Menu BacaanMu
- Akrostik (40)
- Artikel (44)
- Belajar Bahasa Inggris (2)
- Belajar Nulis (34)
- Berita (2)
- Biografi (1)
- Cerpen (62)
- Daily (23)
- Dongeng (1)
- Ekonomi & Bisnis (1)
- English Course (2)
- Esai (4)
- Fashion (3)
- Fizzo (2)
- Kegiatan (1)
- Kenapa Bercerai? (2)
- Kompetisi Menulis (8)
- Kuliner (3)
- Literature (1)
- Materi Nulis (14)
- My Experience (82)
- Novel MLB (81)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Novel The Cakra (5)
- Novelme (1)
- Opini (4)
- Pendidikan (2)
- Perfect Hero (186)
- Prestasi (1)
- Puisi (157)
- Ranting Ranti (5)
- Review Aplikasi (2)
- Review Drama (16)
- Review Novel (21)
- Rumah Literasi Kreatif (82)
- Sastra (1)
- Social and Humanity (4)
- Wisata (7)
Monday, March 24, 2025
Sunday, March 23, 2025
Menulis Adalah Luapan Emosi yang Tidak Berisik
KENAPA KITA HARUS MENULIS?
Banyak orang bertanya tentang kenapa harus menulis?
Menulis adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tanpa bisa membaca dan menulis, kita tidak bisa berkomunikasi dan menyampaikan pendapat kita pada orang lain.
Allah SWT menurunkan wahyu pertamanya yakni "Iqro" kepada Nabi Muhammad SAW. Iqro' memiliki makna "bacalah!"
Maka, perintah membaca adalah perintah yang pertama kali diturunkan pada manusia. Perintah membaca, berarti juga merupakan perintah untuk menulis. Sebab, tak akan ada bacaan jika tidak ada yang dituliskan.
Menulis bukan sekedar perintah untuk menghadirkan bahan bacaan yang baik kepada pembacanya. Tapi menulis juga memiliki banyak manfaat positif yang bisa kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memiliki kebiasaan menulis, cenderung memiliki pemikiran yang sehat, wawasan yang luas, mampu mengendalikan emosinya, dan berbicara dengan teratur.
Menulis adalah self healing (proses pemulihan diri secara emosional, mental, dan fisik tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain) yang paling baik. Menulis mampu membuat emosi kita menjadi lebih stabil tanpa melibatkan orang lain.
Menulis dengan jujur dan apa adanya adalah cara untuk meluapkan emosi kita tanpa berisik. Kita tidak perlu berteriak atau mencaci maki orang lain yang justru akan menimbulkan masalah baru. Kita tidak perlu melibatkan bantuan orang lain untuk menyembuhkan mental kita sendiri ketika kita harus berhadapan dengan masalah kehidupan yang sangat berat.
Salah satu alasan kenapa aku harus menulis adalah untuk mencurahkan apa yang terpendam di dalam hati dan pikiranku ke dalam bentuk yang lebih bermanfaat. Mungkin, untuk sebagian orang ini terlalu lebay. Sedikit-sedikit harus sharing tentang kehidupan dan pengalamannya dalam bentuk tulisan atau di media sosial. Bukan tidak menutup kemungkinan kalau banyak orang yang nyinyir dengan apa yang aku lakukan.
Sempat merasa kurang percaya diri dan kembali menutup diri. Tidak sharing apa pun tentang kegiatan dan pengalaman hidupku. Karena untuk sebagian orang yang membenci, ini adalah hal yang tidak baik dan tidak mereka sukai.
Tapi kemudian aku berpikir ... tugasku bukan untuk menyenangkan orang lain. Tugas utamaku adalah membahagiakan diri sendiri dengan caraku sendiri. Orang lain bukanlah tuan atas emosiku. Aku harus kembali pada prinsip hidupku sendiri tanpa memikirkan apa kata orang lain.
Aku memilih untuk tetap terus menulis. Menuliskan semua pemikiranku secara jujur, terbuka, dan apa adanya. Karena dengan begitu, aku merasa emosiku bisa lebih tertata dengan baik.
Kemudian, aku menganalisa pergerakan sosial yang ada di sekitarku. Aku menganalisa bagaimana sikap dan sifat orang-orang yang tidak pernah menulis. Kebanyakan mereka memiliki emosi yang tidak stabil. Karakternya mudah berubah. Tidak memiliki prinsip hidup yang kuat. Ketika menghadapi masalah, mereka membutuhkan validasi dari sana-sini. Mereka bahkan tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Aku tahu, mereka bukan tidak bisa menulis, mereka hanya tidak mau menulis. Tidak bisa dan tidak mau adalah dua hal yang berbeda. Mereka menganggap bahwa hidup mereka sangat privasi. Padahal, privasi itu juga ada batas-batasannya. Banyak hal pribadi yang tetap aku jaga kerahasiaannya dari publik. Tapi lebih banyak hal yang bisa kita bagikan kepada publik agar dunia tahu bahwa kita masih bisa bermanfaat walau sekecil biji sawi.
Sejak kecil, aku sudah suka menuliskan segala hal lewat Buku Diary. Aku merasa hari-hariku menjadi lebih baik ketika aku menuliskan ceritaku. Aku tidak bisa meluapkan emosiku di depan banyak orang dengan tiba-tiba. Tapi aku bisa meluapkan emosiku dalam bentuk sebuah karya tulis. Karya tulis yang membuatku memandang sesuatu dari banyak perspektif. Sehingga aku tidak begitu ngotot di depan orang lain meski aku memegang teguh prinsip hidupku sendiri.
Menulis menjadi bagian dari self healing yang aku lakukan setiap hari. Ada banyak masalah besar yang harus aku hadapi sendiri dan aku tidak tahu harus bercerita pada siapa. Aku hanya bisa bercerita pada Allah dan lewat tulisan. Aku tidak ingin menceritakan setiap masalahku pada orang lain. Sebab, semua orang sedang berjuang dengan masalahnya sendiri dan aku tidak perlu menjadi tambahan beban pikiran untuk orang lain.
Aku tidak perlu berisik hanya untuk meluapkan emosi yang terpendam di dalam hati dan pikiranku. Aku merasa sudah lega ketika aku bisa meluapkannya dalam bentuk tulisan. Tidak ada orang lain yang bisa membantuku menyelesaikan masalah mentalku, kecuali diriku sendiri. Aku tidak perlu melibatkan orang lain. Orang lain tidak perlu meributkan apa yang terjadi di dalam hidupku. Aku bisa lebih tenang dalam menghadapi kepahitan hidup, bahkan aku menikmatinya. Sebab, semua rasa sakit dan hal pahit dalam hidupku bisa berbuah manis ketika aku olah menjadi sebuah tulisan.
Kamu sendiri bagaimana?
Sudahkah kamu meluapkan emosimu dalam bentuk tulisan atau masih memendamnya dalam hati dan pikiranmu sendiri?
Jangan dipendam, ya! Jika tidak bisa bercerita dengan orang lain, berceritalah dalam bentuk tulisan. Ini akan membuat hidupmu lebih tenang, lebih damai dan berwawasan.
Wednesday, March 19, 2025
Local Hero Pertamina yang Kerap Dijuluki Sebagai Wanita Simpanan Di Kampungnya
Tiba-tiba nemu foto di galeri laptop waktu mau bersih-bersih memori karena semua memoriku udah kepenuhan.
Ini foto waktu aku nginap di Pertamina Patra Land Residence di tanggal 01 Maret 2024.Disclaimer : Foto-foto aku di hotel atau apartemen itu bukan karena aku jadi wanita simpanan, tapi karena aku dibayar untuk ikut seminar, pelatihan, diskusi, atau ngisi acara.
Mungkin, foto-foto kayak gini yang sering banget bikin aku dibilang wanita simpanan bos-bos. Padahal, aku nggak kenal sama bos siapapun. Kalaupun kenal, itu cuma untuk belajar bisnis atau sharing tentang pengalaman usaha.
Jadi, Sehari sebelumnya, aku ditelpon sama CDO Pertamina Hulu Sanga-Sanga. Semuanya mendadak banget. Beliau juga diinformasikan dadakan. Awalnya, cuma CDO yang mau terbang ke Jakarta untuk kegiatan. Tapi kemudian, Local Hero juga diajak untuk pergi ke tempat acara. Alhasil, sore itu juga dipesanin tiket dan harus berangkat pagi banget karena acara dimulai jam 8 pagi. Jadi, kita udah harus sampai di Jakarta sebelum acara dimulai.
PHSS punya 2 Local Hero binaan di tahun 2024. Artinya, aku tidak sendiri. Aku berangkat bersama seorang CDO (Mas Prass) dan 1 Local Hero asal Samboja juga, yakni Mas Tio (Pengelola Wisata Bekantan Sungai Hitam Lestari) yang bergerak di bidang Ekowisata.
Karena penerbangan pagi banget, nggak memungkinkan lagi kalau berangkatnya jam 2 subuh. Soalnya, CDO kami dari Muara Badak, sedangkan aku di Desa Beringin Agung dan Mas Tio dari Sungai Hitam.
So, kami berangkat sore hari menuju kota Balikpapan dan sampai di Patra Land Residence jam sembilan malam.
Ini pertama kalinya aku masuk ke Patra Land Residence. Mungkin, akan jadi yang pertama dan terakhir seumur hidupku karena aku bukan orang yang bekerja di Pertamina.
Karena datangnya malam, aku ngerasa tempat ini kayak serem banget. Mewah, tapi horor. Karena kebanyakan apartemen tuh kosong. Maklum, cuma orang-orang tertentu yang menginap di tempat ini. Jadi, nggak akan ramai seperti hotel atau apartemen lain. Aku jadi flasback ke masa saat aku masih bekerja di perusahaan dan menginap di Mess Executive. Aku juga jadi teringat ketika aku menerima penghargaan Pemuda Pelopor dan menginap di salah satu villa pelatih yang ada di area stadion Aji Imbut.
Vibes-nya tuh sama. Sama-sama horor karena sepi dan kosong.
Sebenarnya, apartemen ini mewah banget. Udah ada ruang tamu yang luas, ruang makan yang luas, pantry, ruang loundry, dan 3 kamar tidur.
Aku tidur di kamar utama. sedang Mas Prass dan Mas Tio tidur di kamar yang lain. Mereka berdua sempat main keluar, entah ke mana. Dan aku memilih untuk tidak keluar dari kamar karena aku takut.
Alhamdulillahnya, aku masih bisa tidur nyenyak. Mungkin karena aku juga terbiasa dengan suasana sepi. Jadi, lebih nyaman berdiam diri di dalam kamar daripada ngeluyur keluar. Itulah yang selalu aku lakukan setiap kali berkegiatan. Kalau udah baring di kamar, rasanya nyaman banget. Main hape, nonton tv, main laptop, atau teleponan sama anak-anak.
Jam 5 subuh, aku sudah bersiap dan kami langsung pergi ke bandara. Kebetulan, jarak apartemen dan bandara tidak jauh. Tidak harus terjebak macet seperti kota Jakarta. Jadi, kami bisa sampai tepat waktu untuk check-in di bandara.
Alhamdulillah, setiap langkah dan waktu yang aku lalui, semuanya sangat berkesan. Banyak ilmu dan pengalaman hidup yang aku dapatkan.
Aku bertemu dengan 170 Local Hero Pertamina dari seluruh Indonesia di saat aku ingin menyerah pada apa yang selama ini aku perjuangkan. Ternyata, perjuangan mereka jauh lebih berat dari yang aku lakukan. Kalau aku menyerah, artinya aku kalah pada takdir yang sedang direncanakan Allah. Bisa jadi, Allah sedang menyiapkan hadiah di ujung sana. Di tempat di mana aku harus melalui banyak kesulitan lebih dahulu.
Terima kasih banyak untuk pengalaman berharga yang tak terhingga. Aku tidak kaya harta, tapi aku punya intelectual investment (investasi intelektual) yang membuatku dihargai. Investasi intelektual tidal bisa didapat dengan cara yang instan. Butuh proses dan perjuangan keras selama belasan tahun untuk bisa menghasilkan sebuah karakter yang kuat, karakter yang bisa dipercaya oleh orang lain. Yang ketika aku merekomendasikan seserang untuk menjalankan program, mereka berkata, "Kalau bukan Mbak Rin Muna, kami nggak yakin akan bertahan lama."
Benar saja, taman bacaanku "Rumah Literasi Kreatif" kini sudah berusia 7 tahun. Meski setiap harinya harus tertatih menghidupkannya sendirian, tapi masih bisa bertahan selama ini.
Sebab, banyak orang yang ikut membuka taman bacaan, tapi tidak mampu bertahan sampai satu tahun. Karena di sini semuanya murni sosial. Tidak ada keuntungan yang aku dapatkan. Aku merawat dan menjaga buku-buku dengan tulus. Aku belum mampu berkembang lebih luas lagi, masih sebatas bertahan untuk tidak hancur oleh zaman.
Monday, March 17, 2025
Menjadi Wanita Produktif di Bulan Ramadan Bersama Komunitas Muslimah
Karyaku Bisa Diterbitkan Perpusnas Press || Praktik Baik Pemanfaatan 1000 Buku (Wilayah Kalbar, Kaltim, Kalsel)
Thursday, March 13, 2025
Perfect Hero Bab 186 : Best Buddy Sisters
“Yun, kamu beneran berhenti kerja?” tanya Jheni sambil
menatap Yuna dan Icha yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.
Yuna menganggukkan kepala. “Emangnya aku kayak pembohong?
Sampe nggak percaya gitu?”
“Iya. Aku percaya,” sahut Jheni. “Abis ini, rencana kamu
mau ngapain?”
“Di rumah dulu, nyantai-nyantai.”
“Emangnya kamu nggak bosan kalo dua puluh empat jam di
rumah terus?” tanya Jheni.
Yuna menggelengkan kepala. “Nggak dua puluh empat jam
juga kali. Buktinya, sekarang aku ada di rumah kamu.”
“Hmm ...iya juga sih. Enak banget ya punya suami kayak
Yeriko. Nggak ngelarang istrinya main di luar. Malah dianterin pula ke sini.”
Yuna tersenyum sambil menatap layar ponselnya.
“Kamu chatting sama siapa sih, Yun? Senyum-senyum sendiri
dari tadi?” tanya Icha yang berbaring di samping Yuna.
“Sama suamiku lah. Sama siapa lagi?”
“Astaga! Lebay banget sih kalian?” sahut Jheni. “Baru
juga pisah berapa menit. Udah kayak nggak ketemu sebulan aja.”
“Sewot lu. Ngiri?” sahut Yuna.
“Weh, ngolok kamu ya!?” dengus Jheni sambil menggelitik
pinggang Yuna.
“Aargh ...! Geli, Jhen!” seru Yuna sambil berguling
menghindari Jheni yang terus menyerangnya.
Icha ikut tertawa melihat Jheni dan Yuna yang saling
serang dan berguling di kasur.
“Udah, Jhen! Aku capek!” seru Yuna dengan napas
tersengal.
Jheni terus menghentikan aksinya sambil menoleh ke arah
Icha yang sudah berdiri di depan jendela. “Dia kenapa? Dari tadi murung gitu.”
Yuna mengedikkan bahu. Ia turun dari ranjang dan langsung
menghampiri Icha bersama dengan Jheni. “Kamu kenapa, Cha? Ada masalah?”
Icha menggelengkan kepalanya.
“Nggak usah bohong, deh! Dari tadi kamu murung. Kenapa?
Bellina nindas kamu di kantor?” tanya Yuna.
Icha menggelengkan kepala.
“Terus, kenapa?” tanya Jheni. “Ada masalah lagi sama
lutfi?”
Icha menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya
perlahan sambil menatap Yuna. “Yun, sebenarnya Lutfi itu gimana sih?”
“Kenapa sama Lutfi?”
“Kadang, aku ngerasa dia itu sayang banget dan perhatian
sama aku. Tapi aku juga nggak pernah tahu gimana sikapnya dia sama cewek lain.
Apakah sama juga?”
“Kenapa kamu tanya kayak gini?” tanya Yuna. “Ada
sesuatu?”
“Kemarin, aku nggak sengaja lihat Lutfi lagi makan sama
cewek di salah satu restoran.”
“Siapa? Model?”
“Mungkin. Yang jelas, cewek itu cantik dan seksi. Dari
gayanya dia, dia juga memperhatikan cewek itu.”
“Cha, kamu kan tahu kalau Lutfi itu penguasa Villa di
Jawa, Bali dan NTT. Yang aku tahu, dia emang sering kerjasama sama artis,
selebgram, youtuber dan sejenisnya buat endorse villa dia.”
“Tapi ...”
“Kamu jangan pedulikan cewek lain!” pinta Yuna sambil
menggenggam pundak Icha. “Sekalipun ada banyak perempuan cantik yang
mengelilingi dia. Dia cuma ngakuin kamu sebagai pacar resminya. Karena cuma
kamu aja yang dikenalin ke kita.”
“Tapi, Yun. Aku jadi ragu sama perasaannya dia. Aku
terlalu biasa aja. Sementara, cewek-cewek yang deket sama Lutfi cantik-cantik
semua. Gimana aku harus bersaing sama mereka?”
“Siapa bilang kamu biasa aja? Kamu juga cantik, kok,”
sahut Jheni. Ia langsung melepas kacamata Icha dan ikatan rambutnya.
Jheni langsung menarik Icha untuk berdiri di depan
cermin. “Cha, dengan penampilan kamu yang sederhana aja udah bisa bikin Lutfi
jatuh cinta sama kamu. Kamu cuma perlu ngerubah penampilan kamu buat bersaing
sama cewek-cewek itu.”
“Aku nggak pede, Jhen.”
“Kenapa? Kamu nggak beneran cinta sama Lutfi.”
“Cinta. Tapi ...”
“Cinta itu, harus diperjuangkan dan dipertahankan!” tutur
Jheni. “Kalo baru kayak gini aja kamu udah nyerah, gimana mau ngadepin mereka
yang bakal mengganggu hubungan kamu. Banyak pelakor di dunia ini, kamu harus
jadi kuat ngadepinnya. Belajar dari Yuna!”
Icha menatap Yuna yang tersenyum ke arahnya.
“Cha, awalnya aku juga ngerasa kayak gitu. Tapi lama-lama
aku sadar, Yeriko bukan orang biasa. Banyak cewek yang pengen jadi pasangannya.
Selama Yeriko masih cinta sama aku. Aku nggak akan peduli berapa banyak cewek
yang deketin dia. Aku nggak akan ngelepasin Yeriko buat orang lain.”
Icha tersenyum ke arah Yuna.
“Apalagi pekerjaan Lutfi emang kayak gitu. Kamu cuma
perlu mendukung dia!” sahut Jheni.
Icha menganggukkan kepala.
Yuna dan Jheni saling pandang. “Kalo gitu, saatnya
beraksi!” seru mereka sambil mengeluarkan peralatan make-up untuk merubah
penampilan Icha menjadi lebih baik lagi.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berhasil mengubah
penampilan Icha seperti seorang model.
“Astaga, Cha!” Yuna mengitari tubuh Icha yang jauh lebih
tinggi darinya.
“Kamu udah kayak model Victoria Secret,” celetuk Jheni.
“Beneran?”
Jheni menganggukkan kepala. “Iya, badannya tinggi-tinggi
dan wajahnya cantik. Kayak kamu gini.”
Yuna ikut menahan tawa mendengar ucapan Jheni.
“Kenapa pada ketawa terus sih?” tanya Icha sambil menatap
wajah Jheni dan Yuna.
“Nggak papa, Cha. Seneng aja lihat kamu kayak gini. Kalo
Lutfi lihat, pasti dia seneng banget. Eh, aku fotoin. Aku kirim ke Whatsapp
dia.” Yuna langsung menyalakan kamera ponsel dan membidik wajah baru Icha.
“Udah terkirim. Kita lihat, apa komentar Lutfi!” tutur
Yuna sambil menunggu balasan dari Lutfi.
“Kakak Ipar, itu siapa? Bisa endorse kah?” tutur Yuna
sambil membaca pesan yang ia terima dari Lutfi. “Hahaha. Dia nggak ngenalin
kamu, Cha.”
“Gobloknya anak itu,” sahut Jheni.
“Balesin apa nih?” tanya Yuna.
“Terserah kamu.”
“Bisa. Kalo mau ketemu, ke rumah Jheni sekarang juga!”
tutur Yuna sambil mengetik di ponselnya. “Udah terkirim.”
“Astaga! Kamu nyuruh dia ke sini?” tanya Icha.
Yuna menganggukkan kepala. “Sekalian aja kalian jalan ke
luar bareng. Sayang banget, udah dandan cantik gini tapi cuma di dalam rumah.”
“Yuna ...!”
Yuna dan Jheni meringis ke arah Icha.
“Oh ya, besok kan weekend. Kalian ada waktu nggak?” tanya
Yuna.
“Kenapa?” tanya Icha.
“Aku selalu ada waktu kalo buat kamu,” sahut Jheni.
“Aku sama Yeriko mau ke exhibition. Kalian mau ikut
nggak?”
“Exhibition punya Dekranasda?” tanya Jheni.
“Iya. Kok tahu?”
“Aku udah ke sana sama Chandra.”
“What!? Kalian udah ke sana nggak ajak-ajak? Tega banget
sih?”
“Kamu lagi sibuk ngadepin pelakor itu. Aku juga ke sana
sekalian buat keperluan kerjaan.”
“Ada yang bagus nggak?” tanya Yuna.
“Semuanya bagus-bagus.” Jheni meraih kotak yang ada di
atas meja. “Aku beli sweater rajut motif sura sama baya. Ini unik banget. Kata
pengrajinnya, dia cuma bikin satu aja. So, ini barang langka banget!” seru
Jheni.
Yuna langsung mengeluarkan sweater tersebut dan
mengamatinya. “Eh, gila! Ini sih teknik tingkat dewa. Aku mana bisa bikin motif
kayak gini.”
“Oh iya. Kamu kan bisa ngerajut kayak gini, Yun. Gimana
kalo kamu bikin juga?”
“Rencananya mau bikin buat Yeri. Tapi ...”
“Kenapa?”
“Aku nggak pernah lihat Yeri pakai sweater. Apa dia bakal
suka kalo aku bikinin?”
“Barang yang bikin sendiri, itu jauh lebih tulus. Aku
yakin, Pak Yeri pasti suka sama barang yang kamu kasih,” sahut Icha.
“Mmh ... boleh, deh. Ntar aku pesen bahannya dulu.”
Tok ... tok ... tok ...!
“Eh, Lutfi udah datang. Cepet banget tuh bocah,” tutur
Yuna sambil menoleh ke arah pintu.
“Bukain pintu!” perintah Jheni sambil mendorong tubuh
Icha.
“Aku?” Icha menunjuk dirinya sendiri dan melangkah ragu
menuju pintu.
“Ayo bukain!” Yuna dan Jheni memberi isyarat agar Icha
memiliki keberanian.
Icha membuka pintu perlahan dan mendapati Lutfi berdiri
di depan pintu sambil tersenyum ke arahnya.
“Ini. Buat kalian!” Lutfi menyodorkan paper bag ke arah
Icha. “Kakak Ipar mana?” tanyanya sambil nyelonong masuk ke rumah Jheni.
Icha menggigit bibir. Ia melangkah perlahan mengikuti
Lutfi yang melangkah menghampiri Yuna dan Jheni yang duduk di sofa.
“Kalian apain si Icha?” tanya Lutfi.
“Eh!?” Yuna dan Jheni melongo menatap Lutfi.
“Cantik kan?” tanya Yuna balik.
“Kamu ngenalin dia?”
“Kenal. Pacar sendiri masa nggak kenal?”
“Tadi di WA kamu bilang ...”
“Aku cuma bercanda.”
Yuna dan Jheni terkekeh.
“Eh, kalian pergi ke luar gih! Aku sama Jheni mau
curhat,” pinta Yuna.
Lutfi langsung menyambar paper bag dari tangan Icha. “Ini
makanan buat kalian. Aku ke luar dulu sama Icha.” Ia meletakkan paper bag di
atas meja.
“Ah, pengertian banget!” seru Yuna.
Lutfi tertawa kecil. “Aku tahu, Kakak Ipar demen makan.
Kita pergi dulu!” Lutfi langsung meraih tangan Icha dan membawanya keluar dari
rumah Jheni.
Yuna dan Jheni saling pandang lalu tertawa.
(( Bersambung ... ))
Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga, bikin
aku makin semangat deh.
Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih
kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!
Much Love
@vellanine.tjahjadi
Perfect Hero Bab 185 : Pamit || a Romance Novel by Vella Nine
“Cha, aku pergi ya! Kamu yang rajin kerjanya!” pamit Yuna
setelah mengemasi barang-barang pribadinya yang ia bawa ke tempat kerja.
“Yun, kita semua pasti bakal kangen banget sama kamu.
Kenapa harus berhenti, sih? Padahal, Bos Lian nggak nyuruh kita berhenti.”
Yuna tersenyum. “Aku juga bakal kangen sama kalian semua.
Kita masih bisa ketemu, kok. Pintu rumah aku, selalu terbuka untuk kalian.”
“Pintu kantor ini juga selalu terbuka buat kamu, Yun.
Apalagi Bos Lian, dia pasti bakal kangen kalo nggak ada kamu.”
“Hush, jangan ngomong gitu! Kalo didenger sama Bellina,
kalian bisa habis!” sahut Yuna.
“Huft, iya ya? Kalo nggak ada kamu. Nggak ada lagi yang
bisa belain kita. Bu Belli pasti bakal lebih merajalela menindas kita.”
“Telpon aku kalo dia berani macam-macam sama kalian! Ntar
aku hadang di simpang jalan,” sahut Yuna.
“Hahaha.” Semua tergelak mendengar candaan Yuna.
Yuna tersenyum. Ia mengangkat kotak barangnya dan melangkah
dengan berat hati keluar dari ruangannya.
“Yuna ...!” seru Icha dan beberapa karyawan yang lainnya.
Mereka langsung menangis sambil memeluk tubuh Yuna.
“Kamu beneran pergi, Yun?”
“Yun, setelah keluar dari sini, kamu harus hidup lebih
baik. Punya karir yang lebih baik.”
“Iya, Yun. Kalo nggak dapet yang lebih baik, kamu balik ke
sini ya! Kita bakal nunggu kamu.”
Yuna tersenyum sambil menatap rekan-rekan kerjanya dengan
mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka kalau waktu berjalan begitu cepat. Dalam
waktu yang singkat, ia bisa merasakan kehangatan di tempat kerjanya. Saling
mendukung, mengatasi setiap masalah bersama-sama. Seperti sebuah keluarga.
Yuna melepaskan dirinya dan melangkah perlahan keluar dari
ruang kerjanya. Ia langsung masuk ke dalam lift dan turun ke lobi. Di sana, ada
seorang pria tampan yang telah menunggu kedatangannya.
“Lama ya nunggunya?” sapa Yuna sambil menghampiri Yeriko.
Yeriko menggelengkan kepala.
“Udah pamitan?” tanya Yeriko.
Yuna menganggukkan kepala. Ia menghela napas sejenak. “Aku
belum pamitan sama Lian.”
“Kenapa?”
“Dia belum masuk kantor.”
“Nggak papa. Kalo nggak ketemu hari ini, masih bisa ketemu
besok.”
Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia dan Yeriko
melangkah keluar dari pintu utama kantor Wijaya Group.
“Pergi sekarang?” tanya Lian yang kebetulan baru sampai
kantor bersama Bellina.
Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Makasih kamu
udah ngasih aku kesempatan bergabung di perusahaan ini. Belajar banyak hal,
punya banyak teman dan pastinya ... ini pengalaman pertamaku yang paling
berharga.”
Lian tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Semoga kamu
bisa menjadi lebih baik di tempat yang baru.” Ia menoleh ke arah Yeriko
sejenak. “Kapan pun kamu mau, perusahaan ini akan selalu nerima kamu kembali.”
Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya perlahan. “Bye!”
ucap Yuna saat melintas sejajar dengan tubuh Lian.
Yeriko tersenyum menatap Lian dan mengikuti langkah Yuna
dari belakang.
Lian memutar tubuhnya menatap punggung Yuna dan Yeriko yang
perlahan menjauh. Ia tak bisa lagi melihat wajah cantik Yuna dari balik
jendela. Melihatnya tertawa bersama teman-teman kerjanya. Melihatnya begitu
energik setiap melakukan pekerjaan. Melihat wajah cantiknya setiap pagi saat
masuk kerja dari balik kaca mobilnya.
“Bye, Ayuna ...!” bisik Lian dalam hati.
Bellina yang berdiri di samping Lian langsung merangkul
Lian sambil menatap kepergian Yuna. Di bibirnya terlukis goresan bahagia
mengiringi kepergian Yuna dari kantor Wijaya.
“Yun, mau langsung ke rumah sakit atau pulang dulu?” tanya
Yeriko sambil membukakan pintu mobil untuk Yuna.
“Pulang dulu. Ntar aku ke rumah sakit naik taksi aja bareng
Bibi.”
Yeriko mengernyitkan dahi. “Kamu nggak mau ajak aku ketemu
ayah kamu?”
“Kamu kan kerja. Aku udah nggak kerja. Punya banyak waktu
buat nemenin ayah di rumah sakit.”
“Oke.” Yeriko menutup pintu mobil. Ia melangkah mengitari
mobilnya, membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.
“Kamu tunggu aku di rumah sakit. Ntar aku jemput kamu kalo
udah pulang kerja!” pinta Yeriko sambil menjalankan mobilnya perlahan keluar
dari halaman kantor Wijaya.
Yuna menganggukkan kepala. “Besok jadi kan ke
pameran?”
Yeriko menganggukkan kepala. Ia terus melajukan mobilnya.
“Aku pengen lihat karya-karya seniman lokal di sana. Kayaknya bagus-bagus. Tas
ini, dikasih sama Mama Rully. Katanya dari Bunda Yana. Salah satu karya seniman
kriya di sini. Bagus kan?” tutur Yuna sambil menunjukkan tas rajut yang ia
pakai.
Yeriko menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Yuna.
“Iih ... nggak lihat tapi udah ngangguk aja.” Sahut Yuna.
“Aku udah lihat dari tadi,” sahut Yeriko. “Oh ya, hari ini
mau ngapain aja selain jenguk ayah?”
“Mmh ... aku mau bikin makanan buat ayah sebelum berangkat
ke rumah sakit. Mmh ... abis itu belum tahu mau ngapain.”
Yeriko tersenyum sambil melirik Yuna lewat kaca spion. “Aku
bakal pulang cepet buat nemenin kamu. Kalo bosan di rumah, kamu bisa pergi
jalan-jalan sama Jheni atau Icha.”
“Icha sibuk kerja. Kalo ada waktu luang, pasti udah
dicolong duluan sama Lutfi.”
“Jheni? Bukannya dia freelancer?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Dia pasti punya banyak waktu buat nemenin kamu.”
Yuna menganggukkan kepala. “Boleh jalan ke mana aja?”
Yeriko mengangguk. “Asal bisa bikin kamu senang.”
“Ke bar?”
“Nggak boleh.”
“Kenapa?”
Yeriko langsung menghentikan mobilnya yang kebetulan sudah
memasuki pekarangan rumah.
“Nggak boleh ke sana tanpa aku! Nggak boleh minum alkohol!”
pinta Yeriko.
Yuna menganggukkan kepala. Matanya tertuju pada tas rajut
yang ada di pangkuannya. “Mmh ... bukannya aku bisa knitting? Aku mau bikin
sesuatu buat Yeri. Mudahan dia suka,” bisik Yuna dalam hati. Ia langsung keluar
dari mobil.
“Aku langsung berangkat kerja!” pamit Yeriko tanpa keluar
dari dalam mobil.
Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!”
Yeriko mengangguk. Ia segera menjalankan mobilnya keluar
dari pekarangan rumah dan melaju menuju kantornya.
Yuna tersenyum sambil masuk ke dalam rumah. “Pagi, Bi!”
sapa Yuna sambil meletakkan box miliknya ke atas meja.
“Pagi ...!” sahut Bibi War. “Kok, tumben banget pagi-pagi
udah pulang kerja? Lagi nggak enak badan?”
Yuna menggeleng sambil menghampiri Bibi War. “Aku udah
berhenti kerja,” ucapnya sambil tersenyum.
“Hah!? Berhenti kerja?” tanya Bibi War dengan wajah
sumringah.
Yuna mengangguk sambil tersenyum.
Bibi War tertawa bahagia sambil memeluk Yuna. “Akhirnya
...”
Yuna tersenyum sambil membalas pelukan bibi War. “Bi, bantu
aku bikin makanan buat ayah ya!” pinta Yeriko. “Asupan makanan untuk ayah nggak
boleh sembarangan. Aku udah minta resep makanan dari ahli nutrisi yang ngerawat
ayah. Aku pergi belanja bahannya dulu. Nanti, Bibi juga temani aku ke rumah
sakit ya!” pinta Yuna.
Bibi War menganggukkan kepala.
Yuna langsung memesan taksi online untuk berbelanja.
Bibi War tersenyum menatap kepergian Yuna. Ia sangat senang
setiap kali melihat Yuna begitu ceria menjalani harinya. Ia membayangkan
bagaimana ramainya rumah ini jika Yuna dan Yeriko sudah memiliki seorang anak.
(( Bersambung ... ))
Makasih udah dukung cerita ini terus. Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku
makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang
udah kirimin hadiah juga, bikin aku makin semangat deh.
Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih
kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!
Much Love
@vellanine.tjahjadi