan, Jhen! Sup aku tumpah!” seru Yuna sambil mempertahankan sup di tangannya sambil berkelit.

 

Adjie langsung meraih termos sup dari tangan Yuna. Ia dan Yeriko hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Jheni dan Yuna.

 

“Geli, Jhen ...! Udah ...!” seru Yuna sambil tertawa.

 

“Berani-beraninya kamu akting nangis di depanku, hah!?”

 

“Aku nggak akting, Jhen.”

 

“Terus?”

 

“Cuma pura-pura, hahaha.”

 

“Sama aja!” dengus Jheni sambil menggelitiki pinggang Yuna.

 

Yuna terus tertawa sambil membalas perbuatan Jheni. Mereka saling menggoda dan tertawa.

 

“Selamat siang ...!” Suara seorang pria yang baru memasuki pintu, mengalihkan perhatian mereka.

 

Yuna dan yang lainnya langsung menoleh ke arah pintu. Kemudian, mereka saling pandang.

 

Yuna menarik napas panjang sambil melangkah menghampiri dua orang yang sudah masuk ke dalam ruangan itu. “Oom Rudi? Tante Melan!? Kalian tahu dari mana kalau kami di rumah sakit ini?”

 

Melan tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Nggak sulit bagi kami untuk mencari informasi tentang keberadaan ayah kamu.”

 

“Gimana keadaan Kak Adjie?” tanya Tarudi sambil melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur Adjie. Ia menghela napas lega saat melihat Adjie sudah sadar dan dalam keadaan baik-baik saja.

 

Yuna terus memperhatikan Melan yang ada di dalam ruangan itu. Ia tetap tidak bisa berhenti menaruh kecurigaan pada wanita setengah baya yang begitu kejam memperlakukan dirinya selama sebelas tahun belakangan.

 

“Kenapa, Tante?” tanya Yuna saat mendapati raut wajah Melan tidak bahagia.

 

“Eh!? Nggak papa. Tante sangat senang karena ayah kamu terlihat baik-baik saja,” jawab Melan sambil tersenyum manis. Ia pikir, ia berhasil mencelakai Adjie. Tak disangka kalau ternyata Adjie dalam keadaan baik-baik saja dan membuat hatinya sedikit gelisah. Ia takut kalau perbuatannya kali ini diketahui oleh orang lain.

 

“Aku harus memastikan kalau Lonan tidak meninggalkan jejak sedikitpun pada kecelakaan kali ini,” batin Melan. Bibirnya tetap tersenyum menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu, meski hatinya diselimuti kebencian.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku semangat nulisnya setiap hari.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 513 : Rahasia Masa Lalu

 


Yuna dan Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit untuk melihat keadaan Adjie.

 

“Ayah ...!” seru Yuna begitu ia membuka pintu ruang rawat Adjie. Ia langsung berlari menghampiri tempat tidur ayahnya sambil menitikkan air mata. Yuna langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya.

 

“Ayah ...! Kenapa ayah lama banget tidurnya? Yuna kangen sama Ayah.”

 

Adjie tersenyum sambil mengusap lembut kepala Yuna. “Ayah juga kangen sama kamu.”

 

“Ayah nggak papa ‘kan? Ada yang sakit?” tanya Yuna sambil memeriksa tubuh Adjie.

 

Adjie tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna. “Ayah baik-baik aja. Cuma luka sedikit, nggak sakit,” ucapnya sambil memerhatikan balutan luka di siku tangannya.

 

“Yuna takut banget! Yuna takut kalau ayah akan tertidur lama lagi. Semua ini pasti perbuatan Tante Melan dan Oom Rudi. Mereka nggak pernah mau lihat kita hidup bahagia.”

 

Adjie menghela napas. Ia tidak ingin puterinya banyak berpikir tentang apa yang telah terjadi padanya. Terlebih, Yuna dalam keadaan mengandung dan takut mempengaruhi janin yang ada di dalam perutnya.

 

Adjie dan yang lainnya langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu begitu mendengar suara pintu ruangan itu terbuka.

 

Adjie menghela napas lega saat melihat Jheni masuk ke dalam ruangannya.

 

“Oom Adjie, udah siuman?” tanya Jheni. “Aku tadi ditelepon sama perawat. Katanya, Oom Adjie sudah sadar. Maaf, aku tadi keluar karena harus ketemu sama kurator aku.”

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala. “Oh ya, Ayah lapar banget,” tuturnya sambil memegangi perutnya.

 

“Ayah mau makan apa?” tanya Yuna.

 

“Ayah pengen makan sup ayam buatan kamu,” jawab Yuna.

 

“Tapi, kalau aku harus masak ... bakalan lama, dong?”

 

“Nggak papa. Ayah akan nunggu sup buatan kamu.”

 

“Oke. Kalau gitu, aku pulang dulu!” tutur Yuna sambil meraih tangan Yeriko.

 

“Uhuk ... uhuk ...!” Adjie melirik ke arah Yeriko.

 

Yuna dan Yeriko saling pandang.

 

“Mmh ... biar aku yang jagain Ayah Adjie. Kamu pulang sama Jheni ya!” perintah Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Oke. Jagain ayahku ya!”

 

“Pasti. Nggak usah khawatir!”

 

“Ya udah, aku pulang dulu ya!”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia mengecup kening istrinya dan menyerahkan Yuna pada sahabatnya. “Jhen, jagain istri dan anakku ya!”

 

“Siap, Bos!” sahut Jheni sambil memberi hormat.

 

Yeriko tertawa melihat tingkah istri dan sahabatnya itu.

 

“Oom, kami pulang dulu! Cepat sehat ya!” seru Jheni.

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Ia terus menatap tubuh Yuna dan Jheni yang perlahan menghilang dari balik pintu.

 

Adjie menghela napas sambil memperbaiki posisi duduknya. “Nak Yeri ...!” panggilnya lirih.

 

“Ya.” Yeriko langsung mendekat ke arah tempat tidur Adjie.

 

“Apa kecelakaan kali ini ... ada hubungannya sama istrinya Rudi?” tanya Adjie.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Belum tahu. Tapi, kemungkinan besar memang dia. Aku masih menyelidiki kasus ini.”

 

“Huft, Ayah hanya tidak ingin melibatkan Yuna dan anak kalian. Walau bagaimanapun, ini adalah masalah dalam masa lalu kami. Tidak seharusnya, generasi kami yang harus menanggungnya.”

 

“Ayah nggak perlu khawatir! Aku akan berusaha untuk memecahkan masalah ini.”

 

Adjie menganggukkan kepala. “Sepertinya, Rudi dan Melan memang sudah curiga sama ayah. Makan malam hari itu, ayah merasakan ada hal yang berbeda.”

 

Yeriko menghela napas. “Aku belum sampaikan ke Ayah kalau pil yang aku temukan adalah pil tidur dosis tinggi. Mereka sudah menyusun rencana untuk menghadapi kita.”

 

“Apa mereka sudah mencurigai soal ingatan ayah? Gimana dengan Yuna?” tanya Adjie.

 

“Yuna nggak banyak bertanya soal ingatan ayah yang hilang. Aku sudah mengalihkan perhatiannya ke banyak hal.”

 

“Syukurlah. Ayah selalu mengkhawatirkan Yuna. Ayah masih nggak ngerti kenapa Rudi dan istrinya terus menyerang kami. Padahal, ayah sudah menandatangani perjanjian untuk tidak mengambil alih perusahaan.”

 

“Apa Ayah benar-benar tidak ingin mengambil alih perusahaan?” tanya Yeriko.

 

Adjie langsung menatap wajah Yeriko. Tanpa mengucapkan apa pun, Yeriko sudah mengerti arti tatapannya itu.

 

Yeriko mengangguk kecil. Ia akan tetap menjalankan rencana yang telah ia susun bersama ayah mertuanya.

 

“Yer, ada hal yang mau aku bicarakan!” Chandra tiba-tiba sudah muncul dari balik pintu.

 

Yeriko langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah Chandra.

 

“Pak Adjie sudah sadar?” tanya Chandra begitu melihat Adjie sudah duduk di atas tempat tidurnya.

 

Adjie mengangguk sambil tersenyum.

 

“Syukurlah. Yuna sama Jheni mana, ya?” tanya Chandra.

 

“Mereka pulang sebentar,” jawab Yeriko.

 

“Oh. Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu. Bisa bicara di luar?” tanya Chandra sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia segera keluar dari ruang rawat ayah mertuanya. Berjalan menyusuri koridor rumah sakit sampai ke sudut bangunan yang sepi.

 

“Gimana?” tanya Yeriko.

 

“Aku udah selesai selidiki Melan dan pria itu.”

 

“Hasilnya?”

 

“Mereka memang ada hubungan di masa lalu.”

 

Yeriko menaikkan kedua alisnya. “Maksudnya?”

 

“Melan dan Lonan, mereka pasangan kekasih yang saling mencintai,” tutur Chandra.

 

Yeriko menyandarkan punggungnya di dinding. Ia menyimak ucapan Chandra sambil mengelus-elus dagunya.

 

“Melan menikah dengan Tarudi karena uang. Ada hal yang harus kamu ketahui lebih jauh,” tutur Chandra sambil menyodorkan beberapa lembar kertas ke tangan Yeriko.

 

Yeriko langsung membuka kertas tersebut dan membacanya. “Kamu tahu kan kalau usia Yuna dan Bellina ... jaraknya tak sampai dua minggu?”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Bellina Linandar, lahir tanggal 29 September. Tahun yang sama dengan kelahiran Yuna,” tutur Chandra sambil menunjukkan tulisan dokumen yang ada di hadapan mereka.

 

“Tanggal pernikahan Tarudi dan Melan, tercatat pada bulan April. Dari bukti catatan sipil dan foto pernikahan mereka. Mereka menikah dan menggelar pesta di bulan yang sama,” terang Chandra.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Aku ngerti apa yang mau kamu sampaikan. Kemungkinan, Bellina bukan anak Oom Tarudi?”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Melan melahirkan bayinya di bulan kelima setelah pernikahannya. Artinya, dia sudah berbadan dua sebelum menikah. Dari catatan kepolisian yang aku dapat ... Lonan masuk ke penjara bulan di akhir bulan April.”

 

“Melan masih berhubungan sama pacarnya itu sebelum menikah?”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Sebelum menikah dengan Oom Tarudi, Melan tinggal bersama dengan pria itu.”

 

Yeriko memijat keningnya. “Apa ini salah satu alasan Melan ingin menyingkirkan Adjie dan istriku? Kalau Bellina bukan anak kandung Tarudi. Dia nggak punya penerus untuk perusahaan.”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Bener banget! Bisa jadi seperti itu. Kemungkinan, perusahaan keluarga Linandar masih bisa menjadi milik Yuna secara hukum. Hanya saja, selama sebelas tahun ini sudah terjadi banyak hal. Sekarang, perusahaan keluarga Lin berada di bawah naungan Wijaya Group.”

 

Yeriko menghela napas. “Kunci dalam masalah ini memang Pak Adjie. Hanya saja, dia tidak ingin mengambil alih perusahaan keluarga Lin karena ingin melindungi Yuna.”

 

“Melindungi? Wait ...!” pinta Chandra. Ia mondar-mandir beberapa kali sambil mengelus-elus dagunya.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko yang sudah kesulitan untuk memikirkan banyak hal.

 

“Melindungi dari siapa?” tanya Chandra balik.

 

“Dari Oom Taru—”

 

“Nggak mungkin! Oom Adjie bersikap sangat baik dengan adiknya, begitu juga sebaliknya. Kalau memang Oom Tarudi yang ingin mencelakai Oom Adjie ... orang pertama yang seharusnya diwaspadai adalah Oom Tarudi. Mereka sering kelihatan berbincang dan terlihat normal.”

 

“Itu karena Pak Adjie pura-pura amnesia.”

 

“Meski dia pura-pura amnesia, tapi kamu tahu. Setidaknya, dia yang pertama memperingatkan kamu agar menjauhi Tarudi.”

 

Yeriko menghela napas. “Jadi, menurut kamu gimana?”

 

“Kamu harus dapat informasi detail dari ayah mertua kamu itu. Apa dia punya musuh bisnis yang kuat?”

 

Yeriko langsung menatap wajah Chandra. “Kenapa kamu tanyain ini?”

 

“Dari penyelidikanku, Tarudi nggak punya kemampuan yang kuat untuk melakukan hal besar. Apalagi sampai melakukan pembunuhan berencana.”

 

“Gimana dengan Melan?”

 

Chandra menarik napas dalam-dalam. “Wanita jahat yang pura-pura baik, bisa mengendalikan pria yang baik menjadi jahat.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. “Kamu suruh orang untuk awasi terus pergerakan Melan!”

 

Chandra menganggukkan kepala. Mereka semakin meningkatkan kewaspadaan untuk melindungi orang-orang terdekat dari bahaya yang setiap saat mengancam mereka.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Apa yang akan mereka lakukan untuk menghadapi keluarga Yuna, ya?

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas