Cerita Kehidupan yang Menginspirasi dan Menghibur by Rin Muna a.k.a Vella Nine

Monday, March 24, 2025

Kamu Bukan Tuan Atas Emosiku







Suatu hari aku duduk di sebuah forum diskusi di mana aku adalah penanggung jawab sebuah kegiatan. Ada beberapa hal yang perlu dievaluasi dan aku belum memahami seperti apa sifat orang-orang yang ada di lapangan kala itu. 
Sebagai penanggung jawab, aku memilih untuk banyak diam dan mendengarkan. Mencoba memahami satu per satu apa yang mereka inginkan dan mencocokkannya dengan beberapa wawancara kecil yang telah aku lakukan secara individu sebelumnya. 

Ada satu hal yang cukup mengejutkan bagiku dan cukup memancing emosi ketika koordinator lapangan mencoba menyampaikan ke dalam forum tentang kesalahan-kesalahan yang aku sendiri tidak pahami. Dia bilang sudah berkomunikasi denganku, tapi aku tahu persis bahwa tidak ada komunikasi apa pun di antara kami. Bahkan semua rencana kerja yang aku buat, dibuat berantakan oleh koordinator lapangan yang bisa seenaknya mengubah jadwal tanpa koordinasi. 
Jika aku tidak bisa mengendalikan emosiku, tentunya aku akan marah. Aku akan tidak terima dengan pernyataan dia yang diungkapkan di depan banyak orang, tapi tidak pernah dia ungkapkan langsung kepadaku sebelumnya. 
Aku tidak bisa mengontrol apa yang orang lain ucapkan, tapi aku bisa berusaha mengontrol bagaimana caraku meresponnya. 
Aku hanya bertanya dalam hati, "apa maksud orang ini?"
Aku tidak merespon apa pun. Mungkin, semua orang akan menilai bahwa ucapan dia benar, sedang aku yang bersalah dan harus menanggung semuanya. Tapi kita tahu persis apa yang terjadi dan seberapa besar ketidakjujuran yang sedang ia ciptakan. 

Sampai forum diskusi selesai, aku hanya berpikir dan berdialog dengan diriku sendiri. Aku tahu jika aku sedang berhadapan dengan orang yang manipulatif dan pembohong patologis. Itulah sebabnya aku tidak ingin merespon apa pun. Aku tidak ingin bereaksi apa pun meski aku adalah tipe orang yang suka berdebat. Aku tidak ingin berdebat kosong dengan seseorang yang sedang berusaha memancing emosiku. Aku tidak ingin berdebat dengan orang yang manipulatif dan pembohong patologis. Aku tidak perlu validasi dari sana-sini untuk mendapatkan pembenaran karena aku sudah tahu siapa sesungguhnya yang benar dan yang salah. Suatu hari nanti, kebenaran akan menemukan jalannya. 


Kemudian, ada satu waktu di mana ada seseorang yang datang padaku untuk memancing emosiku. Dia datang padaku dan berkata, "Mbak, si A ada bilang ke aku kalau Mbak Rina suka makan uang anak-anak taman baca".
Aku terkejut dan nyaris emosi dalam waktu beberapa detik. Tapi kemudian aku berhasil mengendalikan diriku sendiri dan memilih untuk tersenyum. Semua orang tahu kalau taman baca aku dirikan secara pribadi. Belajar di taman baca selalu gratis. Semua biaya operasional (kebersihan, listrik, air, dll.) aku tanggung secara pribadi. Lalu, bagaimana aku bisa dikatakan makan uang taman baca? Sedang uang untuk taman baca pun, aku mengeluarkan dari kantongku sendiri. 

Beberapa waktu kemudian, aku duduk di forum persaudaraan. Seseorang menyampaikan berita kepadaku bahwa si B berkata, "Kapok jadi janda!" 
Aku hanya bisa beristigfar mendengar kalimat yang begitu bersemangat menginaku. Terlebih, saat itu memang aku baru saja menyandang status "janda". Aku berusaha keras mengendalikan emosiku. Aku tersenyum dan berkata, "Nggak papa. Pada akhirnya, semua orang akan jadi janda/duda. Hanya soal waktunya saja yang berbeda."

Tak sekedar tiga hal itu saja yang berusaha membangkitkan emosiku. Masih ada banyak kalimat buruk yang kerap kudengar di luar sana dan sampai ke telingaku. 
Aku tidak emosi. Aku hanya berpikir, "apa maksudnya orang ketiga menyampaikan ucapan itu ke aku? Apakah ada indikator untuk mengadu domba kami? 
Meski perkataan itu jujur dan apa adanya, aku tetap tidak bisa merespon dengan emosi. Aku sudah terbiasa mendapatkan penghinaan dan diremehkan. Aku biasa mudah emosi, tapi aku selalu bisa mengolah emosiku. Aku tidak akan emosi untuk hal-hal yang tidak layak untuk diperjuangkan. 
Aku belajar banyak hal untuk bisa mengolah emosi, mulai dari tokoh-tokoh Yunani kuno sampai tokoh-tokoh Islami yang mengajarkan banyak pola pikir sehat. Sehingga, aku tidak akan mudah untuk emosi. 

Aku memilih untuk bisa merespon perkataan/tindakan orang lain dengan diam dan tenang. Bukan aku lemah atau tidak bisa bicara, tapi karena aku tidak perlu bicara dan aku merasa tidak perlu merespon apa pun yang tidak layak untuk kuperjuangkan. 

Aku adalah pemilik emosiku sendiri. Tidak ada orang lain yang bisa mengendalikannya, apalagi menjadi tuan bagi emosiku. Tidak ada yang bisa menyakitiku hanya dengan kata-kata karena aku tidak mudah untuk terpengaruh. 
Sifatku adalah menganalisa keadaan, bukan ingin menjadi pengendali keadaan. Jadi, aku tidak akan mudah terpengaruh dengan kata-kata orang lain yang berusaha untuk menjatuhkan harga diriku. 
Sudah begitu banyak kalimat penghinaan yang ditujukan ke aku, tapi tidak pernah dibicarakan padaku langsung, selalu dibicarakan di depan orang lain. Entah apa maksudnya. Tapi aku enggan menghadapi orang-orang yang seperti itu. Sedang aku tidak punya waktu untuk meresponnya, apalagi untuk balas membicarakan keburukan mereka. 

Sesungguhnya, satu kalimat saja yang aku tuliskan ketika emosi, bisa diketahui oleh banyak orang di dunia ini. 

Bukankah mudah bagiku menghancurkan reputasi orang lain? Sedang mereka yang ingin menghancurkan reputasiku hanya bisa sebatas di kampung sendiri. 

Aku memilih diam bukan karena aku takut atau lemah. Tapi karena aku justru sangat kuat karena bisa mengendalikan emosiku sendiri. Aku tidak ingin emosi yang menguasai diriku, apalagi ada orang lain yang menjadi tuan atas emosiku. 

Aku berusaha untuk merespon dengan baik setiap kalimat atau tindakan negatif dari orang lain. Tidak semua hal harus aku dengarkan. Tidak semua saran orang harus aku laksanakan. Ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang lain terhadapku.

Jika kamu juga tidak suka dengan sikapku, cobalah untuk merenung sejenak! 
Benarkah kamu benci denganku karena sikapku atau kamu sedang bermasalah dengan hati dan pikiranmu sendiri? 


Ingatlah, kamu bukan tuan atas emosiku! 
Kamu bukan orang yang berhak menggugah emosiku untuk hal-hal yang tidak layak untuk aku perdebatkan. 
Kalau kamu kecewa, itu bukan karena aku, tapi karena kamu tidak bisa mengolah masalahmu sendiri sehingga mengorbankan orang lain untuk sebuah pembenaran/validasi.



Sunday, March 23, 2025

Menulis Adalah Luapan Emosi yang Tidak Berisik

 


KENAPA KITA HARUS MENULIS?

Banyak orang bertanya tentang kenapa harus menulis?

Menulis adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tanpa bisa membaca dan menulis, kita tidak bisa berkomunikasi dan menyampaikan pendapat kita pada orang lain.

Allah SWT menurunkan wahyu pertamanya yakni "Iqro" kepada Nabi Muhammad SAW. Iqro' memiliki makna "bacalah!"

Maka, perintah membaca adalah perintah yang pertama kali diturunkan pada manusia. Perintah membaca, berarti juga merupakan perintah untuk menulis. Sebab, tak akan ada bacaan jika tidak ada yang dituliskan.

Menulis bukan sekedar perintah untuk menghadirkan bahan bacaan yang baik kepada pembacanya. Tapi menulis juga memiliki banyak manfaat positif yang bisa kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memiliki kebiasaan menulis, cenderung memiliki pemikiran yang sehat, wawasan yang luas, mampu mengendalikan emosinya, dan berbicara dengan teratur.


Menulis adalah self healing (proses pemulihan diri secara emosional, mental, dan fisik tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain) yang paling baik. Menulis mampu membuat emosi kita menjadi lebih stabil tanpa melibatkan orang lain.


Menulis dengan jujur dan apa adanya adalah cara untuk meluapkan emosi kita tanpa berisik. Kita tidak perlu berteriak atau mencaci maki orang lain yang justru akan menimbulkan masalah baru. Kita tidak perlu melibatkan bantuan orang lain untuk menyembuhkan mental kita sendiri ketika kita harus berhadapan dengan masalah kehidupan yang sangat berat.


Salah satu alasan kenapa aku harus menulis adalah untuk mencurahkan apa yang terpendam di dalam hati dan pikiranku ke dalam bentuk yang lebih bermanfaat. Mungkin, untuk sebagian orang ini terlalu lebay. Sedikit-sedikit harus sharing tentang kehidupan dan pengalamannya dalam bentuk tulisan atau di media sosial. Bukan tidak menutup kemungkinan kalau banyak orang yang nyinyir dengan apa yang aku lakukan. 

Sempat merasa kurang percaya diri dan kembali menutup diri. Tidak sharing apa pun tentang kegiatan dan pengalaman hidupku. Karena untuk sebagian orang yang membenci, ini adalah hal yang tidak baik dan tidak mereka sukai.

Tapi kemudian aku berpikir ... tugasku bukan untuk menyenangkan orang lain. Tugas utamaku adalah membahagiakan diri sendiri dengan caraku sendiri. Orang lain bukanlah tuan atas emosiku. Aku harus kembali pada prinsip hidupku sendiri tanpa memikirkan apa kata orang lain.


Aku memilih untuk tetap terus menulis. Menuliskan semua pemikiranku secara jujur, terbuka, dan apa adanya. Karena dengan begitu, aku merasa emosiku bisa lebih tertata dengan baik.

Kemudian, aku menganalisa pergerakan sosial yang ada di sekitarku. Aku menganalisa bagaimana sikap dan sifat orang-orang yang tidak pernah menulis. Kebanyakan mereka memiliki emosi yang tidak stabil. Karakternya mudah berubah. Tidak memiliki prinsip hidup yang kuat. Ketika menghadapi masalah, mereka membutuhkan validasi dari sana-sini. Mereka bahkan tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Aku tahu, mereka bukan tidak bisa menulis, mereka hanya tidak mau menulis. Tidak bisa dan tidak mau adalah dua hal yang berbeda. Mereka menganggap bahwa hidup mereka sangat privasi. Padahal, privasi itu juga ada batas-batasannya. Banyak hal pribadi yang tetap aku jaga kerahasiaannya dari publik. Tapi lebih banyak hal yang bisa kita bagikan kepada publik agar dunia tahu bahwa kita masih bisa bermanfaat walau sekecil biji sawi.

 

Sejak kecil, aku sudah suka menuliskan segala hal lewat Buku Diary. Aku merasa hari-hariku menjadi lebih baik ketika aku menuliskan ceritaku. Aku tidak bisa meluapkan emosiku di depan banyak orang dengan tiba-tiba. Tapi aku bisa meluapkan emosiku dalam bentuk sebuah karya tulis. Karya tulis yang membuatku memandang sesuatu dari banyak perspektif. Sehingga aku tidak begitu ngotot di depan orang lain meski aku memegang teguh prinsip hidupku sendiri.


Menulis menjadi bagian dari self healing yang aku lakukan setiap hari. Ada banyak masalah besar yang harus aku hadapi sendiri dan aku tidak tahu harus bercerita pada siapa. Aku hanya bisa bercerita pada Allah dan lewat tulisan. Aku tidak ingin menceritakan setiap masalahku pada orang lain. Sebab, semua orang sedang berjuang dengan masalahnya sendiri dan aku tidak perlu menjadi tambahan beban pikiran untuk orang lain.

Aku tidak perlu berisik hanya untuk meluapkan emosi yang terpendam di dalam hati dan pikiranku. Aku merasa sudah lega ketika aku bisa meluapkannya dalam bentuk tulisan. Tidak ada orang lain yang bisa membantuku menyelesaikan masalah mentalku, kecuali diriku sendiri. Aku tidak perlu melibatkan orang lain. Orang lain tidak perlu meributkan apa yang terjadi di dalam hidupku. Aku bisa lebih tenang dalam menghadapi kepahitan hidup, bahkan aku menikmatinya. Sebab, semua rasa sakit dan hal pahit dalam hidupku bisa berbuah manis ketika aku olah menjadi sebuah tulisan.

Kamu sendiri bagaimana?

Sudahkah kamu meluapkan emosimu dalam bentuk tulisan atau masih memendamnya dalam hati dan pikiranmu sendiri?

Jangan dipendam, ya! Jika tidak bisa bercerita dengan orang lain, berceritalah dalam bentuk tulisan. Ini akan membuat hidupmu lebih tenang, lebih damai dan berwawasan.










 








Wednesday, March 19, 2025

Local Hero Pertamina yang Kerap Dijuluki Sebagai Wanita Simpanan Di Kampungnya



Tiba-tiba nemu foto di galeri laptop waktu mau bersih-bersih memori karena semua memoriku udah kepenuhan.

Ini foto waktu aku nginap di Pertamina Patra Land Residence di tanggal 01 Maret 2024.


Disclaimer : Foto-foto aku di hotel atau apartemen itu bukan karena aku jadi wanita simpanan, tapi karena aku dibayar untuk ikut seminar, pelatihan, diskusi, atau ngisi acara.

Mungkin, foto-foto kayak gini yang sering banget bikin aku dibilang wanita simpanan bos-bos. Padahal, aku nggak kenal sama bos siapapun. Kalaupun kenal, itu cuma untuk belajar bisnis atau sharing tentang pengalaman usaha.

Jadi, Sehari sebelumnya, aku ditelpon sama CDO Pertamina Hulu Sanga-Sanga. Semuanya mendadak banget. Beliau juga diinformasikan dadakan. Awalnya, cuma CDO yang mau terbang ke Jakarta untuk kegiatan. Tapi kemudian, Local Hero juga diajak untuk pergi ke tempat acara. Alhasil, sore itu juga dipesanin tiket dan harus berangkat pagi banget karena acara dimulai jam 8 pagi. Jadi, kita udah harus sampai di Jakarta sebelum acara dimulai.
PHSS punya 2 Local Hero binaan di tahun 2024. Artinya, aku tidak sendiri. Aku berangkat bersama seorang CDO (Mas Prass) dan 1 Local Hero asal Samboja juga, yakni Mas Tio (Pengelola Wisata Bekantan Sungai Hitam Lestari) yang bergerak di bidang Ekowisata.
Karena penerbangan pagi banget, nggak memungkinkan lagi kalau berangkatnya jam 2 subuh. Soalnya, CDO kami dari Muara Badak, sedangkan aku di Desa Beringin Agung dan Mas Tio dari Sungai Hitam.
So, kami berangkat sore hari menuju kota Balikpapan dan sampai di Patra Land Residence jam sembilan malam.
Ini pertama kalinya aku masuk ke Patra Land Residence. Mungkin, akan jadi yang pertama dan terakhir seumur hidupku karena aku bukan orang yang bekerja di Pertamina.
Karena datangnya malam, aku ngerasa tempat ini kayak serem banget. Mewah, tapi horor. Karena kebanyakan apartemen tuh kosong. Maklum, cuma orang-orang tertentu yang menginap di tempat ini. Jadi, nggak akan ramai seperti hotel atau apartemen lain. Aku jadi flasback ke masa saat aku masih bekerja di perusahaan dan menginap di Mess Executive. Aku juga jadi teringat ketika aku menerima penghargaan Pemuda Pelopor dan menginap di salah satu villa pelatih yang ada di area stadion Aji Imbut.
Vibes-nya tuh sama. Sama-sama horor karena sepi dan kosong.
Sebenarnya, apartemen ini mewah banget. Udah ada ruang tamu yang luas, ruang makan yang luas, pantry, ruang loundry, dan 3 kamar tidur.
Aku tidur di kamar utama. sedang Mas Prass dan Mas Tio tidur di kamar yang lain. Mereka berdua sempat main keluar, entah ke mana. Dan aku memilih untuk tidak keluar dari kamar karena aku takut.
Alhamdulillahnya, aku masih bisa tidur nyenyak. Mungkin karena aku juga terbiasa dengan suasana sepi. Jadi, lebih nyaman berdiam diri di dalam kamar daripada ngeluyur keluar. Itulah yang selalu aku lakukan setiap kali berkegiatan. Kalau udah baring di kamar, rasanya nyaman banget. Main hape, nonton tv, main laptop, atau teleponan sama anak-anak.
Jam 5 subuh, aku sudah bersiap dan kami langsung pergi ke bandara. Kebetulan, jarak apartemen dan bandara tidak jauh. Tidak harus terjebak macet seperti kota Jakarta. Jadi, kami bisa sampai tepat waktu untuk check-in di bandara.
Alhamdulillah, setiap langkah dan waktu yang aku lalui, semuanya sangat berkesan. Banyak ilmu dan pengalaman hidup yang aku dapatkan.
Aku bertemu dengan 170 Local Hero Pertamina dari seluruh Indonesia di saat aku ingin menyerah pada apa yang selama ini aku perjuangkan. Ternyata, perjuangan mereka jauh lebih berat dari yang aku lakukan. Kalau aku menyerah, artinya aku kalah pada takdir yang sedang direncanakan Allah. Bisa jadi, Allah sedang menyiapkan hadiah di ujung sana. Di tempat di mana aku harus melalui banyak kesulitan lebih dahulu.


Terima kasih banyak untuk pengalaman berharga yang tak terhingga. Aku tidak kaya harta, tapi aku punya intelectual investment (investasi intelektual) yang membuatku dihargai. Investasi intelektual tidal bisa didapat dengan cara yang instan. Butuh proses dan perjuangan keras selama belasan tahun untuk bisa menghasilkan sebuah karakter yang kuat, karakter yang bisa dipercaya oleh orang lain. Yang ketika aku merekomendasikan seserang untuk menjalankan program, mereka berkata, "Kalau bukan Mbak Rin Muna, kami nggak yakin akan bertahan lama."

Benar saja, taman bacaanku "Rumah Literasi Kreatif" kini sudah berusia 7 tahun. Meski setiap harinya harus tertatih menghidupkannya sendirian, tapi masih bisa bertahan selama ini.
Sebab, banyak orang yang ikut membuka taman bacaan, tapi tidak mampu bertahan sampai satu tahun. Karena di sini semuanya murni sosial. Tidak ada keuntungan yang aku dapatkan. Aku merawat dan menjaga buku-buku dengan tulus. Aku belum mampu berkembang lebih luas lagi, masih sebatas bertahan untuk tidak hancur oleh zaman.









Monday, March 17, 2025

Menjadi Wanita Produktif di Bulan Ramadan Bersama Komunitas Muslimah






Setiap hari adalah proses untuk belajar. Tidak ada kata berhenti untuk belajar selama kita masih hidup di dunia ini. 
Sama seperti hari ini, aku pergi ke majelis taqlim untuk belajar agama lebih dalam. Aku sadar, aku bukan anak yang terlahir dengan didikan agama yang baik dari orang tua. Oleh karenanya, aku sangat ingin bisa belajar agama Islam yang baik dan benar. Walau sampai hari ini, aku masih belum bisa istiqomah untuk menjalankan syariat agama yang baik dan benar. Tapi segala hal butuh proses dan aku berharap suatu hari nanti ditunjukkan jalan yang lurus oleh Allah SWT.
Hari Jum'at ini, 14 Maret 2025 adalah hari pertama aku mengikuti kajian agama di bulan Ramadan. Bersama dengan Komunitas Muslimah Samboja, aku sama-sama belajar tentang agama agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa depan.

Pertemuan kali ini mengkaji tema "Menjadi Wanita Produktif di Bulan Ramadan".
Berpuasa adalah perintah dari Allah dan tidak membuat kita kehilangan produktifitas sedikit pun. Beruntungnya, kita tinggal di Indonesia yang mayoritas muslim dan bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik. Karena ada beberapa negara yang melarang umat muslim untuk berpuasa seperti Turkmenistan, Tajikistan, dan Prancis. Di tiga negara ini, umat muslim dilarang untuk berpuasa, bahkan harus mendapatkan hukuman jika berpuasa. 
Sungguh, iman seorang muslim diuji dengan hal yang seperti ini. Sulit untuk bisa beribadah kepada Allah adalah nikmat yang tidak bisa kita dapatkan karena keimanan mereka sangatlah membuat kita iri. Allah pasti akan memberikan balasan yang jauh lebih besar dari apa yang kita lakukan hari ini. Sedangkan puasa adalah perintah Allah yang harus dijalankan oleh setiap muslim yang beriman. Bagi yang tidak beriman, meninggalkan puasa adalah hal yang biasa. Sebab, ada banyak orang muslim tapi tidak beriman.
Seperti yang disabdakan Allah dalam Surat Al-Baqoroh ayat 183:
yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba ‘alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alalladzîna ming qablikum la‘allakum tattaqûn
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

English Translation : O you who have believed, decreed upon you is fasting as it was decreed upon those before you that you may become rigtheous.

Dalam ayat yang tertera di atas, dapat kita ketahui bahwa berpuasa adalah ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT. Bahkan, Allah juga mewajibkan kita untuk membayar utang puasa jika kita tidak bisa menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadan. 

Oleh karenanya, puasa menjadi kewajiban bagi orang-orang yang beriman. Berpuasa sama sekali tidak menghalangi aktifitas kita. Kita masih bisa menjadi wanita yang produktif meski sedang berpuasa. Menjadi wanita produktif bagi mereka yang bekerja di luar rumah, juga menjadi wanita yang produktif dalam merawat dan menjaga keluarganya di dalam rumah.
Sebab, wanita adalah madrasah ula atau madrasa pertama bagi anak-anaknya. Akan menjadi apa anak-anaknya kelak, akan bergantung pada pendidikan dari ibunya. 

Semoga, aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku meski sampai hari ini ilmuku masih minim, emosiku masih belum stabil, ego dan nafsuku masih lebih tinggi dari ibadahku. 

Aku sangat ingin menjadi orang-orang beriman yang selalu disayang oleh Allah karena orang-orang yang beriman selalu dipanggil oleh Allah di dalam Al-Qur'an. 
Semoga Allah selalu pertemukan aku dengan orang-orang baik yang bisa membawaku ke dalam kebaikan. Orang-orang yang mengajariku banyak hal, terutama tentang bagaimana menjadi ummat yang baik. Aku ingin berada di jalan Allah yang lurus dan selalu disayang oleh Allah di dunia dan di akhirat.
Semoga, yang membaca tulisan ini juga mendapatkan keberkahan dari Allah dan kita dipertemukan di surga nanti sebagai orang-orang beriman yang disayang Allah.


Kamu bisa lihat aktivitas keseharianku dengan lengkap di Channel Youtube "Rin Muna".
Bantu support konten-kontennya supaya aku bisa memberikan banyak inspirasi dan bermanfaat.




Much Love,

Rin Muna

Karyaku Bisa Diterbitkan Perpusnas Press || Praktik Baik Pemanfaatan 1000 Buku (Wilayah Kalbar, Kaltim, Kalsel)








Tuhan selalu punya cara untuk membuat hidup kita menjadi lebih baik. 
Tuhan selalu punya cara yang indah untuk mengubah keinginan kita. 
Sama seperti yang terjadi hari ini. 
Aku menerima paket buku berbonus tas keren dari Forum TBM Pusat. 
Paket buku kali ini adalah paket buku paling istimewa sepanjang hidupku. Karena di buku ini ada karya kecilki tentang Rumah Literasi Kreatif yang aku bangun sendiri sebagai upaya untuk membantu pergerakan literasi di Indonesia. 
Aku tidak menyangka kalau karya tulisku bisa diterbitkan oleh Perpusnas Press RI. Bermimpi saja aku tidak punya keberanian. Aku siapa? Karyaku masih belum apa-apa. 


Tapi kemudian aku berpikir ... suatu hari aku pernah berharap sesuatu yang hari ini diwujudkan oleh Allah. "Gimana caranya bukuku bisa diterbitkan perpustakaan negara, ya? Mereka yang bukunya diterbitkan oleh Perpusnas RI, pastilah penulis-penulis istimewa yang karyanya sudah dikurasi dengan ketat," ucapku ketika aku membaca buku-buku terbitan Perpustakaan Nasional yang kualitasnya sudah tentu sangat baik. 
Aku lupa kapan aku berucap seperti itu dalam hatiku. 

Tapi masih lekat dalam ingatan jika aku sangat menginginkan karyaku bisa diterbitkan oleh penerbit besar dan berkualitas. Sayangnya, proses penulisanku masih sangat buruk. Aku masih belum punya keberanian untuk mengajukan naskah-naskahku ke penerbit mayor. Karena aku masih berproses dan masih perlu banyak jam terbang dalam berkarya. 

Hari ini aku mendapatkan kejutan tak terduga di hari ke-17 Ramadan. Aku mendapat kiriman buku fisik yang di dalamnya ada karyaku. Setelah melewati proses kurasi yang sangat ketat, akhirnya tulisanku bisa lolos dan diterbitkan langsung oleh Perpusnas Press. 
Tidak semua penulis memiliki kesempatan untuk mengabadikan karyanya di Perpustakaan Nasional. Oleh karenanya, aku merasa bangga pada diriku sendiri karena telah berhasil menjadi salah satu kontributor Perpusnas Press. 
Buku ini diterbitkan dalam rangka mengabadikan program Perpusnas RI yang telah memberikan bantuan 1000 buku bacaan anak bermutu kepada 10.000 taman bacaan masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia. Taman bacaan yang aku dirikan sejak tahun 2018 menjadi salah satu penerima bantuan 1000 buku cerita anak bermutu yang dikirimkan langsung oleh Perpustakaan Nasional RI. 
Bantuan yang diberikan ini tentunya tidak lepas dari peran teman-teman Forum TBM Pusat yang sangat aktif dalam pergerakan literasi di Indonesia. 

Aku sangat antusias  ketika dihubungi oleh tim untuk mengirimkan naskah tentang pemanfaatan bantuan 1000 buku yang telah aku terima untuk taman bacaku. Meski di tengah kesibukanku sebagai ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah, aku berusaha untuk bisa menuliskan sebuah karya kecil. 

Setelah melewati proses kurasi dan revisi, akhirnya naskahku bisa dikatakan lolos untuk diterbitkan oleh Perpusnas Press. Rasanya sangat lega dan berharap kalau Perpusnas Press akan benar-benar mengabadikan karyaku.

Beberapa bulan kemudian, aku mendapatkan paket kiriman dari Forum TBM beruba sebuah buku yang sudah dicetak berjudul "Praktik Baik Pemanfaatan 1.000 Buku" untuk wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. 

Bukan hanya 1 eksemplar buku, tapi juga ada sebuah tas keren yang dikirimkan. Hampir sama seperti tas yang biasa aku kenakan dan aku dapat dari kegiatan Forum TBM di The Sultan Hotel & Residence Jakarta. Tapi, tas yang ini ukurannya jauh lebih besar. Dua tas hadiah dari Forum TBM Pusat ini menjadi tas favorite buat aku karena ada banyak kantong di dalamnya dan sangat nyaman dipakai jalan ketika membawa banyak bawaan. 


Rasanya senang sekali ketika mendapatkan hadiah istimewa ini. Di hari ke-17 Ramadan, aku seperti sedang mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Buku ini akan jadi buku yang paling aku sayang karena pertama kalinya tulisanku diterbitkan oleh Perpusnas Press dan akan menjadi kenangan untuk selamanya. 
Buku ini sangat exclusive karena tidak dijual di toko buku. Kamu tidak akan bisa membacanya jika kamu tidak datang ke Perpusnas RI atau datang ke TBM di mana ada kontributor untuk buku ini. Jadi, kalau mau baca buku ini, kamu harus mengunjungi Perpustakaan RI. Buku ini sangat luar biasa karena ada banyak tulisan tentang perjalanan membuat taman baca yang penuh dengan liku-liku dan bisa menjadi inspirasi kehidupan agar hidup kita bermanfaat.
Jangan lupa cari buku ini, ya!

Kalau nanti aku mati, cari keyword nama "Rin Muna" di google, ya! Semoga karya-karyaku bisa menginspirasi dan membuat kalian lebih semangat dalam menjalani ujian kehidupan ini. 🤗

Thursday, March 13, 2025

Perfect Hero Bab 186 : Best Buddy Sisters

 


“Yun, kamu beneran berhenti kerja?” tanya Jheni sambil menatap Yuna dan Icha yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Emangnya aku kayak pembohong? Sampe nggak percaya gitu?”

 

“Iya. Aku percaya,” sahut Jheni. “Abis ini, rencana kamu mau ngapain?”

 

“Di rumah dulu, nyantai-nyantai.”

 

“Emangnya kamu nggak bosan kalo dua puluh empat jam di rumah terus?” tanya Jheni.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak dua puluh empat jam juga kali. Buktinya, sekarang aku ada di rumah kamu.”

 

“Hmm ...iya juga sih. Enak banget ya punya suami kayak Yeriko. Nggak ngelarang istrinya main di luar. Malah dianterin pula ke sini.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap layar ponselnya.

 

“Kamu chatting sama siapa sih, Yun? Senyum-senyum sendiri dari tadi?” tanya Icha yang berbaring di samping Yuna.

 

“Sama suamiku lah. Sama siapa lagi?”

 

“Astaga! Lebay banget sih kalian?” sahut Jheni. “Baru juga pisah berapa menit. Udah kayak nggak ketemu sebulan aja.”

 

“Sewot lu. Ngiri?” sahut Yuna.

 

“Weh, ngolok kamu ya!?” dengus Jheni sambil menggelitik pinggang Yuna.

 

“Aargh ...! Geli, Jhen!” seru Yuna sambil berguling menghindari Jheni yang terus menyerangnya.

 

Icha ikut tertawa melihat Jheni dan Yuna yang saling serang dan berguling di kasur.

 

“Udah, Jhen! Aku capek!” seru Yuna dengan napas tersengal.

 

Jheni terus menghentikan aksinya sambil menoleh ke arah Icha yang sudah berdiri di depan jendela. “Dia kenapa? Dari tadi murung gitu.”

 

Yuna mengedikkan bahu. Ia turun dari ranjang dan langsung menghampiri Icha bersama dengan Jheni. “Kamu kenapa, Cha? Ada masalah?”

 

Icha menggelengkan kepalanya.

 

“Nggak usah bohong, deh! Dari tadi kamu murung. Kenapa? Bellina nindas kamu di kantor?” tanya Yuna.

 

Icha menggelengkan kepala.

 

“Terus, kenapa?” tanya Jheni. “Ada masalah lagi sama lutfi?”

 

Icha menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil menatap Yuna. “Yun, sebenarnya Lutfi itu gimana sih?”

 

“Kenapa sama Lutfi?”

 

“Kadang, aku ngerasa dia itu sayang banget dan perhatian sama aku. Tapi aku juga nggak pernah tahu gimana sikapnya dia sama cewek lain. Apakah sama juga?”

 

“Kenapa kamu tanya kayak gini?” tanya Yuna. “Ada sesuatu?”

 

“Kemarin, aku nggak sengaja lihat Lutfi lagi makan sama cewek di salah satu restoran.”

 

“Siapa? Model?”

 

“Mungkin. Yang jelas, cewek itu cantik dan seksi. Dari gayanya dia, dia juga memperhatikan cewek itu.”

 

“Cha, kamu kan tahu kalau Lutfi itu penguasa Villa di Jawa, Bali dan NTT. Yang aku tahu, dia emang sering kerjasama sama artis, selebgram, youtuber dan sejenisnya buat endorse villa dia.”

 

“Tapi ...”

 

“Kamu jangan pedulikan cewek lain!” pinta Yuna sambil menggenggam pundak Icha. “Sekalipun ada banyak perempuan cantik yang mengelilingi dia. Dia cuma ngakuin kamu sebagai pacar resminya. Karena cuma kamu aja yang dikenalin ke kita.”

 

“Tapi, Yun. Aku jadi ragu sama perasaannya dia. Aku terlalu biasa aja. Sementara, cewek-cewek yang deket sama Lutfi cantik-cantik semua. Gimana aku harus bersaing sama mereka?”

 

“Siapa bilang kamu biasa aja? Kamu juga cantik, kok,” sahut Jheni. Ia langsung melepas kacamata Icha dan ikatan rambutnya.

 

Jheni langsung menarik Icha untuk berdiri di depan cermin. “Cha, dengan penampilan kamu yang sederhana aja udah bisa bikin Lutfi jatuh cinta sama kamu. Kamu cuma perlu ngerubah penampilan kamu buat bersaing sama cewek-cewek itu.”

 

“Aku nggak pede, Jhen.”

 

“Kenapa? Kamu nggak beneran cinta sama Lutfi.”

 

“Cinta. Tapi ...”

 

“Cinta itu, harus diperjuangkan dan dipertahankan!” tutur Jheni. “Kalo baru kayak gini aja kamu udah nyerah, gimana mau ngadepin mereka yang bakal mengganggu hubungan kamu. Banyak pelakor di dunia ini, kamu harus jadi kuat ngadepinnya. Belajar dari Yuna!”

 

Icha menatap Yuna yang tersenyum ke arahnya.

 

“Cha, awalnya aku juga ngerasa kayak gitu. Tapi lama-lama aku sadar, Yeriko bukan orang biasa. Banyak cewek yang pengen jadi pasangannya. Selama Yeriko masih cinta sama aku. Aku nggak akan peduli berapa banyak cewek yang deketin dia. Aku nggak akan ngelepasin Yeriko buat orang lain.”

 

Icha tersenyum ke arah Yuna.

 

“Apalagi pekerjaan Lutfi emang kayak gitu. Kamu cuma perlu mendukung dia!” sahut Jheni.

 

Icha menganggukkan kepala.

 

Yuna dan Jheni saling pandang. “Kalo gitu, saatnya beraksi!” seru mereka sambil mengeluarkan peralatan make-up untuk merubah penampilan Icha menjadi lebih baik lagi.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berhasil mengubah penampilan Icha seperti seorang model.

 

“Astaga, Cha!” Yuna mengitari tubuh Icha yang jauh lebih tinggi darinya.

 

“Kamu udah kayak model Victoria Secret,” celetuk Jheni.

 

“Beneran?”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Iya, badannya tinggi-tinggi dan wajahnya cantik. Kayak kamu gini.”

 

Yuna ikut menahan tawa mendengar ucapan Jheni.

 

“Kenapa pada ketawa terus sih?” tanya Icha sambil menatap wajah Jheni dan Yuna.

 

“Nggak papa, Cha. Seneng aja lihat kamu kayak gini. Kalo Lutfi lihat, pasti dia seneng banget. Eh, aku fotoin. Aku kirim ke Whatsapp dia.” Yuna langsung menyalakan kamera ponsel dan membidik wajah baru Icha.

 

“Udah terkirim. Kita lihat, apa komentar Lutfi!” tutur Yuna sambil menunggu balasan dari Lutfi.

 

“Kakak Ipar, itu siapa? Bisa endorse kah?” tutur Yuna sambil membaca pesan yang ia terima dari Lutfi. “Hahaha. Dia nggak ngenalin kamu, Cha.”

 

“Gobloknya anak itu,” sahut Jheni.

 

“Balesin apa nih?” tanya Yuna.

 

“Terserah kamu.”

 

“Bisa. Kalo mau ketemu, ke rumah Jheni sekarang juga!” tutur Yuna sambil mengetik di ponselnya. “Udah terkirim.”

 

“Astaga! Kamu nyuruh dia ke sini?” tanya Icha.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Sekalian aja kalian jalan ke luar bareng. Sayang banget, udah dandan cantik gini tapi cuma di dalam rumah.”

 

“Yuna ...!”

 

Yuna dan Jheni meringis ke arah Icha.

 

“Oh ya, besok kan weekend. Kalian ada waktu nggak?” tanya Yuna.

 

“Kenapa?” tanya Icha.

 

“Aku selalu ada waktu kalo buat kamu,” sahut Jheni.

 

“Aku sama Yeriko mau ke exhibition. Kalian mau ikut nggak?”

 

“Exhibition punya Dekranasda?” tanya Jheni.

 

“Iya. Kok tahu?”

 

“Aku udah ke sana sama Chandra.”

 

“What!? Kalian udah ke sana nggak ajak-ajak? Tega banget sih?”

 

“Kamu lagi sibuk ngadepin pelakor itu. Aku juga ke sana sekalian buat keperluan kerjaan.”

 

“Ada yang bagus nggak?” tanya Yuna.

 

“Semuanya bagus-bagus.” Jheni meraih kotak yang ada di atas meja. “Aku beli sweater rajut motif sura sama baya. Ini unik banget. Kata pengrajinnya, dia cuma bikin satu aja. So, ini barang langka banget!” seru Jheni.

 

Yuna langsung mengeluarkan sweater tersebut dan mengamatinya. “Eh, gila! Ini sih teknik tingkat dewa. Aku mana bisa bikin motif kayak gini.”

 

“Oh iya. Kamu kan bisa ngerajut kayak gini, Yun. Gimana kalo kamu bikin juga?”

 

“Rencananya mau bikin buat Yeri. Tapi ...”

 

“Kenapa?”

 

“Aku nggak pernah lihat Yeri pakai sweater. Apa dia bakal suka kalo aku bikinin?”

 

“Barang yang bikin sendiri, itu jauh lebih tulus. Aku yakin, Pak Yeri pasti suka sama barang yang kamu kasih,” sahut Icha.

 

“Mmh ... boleh, deh. Ntar aku pesen bahannya dulu.”

 

 

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

“Eh, Lutfi udah datang. Cepet banget tuh bocah,” tutur Yuna sambil menoleh ke arah pintu.

 

“Bukain pintu!” perintah Jheni sambil mendorong tubuh Icha.

 

“Aku?” Icha menunjuk dirinya sendiri dan melangkah ragu menuju pintu.

 

“Ayo bukain!” Yuna dan Jheni memberi isyarat agar Icha memiliki keberanian.

 

Icha membuka pintu perlahan dan mendapati Lutfi berdiri di depan pintu sambil tersenyum ke arahnya.

 

“Ini. Buat kalian!” Lutfi menyodorkan paper bag ke arah Icha. “Kakak Ipar mana?” tanyanya sambil nyelonong masuk ke rumah Jheni.

 

Icha menggigit bibir. Ia melangkah perlahan mengikuti Lutfi yang melangkah menghampiri Yuna dan Jheni yang duduk di sofa.

 

“Kalian apain si Icha?” tanya Lutfi.

 

“Eh!?” Yuna dan Jheni melongo menatap Lutfi.

 

“Cantik kan?” tanya Yuna balik.

 

“Kamu ngenalin dia?”

 

“Kenal. Pacar sendiri masa nggak kenal?”

 

“Tadi di WA kamu bilang ...”

 

“Aku cuma bercanda.”

 

Yuna dan Jheni terkekeh.

 

“Eh, kalian pergi ke luar gih! Aku sama Jheni mau curhat,” pinta Yuna.

 

Lutfi langsung menyambar paper bag dari tangan Icha. “Ini makanan buat kalian. Aku ke luar dulu sama Icha.” Ia meletakkan paper bag di atas meja.

 

“Ah, pengertian banget!” seru Yuna.

 

Lutfi tertawa kecil. “Aku tahu, Kakak Ipar demen makan. Kita pergi dulu!” Lutfi langsung meraih tangan Icha dan membawanya keluar dari rumah Jheni.

 

Yuna dan Jheni saling pandang lalu tertawa.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga, bikin aku makin semangat deh.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 185 : Pamit || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Cha, aku pergi ya! Kamu yang rajin kerjanya!” pamit Yuna setelah mengemasi barang-barang pribadinya yang ia bawa ke tempat kerja.

 

“Yun, kita semua pasti bakal kangen banget sama kamu. Kenapa harus berhenti, sih? Padahal, Bos Lian nggak nyuruh kita berhenti.”

 

Yuna tersenyum. “Aku juga bakal kangen sama kalian semua. Kita masih bisa ketemu, kok. Pintu rumah aku, selalu terbuka untuk kalian.”

 

“Pintu kantor ini juga selalu terbuka buat kamu, Yun. Apalagi Bos Lian, dia pasti bakal kangen kalo nggak ada kamu.”

 

“Hush, jangan ngomong gitu! Kalo didenger sama Bellina, kalian bisa habis!” sahut Yuna.

 

“Huft, iya ya? Kalo nggak ada kamu. Nggak ada lagi yang bisa belain kita. Bu Belli pasti bakal lebih merajalela menindas kita.”

 

“Telpon aku kalo dia berani macam-macam sama kalian! Ntar aku hadang di simpang jalan,” sahut Yuna.

 

“Hahaha.” Semua tergelak mendengar candaan Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia mengangkat kotak barangnya dan melangkah dengan berat hati keluar dari ruangannya.

 

“Yuna ...!” seru Icha dan beberapa karyawan yang lainnya. Mereka langsung menangis sambil memeluk tubuh Yuna.

 

“Kamu beneran pergi, Yun?”

 

“Yun, setelah keluar dari sini, kamu harus hidup lebih baik. Punya karir yang lebih baik.”

 

“Iya, Yun. Kalo nggak dapet yang lebih baik, kamu balik ke sini ya! Kita bakal nunggu kamu.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap rekan-rekan kerjanya dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka kalau waktu berjalan begitu cepat. Dalam waktu yang singkat, ia bisa merasakan kehangatan di tempat kerjanya. Saling mendukung, mengatasi setiap masalah bersama-sama. Seperti sebuah keluarga.

 

Yuna melepaskan dirinya dan melangkah perlahan keluar dari ruang kerjanya. Ia langsung masuk ke dalam lift dan turun ke lobi. Di sana, ada seorang pria tampan yang telah menunggu kedatangannya.

 

“Lama ya nunggunya?” sapa Yuna sambil menghampiri Yeriko.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Udah pamitan?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia menghela napas sejenak. “Aku belum pamitan sama Lian.”

 

“Kenapa?”

 

“Dia belum masuk kantor.”

 

“Nggak papa. Kalo nggak ketemu hari ini, masih bisa ketemu besok.”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia dan Yeriko melangkah keluar dari pintu utama kantor Wijaya Group.

 

“Pergi sekarang?” tanya Lian yang kebetulan baru sampai kantor bersama Bellina.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Makasih kamu udah ngasih aku kesempatan bergabung di perusahaan ini. Belajar banyak hal, punya banyak teman dan pastinya ... ini pengalaman pertamaku yang paling berharga.”

 

Lian tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Semoga kamu bisa menjadi lebih baik di tempat yang baru.” Ia menoleh ke arah Yeriko sejenak. “Kapan pun kamu mau, perusahaan ini akan selalu nerima kamu kembali.”

 

Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya perlahan. “Bye!” ucap Yuna saat melintas sejajar dengan tubuh Lian.

 

Yeriko tersenyum menatap Lian dan mengikuti langkah Yuna dari belakang.

 

Lian memutar tubuhnya menatap punggung Yuna dan Yeriko yang perlahan menjauh. Ia tak bisa lagi melihat wajah cantik Yuna dari balik jendela. Melihatnya tertawa bersama teman-teman kerjanya. Melihatnya begitu energik setiap melakukan pekerjaan. Melihat wajah cantiknya setiap pagi saat masuk kerja dari balik kaca mobilnya.

 

 “Bye, Ayuna ...!” bisik Lian dalam hati.

 

Bellina yang berdiri di samping Lian langsung merangkul Lian sambil menatap kepergian Yuna. Di bibirnya terlukis goresan bahagia mengiringi kepergian Yuna dari kantor Wijaya.

 

“Yun, mau langsung ke rumah sakit atau pulang dulu?” tanya Yeriko sambil membukakan pintu mobil untuk Yuna.

 

“Pulang dulu. Ntar aku ke rumah sakit naik taksi aja bareng Bibi.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Kamu nggak mau ajak aku ketemu ayah kamu?”

 

“Kamu kan kerja. Aku udah nggak kerja. Punya banyak waktu buat nemenin ayah di rumah sakit.”

 

“Oke.” Yeriko menutup pintu mobil. Ia melangkah mengitari mobilnya, membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.

 

“Kamu tunggu aku di rumah sakit. Ntar aku jemput kamu kalo udah pulang kerja!” pinta Yeriko sambil menjalankan mobilnya perlahan keluar dari halaman kantor Wijaya.

 

Yuna menganggukkan  kepala. “Besok jadi kan ke pameran?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia terus melajukan mobilnya.

 

“Aku pengen lihat karya-karya seniman lokal di sana. Kayaknya bagus-bagus. Tas ini, dikasih sama Mama Rully. Katanya dari Bunda Yana. Salah satu karya seniman kriya di sini. Bagus kan?” tutur Yuna sambil menunjukkan tas rajut yang ia pakai.

 

Yeriko menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Yuna.

 

“Iih ... nggak lihat tapi udah ngangguk aja.” Sahut Yuna.

 

“Aku udah lihat dari tadi,” sahut Yeriko. “Oh ya, hari ini mau ngapain aja selain jenguk ayah?”

 

“Mmh ... aku mau bikin makanan buat ayah sebelum berangkat ke rumah sakit. Mmh ... abis itu belum tahu mau ngapain.”

 

Yeriko tersenyum sambil melirik Yuna lewat kaca spion. “Aku bakal pulang cepet buat nemenin kamu. Kalo bosan di rumah, kamu bisa pergi jalan-jalan sama Jheni atau Icha.”

 

“Icha sibuk kerja. Kalo ada waktu luang, pasti udah dicolong duluan sama Lutfi.”

 

“Jheni? Bukannya dia freelancer?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Dia pasti punya banyak waktu buat nemenin kamu.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Boleh jalan ke mana aja?”

 

Yeriko mengangguk. “Asal bisa bikin kamu senang.”

 

“Ke bar?”

 

“Nggak boleh.”

 

“Kenapa?”

 

Yeriko langsung menghentikan mobilnya yang kebetulan sudah memasuki pekarangan rumah.

 

“Nggak boleh ke sana tanpa aku! Nggak boleh minum alkohol!” pinta Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. Matanya tertuju pada tas rajut yang ada di pangkuannya. “Mmh ... bukannya aku bisa knitting? Aku mau bikin sesuatu buat Yeri. Mudahan dia suka,” bisik Yuna dalam hati. Ia langsung keluar dari mobil.

 

“Aku langsung berangkat kerja!” pamit Yeriko tanpa keluar dari dalam mobil.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!”

 

Yeriko mengangguk. Ia segera menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah dan melaju menuju kantornya.

 

Yuna tersenyum sambil masuk ke dalam rumah. “Pagi, Bi!” sapa Yuna sambil meletakkan box miliknya ke atas meja.

 

“Pagi ...!” sahut Bibi War. “Kok, tumben banget pagi-pagi udah pulang kerja? Lagi nggak enak badan?”

 

Yuna menggeleng sambil menghampiri Bibi War. “Aku udah berhenti kerja,” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Hah!? Berhenti kerja?” tanya Bibi War dengan wajah sumringah.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Bibi War tertawa bahagia sambil memeluk Yuna. “Akhirnya ...”

 

Yuna tersenyum sambil membalas pelukan bibi War. “Bi, bantu aku bikin makanan buat ayah ya!” pinta Yeriko. “Asupan makanan untuk ayah nggak boleh sembarangan. Aku udah minta resep makanan dari ahli nutrisi yang ngerawat ayah. Aku pergi belanja bahannya dulu. Nanti, Bibi juga temani aku ke rumah sakit ya!” pinta Yuna.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

Yuna langsung memesan taksi online untuk berbelanja.

 

Bibi War tersenyum menatap kepergian Yuna. Ia sangat senang setiap kali melihat Yuna begitu ceria menjalani harinya. Ia membayangkan bagaimana ramainya rumah ini jika Yuna dan Yeriko sudah memiliki seorang anak.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga, bikin aku makin semangat deh.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas