Tuesday, February 24, 2026

Perfect Hero Bab 467 : Always Be Hero

 


 Chandra, Lutfi, Satria dan Riyan menyebar ke beberapa titik untuk melakukan pencarian. Riyan bersama tim keamanan kantornya, bergegas menyusuri pabrik yang telah ditunjukkan oleh Satria. Chandra bersama tiga orang anak buah Satria menyusuri lokasi yang telah ditentukan. Lutfi dan Satria juga melakukan hal yang sama. Mereka mendatangi tempat-tempat yang kemungkinan memiliki ciri-ciri seperti yang dimaksud oleh Yuna dalam rekaman video.

 

“Sat, aku sudah ketemu sama anak buah kamu. Kami langsung bergerak!” tutur Chandra sambil mengendarai mobilnya. Mereka berempat sudah saling tersambung lewat panggilan grup.

 

“Bagus, Chan. Lutfi gimana?” tanya Satria.

 

“Siap, Komandan! Sudah bergerak!” sahut Lutfi.

 

“Bagus! Jangan sampai komunikasi kita terputus!” pinta Satria.

 

“Siap!” sahut semuanya lewat panggilan telepon. Mobil mereka terus bergerak ke arah yang berbeda.

 

“Yeriko, gimana?”

 

“Baru sampai lokasi,” jawab Yeriko sambil memarkirkan mobilnya di parkiran Sheraton Hotel. “Aku matikan dulu sambungan teleponnya.” Yeriko langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas keluar dari mobil.

 

Yeriko menghampiri mobil Innova yang ada di belakangnya.

 

“Gimana, Mas?” tanya seorang pria sambil membuka kaca jendela mobilnya.

 

Yeriko memasukkan kepalanya ke dalam mobil. “Kalian pantau pergerakan perempuan yang aku temui.  Aku di kamar tiga kosong lima, lima menit setelah aku masuk, kalian berjaga di depan pintu kamar itu. Kalau dalam lima belas menit aku belum keluar, kalian harus masuk ke dalam kamar itu, gimana pun caranya!” perintah Yeriko sambil menatap lima ajudan kakeknya yang ada di dalam mobil tersebut.

 

“Siap, Mas!”

 

Yeriko mengangguk sambil mengacungkan jempol. Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar hotel yang sudah disiapkan oleh Refi. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya sambil menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha setenang mungkin menghadapi keinginan gila Refi. Ia tidak ingin Refi membahayakan istri dan anaknya.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah berdiri di depan pintu kamar yang dipesan Refi. Ia mengetuk pintu beberapa kali.

 

Tak perlu menunggu lama, pintu kamar tersebut langsung terbuka. Refi tersenyum bahagia melihat kedatangan Yeriko. Akhirnya, saat-saat yang ia impikan datang juga.

 

“Hai, Yer! Aku tahu, kamu pasti datang ke sini,” sapa Refi sambil menyentuh dada Yeriko. Ia merasa sangat bahagia dan berpikir kalau semua sudah ada di bawah kendalinya.

 

Yeriko menurunkan telapak tangan Refi dari dadanya. Ia langsung masuk ke kamar tersebut tanpa mengatakan apa pun. Ia duduk di salah satu sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

Refi tersenyum manis. Gestur tubuhnya begitu menggoda dengan pakaian seksi yang sengaja ia siapkan untuk bertemu dengan Yeriko. Ia melangkah perlahan menuju meja, menuangkan wine ke dalam gelas dan menyodorkan gelas tersebut ke hadapan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil meraih wine dari tangan Refi. Ia tak berniat untuk meminumnya, sehingga ia letakkan begitu saja di atas meja.

 

“Kamu tenang aja! Aku nggak kasih obat apa pun ke dalam minuman ini,” tutur Refi sambil menuangkan wine ke dalam gelas lain dan meminumnya perlahan.

 

Yeriko masih bergeming. Ia tak berbicara sedikit pun, sikap tenangnya ini membuat Refi merasa tidak puas.

 

“Kenapa dia masih tenang banget?” batin Refi sambil menatap Yeriko. Ia menggoyang-goyangkan gelas wine yang ada di tangannya sambil menunggu Yeriko bereaksi.

 

Yeriko berusaha menyembunyikan kekesalan dalam hatinya. Tubuh seksi Refi yang duduk di meja, tepat di depannya, sama sekali tidak membuatnya tertarik.

 

“Yer, kamu ingat kalau dulu kita pernah sama-sama. Kamu begitu sayang dan perhatian sama aku. Kenapa kamu tiba-tiba berubah kayak gini? Aku yakin, masih ada perasaan cinta di dalam hati kamu buat aku. Nggak bener-bener ngelupain aku,” tutur Refi.

 

“Kalau kamu khawatir melukai Yuna. Kita bisa menjalin hubungan diam-diam di belakang dia. Aku masih cinta sama kamu. Aku rela jika harus jadi selingkuhan kamu. Aku cuma mau selalu ada di dekat kamu seperti dulu.”

 

Yeriko tak menanggapi ucapan Refi. Raut wajahnya begitu datar sehingga membuat Refi kesulitan untuk menebak isi hati Yeriko.

 

Refi sangat kesal melihat Yeriko yang masih tak menghiraukan ucapannya. Ia terpaksa tersenyum untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia ingin mendapatkan sesuatu yang gagal ia dapatkan saat hari ulang tahunnya.

 

Refi meletakkan gelas wine yang ada di tangannya ke atas meja, kemudian melangkahkan kakinya ke belakang Yeriko. Perlahan, kedua tangan Refi bertengger di bahu Yeriko. Sampai detik ini, Yeriko masih tak bereaksi.

 

“Yer, aku bakal ngasih tahu keberadaan Yuna ... asal kamu mau bercinta sama aku malam ini,” bisik Refi  sambil menjalankan telapak tangannya ke dada Yeriko.

 

Yeriko langsung menghentikan tangan Refi saat wanita itu mengendus telinganya. “Kamu jangan ngimpi, Ref! Satu detik ada di dekat kamu aja, aku udah jijik. Apalagi kamu ngancam aku atas nama Yuna. Aku nggak akan nuruti kemauan gila kamu ini!” tegasnya.

 

Refi langsung bangkit sambil mengerutkan wajahnya. “Kamu tahu, apa yang bisa aku lakuin ke Yuna kalau kamu nggak mau nuruti semua keinginanku, hah!?” seru Refi tak mau kalah.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu pikir, kamu sudah hebat sampai aku nggak bisa menemukan keberadaan istriku?” tanyanya.

 

“Maksud kamu?” tanya Refi sambil mengerutkan dahinya.

 

Yeriko langsung memutar kepalanya menatap Refi. “Aku sudah tahu keberadaan Yuna dari awal. Aku sengaja mengulur waktu untuk melihat apa yang mau kamu lakukan. Apa kamu nggak pernah melihat diri kamu sendiri? Kamu itu perempuan paling menjijikkan di dunia!”

 

Refi membelalakkan matanya. “Kamu pernah sayang sama aku, Yer. Sekarang, kamu bisa ngatain aku sekejam ini. Kamu nggak ingat apa yang pernah kamu lakukan ke aku?”

 

“Pernah tertarik sama kamu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku terlalu bodoh sampai tertipu dengan sikap lembut kamu itu. Sekarang, aku semakin tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu nggak pantas ada di dekatku, bahkan ada di dekat orang-orangku!”

 

“Kamu yang lagi ditipu sama Yuna. Dia yang sudah nipu kamu, Yer. Dia deketin kamu karena harta yang kamu punya!”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, dia memang cinta sama aku karena harta yang aku punya. Apa yang aku punya saat ini adalah bukti cintaku ke dia. Aku nggak pernah menyesal memberikan seluruh harta dan kehidupanku untuk dia!”

 

“Kamu udah bener-bener buta, Yer!” seru Refi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih tak mempercayai apa yang ia dengar dari mulut Yeriko. “Kamu cinta sama dia? Kenapa masih belum bisa nemuin dia sampai sekarang? Pasti, kamu cuma ngarang cerita doang. Kamu nggak takut kalau aku bunuh dia?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Sebelum kamu bunuh dia, aku pastikan kalau kamu yang akan mati duluan!”

 

Refi tergelak mendengar ucapan Yeriko. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini. Kebenciannya semakin memuncak karena Yuna dan Yeriko tak bisa ia pengaruhi. Ia sangat membenci hubungan cinta yang tidak terpisahkan itu.

 

Yeriko menatap Refi tanpa berkata-kata.

 

Refi langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. “Aku tinggal bilang sama orang suruhanku untuk menghabisi Yuna sekarang juga!” ancam Refi.

 

Yeriko langsung menyambar ponsel dari tangan Refi.

 

Refi terkejut dengan Yeriko yang begitu cepat mengambil alih ponsel dari tangannya.

 

Yeriko langsung membanting ponsel tersebut ke lantai hingga setiap part ponsel Refi berserakan tak karuan.

 

“Yer, kamu ...!?” Refi menatap kesal ke arah Yeriko. Ia mulai gentar menghadapi tatapan mata Yeriko yang penuh amarah. Ia memberanikan diri untuk tersenyum sambil menatap Yeriko. “Kamu nggak akan pernah menemukan istri kamu sampai kapan pun!” serunya.

 

Yeriko tersenyum sinis. “Aku bukan orang bodoh, Ref. Aku udah pasang GPS di liontin Yuna. Kamu pikir, aku nggak tahu kalau kamu sembunyikan istriku di gudang yang ada di pelabuhan utara?”

 

Refi langsung tertawa mendengar ucapan Yeriko. “Ketahuan banget kalau kamu sebenarnya nggak tahu di mana istri kamu. Jelas-jelas aku bawa dia ke bekas Pabrik Karet yang ada di daerah Warugunung, jauh banget sama pelabuhan Utara. GPS kamu eror?” tuturnya sambil tertawa. Ia merasa sangat bahagia karena sebenarnya Yeriko tak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan istrinya.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Thanks, Ref!” ucapnya sambil melangkah keluar dari kamar hotel tersebut.

 

Refi membelalakkan matanya. Ia baru menyadari kalau ia keceplosan bicara tentang keberadaan Yuna. Ia langsung berlari menghadang Yeriko agar tidak keluar dari kamar tersebut.

 

Yeriko langsung menyingkirkan tubuh Refi dengan mudah. Ia tidak ingin bernegosiasi soal perasaannya. Apalagi bermain-main dengan wanita yang menjijikkan seperti Refi.

 

Refi tertawa terbahak-bahak sebelum Yeriko benar-benar pergi meninggalkan kamar tersebut. “Percuma kalau kamu pergi ke sana sekarang. Aku udah siapin banyak orang untuk memenuhi kebutuhan biologis istri kamu. Dia nggak akan merasa kekurangan sedikit pun. Dia akan tetap merasa bahagia dan terpuaskan di tempat itu.”

 

PLAK ...!

 

PLAK ...!

 

Yeriko langsung menampar wajah Refi beberapa kali. “Bangsat, kamu! Kalau sampai istriku kenapa-kenapa, aku bakal bikin perhitungan sama kamu seumur hidup!” sentak Yeriko. Ia langsung menarik gagang pintu dan keluar dari kamar tersebut.

 

Refi memegangi pipinya yang memerah sambil menatap Yeriko yang mulai melangkah keluar dari kamarnya. Air matanya mengalir karena ia masih tidak bisa mendapatkan Yeriko walau ia sudah melakukan hal yang paling berbahaya dalam hidupnya.

 

“Beresin dia!” perintah Yeriko pada lima ajudan yang menunggu di luar pintu.

 

Ajudan-ajudan itu mengangguk. Mereka bergegas menerobos ke kamar Refi. Membuat Refi terkejut bukan main. “Kalian siapa?” tanya Refi.

 

Semua orang yang masuk ke ruangannya itu tidak menjawab. Salah seorang memukul tengkuk Refi hingga membuat wanita itu pingsan.

 

Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor hotel sambil menempelkan ponsel di telinganya.

 

“Halo ...! Yuna disekap di bekas Pabrik Karet daerah Warugunung. Semua bergerak ke sana!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Yer!” sahut Chandra.

 

 “Semua langsung meluncur ke sana!” Satria tak mau kalah.

 

“Lutfi sama Riyan, tolong urus si Refi!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Bos!” sahut Lutfi.

 

Yeriko menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku. Ia mempercepat langkah kakinya keluar dari hotel tersebut dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju Warugunung.  

 

“Yun, tunggu aku!” pinta Yeriko sambil melajukan mobilnya membelah jalanan. Ia ingin bisa sampai lebih cepat untuk menyelamatkan istrinya. 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Kasih support untuk Mr. And Ms. Ye ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 466 : Kebaikan Hati si Kriting

 


“Mbak ...!” panggil si Keriting saat melihat wajah Yuna yang semakin pucat.

 

Yuna membuka matanya perlahan. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia hanya bisa melihat samar-samar pria berambut keriting yang ada di hadapannya.

 

“Mbak, minum dulu!” pinta si Keriting sambil menyodorkan air minum ke arah Yuna. Ia membantu Yuna minum dari sedotan.

 

Yuna tersenyum saat ia sudah selesai meminum minuman yang diberikan pria berambut keriting tersebut. “Makasih ...!” ucapnya lirih.

 

Pria keriting itu mengeluarkan pisau dari tangannya.

 

Seketika, jantung Yuna berdegup kencang saat melihat pisau yang ada di tangan pria itu. Di saat yang bersamaan, ia merasakan perutnya kedutan. Ia langsung menatap perutnya yang terlihat buncit. “Dedek ...!” panggilnya lirih.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan tenaga dan semangat dalam dirinya untuk tetap bertahan hidup demi anak yang ada di dalam kandungannya. Ia percaya, Yeriko pasti akan menolong dirinya. “Dek, Ayah pasti nolongin kita. Dedek harus tetap semangat ya! Bunda akan bertahan. Ayah kamu pasti bahagia bisa lihat kamu sudah bergerak di perut Bunda,” bisik Yuna dalam hati sambil menitikan air mata.

 

Yuna menatap pria berambut keriting itu dengan perasaan tak karuan. Ia mulai ketakutan saat pria yang ia pikir baik itu malah mengeluarkan pisau di hadapannya.

 

“Mbak, makan ini dulu ya! Mumpung si Bos lagi nggak ada.” Pria berambut keriting itu mengeluarkan buah pir dari kantong plastik yang ada di depan kakinya. Ia memotong buah pir tersebut dan menyuapkan ke mulut Yuna.

 

“Mbak harus kuat supaya bisa kabur dari tempat ini!” tutur si Keriting sambil terus menyuapi potongan buah ke mulut Yuna. “Mbak Repi itu sudah gila. Kami nggak mau membunuh siapa pun. Mbak harus bisa keluar dari sini secepatnya! Siapin energi yang banyak ya!”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia menatap pria muda yang penampilannya sangat kumuh, tapi memiliki hati yang baik. “Kenapa kamu mau nolongin saya?” tanyanya lirih.

 

Si Keriting tersenyum menatap Yuna. “Mbak, jadi orang baik itu susah. Saya tahu, Mbak adalah orang yang baik. Di dunia ini, harus ada orang baik yang melahirkan anak-anak yang baik juga. Supaya orang-orang jahat seperti kami, bisa berjalan ke tempat-tempat yang baik bersama orang yang baik juga.”

 

“Masnya juga orang baik. Pasti akan menemukan kehidupan yang baik di masa depan,” tutur Yuna sambil tersenyum.

 

“Jadi orang baik itu susah, Mbak. Makanya, nggak semua orang di dunia ini bisa jadi baik. Saya mah, tergantung keadaan. Saya bukan orang baik. Tapi saya masih punya Tuhan. Saya nggak mau membuat orang lain terbunuh.”

 

Yuna kembali tersenyum. “Makasih, kamu sudah bantu saya. Kalau nggak ada kamu ... mungkin saya sudah mati lebih cepat.”

 

“Nggak papa, Mbak. Saya mana tega lihat wanita hamil disiksa seperti ini. Ini pisaunya Mbak simpan. Gunakan dengan baik!” tutur pria berambut keriting tersebut sambil meletakkan pisau buah itu ke telapak tangan Yuna.

 

Yuna menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. “Makasih, Mas! Saya nggak akan ngelupakan kebaikan Mas ini.”

 

“Nggak usah dibahas lagi, Mbak! Saya harap, setelah ini kita nggak pernah ketemu lagi.” Pria itu bangkit dari lantai karena pintu gudang tersebut tiba-tiba terbuka. Ia langsung menghampiri si Gundul dan bersikap seolah tidak melakukan apa pun. Ia berpura-pura menenggak bir yang ada di atas meja.

 

Yuna menyandarkan kepala ke tiang yang ada di belakangnya. Ia menggenggam erat pisau yang ada di belakang tubuhnya dan pura-pura tertidur.

 

“Gimana? Aman?” tanya pria bertato yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.

 

“Aman, Bos!”

 

“Bagus!” sahut si Bos sambil memerhatikan wajah Yuna. “Dia nggak kenapa-kenapa ‘kan?”

 

“Nggak papa, Bos. Cuma lemes aja. Mungkin karena nggak dikasih makan dan dia lagi hamil.”

 

“Ck, kasihan juga. Tapi mau gimana lagi. Kita butuh duit,” ucap pria bertato tersebut sambil menyalakan rokoknya.

 

“Tapi, Bos. Perjanjian awal, kita cuma nyulik doang. Bukan bunuh orang,” tutur si Gundul.

 

“Kata siapa kita bunuh orang?”

 

“Perempuan itu udah lemes banget karena kita nggak kasih makan. Kalau dia mati gimana?” tanya si Keriting.

 

“Jangan sampai mati, goblok! Kasih aja dia makan, sedikit. Yang penting, nggak ketahuan Mbak Refi.”

 

“Dianya nggak mau makan, Bos,” sahut si Keriting. Ia mengerdipkan mata ke arah si Gundul.

 

“Iya, Bos. Dia nggak mau makan dan minum. Kalau gini terus, dia bisa mati kelaparan.” Si Gundul menambahkan.

 

“Ck, gimana ini? Kita cuma nyulik, jangan sampai ada yang mati. Aku emang preman, tapi aku nggak pernah bunuh orang.” Si Bos bertato itu mulai uring-uringan. “Mbak Refi mau kirim orang lagi ke sini. Setelah mereka datang, tugas kita selesai.”

 

“Siapa, Bos?”

 

“Aku nggak tahu.”

 

Si Gundul dan Si Keriting saling pandang. Mereka melihat Yuna yang masih terikat di sana. Mereka justru tidak tega meninggalkan Yuna begitu saja. Bisa saja, orang lain yang menggantikan mereka justru akan membuat Yuna terbunuh.

 

“Bos, sambil nunggu pengganti kita datang ... gimana kalau kita minum dulu untuk merayakan kebebasan kita?” tutur si Keriting sambil mengeluarkan botol-botol bir dari kotak yang ada di bawah meja.

 

“Bener juga,” sahut si Bos. Ia mengeluarkan beberapa gepok uang dari dalam saku jaketnya. “Ini bagian buat kalian berdua,” lanjutnya sambil meletakkan uang-uang tersebut ke atas meja.

 

“Wah ... thank you, Bos! Akhirnya, dapet juga duitnya,” tutur si Gundul sambil mengecup uang yang ada di tangannya.

 

Si Keriting juga langsung memasukkan uang tersebut ke dalam saku jaketnya. “Bos, kita rayakan dulu malam ini. Bos kan dapet bagian paling banyak, harus banyak minum juga,” tuturnya sambil membukakan botol bir untuk bosnya.

 

Pria bertato itu tertawa bahagia. Ia langsung menenggak minuman yang diberikan oleh si Keriting.

 

Si Gundul dan si Keriting tersenyum puas. Mereka saling memberi isyarat agar bisa membuat bosnya itu mabuk dan lengah, sehingga wanita yang mereka sandera bisa melarikan diri dengan mudah.

 

“Minum lagi, Bos!” seru si Keriting saat bosnya sudah menghabiskan tiga botol bir.

 

Si Bos mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menenggak semua minuman yang sengaja disiapkan oleh si Gundul dan si Keriting.

 

Pria bertato itu langsung menjatuhkan kepalanya ke kursi begitu ia sudah berada di bawah pengaruh alkohol. Ia terus meracau, tapi dua anak buah amatirannya itu tak menghiraukan ucapan bosnya.

 

“Jagain si Bos, Ndul!” bisik si Keriting. Ia melangkah menghampiri Yuna.

 

“Mbak ...!” panggil si Keriting lirih.

 

Yuna langsung membuka matanya perlahan tanpa mengubah posisi tubuhnya sedikit pun.

 

“Si Bos udah mabuk. Mbak bisa keluar sekarang,” tutur si Keriting berbisik.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia berusaha menyayat tali yang mengikat tangannya. “Aw ...!” rintihnya lirih karena mata pisau tersebut mengenai lengan tangannya sendiri.

 

“Sini, aku bantu, Mbak!” tutur si Keriting. “Si Bos udah mabuk. Mbak harus bisa keluar dari secepatnya sebelum orang-orang baru suruhan Mbak Repi datang ke sini.”

 

Yuna mengangguk. “Makasih banyak ya, Mas!”

 

“Jangan sampai ketahuan sama si Bos ya! Aku sama si Gundul harus pura-pura mabuk supaya Bos nggak curiga.”

 

Yuna mengangguk tanda mengerti. Ia melepaskan tali yang mengikat di pergelangan kakinya.

 

“Mbak, aku cuma bisa bantu sampai di sini. Kalau orang-orang Mbak Refi keburu datang, mereka pasti akan mencari keberadaan Mbak Yuna. Untuk sementara, jangan ke jalanan. Sembunyi di pohon atau semak tepi jalan sampai matahari terbit. Ini senter kecil untuk membantu penerangan, semoga bermanfaat,” tutur si Keriting sambil mengalungkan senter kecil ke leher Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia beruntung karena bertemu dengan penjahat yang baik hati dan tidak berpengalaman itu.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Kasih support untuk Mr. And Ms. Ye ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Cara Membangun Plot Twist



Plot twist itu seperti tamu tak diundang yang datang di tengah malam—kita kaget, tapi justru di situlah degup cerita terasa hidup. Coba bayangkan bagaimana J.K. Rowling menyembunyikan identitas Snape sejak awal seri Harry Potter. Atau bagaimana Agatha Christie mempermainkan logika kita dalam And Then There Were None. Kita tidak sedang dibohongi. Kita sedang “dipersiapkan” untuk terkejut.

Nah, kalau kamu ingin membangun plot twist yang bikin pembaca menepuk jidat sambil berbisik, “Ya ampun, kok aku nggak sadar dari tadi?” — yuk kita bahas pelan-pelan. Santai saja. Kita ngopi dulu. ☕


1. Bangun Petunjuk

Plot twist yang bagus itu bukan sulap murahan. Bukan tiba-tiba tokoh mati tanpa alasan, bukan tiba-tiba ternyata semua cuma mimpi. Itu namanya menjebak pembaca, bukan mengejutkan mereka.

Petunjuk itu seperti remah roti di hutan. Kecil. Hampir tak terlihat. Tapi ada.

Misalnya:

  • Dialog yang terdengar biasa, tapi menyimpan makna ganda.

  • Detail kecil yang seolah tidak penting.

  • Sikap tokoh yang sedikit “off” dari biasanya.

Petunjuk harus ada sejak awal. Disisipkan halus. Jangan disorot pakai stabilo. Pembaca cerdas, mereka akan menangkapnya—meski mungkin baru sadar setelah halaman terakhir.

Tanya ke diri sendiri:

Kalau twist ini dibongkar ulang dari awal cerita, apakah jejaknya sudah ada?

Kalau belum? Berarti kamu perlu menanam benihnya lebih dini.


2. Patahkan Ekspektasi Pembaca

Ini bagian serunya.

Pembaca itu makhluk penuh asumsi. Mereka suka menebak. Mereka merasa sudah tahu arahnya. Nah, tugas kita bukan memusuhi mereka. Tapi… menggiring mereka.

Caranya?

Bangun ekspektasi yang “masuk akal”. Biarkan mereka percaya bahwa tokoh A adalah pahlawan. Biarkan mereka yakin bahwa tokoh B adalah pengkhianat. Buat semuanya tampak logis.

Lalu… balikkan.

Contohnya, dalam The Sixth Sense karya M. Night Shyamalan. Kita mengikuti cerita dengan keyakinan penuh bahwa tokoh utamanya hidup seperti biasa. Semua adegan mendukung asumsi itu. Sampai akhirnya… boom. Kita sadar bahwa kita selama ini melihat dari sudut yang salah.

Twist bukan tentang “apa yang tidak kita ketahui”.
Twist adalah tentang “apa yang kita yakini, tapi ternyata keliru”.

Dan itu jauh lebih menyakitkan. Sekaligus memuaskan.


3. Ditunjukkan, Jangan Dinarasikan

Ini penting. Sangat penting.

Jangan tulis:

“Ternyata dia selama ini berbohong.”

Itu narasi. Itu laporan. Itu seperti kamu membacakan berita.

Sebaliknya, tunjukkan lewat:

  • Tatapan mata yang tak berani menatap lurus.

  • Tangan yang gemetar saat menyebut nama tertentu.

  • Pesan singkat yang terhapus cepat saat tokoh lain masuk ruangan.

Biarkan pembaca menyusun kepingan puzzle sendiri.

Plot twist yang kuat tidak dijelaskan panjang lebar. Ia terlihat. Ia terasa. Ia mengendap.

Pembaca bukan anak kecil yang harus diberi tahu semuanya. Mereka ingin terlibat. Mereka ingin merasa menemukan sendiri rahasianya.

Dan ketika mereka sadar… rasanya jauh lebih dalam.


4. Beri Ruang untuk Pembaca

Ini yang sering dilupakan.

Jangan terlalu sibuk menjelaskan twist sampai semua celah tertutup rapat. Sisakan sedikit ruang. Sedikit jeda. Sedikit kemungkinan.

Kenapa?

Karena pembaca suka berdiskusi. Suka berteori. Suka membayangkan “bagaimana jika”.

Coba lihat bagaimana Inception karya Christopher Nolan menutup ceritanya. Gasing itu jatuh atau tidak? Kita tidak pernah benar-benar diberi jawaban mutlak. Dan justru karena itu, filmnya hidup bertahun-tahun dalam percakapan.

Ruang membuat cerita bernapas.

Kalau semua dijelaskan sampai ke tulang-tulangnya, pembaca tidak punya tempat untuk tinggal di dalam cerita itu.


Jadi, Plot Twist Itu Apa Sih?

Plot twist bukan sekadar kejutan.
Ia adalah hasil dari perencanaan.
Ia adalah permainan psikologi halus antara penulis dan pembaca.

Kita tidak sedang menipu mereka. Kita sedang mengajak mereka percaya… sebelum akhirnya memutar arah.

Sekarang aku mau tanya kamu.

Di cerita yang sedang kamu tulis—apakah twist-mu sudah punya jejak?
Atau masih berupa “kejutan dadakan” yang belum ditanam akarnya?

Coba buka lagi naskahmu.
Cari detail kecil yang bisa kamu tanam hari ini.

Karena twist terbaik bukan yang membuat pembaca berkata,
“Ah, ini tidak masuk akal.”

Tapi yang membuat mereka berbisik pelan,
“Seharusnya aku tahu dari awal…”

Dan di situlah, sebagai penulis, kita tersenyum diam-diam.


Sunday, February 22, 2026

Menulis Seperti J.K. Rowling: Tentang Bertahan, Bukan Sekadar Terkenal



Menulis Seperti J.K. Rowling: Tentang Bertahan, Bukan Sekadar Terkenal

Ada satu hal yang sering kita lupa saat menyebut nama J.K. Rowling. Kita selalu ingat suksesnya. Jarang mengingat sepinya.

Kita hafal dunia sihir dalam Harry Potter—Hogwarts, tongkat sihir, Patronus, dan segala mantra yang terasa begitu nyata. Tapi sebelum dunia itu jadi rumah bagi jutaan pembaca, ia lebih dulu menjadi tempat pelarian seorang ibu muda yang hidupnya sedang tidak baik-baik saja.

Dan dari situlah pelajaran menulis itu sebenarnya dimulai.


1. Tulis dari Luka, Bukan dari Tren

Rowling tidak duduk dan berpikir, “Pasar lagi suka cerita sihir.”
Tidak.

Ia menulis karena cerita itu hidup di kepalanya. Karena ia butuh sesuatu untuk bertahan.

Kadang kita terlalu sibuk bertanya, “Ini laku nggak ya?”
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: “Ini jujur nggak ya?”

Menulis ala Rowling bukan tentang mengikuti tren. Tapi tentang setia pada cerita yang membuatmu merasa pulang.


2. Dunia yang Kuat Lahir dari Imajinasi yang Dirawat

Yang membuat Harry Potter terasa nyata bukan hanya konfliknya, tapi detailnya. Ada sejarah, ada aturan, ada konsekuensi. Dunia sihirnya bukan tempelan. Ia dibangun seperti fondasi rumah.

Artinya apa?

Kalau kamu sedang menulis, jangan malas mencatat.
Buat timeline.
Buat latar belakang tokoh.
Tentukan aturan dunia ceritamu.

Karena pembaca bisa membedakan mana dunia yang “dibuat”, dan mana dunia yang “dihuni”.


3. Punya Peta, Tapi Tetap Fleksibel

Rowling dikenal sebagai penulis yang rapi membuat outline. Ia sudah tahu akhir cerita jauh sebelum buku terakhir terbit.

Ini penting.

Menulis tanpa arah itu melelahkan. Tapi menulis dengan arah bukan berarti mematikan spontanitas. Peta itu bukan penjara. Ia hanya kompas.

Dan sebagai penulis, kita butuh kompas agar tidak tersesat di bab ke-50 sambil bertanya, “Ini mau ke mana, ya?”

(Relate? 😌)


4. Penolakan Itu Bagian dari Proses, Bukan Vonis

Naskah pertamanya ditolak berkali-kali. Bayangkan kalau ia berhenti di penolakan ke-3.

Mungkin dunia tidak akan pernah mengenal Harry.

Kadang kita berhenti bukan karena tidak mampu, tapi karena terlalu cepat percaya pada penilaian orang lain.

Rowling mengajarkan satu hal sederhana:
Ditolak bukan berarti selesai. Ditolak berarti belum waktunya.


5. Jangan Tunggu Ideal, Mulai Saja Dulu

Ia menulis di kafe. Di sela mengurus anak. Di tengah kondisi finansial yang tidak stabil.

Tidak ada ruang kerja estetik.
Tidak ada laptop mahal.
Tidak ada “mood yang sempurna”.

Yang ada cuma satu: komitmen.

Kita sering menunggu waktu luang. Padahal waktu luang jarang benar-benar datang. Yang ada hanyalah waktu yang kita paksa jadi ada.

Dan di situlah penulis lahir.


6. Biarkan Karaktermu Bertumbuh

Salah satu kekuatan besar Rowling adalah karakter yang berkembang. Mereka tidak selalu benar. Mereka cemburu, salah paham, takut, bahkan egois.

Dan justru itu yang membuat mereka manusia.

Tulisan yang kuat bukan tentang tokoh sempurna. Tapi tentang perjalanan mereka menjadi lebih dewasa.

Karena pembaca tidak jatuh cinta pada kesempurnaan. Mereka jatuh cinta pada proses.


7. Menulis Itu Tentang Ketahanan Mental

Kalau kita mau jujur, menulis bukan pekerjaan glamor.
Ia sunyi.
Ia sering tidak dihargai.
Ia kadang membuat kita meragukan diri sendiri.

Tapi lihat perjalanan Rowling.

Yang membuatnya sampai di titik itu bukan hanya bakat. Tapi daya tahan.

Dan mungkin itu yang paling relevan buat kita hari ini.

Menulis bukan lomba cepat. Ini maraton. Yang bertahan, yang akan sampai.


Cerita Bisa Mengubah Nasib

Ada sesuatu yang indah dari kisah hidup Rowling. Ia menulis bukan karena sudah sukses. Ia menulis saat hidupnya berantakan.

Dan justru dari situ lahir cerita yang mengubah hidupnya.

Jadi kalau hari ini kamu sedang lelah, sedang ragu, sedang merasa tulisanmu tidak cukup bagus…

Ingat ini:

Bisa jadi, cerita yang kamu tulis diam-diam di sudut kamar itu, suatu hari akan menemukan jalannya sendiri.

Karena menulis bukan tentang seberapa cepat kamu dikenal.
Tapi seberapa lama kamu mau bertahan.

Dan itu… sangat khas ala J.K. Rowling.

Thursday, February 19, 2026

Ibadah Yang Kini Terasa Mahal





Ada satu zaman yang pelan-pelan kita hidupi tanpa banyak sadar, zaman ketika manusia begitu sibuk mengejar dunia, sampai lupa bahwa ia sedang dikejar waktu.

Pagi dimulai dengan notifikasi. Siang dipenuhi target. Malam dihabiskan untuk menghitung untung dan rugi. Kita berlari dari satu ambisi ke ambisi lain, seakan hidup adalah perlombaan panjang yang garis akhirnya bisa kita tentukan sendiri.

Padahal sejak awal, garis akhir itu sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa.
Di tengah hiruk-pikuk itu, sholat sering menjadi jeda yang terasa mengganggu. Azan yang dulu terdengar syahdu, kini terdengar seperti pengingat yang datang di saat “tidak tepat”. Rapat belum selesai. Pesanan belum dikirim. Pelanggan belum dibalas. Akhirnya, sholat ditunda. Lalu terlupa. Kemudian tergantikan.

Mengaji lebih sunyi lagi nasibnya. Mushaf tersimpan rapi di rak, bersih dari debu karena jarang disentuh. Huruf-huruf suci itu menunggu untuk dibaca, tetapi tangan kita lebih sibuk menggulir layar. Ironisnya, kita bisa menghabiskan berjam-jam membaca kabar dunia, namun merasa berat membuka satu halaman Al-Qur’an.

Kita sering mengira ibadah adalah perkara waktu luang. Padahal ibadah justru penopang waktu itu sendiri.

Hari ini, sholat dan mengaji menjadi sesuatu yang terasa eksklusif. Bukan karena sulit dipelajari. Bukan karena mahal secara materi. Tetapi karena hati yang tenang untuk melakukannya semakin jarang dimiliki. 
Banyak orang punya uang berlimpah, rumah luas, kendaraan mewah, tetapi tidak punya kekhusyukan. Mereka bisa membeli jam tangan mahal, tetapi tidak bisa membeli ketenangan saat bersujud. Mereka bisa membayar guru terbaik untuk anaknya, tetapi tidak mampu memaksa dirinya duduk lima belas menit untuk mengaji.

Di situlah ibadah menjadi “mahal”.
Mahal bukan dalam rupiah, melainkan dalam kesiapan hati. Mahal dalam kesediaan menunda urusan dunia. Mahal dalam keberanian mengatakan, “Cukup dulu. Sekarang waktunya menghadap Allah.”

Kita hidup di era yang memuja produktivitas. Segala sesuatu diukur dari hasil. Berapa pemasukan hari ini? Berapa pertumbuhan bisnis bulan ini? Berapa capaian tahun ini? Namun jarang kita bertanya, "sudah berapa kali kita benar-benar khusyuk dalam sholat minggu ini? Sudah berapa ayat yang kita pahami maknanya bulan ini?"

Kesibukan bukanlah dosa. Bekerja bukanlah kesalahan. Bahkan dalam ajaran Islam, bekerja adalah bagian dari ibadah. Tetapi ketika pekerjaan membuat kita menunda sholat dengan sengaja, ketika lelah dunia membuat kita tak lagi punya tenaga untuk mengaji, di situlah keseimbangan mulai retak.

Sering kali kita berdalih, “Nanti kalau sudah mapan, saya akan lebih rajin ibadah.” Padahal sejarah menunjukkan, tidak semua orang yang mapan menjadi lebih taat. Banyak yang justru semakin jauh, karena merasa telah cukup dengan apa yang dimiliki. Kekayaan memberi rasa aman palsu—seakan hidup bisa dikendalikan sepenuhnya oleh usaha manusia.

Padahal satu sakit saja bisa meruntuhkan semuanya. Satu musibah bisa menghentikan seluruh rencana.
Sholat adalah pengakuan bahwa kita lemah. Mengaji adalah pengingat bahwa kita butuh petunjuk. Dan dunia tidak pernah menyukai manusia yang mengakui kelemahannya, karena dunia dibangun di atas citra kekuatan dan keberhasilan.

Maka tak heran jika menjaga sholat lima waktu terasa seperti perjuangan pribadi. Menjaga konsistensi mengaji terasa seperti mendaki bukit sunyi. Butuh disiplin. Butuh kesadaran. Butuh cinta.
Dan cinta tidak tumbuh dari kesibukan yang tak pernah jeda.

Barangkali yang perlu kita tanyakan bukanlah, “Mengapa saya tidak punya waktu untuk ibadah?” tetapi “Untuk apa sebenarnya semua kesibukan ini?” Jika seluruh lelah hanya berujung pada angka di rekening, tetapi hati terasa kosong, maka ada yang salah dengan arah perjalanan.

Kita sering takut miskin harta, tetapi jarang takut miskin pahala. Kita cemas kehilangan peluang bisnis, tetapi tenang saja ketika kehilangan waktu sholat. Padahal, yang pertama belum tentu dimintai pertanggungjawaban secara rinci; yang kedua pasti akan ditanya.

Ibadah memang sederhana. Gerakannya tidak rumit. Bacaannya tidak panjang. Tetapi konsistensinya menuntut kejujuran diri. Ia menuntut kita untuk menata ulang prioritas.
Dan mungkin di situlah harga sebenarnya.

Sholat dan mengaji menjadi mahal karena hanya orang-orang yang mampu mengalahkan egonya yang bisa menjaganya. Hanya mereka yang berani memperlambat langkah di tengah dunia yang berlari kencang. Hanya mereka yang sadar bahwa hidup bukan sekadar tentang bertahan, tetapi tentang kembali.

Dunia akan selalu menawarkan lebih banyak pekerjaan, lebih banyak target, lebih banyak ambisi. Namun waktu kita tidak pernah bertambah. Setiap detik yang berlalu adalah potongan kesempatan untuk mendekat atau justru menjauh.

Pada akhirnya, bukan seberapa sibuk kita yang akan ditanya. Bukan seberapa besar usaha kita membangun dunia. Tetapi seberapa setia kita menjaga hubungan dengan Pencipta dunia itu sendiri.

Karena ketika napas terakhir tiba, tidak ada rapat yang perlu diselesaikan. Tidak ada proyek yang harus dikirim. Yang tersisa hanyalah catatan amal.
Dan di sana, sholat yang dulu kita anggap bisa ditunda, serta ayat-ayat yang jarang kita baca, mungkin menjadi sesuatu yang paling kita rindukan.
Maka sebelum ibadah benar-benar menjadi terlalu mahal untuk kita bayar, barangkali hari ini adalah waktu terbaik untuk kembali. 

Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 465 : Puncak Kemarahan Mr. Ye

 


TING!

 

Yeriko langsung membuka pesan yang dikirim oleh Refi. Pesan itu berupa file video. Ia langsung membuka pesan tersebut.

 

DEG!

 

Jantung Yeriko serasa berhenti untuk sesaat. Ia melihat jelas bayangan Yuna terikat dan dalam keadaan yang tidak baik.

 

“Yer, kalau kamu mau istri kamu selamat. Temui aku di Sheraton Hotel malam ini!”

 

Suara Refi terdengar jelas dalam video itu. Chandra, Lutfi dan Satria langsung menghampiri Yeriko untuk melihat video yang dikirimkan oleh Refi.

 

“Istriku, kenapa bisa kayak gitu?” tanya Yeriko lirih. Matanya memerah menahan amarah dan kepedihan.

 

“Sabar, Yer. Kita akan teliti video ini supaya bisa tahu di mana keberadaan Yuna sekarang,” tutur Chandra sambil mengelus-elus bahu Yeriko.

 

Satria langsung mengambil alih ponsel Yeriko. Ia dan Lutfi berusaha meneliti gudang kumuh dan gelap yang menjadi tempat Yuna disekap.

 

Yeriko bangkit dari sofa, ia berjalan mondar-mandir sambil memikirkan cara menghadapi dan membalas apa yang sudah dilakukan oleh Refi.

 

“AARGH ...!” teriak Yeriko histeris. Ia mengepal tangannya erat-erat dan langsung menghujamkan pukulan tangannya ke dinding. Ia tak lagi merasakan sakit saat darah segar mengucur dari punggung tangan hingga kulit metakarpalnya terbuka.

 

“Refi bangsat! Anjing!” teriak Yeriko sambil menendang lemari nakas yang tak jauh dari dirinya.

 

BRAK ...!

 

PRANG ...!

 

Nakas yang ditendang Yeriko terbalik, beberapa vas bunga dan guci yang ada di atasnya langsung pecah, berserakan ke lantai ruangan tersebut.

 

Jheni, Icha dan Bibi War yang ada di lantai bawah langsung berlari begitu mendengar teriakan Yeriko disertai barang-barang yang berjatuhan.

 

“Yer, sabar! Tenang dulu!” pinta Chandra sambil berusaha menghentikan amukan Yeriko.

 

Lutfi juga membantu Chandra agar Yeriko berhenti menyakiti dirinya sendiri. “Yer, berhenti, Yer!” pintanya sambil memeluk tubuh Yeriko dari belakang.

 

“Sadar, Yer! Kendalikan emosi kamu! Yuna nggak akan suka lihat kamu nyiksa diri sendiri kayak gini.”

 

“Gimana aku bisa tenang? Istri sama anakku dalam bahaya, Chan,” tutur Yeriko sambil meneteskan air mata. Wajah Yuna yang bengkak dan terluka membuat hatinya ngilu.

 

“Kalo kamu marah-marah kayak gini, nggak akan bisa nemuin Yuna!” seru Chandra.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. “Aku laki-laki yang nggak berguna. Aku nggak bisa melindungi istri dan anakku sendiri,” ucapnya sambil merosot ke lantai.

 

“Ada apa ini?” tanya Jheni begitu ia masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

Satria menoleh ke arah Jheni sambil menggelengkan kepala. Memberi isyarat agar tidak mengajukan pertanyaan pada Yeriko yang sedang diselimuti amarah dan kesedihan. Ia memanggil Jheni dan Icha untuk mendekat ke mejanya hanya menggunakan isyarat tangan.

 

Jheni dan Icha langsung menghampiri Satria. Satria menunjukkan rekaman video yang dikirim oleh Refi.

 

“Astaga! Yuna!?” Jheni dan Icha langsung menutup mulut mereka yang terbuka lebar.

 

“Jhen, kenapa Yuna bisa sampai kayak gitu? Dia orang baik, kenapa selalu dijahatin?” tutur Icha sambil terisak. Ia tidak tahan melihat tubuh Yuna yang begitu kotor dan terluka.

 

Jheni juga ikut menangis melihat keadaan Yuna. “Refi jahat banget!” ucapnya lirih. “Aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja!” lanjutnya sambil mengusap air mata.

 

Icha terus terisak. Ia mengingat masa-masa saat ia dan Yuna sering bersama. Yuna adalah wanita yang ceria, apa adanya, baik hati dan selalu peduli dengan orang-orang di sekelilingnya.

 

“Cha, jangan nangis terus!” pinta Jheni saat menyadari video rekaman Yuna di menit terakhir. “Yuna nggak akan selemah ini. Kita juga harus kuat!”

 

Semua orang langsung menoleh ke arah Jheni. Mereka tahu, hanya Jheni yang mengerti bagaimana sifat Yuna. Yuna adalah gadis kecil pemberani. Ia tidak akan lari dari masalah, selalu menghadapi semua masalahnya dengan hati yang tegar dan kuat.

 

Jheni menghela napas. Ia memutar kembali video yang sudah dipindahkan ke laptop Satria. Jheni langsung menekan spasi pada keyboard untuk menghentikan video tersebut. “Lihat! Walau Yuna terluka, dia masih tersenyum di video ini. Dia mau ngasih tahu ke kita semua kalau dia baik-baik aja. Dia pasti lagi nunggu kita. Kita harus bergerak lebih cepat!”

 

Semua orang saling pandang. Mereka mengangguk dan bergerak cepat mencari keberadaan Yuna.

 

Yeriko bangkit dari lantai. Ia tidak ingin terus-menerus menjadi pria yang payah karena tidak bisa menolong istri dan anaknya. Ia memutar video itu berkali-kali.

 

“Earphone mana?” tanya Yeriko. “Carikan earphone!” perintahnya saat menyadari kalau Yuna mengucapkan sesuatu dalam video itu.

 

Jheni dan Riyan buru-buru mencarikan earphone untuk Yeriko. Riyan dengan cekatan mengambil earphone dari laci meja kerja Yeriko dan memberikan pada bosnya itu.

 

Yeriko langsung memasang earphone ke telinganya. Ia mencoba menangkap suara lirih yang keluar dari mulut Yuna. “Sat, si Yuna ngasih petunjuk buat kita. Dia ngomong apa di menit-menit terakhir itu?”

 

Satria langsung membesarkan suara laptopnya. Namun, suara Yuna memang sangat kecil. Hampir tak tertangkap dalam video itu. Satria mencoba membaca gerakan bibir Yuna. “Yer, dia bilang tempat ini bau lem dan karet.”

 

“Iya. Aku juga nangkapnya begitu,” sahut Yeriko. “Kira-kira, tempat apa yang bau lem atau karet.”

 

“Bangunan ini kelihatannya bangunan tua,” tutur Lutfi.

 

“Kemungkinan bekas pabrik.” Chandra ikut menambahkan.

 

“Pabrik?” Yeriko langsung menoleh ke arah Chandra.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Kira-kira pabrik apa yang bau lem atau karet?” tanya Yeriko.

 

Chandra langsung menoleh ke arah Satria. “Sat, kamu yang punya akses data perusahaan atau pabrik di kota ini. Bisa dicek?” tanyanya.

 

Satria mengangguk. “Wait!” pintanya sambil berusaha meminta akses ke pihak-pihak terkait untuk mendapatkan data yang mereka inginkan.

 

Semua orang juga mencoba mengakses informasi lewat internet.

 

“Yer, obatin luka kamu dulu!” tutur Icha sambil menyodorkan First Aid Box ke arah Yeriko.

 

“Thanks, Cha!” Yeriko langsung meraih kotak obat tersebut. Ia dengan cekatan membersihkan dan membalut luka di tangannya sendiri. Semua orang sudah memahami bagaimana sifat Yeriko. Ia tidak akan pernah mau disentuh oleh wanita lain selain istrinya dan Bibi War – Wanita yang sudah merawatnya sejak kecil.

 

“Yer, ketemu. Ada enam pabrik karet dan tiga pabrik lem di kota ini. Semuanya tersebar di beberapa tempat. Aku suruh anak buahku menyebar secepatnya,” tutur Satria sambil menatap layar laptopnya. Ia mengirimkan pesan ke anak buahnya untuk menyebar ke beberapa titik.

 

“Yer, kamu siap-siap datengin si Refi. Jangan sampai dia lepas! Soal Yuna, kamu percayakan semuanya sama kami.”

 

Yeriko mengangguk. Ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha setenang mungkin menghadapi kekalutan dan ketakutan yang menyelimuti perasaannya.

 

“Chan, kamu pergi ke arah timur. Ada anak buahku yang sudah bergerak ke sana. Lutfi, kamu ke utara, ketemu sama anggotaku di sana. Aku langsung ke Selatan.”

 

Chandra dan Lutfi menganggukkan kepala. Mereka bergegas berangkat menuju lokasi yang dimaksud oleh Satria.

 

“Yan, kamu sama anggotamu langsung ke sebelah Barat!” perintah Satria. Ia bergegas mematikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas.

 

“Jheni, Icha, kalian standby di rumah!” pinta Yeriko sambil bangkit dari tempat duduk. Ia bersiap untuk menemui Refi. Ia memilih pakaian yang berkelas dan merapikan penampilannya. Ia tidak ingin Refi melihat kekacauan dirinya dan merasa kalau bisa menghadapi Yeriko dengan mudah.

 

Jheni dan Icha menganggukkan kepala. Mereka saling berpelukan saat pria-pria yang ada di ruangan tersebut pergi satu per satu.

 

“Jhen, semoga Yuna baik-baik aja. Aku nggak tega lihat dia dijahatin kayak gini,” tutur Icha.

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu tenang aja! Yuna itu kuat. Dia juga wanita yang baik dan cerdas. Tuhan pasti melindungi dia!” ucapnya. Ia berusaha menenangkan diri sendiri walau hatinya diselimuti kekhawatiran yang besar. Dalam hatinya, ia terus berdoa agar sahabatnya itu bisa pulang dengan selamat.

 

((Bersambung ...))

 

Apa yang akan dilakukan Tuan Ye untuk membalas perbuatan Refi? Tunggu kelanjutan ceritanya besok lagi ya...

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas