Thursday, February 5, 2026

Cliffhanger: Seni Menggantung Cerita yang Membuat Pembaca Terus Mengikat Nafasnya

 


Cliffhanger: Seni Menggantung Cerita yang Membuat Pembaca Terus Mengikat Nafasnya

Ada saat ketika cerita kita harus berhenti.
Bukan karena kehilangan arah.
Tapi karena ketegangan itu sendiri sudah cukup tinggi… sampai membuat pembaca tak tega berhenti membaca.

Inilah yang disebut cliffhanger — teknik naratif di mana sebuah cerita ditinggalkan pada puncak ketegangan atau misteri yang belum terjawab, membiarkan pembaca menggenggam pertanyaan di dalam benaknya dan tertarik untuk menyusuri baris-baris berikutnya.


Cliffhanger: Lebih dari Sekadar “Akhir yang Menggantung”

Cliffhanger berasal dari tradisi cerita bersambung yang secara harfiah “menggantung” pembaca di tengah-tengah ketegangan. Teknik ini banyak dipakai dalam serial televisi, novel berseri, dan cerita episodik. Di sinilah pembaca berhenti… tapi rasa penasaran justru tumbuh semakin liar.

Berbeda dengan plot twist, yang biasanya mengubah keseluruhan arah cerita, cliffhanger mendorong keterlibatan pembaca tanpa menyelesaikan konflik utama pada saat itu juga.


Mengapa Cliffhanger Begitu Mengikat?

Cliffhanger bekerja karena satu alasan sederhana: emosi dan harapan yang belum lengkap di benak pembaca.

Bayangkan rasa kamu sendiri ketika membaca kalimat terakhir yang menggantung… jantung serasa ikut tergantung di ujung kata. Itu karena:

- Pemeran utama berada dalam bahaya
- Sebuah pertanyaan penting belum dijawab
- Hubungan karakter berada di ambang perpisahan
- Terdapat misteri yang belum terpecahkan

Pada titik itu, pembaca tidak lagi sekadar mengikuti cerita — mereka telah terlibat secara batin. Itulah kekuatan cliffhanger: mengubah pembaca menjadi mitra konflik.


Jenis-Jenis Cliffhanger yang Bisa Kamu Gunakan

Ketika menulis cliffhanger, kamu tidak hanya “menggantung dengan beban kosong”. Ada beberapa jenis yang bisa kamu pakai tergantung suasana dan konteks cerita:

1. 🗡️ Kesudahan dalam Bahaya (Life-or-Death Moment)

Tokoh utama menghadapi ancaman langsung dan tidak ada jawaban pasti.

Contoh: “Dia melihat bayangan merangkak di belakang pintu—lalu suara tembakan…”
Pembaca tidak tahu apa yang terjadi kemudian.

2. ❓ Pertanyaan yang Terbuka (Unanswered Question)

Sebuah misteri muncul tepat di ujung bab.

Contoh: “Di meja itu tergeletak surat bertinta merah — siapa yang mengirimnya?”
Rasa penasaran langsung muncul.

3. 💔 Ketegangan Emosional (Emotional Cliffhanger)

Hubungan atau emosi karakter tertahan tanpa resolusi.

Contoh: “Air mata mengalir di pipinya saat ia berkata… ‘Kita berpisah di sini.’”
Pembaca berempati dan ingin tahu jawaban hati.


Kapan Waktu Tepat Meletakkan Cliffhanger?

Cliffhanger bukan hanya tentang ketegangan. Itu adalah jembatan antarbab — sesuatu yang membawa pembaca dari satu bab ke bab berikutnya tanpa putus hubungan emosi.

Pilihlah saat:

  • Tegangan tertinggi hampir tercapai

  • Informasi penting belum terungkap

  • Tokoh berada di ambang keputusan penting

  • Kamu ingin menjaga ritme cerita tetap bergerak

Dan yang paling penting ialah ... cliffhanger harus logis dan terasa organik dengan alur cerita. Tidak boleh dibuat hanya untuk “menggantung” tanpa ada alasan emosional atau naratif.


Tips Praktis Menulis Cliffhanger

Tulis seolah kamu sedang berbicara langsung kepada hati pembaca:

💬 Pendek dan padat: Kalimat terakhir harus singkat, tajam, dan benar-benar meninggalkan ruang untuk bertanya.
💬 Bangun emosi dulu: Sebelum menggantung, buat pembaca merasakan sesuatu — takut, harap, cinta, atau kebingungan.
💬 Gunakan foreshadowing: Beri sedikit sinyal sebelumnya agar cliffhanger terasa “berdasar”, bukan tiba-tiba.
💬 Hindari pengulangan berlebihan: Terlalu sering memakai cliffhanger bisa membuat pembaca jenuh.


Contoh Cliffhanger yang Biasa Dipakai

📌 Aktual:

“Dia berbalik… dan di ambang pintu berdiri sosok yang tak pernah ia bayangkan bisa kembali.”

📌 Emosional:

“Kata-katanya terhenti saat lampu padam—dan hatinya ikut tertutup.”

📌 Misteri:

“Printer berbunyi. Sepucuk foto jatuh. Di foto itu, ada angka 13—sedangkan hari ini tanggal 14.”

 

Cliffhanger bukan sekadar “gantung cerita” — ia merangkul pembaca, membiarkan mereka menunggu, bernafas, dan berpikir. Seperti nada di akhir lagu yang belum selesai… tapi membuat kita tak bisa berhenti mendengarkannya ulang.



Jangan lupa baca "Perfect Hero" untuk mempelajari Cliffhanger yang diterapkan pada novel tersebut!

Second Lead: Tokoh Bayangan yang Diam-Diam Menentukan Hidup Matinya Novel Panjang

 



Dalam novel digital—terutama yang tayang harian atau mingguan—cerita bukan hanya soal tokoh utama. Ia justru sering bertahan hidup karena satu tokoh penting yang berdiri di sampingnya, tidak selalu paling bersinar, tapi selalu hadir saat cerita hampir kehilangan napas.

Tokoh itu bernama: Second Lead.

Sayangnya, banyak penulis—terutama penulis pemula—menganggap second lead sekadar pelengkap. Padahal, dalam novel panjang, second lead bisa menjadi penyelamat cerita, pengikat emosi pembaca, bahkan “cadangan cinta” yang membuat pembaca bertahan sampai ratusan episode.

Dalam novel penjang ribuan episode yang aku tulis berjudul "Perfect Hero", aku memiliki tiga tokoh pendamping yang sangat penting dalam jalannya cerita, yakni Lutfi, Chandra dan Satria.


Apa Itu Second Lead?

Second lead adalah tokoh utama kedua—bukan figuran, bukan cameo, dan bukan sekadar teman lewat. Ia memiliki peran penting dalam alur cerita, memiliki hubungan emosional kuat dengan tokoh utama, memiliki tujuan hidup sendiri dan memiliki konflik personal yang tidak kalah rumit

Dalam banyak kasus, pembaca justru jatuh cinta lebih dulu pada second lead sebelum benar-benar memahami tokoh utama.

Dan itu bukan kebetulan.


Second Lead Bukan Tokoh Kalah, Tapi Tokoh Penyangga

Kesalahan paling umum dalam menulis second lead adalah menjadikannya:

  • Selalu kalah

  • Selalu mengalah

  • Selalu tersakiti

  • Selalu jadi korban cinta segitiga

Padahal, second lead tidak diciptakan untuk kalah, melainkan untuk menyangga cerita.

Ia adalah:

  • Cermin yang memperjelas karakter tokoh utama

  • Pembanding moral, logika, atau emosi

  • Penyeimbang ketika tokoh utama terlalu lemah, terlalu kuat, atau terlalu egois

Second lead membuat pembaca berpikir:

“Bagaimana jika cerita ini berjalan lewat sudut pandangnya?”

Dan saat pembaca sampai pada pertanyaan itu, berarti cerita sedang bekerja dengan baik.


Kenapa Second Lead Sangat Penting dalam Novel Digital & Novel Panjang?

1. Novel Panjang Butuh Napas Panjang

Novel digital bisa mencapai ratusan bahkan ribuan episode. Tokoh utama tidak mungkin terus-menerus berada di puncak konflik tanpa membuat pembaca lelah.

Second lead berfungsi sebagai:

  • Tempat istirahat emosional

  • Jembatan antar konflik besar

  • Pemantik konflik kecil yang tetap relevan

Tanpa second lead, cerita akan terasa datar atau melelahkan karena semua beban ditumpuk pada satu karakter.

2. Second Lead Menjaga Ritme Cerita

Saat konflik utama terlalu berat, second lead bisa hadir dengan:

  • Sudut pandang berbeda

  • Konflik sampingan yang tetap terhubung

  • Emosi yang lebih “manusiawi”

Ia menjaga cerita tetap bergerak tanpa harus selalu meledak-ledak.

3. Second Lead Membuat Pembaca Bertahan

Dalam platform novel digital, satu hal sangat penting: retensi pembaca.

Pembaca bertahan bukan hanya karena ingin tahu akhir cerita, tapi karena:

  • Ingin tahu nasib second lead

  • Ingin tahu apakah ia akan bahagia

  • Ingin tahu apakah pilihannya akan dihargai

Tak jarang, kolom komentar justru penuh pembelaan untuk second lead—dan itu tanda cerita hidup.

4. Second Lead Memperdalam Tema Cerita

Tokoh utama sering membawa tema besar.
Second lead membawa pertanyaan moralnya.

Contoh:

  • Tokoh utama memilih cinta → second lead memilih tanggung jawab

  • Tokoh utama mengejar mimpi → second lead bertahan demi keluarga

  • Tokoh utama berani → second lead rasional

Dari benturan itulah tema cerita menjadi lebih kaya, tidak hitam-putih.

Second Lead yang Baik Punya Hidupnya Sendiri

Second lead yang kuat tidak hidup hanya untuk tokoh utama.

Ia punya:

  • Masa lalu

  • Luka

  • Keinginan

  • Pilihan yang tidak selalu sejalan dengan tokoh utama

Bahkan, dalam beberapa cerita yang kuat, second lead bisa:

  • Pergi

  • Berubah

  • Memilih jalan lain

  • Atau menjadi tokoh utama dalam arc berbeda

Dan pembaca akan menerima itu—karena sejak awal, ia ditulis sebagai manusia, bukan aksesoris.


Kesalahan Fatal Saat Menulis Second Lead

Beberapa kesalahan yang sering terjadi:

  • Menjadikannya terlalu sempurna tanpa konflik

  • Menjadikannya terlalu jahat tanpa alasan kuat

  • Menggunakannya hanya sebagai alat cemburu

  • Menghilangkannya saat konflik utama memuncak

Ingat: jika second lead bisa dihapus tanpa mengubah cerita secara signifikan, berarti ia belum ditulis dengan benar.

Second Lead adalah Investasi Cerita

Menulis second lead bukan soal menambah tokoh.
Ini soal menambah lapisan emosi.

Dalam novel panjang, pembaca tidak hanya mencari akhir cerita. Mereka mencari teman perjalanan. Dan sering kali, teman itu bukan tokoh utama—melainkan second lead yang diam-diam menemani dari awal hingga jauh ke tengah cerita.

Kalau tokoh utama adalah cahaya,
maka second lead adalah bayangannya—
dan tanpa bayangan, cahaya tokoh itu terasa palsu.



Referensi Bacaan & Rujukan

  1. Dwight V. Swain – Techniques of the Selling Writer

  2. John Truby – The Anatomy of Story

  3. K.M. Weiland – Creating Character Arcs

  4. Linda Seger – Making a Good Script Great

  5. Artikel kepenulisan di platform:

    • MasterClass (Writing Supporting Characters)

    • Now Novel (How to Write Secondary Characters)

    • Writer’s Digest (Supporting Cast in Long Fiction)


Perfect Hero Bab 359 : What's Wrong With Icha?

 


“Halo ... My Honey Bunny Jheni ...!” seru  Yuna begitu Jheni membukakan pintu untuknya.

“Cepet banget?”

Yuna meringis sambil menatap Jheni.

“Aku harus balik ke kantor. Aku nitip istriku ya!” pamit Yeriko.

Jheni menganggukkan kepala. “Jangan lupa upah buat pengasuh ibu hamil ya!”

Yeriko tersenyum kecil. “Udah dibawain sama Yuna,” sahut Yeriko sambil menatap kantong makanan yang dibawa istrinya.

Jheni memonyongkan bibirnya.

“Aku pergi dulu, jangan pergi ke mana-mana ya!”

Yuna menganggukkan kepala.

Yeriko mengecup bibir Yuna dan bergegas pergi.

“Idih, mentang-mentang udah nikah. Senang banget nyiksa kami yang belum jelas jodohnya di mana,” celetuk Jheni.

“Buruan minta dinikahin sama Chandra!” seru Yeriko sambil membuka pintu mobilnya.

“Kamu ...!? Sejak kapan jadi tukang ngolok!?” dengus Jheni.

Yeriko tergelak. Ia segera masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi.

“Yun, suami kamu itu udah mulai ngece kayak kamu. Virusmu ini udah nular ke dia?” tanya Jheni sambil menoyor dahi Yuna.

Yuna hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni.

“Masuk, yuk!” ajak Jheni.

Yuna mengangguk, ia melangkah masuk ke rumah Jheni. Kemudian meletakkan makanan ke atas meja ruang tamu.

“Taruh di meja makan aja, Yun!” pinta Jheni.

“Di sini aja, Jhen. Enak lesehan.”

“Kebiasaan banget. Untungnya aku udah pasang karpet bulu.”

Yuna meringis menatap Jheni. “Kamu sengaja pasang kayak gini buat aku ya? Sejak kapan kamu peduli sama dekorasi rumah kamu?”

“Sejak kamu hamil dan suami kamu itu makin cerewet!” sahut Jheni.

“Hah!?” Yuna melongo menatap Jheni.

Jheni meraih sepotong kue dari kantong makanan yang dibawa Yuna dan melahapnya. “Ini ... ini ... ini ... semua kerjaan suami kamu,” tuturnya sambil menunjuk beberapa barang yang tak pernah ada di dalam rumahnya.

“Hah!? Kenapa dia ...?”

“Dia tahu kalau kamu paling sering ke sini. Dia bilang, rumah ini harus nyaman buat istrinya yang lagi hamil. Berlebihan banget suami kamu itu. Dia pikir, rumah ini nggak nyaman buat kamu? Berasa rumah ini punya dia.

Yuna terkekeh geli mendengar ucapan Jheni. “Jhen, karena kasih sayang dari suamiku itu berlebihan, sampai tumpah-tumpah. Jadi, aku mau persembahkan kasih sayangku hanya untukmu seorang,” goda Yuna.

“Nggak usah berlebihan!” pinta Jheni sambil meletakkan telapak tangannya di wajah Yuna. “Geli aku lihat muka centilmu ini. Yeriko nggak geli?”

“Dia suka yang geli-geli, Jhen,” sahut Yuna dengan suara mendesah.

“Asem kamu, Yun!” seru Jheni. “Mentang-mentang udah nikah, otakmu sekarang isinya anu semua.”

Anu gimana, Jhen? Biasa aja.”

“Biasa aja buat kamu. Buat aku ... nelangsa, Yun.”

“Hahaha.”

“Yun, Icha belum ada kabar?” tanya Jheni.

“Belum ada.”

“Ke mana dia ya? Aku udah ke rumahnya. Kata tetangganya, dia pindah. Aku ke kantornya, katanya cuti kerja. Tapi, dia nggak balik lagi ke perusahaaan.”

“What!?” Yuna membelalakkan matanya.

“Dia ngilang gitu aja. Nggak bisa dihubungi sama sekali.”

“Apa dia patah hati, terus nggak mau berhubungan sama Lutfi dan orang-orang yang ada di sekitarnya?”

“Tapi ... nggak segitunya juga kali, Yun. Dia terlalu tertutup. Apalagi soal hubungan dia sama Lutfi yang putus nyambung. Kalo lagi ngumpul, mereka kelihatan baik-baik aja. Tapi, nggak pernah tahu di belakang kita seperti apa.”

“Kata Yeriko, mereka udah putus lagi.”

“Chandra juga bilang begitu ke aku.”

“Eergh! Aku geregetan sama hubungan mereka. Si Lutfi itu, berasa semuanya baik-baik aja. Perasaan Icha gimana?”

“Aku juga nggak tahu, Yun. Icha aja nggak bisa dihubungi sampe sekarang. Ngilang begitu aja, nggak ada kabar. Ngeselin juga dia ini.”

“Sebenarnya, apa sih yang terjadi sama mereka di Jakarta?”

“Nggak tahu, Yuna. Kita ini sama-sama nggak tahu.”

“Mereka udah balik ke sini, kan?”

“Harusnya sih udah. Kemarin si Chandra bilang kalau Lutfi sama Icha udah balik.”

“Keluarganya Lutfi gimana sih? Apa mereka nggak nerima Icha? Makanya, mereka jadi putus?”

“Entahlah. Si Lutfi itu nggak jelas juga. Dia pacaran kontrak sama Icha. Tapi, dikenalin juga ke keluarganya. Nggak paham deh sama otaknya itu anak. Geser ke mana-mana.”

“Kalo aku jadi Icha, mending cari cowok lain aja daripada terombang-ambing nggak jelas begitu.”

“Iya juga. Itu si Icha nurut aja sama Lutfi. Dulu, dia nggak begitu. Apa ada yang bikin dia tertekan ya? Semenjak pacaran sama Lutfi, dia malah tertutup gitu.”

“Aku rasa, Lutfi nggak mungkin se-posesif itu.”

“Iya. Tapi, kamu pernah denger dari Lutfi kalau dia pacaran kontrak sama Icha karena Icha lagi ada masalah keuangan. Keluarga dia, nggak miskin-miskin banget. Kenapa sampe mau nerima uang dari Lutfi?”

“Bisa jadi, keluarganya juga lagi ada masalah keuangan. Namanya hidup, nggak tahu kedepannya seperti apa. Aku yang dulu juga pernah jadi gelandangan. Yeriko yang udah nyelamatin aku. Bisa jadi, Icha juga begitu. Hanya saja, cara Yeriko dan Lutfi berbeda.”

“Kalo Yeriko sih jelas, Yun. Tapi si Lutfi? Dia yang slengean itu aja bisa nutupin masalahnya dari kita. Nggak sesuai banget sama sifatnya yang ceria itu.”

“Yang biasanya ceria, justru nggak mau masalahnya dibagi ke orang lain. Dia kelihatan santai aja, gitu.”

“Iya juga, sih. Apa karena ... dia nggak mau kita ikut kepikiran ya? Eh, kamu punya nomer hape Lutfi?” tanya Jheni.

“Ada.”

“Coba telepon dia, deh!” pinta Jheni. “Siapa tahu, dia tahu keberadaan Icha.”

“Bener juga.” Yuna merogoh ponsek dari dalam tas tangannya dan langsung menelepon Lutfi.

“Nggak diangkat?” tanya Bellina karena panggilan telepon dari Yuna tak kunjung tersambung.

“Tapi masuk?”

Yuna mengangguk. “Aku coba lagi.”

Jheni terus menatap layar ponsel yang diletakkan di atas meja. Menunggu dengan harap-harap cemas.

“Diangkat!” seru Yuna saat layar ponselnya mulai menunjukkan durasi panggilan.

“Halo ...!” sapa Lutfi. Suaranya terdengar jelas dari loudspeaker ponsel Yuna, namun terdengar lemah.

“Kamu tidur, Lut?” tanya Yuna.

“Hmm.” Suara Lutfi masih saja terdengar lemah.

“Heh, siang bolong gini masih aja tidur. Kebiasaan Tuan Muda yang satu ini nggak pernah hilang. Ntar jodohmu diambil orang kalau tidur terus. Hahaha.” Jheni tergelak sambil menatap layar ponsel Yuna.

“Jhen, kamu seneng banget kalo lihat orang lain susah. Aku ... mmh, lagi dirawat di rumah sakit,” tutur Lutfi lirih.

“Hah!?” Jheni dan Yuna membelalakkan mata bersamaan.

“Di rumah sakit mana, Lut?”

“Pertamina,” jawab Lutfi lirih.

“Di Surabaya atau Jakarta?” tanya Jheni.

“Surabaya, Jhen.”

“Kamu sakit apa?” tanya Yuna lagi.

“Icha ....” Suara Lutfi terdengar sangat lirih.

“Icha kenapa?” tanya Yuna. Ia dan Jheni saling pandang.

“Nggak papa, Yun.”

“Sekarang, dia di mana?”

“Aku nggak tahu. Tolong, cari dia ya!”

“Kita ke rumah sakit dulu!” sahut Jheni.

“Aku nggak papa, Jhen. Cuma luka sedikit.”

“Luka?”

“Aku nggak yakin kalau kamu baik-baik aja. Kamu udah nggak bisa ngakak gitu,” sahut Jheni.

“Kamu tuh, Jhen. Aku beneran baik-baik aja. Aku khawatir sama Icha. Setelah ngantar aku ke rumah sakit. Dia nggak kelihatan lagi,” tutur Lutfi.

“Sebenarnya, apa yang udah terjadi sama kalian?” tanya Jheni.

“Icha ... dia ... dia nusuk aku dan ...”

“What!?” Yuna dan Jheni lebih terkejut lagi mendengar ucapan Lutfi.

“Aku nggak papa. Kalian, tolong cari Icha ya!” pinta Lutfi lirih.

“Kami ke rumah sakit sekarang!” seru Yuna sambil mematikan panggilan teleponnya.

“Icha jahat banget!” sahut Jheni. “Bisa-bisanya dia nusuk Lutfi. Sebenarnya, apa yang udah terjadi sama mereka?” Jheni bangkit dari duduknya. “Aku ganti baju dulu. Kita langsung ke rumah sakit.”

Yuna menganggukkan kepala.

“Kasih tahu Yeriko sama Chandra!” seru Jheni sambil melangkah masuk ke kamarnya.

“Mereka lagi meeting. Bisa ditelepon atau nggak ya?” tanya Yuna.

“Chat aja! Kalau chat, pasti dibaca pas mereka udah kelar meeting!” sahut Jheni dari kamarnya.

“Oke.” Yuna langsung mengirimkan pesan singkat kepada Yeriko dan Chandra kalau dirinya akan pergi ke rumah sakit bersama Jheni. Ia juga memberitahukan keadaan Lutfi saat ini.

Beberapa menit kemudian, Jheni sudah berganti pakaian. Mereka langsung bergegas pergi ke rumah sakit.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 358 : Be Sad Be Happy

 


Bellina terisak mendapati perlakuan mama mertuanya yang begitu kejam terhadapnya.

“Nggak papa. Semua akan baik-baik aja! Kamu nggak perlu takut!” pinta Lian sambil memeluk erat tubuh Bellina.

“Jangan tinggalin aku, Li!” pinta Bellina.

Lian menganggukkan kepala. “Aku nggak akan ninggalin kamu. Aku masih di sini.”

Bellina terisak dalam pelukan Lian. “Li, aku nggak mau berakhir kayak gini.”

Lian mengeratkan pelukannya sambil menenangkan Bellina. “Kamu tenang aja. Semua akan baik-baik aja.”

“Li, apa mama kamu bakal serius sama ucapannya?”

Lian menganggukkan kepala. “Tapi, dia bakal baik lagi kalau emosinya sudah reda. Dia udah sering ngancam aku kayak gini.”

Bellina menatap lekat mata Lian.

Lian tersenyum ke arah Bellina. “Kamu sendiri udah tahu gimana mama waktu menentang hubungan aku sama Yuna waktu itu. Walau aku sempat luntang-lantung di jalanan, tapi dia ambil aku lagi buat pulang ke rumah.” Lian tertawa kecil mengingat saat- saat itu.

“Li, seandainya mama kamu emang beneran ambil semua fasilitas yang udah dikasih keluarga kamu. Apa kamu yakin bisa menjalani semuanya?”

Lian menatap lekat wajah Bellina. “Apa kamu sendiri yakin buat menjalani hidup bersamaku yang nggak punya apa-apa?”

Bellina tersenyum kecil. “Asal kamu nggak ninggalin aku. Aku akan tetap nemenin kamu buat bangkit lagi. Aku punya pengalaman kerja yang bagus. Kita bisa memulai semuanya dari nol ‘kan?”

Lian tersenyum menatap Bellina. Ia merasa, Bellina benar-benar sudah berubah. Ia harap, bisa seperti ini selamanya.

“Maafin aku, Li. Aku bener-bener bukan pembunuh. Aku terlalu takut kehilangan kamu. Terlalu stress mikirin kamu yang selalu deket sama Yuna dan bikin perkembangan janinku terganggu. Seharusnya, aku bisa lebih menjaga anak kita. Aku sudah salah,” tutur Bellina sambil meneteskan air mata.

“Semua ini salahku, Bel. Seharusnya, aku nggak nyuekin kamu dan lebih peduli sama anak kita. Selama ini, aku terlalu sibuk memikirkan Yuna. Aku selalu merasa bersalah sama apa yang sudah aku lakuin ke dia sampai aku mengabaikan kamu yang selalu ada buat aku.”

“Aku sudah hidup dalam penyesalan karena menyia-nyiakan cinta yang udah dikasih Yuna dengan tulus. Sekarang, dia sudah bahagia bersama orang lain. Aku juga ikut bahagia melihatnya. Saat ini, aku cuma nggak mau menyesal untuk kedua kalinya karena kehilangan kamu.”

Bellina menatap wajah Lian dengan mata berkaca-kaca. Kehidupan mereka sebelum menikah, justru lebih baik dan lebih harmonis. Rasanya, ia ingin kembali ke masa-masa itu.

“Dulu, Yuna yang selalu semangatin aku setiap kali aku ada dalam masalah. Sekarang, aku cuma punya kamu. Aku harap, kita bisa sama-sama memperbaiki hubungan kita. Memulai semuanya dari nol lagi. Oke?”

Bellina mengangguk. Ia memeluk erat tubuh Lian. “Kamu nggak akan menceraikan aku ‘kan?” tanyanya. Sebab, ia merasa kalau Yuna masih ada di dalam hati Lian.

Lian menggelengkan kepala. “Aku nggak akan menceraikan kamu.”

“Beneran?”

Lian mengangguk lagi. “Kamu nggak percaya?” Ia langsung meraih dokumen yang ada di atas meja, merobeknya dan membuangnya ke dalam tempat sampah yang ada di dalam ruang bangsal tersebut.

Mata Bellina berkaca-kaca menatap Lian. Ia tak menyangka kalau Lian lebih memilih bersamanya dan melepas semua fasilitas yang dimiliki dari keluarganya. Ia hanya berharap, hubungan Lian dan mamanya bisa pulih seperti dulu lagi. Ia akan melakukan banyak hal untuk menebus semua kesalahan yang ia lakukan.

 

...

 

-Platinum Grill, Jalan Raya Golf Graha Family-

“Aku seneng banget lihat Bellina sama Lian, akhirnya bahagia,”  tutur Yuna di sela-sela menikmati makan siangnya bersama Yeriko.

Yeriko hanya menanggapi ucapan Yuna dengan senyuman.

“Oh ya, akhir-akhir ini aku nggak pernah denger kabar soal Lutfi sama Icha. Mereka baik-baik aja, kan?” tanya Yuna.

“Mereka udah putus.”

“Hah!? Putus lagi?” tanya Yuna. “Lutfi itu bener-bener suka mainin perasaan perempuan ya!” dengusnya kesal.

“Mereka udah dewasa. Kita nggak perlu urusi urusan mereka. Kalau nggak jodoh, nggak bisa dipaksakan. Dalam hubungan pacaran, putus nyambung itu hal biasa.”

“Hmm, iya juga sih. Cuma, agak aneh aja sama hubungan mereka. Lagian, Icha juga temen aku. Dia yang selalu melindungi aku waktu masih di perusahaan. Aku nggak mungkin mengabaikan jasa dia begitu aja.”

“Kamu nggak coba tanya Icha langsung?”

Yuna menggelengkan kepala. “Nomernya masih  nggak aktif.”

“Bukannya dia diajak pergi ke keluarganya Lutfi yang di Jakarta?” tanya Yeriko.

“Mmh, iya juga ya?”

“Kalo gitu, nggak usah khawatir. Dia pasti aman sama Lutfi.”

“Aman gimana? Mereka kan putus. Apa mereka putus setelah ketemu sama keluarga Lutfi?”

Yeriko menautkan alisnya. “Iya juga ya?”

“Kamu gimana sih? Berarti, Icha belum tentu aman sama Lutfi. Bisa aja mereka lagi patah hati dan ...?”

“Nggak usah mikir macam-macam! Lutfi nggak akan berpikir sesempit itu.”

“Lutfi mungkin biasa aja. Dia udah biasa punya banyak cewek. Gimana sama Icha?”

“Yun, kamu nggak usah terlalu mikirin ini!” pinta Yeriko. “Kalau ada apa-apa, Lutfi pasti kabarin aku.”

“Aku nggak mau mikirin, tapi kepikiran juga. Soalnya, kata Jheni ...” Yuna menghentikan ucapannya saat layar ponselnya tiba-tiba menyala. “Panjang umur ... baru disebut, langsung nelpon.”

Yuna segera menjawab panggilan telepon dari Jheni. “Halo, kenapa Jhen?”

“Kamu lagi di mana? Lagi makan?”

“He-em.”

“Di mana?”

“Di Platinum. Mau ke sini?”

“Sama suami kamu?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Kamu pergi makan sama suami kamu, terus akunya disuruh menikmati kalian berdua lagi mesra-mesraan?” dengus Jheni.

“Hahaha. Ajak Chandra, dong!”

“Chandra lagi sibuk. Aku juga sibuk.”

“Masih belum kelar bikin komiknya?”

“Belum. Ini masih sambil ngerjain.”

“Udah makan siang?”

“Ini juga lagi makan.”

“Makan apa?”

“Makan mie instan. Huaaa ... kamu enak banget bisa makan steak di restoran mewah. Aku cuma punya waktu buat nyeduh mie instan di rumah.”

Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni. “Nggak usah mendramatisir keadaan!” dengus Yuna. “Kalo mau makan, tinggal pilih food delivery aja kan gampang.”

“Kamu ya!”

“Aku?”

“Iya. Kamu delivery makanan ke rumah aku, ya!” pinta Jheni.

“What!?”

“Udah jadi orang kaya raya, nggak boleh perhitungan sama sahabat sendiri,” sahut Jheni sambil tertawa kecil.

“Hmm, ya udah. Kamu mau makanan apa?” tanya Yuna.

“Apa aja, deh. Yang penting enak!”

“Mie instan juga enak,” sahut Yuna.

“Nggak usah kalo itu. Di rumahku juga banyak.”

“Hahaha. Iya, iya. Abis makan, aku ke rumah kamu antarin makanan. Kamu nelpon, ada perlu apa?”

“Kamu mau ke sini?” tanya Jheni.

“Iya.”

“Ya udah, aku cerita ke kamu kalo udah di sini aja.”

“Iih ... ada apa sih, Jhen? Aku jadi penasaran.”

“Bawa makanan yang enak dan banyak. Baru aku ceritain ke kamu!” pinta Jheni.

“Uuch, dasar hantu makanan! Jadi gendut ntar, baru tahu rasa!”

“Nggak usah ngolok ya! Kamu yang udah gendut gitu.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Iih ... kamu!?”

“Hahaha. Bentar lagi itu badan kayak Doraemon!”

“Doraemon lucu kali, banyak yang suka. Weeek ...!” sahut Yuna sambil menjulurkan lidahnya.

“Ya udah, deh. Susah kalo ngomong sama kamu mah. Cepetan ke sini ya! Aku tunggu makananya!” seru Jheni. “Bye-bye ...!” lanjutnya sambil menutup telepon.

“Huu, dasar!” dengus Yuna sambil menatap layar ponselnya.

“Kenapa? Mau ke rumah Jheni?”

Yuna menganggukkan kepala. “Aku mau antarin makanan buat dia. Sebentar aja, kok. Boleh?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Tapi, aku cuma bisa antar. Habis ini, aku masih ada jadwal meeting. Ntar kamu pulang minta antar Jheni atau minta jemput sama Angga ya!”

Yuna menganggukkan kepala. Mereka menghabiskan makan siang bersama sebelum akhirnya pergi ke rumah Jheni.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 357 : Ceraikan Dia!

 


“Bel, gimana keadaan kamu?” tanya Yuna sambil menatap wajah Bellina. Ia sangat mengerti bagaimana kegelisahan yang sedang menyelimuti Bellina saat ini. Sehingga, ia memilih untuk menyapa Bellina lebih dulu.

“Baik, Yun.” Bellina tersenyum kecil ke arah Yuna.

“Syukur deh kalo kamu baik-baik aja. Aku baru aja tahu kalau kamu dirawat di sini. Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu?”

Bellina tersenyum kecil. “Nggak ada apa-apa, kok. Cuma masalah kecil.”

“Kenapa sampai dirawat di rumah sakit?”

“Cuma kecelakaan kecil,” jawab Bellina.

“Oh.”

“Yer, makasih ya! Kalau Chandra nggak nyari aku, aku nggak tahu hari ini akan menjadi hari apa. Mungkin, selamanya aku akan hidup dalam penyesalan.”

“Nggak perlu dibahas lagi. Cukup jaga istri kamu dengan baik. Kami pamit dulu, masih ada banyak hal yang harus kami lakukan.”

Lian mengangguk. “Hati-hati, Yer! Jaga istri dan anakmu dengan baik!”

Yeriko mengangguk. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Yuna dan mengajaknya pergi meninggalkan Lian dan Bellina.

Lian tersenyum. Ia menoleh ke arah Bellina dan menghampiri dia yang masih duduk di kursi taman.

“Aku seneng kalau kamu sama Yuna bisa akur. Jangan berantem lagi ya!” tutur Lian.

Bellina tersenyum sambil menatap Lian. “Namanya juga saudara. Kalau ketemu pengen berantem. Kalo nggak ketemu dicariin.”

Lian terkekeh mendengar ucapan Bellina. “Iya juga, sih. Aku nggak punya saudara yang deket. Jadi, nggak pernah ngerasain itu.”

Bellina tersenyum. Ia bisa merasakan bagaimana kesepiannya menjadi anak tunggal. Jika tak ada Yuna, mungkin di rumahnya juga akan sepi. Biasanya, ia selalu membuat keributan dengan sepupunya itu. Sifat mereka hampir sama. Hubungan darah, membuat mereka memiliki selera yang hampir sama. Menjadi saling berebut dan sama-sama tidak mau mengalah.

Lian tersenyum melihat perubahan yang terjadi dalam diri Bellina. Ia berniat menyiapkan kejutan untuk Bellina setelah mereka keluar dari rumah sakit.

“Balik ke kamar, yuk!” ajak Lian.

Bellina menganggukkan kepala. Ia tak banyak bicara. Lebih banyak mengunci bibirnya agar tak membuat masalah lagi.

Lian memapah Bellina masuk kembali ke dalam bangsal untuk beristirahat. Saat baru membuka pintu, mereka berdua tertegun menatap sosok wanita yang sudah berdiri tegak di dalam ruangan tersebut.

“Mama ...!?” Lian mengerutkan dahi. Tiba-tiba saja, mamanya sudah ada di sana.

Mega menatap Bellina dan Lian sambil mengangkat dagunya. Sifat angkuhnya begitu terlihat, membuat Bellina tak bisa berkata-kata. Ia harus menghadapi banyak hal. Menghadapi rasa bersalahnya kepada Yuna. Juga menghadapi mama mertua yang sekarang berubah membenci dirinya.

“Kamu masih aja nempel sama perempuan ini?” tanya Mega ketus.

“Ma, Bellina lagi sakit. Kenapa Mama malah kayak gini?”

“Dia kelihatan sehat. Paling, cuma pura-pura sakit buat narik simpati kamu.”

Bellina bergeming. Jemari tangannya meremas kuat pergelangan tangan Lian.

Lian bisa menyadari kekhawatiran yang menyelimuti Bellina. Ia tersenyum sambil mengelus punggung tangan Bellina. “Kamu istirahat dulu, ya!” bisiknya.

Bellina bergeming. Ia tak menggerakkan kakinya selangkah pun. Ia lebih memilih berada di samping Lian. Menghadapi mama mertua yang kini berubah membencinya.

“Kayak gini sambutan kamu ke Mama, hah!? Sejak nikah sama perempuan ini. Kamu selalu aja membangkang sama Mama!” seru Mega.

Lian menghela napas. Ia terduduk di sofa. Sungguh, ia tidak ingin melawan mamanya sendiri, juga tidak ingin menyakiti perasaan Bellina.

“Bel, kamu bisa tinggalin anak saya!” pinta Mega sambil menatap Bellina yang duduk di samping Lian.

“Maksud Mama apa?” tanya Lian sambil menatap wajah mamanya.

“Mama mau, kalian berpisah secepatnya.”

“Ma, Bellina masih sakit. Dia belum benar-benar pulih. Kenapa Mama malah menyakiti dia? Mengurung dia selama tiga hari tiga malam di gudang, masih kurang?”

“Masih kurang!” sahut Mega geram. “Mama baru puas kalau dia keluar dari keluarga kita!”

Bellina terdiam. Ia menatap wajah Lian dengan mata berkaca-kaca. “Jangan tinggalin aku, please!” tuturnya lirih.

“Nggak usah cari muka di depan anak saya! Kamu tahu gimana baiknya Lian selama ini. Malah kamu manfaatin! Sekarang, dia bahkan berani ngelawan mamanya sendiri.”

Bellina menatap wajah Mega dengan mata berkaca-kaca. “Ma, aku nggak ngerti di mana salahnya. Selama ini, Lian selalu menurut sama Mama. Nggak pernah membantah perintah Mama. Aku juga nggak pernah minta Lian buat ngelawan Mama. Mama bisa hukum aku. Seberat apa pun itu, aku akan jalani. Asal jangan pisahkan kami!” Bellina memohon.

Mega tersenyum sinis. “Kamu sudah bikin keluarga kami malu. Sekarang, kamu bisa membunuh anak kamu sendiri dengan keji. Besok, bisa aja kamu bunuh suami kamu sendiri.”

Bellina menggelengkan kepala sambil berlinang air mata. “Nggak, Ma. Aku bukan pembunuh seperti yang Mama pikirkan. Aku mohon, maafin aku!”

“Sekalipun aku maafin kamu. Aku nggak akan membiarkan anakku hidup sama kamu,” sahut Mega.

“Lian, kamu pulang ke rumah sekarang juga!” perintah Mega.

Bellina menoleh ke arah Lian. Ia berharap, Lian tidak menuruti permintaan mamanya untuk meninggalkan dirinya. Apa yang ia lakukan selama  ini hanya untuk mendapatkan kembali cinta dari Lian. Bagaimana jika akhirnya Lian pergi atas permintaan mamanya sendiri?

Lian menggelengkan kepala.

“Oh, kamu udah mulai membantah Mama?” tanya Mega.

“Lihat, kamu udah berhasil bikin anak saya ngelawan sama saya!” seru Mega sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Bellina.

Bellina tak menyahut. Hanya menatap mama mertuanya penuh kepedihan.

Mega semakin kesal karena Lian tak bisa lagi ia kendalikan sebagai anak kesayangannya. Ia hanya tidak ingin Lian terus terjerumus dalam tipu daya Bellina. Ia ingin menyelamatkan puteranya. Dengan cepat, ia mengeluarkan dokumen dari dalam tasnya dan meletakkan di atas meja, tepat di hadapan Lian.

“Ini apa?” tanya Lian.

Mega membuka map tersebut. “Ini surat perjanjian perceraian. Kamu tanda tangani!” pinta Mega sambil meletakkan pena di atas dokumen tersebut.

Lian menatap dokumen tersebut dalam waktu yang lama. Membuat perasaan Bellina semakin cemas.

“Kamu pilih Mama atau dia?” tanya Mega sambil menatap Lian.

Lian menarik napas beberapa kali. Ia sangat bimbang jika harus memilih antara kedua orang tuanya atau istrinya.

“Kalau kamu masih pilih dia. Mama akan ambil semua aset yang kamu punya. Termasuk rumah, mobil dan jabatan kamu di perusahaan!” ancam Mega.

Perasaan Bellina semakin tertekan mendengar ancaman dari mama mertuanya. Ia tidak ingin berpisah dengan Lian. Tapi, ia juga tidak ingin membuat Lian menderita karena dirinya.

Lian meraih pena yang ada di atas dokumen tersebut. Ini bukan pertama kalinya mamanya mengancam untuk menarik semua fasilitas mewah yang diberikan keluarganya. Saat masih bersama Yuna. Mamanya juga pernah melakukan ancaman yang sama hingga membuatnya tidur di jalanan selama beberapa hari.

Tubuh Bellina bergetar melihat jari Lian yang menggenggam pena dengan erat. “Jangan lakuin itu, Li. Please ...!” pinta Bellina dalam hati.

Mega tersenyum sinis ke arah Bellina. Ia sangat mengetahui kalau Lian tak bisa hidup tanpa fasilitas yang diberikan oleh keluarganya. Bahkan, jabatannya di perusahaan bisa dengan mudah ia ambil begitu saja.

Lian menengadahkan kepala menatap Mega yang berdiri di hadapannya. “Ma, apa dengan begini ... Mama bisa bikin aku bahagia?”

Mega mengangguk pasti.

“Mama selalu memikirkan apa yang membuat Mama bahagia. Bukan yang membuat aku bahagia,” ucap Lian sambil melemparkan pena yang ada di tangannya.

Mata Mega tertuju pada pena yang melayang dan terhempas ke dinding, kemudian tergeletak di lantai begitu saja. Kali ini, ia benar-benar geram karena anaknya semakin melawan keinginannya.

“Mama nggak perlu urusin urusanku lagi!” pinta Lian dingin.

“Kamu!?” Mega menunjuk wajah Lian penuh kekesalan. “Mama nggak akan nyerah buat misahin kalian!” tegasnya sambil mendekati Bellina dan berusaha memukulnya.

“Ma, jangan sakiti Bellina!” pinta Lian sambil memeluk tubuh Bellina untuk melindunginya.

Mega semakin kesal melihat perlakuan Lian. “Dasar, perempuan jalang!” maki Mega. “Aku nggak akan ngelepasin kamu! Awas kalau sampai berani macam-macam lagi! Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup tenang seumur hidup!” seru Mega.

Mega memilih untuk menghentikan pukulannya. Ia akhirnya keluar dari ruangan tersebut sambil menyimpan dendam kepada Bellina.

 

((Bersambung ...))

Terima kasih buat temen-temen yang udah setia menemaniku bercerita setiap hari. Semoga, Perfect Hero selalu bisa menemani hari-hari kalian semua setiap hari. Love you.

@vellanine.tjahjadi

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas