Thursday, February 12, 2026

Perfect Hero Bab 436 : Refi vs Belli

 


“Selamat sore, Mbak Refi ...!” sapa pemilik salon yang sudah sangat mengenal Refi.

 

“Sore ...!” balas Refi sambil tersenyum manis. “Aku mau paket perawatan seperti biasa ya!”

 

Pemilik salon tersebut mengangguk, ia segera memerintahkan karyawannya untuk melayani Refi.

 

Refi terus memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di perusahaan Yeriko. “Huft, gimana caranya bikin Yuna salah paham dan ninggalin Yeriko?” gumamnya dalam hati.

 

Refi terus memikirkan cara yang bisa ia lakukan agar Yuna bisa pergi dari kehidupan Yeriko dengan sendirinya. Tapi, semua cara yang terpikir di kepalanya lebih buruk dari yang sudah ia lakukan dan membuatnya semakin kesal.

 

“Hmm ... kalau aku nggak bisa bikin Yuna salah paham ke Yeri, gimana kalau aku bikin Yeriko yang salah paham dan membenci perempuan itu?” batin Refi sambil menatap wajahnya di cermin. Ia tersenyum sambil memikirkan rencana yang akan ia buat. Ia merasa kalau Yeriko belum benar-benar melupakan kenangan bersamanya.

 

Tak jauh dari tempat duduknya, Refi mendengar pembicaraan dua orang wanita yang tidak asing lagi. Ia menoleh ke ruangan sebelahnya yang hanya disekat dengan tiang-tiang pergola.

 

“Bel, apa kamu belum mau hamil lagi?” tanya Melan yang duduk di sebelah Bellina.

 

“Mau, Ma. Tapi belum hamil. Mana bisa mau dipaksa,” jawab Bellina.

 

“Usaha, dong! Kalau kamu nggak secepatnya punya anak dari Lian. Lama-lama si Lian cari perempuan lain.”

 

Bellina tak menyahut. Ia tak ingin berdebat dengan mamanya sendiri. Ia hanya menyimpan perasaan kesalnya di dalam hati.

 

“Kamu ini menantu satu-satunya di keluarga Wijaya. Kalau nggak bisa ngasih keturunan, bisa-bisa keluarga Wijaya mecat kamu sebagai menantu.”

 

“Ma, anakku baru aja meninggal. Lian juga nggak menuntut aku untuk segera punya anak.”

 

“Kamu nggak KB kan?” tanya Melan.

 

“Enggak, Ma. Pengen punya anak, masa malah KB?” tanya Bellina balik.

 

“Kenapa belum hamil-hamil juga?” tanya Melan. “Hubungan kamu baik-baik aja kan?”

 

“Baik, Ma. Udah usaha terus, emang belum jadi aja.”

 

“Kamu coba pengobatan herbal atau konsultasi ke dokter supaya bisa cepet hamil. Si Yuna itu kan cold uterus. Dia bisa hamil. Coba kamu tanya-tanya ke dia!”

 

“Tanya apa, Ma?”

 

“Dia pakai obat dan perawatan apa supaya bisa hamil?”

 

“Ogah banget tanya ke dia. Yang ada, dia malah ngecewain aku,” sahut Bellina.

 

 “Cuma tanya itu doang, apa susahnya?” tanya Melan.

 

“Susah, Ma. Mau ditaruh mana mukaku kalau aku tanya-tanya ke dia. Mama tahu sendiri si Yuna itu kayak apa. Udah ngeselin, kurang ajar, nggak sopan, tukang ngolok, tukang ngelawan ... euuh, yang jelek-jelek ada di dia semua!”

 

Melan tertawa kecil mendengar ucapan Bellina. “Kamu memang anak mama yang paling manis,” pujinya sambil menoleh ke arah Bellina.

 

Bellina tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Matanya tertuju pada pelanggan yang tak jauh darinya karena ada banyak orang yang mengerubungi dan meminta foto bersama.

 

“Ada apa, Mbak?” tanya Bellina pada salah seorang karyawan salon yang sedang melakukan perawatan pada rambutnya.

 

“Ada artis yang lagi viral, Refina.”

 

Bellina langsung menoleh ke arah kerumunan orang tersebut. Benar saja, wanita itu memang Refi. “Dia itu mantan pacarnya Yeriko ‘kan?” bisik Bellina dalam hati. “Bisa aku hasut untuk semakin membenci Yuna,” lanjutnya sambil tersenyum penuh arti.

 

“Kamu kenal sama perempuan itu?” tanya Melan.

 

Bellina mengangguk-anggukkan kepala. “Nggak kenal banget, cuma tahu aja.”

 

“Kalo itu sih, Mama juga tahu. Dia artis yang lagi viral itu ‘kan?”

 

Bellina mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tersenyum senang karena bisa bertemu dengan Refi di tempat ini. Ia harap Refi bisa membantunya, bekerja sama untuk membuat Yuna menderita.

 

“Ma, Mama pulang duluan ya!” pinta Bellina begitu mereka selesai mendapatkan perawatan di salon tersebut.

 

“Kamu mau ke mana?” tanya Melan.

 

“Aku ada urusan sedikit.”

 

“Bel, sejak kamu dan Lian tinggal di rumah sendiri. Kita jarang ketemu. Apa kamu nggak kangen sama Mama?” tanya Melan.

 

“Kangen, Ma. Makanya aku ajak Mama ke salon. Tapi, aku ada urusan penting banget. Mama tahu, aku juga punya kesibukan lain.”

 

Melan menghela napas. “Ya sudahlah. Lian juga butuh kamu untuk mendukung perusahaannya. Weekend nanti, nginap di rumah Mama ya!” pinta Melan.

 

“Iya, Ma.” Bellina memeluk tubuh Melan sambil mencium kedua pipinya.

 

“Ya udah, Mama pulang duluan!” pamit Melan. Ia tersenyum menatap Bellina dan bergegas pergi.

 

Bellina menganggukkan kepala. “Hati-hati ya, Ma! I love you ...” serunya sambil melambaikan tangan.

 

Bellina tersenyum senang. Ia mengambil tas tangannya dan melangkahkan kaki melewati Refi yang tak jauh dari pandangannya.

 

“Hei, kamu Refi ‘kan?” tanya Bellina sambil menghentikan langkahnya dan menatap Refi.

 

Refi langsung memutar kepalanya menatap Bellina. Ia tersenyum sinis dan mengalihkan pandangannya kembali ke cermin.

 

Bellina menahan geram melihat reaksi Refi yang hanya meliriknya tanpa membalas sapaannya. “Ini orang ngeselin banget? Sombong amat!” makinya dalam hati.

 

“Aku udah lihat berita kamu yang lagi viral di media sosial,” tutur Bellina. Ia berusaha mendekati Refi walau tidak mendapat sambutan baik.

 

Refi tersenyum sinis. Ia mengenal perempuan yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya itu. Ia sama sekali tidak tertarik untuk berhadapan dengan Bellina.

 

“Kamu mantan pacarnya Yeriko ‘kan? Suaminya Yuna, sepupuku.”

 

Refi menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Bellina.

 

“Aku udah lihat semua postingan kamu di media sosial. Kamu pasti nggak rela kalau Yeriko nikah sama Yuna ‘kan? Secara, Yeriko itu ganteng, kaya, penyayang dan bertanggung jawab. Siapa yang nggak mau sama dia,” tutur Bellina dengan mata berbinar.

 

Refi langsung menoleh ke arah Bellina. Ia merasa kalau pujian Bellina terlalu berlebihan. Raut wajahnya, seolah menginginkan Yeriko. “Kamu tahu banget gimana Yeriko?” tanya Refi.

 

Bellina menganggukkan kepala. “Dia kan suaminya sepupu aku. Nggak mungkin aku nggak tahu.”

 

Refi tersenyum sinis. “Suami kamu juga mantan pacarnya Yuna, kan?”

 

“Kamu tahu dari mana?”

 

Refi tersenyum sinis. “Kamu pikir, aku nggak tahu. Aku kenal sama suami kamu itu. Dia masih ngejar-ngejar Yuna sampai sekarang. Kamu yang ngerebut pacar sepupu kamu sendiri. Jangan-jangan, sekarang kamu menginginkan Yeriko juga?”

 

Bellina gelagapan mendengar pertanyaan Refi. Kemudian, ia menggelengkan kepala. “Nggak. Aku nggak menginginkan Yeriko.”

 

Refi hanya tersenyum menanggapinya. Ia bisa membaca raut wajah Bellina yang terlihat sangat gugup.

 

“Aku suka banget sama video yang kamu bikin itu. Penuh kenangan dan romantis banget. Kamu bikin sendiri?” tanya Bellina.

 

Refi menganggukkan kepala. “Kamu mau apa?” tanyanya balik.

 

“Maksud kamu?” tanya Bellina sambil mengernyitkan dahi.

 

“Nggak usah kebanyakan basa-basi!” pinta Refi. “To the point aja! Sebenarnya, kamu mau ngomongin apa?”

 

Bellina tersenyum ke arah Refi. “Kamu lumayan peka juga,” jawabnya sambil tersenyum. “Aku mau menawarkan kerjasama buat kamu.”

 

“Kerjasama apa?” tanya Refi.

 

“Kamu masih menginginkan Yeriko balik ke kamu lagi ‘kan?” tanya Bellina sambil menatap wajah Refi.

 

“Kamu bisa bantu apa?” tanya Refi tanpa menoleh ke arah Bellina.

 

“Aku bisa bantu kamu buat misahin Yuna dan Yeriko.”

 

“Caranya?”

 

“Aku kenal banget sama Yuna. Kamu juga kenal banget sama Yeriko. Kalau kita bekerja sama, pasti akan lebih mudah untuk membuat mereka berpisah.”

 

Refi langsung menoleh ke arah Bellina. “Kenapa kamu mau misahin mereka? Kamu ngincar Yeriko juga?”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Nggak mungkin aku ngincar Yeriko. Aku udah bersuami, Ref. Aku cuma pengen lihat Yuna menderita karena dia juga udah bikin aku menderita.”

 

Refi menaikkan kedua alisnya sambil menatap Bellina. “Oh ya? Bukan karena ngincar Yeriko juga? Bukannya ... Wilian akan punya kesempatan besar untuk balik ke Yuna lagi kalau Yeri sama Yuna pisah?”

 

Bellina gelagapan menanggapi pertanyaan Refi. Ucapan Refi memang ada benarnya. “Iya juga, ya? Kalau sampai Yuna berpisah sama Yeriko. Si Lian bakal makin ngejar-ngejar Yuna?” batin Bellina.

 

Refi terus menatap wajah Bellina. Ia menunggu Bellina memberikan respon untuk pertanyaannya kali ini.

 

“Mmh ... aku bukan ngincar Yeriko. Kamu jangan salah paham dulu!” pinta Bellina menanggapi tatapan mata Refi. “Aku cuma mau lihat Yuna menderita. Dia sayang banget sama Yeriko karena suaminya itu selalu jadi pelindung buat dia. Kalau Yeriko bisa kembali sama kamu, hidup dia pasti akan menderita. Aku nggak akan ngerebut Yeriko dari kamu.”

 

Refi tersenyum sinis menanggapi ucapan Bellina. Ia tidak mempercayai ucapan yang keluar dari mulut wanita itu. Ia tetap menganggap kalau Bellina juga menginginkan Yeriko, sosok pria idaman semua wanita yang ada di dunia ini.

 

“Ref, aku mau bantu kamu buat misahin mereka. Gimana?” tanya Bellina. Ia berharap kalau Refi mau bekerja sama dengannya untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga Yuna dan membalaskan dendam pribadinya.

 

Refi hanya tersenyum menanggapi ucapan Bellina. “Aku nggak tertarik buat kerjasama sama kamu.”

 

Bellina mengerutkan hidungnya sambil menatap Refi. “Aku nawarin bantuan cuma-cuma buat kamu. Kamu malah kayak gini? Sombong banget jadi cewek!” ucapnya kesal.

 

“Kamu pikir, aku bakal tertarik buat kerjasama sama orang yang juga terobsesi sama Yeriko? Aku nggak akan ngebiarin kamu punya kesempatan buat deketin Yeri!” tegas Refi.

 

“Sialan ...!” umpat Bellina dalam hati. Tapi, ia memaksa bibirnya untuk terus tersenyum.

 

Refi terlihat sangat santai. Ia hanya melirik Bellina yang duduk di sampingnya.

 

Bellina semakin kesal karena Refi tak mau bekerjasama dengannya. Justru mengajaknya untuk berperang. “Cewek nggak tahu diuntung!” maki Bellina sambil bangkit dari tempat duduknya. “Masih bagus ada yang mau bantuin kamu. Malah kayak gitu,” omelnya sambil melangkah pergi.

 

Refi hanya tersenyum sinis sambil menatap Bellina dari ekor matanya. Ia sama sekali tak ingin menahannya. Membiarkan wanita itu pergi begitu saja karena ia tidak ingin ada wanita lain yang juga menginginkan Yeriko. Ia ingin memiliki Yeriko seorang diri. Tak ada orang lain yang boleh menginginkannya. Ia akan tetap mencari cara untuk menyingkirkan Yuna dari sisi Yeriko dan membuat pria itu kembali ke pelukannya.

 

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat ngais ide setiap hari.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 435 : Nyaris Hopeless

 


“Ay, kamu nggak papa?” tanya Yuna begitu Refi keluar dari ruang kerja suaminya. Ia khawatir dengan perasaan suaminya yang berhadapan dengan Refi. Mungkin saja, suaminya itu menyimpan rasa sakit yang tak mampu untuk diungkapkan.

 

“Aku nggak papa. Kamu jangan terpengaruh sama Refi, percaya sama aku ya!” pinta Yeriko.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Kita makan dulu, yuk! Aku laper banget.”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. Mereka bangkit dari sofa, melangkah menuju meja lain yang ada di dekat jendela. Mereka menikmati makan siang sambil menatap langit yang terlihat jelas dari balik kaca gedung tersebut.

 

Yuna dan Yeriko saling diam selama beberapa saat. Sesekali, Yuna melirik suaminya yang terlihat begitu tenang menyikapi masalahnya sendiri. Sehingga, membuat hatinya justru khawatir.

 

“Ay ...!” panggil Yuna lirih saat mereka sudah selesai makan siang.

 

“Mmh ...” Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna.

 

“Kamu nggak papa?” tanya Yuna untuk kedua kalinya.

 

“Nggak papa.”

 

Yuna menghela napas sejenak. “Apa kamu menyesal karena berpisah sama Refi?” tanya Yuna sambil menggigit bibirnya.

 

Yeriko menggelengkan kepala. Ia memutar tubuhnya sambil meraih tangan Yuna. “Aku memang menyesal sama masa laluku. Yang aku sesali, kenapa aku nggak mengenal kamu lebih dulu,” tutur Yeriko sambil menatap wajah Yuna. Dari dinding-dinding bola matanya, mengeluarkan kepedihan yang tak bisa dijelaskan.

 

Yuna menggigit bibirnya. Ia tak kuat menahan raut wajah Yeriko yang terlihat sedih, hatinya ikut tertusuk-tusuk saat Yeriko menatapnya.

 

Yeriko mengecup punggung tangan Yuna. “Hal yang paling membahagiakan buatku adalah mengenal kamu. Hal besar yang aku sesali dalam hidupku adalah tidak mengenal kamu lebih dulu. Kamu terlalu indah untuk hatiku yang sederhana ini. Jangan lepasin hati kamu dari genggamanku!” pintanya sambil menatap Yuna dengan mata berkaca-kaca.

 

Yuna langsung memeluk tubuh Yeriko. Air matanya ikut mengalir deras. Ia sangat bahagia memiliki suami yang begitu istimewa. “Aku nggak akan ninggalin kamu. Aku janji, akan selalu percaya sama kamu. Jangan sedih ya! Aku sakit banget lihat kamu kayak gini.”

 

Yeriko memeluk erat tubuh Yuna. “Aku takut, masa laluku akan melukai kamu.”

 

Yuna melepas pelukkannya dan tersenyum ke arah Yeriko. “Kalau kamu sudah benar-benar melepaskan semua masa lalu kamu, nggak akan ada yang terluka. Ada rasa sakit yang lebih sakit lagi dari apa yang pernah aku lalui selama ini, yaitu melihat kamu bersedih.”

 

“Kita punya rasa yang sama. Aku juga nggak mau lihat kamu bersedih,” tutur Yeriko.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. “Oke. Aku akan selalu bahagia untuk kamu. Nggak perlu mengkhawatirkan aku. Aku percaya dan nggak pernah meragukan perasaan kamu.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengelus pipi Yuna yang lembut.

 

Yuna menghela napas. “Kira-kira, Refi bakal membuktikan ancamannya atau nggak ya? Aku ngerasa agak khawatir. Aku takut, akan melukai anak kita.”

 

“Aku pasti menjaga kamu dan anak kita. Kamu percaya sama aku ya!”

 

Yuna menganggukkan kepalanya. Ia menatap wajah Yeriko penuh cinta. Ia tak ingin mereka terlarut dalam kegelisahan dan kesedihan. Sehingga, mereka bekerjasama untuk saling menghibur satu sama lain. Agar tak perlu ada kesedihan, sesulit apa pun hal yang akan mereka lalui.

 

 

 

...

 

 

 

 

 

“Pasangan sialan!” maki Refi begitu keluar dari kantor Galaxy Group. Ia langsung masuk ke dalam mobil.

 

“Kenapa?” tanya Deny yang sudah menunggunya di mobil.

 

“Cewek sialan itu ada di sana. Aku udah gagal bikin dia salah paham sama Yeriko,” jawab Refi ketus.

 

“Kok, bisa?”

 

“Dia nempel terus sama Yeriko. Aku nggak punya kesempatan buat deketin Yeriko lagi. Udah gitu, si Yeri malah sengaja pamer kemesraan di depanku. Ngeselin banget!”

 

Deny tertawa kecil. “Kamu masih belum berhasil juga?”

 

Refi menghela napas. “Mereka susah banget dipisahkan. Ada laki-laki yang begitu. Nggak tergoda sama sekali sama perempuan lain.”

 

“Bagus yang begitu ‘kan?” sahut Deny sambil tertawa kecil.

 

Refi menganggukkan kepala. “Itu yang bikin aku jatuh cinta sama dia. Di mana coba bisa dapet cowok kayak gitu? Sayangnya, aku baru tahu setelah aku berpisah sama dia.”

 

Deny hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Refi. “Berusaha lagi!” pintanya. “Gedung ini mewah banget. Tuan Muda itu pasti beneran kaya raya.”

 

“Di otak kamu, nggak ada yang lain selain uang?” tanya Refi kesal.

 

“Otakku udah di-setting untuk mendapatkan keuntungan.”

 

Refi menghela napas. “Aku udah capek kayak gini terus. Kehadiranku selalu ditolak sama Yeri. Lama-lama aku males kalo kayak gini terus,” tuturnya tak bersemangat.

 

“Belum apa-apa, kamu udah nyerah duluan?” tanya Deny sambil mengendarai mobilnya.

 

“Aku capek, Den.”

 

“Ref, kamu belum ada setahun memperjuangkan Tuan Muda itu. Palingan, dua tahun lagi ... cintanya ke perempuan itu memudar. Biasanya, orang kalau udah berumah tangga nggak akan seromantis waktu masih pacaran. Akan lebih mudah untuk dihancurkan.”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Kamu jangan sia-siain Tuan Muda kaya raya itu. Ladang duit buat kita.”

 

“Aku beneran cinta sama dia, bukan cuma mau duitnya aja. Nggak kayak kamu!” dengus Refi.

 

Deny tertawa kecil. “Nggak usah munafik. Kamu suka sama dia karena dia kaya ‘kan? Kalo dia cuma kuli bangunan, nggak mungkin kamu suka sama dia.”

 

“Ya iyalah. Punya suami ganteng dan kaya raya, itu impian semua orang.”

 

“Kenapa dulu kamu sia-siain dia?”

 

“Aku mau ngejar impianku, Den. Walau punya pacar kaya, nggak mungkin mintain uang dia terus. Keluarganya dia, nggak ada yang suka sama aku.”

 

Deny tertawa kecil. “Kamu sendiri yang aneh,” gumamnya.

 

“Apa!?”

 

“Nggak papa. Mau pergi ke mana lagi?”

 

“Cari makan. Laper.”

 

“Mau makan di mana?”

 

“Jamoo.”

 

“Oke.”

 

“Abis makan, kita ke salon.”

 

“Salon yang mana?”

 

“Tempat biasa,” jawab Refi sambil menyandarkan kepalanya ke kursi mobil.

 

Deny melajukan mobilnya sambil bersenandung santai. Di kepalanya, ia terus memikirkan cara untuk menakhlukkan Tuan Muda itu dan menikmati semua kekayaannya.

 

“Eh, biasanya ... cowok yang sukses itu gampang digoda dengan cewek cantik dan seksi. Itu si Tuan Muda kenapa nggak doyan cewek seksi? Dia normal ‘kan?” tanya Deny.

 

“Normal, Den. Kalo nggak normal, cewek itu nggak akan hamil!” sahut Refi kesal.

 

“Iya juga, sih. Cewek itu pintar juga. Dia punya trik yang bagus. Dia bisa langsung hamil. Otomatis, semua kekayaan pria itu akan diwariskan untuk anaknya. Beruntung banget tuh cewek.”

 

“Den ...! Bisa nggak kalo nggak muji-muji dia terus!” seru Refi. Hatinya makin panas mendengar ucapan Deny. “Heran, deh. Kenapa semua orang selalu melihat Yuna? Apa bagusnya dia. Mukanya pas-pasan, nggak tinggi, nggak pernah make-up, style-nya dia biasa aja.”

 

Deny tertawa kecil. “Dia memang kelihatan biasa aja. Tapi, harga sandalnya dia doang bisa belasan juta.”

 

“Kamu ...!?”

 

Deny tertawa kecil. “Aku sudah menyelidiki kehidupan mereka setiap harinya. Tuan Muda itu kaya raya, dia bisa aja menikmati liburan setiap hari, pergi ke salon kecantikan atau shopping. Tapi ... aku perhatikan pergerakan cewek itu nggak jauh. Cuma di dalam rumah atau ke apartemen ayahnya. Hidupnya sederhana banget.”

 

“Bukan sederhana, tapi kampungan!” sahut Refi kesal. “Zaman sekarang, mana ada sih orang yang betah berlama-lama di dalam rumah?”

 

Deny tertawa kecil. “Yang aku perhatikan ... dia memang nggak pernah pergi ke tempat-tempat yang sering didatangi wanita sosialita.”

 

“Kamu udah hafal jadwal dia? Perhatian banget!” celetuk Refi.

 

“Kamu yang nyuruh aku untuk mantau dia. Jelas aku mendapatkan banyak hal. Termasuk ... dia jauh lebih baik dari kamu,” tutur Deny sambil tersenyum ke arah Refi.

 

Refi menatap kesal ke arah Deny yang sudah memarkirkan mobilnya. Ia tak banyak berkata lagi. Bergegas keluar dari mobil dan melangkah masuk ke restoran untuk menikmati makan siangnya yang sudah terlambat sejak beberapa menit lalu.

 

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat ngais ide setiap hari.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 434 : Misi Refi Gagal Lagi

 


“Yer, kita bisa ngobrol berdua aja?” tanya Refi sambil menatap Yeriko.

 

“Yuna bukan orang lain buat aku. Ngomong aja!”

 

Refi menarik napas dalam-dalam sambil menatap Yeriko.

 

“Ay, aku bikinin teh dulu ya!” tutur Yuna sambil mengangkat pantatnya dari sofa. Ia mencari alasan untuk tidak mendengarkan pembicaraan Refi dan suaminya.

 

Yeriko langsung menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Nggak usah pergi!” tuturnya sambil mengecup ujung kepala Yeriko.

 

Refi tersenyum menatap Yeriko. Ia sangat kesal melihat Yeriko dan Yuna yang memamerkan kemesraan. Namun, ia tak punya pilihan lain karena ini adalah satu-satunya kesempatan untuk membuat Yuna salah paham dengan suaminya.

 

“Kenapa diam? Kalau kamu nggak mau ngomong, aku yang mau ngomong sama kamu,” tutur Yeriko sambil menatap Refi.

 

Refi menarik napas dalam-dalam. “Aku ke sini mau bahas soal video yang aku buat.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu  udah menyadari kesalahan kamu?”

 

“Kamu menganggap ini kesalahan?” tanya Refi.

 

“Terus apa? Kehebohan?”

 

Refi terdiam sejenak.

 

“Apa yang sebenarnya kamu mau, Ref? Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Buat apa kamu bikin video kayak gitu dan bikin heboh semua orang?”

 

Refi tersenyum menanggapi pertanyaan Yeriko. “Aku cuma mau bikin kenang-kenangan tentang cerita cinta kita.”

 

Yuna tersenyum sinis ke arah Refi. Ia sangat kesal dengan sikap Refi yang begitu menjijikkan.

 

Yeriko menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia teringat tiga tahun lalu saat berlutut di hadapan Refi, memohonnya untuk tidak pergi meninggalkan dirinya. Tapi, Refi tetap pergi demi mengejar karir dan impiannya.

 

“Yer, aku tahu ... nggak mudah untuk ngelupain semua kenangan yang terjadi di antara kita. Terlalu banyak hal manis yang udah kita lalui bareng. Bahkan, tahun kemarin kamu masih ngucapin ulang tahun buat aku.”

 

Yeriko terdiam, tatapannya terlihat santai. Namun tak menyanggah ucapan Refi.

 

Yuna meremas bajunya sendiri saat melihat Refi menatap suaminya penuh cinta.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil melirik Yuna. Tangannya yang melingkar ke perut Yuna, terus mengelus lembut perut Yuna yang sedang mengandung anaknya.

 

“Apa pun yang terjadi di masa lalu kita. Anggap aja, kita nggak pernah melewatinya,” tutur Yeriko.

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. Ia tak bisa membaca apa yang dirasakan suaminya saat ini. “Apa kamu terluka sama masa lalu kamu?” tanya Yuna dalam hati.

 

Refi tersenyum. “Aku nggak akan bisa ngelupain semuanya. Selama aku masih hidup, nggak akan bisa melupakan apa yang sudah terjadi di antara kita. Aku yakin, dalam hati kecil kamu juga seperti itu ‘kan?”

 

Yeriko tertawa kecil sambil memijat keningnya. “Kamu nggak usah ngimpi! Aku nggak pernah menganggap itu semua sebagai sesuatu yang spesial.”

 

“Aku yang akan menganggap itu semua spesial. Aku harap, kamu cuma tersesat sementara dan mau kembali ke keadaan seperti dulu lagi. Keadaan di mana kita saling mencintai dan menyayangi.”

 

“Ref, aku udah nikah. Kamu nggak bisa jadi perempuan yang lebih bermartabat sedikit aja? Nggak perlu ganggu rumah tangga orang. Di luar sana, masih ada banyak cowok yang mau sama kamu. Kamu cantik, terkenal dan berbakat. Nggak susah buat cari penggantiku,” tutur Yeriko.

 

“Aku nggak akan ganggu rumah tangga kalian, kok,” ucap Refi sambil tersenyum.

 

Yuna menatap kesal ke arah Refi. “Jelas-jelas, tadi kamu bilang mau ambil Yeriko dari aku!” ucapnya dalam hati.

 

“Yer, kita pernah saling mencintai. Sampai sekarang, aku masih cinta sama kamu. Aku harap, kamu nggak pernah benar-benar melupakan cinta kita meskipun kamu sudah bersama dengan wanita lain,” ucap Refi.

 

Yeriko menggelengkan kepalanya. “Aku memang pernah cinta sama kamu. Itu dulu. Sebelum kamu mencampakkan aku begitu aja.”

 

“Maafin aku ...! Kalau waktu bisa diputar lagi, aku nggak mau meninggalkan kamu dan membiarkan kamu menunggu.”

 

“Udah, Ref!” seru Yeriko. “Sekarang, apa mau kamu?” tanya Yeriko. “Nggak usah kebanyakan basa-basi!” lanjutnya menahan kesal.

 

Refi menghela napas. “Aku cuma mau ... kamu jujur sama aku kalau kamu masih cinta sama aku, Yer.”

 

“Aku? Cinta sama kamu? Ck, kamu ngerti bahasa manusia ‘kan? Cintaku buat kamu udah nggak ada sejak tiga tahun lalu waktu kamu memilih untuk pergi ke Paris. Yang nggak punya perasaan itu kamu!?” sentak Yeriko sambil bangkit dari duduknya.

 

Yuna langsung menahan lengan Yeriko agar duduk kembali. “Sabar, Ay!” bisiknya lirih.

 

“Yer, aku pergi ke Paris untuk mengejar impianku. Supaya aku bisa sukses dan layak berada di samping kamu.”

 

Yeriko tersenyum sinis. “Saat kamu udah sukses di sana. Apa kamu pernah mikirin keadaanku?”

 

Refi langsung menatap mata Yeriko. “Yer, aku selalu mikirin kamu. Aku pikir, kamu akan tetap setia menunggu aku kembali. Bukannya malah menikahi wanita lain.”

 

“Aku nggak pernah menyesali keputusanku sendiri. Aku menikahi Yuna karena aku mencintai dia.”

 

Refi tersenyum sinis. “Kamu yakin? Bukannya kamu jadiin dia sebagai pelampiasan karena kamu nggak bisa lupain aku?”

 

“Itu asumsi kamu sendiri. Kalau cuma sebagai pelampiasan, aku nggak perlu menikahi Yuna. Di luar sana, banyak perempuan yang mau ditiduri tanpa harus menikah.”

 

Refi terdiam. Kalimat Yeriko tepat menusuk jantungnya. Ia tidak bisa berkata-kata. Namun, ia tersenyum saat melihat Yuna juga diam. Ia harap, Yuna akan semakin ragu dengan perasaan Yeriko sehingga ia bisa dengan mudah memisahkan keduanya.

 

“Ref, dramamu itu bagus banget. Kamu pikir, aku nggak tahu apa maksud kamu ngomong kayak gini? Kamu mau bikin kami berantem?” tanya Yuna kesal.

 

Refi membelalakkan matanya. “Bukan itu maksud aku, Yun. Aku cuma mau mengungkapkan perasaan antara aku dan suami kamu. Aku kasihan sama kamu karena Yeriko cuma manfaatin kamu doang untuk pelampiasan.”

 

Yuna tersenyum sinis. “Aku nggak percaya sama semua yang kamu omongin. Aku lebih percaya sama suamiku.”

 

“Nggak usah naif, Yun. Suatu saat, kamu bakal ngerasain kalau suami kamu ini nggak beneran cinta sama kamu,” tutur Refi kesal.

 

“Aku yang ngerasain, suamiku cinta sama aku atau enggak. Kamu nggak usah terlalu peduli sama perasaanku. Lebih baik, kamu urus diri kamu sendiri. Cari cowok lain yang mau sama kamu. Bukannya ganggu rumah tangga orang!”

 

Refi langsung bangkit dari tempat duduk sambil menunjuk wajah Yuna. “Kamu ...!? Kamu yang udah ngerusak hubungan aku sama Yeriko. Sekarang, kamu malah ngatain aku ngerusak rumah tangga kamu. Kamu sadar nggak kalau udah ngerebut Yeriko dari aku!”

 

“Aku nggak ngerebut Yeriko, Ref. Ish ... kenapa sih otak kamu ini pikirannya selalu aneh. Kamu tahu banget kalau Yeriko nggak ada hubungan dengan siapa pun saat menikah sama aku. Kamu udah putus sama dia. Kenapa masih aja ngotot mau balik lagi saat dia udah nikah sama aku?”

 

“Karena Yeriko masih cinta sama aku kalau kamu nggak kecentilan godain dia!” seru Refi.

 

Yeriko menggaruk keningnya yang tidak gatal, ia hanya tersenyum kecil melihat perdebatan istri dan mantan pacarnya itu.

 

“Ref, kamu nggak usah racuni otak istriku!” pinta Yeriko lembut sambil menatap tajam ke arah Refi. “Aku yang jatuh cinta lebih dulu sama dia sejak pertama kami ketemu.”

 

“Aku nggak percaya. Bukannya kamu cuma cinta sama aku, Yer.”

 

“Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah ... pernah cinta sama kamu!” tegas Yeriko. Ia semakin kesal, tidak tahan melihat tingkah Refi yang semakin menggila. Ia takut, kalimat yang keluar dari mulut Refi akan mengganggu perasaan istrinya.

 

Refi menatap Yeriko dengan mata berkaca-kaca. “Kamu setega ini sama aku? Aku juga punya hati, Yer. Gimana kalau Yuna yang ada di posisi aku? Kamu saat ini cinta banget sama dia. Bisa jadi, suatu saat Yuna kamu ginikan juga.”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna sambil memeluk erat tubuh istrinya itu. Ia khawatir, Refi benar-benar mempengaruhi pemikiran Yuna. “Pergi dari sini, Ref!” pinta Yeriko.

 

Refi tersenyum sinis. Ia sudah gagal membuat Yuna salah paham, tapi ia tidak akan menyerah begitu saja.

 

“RIYAN ...!” teriak Yeriko.

 

Riyan langsung beregegas masuk ke dalam ruangannya. “Ada apa, Pak Bos?”

 

“Bawa perempuan ini keluar dari sini!” perintah Yeriko sambil menunjuk Refi dengan dagunya.

 

“Baik, Pak Bos!” Riyan langsung meraih lengan Refi untuk membawa gadis itu keluar.

 

Refi menepiskan tangan Riyan. “Aku bisa keluar sendiri!” ucapnya kesal.

 

Yeriko memberi isyarat dengan tangannya agar Refi segera pergi dari ruangannya.

 

Refi menatap tajam ke arah Yeriko. “Yer, aku udah berusaha menjaga bersikap baik sama kamu dan istrimu. Tapi, kamu masih aja memperlakukan aku kayak gini. Aku nggak terima kalian perlakukan seperti ini. Aku bakal balas apa yang sudah kamu lakuin ke aku! Aku bakal bikin Yuna ngerasain apa yang udah aku rasain!” ancamnya sambil melirik Yuna.

 

“Kalau kamu berani menyentuh istri dan anakku, aku nggak akan pernah maafin kamu seumur hidup!” balas Yeriko sambil menunjuk wajah kamu.

 

“Aku nggak perlu maaf kamu. Asal bisa lihat kalian menderita, aku udah puas!” seru Refi.

 

“Yan, cepet bawa dia pergi dari sini!” Yeriko tak sabar melihat Refi yang masih ada di ruangannya.

 

Riyan akhirnya memaksa Refi keluar dari ruangan tersebut.

 

Refi terus memaki Yuna dan Yeriko sambil keluar. Ia sangat kesal karena Yeriko memperlakukan dirinya seperti orang yang tak punya hati. Ia berniat untuk membalas semuanya dan membuat Yuna benar-benar menderita.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Buat teman-teman yang nggak suka konflik berat, boleh skip dulu babnya karena akan menuju klimaks. Sapa terus di kolom komentar biar author makin gila semangat menulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas