Thursday, June 4, 2026

Penjadwalan Pramusrenbang Desa Beringin Agung Tahun Anggaran 2027




Dalam rangka mempersiapkan penyusunan rencana pembangunan desa yang partisipatif dan berbasis kebutuhan masyarakat, Pemerintah Desa Beringin Agung bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menggelar rapat koordinasi penjadwalan Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Pramusrenbang) pada Kamis, 4 Juni 2026, bertempat di Ruang BPU Desa Beringin Agung.

Kegiatan tersebut dipandu langsung oleh Ketua BPD Desa Beringin Agung, Kuat Sholeh, bersama Kepala Desa Kusnadi dan Pendamping Desa, Sukardin. Rapat dihadiri oleh para Ketua RT, perwakilan lembaga desa, serta unsur masyarakat yang akan terlibat dalam tahapan perencanaan pembangunan desa tahun anggaran 2027.

Dalam arahannya, Ketua BPD, Kuat Sholeh, menegaskan pentingnya Pramusrenbang sebagai wadah penjaringan aspirasi masyarakat di tingkat RT sebelum dibahas lebih lanjut dalam Musrenbang Desa. Melalui forum ini, setiap RT diharapkan dapat mengidentifikasi kebutuhan dan usulan prioritas pembangunan yang benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan warganya.

Sementara itu, Kepala Desa Kusnadi mengajak seluruh peserta untuk aktif berpartisipasi dan memastikan setiap usulan yang diajukan memiliki manfaat yang luas bagi masyarakat. Menurutnya, pembangunan desa yang baik harus diawali dengan proses perencanaan yang matang, terbuka, dan melibatkan seluruh unsur masyarakat.

Pada kesempatan tersebut disepakati bahwa pelaksanaan Pramusrenbang akan dilaksanakan secara bertahap di seluruh wilayah RT, mulai dari RT 1 hingga RT 11, setelah rangkaian kegiatan Tasyakuran Hari Ulang Tahun Desa Beringin Agung yang akan dilaksanakan pada 6 Juni 2026. 
Penjadwalan ini dilakukan agar seluruh tahapan dapat berjalan dengan tertib serta memberikan kesempatan yang cukup bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan usulan pembangunan.
Melalui pelaksanaan Pramusrenbang ini, diharapkan seluruh usulan prioritas masyarakat dapat terakomodasi secara optimal sebagai bahan penyusunan program pembangunan Desa Beringin Agung Tahun Anggaran 2027, sehingga pembangunan desa ke depan semakin tepat sasaran, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh warga.


#PramusrenbangDesa 
#DesaBeringinAgung 
#MusrenbangDesa 
#PerencanaanPembangunan 
#PartisipasiMasyarakat 
#BPDDesa 
#PembangunanDesa2027



Mengapa Iwel-Iwel Selalu Hadir dalam Selamatan Bayi? Ternyata Ini Maknanya




Dalam kehidupan sosial, seringkali kita mendapati momen-momen yang luar biasa dan tidak bisa dilupakan. Salah satunya adalah momen kelahiran bayi. 

Sejak menjadi Ibu Rumah Tangga, aku kerap mendapatkan undangan selamatan bayi. Bahkan, aku juga ikut mengundang orang lain untuk datang ke acara selamatan kelahiran bayiku. 
Setiap kali acara selamatan, tidak luput dari hidangan makanan enak. Salah satunya adalah iwel-iwel. 

Iwel-iwel selalu hadir saat selamatan kelahiran bayi atau selamatan tujuh bulanan. Sempat terbersit pertanyaan dalam hati, "Kenapa selalu ada iwel-iwel saat selamatan kelahiran bayi?"
Meski pertanyaan itu sudah tertanam di kepala selama beberapa tahun terakhir. Tapi, aku tidak pernah benar-benar ingin mencari tahu tentang makna dan filosofi makanan yang satu ini. 

Akhir-akhir ini, aku mulai tertarik dengan makanan-makanan tradisional dan arti filosofis di balik makanan itu sendiri. Aku merasa hal ini sangat menarik. Makanan tradisional dibuat bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tapi juga memiliki nilai budaya dan filosofi yang luar biasa. Aku ingin sekali menuliskannya agar anak-cucu nanti bisa mengetahui tentang makna dan tradisi yang harus dijaga hingga ratusan atau ribuan tahun lagi. 

Ada makanan yang dibuat untuk mengenyangkan perut. Ada pula makanan yang dibuat untuk mengenyangkan hati. Iwel-iwel termasuk yang kedua.

Di banyak kampung Jawa, kue tradisional ini hampir selalu hadir dalam berbagai selamatan yang berkaitan dengan kelahiran dan tumbuh kembang anak. Bentuknya sederhana. Bahannya pun tidak mewah. Hanya tepung ketan, kelapa parut, gula merah, dan daun pisang. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan lapisan makna yang begitu dalam. 

Dalam Jurnal UGM berjudul "Makna Filosofis Iwel-iwel dalam Selamatan Bayi di Jawa: Kajian Linguistik Antropologis" juga mengungkapkan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu tidak pernah menciptakan tradisi tanpa makna. Bahkan makanan pun sering kali dijadikan media untuk menyampaikan harapan, doa, dan nasihat hidup. Iwel-iwel adalah salah satu contohnya.
Konon, salah satu asal-usul nama iwel-iwel berasal dari kata cemiwel atau kamiwel yang berarti lucu, menggemaskan, atau menyenangkan hati. Karena itulah kue ini kerap hadir dalam selamatan bayi sebagai simbol harapan agar anak yang lahir tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebahagiaan bagi keluarga dan lingkungannya.

Namun maknanya tidak berhenti di situ.
Jika diperhatikan, iwel-iwel dibuat dari bahan-bahan yang sangat dekat dengan kehidupan rakyat. Tidak ada bahan mahal. Tidak ada hiasan berlebihan. Semuanya berasal dari alam sekitar. Tepung ketan, kelapa, gula aren, dan daun pisang berpadu menjadi satu sajian yang manis, hangat, dan mengenyangkan. Dari sini orang Jawa seperti sedang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan. Terkadang, kehidupan yang paling bermakna justru dibangun dari hal-hal sederhana yang dirawat dengan penuh ketelatenan. 

Daun pisang yang membungkus iwel-iwel juga bukan sekadar pembungkus. Ia seolah menjadi perlambang perlindungan. Sebagaimana bayi yang baru lahir dibungkus kasih sayang orang tua, iwel-iwel pun dibungkus dengan daun yang menjaga bentuk dan rasanya hingga matang. Di sana ada pesan tentang kehangatan keluarga, tentang rumah yang menjadi tempat pertama seorang anak belajar mengenal dunia.


Menariknya lagi, proses membuat iwel-iwel membutuhkan kesabaran. Kelapa harus diparut, adonan harus diolah dengan cermat, lalu dibungkus satu per satu sebelum dikukus hingga matang. Tidak ada yang instan. Semua memerlukan waktu. Filosofi ini terasa begitu relevan dengan kehidupan keluarga hari ini. Anak-anak tidak tumbuh hanya dengan fasilitas dan teknologi. Mereka tumbuh melalui proses panjang yang membutuhkan kesabaran, perhatian, dan cinta yang terus-menerus diberikan. 

Mungkin itulah sebabnya iwel-iwel mampu bertahan melintasi zaman. Ia bukan hanya makanan tradisional. Ia adalah pengingat bahwa setiap kehidupan baru layak disambut dengan syukur. Bahwa kebahagiaan terbaik sering kali lahir dari kesederhanaan. Dan bahwa kasih sayang, seperti gula merah di dalam iwel-iwel, tidak selalu tampak dari luar, tetapi selalu bisa dirasakan kehangatannya.

Di tengah gempuran makanan modern yang serba menarik dan berwarna-warni, iwel-iwel hadir dengan caranya sendiri: tenang, sederhana, dan penuh makna.
Karena bagi orang Jawa, terkadang doa tidak hanya dipanjatkan melalui kata-kata. Ia juga bisa dibungkus daun pisang, dikukus dengan kesabaran, lalu dibagikan kepada sesama dalam bentuk iwel-iwel. 



Kutai Kartanegara, 04 Juni 2026

Rin Muna
(Novel Author & Humaniora) 

Bukan Orang Ketiga, Komunikasi yang Mati Sering Jadi Penyebab Retaknya Rumah Tangga





Tidak semua rumah tangga diuji oleh badai besar. Kadang-kadang, yang menggerus kebahagiaan justru hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari: sulitnya berbicara dari hati ke hati.

Ada suami yang ketika diajak berdiskusi memilih diam. Ada yang langsung marah. Ada yang mengalihkan pembicaraan. Bahkan ada yang ketika istrinya ingin mencari solusi, justru menambah daftar masalah baru.

Padahal, dalam sebuah rumah tangga, masalah bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Tagihan datang setiap bulan. Anak-anak tumbuh dengan kebutuhan yang terus berubah. Orang tua bertambah usia. Tubuh tidak selalu sehat. Hidup memang selalu menghadirkan persoalan.

Yang membedakan rumah tangga yang bertahan dan yang perlahan retak bukanlah ada atau tidak adanya masalah, melainkan bagaimana dua orang di dalamnya menghadapi masalah itu bersama.

Sayangnya, ada suami yang menganggap setiap percakapan serius sebagai serangan. Ketika istri berkata, "Kita perlu membicarakan ini," yang terdengar justru, "Aku sedang disalahkan."

Akibatnya, percakapan yang seharusnya menjadi jalan keluar berubah menjadi arena pertahanan diri. Suami sibuk mencari alasan. Istri sibuk mencari jawaban. Tidak ada yang benar-benar mendengarkan.

Masalah yang awalnya kecil akhirnya membesar karena tidak pernah benar-benar dibahas.

Ironisnya, banyak suami sebenarnya bukan tidak peduli. Mereka hanya tidak terbiasa mengelola emosi dan komunikasi. Sejak kecil, sebagian laki-laki dibesarkan dengan kalimat-kalimat seperti, "Jangan cengeng!" "Laki-laki harus kuat!" atau "Diam saja!"

Mereka belajar bekerja keras, tetapi tidak belajar mengungkapkan perasaan. Mereka diajarkan menyelesaikan tugas, tetapi tidak diajarkan menyelesaikan konflik.

Maka ketika menikah, mereka mampu memperbaiki mesin yang rusak, tetapi bingung memperbaiki hubungan yang sedang renggang.

Padahal, istri sering kali tidak membutuhkan jawaban yang sempurna. Ia hanya ingin didengar.

Ia tidak selalu meminta suaminya menyelesaikan seluruh persoalan dalam satu malam. Ia hanya ingin tahu bahwa mereka sedang berjalan ke arah yang sama.

Terkadang, istri lebih memilih untuk berdiam diri ketika menghadapi persoalan yang tak kunjung usai hanya untuk menjaga hubungan tetap hangat dan rumah tangga akan baik-baik saja. Namun, seberapa lama seorang istri bisa menahan diri dan memendam semuanya sendirian? Bisa jadi, ia akan berlari pada orang lain atau memilih jalan singkat yang sulit dimengerti orang lain. 

Sebuah masalah akan terasa lebih ringan ketika dipikul bersama. Sebaliknya, masalah sekecil apa pun akan terasa berat ketika harus ditanggung sendirian.

Komunikasi dalam rumah tangga ibarat jembatan. Ketika jembatan itu retak, kedua orang bisa saja masih tinggal di rumah yang sama, tidur di ranjang yang sama, bahkan makan di meja yang sama. Namun hati mereka berada di pulau yang berbeda.

Karena itu, kemampuan berbicara dan mendengarkan bukanlah keterampilan tambahan dalam pernikahan. Ia adalah fondasi.

Tidak harus selalu mencari solusi yang hebat. Tidak harus selalu menang dalam perdebatan. Kadang yang dibutuhkan hanya kalimat sederhana:

"Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu."

"Mari kita pikirkan bersama!"

"Aku belum punya jawaban sekarang, tapi aku mau mendengarkan."

Kalimat-kalimat sederhana itu mungkin tidak langsung menyelesaikan masalah. Namun setidaknya tidak menambah luka.

Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar. Pernikahan adalah tentang dua orang yang memilih tetap berada di pihak yang sama ketika masalah datang.

Sebab rumah tangga tidak runtuh karena banyaknya persoalan. Rumah tangga sering kali runtuh ketika dua orang berhenti berbicara, berhenti mendengar, dan berhenti merasa bahwa mereka adalah satu tim.

Dan ketika itu terjadi, masalah bukan lagi berada di luar rumah. Masalah itu sudah tinggal di dalamnya.

Tuesday, June 2, 2026

Saya Baru Tahu, Ternyata Bubur Sum-Sum Setelah Hajatan Punya Makna yang Luar Biasa






Ada satu pemandangan yang selalu membuat saya tersenyum setiap kali menghadiri hajatan pernikahan di kampung-kampung Jawa. Ketika tenda mulai dibongkar, kursi-kursi dikembalikan ke tempat semula, dan para tamu terakhir berpamitan, dapur justru masih menyimpan cerita. 
Di sudut rumah, ibu-ibu yang sejak beberapa hari lalu sibuk rewang masih berkumpul sambil menikmati semangkuk bubur sum-sum hangat yang disiram kuah gula merah, mereka sering menyebutnya "juruh". 
Sederhana. Tidak mewah. Namun justru di situlah tersimpan makna yang begitu dalam.
Bubur sum-sum bukan sekadar makanan penutup setelah pesta usai. Dalam banyak tradisi masyarakat Jawa, hidangan ini memiliki filosofi yang erat dengan rasa syukur, ketulusan, dan harapan akan kehidupan baru yang lebih baik. 
Kata sum-sum sendiri sering dimaknai sebagai inti atau sari dari kehidupan. Setelah seluruh rangkaian hajatan berlangsung dengan segala tenaga, pikiran, dan biaya yang telah dicurahkan, bubur sum-sum hadir sebagai simbol kembalinya manusia pada kesederhanaan. Bahwa sebesar apa pun pesta yang digelar, pada akhirnya yang dicari adalah ketenteraman hati dan keberkahan hidup.

Saya selalu menyukai cara orang-orang tua menjelaskan makna makanan tradisional. Mereka tidak menggunakan istilah rumit atau teori filsafat yang sulit dipahami. Dari semangkuk bubur putih yang lembut, mereka mengajarkan bahwa kehidupan rumah tangga yang baru dibangun pengantin juga seharusnya seperti itu. Lembut dalam bertutur kata, tenang dalam menghadapi masalah, dan mampu menyatukan berbagai rasa dalam satu wadah kebersamaan. Kuah gula merah yang manis menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup memang tidak selalu mudah, tetapi manisnya kebahagiaan akan terasa ketika dijalani bersama.

Tradisi menyajikan bubur sum-sum setelah hajatan juga memiliki nilai sosial yang sangat kuat. Di banyak desa, bubur ini biasanya dinikmati bersama-sama oleh para tetangga dan kerabat yang ikut membantu acara. Mereka duduk lesehan, berbincang santai, saling bercanda, lalu pulang membawa rasa lega karena pekerjaan besar telah selesai. Tidak ada lagi sekat antara tuan rumah dan tamu. Semua kembali menjadi bagian dari masyarakat yang saling menguatkan. Dari sini kita belajar bahwa sebuah pernikahan tidak pernah hanya menjadi urusan dua orang. Ia adalah peristiwa sosial yang melibatkan banyak tangan dan banyak hati.

Di tengah kehidupan modern yang serba praktis, tradisi seperti ini mungkin terlihat sederhana. Bahkan ada yang menganggapnya kuno. Namun justru dalam kesederhanaan itulah kita menemukan sesuatu yang mulai jarang dimiliki zaman sekarang: kebersamaan yang tulus tanpa pamrih. Ketika ibu-ibu rewang memasak sejak dini hari, ketika bapak-bapak membantu mendirikan tenda, ketika tetangga datang membawa tenaga dan waktu tanpa meminta imbalan, sesungguhnya mereka sedang merawat modal sosial yang sangat berharga. Bubur sum-sum menjadi penutup yang manis untuk seluruh proses gotong royong tersebut.

Mungkin itulah sebabnya aroma santan hangat dan gula merah selalu membawa saya pada kenangan tentang kampung halaman. Tentang suara orang-orang yang bercakap di dapur, asap tungku yang mengepul, serta tawa yang masih terdengar meski tubuh sudah lelah bekerja seharian. Semangkuk bubur sum-sum mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan. Kadang ia datang dalam bentuk yang sangat sederhana: semangkuk bubur hangat yang disantap bersama setelah semua pekerjaan selesai.

Dan seperti pernikahan itu sendiri, bubur sum-sum mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang pesta yang meriah, melainkan tentang bagaimana menjaga rasa syukur setelah pesta usai. Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukan seberapa megah acaranya, melainkan seberapa hangat kebersamaan yang tercipta di dalamnya. Sebagaimana bubur sum-sum yang lembut dan menenangkan, semoga setiap rumah tangga yang baru dibangun juga tumbuh dalam kelembutan, kesabaran, dan keberkahan yang tak pernah habis dibagikan.




Kutai Kartanegara, 02 Juni 2026



Rin Muna
(Novel Author & Humaniora) 

Perfect Hero Bab 537 : Wajah-Wajah Memalukan

 


Mega bangkit dari tanah. Ia langsung menarik Bellina yang masih tertegun melihat mama mertuanya juga ikut dipermalukan di depan orang-orang penting yang ada di kota itu.

 

“Kenapa kamu mempermalukan kami di depan semua orang? Kami salah apa sama kamu?” tanya Mega sambil menatap Yana.

 

Yana tersenyum menanggapi pertanyaan Mega. “Aku sengaja bikin pesta ini cuma untuk membantu Yuna membalaskan dendamnya. Menantu kamu ini sudah membuat keluarga Hadikusuma dan keluarga kami marah.”

 

Mega langsung menoleh ke arah Bellina. Ia sama sekali tidak tahu apa yang diperbuat oleh anak menantunya di luar sana. Ia semakin membenci sikap Bellina.

 

“Ayo, kita pulang!” perintah Mega sambil menarik lengan Bellina.

 

“Ma, kita nggak bisa diam aja!” seru Bellina sambil berusaha menepiskan tangan Mega.

 

“Udah, Bel. Kalau kita di sini terus, mereka akan semakin mempermalukan kita. Lihat penampilan kamu sekarang! Nggak akan ada yang menghargai kita di tempat ini,” tutur Mega sambil melirik kesal ke semua orang yang ada di sana.

 

“Tapi, Ma ...!”

 

Mega langsung menarik tangan Bellina keluar dari rumah tersebut. Mereka berjalan sambil menundukkan kepala saat semua orang menertawakan penampilan mereka.

 

Rullyta tersenyum sinis sambil menatap tubuh Bellina yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya. “Kamu pikir, kamu bisa menghadapi aku dengan mudah!?” gerutunya kesal.

 

Semua orang yang ada di sana langsung tersenyum dan bersikap baik pada Rullyta dan Yana. Mereka tidak ingin membuat dua orang bersahabat itu merasa tersinggung dan mempermalukan mereka suatu hari nanti.

 

“Perhatian semuanya ...! Pesta teh hari ini, cukup sampai di sini. Kalian semua boleh pulang. Aku mau istirahat.”

 

Semua orang saling pandang. Mereka sedikit kecewa karena perjamuan kali ini sangat singkat. Namun, tak ada yang berani bersuara dan memilih untuk pergi satu persatu.

 

“Akhirnya ... selesai juga,” tutur Yana sambil merebahkan tubuhnya di sofa.

 

“Aku puas banget lihat muka mereka hari ini. Biar semua orang tahu, nggak ada yang bisa main-main sama keluarga kita.” Rullyta ikut merebahkan diri di samping Yana.

 

Yuna hanya tersenyum sambil ikut duduk di hadapan Rullyta dan Yana. “Ma, Mama harusnya nggak perlu repot-repot bikin pesta palsu kayak gini buat balas perlakuan Bellina ke aku!”

 

Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu nggak perlu protes! Mama paling nggak suka diprotes. Kalau masih mau jadi anak mama, kamu harus nurut sama mama!”

 

“Iya, Ma,” jawab Yuna sambil menganggukkan kepala.

 

“Gitu, dong! Jadi anak baik!”

 

Yuna tersenyum. Ia melepas gelang giok yang melingkar di pergelangan tangannya. “Bunda, ini ... aku kembalikan gelang punya bunda.”

 

Yana langsung menoleh ke arah Yuna yang duduk di hadapannya. “Barang yang udah bunda kasih, nggak boleh dikembalikan lagi!”

 

“Eh!? Bukannya ini cuma sandiwara?” tanya Yuna.

 

“Yang bilang ini sandiwara ... siapa?” tanya Bunda Yana.

 

Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ini serius, Yun. Kamu kira mama dan Bunda Yana suka main-main kalau masalah kayak gini?”

 

Yuna menggigit bibirnya. “Tapi, gelang ini terlalu mahal buat aku, Ma.”

 

“Halah, berapa sih harganya? Nggak sampe jual rumah, kok,” sahut Bunda Yana.

 

“Iya. Masih mahal cincin pernikahan pemberian Yeriko ‘kan?” sahut Rullyta sambil menatap wajah Yuna. “Ambil aja! Mumpung dikasih gratis sama Bunda Yana. Kapan lagi bisa morotin duitnya Bunda Yana?”

 

Yana tertawa kecil. “Kalau Satria udah nikah, aku bakal suruh istrinya dia buat morotin duitmu juga.”

 

“Hahaha. Enak aja!” dengus Rullyta. “Kalau dia baik kayak Yuna, bolehlah aku kasih sedikit.”

 

“Yuna, mama mertua kamu ini pelit banget.”

 

“Eh, aku nggak pelit. Tanya ke dia!” sahut Rullyta.

 

Yuna hanya tertawa kecil melihat hubungan persahabatan Mama Rullyta dan Bunda Yana. Ia berharap kalau persahabatan ia dan Jheni juga bisa abadi seperti dua orang yang kini ada di hadapannya.

 

 

 

...

 

“Bel, apa yang sudah kamu lakuin ke keluarga Hadikusuma? Kenapa sampai membuat kita dipermalukan seperti ini? Kamu itu menantu keluarga Wijaya. Bisa nggak jaga sikap kamu di luar sana!?” tutur Mega sambil menahan kesal saat mereka sudah ada di dalam mobil.

 

Bellina tak menyahut. Ia sibuk membersihkan daun teh yang masih menempel di tubuhnya.

 

“Bersihin di rumah aja! Jangan bikin kotor mobil mama!” sentak Mega.

 

Bellina langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia menyembunyikan bibir sambil menahan kesal. Mama mertuanya yang kasar dan pemarah, jauh berbeda dengan mertua Yuna yang lembut dan menyenangkan.

 

“Kenapa lihatin saya begitu!?” tanya Mega sambil mendelik ke arah Bellina.

 

“Nggak papa, Ma.” Bellina memilih untuk menundukkan kepala dan tidak mengatakan apa pun. Ia masih harus menghadapi kenyataan mamanya yang bermain gila dengan pria lain dan juga mama mertua yang bersikap kasar terhadapnya.

 

“Kalau tahu mau ada hal seperti ini, mama nggak akan bawa kamu ke pesta teh. Mama juga nggak akan datang ke tempat itu. Mereka sengaja mempermalukan mama karena kesalahan yang kamu buat ke keluarga Hadikusuma. Apa kamu memang senang bikin malu keluarga kami?” omel Mega.

 

Bellina menghela napas kecil. Ia sudah memilih mengalah dan mendengarkan semua omelan Mega yang begitu menusuk batinnya. “Kenapa semua orang nggak menerima kehadiranku? Semuanya selalu membanggakan Yuna, Yuna dan Yuna!” batinnya sambil menatap lantai mobil yang ada di bawah kakinya.

 

“Masalah mama kamu belum selesai. Sekarang, kamu malah bikin masalah baru. Kamu bikin mama stres! Lihat si Yuna itu! Dia pintar dan baik dalam bersikap. Kalau tahu gini, mama biarin Lian menikahi Yuna aja. Aku menyesal banget sudah pilih kamu jadi menantu.”

 

Bellina  hanya menundukkan kepala. Ia semakin membenci Yuna saat mama mertuanya membandingkan dirinya dengan Yuna. “Yun, kenapa selalu kamu?” batinnya penuh kebencian.

 

“Bel, kalau kamu masih bikin ulah terus di luar sana. Lian pasti akan menceraikan kamu. Masih lebih baik punya menantu bodoh tapi bisa menjaga nama baik keluarga. Daripada menantu yang pintar, tapi pintarnya bikin malu keluarga aja!”

 

Bellina langsung menoleh ke arah Mega. “Ma, aku nggak ngelakuin hal berlebihan di luar sana. Emang si Yuna aja yang nggak berani ngadepin aku sendirian, dia nyuruh mama mertuanya buat ngadepin aku. Masalah aku dan Yuna, nggak ada hubungannya sama keluarga Hadikusuma atau keluarga Wijaya!” tegasnya.

 

“Sudah terjadi hal seperti ini, kamu masih bisa bilang kalau ini nggak ada hubungannya dengan keluarga Wijaya? Otakmu ini ditaruh mana, hah!?” sahut Mega sambil menoyor kepala Bellina.

 

Bellina mengerutkan hidung sambil menatap tajam ke arah Mega.

 

“Kenapa? Marah? Mau berantem sama mama?” tanya Mega.

 

Bellina menggelengkan kepala. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia juga tidak ingin melawan mama mertuanya dan membuat suasana semakin panas. Mama mertuanya memang masih emosi karena latar belakang Bellina yang belum jelas. Kalau ia berusaha melawan mama mertuanya, posisinya di keluarga Wijaya akan semakin terancam.

 

“Kamu pulang ke rumah kami aja dulu!” pinta Mega. “Jangan sampai Lian tahu soal ini! Mama nggak mau kejadian ini mempengaruhi perusahaan yang sedang diurusnya!”

 

Bellina menganggukkan kepala. Ia juga tidak ingin Lian mengetahui apa yang sudah terjadi hari ini antara dia dan Yuna. Yang Lian tahu, hubungannya dengan Yuna sudah membaik. Ia tidak ingin Lian mengetahui apa yang telah ia lakukan saat ini.

 

((Bersambung...))

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 536 : Korban Pesta Teh

 


Rullyta tersenyum puas setelah berhasil mempermalukan Mega pada pembukaan acara perjamuan teh di rumah istri walikota. Hal ini, membuat Mega tidak bisa berkata-kata, akhirnya memilih diam dan mengalihkan perhatian pada hal lain.

 

“Menantu keluarga Hadikusuma memang bukan orang sembarangan. Dia cantik, anggun dan pintar,” celetuk salah seorang wanita yang ada di tempat itu.

 

“Mereka keluarga terhormat, nggak mungkin sembarangan mengambil menantu,” sahut wanita lain.

 

“Tapi, ada juga loh keluarga terhormat yang salah ambil menantu. Maklum, zaman sekarang ... banyak perempuan yang mengincar keluarga kaya supaya bisa menikmati kekayaan dengan mudah.”

 

“Eh, iya, bener banget! Kita juga mesti hati-hati kalau mau cari menantu. Harus dilihat bener-bener bibit, bebet dan bobotnya. Harus jelas, keturunan keluarga mana dan seperti apa masa lalu mereka. Jangan sampai salah pilih dan bikin jelek nama baik keluarga!”

 

“Iya, Bu. Aku juga agak khawatir kalau anakku tergoda sama perempuan sembarangan. Sekarang, banyak perempuan yang menggunakan anak untuk menipu laki-laki. Laki-laki itu kayak kucing, mana bisa bedain ikan segar sama ikan sisa kemarin, semuanya dilahap.”

 

“Anakku perempuan, Bu. Takut juga dapet laki-laki yang nggak bener.”

 

“Jangan sampai dapet suami nggak bener! Sekarang, banyak juga laki-laki pemalas yang manfaatin istrinya buat dapetin uang.”

 

“Laki atau perempuan, sekarang sama aja. Yang penting, kita harus mengenal pribadinya dengan baik. Jangan asal-asalan kalau cari menantu!”

 

“Bener-bener.”

 

“Bu Rully itu beruntung banget. Punya anak yang tampan dan pintar bisnis. Dia juga dapet menantu yang cantik, baik dan cerdas begitu. Kalau aku punya menantu begitu, udah aku sayang-sayang setiap hari.”

 

Bellina yang mendengar obrolan dari beberapa wanita di sisinya merasa sangat kesal. Hatinya begitu panas mendengar Yuna selalu mendapatkan pujian. Padahal, ia juga banyak kemampuan ... tapi tidak seorang pun yang membanggakan dirinya kecuali mamanya sendiri.

 

“Hai, semuanya ...!” seru Yana mengalihkan perhatian semua orang. “Aku mau tunjukin ke kalian, barang mahal yang aku buat dengan tanganku sendiri.”

 

“Apa?”

 

“Apa?”

 

“Apa?”

 

Semua orang langsung bertanya-tanya.

 

Yana tersenyum. Ia memberikan isyarat pada pelayan untuk membawakan barang yang sudah ia siapkan sebelumnya.

 

Yana langsung meraih kotak perhiasan dan membukanya.

 

“Wah ...! Ini gelang dari batu giok!” seru salah seorang wanita yang ada di sana. “Bu Wali buat sendiri?”

 

Yana menganggukkan kepala. “Gelang ini aku buat dengan pendampingan salah satu ahli perhiasan di Tiongkok. Ini merupakan simbol kedamaian, keberkahan dan keberuntungan untuk orang yang memakainya.”

 

“Dijual atau nggak, Bu?” tanya salah seorang wanita yang ada di sana.

 

“Mmh ... kalau cocok harganya, bolehlah saya jual.”

 

“Mau dijual berapa?”

 

“Boleh coba?”

 

Mega dan Bellina juga ikut melihat gelang giok yang ada di dalam kotak perhiasan tersebut. Gelang itu terbuat dari batu yang harganya sangat mahal dan membuat semua orang ingin memilikinya.

 

“Boleh, silakan cobain aja!” perintah Yana sambil menyodorkan kotak perhiasan tersebut.

 

 Semua orang saling pandang. Mereka sedikit ragu untuk mencoba gelang giok yang harganya memang sangat mahal untuk sebagian orang. Mereka takut membuat gelang tersebut rusak dan harus menggantinya.

 

“Siapa yang mau nyobain duluan?” tanya Yana.

 

“Aku,” jawab Mega sambil menghampiri Yana. Ia sangat menyukai model gelang yang ada di tangan Yana.

 

Yana tersenyum sinis sambil menatap Mega. “Gelang ini nggak bisa dipakai sembarang orang. Apalagi, ini gelang hasil buatan tanganku sendiri.”

 

Mega langsung memanas begitu mendengar ucapan Yana. Ia merasa sedang dipermainkan oleh Yana. “Tadi, kamu sendiri yang menyuruh orang lain mencobanya. Kenapa sekarang bicara lain?” tanyanya kesal.

 

Yana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mega. “Kalimat itu keluar sebelum kamu muncul di hadapanku!”

 

“Maksud kamu!?” Mega membelalakkan matanya.

 

Bellina yang melihat mama mertuanya dipermalukan dengan sengaja, langsung menghampiri Yana. “Bunda, maksud Bunda apa?”

 

Yana menaikkan dua alis sambil menatap Bellina. “Kamu mau coba gelang ini?”

 

Bellina tak menyahut. Meski kesal dengan ucapan Bunda Yana, tapi ia juga menginginkan gelang keberuntungan itu.

 

Yana menaikkan kedua alisnya. “Nggak mau coba? Sebelum aku berubah pikiran.”

 

Bellina menarik napas sambil menganggukkan kepala.

 

Yana tersenyum sambil mengeluarkan gelang tersebut dari kotaknya. “Mana tangan kamu?” tanya Yana sambil menengadahkan telapak tangannya.

 

Bellina tersenyum bahagia karena Bunda Yana ingin memakaikan gelang itu secara langsung ke tangannya. Ia merasa menjadi orang yang paling istimewa di tempat tersebut.

 

Yana memasangkan gelang tersebut. Kemudian, ia mengamati gelang yang ada di tangan Bellina selama beberapa detik. “Ck, nggak cocok ada di tangan kamu,” ucapnya sambil melepas kembali gelang tersebut.

 

Bellina membelalakkan mata. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Bunda Yana terhadapnya.

 

Semua orang saling pandang. Mereka mulai mengerti dengan apa yang dilakukan Yana dan Rullyta. Sebab, dari awal perjamuan ... tuan rumah acara tersebut sudah mengincar Mega dan Bellina sejak awal.

 

“Bunda, kenapa dilepas lagi?” tanya Bellina.

 

“Bunda sudah bilang, gelang ini nggak cocok ada di tangan kamu,” jawab Yana sambil melangkahkan kakinya menghampiri Yuna.

 

Yana langsung meraih tangan Yuna dan memakaikan gelang tersebut ke tangan Yuna. Hal ini, semakin membuat emosi Bellina tersulut.

 

“Bunda, Bunda sengaja mau mempermainkan kami!?” seru Bellina.

 

Yana tak menghiraukan pertanyaan Bellina. Ia tersenyum sambil memasangkan gelang ke tangan Yuna.

 

“Bunda, aku merasa nggak pantas pakai barang semahal ini,” tutur Yuna sambil memperhatikan gelang yang sudah melingkar di tangannya.

 

“Benda mati pun tahu siapa yang pantas jadi pemiliknya. Gelang ini, lebih cocok ada di tangan kamu,” ucap Bunda Yana sambil tersenyum. Ia mengelus lembut rambut Yuna.

 

Kalimat lembut yang keluar dari mulut Bunda Yana, terasa begitu menusuk ke hati Bellina. Ia tidak tahan lagi melihat Yuna yang diperlakukan sangat istimewa di depan semua orang.

 

“Kamu lagi hamil, gelang keberuntungan ini lebih cocok untuk kamu. Semoga, kamu dan si jabang bayi sehat selalu sehat sampai hari kelahiran nanti,” tutur Bunda Yana sambil mengelus lembut kepala Yuna.

 

“Makasih, Bunda ...!” ucap Yuna sambil tersenyum manis.

 

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Bunda Yana, membuat Bellina teringat pada anaknya sendiri. Ia menatap perut Yuna penuh kebencian. Ia tidak akan pernah rela membiarkan anak yang ada di dalam perut Yuna bisa hidup bahagia. Ia berniat untuk membalaskan dendam anaknya dan berharap kalau Yuna bisa menghilang dari muka bumi ini.

 

Bellina menatap tajam ke arah Yuna sambil melangkahkan kakinya mendekati Yuna secara perlahan. Kebencian yang menyelimuti hatinya, membuatnya lupa kalau ia berada di tempat yang seharusnya bisa menjaga sikapnya dengan baik.

 

Rullyta dan Yana yang menyadari langkah Bellina, langsung sigap dan berusaha menarik Yuna untuk menjauh dari Bellina.

 

Bellina semakin kesal, ia mempercepat langkahnya. Menerobos tubuh beberapa wanita yang ada di sana dan langsung mendorong tubuh Yuna.

 

Yuna memundurkan langkahnya begitu tangan Bellina mendorong kuat dadanya, ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh. “Apa-apaan sih kamu, Bel!?” serunya kesal.

 

“Kamu sengaja mau merebut perhatian semua orang dan mempermalukan aku ‘kan?”

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia masih tidak mengerti dengan Bellina yang terus-menerus menyerangnya.

 

Bellina kembali menghampiri Yuna untuk menyerang sepupunya itu.

 

 

 

BYUUR ...!

 

Langkah Bellina terhenti saat Bunda Yana menyiramkan teh seduhan ke tubuh Bellina. Seketika, seluruh tubuh Bellina basah kuyup dengan air seduhan teh. Wajah dan tubuhnya bisa merasakan air hangat yang menjalar perlahan. Rambut dan pakaiannya juga kotor dengan daun teh yang sudah mengering.

 

Bellina membuka mulutnya lebar-lebar. Ia semakin kesal dengan perlakuan Yuna dan orang-orang yang melindunginya. Ia menghentakkan kaki sambil mengepal tangannya kuat-kuat.

 

Melihat Bellina yang dipermalukan dan emosinya semakin terpancing, Mega langsung melangkah menghampiri Bellina untuk menarik menantunya itu pergi.

 

SRUUK ...!

 

Belum sampai mencapai tubuh Bellina, Mega malah terjerembab ke tanah karena salah satu kaki wanita yang ada di sana menghalau kakinya.

 

Mega langsung membuka mata dan mulutnya lebar-lebar. Ia menengadahkan kepala sambil menatap Yana dan Rullyta yang tertawa lebar melihat ia yang bersimpuh di tanah.

 

“Kalian sengaja mau mempermalukan kami?” tanya Mega sambil menatap Rullyta dan Yana.

 

Rullyta hanya tersenyum sambil memainkan alisnya. “Kamu tanya sama menantu kamu ini, dia sudah berani main-main sama keluargaku. Kamu pikir, aku bakal diam aja kalau anak menantuku disakiti, hah!?” sentak Rullyta sambil mendelik ke arah Mega.

 

Mega terdiam. Ia mengedarkan pandangannya saat semua tamu menertawakan dirinya dan anak menantunya yang sudah terlihat kacau.

 

Semua orang menatap ke arah Mega dan Bellina. Kini, mereka mengerti kalau keluarga Wijaya pernah melakukan hal yang membuat keluarga Hadikusuma tersinggung, hingga membuat mereka merasa dipermalukan seperti sekarang ini.

 

 ((Bersambung ...))

Eeeaak ... silakan tertawa. Author mau cari inspirasi dulu.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas