Menu BacaanMu
- Perfect Hero (538)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (72)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (56)
- Esai (55)
- Artikel (43)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Relima Perpusnas RI (18)
- Review Drama (18)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Daily (4)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Saturday, June 6, 2026
Friday, June 5, 2026
Perfect Hero Bab 538 : Menunggu Hasil Tes DNA
“Mbak Belli kenapa?” tanya seorang pelayan saat
membukakan pintu begitu Bellina dan Mega sampai ke rumah.
“Bukan urusan kamu!” sahut Bellina kesal sambil
melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Pelayan yang lain saling berbisik dan menertawakan
penampilan Bellina yang begitu berantakan.
Bellina langsung berbalik begitu ia mendengar
suara berbisik dari beberapa pelayan di rumah tersebut.
“Heh!? Kalian nggak punya kerjaan lain selain
ngomongin majikan sendiri, hah!?” seru Bellina.
Pelayan itu langsung bergegas memisahkan diri dan
melangkah menuju ruangan belakang. “Galak amat!” celetuk mereka lirih.
“Heran, deh. Pelayan di rumah ini pada nggak
bener. Sibuk ngurusin pribadi majikannya. Kerja yang bener, kek,” gerutu
Bellina sambil masuk ke dalam kamar dan bergegas membersihkan tubuhnya.
Di lantai bawah, Mega masih terus memikirkan hal
yang terjadi padanya hari ini. Ia khawatir kalau semua ini akan mempengaruhi
kredibilitas perusahaan dan mengancam perusahaan keluarganya.
“Ergh! Kenapa punya menantu kayak gitu
kelakuannya!?” serunya kesal. “Kalau sampai berita kayak gini tersebar ke luar,
perusahaan Wijaya bisa kehilangan kepercayaan dari orang lain. Bellina nggak
mikirin nasib perusahaan suaminya sendiri? Sinting tuh anak!”
Mega mondar-mandir di ruang tamu hingga ia masuk
ke dalam kamarnya. “Aku harus memikirkan cara untuk memisahkan Lian dari
perempuan itu. Kalau begini terus, keluarga Wijaya nggak akan ada harganya di
mata orang-orang. Dia udah tega menyakiti anaknya sendiri. Sekarang, dia juga
nggak jelas anaknya siapa.”
Mega merasa kalau perbuatan Bellina semakin hari
semakin kelewat batas dan membahayakan masa depan keluarga besarnya. Ia tidak
ingin Bellina terus menempel pada putera kesayangannya dan menimbulkan masalah.
Di kamarnya, Bellina terus menerus meracau tak
jelas. Ia menganggap semua benda yang ada di dalam kamar mandi adalah Yuna dan
terus memaki sepuasnya.
“Sialan kamu, Yun! Kalau bukan karena kamu, aku
nggak akan dipermalukan kayak gini!” seru Bellina kesal. Ia tidak tahu harus
bagaimana menghadapi sepupunya tersebut. Banyak hal yang ia benci dari Yuna
karena ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang didapatkan oleh Yuna.
...
Keesokan harinya ...
“Ribut banget, sih!” maki Bellina sambil menyambar
ponsel yang berdering. Ia masih menutup mata, enggan berdamai dengan mentari
pagi yang mulai menghangat.
Bellina langsung membelalakkan mata begitu melihat
pengingat agenda yang tertera di layar ponselnya. “Astaga! Hari ini tes DNA
bakal keluar. Aku harus ke rumah sakit lebih dulu,” tuturnya sambil bangun dari
tempat tidurnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun,
Bellina baru saja membuka mata. Sementara Wilian sudah pergi ke kantor tiga
puluh menit yang lalu.
“Huft, aku lupa banget kalau hari ini hasil tes
DNA bakal keluar. Mudahan aja, hasilnya negatif! Aku harus sampai lebih dulu ke
rumah sakit!”
Bellina buru-buru pergi ke rumah sakit untuk
mengetahui hasil tes DNA itu terlebih dahulu.
Begitu sampai di rumah sakit, Bellina langsung
menghampiri tim dokter yang mengurusi masalah tes DNA.
“Prof ...!” panggil Bellina.
Dokter itu langsung berbalik. “Siapa ya?”
“Aku Bellina, yang akan menerima tes DNA hari
ini.”
“Oh.” Dokter itu mengangguk-anggukkan kepala.
“Tunggu yang lain ya!” pinta dokter ith sambil melangkah pergi.
“Prof, apa saya bisa lihat hasil tes DNA itu lebih
dulu?” tanya Bellina sambil mengejar langkah dokter tersebut.
Dokter itu menghentikan langkahnya. “Ikutilah
semuanya sesuai prosedur!”
“Prof, sekarang atau nanti ... hasilnya akan tetap
sama. Saya hanya ingin mengetahui lebih dulu.”
“Nanti akan saya beritahukan setelah semua
keluarga berkumpul sesuai dengan permintaan Pak Tarudi.”
“Prof, saya langsung yang dites kali ini. Apa saya
nggak bisa mengetahui hasilnya lebih dulu? Kalau memang profesor tidak ingin
memperlihatkan suratnya. Setidaknya, kasih tahu saya ... siapa ayah biologis
saya?”
Profesor itu menarik napas sejenak sambil menatap
wajah Bellina. “Saya tidak bisa mengatakan sebelum semuanya berkumpul. Jadi,
tunggu saja!” jawab dokter itu dan berlalu pergi.
Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia berbalik dan
menghampiri ruang laboratorium forensik untuk mencari hasil tes DNA miliknya.
Dari balik kaca pintu laboratorium, Bellina berusaha mengintip ke dalam ruangan
tersebut. Ada dua petugas laboratorium yang ada di dalam sana. Membuatnya tak
bisa masuk dengan leluasa.
Bellina hanya bisa menyandarkan punggung dan
kepalanya ke dinding. Ia pasrah begitu saja saat mengetahui ada dua kamera CCTV
di sudut kanan dan kiri koridor tersebut.
“Kenapa sih nggak semudah cerita sinetron? Mereka
bisa ganti hasil tes DNA dengan mudah. Di rumah sakit ini, sistem keamanannya
ketat banget. CCTV di mana-mana. Dokternya nggak bisa diajak sekongkol. Pintu
laboratorium dikunci. Aku harus gimana?” rengek Bellina sambil mengacak-acak
rambutnya sendiri.
Bellina menoleh ke dalam ruang laboratorium yang
hanya bisa ia lihat sedikit dari balik kaca pintu.
Beberapa menit kemudian, Melan dan kekasihnya
muncul dari ujung koridor dan langsung menghampiri Bellina.
“Bel, udah di sini dari tadi?” tanya Melan sambil
menatap Bellina.
Bellina melirik tajam ke arah mamanya. Hatinya
diselimuti kebencian saat melihat mamanya dan Lonan berangkulan mesra. Ia
merasakan sakit yang luar biasa, ia tidak ingin menjadi anak kandung dua orang
yang ada di hadapannya.
“Cantik ...! Jangan cemberut seperti itu!” pinta
Lonan lembut sambil mengelus rambut Bellina.
Bellina langsung menepis tangan Lonan dengan
kasar. “Nggak usah sok baik!”
Lonan tertawa bahagia melihat sikap Bellina yang
kasar dan angkuh. “Aku suka sifat kamu ini ... sangat mirip denganku. Sudah
pasti, kamu adalah anak kandungku.”
“Jangan terlalu percaya diri! Aku nggak mau punya
ayah kayak kamu!” seru Bellina.
“Hahaha. Kalau kenyatannya kamu adalah anakku.
Kamu bisa apa?”
“Hasil tes DNA belum keluar. Sekalipun hasilnya
positif kalau aku anak kamu. Aku nggak akan pernah mengakuinya!” tegas Bellina.
“Papaku cuma satu. Aku nggak mau punya papa lain!” lanjutnya dengan mata
berkaca-kaca sambil menoleh ke arah Tarudi yang muncul di belakang Lonan.
Tarudi terpaku melihat wajah Bellina yang sudah
ada di hadapannya. Harapannya kali ini hanya Bellina. Ia sangat berharap kalau
Bellina adalah puteri kandungnya.
Ia belum resmi menceraikan istrinya. Tapi,
istrinya sudah bergandengan mesra dengan pria lain dan membuat perasaannya tak
karuan. Hatinya begitu tersayat, tapi ia tidak punya hak untuk marah atau
cemburu. Sebab, hubungan mereka saat ini sudah berbeda.
“Bel, papa juga ingin menjadi papa kamu untuk
selamanya. Papa sangat menyayangi kamu. Hingga saat ini, kamulah yang tak
sanggup papa benci meski papa ingin membencimu,” batin Tarudi. Ia tidak
ingin menjalani kehidupannya seorang diri. Ia tidak akan mempertahankan rumah
tangganya tapi ia ingin memiliki seorang puteri yang bisa menemaninya
menghabiskan hari tua bersama.
((Bersambung...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat nulisnya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
Mengapa Banyak Orang Menyembunyikan Kebahagiaannya? Ternyata Ini Alasannya
Thursday, June 4, 2026
Penjadwalan Pramusrenbang Desa Beringin Agung Tahun Anggaran 2027
Mengapa Iwel-Iwel Selalu Hadir dalam Selamatan Bayi? Ternyata Ini Maknanya
Bukan Orang Ketiga, Komunikasi yang Mati Sering Jadi Penyebab Retaknya Rumah Tangga
Tuesday, June 2, 2026
Saya Baru Tahu, Ternyata Bubur Sum-Sum Setelah Hajatan Punya Makna yang Luar Biasa
Perfect Hero Bab 537 : Wajah-Wajah Memalukan
Mega bangkit dari tanah. Ia langsung menarik
Bellina yang masih tertegun melihat mama mertuanya juga ikut dipermalukan di
depan orang-orang penting yang ada di kota itu.
“Kenapa kamu mempermalukan kami di depan semua
orang? Kami salah apa sama kamu?” tanya Mega sambil menatap Yana.
Yana tersenyum menanggapi pertanyaan Mega. “Aku
sengaja bikin pesta ini cuma untuk membantu Yuna membalaskan dendamnya. Menantu
kamu ini sudah membuat keluarga Hadikusuma dan keluarga kami marah.”
Mega langsung menoleh ke arah Bellina. Ia sama
sekali tidak tahu apa yang diperbuat oleh anak menantunya di luar sana. Ia
semakin membenci sikap Bellina.
“Ayo, kita pulang!” perintah Mega sambil menarik
lengan Bellina.
“Ma, kita nggak bisa diam aja!” seru Bellina
sambil berusaha menepiskan tangan Mega.
“Udah, Bel. Kalau kita di sini terus, mereka akan
semakin mempermalukan kita. Lihat penampilan kamu sekarang! Nggak akan ada yang
menghargai kita di tempat ini,” tutur Mega sambil melirik kesal ke semua orang
yang ada di sana.
“Tapi, Ma ...!”
Mega langsung menarik tangan Bellina keluar dari
rumah tersebut. Mereka berjalan sambil menundukkan kepala saat semua orang
menertawakan penampilan mereka.
Rullyta tersenyum sinis sambil menatap tubuh
Bellina yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya. “Kamu pikir,
kamu bisa menghadapi aku dengan mudah!?” gerutunya kesal.
Semua orang yang ada di sana langsung tersenyum
dan bersikap baik pada Rullyta dan Yana. Mereka tidak ingin membuat dua orang
bersahabat itu merasa tersinggung dan mempermalukan mereka suatu hari nanti.
“Perhatian semuanya ...! Pesta teh hari ini, cukup
sampai di sini. Kalian semua boleh pulang. Aku mau istirahat.”
Semua orang saling pandang. Mereka sedikit kecewa
karena perjamuan kali ini sangat singkat. Namun, tak ada yang berani bersuara
dan memilih untuk pergi satu persatu.
“Akhirnya ... selesai juga,” tutur Yana sambil
merebahkan tubuhnya di sofa.
“Aku puas banget lihat muka mereka hari ini. Biar
semua orang tahu, nggak ada yang bisa main-main sama keluarga kita.” Rullyta
ikut merebahkan diri di samping Yana.
Yuna hanya tersenyum sambil ikut duduk di hadapan
Rullyta dan Yana. “Ma, Mama harusnya nggak perlu repot-repot bikin pesta palsu
kayak gini buat balas perlakuan Bellina ke aku!”
Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu nggak
perlu protes! Mama paling nggak suka diprotes. Kalau masih mau jadi anak mama,
kamu harus nurut sama mama!”
“Iya, Ma,” jawab Yuna sambil menganggukkan kepala.
“Gitu, dong! Jadi anak baik!”
Yuna tersenyum. Ia melepas gelang giok yang
melingkar di pergelangan tangannya. “Bunda, ini ... aku kembalikan gelang punya
bunda.”
Yana langsung menoleh ke arah Yuna yang duduk di
hadapannya. “Barang yang udah bunda kasih, nggak boleh dikembalikan lagi!”
“Eh!? Bukannya ini cuma sandiwara?” tanya Yuna.
“Yang bilang ini sandiwara ... siapa?” tanya Bunda
Yana.
Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ini
serius, Yun. Kamu kira mama dan Bunda Yana suka main-main kalau masalah kayak
gini?”
Yuna menggigit bibirnya. “Tapi, gelang ini terlalu
mahal buat aku, Ma.”
“Halah, berapa sih harganya? Nggak sampe jual
rumah, kok,” sahut Bunda Yana.
“Iya. Masih mahal cincin pernikahan pemberian
Yeriko ‘kan?” sahut Rullyta sambil menatap wajah Yuna. “Ambil aja! Mumpung
dikasih gratis sama Bunda Yana. Kapan lagi bisa morotin duitnya Bunda Yana?”
Yana tertawa kecil. “Kalau Satria udah nikah, aku
bakal suruh istrinya dia buat morotin duitmu juga.”
“Hahaha. Enak aja!” dengus Rullyta. “Kalau dia
baik kayak Yuna, bolehlah aku kasih sedikit.”
“Yuna, mama mertua kamu ini pelit banget.”
“Eh, aku nggak pelit. Tanya ke dia!” sahut
Rullyta.
Yuna hanya tertawa kecil melihat hubungan
persahabatan Mama Rullyta dan Bunda Yana. Ia berharap kalau persahabatan ia dan
Jheni juga bisa abadi seperti dua orang yang kini ada di hadapannya.
...
“Bel, apa yang sudah kamu lakuin ke keluarga Hadikusuma? Kenapa
sampai membuat kita dipermalukan seperti ini? Kamu itu menantu keluarga Wijaya.
Bisa nggak jaga sikap kamu di luar sana!?” tutur Mega sambil menahan kesal saat
mereka sudah ada di dalam mobil.
Bellina tak menyahut. Ia sibuk membersihkan daun teh yang masih
menempel di tubuhnya.
“Bersihin di rumah aja! Jangan bikin kotor mobil mama!” sentak
Mega.
Bellina langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia menyembunyikan
bibir sambil menahan kesal. Mama mertuanya yang kasar dan pemarah, jauh berbeda
dengan mertua Yuna yang lembut dan menyenangkan.
“Kenapa lihatin saya begitu!?” tanya Mega sambil mendelik ke arah
Bellina.
“Nggak papa, Ma.” Bellina memilih untuk menundukkan kepala dan
tidak mengatakan apa pun. Ia masih harus menghadapi kenyataan mamanya yang
bermain gila dengan pria lain dan juga mama mertua yang bersikap kasar
terhadapnya.
“Kalau tahu mau ada hal seperti ini, mama nggak akan bawa kamu ke
pesta teh. Mama juga nggak akan datang ke tempat itu. Mereka sengaja
mempermalukan mama karena kesalahan yang kamu buat ke keluarga Hadikusuma. Apa
kamu memang senang bikin malu keluarga kami?” omel Mega.
Bellina menghela napas kecil. Ia sudah memilih mengalah dan
mendengarkan semua omelan Mega yang begitu menusuk batinnya. “Kenapa semua
orang nggak menerima kehadiranku? Semuanya selalu membanggakan Yuna, Yuna dan
Yuna!” batinnya sambil menatap lantai mobil yang ada di bawah kakinya.
“Masalah mama kamu belum selesai. Sekarang, kamu malah bikin
masalah baru. Kamu bikin mama stres! Lihat si Yuna itu! Dia pintar dan baik
dalam bersikap. Kalau tahu gini, mama biarin Lian menikahi Yuna aja. Aku
menyesal banget sudah pilih kamu jadi menantu.”
Bellina hanya menundukkan kepala. Ia semakin membenci Yuna
saat mama mertuanya membandingkan dirinya dengan Yuna. “Yun, kenapa selalu
kamu?” batinnya penuh kebencian.
“Bel, kalau kamu masih bikin ulah terus di luar sana. Lian pasti
akan menceraikan kamu. Masih lebih baik punya menantu bodoh tapi bisa menjaga
nama baik keluarga. Daripada menantu yang pintar, tapi pintarnya bikin malu
keluarga aja!”
Bellina langsung menoleh ke arah Mega. “Ma, aku nggak ngelakuin
hal berlebihan di luar sana. Emang si Yuna aja yang nggak berani ngadepin aku
sendirian, dia nyuruh mama mertuanya buat ngadepin aku. Masalah aku dan Yuna,
nggak ada hubungannya sama keluarga Hadikusuma atau keluarga Wijaya!” tegasnya.
“Sudah terjadi hal seperti ini, kamu masih bisa bilang kalau ini
nggak ada hubungannya dengan keluarga Wijaya? Otakmu ini ditaruh mana, hah!?”
sahut Mega sambil menoyor kepala Bellina.
Bellina mengerutkan hidung sambil menatap tajam ke arah Mega.
“Kenapa? Marah? Mau berantem sama mama?” tanya Mega.
Bellina menggelengkan kepala. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia
juga tidak ingin melawan mama mertuanya dan membuat suasana semakin panas. Mama
mertuanya memang masih emosi karena latar belakang Bellina yang belum jelas.
Kalau ia berusaha melawan mama mertuanya, posisinya di keluarga Wijaya akan
semakin terancam.
“Kamu pulang ke rumah kami aja dulu!” pinta Mega. “Jangan sampai
Lian tahu soal ini! Mama nggak mau kejadian ini mempengaruhi perusahaan yang
sedang diurusnya!”
Bellina menganggukkan kepala. Ia juga tidak ingin Lian mengetahui
apa yang sudah terjadi hari ini antara dia dan Yuna. Yang Lian tahu,
hubungannya dengan Yuna sudah membaik. Ia tidak ingin Lian mengetahui apa yang
telah ia lakukan saat ini.
((Bersambung...))
Perfect Hero Bab 536 : Korban Pesta Teh
Rullyta tersenyum puas setelah berhasil
mempermalukan Mega pada pembukaan acara perjamuan teh di rumah istri walikota.
Hal ini, membuat Mega tidak bisa berkata-kata, akhirnya memilih diam dan
mengalihkan perhatian pada hal lain.
“Menantu keluarga Hadikusuma memang bukan orang
sembarangan. Dia cantik, anggun dan pintar,” celetuk salah seorang wanita yang
ada di tempat itu.
“Mereka keluarga terhormat, nggak mungkin
sembarangan mengambil menantu,” sahut wanita lain.
“Tapi, ada juga loh keluarga terhormat yang salah
ambil menantu. Maklum, zaman sekarang ... banyak perempuan yang mengincar
keluarga kaya supaya bisa menikmati kekayaan dengan mudah.”
“Eh, iya, bener banget! Kita juga mesti hati-hati
kalau mau cari menantu. Harus dilihat bener-bener bibit, bebet dan bobotnya.
Harus jelas, keturunan keluarga mana dan seperti apa masa lalu mereka. Jangan
sampai salah pilih dan bikin jelek nama baik keluarga!”
“Iya, Bu. Aku juga agak khawatir kalau anakku
tergoda sama perempuan sembarangan. Sekarang, banyak perempuan yang menggunakan
anak untuk menipu laki-laki. Laki-laki itu kayak kucing, mana bisa bedain ikan
segar sama ikan sisa kemarin, semuanya dilahap.”
“Anakku perempuan, Bu. Takut juga dapet laki-laki
yang nggak bener.”
“Jangan sampai dapet suami nggak bener! Sekarang,
banyak juga laki-laki pemalas yang manfaatin istrinya buat dapetin uang.”
“Laki atau perempuan, sekarang sama aja. Yang
penting, kita harus mengenal pribadinya dengan baik. Jangan asal-asalan kalau
cari menantu!”
“Bener-bener.”
“Bu Rully itu beruntung banget. Punya anak yang
tampan dan pintar bisnis. Dia juga dapet menantu yang cantik, baik dan cerdas
begitu. Kalau aku punya menantu begitu, udah aku sayang-sayang setiap hari.”
Bellina yang mendengar obrolan dari beberapa
wanita di sisinya merasa sangat kesal. Hatinya begitu panas mendengar Yuna
selalu mendapatkan pujian. Padahal, ia juga banyak kemampuan ... tapi tidak
seorang pun yang membanggakan dirinya kecuali mamanya sendiri.
“Hai, semuanya ...!” seru Yana mengalihkan
perhatian semua orang. “Aku mau tunjukin ke kalian, barang mahal yang aku buat
dengan tanganku sendiri.”
“Apa?”
“Apa?”
“Apa?”
Semua orang langsung bertanya-tanya.
Yana tersenyum. Ia memberikan isyarat pada pelayan
untuk membawakan barang yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Yana langsung meraih kotak perhiasan dan
membukanya.
“Wah ...! Ini gelang dari batu giok!” seru salah
seorang wanita yang ada di sana. “Bu Wali buat sendiri?”
Yana menganggukkan kepala. “Gelang ini aku buat
dengan pendampingan salah satu ahli perhiasan di Tiongkok. Ini merupakan simbol
kedamaian, keberkahan dan keberuntungan untuk orang yang memakainya.”
“Dijual atau nggak, Bu?” tanya salah seorang
wanita yang ada di sana.
“Mmh ... kalau cocok harganya, bolehlah saya
jual.”
“Mau dijual berapa?”
“Boleh coba?”
Mega dan Bellina juga ikut melihat gelang giok
yang ada di dalam kotak perhiasan tersebut. Gelang itu terbuat dari batu yang
harganya sangat mahal dan membuat semua orang ingin memilikinya.
“Boleh, silakan cobain aja!” perintah Yana sambil
menyodorkan kotak perhiasan tersebut.
Semua orang saling pandang. Mereka sedikit
ragu untuk mencoba gelang giok yang harganya memang sangat mahal untuk sebagian
orang. Mereka takut membuat gelang tersebut rusak dan harus menggantinya.
“Siapa yang mau nyobain duluan?” tanya Yana.
“Aku,” jawab Mega sambil menghampiri Yana. Ia
sangat menyukai model gelang yang ada di tangan Yana.
Yana tersenyum sinis sambil menatap Mega. “Gelang
ini nggak bisa dipakai sembarang orang. Apalagi, ini gelang hasil buatan
tanganku sendiri.”
Mega langsung memanas begitu mendengar ucapan
Yana. Ia merasa sedang dipermainkan oleh Yana. “Tadi, kamu sendiri yang
menyuruh orang lain mencobanya. Kenapa sekarang bicara lain?” tanyanya kesal.
Yana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mega.
“Kalimat itu keluar sebelum kamu muncul di hadapanku!”
“Maksud kamu!?” Mega membelalakkan matanya.
Bellina yang melihat mama mertuanya dipermalukan
dengan sengaja, langsung menghampiri Yana. “Bunda, maksud Bunda apa?”
Yana menaikkan dua alis sambil menatap Bellina.
“Kamu mau coba gelang ini?”
Bellina tak menyahut. Meski kesal dengan ucapan
Bunda Yana, tapi ia juga menginginkan gelang keberuntungan itu.
Yana menaikkan kedua alisnya. “Nggak mau coba?
Sebelum aku berubah pikiran.”
Bellina menarik napas sambil menganggukkan kepala.
Yana tersenyum sambil mengeluarkan gelang tersebut
dari kotaknya. “Mana tangan kamu?” tanya Yana sambil menengadahkan telapak
tangannya.
Bellina tersenyum bahagia karena Bunda Yana ingin
memakaikan gelang itu secara langsung ke tangannya. Ia merasa menjadi orang
yang paling istimewa di tempat tersebut.
Yana memasangkan gelang tersebut. Kemudian, ia
mengamati gelang yang ada di tangan Bellina selama beberapa detik. “Ck, nggak
cocok ada di tangan kamu,” ucapnya sambil melepas kembali gelang tersebut.
Bellina membelalakkan mata. Ia benar-benar tidak
mengerti dengan apa yang dilakukan Bunda Yana terhadapnya.
Semua orang saling pandang. Mereka mulai mengerti
dengan apa yang dilakukan Yana dan Rullyta. Sebab, dari awal perjamuan ... tuan
rumah acara tersebut sudah mengincar Mega dan Bellina sejak awal.
“Bunda, kenapa dilepas lagi?” tanya Bellina.
“Bunda sudah bilang, gelang ini nggak cocok ada di
tangan kamu,” jawab Yana sambil melangkahkan kakinya menghampiri Yuna.
Yana langsung meraih tangan Yuna dan memakaikan
gelang tersebut ke tangan Yuna. Hal ini, semakin membuat emosi Bellina
tersulut.
“Bunda, Bunda sengaja mau mempermainkan kami!?”
seru Bellina.
Yana tak menghiraukan pertanyaan Bellina. Ia
tersenyum sambil memasangkan gelang ke tangan Yuna.
“Bunda, aku merasa nggak pantas pakai barang
semahal ini,” tutur Yuna sambil memperhatikan gelang yang sudah melingkar di
tangannya.
“Benda mati pun tahu siapa yang pantas jadi
pemiliknya. Gelang ini, lebih cocok ada di tangan kamu,” ucap Bunda Yana sambil
tersenyum. Ia mengelus lembut rambut Yuna.
Kalimat lembut yang keluar dari mulut Bunda Yana,
terasa begitu menusuk ke hati Bellina. Ia tidak tahan lagi melihat Yuna yang
diperlakukan sangat istimewa di depan semua orang.
“Kamu lagi hamil, gelang keberuntungan ini lebih
cocok untuk kamu. Semoga, kamu dan si jabang bayi sehat selalu sehat sampai
hari kelahiran nanti,” tutur Bunda Yana sambil mengelus lembut kepala Yuna.
“Makasih, Bunda ...!” ucap Yuna sambil tersenyum
manis.
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Bunda
Yana, membuat Bellina teringat pada anaknya sendiri. Ia menatap perut Yuna
penuh kebencian. Ia tidak akan pernah rela membiarkan anak yang ada di dalam
perut Yuna bisa hidup bahagia. Ia berniat untuk membalaskan dendam anaknya dan
berharap kalau Yuna bisa menghilang dari muka bumi ini.
Bellina menatap tajam ke arah Yuna sambil
melangkahkan kakinya mendekati Yuna secara perlahan. Kebencian yang menyelimuti
hatinya, membuatnya lupa kalau ia berada di tempat yang seharusnya bisa menjaga
sikapnya dengan baik.
Rullyta dan Yana yang menyadari langkah Bellina,
langsung sigap dan berusaha menarik Yuna untuk menjauh dari Bellina.
Bellina semakin kesal, ia mempercepat langkahnya.
Menerobos tubuh beberapa wanita yang ada di sana dan langsung mendorong tubuh
Yuna.
Yuna memundurkan langkahnya begitu tangan Bellina
mendorong kuat dadanya, ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak
terjatuh. “Apa-apaan sih kamu, Bel!?” serunya kesal.
“Kamu sengaja mau merebut perhatian semua orang
dan mempermalukan aku ‘kan?”
Yuna menggelengkan kepala. Ia masih tidak mengerti
dengan Bellina yang terus-menerus menyerangnya.
Bellina kembali menghampiri Yuna untuk menyerang
sepupunya itu.
BYUUR ...!
Langkah Bellina terhenti saat Bunda Yana
menyiramkan teh seduhan ke tubuh Bellina. Seketika, seluruh tubuh Bellina basah
kuyup dengan air seduhan teh. Wajah dan tubuhnya bisa merasakan air hangat yang
menjalar perlahan. Rambut dan pakaiannya juga kotor dengan daun teh yang sudah
mengering.
Bellina membuka mulutnya lebar-lebar. Ia semakin
kesal dengan perlakuan Yuna dan orang-orang yang melindunginya. Ia
menghentakkan kaki sambil mengepal tangannya kuat-kuat.
Melihat Bellina yang dipermalukan dan emosinya
semakin terpancing, Mega langsung melangkah menghampiri Bellina untuk menarik
menantunya itu pergi.
SRUUK ...!
Belum sampai mencapai tubuh Bellina, Mega malah
terjerembab ke tanah karena salah satu kaki wanita yang ada di sana menghalau
kakinya.
Mega langsung membuka mata dan mulutnya
lebar-lebar. Ia menengadahkan kepala sambil menatap Yana dan Rullyta yang
tertawa lebar melihat ia yang bersimpuh di tanah.
“Kalian sengaja mau mempermalukan kami?” tanya
Mega sambil menatap Rullyta dan Yana.
Rullyta hanya tersenyum sambil memainkan alisnya.
“Kamu tanya sama menantu kamu ini, dia sudah berani main-main sama keluargaku.
Kamu pikir, aku bakal diam aja kalau anak menantuku disakiti, hah!?” sentak
Rullyta sambil mendelik ke arah Mega.
Mega terdiam. Ia mengedarkan pandangannya saat
semua tamu menertawakan dirinya dan anak menantunya yang sudah terlihat kacau.
Semua orang menatap ke arah Mega dan Bellina.
Kini, mereka mengerti kalau keluarga Wijaya pernah melakukan hal yang membuat
keluarga Hadikusuma tersinggung, hingga membuat mereka merasa dipermalukan
seperti sekarang ini.
((Bersambung ...))
Eeeaak ... silakan tertawa. Author mau cari inspirasi dulu.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)






.png)
.png)